My Tonsillectomy Journal at The Hospital

This journal is a hybrid journal in English and Indonesian. At first before my surgery I kept a personal journal for my own in English and then after the surgery I couldn’t speak, so I told my husband about my surgery memory by texting to him in Indonesian. Then I adapted the text messages for my husband into this journal.

Friday, February 23rd 2018 My first visit to Otolaryngologist at Tabanan General Hospital.
I have a chronic tonsillitis. From December 2017 until February 2018 I’ve already got 4 times sore throat. The sore throats were either with common cold and cough or just sore throat. So I told this to the doctor, then he asked if I wanted my tonsils to be removed. I said yes. So he prepared all the pre-operation procedure. I got my blood checked at the laboratory and then I went to the radiology to have a thorax roentgen. All the tests were to make sure that I am fit for the operation. When the results came back, the Otolaryngologist scheduled me to have a tonsillectomy on March 1st 2018. After I got the surgery schedule I reserved a room for February 28th at the admission office.

Wednesday, February 28th 2018 First Day at the Hospital
Oh my God I can’t sleep. I keep hearing the moan of the grandma next to me. She had an accident while sitting on a chair and then she fell down and hurt her nerve on the neck. It was almost made her hand and leg become paralyzed.

10.50 am arrived at KFC to find Chicken Chizza but found none. Instead I ordered Twisty as take away. I had already wanted cheese glazed / sauced fried chicken by KFC since last year or two years ago. I was also going to order Garlique Fun Fries but I remember I wasn’t supposed to eat deep fried seasoned things regarding to keep my throat healthy before tonsillectomy.

11.20 am arrived at the hospital. Registered and went to the ear-nose-throat doctor. Check my room at the admission. My husband filled the admission form. We would be informed when my room was ready.

12.00 noon had lunch with my husband. I picked a pack of mixed chopped fruits, a cup of mung bean soup, and tipat cantok because I knew I wouldn’t be able to eat all of this solid food after the surgery. I realized I became greedy.

Later on I received a phone call from the nurse that she would take me to my room after lunch. Before going to my room, the nurse put on a pink band on my right wrist.

20180228_133538.jpg

1 pm arrived at my room. Unpacked the bags and goods. Sat on bed. Talked to a man who was waiting for his brother-in-law just after having tonsillectomy. And also talked to another man who was waiting for his mother with nerve injury.

Two nurses came and checked my blood pressure. A nurse asked my to lay down on the bed. I lied down awkwardly and still finding my comfort on a hospital bed. Gotta be used to it.

20180228_171329.jpg

5 PM My first hospital menu for dinner, I think gonna be the first and the last solid food from the hospital

9.30 pm a nurse came to inject an infusion needle to my vein. I was going to sleep and felt sleepy. She told me not to pull my hand when she injected the needle. She attached it to my right hand. It hurt. Then she explained that I shall start fasting at 12 midnight until the surgery was held. Tomorrow morning I shall wash and brush my teeth at 6 am. I said yes to her. While I was writing down this.. there was a butterfly on my stomach that made me nervous and tickled imagining about tomorrow surgery with general anesthesia. I would be totally unconscious. Oh my!

Lying down on the bed and tuck myself into hospital baby blue fleece blanket. I saw my pink band on the right wrist. It was written my name, my age, medical record number and the doctor who took care of me. I suddenly realized that I am getting close to my thirty. I am now 27 years old and just had a birthday this month.

20180301_003541-1.jpg

Oh I have spending my seven years living with my man. My only partner next to me, who always keeps me safe and comfortable. He finds his way to take care of me. Now he is sleeping on a mattress on the floor next to my bed.

I am quite nervous since it is gonna be my first surgery. And in this room I share with another 5 patients. One of them keeps moaning that she suffers terrible paint. I feel pity for her. God gives her the best.

20180228_213954.jpg

Yeah time passes – back to my reminiscence, I am going to be thirty and thriving. I hope so. Thirty, thriving and tonsilless. But also much healthier and stronger, and then I feel asleep.

 

Kamis, 1 Maret 2018 Hari Kedua di Rumah Sakit (D-Day)

20180301_063637.jpg

06.36 am pre-operation tonsillectomy. Selang infus awalnya dipasang di tangan kiri.

Saya mulai kedinginan masuk ruang bedah sentral tapi belum ke ruang utama untuk proses operasi, masih di ruang transisi untuk pasien menunggu. Di ruamg transisi atau ruang pasien yang akan dioperasi menunggu, saya ditanyai oleh mbak asisten bermasker dan berkacamata tentang nama, penyakitnya apa lalu apa ada riwayat sesak napas, hipertensi, diabetes. Lalu saya disuntikkan antibiotik, sambil botol infusnya dibalik sebentar. Lalu saya dibiarkan menunggu di atas brankar khusus mau operasi, warnanya ijo – ada alasnya empuk, kompakan warna ijo daun semua.

20180301_092255.jpg

Ruang bedah sentral BRSU Tabanan, suami saya diminta menunggu di luar sambil bawa selimut saya yang krem dan tebal

Saya sempat nanya jam berapa ini ke asistennya, dijawab jam 9.20. Saya lihat ada anak remaja laki-laki lagi duduk menunggu lengkap dengan pakaian pasien operasi dan topi operasi juga. Lalu di seberang kiri, datang seorang wanita yang juga tiduran di atas brankar khusus operasi dan kakinya yang kanan patah. Karena saya awalnya tiduran, lalu saya pun bangun dan duduk di atas brankar. Ada seorang petugas kesehatan laki-laki nanya ke saya, ”kenapa bu?”

Saya jawab bahwa saya kedinginan dan bertanya apa boleh minta selimut. Bapak itu pun menjawab ”boleh.” Beliau langsung mengambilkan selimut dan menyongsong saya, ”ibu tiduran saja” lalu selimut fleece baby blue ruang bedah disampirkan ke badan menutupi kaki saya. Karena rasanya ukurannya kurang panjang, saya putar-putar selimut itu sampai panjangnya pas menutup dada hingga kaki, tapi kok rasanya tetap kurang panjang ya!?

Akhirnya saya didorong ke ruang operasi utama. Dokter laki-laki yang menarik brankar saya bertanya dari mana asal saya, saya bilang dari Sekartaji tapi lahir di Surabaya. Beliau tahu baik Sekartaji maupun Surabaya. Saya katakan saya lahir di Surabaya karena orang tua saya dinas disana.
”di Surabaya mana?” tanyanya. saya jawab di Waru.
”di mananya jalan tol Waru?”
” ya itu di bawahnya.”
”kalau saya di Karang Menjangan dulu.”

Di ruang operasi utama, saya melihat ruangan itu seperti teater dengan satu meja futuristik, yang tidak lain adalah meja operasi. Saya harus berpindah dari brankar ke atas meja operasi. Disitu baru diiingiiiin banget kayak di chiller! Pasti biar bakteri susah tumbuh disana. Celakanya selimut saya ditarik sehingga mulai deh efek kedinginan bekerja, di tenggorokan mulai ada lendir dan hidung berair, saya pun menarik dahak yang muncul sampai dokter anastesinya kaget mendengarnya! Haha.

Saya udah bolak-balik bilang ke dokternya, “dingin ya, dok.”
“Nggak apa-apa dingin sedikit.” kata dokter anastesi yang perempuan.

Saya jadi menggigil tambah keras sambil diajak ngomong sama dokter anastesinya tentang pekerjaan saya, sudah bekeluarga, anak ada berapa. Saat mereka tau saya ngajar Bahasa Inggris di yayasan, dokter anastesinya yang perempuan bilang ”ayuk kita berbahasa Inggris, yuk…”

Sembari asisten bedah mempersiapkan sesuatu dan berkata kepada dokter anastesi laki-laki, si dokter pun menyahut ”so much”. Ngga tau untuk menjawab apa, kurang tau pasti.

Di tengah peecakapan mereka sambil mereka bergerak terus mempersiapkan segala sesuatunya, saya disuntik sesuatu di keran selang infusnya. Trus saya mau nanya ”how long the surgery will take time?” tapi ga jadi, nanya dalam Bahasa Indonesia aja, ”berapa lama operasinya, dok?”

Dijawab oleh dokter yang perempuan, ”satu jam.”

