Galungan dan Ulang Tahun Kalki ke-5

Ada yang spesial di Hari Raya Galungan kali ini… Apa itu yang spesial? Yaitu bertepatan dengan hari ulang tahun Kalki yang ke-5. Jadi seluruh umat Hindu merayakan hari raya Galungan dengan bersembahyang ke pura dan bagi kami juga untuk bersyukur kepada Tuhan karena Kalki telah bertambah usianya :).

photo_2018-05-30_11-39-39

Kalki the birthday boy! Happy 5th Birthday Kakak!

Hari Raya Galungan yang kami rayakan memang dihitung melalui kalender Bali jadi jatuhnya bakalan 7 bulan sekali dalam kalender masehi. Hari Galungan tahun ini, juga seperti yang lalu-lalu, kami merayakannya dengan rentetan sebelum hari-H. Salah satunya mempersiapkan segala sesuatu supaya nanti ada pasokan makanan selama sebelum hingga sesudah hari raya.

Pasokan makanan disini tujuannya buat makan orang di rumah sekeluarga juga buat sanak saudara yang datang berkunjung ke rumah. Kan hari raya bakalan sibuk mempersiapkan banten, penjor, hiasan-hiasan seperti gantung-gantungan dan lain-lain… jadi supaya kami nggak perlu repot mikir masak apa ya hari ini, besok, dan seterusnya, toh pasar juga banyak yang tutup lapak.

Kami membeli daging babi 1 kg di pasar Bajera, sampai rumah saya buat jadi pork nugget di-mix dengan wortel dan keju jinten, keju paprika dan Gouda cheese dari Belanda (nanti saya ceritakan lebih lanjut tentang keju ini). Kemudian stok tahu dari belanja di tukang sayur juga saya sikat jadi tofu nugget hihihi… Kali ini dicampur dengan wortel aja dan seledri, nggak pakai keju.

Lumayan ada stok frozen food. Tapi tofu nuggetnya udah abis duluan nih, sebagai gantinya kami juga membeli ikan nila sebanyak 4 kg dan ini dibagi dua dengan mertua. Jadi bagian kami di masukkin ke chiller kalau mau makan tinggal goreng aja potongan-potongan ikannya. Kalau punya mertua sih dikukus jadi pepes ikan.

Galungan kali ini pertama kalinya juga lho, papa nggak dapat ambu di kebun buat bikin penjor. Lagi langka ambu, kali. Ambu itu daunnya pohon jaka atau nira. Sehingga papa harus beli hiasan penjor yang udah jadi di toko. Kebetulan dapat hiasan stok lama seharga Rp 15.000.

Selain itu, pada Galungan kali ini saya lagi haid, jadi tidak bisa sembahyang sekeluarga ke pura. Yang sembahyang hanya papa dan Kalki. Saya di rumah aja sama Kavin. Maka dari itu bisa saya sempatkan menulis di blog hehehe…. Selain itu bisa melakukan exercise juga pagi-pagi (nanti saya tulis exercise buat perut di posting blog selanjutnya). Kalau saya nggak lagi haid, pasti udah sibuk siap-siap sembahyang ke pura, nih.

photo_2018-05-30_11-39-25

Kakak dan adik, ketika baru bangun pagi ini

Terus mau ngerayain ulang tahun Kalki gimana nanti? Yaah, ciri khas keluarga kami dengan merayakannya secara sederhana aja, mungkin bakalan ngajak makan pizza di kedai Pizza terdekat di Bajera., namanya Gembul Pizza. Mumpung ada harga promo Galungan dan Kuningan juga hihihi… Kami juga nggak menyiapkan kado khusus buat Kalki. Ngajak jalan dan makan di luar aja mudah-mudahan udah bikin dia seneng.

Karena Kalki sudah melampaui usia balitanya, ini ada kenang-kenangan kata-kata lucu Kalki waktu masih balita:

“Kodok main hujan,
tidak batuk dia.”

“Adik masih kecil, nanti kalau sudah besar jadi kakak, ya dek.”

“Hujan! Ayo teteskan! Kakak mau cuci tangan! Hujan…, ayo teteskan!” yang ini terjadi saat dia mau cuci tangan sore-sore, lalu Kalki menengadahkan tangannya ke langit 😀

Kalki dapat Taro (merek snack) ukuran jumbo, dia seneng bukan main! Sambil makan snacknya dia berkata, “Wow, nggak habis-habis!”

Haha…. Selamat berulang tahun yang ke-5 tahun ya, nak! Bulan depan udah naik kelas masuk TK, nih. Semoga makin pinter, sehat selalu, berbahagia, sayang papa, mama dan Adik Kavin.

