Pasang IUD setelah punya Kalki dan Kavin

wp-image--82797631

Six months after our marriage

Saya termasuk orang yang mendukung program Keluarga Berencana alias “KB”. Emang awalnya, sih nggak nerima sesuatu yang tidak alami dimasukkan ke dalam tubuh untuk mencegah terjadinya proses biologis. Tapi kalau dipikir-pikir lagi manfaatnya lebih banyak daripada ruginya dan saya nggak pertahankan lagi memandang alat KB sebagai sesuatu yang manipulatif. Takut pasang alat kontrasepsi dalam rahim? Sudah nggak dong… Setelah mengalami sendiri pasang alat kontrasepsi ini, saya bisa ceritakan prosesnya hampir sama seperti saat Pap Smear atau tes IVA.

Sudah selama 1 tahun lebih saya pakai IUD, tepatnya pasang pada tanggal 10 Juni 2016 lalu. IUD sendiri adalah metode kontrasepsi di dalam rahim. Kepanjangannya adalah IntraUterine Device. Macam-macam alat kontrasepsi kan ada banyak tuh, yang untuk wanita sendiri dibagi dalam hormonal dan nonhormonal.

 

Yang saya sebut disini metode menunda kehamilan (kontrasepsi) yang berlangsung sementara waktu ya, jadi tidak permanen. Untuk yang hormonal ada pil KB dan suntik KB. Keduanya bekerja dengan mempengaruhi hormon dalam tubuh. Sedangkan yang tanpa mempengaruhi hormon ada IUD dan Implan. Tapi kata bu bidan di Pustu (puskesmas pembantu) Angkah, kalau mau pasang implan itu perlu disuntik KB dulu awalnya, lalu dilihat perkembangannya cocok atau tidak.  Jadi implan itu termasuk ke hormonal juga, ya, awalnya?

IMG_20171122_121909

Tahun lalu saat Kavindra anak kedua saya sudah berusia 1 tahun, saya sudah mulai memberanikan diri memilih alat kontrasepsi IUD. Karena saya sudah mau stop punya anak lagi. Saya percaya dengan menyusui secara eksklusif selama 6 bulan itu sudah menjadi KB alami untuk mencegah kehamilan, selain itu saya dan suami juga sebelumnya menerapkan sistem kalender. Tapi akhirnya saya jadi was-was kalau misalkan jadi mengandung.

 

Nah, saat Kavin usia 1 tahun ini udah waktu yang tepat untuk pasang IUD, Karena pengalaman dari anak pertama, kami pakai KB alami setelah Kalki lahir, tapi setelah Kalki usia 1 tahun saya pun mengandung lagi. Kelahiran Kavin saya rasa sudah menjadi penutup saja bagi saya dan suami. Dua anak sudah cukup. Saya nggak ngotot, kok pengen anak perempuan. Prinsip saya dua anak cukup, laki-laki atau perempuan yang penting sehat. Pro program Keluarga Berencana banget, kan saya? Cocok juga, nih dengan program GenRe “Generasi Berencana” dari BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional)  hehehe… Udah ah, berasa kayak aktivis aja.

20170717_104032-1

Salah satu hal yang menarik di Pustu bagi suami saya

Memang setelah kelahiran Kavin, bu bidan yang membantu persalinan saya selalu mengingatkan untuk pasang alat kontrasepsi, tapi saya bilang masih pakai KB alami dulu hehe… sambil nabung biaya pasang alat kontrasepsinya. Saat itu biayanya Rp 250.000 (pasang di Pustu Angkah) jadi tepat kalau saya bilang mau nabung dulu juga.

 

Untuk pasang IUD dianjurkan oleh bu bidan saat hari terakhir haid. Jadi untuk saya yang rentang haidnya biasa 5-6 hari. Saya pilih untuk pasang IUD saat hari ke-6 haid di Bulan Juni. Saat hari pasang KB saya merasa sudah siap secara mental dan finansial apalagi nanti pasang IUD-nya dengan bidan yang sudah saya kenal.