Lalu disahuti sama dokter yang laki-laki, ”tapi kalau orang dewasa lebih lama, soalnya kan lebih rumit, banyak pembuluh darahnya.”

Saya jawab ”oh, gitu ya dok.”

Lalu dokter anastesi yang perempuan memberi tahu saya,”nanti setelah operasi rasanya seperti sakit tenggorokan, ya.”

Saya pun mengiyakan. Tanda bahwa saya menerima informasi tersebut.

Lalu sang dokter menyiapkan balon yang mengembung dan ada masker, dokter yang cewek pun nyeletuk, ”lho kok gembung gitu.”
Saya noleh kayaknya itu berisi gas anastesi. Abis itu saya nggak inget apa-apa lagi. Bener-bener deh, dokter anastesinya itu nggak pakai aba-aba atau peringatan saat membius saya, lho!

Proses operasi berjalan tanpa saya ketahui dan nggak ada ingatan sedikit pun mengenai prosesnya. Seperti ada ingatan yang hilang saja.

Pukul 11 siang Pak dokter THT yang agak mirip Fariz RM versi lebih muda dengan rambutnya yang khas beruban pun keluar dan bilang kepada papa, ”operasinya sudah selesai, pak.”

Sedangkan saya, tau-tau sudah bangun di ruangan yang berbeda, ada tulisannya di pintu kaca: PACU atau POCU, saya baca secara terbalik dari balik kaca pintu sebelah dalam, pokoknya untuk post operation care unit. Saya terbangun kedingininan dan ternyata udah diselimuti lagi dengan selimut fleece baby blue ruang bedah yang rasanya lebih kasar dan lebih pendek, nggak selembut selimut fleece baby blue dari Ruang Cempaka. Ada mbak-mbak asisten berkacamata yang bilang, ”buka matanya, sudah selesai operasi.”

Saya merasa sedang bermimpi masih ada hubungannya dengan bercakap-cakap dengan dokter bedah dan dokter anastesi. Tapi saat saya terbangun saya tidak bisa ingat betul barusan itu mimpi tentang apa sebenarnya.

Saya lihat jam di dinding yang menunjukkan pukul 11.50. Saya dibiarkan di ruangan itu menggigil bersama dua pasien lainnya yg habis operasi juga, tapi mereka semua tidak menggigil, yang saya tau, salah satu pasien baru selesai operasi sesar. Dan saya sempat lihat bayinya digendong suster di ruang transisi operasi sebelum saya dioperasi.

Selebihnya saya menunggu lagi di PACU sambil memutar-mutar selimut itu lagi karena tidak seluruhnya menutupi kaki saya, saat memutar selimut, saya mendapati satu sachet plastik berisi sejumput-dua jumput gumpalan daging, aah ini pasti tonsil saya. Lalu hasil rontgent dan catatan medis yang ditaruh dikaki saya jadi bergeser sampai hasil rontgentnya jatuh akibat saya gerak-gerak berusaha memanjangkan selimut sampai menutupi kaki. Mbak asisten pun akhirnya bilang, ”diem bu, kakinya jangan gerak-gerak.”

Duh, dari tadi saya rewel masalah dingin aja karena bikin badan terguncang-guncang menggigil, sehingga saya nggak inget pasti rasanya tenggorokan saya pasca operasi. Yang saya ingat saat mau dipindahkan dari ruang bedah, saya merasakan ada lendir di sekitar tenggorokan saya sehingga secara refleks saya ingin batuk dan mengeluarkannya. Sontak perawat yang menjemput saya mendengar itu, dan ia berusaha menghentikan saya untuk menarik dahak di tenggorokan. Salah satu perawat pun mengkhawatirkan kondisi saya karena saya terlihat pucat. Kemungkinan besar karena saya kedinginan sepanjang waktu.

20180301_131158.jpg

post-operation tonsillectomy

Untung saya juga bawa selimut sendiri yang tebel. Perawat pun menutupi tubuh saya dengan selimut dari rumah sakit yang biru lalu ditumpuk lagi dengan selimut tebal saya yang krem karena mengetahui saya menggigil kedinginan.

Sakitnya tenggorokan lama-lama terasa saat saya dipindahkan kembali ke Ruang Cempaka. Di kamar perawatan, saya mengantuk. Saat tertidur, sedikit-sedikit terbangun karena susah napas dari hidung. Menarik napas dari hidung bisa, tapi saat mengeluarkan udara melalui hidung nggak bisa! Tertutup lendir-lendir sesuatu yang bergumul di tenggorokan menutupi lubang antara mulut dan hidung. Tenggorokan rasanya tercekat, nelan ludah rasanya susah karena seperti tercekik, ngga ada ruang untuk ludah masuk tertelan.

Setelah operasi saya mendapat susu dingin, satu-satu asupan yang masuk lewat mulut di hari operasi. Suami pun juga membelikan 1 kotak susu UHT. Semuanya saya habiskan. Untung pasca operasi saya tidak mengalamin mual maupun muntah sama sekali, cuma lemes aja karena puasa seharian, lalu kedinginan dan melalui proses bedah yang melukai jaringan tenggorokan. Oh ya segera setelah operasi memang diperbolehkan suster makan es krim yang hanya rasa vanila, tapi saya nggak mau. Mau yang cair aja udah cukup.

Jumat, 2 Maret 2018 Hari Ketiga (terakhir) di Rumah Sakit

20180302_062611.jpg

6.26 AM Menu makanan pertama setelah tonsilektomi: bubur sumsum + gula merah, telur rebus dan susu dingin. I could eat them all in a very long time

Dokter sp.THT visit pukul 9.45.
“Pagi…….!” sapa dr. I Nyoman Kertanadi begitu masuk ke ruangan Cempaka no. 7. Kebetulan bilik ranjang saya tepat menghadap ke pintu dan tirai sudah disibakkan sehingga sang dokter bisa melihat langsung ke arah saya.

Saya dengan parau dan pelan menjawab juga, “pagi.”

Suami saya pun menyusul dan membalas pula sapaan hangat dokter tersebut. Ternyata suami saya sudah melaporkan bahwa saya masih merasa sakit di tenggorokan sehingga sang dokter kedapatan tengah menjawab, “ya, iya masih sakit kan ini masih baru.”
“Gimana? Sudah diminum susunya?” Tanya sang dokter dengan ramah kepada saya.

Tapi ternyata suami saya membantu saya untuk menjawab, “belum. Baru sedikit aja yang diminum.”

Selanjunya dr. Nyoman Kertanadi menjelaskan bahwa saya sebaiknya makan-makanan yang bersuhu normal. Tidak yang dingin dan juga panas atau hangat. Makan es krim pun sudah tidak perlu karena sebaiknya makan es krim itu di hari tepat setelah operasi saja. Lalu boleh makan yang lembut seperti bubur, roti dicelup ke susu, biskuit Regal dicampur susu, bahkan bikin bubur Sun alias bubur bayi. Saya sempat tersenyum geli karena mendengar bubur Sun disebut. Bener-bener jadi bayi. Great. Ntar akhirnya di rumah saya kena batunya karena terpaksa harus konsumsi bubur Sun beneran karena susah nelan bubur nasi!

Lalu sebelum sang dokter pergi saya sempat menanyakan apa itu adenoid. Tapi karena suara saya nggak jelas yang keluar, beliau pun menelengkan sedikit kepalanya kepada saya sambil mengkonfirmasi ulang perkataan saya. Saya ucapkan lagi kepada dokter, “apa itu adenoid?”
“Oh, adenoidnya nggak diambil.”
“Bukan. Saya cuma tanya apa itu adenoid?”

…. Saya nggak bisa ingat dengan pasti penjelasan dokter tentang adenoid, yang saya ingat (dibantu oleh ingatan suami) bahwa bayi dan anak-anak sampai usia 14 tahun yang punya adenoid, setelah dewasa tidak ada lagi adenoidnya.

Lalu saya bertanya lagi, “memang amandel bikin ngantuk ya, dok?”
Dokter pun menjelaskan bahwa benar bisa menyebabkan mudah ngantuk karena amandel menghalangi asupan oksigen ke otak.