Dan…, selamat hari kemenangan Dharma melawan Adharma! Semoga semua mahkluk ciptaan-Nya berbahagia.

♡ Intan Rastini

Advertisements

Acara Kasti di Sloka Institute

Saya dan Hannah Spencer berkesempatan datang ke acara “Kelas Asik Teknologi Informasi: Kisah Kasih di Blog” atau yang disingkat sebagai “Kasti” di Sloka Institute. Lokasi Sloka Institute ini di jalan Noja Ayung No. 3, Gatsu Timur, Denpasar. Sedangkan kami dari desa Angkah, Selemadeg Barat harus berangkat dari jam 2 siang dan menempuh perjalanan hampir 2 jam. Acara ini diadakan hari Jumat, 20 April 2018 lalu.

Iin3

Baru sampai udah ada hamparan buah-buahan dan camilan… Foto oleh Mbak Iin

Acara akan menghadirkan dua narasumber dengan tema seputar blogging. Radita Puspa akan membawakan materi “Bercerita Melalui Blog” dan Putu Adi Susanta mengenai “Ngoprek Blog”. Saya kebetulan udah punya blog dan tergabung juga dalam komunitas BBC atau Bali Blogger Community, sedangkan Hannah belum punya blog tapi dia tertarik untuk bikin blog nantinya tentang perjalanan dia ke South East Asia.

Ini pertama kalinya saya ke Sloka Institute dan bertemu teman-teman komunitas Bale Bengong dan blogger lainnya. Selain blogger ada yang memang pekerjaanya sebagai penulis atau wartawan lepas di majalah “Money and I”, ada yang merupakan pengarang puisi dan pemain teater, juga ada yang anak kuliahan dan lainnya.

Saya lihat dari daftar hadir ada 10 orang yang bakal hadir tetapi ternyata tidak semuaya hadir dan ada juga teryata tambahan peserta diluar list. Saat saya dan Hannah datang di Sloka Institute di sana sudah ada Pak Angga, peserta Kasti lainnya dan kami disambut oleh Mbak Diah dan Mbak Iin sebagai tuan rumah. Kami dipersilakan duduk lesehan dengan bantal-bantal duduk juga dipersilakan makan buah dan snack yang sudah ditata di atas meja dengan rapi.

Iin1

Saya juga sempat melihat buku yang tergeletak di atas meja berjudul “Agama Saya adalah Jurnalisme”. Di Sloka Institute terdapat beberapa judul buku di rak buku berbentuk logo Bale Bengong. Foto oleh Mbak Iin

Nggak lama kemudian, datanglah Jong yag lucu lalu mbok Luh De, dan narasumber acara Kasti kali ini yaitu, Mbak Radita Puspa dan Bli Putu Adi Susanta atau paggil saja mereka “mbak Itha” dan “bli Junk”. Jong cukup lucu karena dia mengaku nama panjangnya sebagai “Jong-os” kepada peserta-peserta lain. Saat saya berkenalan dengan Jong, dia pun meggunakan bahasa Suroboyan setelah tau bahwa saya besar di Surabaya.

Karena kami sampai di Sloka Institute sebelum jam 4 sore, bli Junk dan mbok Luh De sempat bercakap-cakap dengan Hannah. Hannah yang berasal dari New Zealand dimintai konfirmasi apakah benar disana lebih banyak domba daripada manusianya, da Hannah pun mengiyakan. Yang nggak mau kalah, mbok Luh De mengatakan bahwa kalau di Bali itu perbandingannya adalah 4 sepeda motor dan 1 orang. Mereka pun tertawa karena Hannah tak percaya.

Di New Zealand memang tidak banyak penduduknya, sedangkan kebanyakan orang disana ternak domba, beda kalau disini orang ternak sepeda motor hehehe. Bli Junk juga sempat bertanya apa orang disana punya sepeda motor, Hannah pun bilang tidak banyak. Bli Junk, mbok Luh De dan Hannah sempat-sempatnya bercanda kalau orang di New Zealand kendaraannya adalah domba! Saya cuman dengerin aja sambil cekikikan.

Pada pukul 4 sore acara dimulai dengan mbok Luh De sebagai moderator. Mbok luh membuka acara dan memita semua yang hadir untuk memperkenalkan diri satu persatu. Setelah sesi perkenalan, narasumber pertama yaitu mbak Itha pun memulai presentasinya. Mbak Itha adalah seorang aktivis di komunitas Rumah Berdaya Denpasar. Ia juga telah membantu anak-anak dan para pengungsi gunung Agung di Bali untuk mengisi waktu dengan membuat kerajinan dari gulungan kertas.