 

Saya pasang IUD ini di Pustu Angkah, jaraknya cuma 1 km dari rumah. Awalnya janjian dulu dengan bu bidan yang telah membantu proses kelahiran Kalki dan Kavin. Sehingga alat-alat pendukung dan IUD-nya sudah dipersiapkan terlebih dahulu disana. Saya bilang saya mau pasang IUD tapi yang merk Andalan, karena kata bu bidan itu IUD yang bagus.

 

IMG_20170427_130817_297

Menunggu di Pustu ditemani Kavin dan Papa saat kontrol

Lalu saya diantar suami dan Kalki ke Pustu. Di Pustu diperlihatkan kemasan dus alat kontrasepsinya dan bu bidan menggambarkan di atas dus IUD-nya seperti apa alatnya terpasang di dalam rahim. Lalu selanjutnya proses pemasangannya di ruang KB. Saya berbaring di atas ranjang yang ada tempat kakinya itu yang biasa buat periksa IVA atau Pap Smear.

 

Pertama-tama area intim kita dibersihkan lalu dipasang alat seperti corong atau cocor bebek kali yang membantu membuka jalan agar meletakkan alatnya lebih mudah. Setelah alatnya diletakkan di rahim, benang dari alat IUD-nya dipotong. Setelah selesai alat corong seperti cocor bebek itu dilepas. Udah deh kira-kira cuma gitu aja sepengetahuan saya. Selama proses tersebut saya diminta untuk rileks dan mengatur napas agar otot-otot di sekitar area kewanitaan jadi lemas gitu. Sambil pasang IUD, bu bidan juga ngajak ngobrol saya.

 

Saat saya bangun, saya sempat lihat tuh ada baskom di ujung ranjang yang berisi darah. Saya berpikir apa itu darah haid saya atau dalam prosesnya sempat membuat berdarah ya? Saya tidak tau pasti, karena saya nggak tanya ke bu bidan. Tapi setelah pulang ke rumah ya darah itu masih keluar tapi nggak terasa sakit, kok. Ya seperti masih haid aja, padahal haid saya udah hari terakhir saat itu alias udah mulai bersih.

 

Selesai pasang IUD saya diberi kartu keterangan tanggal memakai IUD dan jadwal kontrol selanjutnya. Saya diminta untuk kontrol 1 bulan kemudian. Saat kontrol akan ditanyakan apakah ada keluhan atau tidak dan selanjutnya akan dicek seperti cek Pap Smear lagi dan ini cuma sebentar aja. Setelah dilihat oleh bu bidan ternyata kedaannya bagus, sudah deh, selesai.

IMG_20171122_122248

Bagian depan kartu berisi nama dan tanggal pasang IUD

Selanjutnya akan diminta kontrol 2 bulan kemudian dengan proses yang sama. Setelah kontrol yang kedua kalinya, saya diminta untuk kontrol ke-3 pada 6 bulan kemudian. Setelah kontrol yang ke-3, saya diminta kontrol ke-4 setelah 1 tahun. Nah untuk kontrol yang setelah 1 tahun ini jadwalnya akan jatuh pada bulan Januari 2018 nanti. Selama ini saya kontrol bayar Rp 10.000 setiap cek KB. Tapi setelah jadi anggota BPJS Kesehatan bakalan nggak bayar lagi.

IMG_20171122_122258

Bagian belakang kartu berisi tanggal kontrol

Yang saya keluhkan selama pemakaian IUD ini adalah durasi haid saya jadi panjang. Pada haid pertama saya setelah pakai IUD lamanya jadi 10 hari. Pada bulan-bulan berikutnya durasinya semakin berkurang jadi 9 hari, lalu 8 hari dan hingga sekarang jadi 6-7 hari. Selain itu periode haid saya datangnya jadi lebih cepat, maju rata-rata seminggu setiap bulan. Kalau dulu sih saya haid bisa setiap 30 hari. Setelah pasang IUD jadi kira-kira tiap 23 hari.

