Pertama Kali Kenal Utama Spice, Brand Skincare Natural dan Ramah Lingkungan dari Bali

Pertama kali saya tau tentang produk Utama Spice itu dari web Sociolla, pernah lihat gitu di etalase Sociolla ada produk namanya Utama Spice. Awalnya saya nggak seberapa tertarik karena produknya cuma beberapa aja yang ada di web Sociolla. Setelah itu tahun 2018 di Yayasan saya pernah pergi hiking ke air terjun berdua bersama Albane, seorang volunteer mengajar dari Prancis. Saat sampai di puncak air terjun, kami duduk-duduk di atas batu dan Albane mengeluarkan sunblock dan menawarkannya ke saya juga. Selanjutnya ia juga mengeluarkan semprotan nyamuk. Semprotan nyamuk apa yang ia pakai, yaitu Begone Bug dari Utama Spice.

Saat itu saya coba pakai, nggak ingat baunya seperti apa tapi belakangan jadi cinta banget sama baunya Begone Bug. Dan saya takjub gitu sama pilihan Albane. Dia pilih Utama Spice yang merupakan natural product dari Bali. Maka saya tanya ke dia dimana dia mendapatkan ini. Albane jawab dia beli di toko di Ubud.

OK baiklah, di Ubud, jauh banget kan dari tempat tinggal saya kalau mau main ke tokonya Utama Spice. Belakangan, pas akhir 2018 hingga awal tahun 2019 saya mendapat volunteer dari Belanda yaitu Isabelle. Isabelle mengajak saya ke toko kerajinan perak di Ubud, Gianyar. Nah, setelah selesai berbelanja di toko kerajinan perak tersebut, saya bilang ke Isabelle, “mau nggak mampir ke Monkey Forest, Ubud? Saya mau lihat sebuah toko di sana.” Dia mengiyakan, oke deh kami berdua cusssss ke sana.

Sesampainya di Monkey Forest, kami sempat nggak ketemu dengan Toko Utama Spice sehingga harus berhenti tanya orang dan putar balik. Padahal kami juga dipandu oleh Google Map tapi toko tersebut terlewat juga. Di Monkey Forest, banyak sekali terdapat monyet berkeliaran di trotoar dan di atap-atap pertokoan. Setelah ketemu toko Utama Spice, saya dan Isabelle lihat-lihat di dalamnya ada produk apa aja. Menariknya di sana ada etalase DIY Your Own Skincare, lho! Dimana pelanggan bisa meramu dan meracik sendiri skincare yang dia inginkan dengan bahan-bahan yang disediakan oleh Utama Spice. Saya pun baca-baca sedikit buku mengenai macam-macam essential oils.

Isabelle teman volunteer dari Belanda

Saya sempat ditanyain oleh Isabelle, “enakan aroma yang mana?” Kayaknya waktu itu dia lagi bingung pilih body lotion, antara Lavender dan satu lagi apa gitu. Sedangkan Saya sendiri udah ngincer mau beli body scrub dari garam, saat itu saya bingun juga antara milih Bamboo Charcoal atau Ocean Breeze. Kemasan Salt Body Scrub Utama Spice ini unik, deh, karena dikemas pakai gelas kaca berkuping dan tutupnya aluminium. Akhirnya saya menjatuhkan pilihan kepada Bamboo Charcoal Salt Scrub. Dan itulah produk Utama Spice pertama yang saya beli. Saat itu pula kunjungan pertama saya ke toko Utama Spice. Selanjutnya hingga kini, saya belum pernah lagi, sih ke toko Utama Spice. Hanya ke toko onlinenya, saja. Hihihi..

Lagi sibuk mencium aroma produk

Akhirnya dari kunjungan pertama ke toko Utama Spice tersebut saya membeli Bamboo Charcoal Salt Scrub sedangkan Isabelle membeli Virgin Coconut Oil dan Lavender Body Lotion kalau tidak salah ingat. Saat itu saya punya kartu BPR Lestari dari komunitas lari RIOT sehingga saya bisa dapat potongan harga 20%. Harga scrub yang harusnya Rp 88.000 pun saya beli dengan potongan menjadi Rp 70.400. Lumayan banget kan. Isabelle pun juga dapat potongan karena belanjaan dia dijadikan satu dengan belanjaan saya, hehehe…