Iin4

Mbak Itha sedang menjelaskan ciri-ciri penyakit yang ia derita adalah posisi alisnya tidak sejajar. Di dalam foto ada (kiri ke kanan): Jong, Mbak Diah, Mbak Itha dan Mbok Luh De. Foto oleh mbak Iin.

Sebelum mempresentasikan materinya, mbak Itha membagikan secarik kertas kecil kepada para peserta untuk menuliskan pertanyaan mengenai materinya nanti. Dua pertanyaan pilihan akan mendapatkan hadiah yang sudah disiapkan oleh mbak Itha. Dan hadiahnya adalah keranjang yang merupakan buah karya mbak Itha dari gulungan kertas tidak terpakai! Kreatif dan ramah lingkungan banget kan…!

Mbak Itha menjelaskan awal-awal ia memulai blog, saat itu ia ngeblog dengan copy pasti status-status beken di FB. Lama-kelamaan ia memulai menuliskan ceritanya sendiri, tentang kesehariannya, isi pikirannya dan pengalaman hidupnya. Ia juga menjelaskan bahwa ia terkena Marfan Syndrome yang menyebabkan skoliosis pada tulang punggungnya. Marfan syndrom adalah kelainan pada jarigan struktur penyangga tubuh. Ia juga menderita kebocoran jantung dan sempat menjalani operasi jantung non-bedah.

Ada juga beberapa tahap yang sempat dirasakan oleh mbak Itha sebagai orang berkebutuhan khusus seperti denial, anger, bergaining, depression dan acceptance. Saat ini mbak Itha sudah lebih ikhlas dalam menerima keadaan dirinya dan ia menjalani hidup seperti orang “hopeless” sehingga ia bisa berbuat sebaik mungkin dalam menjalani hari ini seolah-olah hari ini adalah hari terakhir dalam hidupnya.

Mbak Itha sempat juga membagikan tips untuk terus ngeblog seperti belajar EYD, banyak baca buku agar perbendaharaan kata kita meningkat dan bisa membentuk gaya penulisan yang baik, lalu tulis dulu secara bebas apa yang mau diposting di blog nanti revisi bisa nyusul belakangan. Kita juga bisa minta bantuan teman untuk merevisi tulisan kita sebelum dipublish.

mbok Lode 3

Presentasi mbak Itha. Foto oleh mbok Luh De

Seusai presentasi, mbak Itha membacakan 2 pertanyaan pilihannya dan ia pun langsung menjawabnya. Pertanyaan sisanya disimpan untuk bahan penulisan di blognya. Kebetulan pertanyaan saya disimpan, nih oleh mbak Itha, jadi saya bisa ngecek jawabannya kalau-kalau udah diposting diblognya.

Presentasi selanjutnya dibawakan oleh Bli Junk. Ia adalah seorang radiografer, atau kata mbok Luh De sebagai Tukang Rongent di RSUP Sanglah. Bli Junk menjelaskan mengenai hal-hal teknis dalam ngeblog seperti bagaimana cara mendapatkan blog berbayar, apa yang kita perlu lakukan untuk membuat blog dan kebetulan bli Junk menjelaskan cara membuat blog baru di WordPress.

Iin5

Giliran bli Junk memberi presentasi, foto oleh mbak Iin

Setelah presentasi bli Junk hampir selesai – ya karena kita kekurangan waktu sih, sebenarnya – mbok Luh De meminta untuk membuka blog masing-masing peserta dan menampilkannya di proyektor sehingga kami bisa sama-sama melihat. Saat setiap blog peserta dibuka, Bli Junk memberikan komentar dan menanyakan apakah ada yang perlu diubah atau dibantu demi peningkatan kualitas blog kepada setiap pemilik. Sedangkan yang belum punya blog dipersilakan mulai membuat blog baru di tempat. Tenang aja di Sloka Institute tersedia wi-fi, kok.

Iin2

Kepada saya, bli Junk berkomentar bahwa blog saya sudah bagus. Lalu ia bertaya apakah headernya ini saya buat sendiri. Saya mengiyakan dan menambahkan bahwa itu dibuat dengan program Paint. Bli Junk seolah-olah tak percaya, dan bertanya lagi apakah saya pakai mouse membuatnya. Dan saya iyakan lagi J. Uh-hu. Sayang blog saya agak lama dibuka karena tulisan yang dipampang di homepage full-text semua dan banyak banget.

