Ganti Kacamata Baru dengan BPJS Kesehatan

Posting lalu kan sudah saya tulis mengenai pengalaman odontectomy atau operasi cabut gigi bungsu menggunakan BPJS Kesehatan, kali ini saya mau cerita tentang prosedur pelayanan untuk mendapatkan kacamata bagi peserta BPJS Kesehatan sesuai pengalaman saya.

 

By the way, mata saya emang udah ketahuan minus sejak mau masuk SMP, jadi saya udah cek kesehatan berkala dan menggunakan kacamata dari dulu. Tapi setelah saya menikah, saya nggak pernah cek kesehatan mata lagi, kacamata yang saya pakai pun masih dengan ukuran lensa waktu terakhir periksa di masa kuliah. Akhirnya saya memutuskan untuk periksa mata saat sudah punya BPJS Kesehatan. Sebenernya banyak optik yang menawarkan periksa mata gratis, tapi kan saya juga perlu ganti lensa kalau ukurannya berubah.

 

Kok, kebetulan gagang kacamata lama saya sempat patah, trus udah dilem jadinya longgar, nggak megang gitu. Kan nggak nyaman banget dipakai. Eh trus, Jon, anak Bu Yuli pengelola yayasan tempat saya bekerja, nawarin frame kacamata biru punya volunteer yang ketinggalan. Awalnya saya nolak karena udah punya kacamata, tapi segera berubah pikiran karena langsung inget kalau gagang kacamata lama saya udah longgar. Karena butuh frame kacamata baru, akhirnya saya ambil, deh.

20171219_110732

Kacamata saya yang lama framenya berwarna hitam dan gagangnya berwarna cokelat, kalau kepala nunduk suka hampir jatuh gitu karena gagangya udah longgar abis patah engselnya

Tanggal 20 Oktober 2017 lalu saya ke puskesmas Suraberata bilang mau periksa mata karena mata saya minus dan udah lama nggak cek mata lagi. Lalu diberi surat rujukan untuk periksa ke dokter spesialis mata di BRSU Tabanan. Setelah itu saya pun mencoba ambil antrean online di web BRSU Tabanan yang sudah mulai diberlakukan sejak Agustus 2017. Ambil antrean online ini berlaku untuk kunjungan ke BRSU Tabanan 2 hari kemudian. Saya langsung dapat nomor antrean 1 untuk ke poli mata.

 

Saat ke BRSU Tabanan, saya langsung mengkonfirmasi antrean online saya di loket pendaftaran beserta menunjukkan surat rujukan dan kartu BPJS Kesehatan. Nggak lama kemudian langsung disuruh ke poli mata. Di poli mata saya perlu menunggu sampai dokter spesialis mata datang. Saat diperiksa ternyata kedua mata saya minus 1,75 dan mata kanan saya silinder 0,25.

 

Saya juga sempat mengeluhkan mata kanan saya yang sering sakit jika tiba-tiba dibuka saat terbangun tengah malam atau terlalu pagi. Kata dokter, sih, sebabnya karena mata saya lelah, maka saya diresepkan obat tetes mata dan resep untuk ukuran lensa mata kacamata yang baru. Saya pun masih perlu melengkapi resep kacamata dengan legalisir dan SEP (Surat Elegibilitas Peserta) dari BPJS center yang ada di area BRSU Tabanan.

 

Di kantor BPJS Center, saya diberi daftar alamat optik di Tabanan yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. Nilai pertangungan pembelian kacamata baru yang saya dapat adalah Rp 150.000 karena saya peserta BPJS Kesehatan kelas III. Dan sebagai info tambahan, pembelian kacamata baru yang ditanggung adalah untuk lensa spheris minimal 0,5 Dioptri dan untuk lensa silindris minimal 0,25 Dioptri. Kacamata dapat diberikan paling cepat dua tahun sekali sesuai dengan indikasi medis. Oh ya, untuk nilai pertanggunagan kelas II Rp 200.000 dan kelas I Rp 300.000.

 

Setelah pegang resep dokter spesialis mata yang dilegalisir dan SEP, saya tinggal pilih mau beli kacamata di optik mana. Saya sempat tanya-tanya ke tiga optik yang berbeda di Tabanan yang masih bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. Saya cuma tanya harga lensa plastik untuk minus 1,75 dan silinder 0,25 karena saya udah punya frame kacamatanya.

