My Natural and Reef-safe Sunscreen by Sensatia Botanicals

Sunscreen pertama yang saya pakai dan ramah lingkungan adalah Surf Naked Sunscreen dari Sensatia Botanicals. Jadi ceritanya, saat saya akan melakukan bersih-bersih pantai secara santai bersama Laura di akhir tahun 2018 lalu. Laura menggunakan sunscreen sebelum beraksi, maka kami ngobrolin sunscreen dan dampaknya terhadap terumbu karang. Saya tanya, dong, sunscreen apa sih yang aman bagi ekosistem laut dan alami bahannya… Dia jawab, “try to find Sensatia Botanicals.”

Sensatia Botanicals adalah bisnis lokal di Bali yang didirikan pada tahun 2000 di sebuah desa nelayan kecil, Jasri, Karangasem di pesisir timur Bali. Perusahaan yang memproduksi produk-produk perawatan tubuh ini berkomitmen sebagai profit-sharing cooperation, yaitu menerapkan kesetaraan antara pekerja dan administrator. Mereka percaya bahwa tumbuh bersama sebagai sebuah komunitas, dan dengan demikian, Sensatia Botanicals sangat bangga bahwa karyawan mereka adalah 20% pemegang saham dari perusahaan produksi utama PT. Sensatia Botanicals.

Mengetahui latar tentang Sensatia Botanicals saya jadi senang ada produk-produk bodycare buatan lokal di Bali, apalagi menjalankan bisnisnya secara fair. Saya yakin Sensatia Botanicals bisa membawa kemajuan ekonomi pula bagi desa Jasri di Karangasem. Karena ini produk lokal, jadi kan saya bisa belinya nggak jauh-jauh, gitu. Selain itu juga bisa support local products. Karena emang kebanyakan untuk mencari produk natural itu salah satu kendalanya adalah belinya jauh, nggak bisa didapat dimana-mana dengan mudah.

Akhirnya saya browsing di marketplace, dan beli lah secara online Surf Naked Sunscree ini setelah tanya-tanya terlebih dahulu kepada customer service-nya. Pertanyaan yang saya tanyakan adalah sunscreennya mengandung SPF berapa dan udah uji lab bahwa mengandung SPF sekian belum. Soalnya kan di labelnya nggak tertulis tuh berapa SPF-nya. Oleh CS Sensatia Botanicals dijawab bahwa Surf Naked Sunscreen ini mengandung SPF 30 dan sudah melalui uji lab.

Designed with surfers in mind, Surf Naked Sunscreen is an all-natural, water-resistant sunscreen that offers heavyweight protection against UVA and UVB rays. The unique formula uses just three natural ingredients including mineral-rich zinc, coconut oil and candelila wax, so it is good for your skin and for the environment.

Waktu itu saya beli pada 5 Januari 2019 di Shopee seharga Rp125.000. Wah, ini produk Sensatia Botanicals pertama saya, lho! Karena saya lumayan sering beraktivitas di luar ruangan jadi perlu banget sunscreen. Semacam gayung bersambut, pas perlu sunscreen, pas kebetulan inilah saat saya beralih ke produk berbahan alami dan aman bagi ekosistem.

Lebih senang lagi ternyata Sensatia Botanicals juga peduli terhadap kemasan pascapakai produk. Setiap kemasan kosong Sensatia Botanicals bisa dikembalikan ke toko atau cabang mereka yang ada beberapa di Bali bahkan juga di Jakarta. Nah, setiap mengembalikan 12 kemasan kosong kamu bisa dapat voucher senilai Rp100.000 atau mendapat akumulasi points dari member card Sensatia Botanicals yang kamu miliki.

Diambil dari instastory @sensatiabotanicals

Lalu mengapa sunscreen bisa berbahaya bagi ekosistem laut? Karena bahan-bahan yang terkandung pada sunscreen tersebut bisa menjadi kontaminan saat kita bermain air di laut seperti saat berenang, berselancar, atau cuma berendam-berendam aja. Tapi meski kita ga main air di laut, bahan-bahan sunscreen yang tidak ramah lingkungan tetap bisa terbilas dan terbawa di saluran air hingga ke laut.

Bahan apa sih yang berbahaya bisa mencemari laut hingga mencetus kerusakan terumbu karang? Bahan-bahan nanopartikel yang terkandung seperti OxybenzoneBenzophenone-1Benzophenone-8OD-PABA4-Methylbenzylidene camphor3-Benzylidene camphornano-Titanium dioxide, dan nano-Zinc oxide. Selain terumbu karang, kandungan pada sunscreen juga dapat membahayakan kehidupan biota laut lainnya seperti kerang, lamun, ikan, bulu babi hingga lumba-lumba. 

“When you swim with sunscreen on, chemicals like oxybenzone can seep into the water, where they’re absorbed by corals. These substances contain nanoparticles that can disrupt coral’s reproduction and growth cycles, ultimately leading to bleaching.