20180302_111443.jpg

11 AM menu makan siang: bubur saring, ayam, tahu, telur rebus dan pisang. They tasted great! I just have difficulty to swallow them

Akhirnya saya diperbolehkan pulang hari itu setelah makan siang. Dengan catatan kontrol lagi hari Selasa, 6 Maret 2018. Suami pun mengurus administrasi kepulangan saya, dan total biaya operasi amandel adalah 3 jutaan. Tapi saya tidak bayar karena semua ditanggung oleh BPJS Kesehatan.

20180302_112754.jpg

Sebelum pulang, Paknik, Bunik, Mbok Komang Sri dan Mbok kadek Indra datang menjenguk saya, sambil membawakan roti tawar Sari Roti yang Double Soft, Roti isi mentega dan 2 botol air mineral. Lalu disusul oleh Makciek, Iqbal dan Budhe. Makciek membantu membawakan 1 tas travel saya ke Angkah dengan motornya.

Yeah I was discharged from the hospital, finally. At home without any pain killer shots directly to my vein, the pain on my throat becomes greater! I have to swallow a very very bitter medicine (antibiotic and pain killer in powder), it is not a problem on my tongue but it is an extreme bitter and burn on my throat wounded tissue. GOSH!!! It was way better to stay at the hospital, where I got the pain killer injected through the infusion hose and had an intravenous feeding.

To be continued to  mypost-hospital stay journal.

Thank you for all the nurses and doctors who had taken care of me at the Tabanan General Hospital, Bali.

Intan Rastini.

Advertisements

Ganti Kacamata Baru dengan BPJS Kesehatan

Posting lalu kan sudah saya tulis mengenai pengalaman odontectomy atau operasi cabut gigi bungsu menggunakan BPJS Kesehatan, kali ini saya mau cerita tentang prosedur pelayanan untuk mendapatkan kacamata bagi peserta BPJS Kesehatan sesuai pengalaman saya.

 

By the way, mata saya emang udah ketahuan minus sejak mau masuk SMP, jadi saya udah cek kesehatan berkala dan menggunakan kacamata dari dulu. Tapi setelah saya menikah, saya nggak pernah cek kesehatan mata lagi, kacamata yang saya pakai pun masih dengan ukuran lensa waktu terakhir periksa di masa kuliah. Akhirnya saya memutuskan untuk periksa mata saat sudah punya BPJS Kesehatan. Sebenernya banyak optik yang menawarkan periksa mata gratis, tapi kan saya juga perlu ganti lensa kalau ukurannya berubah.

 

Kok, kebetulan gagang kacamata lama saya sempat patah, trus udah dilem jadinya longgar, nggak megang gitu. Kan nggak nyaman banget dipakai. Eh trus, Jon, anak Bu Yuli pengelola yayasan tempat saya bekerja, nawarin frame kacamata biru punya volunteer yang ketinggalan. Awalnya saya nolak karena udah punya kacamata, tapi segera berubah pikiran karena langsung inget kalau gagang kacamata lama saya udah longgar. Karena butuh frame kacamata baru, akhirnya saya ambil, deh.

20171219_110732

Kacamata saya yang lama framenya berwarna hitam dan gagangnya berwarna cokelat, kalau kepala nunduk suka hampir jatuh gitu karena gagangya udah longgar abis patah engselnya

Tanggal 20 Oktober 2017 lalu saya ke puskesmas Suraberata bilang mau periksa mata karena mata saya minus dan udah lama nggak cek mata lagi. Lalu diberi surat rujukan untuk periksa ke dokter spesialis mata di BRSU Tabanan. Setelah itu saya pun mencoba ambil antrean online di web BRSU Tabanan yang sudah mulai diberlakukan sejak Agustus 2017. Ambil antrean online ini berlaku untuk kunjungan ke BRSU Tabanan 2 hari kemudian. Saya langsung dapat nomor antrean 1 untuk ke poli mata.

 

Saat ke BRSU Tabanan, saya langsung mengkonfirmasi antrean online saya di loket pendaftaran beserta menunjukkan surat rujukan dan kartu BPJS Kesehatan. Nggak lama kemudian langsung disuruh ke poli mata. Di poli mata saya perlu menunggu sampai dokter spesialis mata datang. Saat diperiksa ternyata kedua mata saya minus 1,75 dan mata kanan saya silinder 0,25.

 

Saya juga sempat mengeluhkan mata kanan saya yang sering sakit jika tiba-tiba dibuka saat terbangun tengah malam atau terlalu pagi. Kata dokter, sih, sebabnya karena mata saya lelah, maka saya diresepkan obat tetes mata dan resep untuk ukuran lensa mata kacamata yang baru. Saya pun masih perlu melengkapi resep kacamata dengan legalisir dan SEP (Surat Elegibilitas Peserta) dari BPJS center yang ada di area BRSU Tabanan.

 

Di kantor BPJS Center, saya diberi daftar alamat optik di Tabanan yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. Nilai pertangungan pembelian kacamata baru yang saya dapat adalah Rp 150.000 karena saya peserta BPJS Kesehatan kelas III. Dan sebagai info tambahan, pembelian kacamata baru yang ditanggung adalah untuk lensa spheris minimal 0,5 Dioptri dan untuk lensa silindris minimal 0,25 Dioptri. Kacamata dapat diberikan paling cepat dua tahun sekali sesuai dengan indikasi medis. Oh ya, untuk nilai pertanggunagan kelas II Rp 200.000 dan kelas I Rp 300.000.

 

Setelah pegang resep dokter spesialis mata yang dilegalisir dan SEP, saya tinggal pilih mau beli kacamata di optik mana. Saya sempat tanya-tanya ke tiga optik yang berbeda di Tabanan yang masih bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. Saya cuma tanya harga lensa plastik untuk minus 1,75 dan silinder 0,25 karena saya udah punya frame kacamatanya.

 

  1. Optik Arie cabang Bajera Jl Rajawali No. 9, harga lensa plastik yang ditawarkan Rp350.000.
  2. Optik Internasional di dekat pasar senggol Tabanan Jl. Gajah Mada No. 13, harga lensa plastik biasa Rp350.000. yang ada anti UV Rp 500.000an.
  3. Optik Erlangga di Jl. Pahlawan No. 25 Tabanan, harga lensa plastik Rp250.000, lensa plastik biasa Rp200.000

 

Saya dapat best price di optik Erlangga dan saya ambil lensa plastik dengan harga Rp 200.000, maka saya perlu nambah bayar Rp50.000 secara cash. Dan setelah sempat ngobrol sama tante saya yang juga punya kacamata baru, ternyata Optik Erlangga emang terkenal lebih murah karena beliau beli kacamata barunya disana, periksa mata pun gratis.

Selain Optik yang tersebut di atas yang telah saya kunjungi ada pula optik lainnya yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan di Tabanan, yaitu:

  1. Optik Indra di Jl. A. Yani No. 50 Kediri
  2. Optik Arie cabang Tabanan di Apotek Restu Farma

Di Optik Erlangga saya serahkan resep ukuran lensa dari dokter spesialis mata, SEP, fotokopi kartu BPJS Kesehatan dan tidak lupa frame kacamata yang saya bawa untuk dibuatkan lensa dengan ukuran baru dan dipasangkan ke frame kacamata saya. Katanya sih, seminggu selesai dan akan dihubungu ke nomor HP saya. Tapi ternyata baru 2 hari saja saya sudah terima sms yang memberitahukan bahwa kacamata saya sudah selesai.

 

Untuk ambil kacamata saya perlu menunjukkan nota pembayaran saja. Udah deh… saya jadi punya kacamata baru! Next kalau mau periksa mata lagi bisa Oktober 2019. 🙂

 

Ini dia kacamata baru saya, warnanya biru bening dengan gambar sulur-sulur tanaman di gagangnya tapi nggak terlalu kelihatan di foto ini. Matching kan dengan kebaya dan tasnya? 😀

Bagus nggak menurut kalian? Saya sebenernya kurang suka dan kurang PD dengan frame kacamata warna-warni, maunya sih yang warnanya tidak terlalu mencolok seperti hitam, tapi namanya juga frame kacamata dikasi, ya kan? Ternyata framenya cukup kuat dan megang, kok. Worth it.

Intan Rastini.