Invoice belanjaan saya dan Isabelle

Meski belum pernah lagi mengunjungi toko offline Utama Spice sejak Januari tahun 2019 lalu, bagaimana pun juga, saya berencana ke toko Utama Spice kembali untuk mengembalikan kemasan produk mereka dan mendapatkan potongan 10% saat berbelanja produk mereka lagi. Juga… saya mau beli produk mereka di refill station yang ada. Mereka punya sistem pengisian ulang produk dan kalau sudah punya wadahnya, ya tinggal bawa saja kemasan produk yang saya punya. Contohnya, saya punya botol Begone Bug 100 ml dan Begone Bug 35ml maka saat isi produk ini habis, saya akan beli kembali dengan membawa botol kosong ke refill station Utama Spice untuk beli isi Begone Bugnya saja. Selain itu, untuk kemasan besar-besar saya punya kemasan Lavender Liquid Soap 1 L dan botol Antiseptic Soap 230 ml tapi isinya belum habis.

DIY buat sendiri produk perawatan kulitmu

Saya senang sekali dengan konsep yang ditawarkan oleh Utama Spice sebagai produk perawatan kulit yang berbahan alami dan mereka juga memikirkan solusi ramah lingkungan atas kemasan produk mereka. Pertama, bahan-bahan mereka sumbernya dari alam dan itu ramah di kulit. Kedua, mereka menawarkan “DIY your own skincare” sehingga pelanggan bisa meracik sendiri produk perawatan kulit sesuai kebutuhan kulit mereka yang berbeda dan spesifik.

Kembalikan kemasan kosong produk Utama Spice ke toko untuk mendapat diskon 10% dan kemasan plastik tersebut akan didaur ulang hidupnya

Ketiga, mereka menerima pengembalian kemasan produk mereka untuk ditukar dengan diskon repurchase produk. Keempat mereka menyediakan pengisian ulang produk dengan kemasan pelanggan sendiri yang sudah ada. Keren banget, dan itu membuat saya semakin cinta dengan Utama Spice. Saya pun nggak pernah nyesel pernah kenal Utama Spice, malah nyesel karena kenalnya baru setelah tahun 2018. #LoveUtamaSpice

Produk-produk Utama Spice yang telah saya coba

Sampai jumpa selanjutnya di review produk Utama Spice yang sudah saya pakai, ya! Mungkin kamu ada permintaan mau direview produk Utama Spice yang mana duluan?

♡ Intan Rastini

Acara Tukar Baju Bayi oleh Zero Waste ID dan RefillMyBottle

Hari ibu tahun lalu, tepatnya 22 Desember 2019, saya berkesempatan datang pada acara Tukar Baju Bayi yang diadakan oleh Komunitas ZeroWaste.Id dan Refill My Bottle berlokasi di Sunny Side Playscape Bali. Disana ada tiga narasumber yang akan berbagi mengenai gaya hidup minim sampah sebagai ibu. Saya sendiri sebagai seorang ibu dengan dua anak laki-laki merasakan bahwa baju bayi itu memang hanya sementara banget dipakainya. Bayi hingga ke usia balita itu cepat berubah ukuran badannya, kakinya, jadi ukuran baju cepet ga muat, ukuran sepatu cepet ganti.

Screenshot_20200301-193419.png

Tau ada acara ini dari Instagram @zerowaste.id_official

Hadir ke acara Tukar Baju Bayi yang kebetulan berada di Bali itu bukan untuk tukar baju bayi bagi saya melainkan lebih ke acara ketemu teman-teman yang sepemikiran dan sevibrasi. Cihuy sevibrasi… satu gelombang satu frekuensi gitu, ya. Narasumbernya ada Dominique Diyose selaku model dan penggiat lingkungan juga co-founder dari #BaliSwap, Maurilla Imron sebagai pendiri komunitas Zero Waste Indonesia dan juga Christine Go yang merupakan Project Manager RefillMyBottle. Maunya juga sekalian ngajak salah satu anak saya supaya mereka bisa main di Sunny Side, tapi saya takut kerepotan dan nggak bisa nyimak. Anak-anak bisa diajak ke acara ini. Untuk anak di atas usia 8 bulan ada biayanya bayar Rp90.000 untuk bisa main di Sunny Side Playscape.