 

  1. Optik Arie cabang Bajera Jl Rajawali No. 9, harga lensa plastik yang ditawarkan Rp350.000.
  2. Optik Internasional di dekat pasar senggol Tabanan Jl. Gajah Mada No. 13, harga lensa plastik biasa Rp350.000. yang ada anti UV Rp 500.000an.
  3. Optik Erlangga di Jl. Pahlawan No. 25 Tabanan, harga lensa plastik Rp250.000, lensa plastik biasa Rp200.000

 

Saya dapat best price di optik Erlangga dan saya ambil lensa plastik dengan harga Rp 200.000, maka saya perlu nambah bayar Rp50.000 secara cash. Dan setelah sempat ngobrol sama tante saya yang juga punya kacamata baru, ternyata Optik Erlangga emang terkenal lebih murah karena beliau beli kacamata barunya disana, periksa mata pun gratis.

Selain Optik yang tersebut di atas yang telah saya kunjungi ada pula optik lainnya yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan di Tabanan, yaitu:

  1. Optik Indra di Jl. A. Yani No. 50 Kediri
  2. Optik Arie cabang Tabanan di Apotek Restu Farma

Di Optik Erlangga saya serahkan resep ukuran lensa dari dokter spesialis mata, SEP, fotokopi kartu BPJS Kesehatan dan tidak lupa frame kacamata yang saya bawa untuk dibuatkan lensa dengan ukuran baru dan dipasangkan ke frame kacamata saya. Katanya sih, seminggu selesai dan akan dihubungu ke nomor HP saya. Tapi ternyata baru 2 hari saja saya sudah terima sms yang memberitahukan bahwa kacamata saya sudah selesai.

 

Untuk ambil kacamata saya perlu menunjukkan nota pembayaran saja. Udah deh… saya jadi punya kacamata baru! Next kalau mau periksa mata lagi bisa Oktober 2019. 🙂

 

Ini dia kacamata baru saya, warnanya biru bening dengan gambar sulur-sulur tanaman di gagangnya tapi nggak terlalu kelihatan di foto ini. Matching kan dengan kebaya dan tasnya? 😀

Bagus nggak menurut kalian? Saya sebenernya kurang suka dan kurang PD dengan frame kacamata warna-warni, maunya sih yang warnanya tidak terlalu mencolok seperti hitam, tapi namanya juga frame kacamata dikasi, ya kan? Ternyata framenya cukup kuat dan megang, kok. Worth it.

Intan Rastini.

Advertisements

Trip to the Secret Waterfalls

We love to be in the nature. I have been living in a natural village in Bali for about 6 years. This village is not the center of tourist attraction like Penglipuran Village, so it is quiet and quite remote. Our village is Angkah Village which is surrounded with paddy fields and the woods.

 

Before I got pregnant I had explored the Balian river and dam in our village. It has a long and wide stream with several big rocks. After I have Kalki and Kavin, I work as an English teacher in Samsaman Village. I got an information from my students at the learning center that there are waterfalls in the village we can visit I guess there are two different waterfalls, one in Angkah village and the other one is in Samsaman Village. Angkah and Samsaman are closed to each other.

 

My first time visiting the waterfalls in Samsaman, it was with my students and a volunteer from the USA. The access to the waterfalls was still new. Probably the residents had just opened a new road through the forest to the waterfalls with an excavator. However the road to the waterfall is only for the beginning. Next we still need to hike on the path down the hill in the woods.

That’s why I call it as secret waterfalls because before they opened the road, just certain villagers who had known or accessed the waterfalls. It is located behind the villagers’ residence. Almost hidden, I could say. We can go there by motorcycle or car first until flat road ends. On the new road is just bare land without asphalt or cement. We can park our vehicles on the new road, because the slopes begin there, so we have to go on foot.

After the new road ends, we will walk in the woods with small path. The road and the path are really steep sometimes. We need to keep hiking downward to go to the waterfalls. Until we arrive at the cliff edge and we have to climb the cliff down about 1.5-2 meter height. It is very dangerous if the cliff is wet because of the rain. So, we always make sure to go to the waterfalls on a sunny day.

 

There are two waterfalls there. The first is very wide and we can walk on the top of it. The first waterfall is near from the start point but we need to climb down the cliff  a little bit to get there. It’s more narrow and there is a stream with rocks just like a pool where we can play splashing water or soak our body. The depth is only 1 meter. From the first waterfall we can see the view from a high hill because there will be still the second waterfall which is the highest and it flows down the hill straightly to the Balian River below.