Saya minta masukan kepada bli Junk supaya bisa bantu saya membuat Archives di menu page. Dan seusai presentasinya, Bli Junk langsung bantu dengan senang hati, lho… Ia pun dengan ramah bertanya kepada Hannah apakah Hannah mengerti apa yang telah ia jelaskan, he he he yang sayangnya Hannah tidak mengerti.

blijunk1

Mbok Luh De sibuk memotret mbak Itha dengan kedua kerajinan tangan kreasinya yang terbuat dari gulungan kertas bekas, foto oleh bli Junk

Selama acara berlangsung kami disuguhkan klepon, marning, jeruk dan pisang. Tidak lupa mbok Luh De menawarkan setiap peserta dengan teh atau kopi. Saya awalnya menolak tapi mbak Diah dan mbok Luh De berkata bahwa ini mandatory untuk menyecap gelas Sloka Institute. Saya pun mau deh dibikinin teh sedangkan Hannah pilih kopi.

mbok Lode 1

Tuan rumah: mbak Iin dan kedua narasum: mbak Itha dan bli Junk. Foto oleh mbok Luh De

Acara berakhir jam 7 malam, over time 1 jam, bo! Bli Junk bantu saya ngoprek blog itu aja cuma ngabisin waktu 5 menit. Lalu ada serah terima hadiah dari Sloka Institute ke narasumber dan dari mbak Itha ke dua penanya pilihannya. Terakhir kami berfoto bersama dan juga mengambil video singkat dengan mengucapkan dua slogan, “mai ngeblog pang sing belog” dan “No neuus without u!”. Cheers!

blijunk2

“Mai ngeblog pang sing belog” – itu dalam Bahasa Indonesia berarti: ayo ngeblog supaya tidak bodoh. Ternyata meski di Bali, Almira salah satu peserta yang tidak tau arti slogan Bali Blogger Community tersebut. Foto oleh Bli Junk

mbok Lode 2

No Neuus without U… Foto oleh Mbok Luh De

Senaaaangnya akhirnya bisa ketemu komunitas dan ikut kelas blogging, ini pertama kalinya buat saya. Nggak kapok sih buat datang lagi, tapi capeknya menempuh perjalanan dari Angkah ke Denpasar dan balik lagi itu lho! Buat bokong saya mati rasa, Hannah pun mengalami hal yang sama, hihi kasian dia. Untung dia suka melihat-lihat selama perjalanan naik motor. Kami pun sampai di rumah pukul 10 kurang dikit. Whooo! It was so fun though and the people are very friendly and nice and funny.

Hannah

Kami peserta terakhir yang belum pulang, sebelum pulang tak lupa foto berdua dulu sama Hannah, untung di Sloka masih ada bli Junk yag mengantar sampai depan pintu dan mbak Iin yang bantu fotoin kami.

♡ Intan Rastini

A Tour to Rainbow Warrior: a Greenpeace Ship Landed in Bali

A day after Kavin’s 3rd birthday, we went to port Benoa. A greenpeace famous ship has been landed on Bali, at the port Benoa. I didn’t want to miss this chance so I asked my husband to go there with the kids. It is a rare opportunity to see the Rainbow Warrior and even go inside the ship. Greenpeace journey has been started in Papua, the second place to land was Bali, Next is going to be Jakarta for a week on April 23-29 2018. The journey is called “Jelajah Harmoni Nusantara” Rainbow Warrior Southeast Asia Ship Tour 2018.

1

From Angkah village in Selemadeg Barat, Tabanan to port Benoa it takes about 2.30 hours by motorbike. Our destination is approximately 50 km away. When we arrived on the Benoa highway, we had to pay the entrance highway fee for motorbike Rp 2,000. At the port, we didn’t need to pay any entrance fee or parking fee. It was all free. The Rainbow Warrior open boat event held by Greenpeace was also totally free. This event is held on April 14-15 2018 from 9:00-12:00 and 13:00-16:00. We came on Saturday, April 14 at 13:00.

Port of Benoa

When we arrived at the port Benoa, we had lunch first by the dock. We brought our lunch box and we shared meal with 4 persons: my husband, Kalki, Kavin and me. It was very hot at the port, by the way. We already prepared bringing 4 drinking bottle containing 3,1 L of water. And it was insufficient for the four of us. Because we were sweating a lot and we need drinking much water to rehydrate our body. We felt so thirsty almost all the time.

324

After having lunch, we could visit the handycraft stands by local communities who care to the environment and their products are mostly eco-friendly or by recycled materials. Kalki and Kavin tried to chill out at the painting tent, there were some cozy beanbags for lying down or sitting down. We could enjoy the ocean breeze here, and let the kids paint on a cut unused posters’ backside.

 

At 1 pm we made a line to enter the Rainbow Warrior. A group of visitors that allowed to enter in every session was 25 persons excluded children.  We went inside the ship in the first session.  There was an Indonesian tour guide who explained about the Rainbow Warrior. This Rainbow Warrior Ship was the third ship of Greenpeace. The first had been bombed by the French intelligent agent and the second one was too old to be operated. Next, Greenpeace made its own ship unlike its two ships before that those are modified ships.