 

Untuk keluhan dari suami sih nggak ada. Jadi aman aja… Tapi untuk keluhan saya, kata bu bidan itu normal. Memang sebelum pasang IUD saya sudah dijelaskan bahwa efek pasang IUD bisa jadi durasi haid lebih panjang dan lebih banyak darah haid yang keluar. Bu bidan sendiri yang pakai IUD juga mengalaminya. Mama saya juga pakai IUD dan mama saya pun mengalami hampir sama seperti saya, selama 3 hari haidnya deras dan 4 hari sudah mulai menurun intensitas keluar darahnya.

 

Yang saya suka dari IUD ini adalah tidak mempengaruhi hormonal saya. Selama haid pun pakai Mooncup juga nggak masalah. Justru saat heaviest flow pakai Mooncup membantu sekali sehingga nggak boros pembalut (lagi pula saya udah lama nggak pakai pembalut sekali pakai tapi pakai Mooncup dengan  dibantu pembalut kain). Yang ingin tau tentang ulasan saya tentang Mooncup baca disini ya…

 

IUD yang saya pakai adalah IUD Andalan Tcu 380A Safeload yang bisa mencegah kehamilan hingga 10 tahun. Kan udah mau stop punya anak jadi sekalian aja pakai IUD yang mengontrol kehamilan dalam jangka waktu lama, lebih hemat dan ekonomis serta nggak perlu bolak-balik lepas-pasang IUD. Ada juga IUD yang mengontrol kehamilan selama 3 tahun dan 5 tahun. Saya tau tentang IUD Andalan ini dari majalah AyahBunda.

IMG_20171122_121831

Saya pakai IUD yang gambar boxnya paling atas

Selama memakai IUD ini so far so good. Nggak ada rasa cemas lagi bakalan kebobolan.  Suami dan saya pun nyaman dengan playing safe. Yang paling bikin senang bagi saya dengan memakai alat kontrasepsi IUD ini adalah tidak ada lagi rasa was-was bahwa akan mengandung tanpa perencanaan matang. Gimana, apa Anda berminat pakai IUD? Atau malah udah pakai alat kontrasepsi?

 

“I’ll be with you feon dusk till dawn” -Zayn Malik ft. SIA

Pakai IUD ini telah menambah keharmonisan hubungan saya dengan suami. Kami jadi bebas dari rasa khawatir karena udah komitmen cukup dua anak saja, Kalki dan Kavin. Kasih sayang dan perhatian jadi tercurah hanya kepada mereka. Ikut asuransi kesehatan dari pemerintah (BPJS Kesehatan) pun jadi fix karena anggota keluarga kami empat. Mudah-mudahan perencanaan pendidikan kami untuk mereka juga bagus. Semoga.

Selamat hari ulang tahun Pernikahan yang ke-6, Papa Ambara. Kamis, 28 Desember 2017.

“But you’ll never be alone, I’ll be with you from dusk till Dawn… I’ll be with you from dusk till Dawn… Baby, I’m right here…” nyanyiannya Zayn malik dan Sia yang lagi terngiang-ngiang di kepala saya. The 6th wedding anniversary is symbolized as “candy”. I  am very grateful we have been through the six years with our sweet boys, Kalki and Kavin.

 

Love,

Intan Rastini.

Advertisements

Berbagi Susu untuk Adik

Kalki bayi dulu mendapat ASI walau sempat minum PASI (pengganti air susu ibu) selama kira-kira 3 hari setelah kelahirannya. Karena permasalahan ASI belum keluar di hari pertama dan setelah terus disodorkan untuk dihisap Kalki perlahan mulai muncul kolostrum. Mama juga sempat perah payudara sampai air susunya keluar. Setelah pede air susunya udah mau keluar PASI pun mama stop agar payudara terus terstimulasi memproduksi susu. Kan prinsip ASI itu supply meets demand. Kalau dirangsang terus oleh hisapan bayi maka ada permintaan, maka produksi pun akan ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan si bayi.

Tetap memberi PASI atau Sufor akan menghambat permintaan ASI.