Selain bisa bertemu dengan narasumber sebagai pembicara utama di sesi berbagi dan bincang-bincang bertema “Peran Ibu Dalam Menanamkan Gaya Hidup Minim Sampah Sejak Dini”, saya juga bisa berkenalan, ngobrol-ngobrol dan mendapat teman baru sesama orang tua yang peduli dengan environmental sustainability. Maka dari itu meskipun saya nggak donasi baju bayi atau nggak bawa baju bayi untuk ditukarkan, saya tetap datang untuk bisa ikutan sharing dan bertemu orang-orang yang hebat. Dan meski saya punya anak, tapi nggak ngajak anak, ternyata benar ada hikmahnya juga supaya saya bisa fokus memerhatikan di dalam sharing session.

IMG_20191222_153250.jpg

Yang saya kenal di acara itu awalnya cuma mbak Maurilla Imron. Kami kenalnya di Instagram karena saya suka ngikutin IG-nya @zerowaste.id_official dan pernah ikut 30 Days Zero Waste Challenge di bulan Januari 2019. Lalu sempat nonton di acara Kick Andy, ada beberapa anak muda yang peduli lingkungan dihadirkan sebagai tamu oleh Andy F. Noya, salah satunya ya mbak Maurilla. Kami sempat saling mengomentari pasca penayangan acara talkshow tersebut lewat direct message IG. Nah, di acara Tukar Baju Bayi ini saya bisa bertemu langsung dan juga bertemu keluarganya mbak Maurilla, Mas Damar, dan si imut Lana.

Mbak Maurilla ini orangnya talkative ya, jadi saya nyaman aja ngobrol sama dia. Secara saya lebih banyak diam dan nggak banyak kenal siapa-siapa juga di sana, jadi dengan mbak Maurilla aktif mengajak ngobrol saya pun nggak kebanyakan diem aja. Ternyata bapaknya mbak Maurilla pernah jadi dekan di Fakultas Kelautan dulu, tempat dimana saya juga sempat kuliah. Lalu diperkenalkanlah saya oleh mbak Maurilla kepada mbak Christine Go. Saat saya bersalaman dengan mbak Christine, dia menyebut namanya “Mimi”, saya kan jadi bingung soalnya yang saya tau namanya Christine hihi.. Saya tau mbak Mimi ini pertama kali dari EcoBali Recycle blog. Nih, dari sini….

Saya sempat ditanya juga oleh mbak Mimi kalau saya pernah dengan tentang RefillMyBottle atau enggak. Ya tau dong… Bermula karena saya juga difitur dalam EcoBali blog dan karena saya mau tau hasil wawancaranya kayak gimana, saya berkunjung dan baca-baca blognya EcoBali. Nah, dari situ lah saya menemukan posting blog yang memfitur Christine Go dari RefillMyBottle. By the way, ini hasil wawancara ecoBali yang memfitur saya dalam ecoBali blog. Wah suatu kehormatan dan kebanggaan bagi saya bisa sama-sama difitur disini seperti orang-orang hebat lainnya yang peduli dan memperjuangkan kelestarian lingkungan.

Aih-alih, di acara Tukar Baju Bayi, saya juga bertemu Korey yang menggemaskan. Baik Korey maupun Lana sama-sama menyusui di lokasi acara, lho. Saya seneng ngelihatnya, karena semakin banyak yang menganggap menyusui itu adalah normal apalagi di tempat umum. Saya juga suka tuh mendukung kampanye #normalizebreastfeeding oleh The Badass Breastfeeder (IG: @thebadassbreastfeeder). Menyusui bayi memang adalah hal yang normal dilakukan oleh ibu.

Selain itu, saya juga berkesempatan berkenalan dengan mbak Fitri, seorang MUA, teman dari mbak Mimi. Mbak Fitri ini sedang hamil saat datang ke acara kami sempat ngobrol-ngobrol bahwa saya pernah naik gunung Papandayan, eh mabk Fitri dan mbak Mimi pun juga pernah naik gunung Papandayan. Ada juga mbak Sonia yang saya temui pertama kali di meja pendaftaran. Saat sharing session mbak Sonia menceritakan mengenai betapa clodi membantu banget anaknya untuk cepat melalui fase toilet training. Dari situ saya ngeh, eh iya bener juga, ya. Saya baru menyadarinya. Soalnya Kalki dan Kavin kan juga pakai clodi turun-temurun (sekali beli dari anak pertama diturunkan ke adiknya). Dan saya pun nggak merasakan fase toilet training yang berlama-lama begitu. Tapi kesulitannya saat fase toilet training dan cul-culan nggak pakai clodi saat tidur ya, karena mereka masih beberapa kali ngompol di kasur dan itu ada tantangan terbesarnya. Rasanya ketika enak-enak tidur sama anak-anak dan salah satu dari mereka ngompol itu aduh, kayak tiba-tiba kebanjiran dan dilengkapi dengan bau pesing!