 

Something unique about the ship that it has a dolphin wooden statue, its name is Dave the Dolphin. And it was brought from the first ship. There was also a classic hand bell in front of the steering room. Ships used to use hand bell in old times to acknowledge its coming but nowadays because of radio, GPS and etc, we don’t need hand bell anymore. In Rainbow Warrior there is a tradition to ring the hand bell on a new year’s eve by the youngest ship’s crew.

44

This third Rainbow Warrior is a sailboat with modern technology. It uses wind energy to sail, but it can use diesel too when there is no wind.This ship has big strong sail poles which form like the  alphabet “A” structures. Because of its huge sails, it uses machine to expand them and also with the help of the crews. There are some monitors in the steering room and as a controlling room also. Luckily, Kalki had the opportunity to sit on the captain’s seat! There were so many buttons and panels. Visitors and especially children were not allowed to touch anything there.

 

The Rainbow Warrior’s crew who explained about the ship was Reinoud, his position is 2nd mate – I don’t know what it means. Unfortunately I didn’t ask him what exactly his posisition was about. I just asked about where the captain was. And the captain was discussing something with the crews in the other room behind the steering room.

18

Reinoud the 2nd Mate in the steering room and a translator

Reinoud explained that this ship has ever been followed by government war ships so close behind. He said that some government or companies felt afraid of the Rainbow Warrior. So, it’s good that they felt afraid because it meant that they did something wrong. Even their captain had also been terrorized too. The captain of Rainbow Warrior is a dutch woman named Hettie Geenen.

 

After going inside the steering room we went to the conference room. It was such a multifunctional room with a projector hanging on the ceiling. The crew could also set up some gym equipments there so they could do exercise. At that room, we watch a short video presenting about what Greenpeace had done especially in Indonesia.

 

Next tour was to the Helipad. Yes Rainbow Warrior has a landing deck for a helicopter. On the helideck there were some knockdown wooden wall for sticking posters about Greenpeace international. So we could read what kind of environmental issues that Greenpeace had been fighting for. From plastic waste to electronic waste, farming land that would be used as a mega electricity plan with coal, massive deforestation to start palm farming, air pollution, even about the bombing of the first Rainbow Warrior Ship.

14042018(020)

23

Welcome to Indonesia, Greenpeace!

The tour inside Rainbow Warrior maybe only took 15-20 minutes only. The next groups kept going on and on as the first group ended the tour. After I finished my tour, I took a rest by sitting down under the trees’ shadows. Because I had something to ask to the ship crew, I joined the next session for the second time. This time I went only with kalki. The tour was the same as the first. At the first session Kalki hadn’t got the chance for sitting on the captain’s seat, but at the second time, he got it.

45

I met with Sabine Skiner from Germany this time. She is the mechanic of Rainbow Warrior. I asked her whether there were any Indonesian crew in Rainbow Warrior. She said there were 16 crews from 14 different countries. 2 crews are from Indonesia: 1 deck-hand crew and 1 as a volunteer. At last, I asked Sabine to sign on my notebook.

15

 

Next, I skipped watching video in the conference room, I directly went straight to the helideck and read few articles there and then Kalki and I went to the land to meet Kavin and my husband. It was very nice to be inside of Rainbow Warrior and to meet the ship’s crews. Unfortunately I didn’t meet every crew of Rainbow Warrior and what I waited the most was to meet the ship’s chef, Daniel Bravo.

47

It was said by the Indonesian tour guide that all crew in this ship weren’t not only activists but they were also scientist and researchers. Meeting the only chef of the ship is very interesting to me, to know about what kind of menu did he always cook for all the crew and… besides that, he also looked like Orlando Bloom to me, haha. Reminding me to Pirates of the Caribbean so much!

46

It was a little bit disappointing that the visitors were not given a tour to every cabin and to the kitchen. We also couldn’t meet to every ship’s crew because only one crew that was in charge in the steering room to welcome the visitors. By chance, I noticed the other ship’s crew like Shuk Ning Cheung as a volunteer deck hand, Daniel Szony as 3rd mate and another crew inside the tools and equipments room, but I didn’t know who he was. Sabine said that Daniel was from Hungary. He appeared in the steering room at that time.

 

On the dock near by the ship was moored, we could enjoy dragon fruit juice and another fruit juice, but we needed to bring our own tumblr to get that juice. I didn’t know whether it was free or not so I didn’t  go to get that juice. There was also loud music by two DJs but they were gone at about 1.30 pm. There were a community which cared to the plastic waste named Bye Bye Plastic Bags, two persons came to me and asked a permission to interview about my concern to plastic waste.