Sayang Kalki sempat intoleransi laktosa karena setelah minum PASI, ada darah pada fesesnya. Lalu digantilah dengan PASI khusus dan untung nggak lama kemudian bisa full ASIX alias memberi ASI eksklusif secara penuh langsung dari payudara mama.

Selama berapa lama nyusunya? 6 bulan pertama sukses ngaASI, berarti lulus S1 ASIX ya… lalu sampai usia 1 tahun masih mimik ASI bersama dengan udah lulus MPASI. Berarti S2 ASI pun terlampaui. Nah, setelah itu mama hamil kedua… sehingga Kalki mulai disapih pada usia 1 tahun 4 bulan. Hingga benar-benar berhenti nyusu karena mama merasa nggak nyaman atau ngilu setiap nyusui saat hamil muda dan kehamilan mama saat itu berisiko sering ngeflek. Yah, gelar S3 ASI untuk Kalki tidak bisa didapat karena Kalki akan menjadi kakak :’).

Saat behenti menyusui kakak Kalki mulailah ditawari susu sapi instan. Awalnya 1 hari sekali lalu sampai sekarang sudah rutin 2 kali sehari pagi setelah bangun tidur dan sore. Kadang juga minum susu UHT, lho. Kakak Kalki minum susu pakai botol sedotan jadi bisa dibawa kemana-mana tanpa takut tumpah.

image

Suatu sore mama membuatkan susu untuk Kalki minum sambil nonton kartun kesayangannya. Saat jeda iklan, mama menghampiri adik di kamar diikuti oleh Kalki yang membawa serta susunya. Kakak Kalki naik ke kasur dan memberikan botol minum susunya ke tangan adik. Mama sudah bilang pada Kalki, “kakak…. adik nggak minum susu itu, adik minumnya susu mama ini (mama sambil menunjukkan nipple)”.

image

Tapi Kalki geleng-geleng dan menepis tangan mama sambil bilang, “ndaaaak” atau “aaaaahhh” ngasi tau mama supaya minggir sana! Dia tetap menyuruh adik memegang botol sedotan susunya. Dan merasa senang karena berhasil memberi susu untuk adiknya… lalu akhirnya dia mencopot kaos kaki adik Kavin dan berusaha untuk memakainya hihihihi. Terima kasih ya kakak sudah mau berbagi susu untuk adik Kavindra sejak adik masih dalam kandungan.

Intan Rastini

The Second Pregnancy

Dulu waktu hamil pertama antusias banget nyatetin segala perkembangan si jabang bayi, sekarang kok udah nggak antusias lagi, ya? Mungkin kehamilan kedua sambil ngurusin anak pertama yang masih menyusui itu lebih merepotkan dan melelahkan (ngga pake nanny), jadi ngga ada energi dan semangat lagi buat ngedokumentasikan kehamilan kedua, hehehe.

Sekarang kehamilanku udah 3 bulan. Udah nggak ngitungin week per week dengan calculator di babycentre, abis aku udah lupa kapan hari pertama haid dulu. jadi karena dasarnya nggak ingat pasti ya selanjutnya nggak aku terusin dengan ngitungin usia kehamilan per minggu.

Kalau masa konsepsinya kapan ya? Hehe itu juga ngga inget. Aku nggak pakai alat kontrasepsi apapun, jadi KB alami telah berhasil ya selama 6 bulan menyusui Kalki secara ekslusif, lalu sampai Kalki berusia 13 bulan. Berarti aku mulai hamil saat kalki berusia 14 bulan. Sekarang adiknya Kalki di dalam perut udah melampaui trimester pertama, sedangkan Kalki akan berusia 1y5m bulan Oktober ini (maklum lahirnya di akhir bulan sih).

Kehamilan kali ini lebih susah. Karena Kalki masih nyusui, dan rasanya nggak nyaman banget untuk nyusuin dia lagi! Rasanya puting dikenyot itu udah bikin ngilu, dan geregetan! Pokoknya aku saking nggak nyamannya merasakan nyusui kalki sampai gemessssssss banget sama Kalki! Jadi kadang ditengah dia lagi nyusui, aku tarik supaya berhenti sebentar.