Baca juga review tentang clodi Kalki dan Kavin di sini. Ada juga tentang Perawatan clodi dan Popok Kain untuk Pemula.

Bertemu pula saya dengan mbok Ayu Winastri yang ternyata mengkurasi baju bayi yang diterima dan ditukar selama acara. Saya baru tau belakangan karena ya itu tadi, saya kan ga bawa baju bayi buat ditukar. Mbok Ayu ini pribadinya ramah dan memiliki usaha yang ramah lingkungan pula yaitu clothing line baju dewasa dan baju anak-anak dari linen. Idenya menarik juga mengenai baju dari linen, karena linen itu bahan organik dari rami. Dan saya sempat tanya-tanya juga kenapa menjatuhkan pilihan pada bahan baku linen untuk Sahaja dan Phinisia? Karena kualitas seratnya. Makin bertambah usia, linen akan makin lembut. Saya juga sempat bertemu Phi, anaknya mbok Ayu disana.

IMG_20191222_162159.jpg

Banyak orang-orang yang menginspirasi yang saya temui di acara tersebut. Selain orang tua juga ada Manaf dan Nara yang masih belum berkeluarga tetapi antusias dalam topik lingkungan yang berkelanjutan. Bahkan seorang Dominique Diyose yang emang udah banyak menginspirasi karena profesinya sebagai model dan publik figur, ia menunjukkan concern terhadap lingkungan dan layak menjadi role model untuk para fansnya. Bersama dengan Dominique diajak juga Meru dan Padme, tapi mereka sedang asyik main di Sunny Side Playscape.

Di kala sesi tanya jawab, ada beberapa pertanyaan yang dilontarkan kepada Dominique. Saya pun sempat bertanya ke mbak Dominique, apakah mbak Domi mengajarkan anak-anak untuk memilah sampah di rumah. Jawabannya ya, dan pastinya dibarengin dengan disediakan wadahnya yang jelas. Karena kalau wadahnya tidak ada, mereka kan juga akan jadi bingung mau pisahin sampah buangnya kemana.

Ya, saya pun berpikir demikian tentang skala yang lebih besar untuk pemilahan sampah. Kalau pemerintah adalah orang tua kita, dan warga adalah anak-anaknya. Maka solusi untuk pemilahan sampah yang efektif dan dapat mengurangi sampah yang terbuang ke TPA adalah dengan fasilitas dan sistem penunjang yang jelas. Jelas dan terpadu. Sampah organik disalurkan dimana dan sampah anorganik disalurkan kemana. Percuma aja jika anak-anaknya udah berusaha memilah sampah dari skala rumah tangga tapi orang tuanya tidak menunjang penyaluran, maka jadi bingung juga akhirnya sampah anorganik terpilah ini mau dikemanain?

Tak lupa pesan yang saya dapat hasil dari sharing session mengenai menanamkan gaya hidup sejak dini bukan saja dari peran ibu, lho. Memang utamanya adalah sang ibu sebagai child-bearing, namun peran ayah juga berdampak. Narasumber utama yang keempat, pak Omar pemilik Sunny Side Playsacape juga membagikan pengalamannya mengenai memiliki anak dengan berbagai macam alergi dan sangat sensitif kulitnya. Pakai popok sekali pakai tidak bisa sembarangan, dan dari sana ia memakaikan clodi. Diterjen pun mungkin juga ga bisa asal-asalan memilih karena bisa menimbulkan reaksi sesnsitivitas di kulit anaknya.