 

There was also another community like Trash Hero, and the others that I din’t pay attention that much. However mostly there were communities that care to the environment and want a better change for Planet Earth. This time Greenpeace came bringing a campaign to use renewable energy, there was a giant phrase showed on the ship’s net: BALI GO RENEWABLE. And also on a long banner attached on the ship’s fence: “BALI SAATNYA BERALIH KE ENERGI TERBARUKAN”. Are you ready to use renewable and stop using plastic bags?

43

Our Indonesia’s minister of Maritime Affairs and Fisheries, Susi Pudjiastuti had visited Rainbow Warrior when it was landed in Papua, how about you? To me it is a cool opportunity that I won’t miss! Let’s join to be an ocean defender!

47

It was so hot! But a cool experience though

40

Greenpeace lifeboat

39

Balinese traditional offering to welcome the Rainbow Warrior Ship in Bali

♡ Intan Rastini

On Air di d’Oz Radio Bali

Pada hari Ibu kemarin saya diundang ke Radio d’Oz Bali dalam rangka merayakan 3 tahun program kesayangan saya yaitu Oz Mata Sapi. Kesempatan emas yang nggak boleh dilewatkan, nih, soalnya saya ngefans banget sama ponggawa kocak yang bawain Oz Mata Sapi. Jadi pengen berjumpa dan menyapa, gitu, kenal lebih jauh gimana sih orang yang sering saya dengerin suaranya di radio.

Dulu saat saya kebetulan pas nyari-nyari frekuensi, ada program Sport Spot yang membahas olah raga dan penyiarnya banyak cowok-cowok ngobrol santai sambil bercanda-canda. Saya suka dengan topik olahraga yang mereka bawakan, makanya stay tune di frekuensi itu. Program radio itu terdengar berbeda karena seperti siaran oleh orang Jakarta bukan seperti radio daerah Bali karena tidak terdengar sekali aksen Bali. Belakangan saya jadi tau kalau itu radio d’Oz Bali.

Sejak saat itu saya jadi pendengar setia radio d’Oz Bali, saya dengerin sambil mengasuh Kalki yang masih bayi. Suara radio itu relaxing juga saat menyusui Kalki, jadi saya bisa dengerin sambil tiduran. Karena saya cukup rutin mendengarkan radio, saya jadi tau program Oz Mata Sapi dan saya pun jadi suka program tersebut karena penyiarnya ngobrol sambil ngocol. Dulu penyiarnya Maesya Sjaendy dan Elsya Soraya Prosa, kini sudah tiga tahun program Mata Sapi dibawakan oleh Maesya Sjaendy dan Giri Teja Setiadi. Karena programnya yang lucu dan unik, Radio d’Oz Bali jadi stasiun radio favorit saya.

Meskipun ini radio Oz Bali tapi dibawakan dengan  Bahasa Indonesia dan saya merasa cocok mendengarkan karena mereka tidak berlogat Bali dan memperdengarkan lagu-lagu Indonesia dan Internasional bukan lagu Bali. Salah satu kelucuan-kelucuan yang dihadirkan di Oz Mata Sapi berupa Esya dan Giri berusaha berbicara dengan logat Bali. Menurut saya ini sangat lucu karena saya tidak besar di Bali, saya tidak biasa menggunakan Bahasa Bali sehari-hari. Saya bisa merasakan kelucuan tersebut sebagai orang Bali yang tinggal di Bali tapi saya tidak terlalu mahir berbahasa Bali.

Saya sempat merasa kesulitan untuk bergaul di Bali terutama di desa karena sebagian besar penduduk disini berbicara Bahasa Bali. Bayangkan saja untuk ngobrol panjang lebar dengan penduduk disini, kami terkendala kosa kata. Mereka berusaha berbicara Bahasa Indonesia dengan saya sedangkan mereka sendiri tidak terbiasa berbicara Bahasa Indonesia. Maka dari itu mendengarkan obrolan ponggawa-ponggawa d’Oz Radio Bali menjadi hiburan tersendiri bagi hati saya yang kadang kangen dengan suasana di Surabaya.

Oke, lanjut kenapa saya sampai diundang d’Oz Radio Bali ke Oz Island di Sunset Road, Kuta? Karena saya sempat iseng-iseng membuat doodle gambar kartun Giri dan Esya sedang siaran, lalu gambarnya saya pakai untuk ngucapin happy 3rd anniversary ke Instagram d’Oz. Suami saya tau-tau bilang kalau mereka komen di posting gambar saya bahwa saya menang tantangan Giri dan Esya untuk 3rd anniversary program mereka. Saya diminta untuk ambil hadiahnya di Oz Island yang mana adalah lokasi stasiun radio mereka.