IMG_20170702_144633

The top of the first waterfall, my husband walked across to be on the top of it

 

IMG_20170702_145435

Touch down the first waterfall

IMG_20170702_145346

There are many rocks

20170702_150607

I could see rainbow below the waterfall

20170702_150409

It was beautiful

 

20170702_150915

The view from the top of the second waterfall, we can see the Balian river down there

20170702_161036_tgzzkp

The last waterfall

Both of the waterfalls are connected to each other. The last waterfall is very massive, it is about 20 m height. To go to the last one we need to hike further to the forest downhill with more dangerous and difficult path. At the bottom of the waterfall there is a pool surrounded by the natural rocks and the water of the pool keep flowing straightly to the Balian River. The pool depth is about 1.5-4 meters.

IMG_20170702_145441

we need to climb down the cliff a little bit to get to the first waterfall

I have been to the waterfalls twice. At first with my students and a volunteer was only until the first waterfall. We played in the pool and took some photos. We could stand up on the big rock on the top of the second waterfall and we could see the magnificent view of green hills and the stream of Balian River from above the highest waterfall.

This slideshow requires JavaScript.

The second time I went there with Kalki and my husband. We didn’t take Kavin with us because it is quite dangerous and tiring to a smaller kid. We went down until the second waterfall. If we kept walking down the hill we would have arrived on the Balian River. At the second waterfall, we had to leap over rocks until we arrived at the pool as the bottom of the waterfall. Me and Kalki ate some snacks on a giant rock while my husband was swimming on the pool.

20170702_161847

My husband couldn’t stand not to swim there

20170702_161546

Swimming in the cold cold water

20170702_161005

Massive waterfall

20170702_160125

We went down hill to the second waterfall where the water falls from 20 m height

It was cold to be at the waterfall, moreover to swim there. My husband was shivering just after swimming. It became colder as it was getting dark in the afternoon. We decided to went back before it was too late, in the dark we would see nothing in the forest. We had to hike the hill upward on our way home. It was very tiring for us espescially Kalki. My husband carried Kalki on his back whenever he said that he was tired to walk. We also stopped to take a rest or drink for several times.

20170702_170919

My husband carried Kalki when he was tired to walk

After all it was always a fantastic journey to explore the new waterfalls near our home. We really enjoyed the natural scenery and the challenging adventure. Me and Kalki was using wood sticks as walking cane to help us hike the hill down and up during the trip. It just wasn’t really help when we needed to climb some rocks. I’ve heard that some international volunteers from my work place also visited the waterfalls. The Portuguese boys even did cliff jumping at the last waterfall. Wow! Do you have the gut to try?

 

Intan Rastini.

I Have No Wisdom Teeth Anymore II

Kelanjutan dari “I Have No Wisdom Teeth Anymore I”….

Sambil menunggu dipanggil masuk ruang bedah, saya sempat sarapan dua kali, nyemil-nyemil dan minum susu UHT. Pak mantri yang modar-mandir di depan poli gigi menjelaskan bahwa mereka sedang mempersiapkan ruang bedah dan menunggu dokternya datang. Sambil menunggu beliau juga sempat menjelaskan bahwa letak gigi bungsu yang dicabut itu letaknya dekat dengan syaraf-syaraf sehingga bisa terjadi efek samping seperti kebas atau mati rasa di seputar area tersebut. Tapi mereka akan tetap berusaha yang terbaik supaya itu nggak terjadi.

20170607_073600

Sebelum operasi cabut gigi, minum susu UHT dulu

Saya juga tidak lupa membawa sikat gigi dan pasta gigi supaya saya bisa membersihkan gigi sebelum operasi cabut gigi. Saat nama saya dipanggil masuk ke ruang bedah, deg-degan rasanya. Untung ada dua bapak mantri yang ngajak saya ngobrol dengan ramah dan akrab sehingga suasana jadi lebih santai. Saya pun diminta untuk berkumur dulu sebelum operasi dimulai. Foto rontgent di tempel di atas dekat lampu dokter gigi dan gigi bungsu saya yang akan dicabut saat itu saya pilih yang kiri (gigi 38) dulu karena itu yang lebih nyeri karena berlubang.

Sebenernya saya memejamkan mata terus saat operasi berlangsung, selain karena silau kena lampu juga karena takut hihih. Tapi tetap terasa kan kalo gusi itu mulai disuntik anastesi sampai mati rasa. Terus mulai dibedah gusinya pakai gunting nggak lama setelah dibius lokal karena bunyi “cekrik-cekrik”, gitu. Selanjutnya gigi bungsu dipegang dengan alat dan dicoba diangkat, karena agak susah, akhirnya dibor sampai gigi saya patah menjadi beberapa bagian dan bisa diangkat satu per satu sampai bersih. Selama proses dibor itu getarannya yang bertubi-tubi bikin rahang ngilu-ngilu dikit apalagi kita kan terus nganga. Mulut pun berasa penuh air liur, tapi ada alat penyedot cairan yang dipegang oleh pak mantri selama proses odontectomy.