TB Bisa Dicegah dan Disembuhkan #AyoTOSSTB

Screenshot_2017-10-19-12-02-51.png

Ibu-ibu kader posyandu Angkah Gede berseragam batik merah-oranye bata

November tahun lalu saya sebagai kader Posyandu sempat diundang oleh Ibu Ketua Posyandu untuk mengikuti penyuluhan seputar kesehatan di Balai Banjar Angkah Pondok. Saat itu saya tidak kepikiran untuk menuliskannya di blog sehingga tidak ambil foto sama sekali, untungnya ada satu foto yang saya dapat dari bu kader lain. Ternyata undangan tersebut berasal dari PPTI cabang Tabanan dan acaranya cukup resmi. Mereka, tim PPTI, memasang spanduk mengenai Tuberkulosis sebagai backdrop begitu datang, saya pun akhirnya jadi tau ternyata penyuluhan ini tentang Tuberkulosis. Sebelumnya, sih, hanya diberi informasi penyuluhan kesehatan saja. Karena materinya cukup penting, maka saya coba rangkumkan di sini supaya ilmunya nggak terbang begitu saja dengan berakhirnya punyuluhan tersebut.

balipostcom_ketuk-1.000-rumah-untuk-penanganan-tbc_01-696x464

diambil dari Balipost

PPTI adalah Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia. Merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bersifat sosial kemasyarakatan untuk mewujudkan masyarakat sehat sejahtera dan Tuberkulosis tidak lagi menjadi masalah kesehatan bagi masyarakat. Tugas dan fungsi PPTI adalah melaksanakan penyuluhan, penanggulangan dan pemberantasan Tuberkulosis serta mengupayakan santunan kepada penderita. Penyelenggaraannya melalui: penyuluhan, pendidikan, pelatihan dan upaya lain, baik bersama pemerintah (sesuai dengan program-programnya) maupun melakukannya sendiri.

82229542b7862cfaa69b6bd44cf1df33

Logo PPTI diambil dari blog PPTI Tabanan

Dewasa ini peringkat “global” Indonesia dalam hal TB memang ada “penurunan” dari rangking 4 ke 5 (setelah Cina, India, Afrika Selatan dan Ghana) tetapi jumlah penderitanya tetap banyak. Di Tabanan, Bali sendiri hasil penjaringan di BRSU Tabanan yang dihimpun oleh Petugas PPTI, setiap bulan ditemukan penderita dengan BTA Positif sebanyak 5-8 orang penderita dari puluhan suspect yang diperiksa atau memeriksakan diri. Yang tidak dapat kita ketahui secara pasti (karena tidak adanya petugas PPTI secara khusus) adalah di:

  1. Unit Pelaksana Kesehatan / Puskesmas-puskesmas sekabupaten Tabanan
  2. Berbagai Rumah Sakit Swasta
  3. DPS (Dokter Praktek Swasta)

Apa itu TB?

TB atau dulu dikenal dengan TBC adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium tuberculosis). TB dapat menyerang siapa saja terutama usia produktif/masih aktif bekerja (15-50 tahun) dan anak-anak. Apabila tidak diobati 50% dari pasien meninggal setelah 5 tahun.

Apa gejala TB?

Gejala utama berupa batuk terus-menerus dan berdahak selama 2 minggu atau lebih

Gejala lainnya:

  • Batuk bercampur darah
  • Sesak napas dan nyeri dada
  • Badan lemah
  • Nafsu makan berkurang
  • Berat badan turun
  • Rasa kurang enak badan (lemas)
  • Demam meriang berkepanjangan
  • Berkeringat dingin di malam hari walaupun tidak melakukan kegiatan

Ingat ya, tidak semua batuk itu suspect TB, hanya batuk berdahak saja. Tetapi untuk batuk berdahak pun perlu dipastikan dengan sample dahak supaya pasti apakah TB atau bukan.

Bagaimana penularan TB?

Sumber penularan adalah pasien yang dahaknya mengandung kuman TB, pada waktu batuk atau bersin menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk percikan dahak. Sekali batuk dapat menyebarkan sekitar 3.500 kuman dan ketika bersin 4.500-1.000.000 kuman yang terkandung dalam percikan dahaknya.

Penularan terjadi melalui percikan dahak yang dapat bertahan selama beberapa jam dalam ruangan yang tidak terkena sinar matahari dan lembab.

Semakin banyak kuman yang ditemukan dalam tubuh pasien berarti semakin besar kemungkinan penularan kepada orang lain.

Bagaimana risiko penularan TB?

Pasien TB dengan BTA (Basil Tahan Asam) positif memberikan risiko penularan lebih besar dari pasien TB dengan BTA negarif.

Risiko seseorang terpapar kuman TB ditentukan oleh jumlah percikan dahak dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut.

Apa Jenis TB?

TB Paru: Tuberkulosis Paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan paru

TB Ekstra Paru: Tuberkulosis yang menyerang organ lain selain paru, yaitu selaput otak, selaput jantung, kelenjar getah bening, tulang, persendian, kulit, usus, ginjal, saluran kencing, alat kelamin, dll.

Iiih ngeri ya? Khusus dalam penyuluhan yang saya hadiri yang dibahasa adalah TB Paru.

Bagaimana cara mengetahui seseorang terkena TB?

Untuk Pasien TB Paru Dewasa dilakukan pemeriksaan dahak secara 3 kali, yaitu Sewaktu-Pagi-Sewaktu (SPS) dalam 2 hari berturut-turut.

Hari pertama: dahak diambil sewaktu (S) kunjungan pertama ke rumah sakit/Puskesmas

Hari kedua: dahak diambil saat bangun tidur pagi (P) sebelum makan dan minum. Sewaktu (S) mengantar dahak pagi ke Puskesmas/rumah sakit, dahak diambil lagi.

Pengobatan TB

Pengobatan berlangsung 6-8 bulan yang terbagi dalam 2 tahap, tahap awal dan tahap lanjutan.

Apa akibat tidak minum obat secara tuntas?

Pengobatan TB harus lengkap dan teratur, bila pasien berhenti minum obat sebelum selesai pengobatan akan berisiko:

  1. Penyakit tidak sembuh dan tetap menular ke orang lain
  2. Penyakit bertambah parah dan bisa berakibat kematian
  3. Obat Anti TB (OAT) yang tersedia saat ini tidak dapat membunuh kuman sehingga pasien tidak tuntas pengobatan harus disembuhkan dengan penanganan lebih mahal dan lebih lama.

Untuk itulah diperlukan PMO. Kata bapak narasumber, pasien yang tidak tuntas pengobatan TB bisa menimbulkan bakteri TB  yang resisten dengan obat TB yang disebut TB kebal obat. Kalau sampai kebal, pengobatannya lebih lama tidak sekedar 6-8 bulan tetapi 9 bulan hingga 2 tahun dengan biaya per pasien mencapai Rp 335.300.000.

Apa itu PMO?

Pengawas Menelan Obat untuk menjamin keteraturan pengobatan TB hingga tuntas. PMO dapat berupa seseorang yang secara sukarela membantu pasien TB dalam masa pengobatan hingga dinyatakan sembuh.

Apa syarat menjadi PMO

  • Sehat jasmani dan rohani serta bisa baca tulis
  • Bersedia membantu pasien dengan sukarela
  • Tinggal dekat dengan pasien
  • Dikenal, dipercaya, dan disegani oleh pasien
  • Disetujui oleh pasien dan petugas kesehatan
  • Bersedia dilatih dan atau mendapat penyuluhan bersama-sama dengan pasien

Apa tugas PMO?

  1. Memastikan pasien menelan obat sesuai aturan sejak awal pengobatan sampai sembuh
  2. Mendampingi dan memberikan dukungan moral kepada pasien agar dapat menjalani pengobatan secara lengkap dan teratur
  3. Mengingatkan pasien TB untuk mengambil obat dan periksa ulang dahak sesuai jadwal
  4. Menemukan dan mengenali gejala efek samping OAT dan merujuk ke Unit Pelayanan Kesehatan
  5. Mengisi kartu kontrol pengobatan pasien TB
  6. Memberikan penyuluhan tentang TB kepada keluarga pasien atau orang yang tinggal serumah

Pencegahan Penularan TB

Upaya pencegahan penularan TB yang terbaik adalah menemukan dan mengobati pasien TB.

