Berat Badan Kalki dan Kavin Juli – Desember 2017

Dalam 6 bulan terakhir saya rekap berat badan Kalki dan Kavin sebagai berikut:

Juli 2017

Kalki: 16,9 kg (turun 300 gr dari bulan Juni 2017)

Kavin: 12,3 kg (naik 100 gr dari bulan Juni 2017)

 

Agustus 2017

Kalki: 17,1 kg (naik 200 gr)

Kavin: 12, 1 kg (turun 200 gr)

 

September 2017

Kalki: 18 kg (naik 900 gr)

Kavin: 12,9 kg  (naik 800 gr)

 

Oktober 2017

Kalki: tidak timbang karena terlambat datang dari sekolah

Kavin: 12,2 kg (turun 700 gr)

 

November 2017

Kalki: 17,2 kg (turun 800 gr dari bulan September)

Kavin: 12,1 kg (turun 100 gr)

 

Desember 2017

Kalki: 17,4 kg (naik 200 gr)

Kavin: 13,2 (naik 1100 gr)

 

Catatan tambahan: karena bulan ini sudah posyandu di tanggal 11 Januari  2018, maka saya tulis sekalian berat bada Kalki dan Kavin bulan Januari 2018.

Kalki: 18,1 kg (naik 700 gr)

Kavin: 13,3 kg (naik 100 gr)

IMG_20180108_104828_1.jpg

Kakak Kalki dan Adik Kavin sudah biasa cukur rambut. Habis cukur rambut dapat hadiah es krim

Hari ini genap adik Kavin berusia 2 tahun 9 bulan atau 33 bulan. Adik kavin sudah bisa apa saja?

  • Kavin 2 tahun 8 bulan di pertengahan Desember saat Kakak Kalki liburan 2 minggu di Surabaya, udah nggak nangis lagi kalau mama sikatin giginya
  • Kavin 2,5 tahun udah mulai mau kencing di luar atau di atas WC tapi tetap masih ngompol di clodi
  • Udah mulai ngomong, “aduh”, “udah”, “mobil”, “mati”, “jatuh”, “itu”, “ini”, “halo”, “oma”, “kumpi”, “papa”. Kalau ditanya apa adik sudah mandi jawabnya “udah”, lalu saat ditanya siapa yang mandiin atau kapan mandinya jawabannya “udah” juga 😀
  • Kavin mengerti permintaan orang tuanya jika diminta ambil bantal dia akan mengangguk jika mau mengambilkan, lalu diambillah bantal, kadang juga masih ada yang salah saat mama minta ambil bantal eh yang diambil guling.
  • Suka menggunting kertas atau karton. Kalau dia lihat gunting pasti minta diambilkan kertas atau karton untuk digunting.

Untuk Kakak Kalki yang sudah masuk PAUD, apa aja ya yang sudah bisa dia lakukan?

  • Sudah bisa meniru tulisan angka dan huruf
  • Menggambar mobil dan truk keruk kesukaannya
  • Menulis nama sendiri meski kadang suka lupa huruf i terakhir di namanya
  • Bisa bercerita yang dia karang sendiri
  • Bertanya Bahasa Inggrisnya benda-benda yang dia inginkan seperti, “Bahasa Inggrisnya baju apa?”

Sepertinya itu saja dulu. Sampai 6 bulan berikutnya, ya… semoga anak mama sehat selalu, pintar dan ceria. Untuk adik Kavin semoga makin fasih dan lancar ngomongnya.

Intan Rastini.

Advertisements

Pasang IUD setelah punya Kalki dan Kavin

wp-image--82797631

Six months after our marriage

Saya termasuk orang yang mendukung program Keluarga Berencana alias “KB”. Emang awalnya, sih nggak nerima sesuatu yang tidak alami dimasukkan ke dalam tubuh untuk mencegah terjadinya proses biologis. Tapi kalau dipikir-pikir lagi manfaatnya lebih banyak daripada ruginya dan saya nggak pertahankan lagi memandang alat KB sebagai sesuatu yang manipulatif. Takut pasang alat kontrasepsi dalam rahim? Sudah nggak dong… Setelah mengalami sendiri pasang alat kontrasepsi ini, saya bisa ceritakan prosesnya hampir sama seperti saat Pap Smear atau tes IVA.