Selain itu juga karena keluhan mual-mual, tapi masih untung ngga sampai muntah. Bawaannya udah kayak mendem (mabok) gitu. Nggak enak banget ngapa-ngapain, kadang juga pusing, Padahal itu bocah butuh perhatian. Aku kudu buatin makanan, kalau ngga bisa ya papanya yang buat. Belum lagi buat makanan diri sendiri dan janin?

Selama sebulan terakhir beratku belum naik. Pas pengukuran lingkar lengan kata bu bidan status giziku mepet nih ke batas kurang gizi, hiks…

Proses menyapih kalki juga belum berhasil. Soal bagi-bagi nutrisi ini bikin pusing.. Makanya itu susah! Kalki udah ditawarin susu pengganti tapi dia nggak suka. Minumnya cuma dikit banget. berarti dia cinta sama ASI, nih. Huhuhu… mestinya aku seneng atau sedih?

Aku udah pasrah aja kalau nanti Kalki nggak bisa lulus ASI 2 tahun, ya sudah nggak papalah yang penting selama 1 tahun udah lulus.. dari pada mengganggu kehamilan dan ibunya juga jadi kurang nyaman kan. Setiap Kalki mau minta nenen hampir jadi teror buat aku. Rasanya emang menakutkan, sih. Mudah-mudahan ntar berhasil disapih.

 

Menyusui Saat Hamil/Nursing While Pregnant(NWP)

Untuk kesehatan janin, apa akibat yang dapat terjadi pada janin di trimester pertama (10 minggu) saat rahim terus-meneruis berkontraksi saat menyusui anak pertama, apalagi menyusuinya setiap hari dengan frekuensi 3-5 kali sehari? Terimakasih, dok.

drmaharanibayu

Masa menyusui exclusive 6 bulan sudah berlalu, sudah berhasil melalui syarat KB alami yaitu : belum haid dan tidak hamil dan menyusui exclusive dan bayi belum berusia 6bulan.

Setelah bayi berusia 6 bulan, sudah tidak menyusui exclusive karena sudah mendapatkan MPASI, KB alami sudah tidak berlaku lagi. Walaupun ibu belum haid, namun kemungkinan untuk masuk dalam kondisi subur sudah ada, dalam artian, ibu dapat menjadi hamil. Pada masa ini, KB sangat disarankan untuk digunakan bagi pasangan yang masih ingin menunda kehamilan.

Bila belum sempat KB namun kehamilan sudah terjadi saat anak masih dalam masa menyusui (<2tahun) apakah yang harus dilakukan?

Menyusui saat hamil atau nursing while pregnant adalah tetap dianjurkan*. Karena manfaat yang baik bagi ibu, dan juga tentunya bagi buah hati yang masih membutuhkannya untuk pemenuhan gizi. Namun, hal ini ada *syaratnya, yaitu apabila tidak mengganggu kesehatan ibu dan janin yang dikandungnya.

Kesehatan ibu :

Bila dengan menyusui, dimana…

View original post 369 more words

GIVEAWAY: Antologi Mereka Bicara Fakta “Bikin T-shirt, yuk!”

Maaf mak gesi, waktu itu aku lagi agak repot ngurusin kalki n papanya sakit flu, sama belum ada ide juga sih…. Sekarang aku udah ada! Aha! hehehehe 😀 tolong dimaafkan ya mak…. :-*
Terinspirasi dari logo RRR yang apik dan juga karena adikku sempat jual t-shirt gitu, makanya aku punya ide ini. Harap maklum ya, kalo idenya sederhana ajah.