Seneng dong, dapat hadiah sekalian diundang ngopi-ngopi cantik dari Black Eye coffee Maka saya pun bangun pagi jam setengah 5 pagi buat siap-siap dan berangkat jam 6 pagi ke Kuta. Awalnya udah janjian sama Ratih, sepupu saya, tapi karena pas disamperin dia masih tidur zz.z. ya udah tinggal aja dari pada terlambat. Sampai di Oz Island jam 7.41 pagi dan itu masih sepi. Cuma ada barista-barista Black Eye Coffee dan mbak-mbak (maaf lupa kenalan) dari Radio Oz yang menyambut saya dan menawarkan kopi tapi saat itu kopinya belum siap.

wp-image--1643862217

Lalu ada Mbak Wina yang juga menyambut saya dan dia yang menyerahkan hadiahnya. Kalau nggak salah, Mbak Wina itu tim kreatif dari program Oz Mata Sapi. Setelah menerima hadiah saya dipersilakan duduk dulu di sana sambil ngopi dan menyaksikan Esya dan Giri sedang siaran Mata Sapi. Saya sempat melambaikan tangan kepada mereka yang terlihat di seberang kaca studio. Mereka menyapa saya balik dan langsung nyerocos di siaran radio bahwa ada saya datang. Kebetulan kan saya tamu yang pertama sampai, jadi mereka kayaknya seneng deh, ada pendengar yang datang dan menyapa pagi-pagi.

Untuk sampai ke Oz Island saya harus menempuh perjalanan hampir dua jam naik motor, sampai sana berasa pegel kelamaan duduk. Surprisenya, pihak d’Oz menyediakan massage dan menicure bagi tamu-tamu yang hadir di perayaan Oz Mata Sapi ke-3 tahun. Asyik Akhirnya sambil pesan susu, karena saya nggak ngopi, saya pun mau untuk dimassage oleh mbak GoGlam. Oh ya tim GoGlam ini datangnya cuma selang beberapa menit setelah saya, lho. Dan saya nggak nyangka kalau mereka dihadirkan untuk menjamu tamu-tamu yang datang ke Oz Island. Habis saya nggak dengar hal ini disebut-sebut di siaran radio.

wp-image-1244634920

Yang saya dengar cuma undangan untuk ngopi-ngopi dan sarapan. Nah, sarapan! Bayangan saya ditraktir makan-makan kan, ekspektasi saya tentang sarapan itu ya makan bubur ayam atau nasi goreng, nyatanya di sana disuguhkan pastel ayam dan kue sus aja he he he. Meski begitu saya tetep makasih banyak karena mereka menyambut saya dan menjamu dengan ramah dan baik banget. Saya pun bisa ngemil pastel dan kue sus sesukanya sambil nonton Giri dan Esya siaran.

Lalu saya diminta masuk ke studio siaran buat diajak ngobrol on air. Senengnya mereka mau ajak saya mengudara di stasiun radio Bali, tapi saya juga merasa nervous. Mereka masih inget saya, lho sebagai Intan yang bikin gambar kartun buat mereka dan intan yang punya blog intanrastini.wordpress.com hihihi. Giri sampai bilang, “intanrastini.wordpress.com…” saat saya masuk ke studio siaran. Wah rasanya tersanjung sekali. Saat diajak ngobrol, mereka tanya apa pekerjaan saya dan tertarik dengan yayasan tempat saya bekerja.

Emang kurang lebih obrolan mereka seling diselipi bercandaan, jadi selama on air di radio saya banyak ketawanya dari pada ngomong panjang lebar. Tentu percakapan didominasi oleh mereka dan saking kocaknya mereka mengocok perut saya terus. Akhirnya saya disuruh ikutan “Tanda”, salah satu segmen dari Mata Sapi, yaitu “Tanya Dadakan” kuis dengan lima pertanyaan yang kadang serius kadang ngawur. Karena mereka sudah tau bahwa pekerjaan saya sebagai guru Bahasa Inggris, mereka pun tanya pertanyaan berbau Bahasa Inggris, beberapa pertanyaannya adalah:

1. “Apa Bahasa Inggrisnya pintu?”

2.” Apa Bahasa Inggrisnya kebelet?”