Sudah selama 1 tahun lebih saya pakai IUD, tepatnya pasang pada tanggal 10 Juni 2016 lalu. IUD sendiri adalah metode kontrasepsi di dalam rahim. Kepanjangannya adalah IntraUterine Device. Macam-macam alat kontrasepsi kan ada banyak tuh, yang untuk wanita sendiri dibagi dalam hormonal dan nonhormonal.

 

Yang saya sebut disini metode menunda kehamilan (kontrasepsi) yang berlangsung sementara waktu ya, jadi tidak permanen. Untuk yang hormonal ada pil KB dan suntik KB. Keduanya bekerja dengan mempengaruhi hormon dalam tubuh. Sedangkan yang tanpa mempengaruhi hormon ada IUD dan Implan. Tapi kata bu bidan di Pustu (puskesmas pembantu) Angkah, kalau mau pasang implan itu perlu disuntik KB dulu awalnya, lalu dilihat perkembangannya cocok atau tidak.  Jadi implan itu termasuk ke hormonal juga, ya, awalnya?

IMG_20171122_121909

Tahun lalu saat Kavindra anak kedua saya sudah berusia 1 tahun, saya sudah mulai memberanikan diri memilih alat kontrasepsi IUD. Karena saya sudah mau stop punya anak lagi. Saya percaya dengan menyusui secara eksklusif selama 6 bulan itu sudah menjadi KB alami untuk mencegah kehamilan, selain itu saya dan suami juga sebelumnya menerapkan sistem kalender. Tapi akhirnya saya jadi was-was kalau misalkan jadi mengandung.

 

Nah, saat Kavin usia 1 tahun ini udah waktu yang tepat untuk pasang IUD, Karena pengalaman dari anak pertama, kami pakai KB alami setelah Kalki lahir, tapi setelah Kalki usia 1 tahun saya pun mengandung lagi. Kelahiran Kavin saya rasa sudah menjadi penutup saja bagi saya dan suami. Dua anak sudah cukup. Saya nggak ngotot, kok pengen anak perempuan. Prinsip saya dua anak cukup, laki-laki atau perempuan yang penting sehat. Pro program Keluarga Berencana banget, kan saya? Cocok juga, nih dengan program GenRe “Generasi Berencana” dari BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional)  hehehe… Udah ah, berasa kayak aktivis aja.

20170717_104032-1

Salah satu hal yang menarik di Pustu bagi suami saya

Memang setelah kelahiran Kavin, bu bidan yang membantu persalinan saya selalu mengingatkan untuk pasang alat kontrasepsi, tapi saya bilang masih pakai KB alami dulu hehe… sambil nabung biaya pasang alat kontrasepsinya. Saat itu biayanya Rp 250.000 (pasang di Pustu Angkah) jadi tepat kalau saya bilang mau nabung dulu juga.

 

Untuk pasang IUD dianjurkan oleh bu bidan saat hari terakhir haid. Jadi untuk saya yang rentang haidnya biasa 5-6 hari. Saya pilih untuk pasang IUD saat hari ke-6 haid di Bulan Juni. Saat hari pasang KB saya merasa sudah siap secara mental dan finansial apalagi nanti pasang IUD-nya dengan bidan yang sudah saya kenal.

 

Saya pasang IUD ini di Pustu Angkah, jaraknya cuma 1 km dari rumah. Awalnya janjian dulu dengan bu bidan yang telah membantu proses kelahiran Kalki dan Kavin. Sehingga alat-alat pendukung dan IUD-nya sudah dipersiapkan terlebih dahulu disana. Saya bilang saya mau pasang IUD tapi yang merk Andalan, karena kata bu bidan itu IUD yang bagus.