Logo Rumah Ramah Rubella itu bagus lho, mak. Aku suka. Jadi kenapa nggak dipamerin aja dengan t-shirt? *wink*

Nah, jadi t-shirtnya bisa dipakai oleh seluruh anggota RRR dan bisa dijual juga bagi yang berminat 🙂

Udah, gitu aja sih, maaf ya sederhana banget hehehehehe 😛

Semoga bermanfaat 🙂

P.S. Tulisan ini turut serta dalam pengembangan Rumah Ramah Rubella

Dari Lotus Birth hingga BLW

Dulu waktu mau melahirkan aku dan papa sempat bincang-bincang tentang metode persalinan yang aku minati yaitu: water birth dan lotus birth. Pengennya melahirkan di Yayasan Bumi Sehat di Ubud sono. Tapi karena jauh ya nggak kesampaian. Letak Ubud dengan Tabanan tuh ada 50km lebih kayaknya, dan karena aku sempat ngotot memikirkan berbagai alternatif supaya bisa mewujudkan impian melahirkan di sana, papa ngatain aku nggak realistis!

Akhirnya aku melahirkan di klinik bidan yang jaraknya kurang lebih 20km dari rumah. Kebetulan bidannya adalah Bu Kadek, bidan yang tugas juga di Poskesdes Angkah (sekarang ganti nama Pustu). Karena sering ANC di Pustu dan udah akrab dengan Bu Kadek ya sudah nyamannya dan sebaiknya bersalin di klinik Bu Kadek saja. Perkembangan selama prakonsepsi dan hamil pun Bu Kadek kan sudah tau, jadi itu memudahkan juga.

Kenapa kok aku pengen water birth dan lotus birth? Karena ngikutin trend kali ya hehehe. Katanya kalo pakai metode melahirkan di air bisa nggak terasa sakit-sakit amat, katanya… Tapi bukan rasa sakit saat melahirkan itu yang jadi concern utamaku, melainkan bersihnya bayi segera setelah dilahirkan. Begitu bayi keluar dari rahim ibu, dengan metode water birth, si bayi jadi bertemu air sehingga darah yang menempel di kulit bayi bersih, deh.

Nah, yang paling aku suka itu Bumi Sehatnya. Karena klinik Bumi Sehat milik Bu Robin ini secara overall menerapkan gentle birthing, pro-ASI dan IMD 🙂

Pernah aku kesana sekali doang buat nengokin Tante Suasti yang melahirkan di sana. Tante Suas sendiri itu bidan di Bumi Sehat hihihi. Jadi ceritanya aku sering kepo tentang Bumi Sehat ke Tante Suas. Waktu melahirkan Bayu, Tante Suas ini pakai metode water birth dan lotus birth. Pas aku kesana sama suami, Mama dan Mbah Mojo (ibu mertua Tante Suas), Mama heran kenapa kok tali pusatnya Bayu belum dipotong. Tante cuma jawab, “biar pinter”. Dari situ lah aku tertarik.

Lotus birth itu membiarkan bayi yang baru lahir tetap terhubung ke plasenta dan membiarkan tali pusatnya puput sendiri. Berdasarkan yang pernah aku baca (semacam riset atau penelitian), dengan metode ini tali pusat akan cepat puputnya dibanding dengan metode konvensional yaitu memotong tali pusat bayi segera setelah kelahiran dan membiarkan sisanya di pusar puput. Awalnya aku agak bingung, tapi setelah melahirkan Kalki jadi ngerti gimana maksudnya.

Waktu melahirkan Kalki, plasentaku nggak langsung keluar – padahal aku ingin plasentaku keluar secara alami, mungkin karena kelamaan akhirnya ditariklah plasenta itu oleh asisten bidan dari tali pusat yang sudah tidak terhubung lagi ke pusar Kalki. Eh, pas si asisten bidan dalam proses menarik plasentaku, tiba-tiba tali pusatnya putus! Jadinya Bu Kadek turun tangan untuk merogoh plasenta di rahimku. Trus belakangan papa sempat tanya, “gimana rasanya di rogoh di dalam rahim begitu?” Aku jawab biasa aja.