Ruangan bedah mulut itu terasa dingin banget sampai saya kedinginan. Untung saya pakai kaos kaki dan sepatu, lalu saat saya mau lepas di awal, pak mantri bilang nggak usah karena ruangannya dingin. Pilihan yang tepat kalo gitu pas pakai jaket dan sepatu. Setelah semua bagian gigi bungsu saya terangkat, gusi saya akhirnya dijahit. Rasanya kok gusi sakit banget ketarik-tarik benang jahitan sampai rapat. Sekitar 2 atau 3 jahitan dengan simpul penutup setelah itu diberi kapas untuk digigit. Dan diberi ekstra kapas steril untuk ganti setelah 1 jam. Perawat berpesan untuk tidak makan dan minum yang panas, tidak berkumur-kumur, dan tidak menghisap-hisap dulu pasca cabut gigi.

Kira-kira proses operasi cabut gigi itu 30 menit aja. Saya pun diberi resep obat penghilang rasa sakit dan antibiotik. Terus besok disuruh kontrol lagi. Resepnya langsung saya kasi suami biar ditebus ke apotek dan saya langsung buka website Sanglah untuk ambil antrean online buat kontrol besok. Selesai operasi saya sempatkan minum susu UHT biar nggak lemes, dan karena udah jam makan siang, kami pulang sambil mampir untuk makan gado-gado di depan RS Sanglah. Setelah makan langsung saya minum pain killernya biar nggak kesakitan pas obat bius udah berkurang.

Saya putuskan untuk nginep di Dalung saja supaya nggak terlalu capek menempuh jarak jauh Denpasar-Tabanan bolak-balik apalagi besok masih perlu kontrol. Keesokan harinya saya kontrol ke Sanglah diantar oleh Ratih, dan proses periksa pasca-odontectomynya cukup cepat, dilihat dan cuma dibersihkan dengan cairan steril gusinya. Saya nggak ada keluhan berarti sih, selain pipi bengkak dan rasa sakit nyut-nyutan di bekas cabut gigi. Makan emang jadi susah tapi saya tetap nafsu makan, dong hehehe… Pipi saya yang bengkak banget kata pak mantrinya masih normal, ntar bisa kembali sekitar 3-4 hari. Tapi sebenernya yang saya alami, kempesnya setelah 1 minggu, bo!

Minggu depannya saya dijadwalkan untuk lepas benang jahitan, maka saya pun datang lagi 8 hari setelah odontectomy pada tanggal 15 Juli 2017. Setelah benang jahitan dilepas, gusi jadi terbuka gitu dan saya harus sering-sering kumur sampai gusinya menutup sempurna. Lalu karena masih ada satu lagi gigi bungsu sebelah kanan yang belum dicabut, saya tanyakan kapan jadwalnya. Maka pak mantri memberi tahu jadwal yang tersedia di bulan depan dan kami sepakat pada tanggal 13 Juli.

Nah, sambil nunggu operasi cabut gigi kedua, juga memberi kesempatan gusi pasca-odontectomy pertama pulih. Suami saya juga gigi bungsu bawahnya impaksi semua maka saya sarankan untuk ngurus surat rujukan ke Sanglah supaya tanggal 13 Juli kami bisa berangkat bareng ngurus gigi bungsu masing-masing. Soalnya kan RS Sanglah jauh banget dari rumah biar sekali jalan aja.

Tanggal 11 Juli 2017 saya udah siap-siap ambil antran online untuk cabut gigi di poli gigi Sanglah. Sedangkan untuk suami, saya tidak bisa ambilkan no. antrean online karena sebagai pasien baru Sanglah perlu melalui registrasi manual dulu di loket. Saat 13 Juli 2017 di RS Sanglah, suami saya periksa gigi dan lalu foto rontgent panoramik, sedangkan saya menjalani odontectomy. Kami berdua terpisah dengan urusan masing-masing sehingga saat saya sedang proses operasi cabut gigi, suami saya sedang di lab. radiologi. Kami pun sama-sama selesai pas menjelang siang.