Dari obrolan mengenai clodi tersebut, bincang-bincang berlanjut hingga ke arah bagaimana tips dan trick jalan-jalan dengan anak menggunakan clodi dan pemilihan deterjen yang tepat untuk clodi. Para narasumber membagikan pengalaman mereka bahwa traveling dengan anak berclodi itu challenging banget. Dominique menceritakan kalau Meru pup, maka dia akan langsung mencuci clodinya di toilet. Maka ia tak lupa bawa alat tempur deterjen dalam kemasan kecil, clodi bersih cadangan dan wetbag. Bahkan saat di dalam pesawat, mau bau banget pun bodo amat, langsung kucek di toilet. Begitu kira-kira yang dikatakan oleh Dominique.

Sedangkan mbak Maurilla membagikan pengalamannya untuk ganti popok juga bisa tanpa tisu basah. Yaitu dengan sedia air dalam botol spray. Nanti botol spray itu bisa disemprotkan ke kain lap kering yang dibawa sebagai ganti tisu. What a life hack! Dan sebagai pemilihan deterjen ramah lingkungan, mbak Mimi membagikan preferensinya yaitu deterjen yang berbotol plastik karena bank sampah menerima dan kemasan botol plastik bisa direcycle kembali. Betapa menyenangkan ya bisa berbagi pengalaman, tips dan trik seputar pola asuh apalagi pola asuh yang ramah lingkungan dan minim sampah sejak dini.

Memang acara utama Tukar Baju Bayi ini ya tukar baju bayi sebagai solusi untuk cepatnya pergantian ukuran baju karena pertumbuhan si bayi. Dan solusi untuk mengurangi timbulan sampah tekstil dari baju yang layak pakai dan tak bisa terpakai lagi. Sampah tekstil juga merupakan masalah karena tidak semua tekstil bahan bakunya ramah lingkungan atau dapat terurai kembali di alam dengan mudah. Juga tidak semua baju itu proses pembuatannya berkelanjutan. Seperti apakah diproduksi secara masal tanpa mengindahkan dampak lingkungan atas limbah tekstilnya nanti, lalu bagaimana dengan prosesnya apakah menggunakan pewarna sintetis yang limbahnya mencemari lingkungan?

IMG_20191222_170827.jpg

Meski anak-anak saya sudah bukan bayi lagi yaitu udah 6 dan 4 tahun. Tetapi dari acara Tukar Baju Bayi ini saya dapat banyak pelajaran dan pengalaman dari sesama orang tua lainnya yang concern terhadap keberlangsungan lingkungan, ruang hidup bagi generasi penerusnya. Maka seperti kata pepatah orang Indian yang terkenal itu, Bumi atau lingkungan ini bukan milik kita, namun kita meminjamnya dari anak-cucu kita. Sudah sepantasnya lah kita kembalikan kepada mereka dengan keadaan baik.

Bagaimana menurutmu ide tentang tukar baju bayi ini? Kalau saya, sih, juga menantikan tukar baju untuk dewasa supaya bisa punya koleksi baju berbeda tanpa beli baru. Tinggalkan komentarmu di kolom komentar, ya! I’d love to hear from you. Thank you.

❤️ Intan Rastini

Girls’ Talk about Menstrual Cup

Yesterday, the teenage class at our learning center was quiet because only a few students came. The rest had a scout activity to attend. So there were only Delon, Oming, Mang Dewi, Kristi, Mang Listya. I guess just the five of them. I showed the cloth diapers of my sons, my menstrual pads and my menstrual cup. Yes! Maybe you will think it’s a little bit ghastly or disgusting. But I had made sure that everything was cleaned. I even had rewashed my menstrual cup, just to make sure no stain at all on the white surface. But you know what this is part of learning. I believe they would understand.

IMG_20190713_181720.jpg

Even more, I haven’t used my menstrual pad so long since I got my menstrual cup. So there we learnt and I let them touch my sons’ cloth diaper but not my feminine pads and my menstrual cup. They were eager and enthusiastic. Even Phoebe our current volunteer also wanted to see my menstrual cup. I demonstrated to them how to put the menstrual cup inside the vagina. It’s by folding it and then it will pop up inside the vagina. They were terrified of the pain when that thing is popped up inside the vagina. However, I told them that I always feel nothing when my menstrual cup is inside there. The silicone is soft and flexible, you won’t feel anything, trust me.