 

IMG_20170427_130817_297

Menunggu di Pustu ditemani Kavin dan Papa saat kontrol

Lalu saya diantar suami dan Kalki ke Pustu. Di Pustu diperlihatkan kemasan dus alat kontrasepsinya dan bu bidan menggambarkan di atas dus IUD-nya seperti apa alatnya terpasang di dalam rahim. Lalu selanjutnya proses pemasangannya di ruang KB. Saya berbaring di atas ranjang yang ada tempat kakinya itu yang biasa buat periksa IVA atau Pap Smear.

 

Pertama-tama area intim kita dibersihkan lalu dipasang alat seperti corong atau cocor bebek kali yang membantu membuka jalan agar meletakkan alatnya lebih mudah. Setelah alatnya diletakkan di rahim, benang dari alat IUD-nya dipotong. Setelah selesai alat corong seperti cocor bebek itu dilepas. Udah deh kira-kira cuma gitu aja sepengetahuan saya. Selama proses tersebut saya diminta untuk rileks dan mengatur napas agar otot-otot di sekitar area kewanitaan jadi lemas gitu. Sambil pasang IUD, bu bidan juga ngajak ngobrol saya.

 

Saat saya bangun, saya sempat lihat tuh ada baskom di ujung ranjang yang berisi darah. Saya berpikir apa itu darah haid saya atau dalam prosesnya sempat membuat berdarah ya? Saya tidak tau pasti, karena saya nggak tanya ke bu bidan. Tapi setelah pulang ke rumah ya darah itu masih keluar tapi nggak terasa sakit, kok. Ya seperti masih haid aja, padahal haid saya udah hari terakhir saat itu alias udah mulai bersih.

 

Selesai pasang IUD saya diberi kartu keterangan tanggal memakai IUD dan jadwal kontrol selanjutnya. Saya diminta untuk kontrol 1 bulan kemudian. Saat kontrol akan ditanyakan apakah ada keluhan atau tidak dan selanjutnya akan dicek seperti cek Pap Smear lagi dan ini cuma sebentar aja. Setelah dilihat oleh bu bidan ternyata kedaannya bagus, sudah deh, selesai.

IMG_20171122_122248

Bagian depan kartu berisi nama dan tanggal pasang IUD

Selanjutnya akan diminta kontrol 2 bulan kemudian dengan proses yang sama. Setelah kontrol yang kedua kalinya, saya diminta untuk kontrol ke-3 pada 6 bulan kemudian. Setelah kontrol yang ke-3, saya diminta kontrol ke-4 setelah 1 tahun. Nah untuk kontrol yang setelah 1 tahun ini jadwalnya akan jatuh pada bulan Januari 2018 nanti. Selama ini saya kontrol bayar Rp 10.000 setiap cek KB. Tapi setelah jadi anggota BPJS Kesehatan bakalan nggak bayar lagi.

IMG_20171122_122258

Bagian belakang kartu berisi tanggal kontrol

Yang saya keluhkan selama pemakaian IUD ini adalah durasi haid saya jadi panjang. Pada haid pertama saya setelah pakai IUD lamanya jadi 10 hari. Pada bulan-bulan berikutnya durasinya semakin berkurang jadi 9 hari, lalu 8 hari dan hingga sekarang jadi 6-7 hari. Selain itu periode haid saya datangnya jadi lebih cepat, maju rata-rata seminggu setiap bulan. Kalau dulu sih saya haid bisa setiap 30 hari. Setelah pasang IUD jadi kira-kira tiap 23 hari.

 

Untuk keluhan dari suami sih nggak ada. Jadi aman aja… Tapi untuk keluhan saya, kata bu bidan itu normal. Memang sebelum pasang IUD saya sudah dijelaskan bahwa efek pasang IUD bisa jadi durasi haid lebih panjang dan lebih banyak darah haid yang keluar. Bu bidan sendiri yang pakai IUD juga mengalaminya. Mama saya juga pakai IUD dan mama saya pun mengalami hampir sama seperti saya, selama 3 hari haidnya deras dan 4 hari sudah mulai menurun intensitas keluar darahnya.