Maka dari itu bapak narasumber berpesan, jika Anda memerhatikan masyarakat sekitar Anda lalu menjumpai ada tetangga atau sanak saudara yang memiliki gejala-gejala TB, sebaiknya Anda sarankan untuk memeriksakan diri ke Puskesmas terdekat. Semakin cepat diketahui semakin cepat pengobatannya. Penularan ke lebih banyak orang pun dapat dihindari . Ini juga merupakan kepedulian terhadap kesehatan komunitas atau kesehatan masyarakat.

Kesadaran diri sendiri pun diperlukan supaya mau memeriksakan diri ke Puskesmas apabila diduga menderita TB. Sebagai anggota masyarakat Anda dapat pula memberitahukan kader TB atau petugas kesehatan terdekat jika ada pasien yang diduga menderita TB di wilayah tempat tinggal Anda.

  1. Bagi pasien TB, minumlah obat TB secara lengkap dan teratur sampai sembuh
  2. Pasien TB harus menutup mulutnya pada waktu bersin dan batuk atau mengenakan masker

Kuman TB yang dikeluarkan pasien TB saat

  • Bicara: 1-200 kuman
  • Batuk: 0-3.500 kuman
  • Bersin: 4.500-1.000.000 kuman
  1. Tidak meludah dan membuang dahak di sembarang tempat, tetapi buang di tempat khusus dan tertutup diberi cairan anti bakteri seperti Lisol.
  2. Menjalankan hidup bersih dan sehat (PHBS) antara lain:
    1. Menjemur peralatan tidur secara rutin
    2. Mencuci sprei dan selimut secara berkala
    3. Membuka jendela dan pintu setiap pagi agar udara dan sinar matahari masuk
    4. Aliran udara (ventilasi) yang baik dalam ruangan dapat mengurangi jumlah kuman di udara. Sinar matahari langsung dapat mematikan kuman
    5. Makan makanan bergizi
    6. Tidak merokok dan tidak minum minuman keras
    7. Lakukan aktivitas fisik atau olah raga secara teratur
    8. Mencuci peralatan makan dan minum dengan air bersih mengalir memakai sabun
    9. Mencuci tangan dengan air bersih mengalir dan menggunakan sabun

Bagaimana cara batuk yang benar?

  1. Palingkan muka dari orang lain dan makanan
  2. Tutup hidung dan mulut dengan tisu atau saputangan ketika batuk dan bersin
  3. Jangan bertukar saputangan atau masker dengan orang lain
  4. Hindari menyentuh muka, hidung atau mulut, jika menutup mulut dengan tangan segeralah mencuci tangan
  5. Hindari batuk di tempat keramaian
  6. Pasien TB memakai masker sebagai penutup mulut dan hidung di tempat umum
PKRS Etika batuk

Gambar diambil dari sini

PPTI merupakan mitra kerja pemerintah dalam menanggulangi TB, sesungguhnya banyak hal yang dilakukan PPTI, namun karena masalah ketersediaan pembiayaan, sedikit hal yang bisa dilakukan. Untuk itu bapak-bapak narasumber penyuluhan yang merupakan pengurus PPTI dengan tangan terbuka menerima ajakan untuk memberikan penyuluhan mengenai TB di komunitas atau kelompok-kelompok sosial seperti PKK, kelompok pengurus Posyandu, dll. Biayanya pun gratis. Bagi saya dengan menyebarluaskan ilmu yang telah saya dapat ini merupakan bentuk kontribusi saya untuk menyehatkan masyarakat Indonesia dengan memberikan informasi yang benar.

TB adalah penyakit pembunuh terbesar no. 3 di Dunia dan bisa disembuhkan asal mau berobat tepat waktu dan tepat dosis selama 6-8 bulan.  Obatnya pun diberikan secara gratis di Puskesmas terdekat. Cara penularan TB gampang, lewat udara dan saluran pernapasan. Cara mencegahnya dengan PHBS, membiasakan menjemur tikar, bantal, kasur dan guling karena kuman TB mati terkena sinar matahari langsung, mencuci sprei dan selimut secara berkala, memelihara sanitasi – lingkungan yang sehat, serta mengatur ventilasi rumah yang baik.

Kalau Anda mendapati informasi ini berguna dan bermanfaat, silakan share ke media sosial Anda dengan klik tombol ikon media sosial di akhir tulisan ini. Terima kasih telah membaca dan berkontribusi, ayo dukung Indonesia bebas TB dengan TOSS TB! Temukan Obati Sampai Sembuh TB.

#AyoTOSSTB

Silakan cek web http://www.ayotosstb.com

Anda bisa ikut kompetisi Vlog sebagai proyek yang sedang dilakukan untuk kampanye “Ayo Temukan Obati Sampai Sembuh TB” atau #AyoTOSSTB dan juga bisa mengecek risiko terkena TB.

Sumber rangkuman: materi yang dibagikan secara tertulis oleh pengurus PPTI Cabang Denpasar.

Intan Rastini.

I Have No Wisdom Teeth Anymore II

Kelanjutan dari “I Have No Wisdom Teeth Anymore I”….

Sambil menunggu dipanggil masuk ruang bedah, saya sempat sarapan dua kali, nyemil-nyemil dan minum susu UHT. Pak mantri yang modar-mandir di depan poli gigi menjelaskan bahwa mereka sedang mempersiapkan ruang bedah dan menunggu dokternya datang. Sambil menunggu beliau juga sempat menjelaskan bahwa letak gigi bungsu yang dicabut itu letaknya dekat dengan syaraf-syaraf sehingga bisa terjadi efek samping seperti kebas atau mati rasa di seputar area tersebut. Tapi mereka akan tetap berusaha yang terbaik supaya itu nggak terjadi.

20170607_073600

Sebelum operasi cabut gigi, minum susu UHT dulu

Saya juga tidak lupa membawa sikat gigi dan pasta gigi supaya saya bisa membersihkan gigi sebelum operasi cabut gigi. Saat nama saya dipanggil masuk ke ruang bedah, deg-degan rasanya. Untung ada dua bapak mantri yang ngajak saya ngobrol dengan ramah dan akrab sehingga suasana jadi lebih santai. Saya pun diminta untuk berkumur dulu sebelum operasi dimulai. Foto rontgent di tempel di atas dekat lampu dokter gigi dan gigi bungsu saya yang akan dicabut saat itu saya pilih yang kiri (gigi 38) dulu karena itu yang lebih nyeri karena berlubang.

Sebenernya saya memejamkan mata terus saat operasi berlangsung, selain karena silau kena lampu juga karena takut hihih. Tapi tetap terasa kan kalo gusi itu mulai disuntik anastesi sampai mati rasa. Terus mulai dibedah gusinya pakai gunting nggak lama setelah dibius lokal karena bunyi “cekrik-cekrik”, gitu. Selanjutnya gigi bungsu dipegang dengan alat dan dicoba diangkat, karena agak susah, akhirnya dibor sampai gigi saya patah menjadi beberapa bagian dan bisa diangkat satu per satu sampai bersih. Selama proses dibor itu getarannya yang bertubi-tubi bikin rahang ngilu-ngilu dikit apalagi kita kan terus nganga. Mulut pun berasa penuh air liur, tapi ada alat penyedot cairan yang dipegang oleh pak mantri selama proses odontectomy.

Ruangan bedah mulut itu terasa dingin banget sampai saya kedinginan. Untung saya pakai kaos kaki dan sepatu, lalu saat saya mau lepas di awal, pak mantri bilang nggak usah karena ruangannya dingin. Pilihan yang tepat kalo gitu pas pakai jaket dan sepatu. Setelah semua bagian gigi bungsu saya terangkat, gusi saya akhirnya dijahit. Rasanya kok gusi sakit banget ketarik-tarik benang jahitan sampai rapat. Sekitar 2 atau 3 jahitan dengan simpul penutup setelah itu diberi kapas untuk digigit. Dan diberi ekstra kapas steril untuk ganti setelah 1 jam. Perawat berpesan untuk tidak makan dan minum yang panas, tidak berkumur-kumur, dan tidak menghisap-hisap dulu pasca cabut gigi.