Oming and Mang Dewi said that they would use a menstrual cup when they were married. Well, that’s their personal options. Because in our eastern culture we don’t use tampons and we hold tight to our belief to keep our virginity by not letting anything get inside our vagina. But I have a different opinion about virginity. Never having sexual intercourse means virginity, although tampons, menstrual cup, and medical tools already got inside our vagina. Nevertheless, I had never used tampons, menstrual cup and never had medical tools inside my vagina before my marriage. So, I can’t say that my beliefe is right and their belief is wrong, that’s all so personal.

I myself used a menstrual cup for the first time was a few months after I gave birth to Kavin, my second son. If I was a teenager back then, I don’t know if I would be brave or interested in using a menstrual cup. But what I thought now, I would use a menstrual cup to reduce everyday disposable menstrual pad waste. To get its convenience during doing some sports because I love to exercise. And for the benefit of my health. Disposable menstrual pads are made with bleaching chemicals and plastics, they are actually nasty to our intimate and delicate area.

Yuck, nasty! That what I call nasty! Using disposable menstrual pad every month, so our intimate area is exposed to unhealthy things. But, showing my menstrual cup and cloth menstrual pad to my students is not considered nasty!

How about Phoebe’s reaction? Phoebe is a 20-year-old American girl, and she was pretty delighted to hear that there is a thing such as a menstrual cup! She hasn’t known before that menstrual cups exist! She couldn’t wait to tell her friends and sister about this! What great news! She told me that this is not fair that girls should always spend their budget on tampons every month, which is not cheap! A pack of tampons is about US$ 10. With one menstrual cup that you can buy through Amazon about US$ 23-28 (Diva Cup), you can wear it every month during your period, and that’s enough until 10 years!

Phoebe was amazed, and she asked me whether she could buy it here in Bali. So I said yes, she could buy at Zero Waste Bali store for Organicup that costs about Rp495.000 or at Love Anchor Canggu for Bali Dreams menstrual cup that costs Rp 150.000. Phoebe planned to go to Canggu this weekend and she directly texted her friends and sister about the menstrual cup. She told me maybe her friends and sister would like to get menstrual cups with her while in Bali.

It’s amazing that more girls are aware about their period and the waste that we can produce since we depend on feminine hygiene. Disposable menstrual pads and tampons can be reduced if we choose the most eco-friendly alternative.

IMG_20190713_181652.jpg

The picture of the menstrual cup shown here is the menstrual cup that I bought for my friend in Surabaya, Yanty. I bought it at Love Anchor Canggu weekend market for Rp150.000, the small-sized one. I chose the small size because she is already married, but she hasn’t given a vaginal birth yet. Even now OrganiCup has already launched the mini size for the teenagers. Hmmm, interesting!

I’ve been using menstrual cup for four years now. The crowds start to be interested to this eco-friendly alternative so that several brands of menstrual cup come up. If you wish to read my review about my menstrual cup, read here.

Now, how about you, girls? Have you considered your waste during your period?

♡ Intan Rastini

Homemade Spinach Chips!

I love potato chips, but it is difficult to slice the potato very thin to have a crispy homemade potato chips. Instead I have a bunch of spinach given by my relatives, so I made this veggie chips. This recipe I got from Radita Puspa‘s mom. So thank you for the recipe!

I consider the spinach chips as snacks and complements for my meal. As a snack I eat the chip with tomato sauce, and it is delicious!

Scroll down if you want the recipe in English.

Spinach cips with thin flour mixture

Keripik Bayam

Bahan:
1. Daun salam 3 lembar
2. Air 500 ml
3. Minyak goreng 300 ml
4. Daun Bayam yang lebar dan tua
5. Tepung beras 5 sdm
6. Garam 1/4 sdm dan lada 1/4 sdt

Cara membuat:
1. Cuci bersih daun salam dan daun bayam dan petik dari batangnya
2. Rebus daun salam dengan air sampai mendidih, setelah mendidih biarkan dingin
3. Campur tepung beras dengan garam, lada bubuk dan gula secukupnya aduk rata
4. Ambil air rebusan daun salam yang sudah dingin sebanyak 10 sendok makan, campurkan dengan tepung beras, aduk perlahan sampai tercampur rata dengan kekentalan yang cukup
5. Siapkan wajan dan panaskan minyak goreng
6. Celupkan daun bayam ke adonan tepung lalu goreng, angkat jika tepung sudah berwarna kuning kecokelatan
7. Ulangin proses mencelup setiap daun bayam ke adonan tepung dan goreng sampai semua bahan habis atau dirasa jumlah keripik bayam sudah cukup
8. Tiriskan semua keripik bayam yang telah digoreng saat sudah dingin simpan dalam wadah kedap udara supaya tetap renyah
9. Keripik bayam siap disajikan sebagai pelengkap hidangan Anda

Jumlah: 20 keripik bayam dengan ukuran bervariasi. Dominan yang berukuran setelapak tangan saya.