 

Yang saya suka dari IUD ini adalah tidak mempengaruhi hormonal saya. Selama haid pun pakai Mooncup juga nggak masalah. Justru saat heaviest flow pakai Mooncup membantu sekali sehingga nggak boros pembalut (lagi pula saya udah lama nggak pakai pembalut sekali pakai tapi pakai Mooncup dengan  dibantu pembalut kain). Yang ingin tau tentang ulasan saya tentang Mooncup baca disini ya…

 

IUD yang saya pakai adalah IUD Andalan Tcu 380A Safeload yang bisa mencegah kehamilan hingga 10 tahun. Kan udah mau stop punya anak jadi sekalian aja pakai IUD yang mengontrol kehamilan dalam jangka waktu lama, lebih hemat dan ekonomis serta nggak perlu bolak-balik lepas-pasang IUD. Ada juga IUD yang mengontrol kehamilan selama 3 tahun dan 5 tahun. Saya tau tentang IUD Andalan ini dari majalah AyahBunda.

IMG_20171122_121831

Saya pakai IUD yang gambar boxnya paling atas

Selama memakai IUD ini so far so good. Nggak ada rasa cemas lagi bakalan kebobolan.  Suami dan saya pun nyaman dengan playing safe. Yang paling bikin senang bagi saya dengan memakai alat kontrasepsi IUD ini adalah tidak ada lagi rasa was-was bahwa akan mengandung tanpa perencanaan matang. Gimana, apa Anda berminat pakai IUD? Atau malah udah pakai alat kontrasepsi?

 

“I’ll be with you feon dusk till dawn” -Zayn Malik ft. SIA

Pakai IUD ini telah menambah keharmonisan hubungan saya dengan suami. Kami jadi bebas dari rasa khawatir karena udah komitmen cukup dua anak saja, Kalki dan Kavin. Kasih sayang dan perhatian jadi tercurah hanya kepada mereka. Ikut asuransi kesehatan dari pemerintah (BPJS Kesehatan) pun jadi fix karena anggota keluarga kami empat. Mudah-mudahan perencanaan pendidikan kami untuk mereka juga bagus. Semoga.

Selamat hari ulang tahun Pernikahan yang ke-6, Papa Ambara. Kamis, 28 Desember 2017.

“But you’ll never be alone, I’ll be with you from dusk till Dawn… I’ll be with you from dusk till Dawn… Baby, I’m right here…” nyanyiannya Zayn malik dan Sia yang lagi terngiang-ngiang di kepala saya. The 6th wedding anniversary is symbolized as “candy”. I  am very grateful we have been through the six years with our sweet boys, Kalki and Kavin.

 

Love,

Intan Rastini.

Story About Minnie

Oh my God, I have been keeping this draft for 4 years! So, I have prepared to tell Minnie story since we had her for 1 year. It is gonna be a sad sad sad story to remember… Minnie is our first pet after I got married with my husband.

Minnie is a black dog with white spots. She looks like a Minnie Mouse and her body is very small so I call her as Minnie. We adopt her in 2012 from my another grandparents’ home in Lumbung Village. I guess it was Saraswati day when we took her home. Her mother name is Molly. Molly gave birth to 5 puppies, male and female. Minnie was one of the female dogs.

Minnie is a short dog. she is quite fat. So, she is like a peking dog, ha ha ha. We even tried to weigh her and her weight was 12 kg. We taught her to catch an ant, then she grew up with capability in chasing mice and rats at home. She would be very patient to wait the mouse to come out from its nest. When we said, “Minnie! Tikus (mouse)! Tikus! Tikus!”, she would be alert and tried to sniff where the mouse was.