Dengan metode Lotus Birth, kita memberikan sari-sari makanan yang masih ada di plasenta untuk si bayi meski bayi sudah di luar rahim. Dan secara kesehatan katanya menambah asupan nutrisi untuk bayi, terutama darah atau zat besi ya…? CMIIW. Dan aku suka banget dengan konsepnya itu. Makanya aku pengen menerapkan metode itu untuk kelahiran Kalki – tapi apa daya…

Papa nggak setuju dengan metode ini, katanya tidak sesuai dengan keyakinan kita atau tradisi. Menurut papa, di dalam kandungan Kalki itu punya “saudara” (kurang jelas merujuk ke apa atau siapa – karena ini masalah keyakinan). Plasenta itu memang sumber makanan bagi janin (saat di dalam kandungan), setelah dilahirkan, bayi tidak memerlukan lagi sisa-sisa makanan di plasenta, makanya dibagi untuk “saudaranya” dengan ritual dan ditanam di tanah.

Kalau aku sendiri, sih terbuka terhadap hal baru. Aku nggak masalah dengan metode lotus birth ini meskipun aku memeluk keyakinan yang sama dengan papa. Nah, sekarang aku mau cobain metode Baby-led Weaning (BLW) ke Kalki, papa protes nggak setuju lagi! Duh! Alasannya karena Kalki belum ada gigi. Ntar kalau udah tumbuh gigi baru deh boleh diterapkan BLW. Trus aku jawab, “yaaaah…. itu mah finger food namanya”.

Yah namanya juga metode-metode baru, emang suka kontroversial gitu yah?

trivia di Majalah AyahBunda

trivia di Majalah AyahBunda

kata papa (ngeledek) waktu mama masih hamil ngebet melahirka a la water birth: "Guscil udah di air masak keluar ketemu air lagi, ma?" -_____-

kata papa (ngeledek) waktu mama masih hamil ngebet melahirkan a la water birth: “Guscil udah di air masak keluar ketemu air lagi, ma?” -_____-

Barang Wajib Bawa Saat Bersalin

Setelah punya pengalaman bersalin di klinik swasta bidan dan merasakan sendiri tepatnya butuh apa aja dan berapa jumlahnya barang-barang untuk ibu bersalin, bayi dan juga ayahnya. Maka, list perlengkapan bersalin papa, mama dan Guscil yang dulu aku sempat post di tumblr saat Kalki belum lahir, aku perbarui disini 🙂

Karena aku waktu melahirkan dulu menghabiskan waktu 3 hari 2 malam di klinik, maka jumlah yang aku sebutkan ini berdasarkan acuan tersebut ya… detilnya Kalki hari pertama aku sampai di klinik sore, lalu Kalki lahir pagi di hari kedua, dan kami pulang pagi di hari ketiga. Jadi Kalki menghabiskan waktu 2 hari 1 malam di klinik, sempat dimandikan 3 kali yaitu pagi dan sore di hari kelahirannya, dan mandi pagi sebelum dia pulang.

Kita mulai dari TAS GUSCIL (baby bag):

  1. popok kain 1 lusin
  2. sapu tangan bayi 2
  3. kain bedong 1 lusin (karena pakai popok kain untuk bayi baru lahir, bedongnya ikut ganti kalo popok kainnya ganti. kec. pakai pospak bisa dikurangi bedongnya jadi 4)
  4. selimut bayi tebal 2
  5. pakaian bayi 4
  6. sarung tangan + kaki 2 pasang
  7. topi bayi 2
  8. handuk bayi 2 (kadang bayi suka pee/pup saat sedang dihandukin)
  9. waslap 2
  10. tisu basah khusus bayi 2 pak
  11. minyak telon

Semuanya dimasukkan ke dalam blue bag khusus Guscil (mudah-mudahan aja muat).

TAS SUAMI (tas papa):

  1. buku doa saku
  2. buku KIA + kartu kontrol kehamilan
  3. KTP suami dan KTP istri
  4. foto kopi masing-maisng KTP suami dan istri @5 lmbr
  5. foto kopi KK 3 lmbr
  6. foto kopi akta nikah 3 lmbr
  7. foto kopi buku KIA hal. iv dan 14-15 (untuk keperluan Jampersal)
  8. sapu tangan
  9. handuk
  10. celana dalam 2
  11. pakaian ganti
  12. sikat gigi
  13. Makanan ringan + minuman

Trus papa, juga kudu bawa: Kemaron + kain kasa (untuk wadah plasenta dan ari-ari). Karena ini ga dimasukkin tas, papa tulis diluar list angka.