Kira-kira proses operasi cabut gigi itu 30 menit aja. Saya pun diberi resep obat penghilang rasa sakit dan antibiotik. Terus besok disuruh kontrol lagi. Resepnya langsung saya kasi suami biar ditebus ke apotek dan saya langsung buka website Sanglah untuk ambil antrean online buat kontrol besok. Selesai operasi saya sempatkan minum susu UHT biar nggak lemes, dan karena udah jam makan siang, kami pulang sambil mampir untuk makan gado-gado di depan RS Sanglah. Setelah makan langsung saya minum pain killernya biar nggak kesakitan pas obat bius udah berkurang.

Saya putuskan untuk nginep di Dalung saja supaya nggak terlalu capek menempuh jarak jauh Denpasar-Tabanan bolak-balik apalagi besok masih perlu kontrol. Keesokan harinya saya kontrol ke Sanglah diantar oleh Ratih, dan proses periksa pasca-odontectomynya cukup cepat, dilihat dan cuma dibersihkan dengan cairan steril gusinya. Saya nggak ada keluhan berarti sih, selain pipi bengkak dan rasa sakit nyut-nyutan di bekas cabut gigi. Makan emang jadi susah tapi saya tetap nafsu makan, dong hehehe… Pipi saya yang bengkak banget kata pak mantrinya masih normal, ntar bisa kembali sekitar 3-4 hari. Tapi sebenernya yang saya alami, kempesnya setelah 1 minggu, bo!

Minggu depannya saya dijadwalkan untuk lepas benang jahitan, maka saya pun datang lagi 8 hari setelah odontectomy pada tanggal 15 Juli 2017. Setelah benang jahitan dilepas, gusi jadi terbuka gitu dan saya harus sering-sering kumur sampai gusinya menutup sempurna. Lalu karena masih ada satu lagi gigi bungsu sebelah kanan yang belum dicabut, saya tanyakan kapan jadwalnya. Maka pak mantri memberi tahu jadwal yang tersedia di bulan depan dan kami sepakat pada tanggal 13 Juli.

Nah, sambil nunggu operasi cabut gigi kedua, juga memberi kesempatan gusi pasca-odontectomy pertama pulih. Suami saya juga gigi bungsu bawahnya impaksi semua maka saya sarankan untuk ngurus surat rujukan ke Sanglah supaya tanggal 13 Juli kami bisa berangkat bareng ngurus gigi bungsu masing-masing. Soalnya kan RS Sanglah jauh banget dari rumah biar sekali jalan aja.

Tanggal 11 Juli 2017 saya udah siap-siap ambil antran online untuk cabut gigi di poli gigi Sanglah. Sedangkan untuk suami, saya tidak bisa ambilkan no. antrean online karena sebagai pasien baru Sanglah perlu melalui registrasi manual dulu di loket. Saat 13 Juli 2017 di RS Sanglah, suami saya periksa gigi dan lalu foto rontgent panoramik, sedangkan saya menjalani odontectomy. Kami berdua terpisah dengan urusan masing-masing sehingga saat saya sedang proses operasi cabut gigi, suami saya sedang di lab. radiologi. Kami pun sama-sama selesai pas menjelang siang.

Karena besoknya saya harus kontrol lagi, pak mantri pun memberi tahu untuk lewat perjanjian. Jadi serahkan saja surat kontrol, fotokopi kartu BPJS dan fotokopi kartu sanglah ke loket khusus perjanjian sehingga besoknya kita bisa langsung ke poli gigi. Ini berlaku khusus untuk berobat atau kontrol besoknya dengan menyerahkan berkas sehari sebelumnya. Sehingga kita tidak perlu antre untuk menyerahkan berkas di loket pendaftaran lagi.

IMG_20170713_111934

Proses menyerahkan berkas di loket khusus perjanjian

Saat cabut gigi bungsu kedua saya nginep lagi di Dalung, tapi besoknya saya pergi kontrol sendiri. Saat kontrol saya tanyakan ke pak mantri boleh tidak kalau benang jahitannya dilepas lebih dari seminggu? Seperti dua minggu? Beliau mengatakan boleh, maka saya diberi surat kontrol untuk bulan Juli 2017 tetapi tanpa tanggal.

Saya pun datang lagi ke poli gigi sanglah setelah 15 hari setelah odontectomy. Kebetulan saat itu juga adalah hari pasca-odontectomy suami. Tanggal 27 Juli 2017 suami saya pergi ke Sanglah sendiri untuk odontectomy, lalu tanggal 28 harus balik buat kontrol lagi. Pas jadwal kontrol, saya ikut buat lepas benang jahitan, jadi kami bisa sekalian berangkat bareng. Karena sama-sama kontrol jadi nggak terlalu nunggu lama di poli gigi.

Gigi bungsu saya dan suami berbeda cara dicabutnya. Suami saya giginya besar dan utuh saat dicabut sedangkan gigi saya yang lebih kecil ukurannya dipatahkan menjadi beberapa bagian untuk diangkat. Nggak tau juga kenapa, apa mungkin karena gigi bungsu suami saya udah nongol maksimal sedangkan gigi saya nggak sepenuhnya kelihatan. Tapi pasca-odontectomy sama-sama gusi terbuka seperti ceruk dan itu akan menutup sempurna kira-kira 2 bulan kemudian. Selama gusi masih terbuka kudu rajin berkumur tuh setelah makan.

Yang atas gigi suami, yang bawah gigi saya

Tanggal 20 Oktober 2017 saya ke Puskesmas Suraberata lagi untuk cabut gigi bungsu terakhir: sebelah kanan atas. Saat itu gigi bungsu saya agak ngilu sih, untung bisa dicabut biasa meski tumbuh agak miring ke arah pipi. Ternyata giginya juga udah berlubang dan hitam banget gitu gara-gara sering nyelip sisa makanan dan sikat gigi agak susah menjangkau area gigi bungsu itu. Setelah gigi bungsu terakhir saya itu dicabut juga ketahuan bahwa gigi geraham depannya ikut lubang gara-gara ketularan ketempelan makanan dan susah dibersihkan. Syukur deh, udah ditambal dan nggak nyeri lagi.

Sekarang saya udah bebas dari gigi bungsu yang tumbuh miring. Gusi bekas cabut gigi bungsu bagian atas sudah menutup secara sempurna dan rata, tapi gusi bekas gigi bungsu bagian bawah meski sudah menutup tetap terasa berbentuk cekung. Mungkin karena beda banget arah tumbuh gigi bungsu yang atas dan bawah dan teknik pencabutannya.

Cabut gigi bungsu secara odontectomy atau cabut biasa dengan BPJS sama sekali nggak bayar, yang perlu dibayar ya iuran BPJS-nya setiap bulan. Syukur nggak ada efek samping dan keluhan yang berarti setelah operasi cabut gigi bungsu, hanya pipi bengkak dan susah makan saja secara sementara. Bye bye my wisdom teeth! Now I don’t need to bear the pain from you and I’m really grateful for that.

 

Intan Rastini.

 

 

20170524_102757

Ada vending machine di dekat apotek, jadi sambil nunggu obat bisa lihat-lihat, nih..

 

20170524_091444

Dinding informatif di RSUP Snaglah, berisi pesan-pesan kesehatan

I Have No Wisdom Teeth Anymore I

Gigi bungsu atau wisdom teeth saya bagian bawah kiri dan kanan tumbuh miring semua secara horizontal, istilahnya sih, impaksi. Karena tumbuhnya tidur, yang muncul pun hanya sebagian permukaannya aja, arah tumbuh akarnya tidak wajar sih. Komplikasinya bikin tekanan ke gigi geraham depannya yang ditabrak, dan menimbulkan celah tempat sisa-sisa makanan bisa diam dengan nyaman. Akhirnya gigi bungsu saya berlubang semua.

Desember tahun lalu saat saya liburan ke Surabaya, gigi geraham kiri atas dan bawah saya sakit semua. Setelah periksa ke klinik dokter gigi, ternyata gigi bungsu atas dan bawah saya berlubang. Gigi bungsu atas tumbuhnya udah keluar semua dan cuma miring sedikit ke arah pipi sehingga bisa dicabut biasa oleh dokter gigi. Tapi gigi bungsu bawah saya tumbuhnya tidur dan nggak bisa dicabut biasa, sehingga disarankan odontectomy. Dokternya cuma bantu bersihkan dan beri obat ke bagian yang sakit saat itu.