She was also alert if there was intruder at our home. If there was a snake or ‘biawak’ (monitor lizard), Minnie will bark noisily to tell us that there was a strange animal. So, her bark was like a danger alarm. Very different with Klau, our other dog, he barks to stranger or mostly people that come to our house but almost never barks to dangerous animal. So Minnie was a real safety dog for our kids, because she used to warn us for dangerous poisonous animals then we could keep our children away from that area while they were playing outside.

She was very adorable, some people like her because of her obedience. She was very friendly and didn’t bark a lot. Once she has ever got lost, when she was a little puppy. We tried to call her and find her anywhere even asked to the neighbors, but we still haven’t found her. Later on she was found sleeping in the bushes near the pond at our home. We knew it when she got up and left the bushes.

When she got her first loop, we called the veterinarian to injected her so she became sterile. But we have done it only once. Then this year, she got pregnant. Afterwards she gave birth to only one male puppy on August 13. I think due to her small body that’s why she only had 1 puppy. Kalki and Kavin was very happy with the puppy. We named him “Bakabon”. They played with Bakabon a lot. They also put Bakabon on their truck and pushed the truck!

20170704_204356

Minnie was nursing her baby under the table in our “Bale”

Unfortunately, When Bakabon already one month old, on September 13 or 14 He got lost. In the morning I called him to give him fried egg from my kids’ breakfast and then he came. Bakabon and Minnie also followed my husband to Pura Dalem to give “Sodan” as offering. Next I wasn’t at home because I had to take Kalki to the school. At home my husband called Bakabon to feed him but he didn’t seem to appear.

Since that day, we have never seen Bakabon again. Minnie was waiting and playing alone just like if there was Bakabon with her, it looked very sad. My husband and my sons have tried to search Bakabon around but we couldn’t find him anywhere. The next days were hard days for Minnie. Because she became less enthusiastic and didn’t eat her meal at all. I believe she felt sorrow and grief losing her only son, and Bakabon was her first son!

Minnie still walk around to accompany Kavin and Kalki while playing but she didn’t eat anything that we gave. Even her favorite crackers were abandoned. A week after Bakabon got lost, Minnie died in the back of our kitchen, near by her bowl that we used for feeding her.

We lose 2 adorable cute dogs. Minnie and Bakabon. Until now we still don’t know where Bakabon is. We also got information from my grandfather that Molly also had died.

Now we don’t have a dog that good at chasing mice. We only have Klau instead, a dog with grey color. He barks a lot, and he is quite fierce to strangers.

In loving memories of Minnie, Bakabon and Molly.

minnie was the least active puppy

minnie was the least active puppy

her sibling woke up but she was still sleeping!

her sibling woke up but she was still sleeping!

Minnie when we first saw her On Galungan 2012

Minnie when we first saw her On Galungan 2012

Minnie's mom

Minnie’s mom

Minnie n' Molly, her mom

Minnie n’ Molly, her mom

Minnie's sibling

Minnie’s siblings

Intan Rastini.

Pengalaman Berhenti Merokok Suami

Saya beruntung mendapatkan seorang pacar perokok tapi rela meninggalkan kebiasaan merokoknya demi saya. Saat saya pertama kali mengenal pacar saya, dia adalah seorang perokok aktif dengan jenis rokok yang bagi saya adalah rokok kelas berat karena baunya yang sangat keras.

Pengalaman merokoknya dimulai saat ia tinggal di Surabaya. Ia sekedar mencoba-coba bersama teman-teman sekolahnya di bangku kelas 4 SD. Katanya, saat itu dia dan teman-temannya hanya memuaskan rasa ingin tahu terhadap rokok. Saat kelas 6 SD ia harus pindah ke Jakarta, dan di lingkungan Jakarta pun ia tetap mencoba-coba rokok bersama teman-temannya yang baru. Tapi itu belum bisa dikatakan sebagai perokok aktif, kenangnya, karena ia hanya kadang-kadang saja merokok untuk “have fun”.