Even if you don’t swim after applying sunscreen, it can go down drains when you shower. Aerosol versions of sunscreen can spray large amounts of the product onto the sand, where it gets washed into our oceans.” (dikutip dari: National Geographic)

Lalu apa saja kandungan sunscreen yang saya pilih?
Ingredients: Cocos Nucifera (Coconut) Oil, Zinc Oxide, Euphorbia Cerifera (Candelila) Wax.

Cuma ada tiga bahan, yaitu minyak kelapa, zinc oxide dan wax dari tanaman Candelila. Wax-nya dari tanaman, ya. Jadi vegan friendly. Wax ini lah yang menjaga supaya sunscreen ini water-resistant. Sedangkan bahan yang bekerja sebagai tabir surya adalah zinc oxide. Zinc oxide bekerja dengan cara menghalangi radiasi sinar UV ke kulit, sehingga bisa mencegah kulit terbakar dan penuaan dini.

10 Januari 2020

Surf Naked Sunscreen ini dikemas dalam wadah tin aluminium dengan berat bersih 70 gram atau 2.47 oz. Produk ini juga dilengkapi kemasan kardus. Memiliki label halal dari MUI, terdaftar di LPPOM dan POM. Selain aman untuk ibu hamil, aman juga untuk ibu menyusui. Bisa digunakan di badan, wajah dan bibir. Sebaiknya dioleskan 15 menit sebelum terpapar sinar matahari, dan dianjurkan untuk mengulangi pemakaian setiap dua jam setelah berkeringat, berenang atau sehabis handukan.

Isinya berwarna putih dan padat banget! Bener-bener solid dan agak susah ya diaplikasikan ke kulit. Saya nggak bisa colek isinya, cuma bisa usap-usap lalu smear it on my skin. Dan saking padat dan dense sampai sunscreen yang saya punya dari Januari 2019 hingga sekarang belum habis-habis! Saya udah pakai untuk satu keluarga, untuk anak-anak saya juga yang berusia 4 dan 6 tahun. Setiap kami main ke pantai, setiap mau berenang, pokoknya setiap mau beraktivitas outdoor. Dan ini awet banget.

Cuma saya jarang re-apply karena males dan selain itu kan kalau udah keringetan, takut ngeblokir pori-pori dengan kondisi kulit yang ga bersih ditemplokin sunscreen. Selain itu, hampir tiap berangkat kerja juga saya pakai di wajah, cuma nggak enaknya bisa tampak white cast atau tampak putih-putih gitu. Untuk dicoba dibibir pun bisa cuma bibir kamu bakalan kelihatan pucaaat banget, mending ditambahkan lagi dengan lipbalm yang berwarna gitu atau lip tint.

Mei 2020

Meski masa kedaluwarsanya masih beberapa bulan lagi, yaitu tercetak dikemasan expires Nov 2020, tapi masa pakai optimalnya udah lewat. Setelah wadah dibuka masa optimal sunscreen ini cuma 12 bulan. Lah, berarti kan sunscreen saya udah lewat masa pakai optimal, ya? Iya memang hihihi… Tapi baunya masih aman, ga ada tanda-tanda rancid jadi masih saya pakai hingga sekarang, rencananya sampai habis. Oh ya, sunscreen ini nggak ada bau yang berarti, sih. Baunya datar ya bau dari ketiga bahan penyusun sunscreen tersebut aja.

Akhir-akhir ini di saat pandemi virus Corona kita udah cukup lama berada di rumah saja. Sedih juga, ya, udah lama nggak main ke pantai sekeluarga. Tapi semakin kesini saya lihat di Instagram dan blog, tuh makin banyak yang berusaha berkebun di rumah demi ketahanan pangan domestik juga demi mengisi waktu dengan kegiatan yang bermanfaat.

Nah, saya juga, di rumah emang sudah ada kebun yang dipelihara maupun mulai digarap. Sambil berkebun biasanya saya pakai tuh sunscreennya. Karena sebenarnya bahaya sinar matahari itu nggak cuma sinar langsung aja tetapi juga sinar tak langsung yang masuk melalui jendela meski kita berada di dalam ruangan. Saat mendung pun ternyata radiasi sinar matahari tetap tembus sampai ke kulit kita, lho!

❤️ Intan Rastini.

Referensi:
https://sensatia.com/id/about
https://oceanpulse.id/penggunaan-sunscreen/
https://parenting.orami.co.id/magazine/zinc-oxide-pada-skincare/

4 thoughts on “My Natural and Reef-safe Sunscreen by Sensatia Botanicals

    • Setiap produk berbeda-beda mbak. Coba lihat ada simbol kemasan dibuka tutupnya nggak? Kalau ada di dalamnya ada angka berapa? Kalau di sunscreen saya simbol itu ada, di dalamnya tertulis angka 12. Berarti masa optimal pakai setelah dibuka ada 12 bulan.

      Ada yang 6 bulan bahkan ada yang sampai 18 bulan. Ada pula yang tidak mencantumkan simbol masa optimal pakai, jadi cuma expired date.

Thank you for reading my post, hope you enjoy it. Please... don't type an active link in the comment, because it will be marked as a spam automatically. I'd love to visit your blog if you fill the "website" form :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s