TAS ISTRI (tas mama):

  1. BH menyusui 4
  2. Breast pad 6
  3. celana dalam 10 (karena lochia suka rembes ke celana dalam meski udah pakai pembalut jadi bawanya harus banyak)
  4. pakaian ibu 4
  5. stagen 2
  6. kamen 5-6
  7. sapu tangan
  8. tisu travel pack
  9. pembalut khusus pasca melahirkan 1 pak
  10. handuk
  11. sabun mandi (nah ini pakenya ntar bisa barengan sama papa juga)
  12. sikat gigi
  13. pasta gigi (barengan sama papa, makanya papa nggak bawa di tasnya)
  14. lipbalm
  15. minyak kayu putih
  16. pelembap wajah
  17. hand sanitizer (buat mama, papa, dan siapa pun yang mau megang-megang Guscil biar bersih!)
  18. deodoran
  19. jepit/karet rambut
  20. selimut, bantal kesayangan dan guling (saat kontraksi aku butuh guling untuk menyamankan selangkanganku, bantal untuk punggung. Lalu setelah persalinan aku menggigil kedinginan! Jadi selimut penting banget)
  21. kresek hitam kecil 1 pak (untuk buang pembalut)
  • Ember + tutup (tempat kita ngumpulin popok kotor si kecil sementara, ntar di rumah baru cuci)
  • Kresek jumbo 2 (buat pakaian kotor mama dan papa trus kreseknya bisa ditenteng atau dimasukkin tas yang kosong)
  • Air minum 2 L – 3 L
  • Makanan Ringan
  • Buku Panduan Guscil (Buku “Panduan Sehat Super Lengkap Kehamilan, Kelahiran & Perawatan Bayi”)

Sepertinya itu sudah cukup. Kata papa dompet udah otomatis harus dibawa jadi nggak perlu ditulis, begitu pula dengan barang yang jumlahnya 1 buah aja nggak perlu dikasi keterangan lagi.

Prinsipnya mending bawa lebih dari pada kekurangan, nah berdasarkan pengalaman persalinanku barang itu yang dibutuhkan dan jumlahnya pas segitu. Kalo mau tau proses persalinanku bisa dibaca di 2 post ini: prapersalinan dan persalinan aktif.

Untuk Nuke yang sedang hamil, kamu yang menginspirasi supaya aku cepat mengupdate list ini, kan siapa tau berguna untuk ibu-ibu hamil lainnya seperti kamu…

tas guscil dan tas mama, mama bingung milih yang perlu dimasukkin waktu itu. Kalo tas papa sih gampang!

perlengkapan guscil dan tas mama yang udah ready, mama bingung milih yang perlu dimasukkin ke tas guscil waktu itu. Kalo tas papa sih gampang! Jadi tas Guscil siap belakangan, padahal ini bocah yang paling utama hehehe

bawa cloth wipes bisa jadi pengganti wet tissue buat ganti popok, tapi ribet ah kalo untuk di klinik

bawa cloth wipes bisa jadi pengganti wet tissue buat ganti popok, tapi ribet ah kalo untuk di klinik

Nah ini tas Guscil udah siap! P.S kalo ada yang mau tas bayi seperti punya Guscil ini cek IG: @nuxshop 😉

Silakan dicek terlebih dahulu tempat bersalinnya, jika tempat tujuan bersalin menyediakan perlengkapan bayi, memiliki atau dekat dengan minimarket, dll. maka bisa dikurangi barang bawaanya, beda tempat beda kebutuhan ya… 🙂 Congratulations for you pregnancy ♡♥

Selanjutnya… barang bawaan saat pergi dengan bayi dan anak balita... saya tetep pakai baby bag biru 😉