Pacar saya mengaku mulai menjadi perokok aktif saat duduk di kelas 3 SMP. Saat itu ia merokok sembunyi-sembunyi karena tidak diijinkan oleh orang tuanya tentu saja. Setiap hari ia menyisihkan uang transport hanya untuk membeli rokok. Sampai dibela-belain naik bis menyelundup agar tidak bayar, dan uang untuk bayar bis bisa dipakai untuk beli rokok! Saat itu ia rutin mengonsumsi 1 batang rokok per hari. Saat yang menyenangkan untuk menghisap rokoknya adalah setelah pulang sekolah sambil nongkrong bersama teman-teman. Ia mengaku, saat masih muda memang rasa ingin tahunya besar untuk mencoba apalagi jika lingkungan mendukung, yaitu memiliki teman-teman yang merokok.

mahameru 024

Suami saya yang lagi duduk ngisep udud

Bagi dia, tanpa iklan pun image rokok memang sudah keren di mata anak-anak muda. Apalagi remaja memiliki jiwa pemberontak, terhadap sesuatu yang dilarang mereka justru ingin mencobanya. Saat ngumpul-ngumpul pun pacar saya mengakui lebih asyik jika sambil merokok. Kebiasaan pacar saya berlanjut sampai SMA, ia tetap merokok dan nongkrong-nongkrong iseng dengan teman-temannya. Ibunya pun mau tak mau memberi dia ijin untuk merokok di rumah tapi cukup 3 kali saja dalam sehari yaitu sehabis makan. Tak terhindarkan pula pacar saya minum minuman beralkohol dan juga mencoba nyimeng atau menghisap ganja.

Lalu saat ia kuliah di Bali, ia merasakan kebebasan yang lebih untuk merokok. Karena selain jauh dari orang tua, ia juga telah berada di lingkungan berbeda dari sekolah menengah yang jelas melarang para siswanya merokok. Dari orang tua ia mendapatkan uang saku bulanan dan itu ia atur untuk membeli persediaan rokok selama sebulan. Sempat juga ia membeli kertas rokok dan tembakau secara terpisah untuk menghemat persediaan rokoknya. Sebab jika ia memiliki persediaan rokok batangan, teman-teman kuliahnya bisa dengan mudah meminta 1-2 batang dan bila dibiarkan terus-menerus persediaan rokoknya bisa habis tidak sampai sebulan.

Saat liburan kuliah tahun 1992, pacar saya pernah terkena flu parah selama seminggu. Saat sakit ia merasakan merokok itu tidak enak! Akibatnya dia berhenti merokok selama 3 bulan saja. Lalu anehnya pada tahun 1999 ia sempat juga bisa berhenti merokok selama setahun. Gaya hidupnya pada saat itu menjadi sehat karena ia jogging setiap sore dan juga bermain basket. Ia merasakan saat berhenti merokok tahun itu di Jakarta, membuat napasnya bisa lebih panjang sehingga tidak mengganggu aktivitas jogging dan bermain basketnya. Dia kembali merokok lagi saat naik gunung bersama teman-teman bekas SMA dan kuliahnya. Saya juga heran mengapa dia kembali merokok justru saat beraktivitas naik gunung yang membutuhkan oksigen banyak!?

mahameru 025

Suami saya yang nggak pakai baju, tangannya pegang rokok

Saya bertemu dengan pacar saya saat di Jakarta, saat itu saya hendak mendaki gunung Papandayan di Garut. Saat bertemu dengannya dia masih saja aktif merokok. Saat kami mulai melakukan pendekatan, ia sudah tau bahwa saya sangat tidak suka rokok, perokok dan tidak bisa mentolerir asap rokok. Maka ia mencoba tidak merokok di dekat saya. Tidak jarang saya menyembunyikan rokoknya, bahkan membuang rokoknya ke dalam air supaya tidak bisa disulut dengan api. Ia sendiri tidak pernah marah atas kelakuan saya. Ia mengakui bahwa rokok itu tidak menyehatkan, tapi ia tidak bisa melawan zat adiktif yang membuatnya kecanduan.