3. “What thing is long, black, hit by car it is okay?” Mereka sempat menjelaskan dalam Bahasa Inggris yang sedikit campur aduk hehehe

Pertanyaan sisanya saya agak lupa karena ditujukan kepada tamu di samping saya yang juga ikut diajak siaran. Dan saya berkolaborasi dengan dia untuk menjawab pertanyaan di segmen Tanda, tapi sebagian besar ya saya yang jawab kaaaan

Saat saya jawab pertanyaan pertama, “door”. Eh, nggak taunya Esya dan Giri langsung jawab, “aaaah, kaget…” dengan syadu dan kompaknya. Duh. Begitu mereka selesai Tanya Dadakan, dan mengkonfirmasi apa jawaban saya atas pertanyaan pertama, eh reaksi mereka dengan jawaban saya “aaaah, kaget” lagi! Pertanyaan kedua saya jawab “in hurry”, lalu pertanyaan ketiga saya jawab “chocolatos” abis kehabisan akal dan diburu waktu untuk menjawab. Eh nggak taunya jawabannya adalah tiang listrik (itu, tuh, yang ditabrak oleh papa minta saham). Masa saya sempat dikatain si duo kocak kalo nggak pernah lihat berita gara-gara salah jawab pertanyaan ketiga?! Hehehe.

Meski jawaban ada yang salah, mereka berbaik hati untuk tetap membenarkan karena ini hari spesial ulang tahun program mereka, jadi saya tetap dapet hadiah, deh. Iya dapet hadiah lagi untuk yang kedua hihihi. Di sela-sela program saya sempat minta tanda tangan Giri dan Esya dilengkapi dengan kata-kata spesial buat saya. Lalu tidak lupa untuk foto bareng dengan ponggawa-ponggawa favorit.

Giri sempat bilang bahwa dia juga tertarik bikin blog karena seneng nulis, tapi dia males baca lagi tulisannya. Saya bilang supaya dibacanya beberapa tahun lagi aja, dijadikan time capsule, gitu. Sedangkan Esya sempat nawarin saya kue tart yang dibawakan oleh tamu-tamu, saya bilang nggak mau heeheee karena saya nggak terlalu suka manis-manis, sih. Akhirnya Esya sibuk sendiri nyabutin lilin yang menancap di atas kue tart. Duuuh, jadi menyesal saya nolak kue tart dari Esya waktu itu.

Keluar dari studio saya pun mengambil treatment menicure, dan nggak tanggung-tanggung, setiap tangan saya dihandle oleh satu mbak GoGlam. Selesai dimanja menicure, kebetulan udah jam 10 yaitu udah akhir program Mata Sapi. saya sempatkan makan kue tart (supaya nggak tambah menyesal udah ditawarin mbak baik hati) lalu ngobrol-ngobrol dengan Giri dan Esya. Mereka sempat tanya sejak kapan denger Mata Sapi dan saya jawab sejak awal-awal Esya duet dengan Ealsya Soraya Prosa. Lha, kebetulan Ealsya ada disana untuk menicure tepat setelah saya selesai sehingga Esya langsung bilang, “Nah itu orangnya ada di sana!”

Ealsya menyapa saya dan langsung berkata dengan standar penyiar radio berkecepatan 1000 kata per menit, “Halo maaf, ya mbak tangannya lagi nggak bisa salaman (lagi dipegang mbak GoGlam).. iya nih, mbak ajarin Esya Bahasa Inggris, nggak bisa bahasa Inggris dia. Bisanya cuma one, two, three, four…” sampai Esya nggak ada kesempatan berkata apa-apa. Hahaha. Trus saya bilang kan ada EF, kebetulan lokasinya tetanggaan. Eh, Esya malah bilang malah takut karena ada bulenya cantik-cantik sehingga takut terpikat, selain karena biayanya mahal. Saya bilang aja supaya kantor yang biayain. Ealsya yang denger malah tertawa karena minta dibayarin kantor.

Dengan Giri saya sempat bertanya udah punya anak berapa, ternyata anaknya udah dua cewek dan cowok. Saya timpalin bahwa sama dengan saya, cuma anak saya cowok-cowok. Lalu dia bilang wah pinter buatnya soalnya buat anak cowok biasanya susah. Hehehe Akhirnya saya pamit ke mbak Wina, dan dia bilang supaya saya main lagi ke Oz Island. Wah, terima kasih banyak atas keramah-tamahannya, hadiah dan jamuannya. Sampai jumpa lagi dalam kesempatan berikutnya.

Radio d’Oz Bali ada di frekuensi 101,2 FM

Kalau mau streaming radio bisa ke websitenya ozradiobali.co.id

Program Oz Mata Sapi setiap Senin-Jumat pukul 06.00-10.00

Oh ya, dan terutama Selamat Hari Ibu buat mamoth, mama tersayang. Gambar ini spesial buat mama… Smeoga tulusnya cinta dan kasih sayang mama tidak pernah pudar.
Intan Rastini.