Spinach chips with nutritional yeast

Spinach Chips

Ingredients:
1. 3 pcs of bay leaves
2. 500 ml of water
3. 300 ml of frying oil
4. 20 spinach leaves, choose wide and old ones
5. 5 tbs of rice flour
6. 1/4 of salt, and 1/4 tsp of pepper powder

How to cook:

1. Clean the bay leaves and spinach with water, remove the spinach branch from each leave
2. Boil the bay leaves with water, after it’s boiling, let it be cool by air temperature
3. Mix rhe rice flour with salt and pepper well
4. Take 10 tablespoon of boiled bay leaves water, mix and stir with the flour. Stir until it is well-mixed
5. Prepare the frying pan or wok, pour the frying oil and heat it
6. Dip a spinach leave to the flour mixture then fry it. Take it from the frying pan when its color is already golden brown. Or the leave is felt stiff just like a chip
7. Redo the process until all the spinach is fried or until yoi think you have enough spinach chips
8. Drain all spinach chips until they are not hot anymore then keep in air thight storage to preserve its crispiness
9. Spinach chips are reay to serve as the complements to your meal

I have tried this recipe 4 times. I tried with thick flour mixture, thin flour mixture, I mix the mixture with flaxseeds and then I mix with nutritional yeast. All of them are just fine! If you use thicker mixture the chips will be hard when they are not crispy anymore but if you use very thin flour mixture it will be soft and chewy when it loses ita crispiness.

With my recipe you will have about 20 spinach leaves with various size of the leaves, but mostly they are as big as my palm. My kids really love the spinach chips!

A heap of spinach chips for my sons

💚 Intan Rastini

Membuat Acar Jerman “Sauerkraut” dari Kubis

Suami saya suka banget dengan acar. Biasanya yang saya buat cuma acar mentimun dan wortel dikasi bawang merah pakai cuka dan gula. Kali ini ada acar baru yang enak juga dan bagus untuk saluran pencernaan karena mengandung probiotik dari tanaman. Tanaman apa yang dipakai? Yaitu, kubis! Acar ini saya ketahui dari adik saya, Ryandi. Sekarang dia udah gemar makan makanan sehat dan yang plant-based karena dia udah vegan. Saya jadi ketularan dan akhirnya nyobain sauerkraut bikinan dia dan mama dari kubis merah. Rasanya asyeeeewwmmm bangeetss! Kayaknya karena proses fermentasinya berjalan terus jadi asemnya ga ketulungan apalagi buatnya di Surabaya yang panas.

Sauerkraut kubis merah buatan Ryandi dan mama dari Surabaya

Di rumah, saya coba sendiri bikin sauerkraut pakai kubis putih atau hijau. Saya fermentasi dalam waktu 3 hari aja langsung panen supaya asemnya bisa ditoleransi lidah dan perut. Tapi adik saya bilang kalau baru 3 hari koloni probiotiknya kurang banyak itu. Nggak apa-apa deh dari pada perutku perih. Kenapa ada probiotik? Karena kubis secara alami mengandung asam laktat yang disukai bakteri baik tersebut. Yuk cuss buat… Ryandi bilang “gut is our second brain, so take a good care of your gut!”

Kita coba dengan membuat sedikit dulu, next time saya mau coba bikin dengan 1 kg kubis 😙

Bahan:

1. 250gr kubis putih

2. 1/4 sendok makan garam Himalaya atau pink salt

Alat:

1. Talenan bersih

2. Pisau

3. Mangkok besar buat mencampur

4. Toples kaca ukuran 500ml yang bermulut lebar

5. Kain bersih

6. Karet atau pita buat mengikat kain yang menutup toples

**

Sebelum membuat: Pastikan semua peralatan yang akan digunakan bersih, ya.. dicuci dengan sabun lalu dibilas hingga tidak ada sisa sabunnya. Keringkan hingga tidak lembab. Termasuk tangan, karena akan menggunakan tangan untu meremas kubis.