Saat itu saya bayar biaya penanganan cabut gigi biasa dan diberi obat di klinik sebeasar Rp260.000. Lalu saya tanya berapa biaya untuk cabut gigi bungsu? Karena perlu operasi kecil, biayanya bisa jutaan. Dokter bilang foto rontgent panoramik saja dulu di lab. Operasinya bisa di Rumah Sakit FKG Unair dengan bawa hasil foto rontgent gigi. Biaya operasi cabut gigi disana sekitar Rp500.000-an dan untuk foto rontgent panoramik gigi sekitar Rp150.000. Waduh, saya kan nggak berdomisili di Surabaya lagi. Si dokter nanya juga apa saya nggak punya asuransi kesehatan? Hmmm..

Akhirnya pulang liburan dari Surabaya saya langsung deh, urus kepesertaan BPJS kesehatan di kantor cabang Tabanan. Gigi bungsu yang tumbuh miring atau impaksi itu perlu dicabut supaya tidak menimbulkan rasa nyeri, pusing dan tegang di leher karena tumbuhnya yang nyempil nggak kebagian tempat bikin dorongan ke segala arah. Apalagi kalau badan kita lagi capek kan tambah berasa sakitnya. Lebih parah jika sudah berlubang, karena nggak bisa ditambal seperti gigi yang tumbuh normal. Satu-satunya jalan harus dicabut dengan teknik odontectomy.

Maka pergilah saya ke fasilitas kesehatan pertama yang saya pilih dalam kepesertaan BPJS saya, yaitu puskesmas Suraberata pada tanggal 29 April 2017. Dokter gigi pun memberi surat rujukan untuk periksa ke poli gigi di Badan Rumah sakit Umum Tabanan. Surat rujukan ini berlaku selama 1 bulan, karena saya ke puskesmas pas akhir bulan, maka bu perawat berbaik hati menuliskan surat rujukannya dibuat pada tanggal 1 Mei 2017.

Tanggal 3 Mei 2017 saya ke BRSU Tabanan. Ternyata disana nggak ada alat rontgent gigi dan tidak ada ruang bedah mulut. Sehingga dokter gigi pun memberikan saya surat rujukan ke Rumas Sakit Umum Pusat Sanglah di Denpasar. Surat rujukan dokter gigi tersebut perlu dilegalisir dan dilengkapi Surat Elegibilitas Peserta (SEP) dari BPJS Center yang ada di RS dengan masa berlaku selama sebulan.

IMG_20170713_103733

RSUP Sanglah

Tanggal 24 Mei 2017 saya pergi ke RSUP Sanglah, sebagai pasien baru yang belum pernah berobat di RSUP Sanglah saya perlu mengisi form registrasi dan mendapat kartu Sanglah. Ternyata antrean pasien di sana lebih banyak dari pada di BRSU Tabanan, untung sebagai pasien baru loketnya masih tersendiri. Lagipula nanti kita bisa menggunakan kemudahan antrean online atau dengan perjanjian jika ingin berobat ke Sanglah tanpa antre ambil nomor ke loket.

20170524_075845

Mengisi formulir sebagai pasien baru di RSUP Sanglah

Di poli gigi Sanglah saya nggak terlalu lama nunggu untuk dipanggil. Tensi darah saya dicek dan dimintai data diri oleh perawat, saat dokter giginya datang, gigi saya diperiksa dan dinyatakan 38i dan 48i. Maksudnya gigi bungsu kiri bawah dan kanan bawah saya impaksi semua. Selanjutnya saya diminta untuk foto rontgent panoramik gigi dulu di lab. radiologi. Setelah hasil rontgent panoramik selesai, saya bawa hasil fotonya ke poli gigi dan setelah melihat hasil foto, dokter menyarankan untuk operasi cabut gigi.

20170524_084252

Udah kayak iklan Pepsodent belum?

Selanjutnya akan dicarikan jadwal operasi cabut gigi yang tersedia oleh perawat. Saya pilih tanggal 7 Juni 2017. Setelah pilih tanggal, perawat akan memberikan surat datang kembali pada jadwal operasi. Saya juga diberi resep untuk menangani sementara rasa sakit dari gigi bungsu yang berlubang. Perawat sempat mengingatkan supaya di malam sebelum hari operasi tidak boleh begadang, pagi harinya pun harus sarapan supaya tidak lemas.

20170524_092829

Menyerahkan berkas untuk foto panoramik gigi di loket radiologi

IMG_20170713_095513

antre di lorong area radiologi. Di sini terdapat banyak ruang diagnosa radiologi

Dua hari sebelum tanggal 7 Juni 2017 saya sudah ambil no. antrean online di website Sanglah. Sehingga pas datang ke sanglah tinggal tunggu nomor antrean online dipanggil di loket pendaftaran dan itu nggak terlalu lama dibanding ambil no. antrean manual di loket. Saya dapat nomor antrean selalu dibawah nomor 100. Kalo ambil manual udah diatas itu. Maka pada tanggal jadwal operasi saya berangkat ke Sanglah dengan membawa surat rujukan dan hasil foto rontgent. Saat di poli gigi lah malah saya harus nunggu lama, saya udah sampai di poli gigi sekitar jam 8 pagi, eh operasinya baru bisa dimulai jam 11-an.

 

Bersambung ke Bagian ke-2 ya….

 

Pasang IUD setelah punya Kalki dan Kavin

wp-image--82797631

Six months after our marriage

Saya termasuk orang yang mendukung program Keluarga Berencana alias “KB”. Emang awalnya, sih nggak nerima sesuatu yang tidak alami dimasukkan ke dalam tubuh untuk mencegah terjadinya proses biologis. Tapi kalau dipikir-pikir lagi manfaatnya lebih banyak daripada ruginya dan saya nggak pertahankan lagi memandang alat KB sebagai sesuatu yang manipulatif. Takut pasang alat kontrasepsi dalam rahim? Sudah nggak dong… Setelah mengalami sendiri pasang alat kontrasepsi ini, saya bisa ceritakan prosesnya hampir sama seperti saat Pap Smear atau tes IVA.

Sudah selama 1 tahun lebih saya pakai IUD, tepatnya pasang pada tanggal 10 Juni 2016 lalu. IUD sendiri adalah metode kontrasepsi di dalam rahim. Kepanjangannya adalah IntraUterine Device. Macam-macam alat kontrasepsi kan ada banyak tuh, yang untuk wanita sendiri dibagi dalam hormonal dan nonhormonal.

 

Yang saya sebut disini metode menunda kehamilan (kontrasepsi) yang berlangsung sementara waktu ya, jadi tidak permanen. Untuk yang hormonal ada pil KB dan suntik KB. Keduanya bekerja dengan mempengaruhi hormon dalam tubuh. Sedangkan yang tanpa mempengaruhi hormon ada IUD dan Implan. Tapi kata bu bidan di Pustu (puskesmas pembantu) Angkah, kalau mau pasang implan itu perlu disuntik KB dulu awalnya, lalu dilihat perkembangannya cocok atau tidak.  Jadi implan itu termasuk ke hormonal juga, ya, awalnya?

IMG_20171122_121909

Tahun lalu saat Kavindra anak kedua saya sudah berusia 1 tahun, saya sudah mulai memberanikan diri memilih alat kontrasepsi IUD. Karena saya sudah mau stop punya anak lagi. Saya percaya dengan menyusui secara eksklusif selama 6 bulan itu sudah menjadi KB alami untuk mencegah kehamilan, selain itu saya dan suami juga sebelumnya menerapkan sistem kalender. Tapi akhirnya saya jadi was-was kalau misalkan jadi mengandung.

 

Nah, saat Kavin usia 1 tahun ini udah waktu yang tepat untuk pasang IUD, Karena pengalaman dari anak pertama, kami pakai KB alami setelah Kalki lahir, tapi setelah Kalki usia 1 tahun saya pun mengandung lagi. Kelahiran Kavin saya rasa sudah menjadi penutup saja bagi saya dan suami. Dua anak sudah cukup. Saya nggak ngotot, kok pengen anak perempuan. Prinsip saya dua anak cukup, laki-laki atau perempuan yang penting sehat. Pro program Keluarga Berencana banget, kan saya? Cocok juga, nih dengan program GenRe “Generasi Berencana” dari BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional)  hehehe… Udah ah, berasa kayak aktivis aja.