Scan 028

Bersama teman-teman naik gunung: Rahardjo, Gede Agus (papa Kalki n’ Kavin), Teguh, Toto.

Akhirnya kami memutuskan untuk berpacaran. Saat berpacaran saya tidak mau membiarkan pacar saya mencium saya karena saya tidak tahan dengan bau rokok di mulutnya. Jangankan mulutnya, baju dan badannya pun bau tembakau! Dari situ ia mulai berusaha mengurangi kebiasaan merokoknya. Setelah berhasil tidak merokok ia akan meminta “reward”, alasannya karena sudah berhasil tidak merokok lagi seharian. Setelah itu ia juga jadi sering membeli permen mint sebagai subtitut rokok dan agar bau rokok di mulutnya tersamarkan.

IMG00308-20111209-1039

Hingga saat ini saya telah berkeluarga dan memiliki dua orang putra dari suami yang dulunya pacar saya itu, saya merasa bangga karena saya bisa mewujudkan keluarga yang sehat tanpa asap rokok. Saya sangat senang karena saat kami berpacaran dulu suami saya berhasil berhenti merokok sehingga tidak harus membawa kebiasaan buruknya di sekitar anak-anak kami sejak mereka bayi. Hebatnya lagi sejak berkeluarga, suami saya sudah tidak membutuhkan subsitut rokok dalam bentuk apapun.

SDC10144

With our first son, Kalki

*Cerita ini telah mendapat persetujuan dari suami saya untuk dipublikasikan. Awalnya cerita ini adalah untuk indonesiabebasrokok.org

If you support people to quit smoking or you have a smoking issue, please feel free to contact twitter: @BebasRokokID


Intan Rastini

My Foreign Friends

The worst part of my job is saying goodbye to the volunteers who have spent the amazing time with me and the kids in the learning center.

After Monique and Marijke from Netherland, Matti from Finland… There are coming another ones from all part of the world.

Natasha, Mette, me and Lizzie after the class

In the end of May, we welcomed the Scandinavian girls from Denmark, Mette and Natasha. Then Lizzie from UK and next Isabelle from France. But Lizzie and Isabelle only stayed for about 2 weeks. It was a short term but they were really nice. Lizzie told me about her family, about her younger brother, Sam. She showed me about England through Google map so we could see Buckingham Palaca in London and her home in Doncaster.

Isabelle taught me about French a little bit. Because her mother comes from Java, Indonesia, she can speak a little Indonesian too. She has an Indonesian middle name as well as her brother. Her name is Isabelle Sinta Larere, while her brother’s name is Olivier Indra Larere.

Mette and Natasha, the Danish girls will stay for 5 months. So it will be a long time until we can say goodbye to each other. We have ever gone fishing together to the local fishing pond in Angkah Pondok village, the neighbor of Samsaman village.

Kalki was fishing with Mette, Natasha, Ian and his mom

The next new volunteer in June was Ian from Hawaii. And then one week after Ian, came Lisa and Clem from France. They have spent their time teaching the kids at the learning center more than 2 weeks. Ian stayed for 4 weeks while the French girls only 3 weeks. On the day I first met Lisa and Clem, they asked for jogging after class. So we went jogging together with Ian, Mette and Natasha.

Our afternoon jogging was very nice. We ran downhill to the south until Angkah Tegeh village. Afterwards we had to run uphill on the way back and that was so tiring! We also went to the nearest waterfall with the kids. We did hiking to go there but it was worthy.

After Isabelle left, I was happy because I could still learn French from Lisa and Clem. Lisa and Clem taught me how to play Ligretto too. That playing card is really fun. I enjoyed playing with them during the break time and after class.

Because one of the volunteer had birthday on 22th of June, we made a surprise celebration for Ian’s 29th birthday. We smashed eggs, flour and water to his head so he became a birthday cake dough hahaha. We also let him blow a candle on a birthday cake. Then we ate the cake together.