Cara Membuat:

1. Cuci kubis dengan air matang, lalu tiriskan

2. Buang bagian kubis yang layu atau jelek

3. Iris-iris tipis helai kubis seperti pita, buang bagian tengahnya yang keras

4. Masukkan irisan kubis ke dalam mangkok besar dan taburi garam Himalaya

5. Remas-remas kubis yang sudah ditaburi garam sampai layu dan keluar sari airnya. Saya meremas kira-kira 7 menit.

6. Mulai masukkan irisan kubis yang sudah diremas ke dalam toples dan tuang juga ke toples sari air kubis yang keluar hasil peremasan tadi di mangkok

7. Tekan-tekan kubis di dalam toples agar semua bagian kubis terendam air garam, jangan sampai ada bagian kubis yang tidak terendam air garam, ya!

8. Tutup toples dengan kain dan ikat dengan karet atau pita dengan kencang, letakkan di tempat gelap yang terhindar dari sinar matahari dan biarkan hingga besok untuk memulai proses fermentasi

9. Setelah 24 jam cek lagi apakah semua bagian kubis terendam air garam, jika air garam dirasa kurang merendam seluruh kubis yang ada, bisa tambahkan larutan garam 1/2 sendok teh dengan air 250 ml. Cek tiap hari apakah ada bagian kubis yang tidak terendam, jika ada, tekan-tekan dengan sendok bersih

10. Setelah 3 hari, cicipi apakah rasa sauerkraut sudah sesuai selera. Jika asamnya masih kurang bisa difermentasikan hingga beberapa hari sampai derajat asamnya pas

11. Tidak ada patokan khusus sampai berapa hari sauerkraut yang asamnya pas bisa dipanen, tergantung suhu udara tempat tinggal. Semakin dingin, semakin lambat proses fermentasi berlangsung. Jika dirasa udah pas untuk dipanen, silakan lepas tutup kain dan tutup dengan tutup toples yang sesuai lalu letakkan ke dalam lemari es

12. Sauerkraut bisa dinikmati sebagai tambahan saat makan mie goreng, nasi goreng, mie ayam, dan lainnya sesuai selera!

Rasanya gimana? Asem-asem segeeeer gitu. Ada gurih dari garam ada sedikit manis dari hasil fermentasi kubisnya sendiri. Teksturnya ada renyahnya ada lembutnya. Hihihihi campur aduk, ya rasanya? Cobain sendiri, deh! Pokoknya appetizing banget, menggugah selera makan.

Mudah ya bikinnya? Jangan lupa sauerkraut memgandung bakteri baik untuk saluran pencernaan tapi bakteri baiknya datang dari tanaman bukan susu sapi atau dairy products. 😉😚

Saya tinggal di tenpat yang relatif dingin di daerah perbukitan, maka setelah 3 hari rasa asam sauerkrautnya saya rasa pas langsung aja saya panen. Rasa asamnya bisa berbeda setiap hari apalagi kalau di tempat panas seperti di daerah pesisir yang membuat proses fermentasi berjalan cepat.

Ada tips supaya seluruh bagian kubis terendam air garam semua yaitu dengan memasukkan toples yang lebih kecil berisi batu ke dalam toples berisu sauerkraut agar ada pemberat yang menjaga kubis tetap terendam. Seperti ini, diambil dari thekitchn.com.

Emang kalau ga terendam semua kenapa? Bisa muncul bakteri yang tak baik atau jamur! Air garam bisa mengawetkan dan menjamin proses fermentasi berjalan aman. Saya pernah mendapati noda putih jamur di kubis yang tidak terendam, tapi saya cicipi sih nggak sampai sakit perut (jangan ditiru ya…. Hehehe). Mending dibuang saja bagian yang berjamur, sisanya, kubis yang masih terendam air garam masih aman, kok!

Suami saya suka dong dengan sauerkraut bikinan istrinya, apalagi ini baru baginya. Saya suka juga! Waktu makan mie kuah pakai sauerkraut berasa kayak makan mie ayam pakai acar! Karena asem-asemnya itu menyegarkan, nggak tau kok kombinasinya bikin terasa seperti mie ayam di dagang-dagang pinggir jalan gitu, lho? Nggak percaya, cobain aja!

Selamat mencoba, ya!

💚 Intan Rastini