20170717_104032-1

Salah satu hal yang menarik di Pustu bagi suami saya

Memang setelah kelahiran Kavin, bu bidan yang membantu persalinan saya selalu mengingatkan untuk pasang alat kontrasepsi, tapi saya bilang masih pakai KB alami dulu hehe… sambil nabung biaya pasang alat kontrasepsinya. Saat itu biayanya Rp 250.000 (pasang di Pustu Angkah) jadi tepat kalau saya bilang mau nabung dulu juga.

 

Untuk pasang IUD dianjurkan oleh bu bidan saat hari terakhir haid. Jadi untuk saya yang rentang haidnya biasa 5-6 hari. Saya pilih untuk pasang IUD saat hari ke-6 haid di Bulan Juni. Saat hari pasang KB saya merasa sudah siap secara mental dan finansial apalagi nanti pasang IUD-nya dengan bidan yang sudah saya kenal.

 

Saya pasang IUD ini di Pustu Angkah, jaraknya cuma 1 km dari rumah. Awalnya janjian dulu dengan bu bidan yang telah membantu proses kelahiran Kalki dan Kavin. Sehingga alat-alat pendukung dan IUD-nya sudah dipersiapkan terlebih dahulu disana. Saya bilang saya mau pasang IUD tapi yang merk Andalan, karena kata bu bidan itu IUD yang bagus.

 

IMG_20170427_130817_297

Menunggu di Pustu ditemani Kavin dan Papa saat kontrol

Lalu saya diantar suami dan Kalki ke Pustu. Di Pustu diperlihatkan kemasan dus alat kontrasepsinya dan bu bidan menggambarkan di atas dus IUD-nya seperti apa alatnya terpasang di dalam rahim. Lalu selanjutnya proses pemasangannya di ruang KB. Saya berbaring di atas ranjang yang ada tempat kakinya itu yang biasa buat periksa IVA atau Pap Smear.

 

Pertama-tama area intim kita dibersihkan lalu dipasang alat seperti corong atau cocor bebek kali yang membantu membuka jalan agar meletakkan alatnya lebih mudah. Setelah alatnya diletakkan di rahim, benang dari alat IUD-nya dipotong. Setelah selesai alat corong seperti cocor bebek itu dilepas. Udah deh kira-kira cuma gitu aja sepengetahuan saya. Selama proses tersebut saya diminta untuk rileks dan mengatur napas agar otot-otot di sekitar area kewanitaan jadi lemas gitu. Sambil pasang IUD, bu bidan juga ngajak ngobrol saya.

 

Saat saya bangun, saya sempat lihat tuh ada baskom di ujung ranjang yang berisi darah. Saya berpikir apa itu darah haid saya atau dalam prosesnya sempat membuat berdarah ya? Saya tidak tau pasti, karena saya nggak tanya ke bu bidan. Tapi setelah pulang ke rumah ya darah itu masih keluar tapi nggak terasa sakit, kok. Ya seperti masih haid aja, padahal haid saya udah hari terakhir saat itu alias udah mulai bersih.

 

Selesai pasang IUD saya diberi kartu keterangan tanggal memakai IUD dan jadwal kontrol selanjutnya. Saya diminta untuk kontrol 1 bulan kemudian. Saat kontrol akan ditanyakan apakah ada keluhan atau tidak dan selanjutnya akan dicek seperti cek Pap Smear lagi dan ini cuma sebentar aja. Setelah dilihat oleh bu bidan ternyata kedaannya bagus, sudah deh, selesai.

IMG_20171122_122248

Bagian depan kartu berisi nama dan tanggal pasang IUD

Selanjutnya akan diminta kontrol 2 bulan kemudian dengan proses yang sama. Setelah kontrol yang kedua kalinya, saya diminta untuk kontrol ke-3 pada 6 bulan kemudian. Setelah kontrol yang ke-3, saya diminta kontrol ke-4 setelah 1 tahun. Nah untuk kontrol yang setelah 1 tahun ini jadwalnya akan jatuh pada bulan Januari 2018 nanti. Selama ini saya kontrol bayar Rp 10.000 setiap cek KB. Tapi setelah jadi anggota BPJS Kesehatan bakalan nggak bayar lagi.

IMG_20171122_122258

Bagian belakang kartu berisi tanggal kontrol

Yang saya keluhkan selama pemakaian IUD ini adalah durasi haid saya jadi panjang. Pada haid pertama saya setelah pakai IUD lamanya jadi 10 hari. Pada bulan-bulan berikutnya durasinya semakin berkurang jadi 9 hari, lalu 8 hari dan hingga sekarang jadi 6-7 hari. Selain itu periode haid saya datangnya jadi lebih cepat, maju rata-rata seminggu setiap bulan. Kalau dulu sih saya haid bisa setiap 30 hari. Setelah pasang IUD jadi kira-kira tiap 23 hari.

 

Untuk keluhan dari suami sih nggak ada. Jadi aman aja… Tapi untuk keluhan saya, kata bu bidan itu normal. Memang sebelum pasang IUD saya sudah dijelaskan bahwa efek pasang IUD bisa jadi durasi haid lebih panjang dan lebih banyak darah haid yang keluar. Bu bidan sendiri yang pakai IUD juga mengalaminya. Mama saya juga pakai IUD dan mama saya pun mengalami hampir sama seperti saya, selama 3 hari haidnya deras dan 4 hari sudah mulai menurun intensitas keluar darahnya.

 

Yang saya suka dari IUD ini adalah tidak mempengaruhi hormonal saya. Selama haid pun pakai Mooncup juga nggak masalah. Justru saat heaviest flow pakai Mooncup membantu sekali sehingga nggak boros pembalut (lagi pula saya udah lama nggak pakai pembalut sekali pakai tapi pakai Mooncup dengan  dibantu pembalut kain). Yang ingin tau tentang ulasan saya tentang Mooncup baca disini ya…

 

IUD yang saya pakai adalah IUD Andalan Tcu 380A Safeload yang bisa mencegah kehamilan hingga 10 tahun. Kan udah mau stop punya anak jadi sekalian aja pakai IUD yang mengontrol kehamilan dalam jangka waktu lama, lebih hemat dan ekonomis serta nggak perlu bolak-balik lepas-pasang IUD. Ada juga IUD yang mengontrol kehamilan selama 3 tahun dan 5 tahun. Saya tau tentang IUD Andalan ini dari majalah AyahBunda.

IMG_20171122_121831

Saya pakai IUD yang gambar boxnya paling atas

Selama memakai IUD ini so far so good. Nggak ada rasa cemas lagi bakalan kebobolan.  Suami dan saya pun nyaman dengan playing safe. Yang paling bikin senang bagi saya dengan memakai alat kontrasepsi IUD ini adalah tidak ada lagi rasa was-was bahwa akan mengandung tanpa perencanaan matang. Gimana, apa Anda berminat pakai IUD? Atau malah udah pakai alat kontrasepsi?

 

“I’ll be with you feon dusk till dawn” -Zayn Malik ft. SIA

Pakai IUD ini telah menambah keharmonisan hubungan saya dengan suami. Kami jadi bebas dari rasa khawatir karena udah komitmen cukup dua anak saja, Kalki dan Kavin. Kasih sayang dan perhatian jadi tercurah hanya kepada mereka. Ikut asuransi kesehatan dari pemerintah (BPJS Kesehatan) pun jadi fix karena anggota keluarga kami empat. Mudah-mudahan perencanaan pendidikan kami untuk mereka juga bagus. Semoga.

Selamat hari ulang tahun Pernikahan yang ke-6, Papa Ambara. Kamis, 28 Desember 2017.

“But you’ll never be alone, I’ll be with you from dusk till Dawn… I’ll be with you from dusk till Dawn… Baby, I’m right here…” nyanyiannya Zayn malik dan Sia yang lagi terngiang-ngiang di kepala saya. The 6th wedding anniversary is symbolized as “candy”. I  am very grateful we have been through the six years with our sweet boys, Kalki and Kavin.

 

Love,

Intan Rastini.