Natasha, Clem, Ian, me and Lisa

The kid was having some fun with him!

On last Thursday, we went to Bali Botanical Garden and Ulun Danu Temple. Clem was really eager to see the temple on the lake. I invited Kalki to join our trip. Before we went back to the learning center we stopped by the Coffee Break to taste the Luwak Coffee. There were many taste of coffee and tea. Like cafe au chocolat, I mean chocolate coffee. Because I kept learning French with Lisa and Clem at that time. And then there were vanilla coffee, ginseng coffee, rosella tea, curcumin tea, ginger tea, mangosteen tea, and so on.

That was my last day with Lisa, Clem and Ian. We held a farewell party for them on thursday, so everyone could say goodbye. Lisa and Clem are sisters. They will go to Java to see Ijen Crater and other beautiful things in Java before they go back to Paris.

Lisa, me and Clem, sisters from French

I have felt the sadness of the farewell party about 4 times. The longer they stay and the better memories they left make it harder to say goodbye, you know. Then I have to get used to it, because it will happen again and again and again unless I quit my job or they stop the voluntary work at the learning center.

Some are leaving but some are coming. There are 4 more volunteers who have spent 1 week at the learning center. They are Shubhangi from Italy and the Spanish girls: Bianca, Sara and Carla. The Spanish girls are so young, about 18 years old. They will study in the university. On the other side, Shubhangi is a teacher in a private language school.

You will never know how happy I am when I get friends from the volunteers who come to the learning center. Because practically I don’t have intense friends in this village. The first volunteer I met was Monique and Marijke. Monique is like my mother while Marijke is like my grandmother due to their age, we had talked about this once. The next volunteers are still young and almost in the same age as me. So I feel compatible to hangout with them.

Me, Marijke, Monique, Oma Trudy and Mrs. Ketut

This is a quick cycle of meeting new people and saying goodbye to them. Just after they left, I miss them so bad. And then I believe I’ll be fine.

Posyandu Kenanga April 2017

Kavin

Weight: 11.6 kg (the same as last month)

Kalki

Weight: 16.7 kg

On Wednesday 12th of April, Kalki wasn’t attending Posyandu because that morning he had already gone to Surabaya with Oma and Opa. So I just made the note of his weight as 16.7 kg. It’s only more 0.1 kg than last month.

Kavin was attending Posyandu without his brother and it seemed he has no company to run around the Balai Banjar.

Moreover there was no mung bean for the children! We got nothing at the Posyandu. Huh no snacks at all for the toddlers! What a shame.

What I like at the Posyandu that time was just . . .  Kavin was volunteerly wanted to be scaled on his own. He approached the scale and with no fear and no cry was eager to be put on the scale cloth and being hung. He enjoyed the swing by being calm! Afterwards he didn’t want to give the scale cloth to me or his papa so he didn’t let the next toddler be scaled :D.

Kavin you did very good this time. We are proud of you, please gain more weight, baby. You are as cute as little Fero Walandouw as Papa said ahhaha 😀 Go grow well, stay healthy, stay handsome, be tough and get smarter, son. Love you….

Love, Mama.

Mochi Isi Kacang Merah

Mau coba bikin….. buat adik Kavin ultah nanti ♡♥

Clumsylicious Kitchen

Mochi pertama buatan Mama Rayyaan.

Beberapa hari lalu saya iseng-iseng membeli kue mochi di supermarket di kota saya. Wah ternyata lumayan mahal juga ya. Satu buah kue mochi yang bisa sekali dua kali hap langsung habis itu dihargai Rp 5.000. Rasanya memang enak walau isinya agak terlalu manis untuk saya. Selain itu bentuknya juga tidak bulat namun seperti dicetak, atau mungkin setelah diisi dan dibentuk bulatan, kuenya dicetak supaya bentuknya lebih menarik. Isinya juga bermacam-macam. Saya membeli mochi berwarna hijau yang berisi

View original post 610 more words