Karena besoknya saya harus kontrol lagi, pak mantri pun memberi tahu untuk lewat perjanjian. Jadi serahkan saja surat kontrol, fotokopi kartu BPJS dan fotokopi kartu sanglah ke loket khusus perjanjian sehingga besoknya kita bisa langsung ke poli gigi. Ini berlaku khusus untuk berobat atau kontrol besoknya dengan menyerahkan berkas sehari sebelumnya. Sehingga kita tidak perlu antre untuk menyerahkan berkas di loket pendaftaran lagi.

IMG_20170713_111934

Proses menyerahkan berkas di loket khusus perjanjian

Saat cabut gigi bungsu kedua saya nginep lagi di Dalung, tapi besoknya saya pergi kontrol sendiri. Saat kontrol saya tanyakan ke pak mantri boleh tidak kalau benang jahitannya dilepas lebih dari seminggu? Seperti dua minggu? Beliau mengatakan boleh, maka saya diberi surat kontrol untuk bulan Juli 2017 tetapi tanpa tanggal.

Saya pun datang lagi ke poli gigi sanglah setelah 15 hari setelah odontectomy. Kebetulan saat itu juga adalah hari pasca-odontectomy suami. Tanggal 27 Juli 2017 suami saya pergi ke Sanglah sendiri untuk odontectomy, lalu tanggal 28 harus balik buat kontrol lagi. Pas jadwal kontrol, saya ikut buat lepas benang jahitan, jadi kami bisa sekalian berangkat bareng. Karena sama-sama kontrol jadi nggak terlalu nunggu lama di poli gigi.

Gigi bungsu saya dan suami berbeda cara dicabutnya. Suami saya giginya besar dan utuh saat dicabut sedangkan gigi saya yang lebih kecil ukurannya dipatahkan menjadi beberapa bagian untuk diangkat. Nggak tau juga kenapa, apa mungkin karena gigi bungsu suami saya udah nongol maksimal sedangkan gigi saya nggak sepenuhnya kelihatan. Tapi pasca-odontectomy sama-sama gusi terbuka seperti ceruk dan itu akan menutup sempurna kira-kira 2 bulan kemudian. Selama gusi masih terbuka kudu rajin berkumur tuh setelah makan.

Yang atas gigi suami, yang bawah gigi saya

Tanggal 20 Oktober 2017 saya ke Puskesmas Suraberata lagi untuk cabut gigi bungsu terakhir: sebelah kanan atas. Saat itu gigi bungsu saya agak ngilu sih, untung bisa dicabut biasa meski tumbuh agak miring ke arah pipi. Ternyata giginya juga udah berlubang dan hitam banget gitu gara-gara sering nyelip sisa makanan dan sikat gigi agak susah menjangkau area gigi bungsu itu. Setelah gigi bungsu terakhir saya itu dicabut juga ketahuan bahwa gigi geraham depannya ikut lubang gara-gara ketularan ketempelan makanan dan susah dibersihkan. Syukur deh, udah ditambal dan nggak nyeri lagi.

Sekarang saya udah bebas dari gigi bungsu yang tumbuh miring. Gusi bekas cabut gigi bungsu bagian atas sudah menutup secara sempurna dan rata, tapi gusi bekas gigi bungsu bagian bawah meski sudah menutup tetap terasa berbentuk cekung. Mungkin karena beda banget arah tumbuh gigi bungsu yang atas dan bawah dan teknik pencabutannya.

Cabut gigi bungsu secara odontectomy atau cabut biasa dengan BPJS sama sekali nggak bayar, yang perlu dibayar ya iuran BPJS-nya setiap bulan. Syukur nggak ada efek samping dan keluhan yang berarti setelah operasi cabut gigi bungsu, hanya pipi bengkak dan susah makan saja secara sementara. Bye bye my wisdom teeth! Now I don’t need to bear the pain from you and I’m really grateful for that.

 

Intan Rastini.

 

 

20170524_102757

Ada vending machine di dekat apotek, jadi sambil nunggu obat bisa lihat-lihat, nih..

 

20170524_091444

Dinding informatif di RSUP Snaglah, berisi pesan-pesan kesehatan

I Have No Wisdom Teeth Anymore I

Gigi bungsu atau wisdom teeth saya bagian bawah kiri dan kanan tumbuh miring semua secara horizontal, istilahnya sih, impaksi. Karena tumbuhnya tidur, yang muncul pun hanya sebagian permukaannya aja, arah tumbuh akarnya tidak wajar sih. Komplikasinya bikin tekanan ke gigi geraham depannya yang ditabrak, dan menimbulkan celah tempat sisa-sisa makanan bisa diam dengan nyaman. Akhirnya gigi bungsu saya berlubang semua.

Desember tahun lalu saat saya liburan ke Surabaya, gigi geraham kiri atas dan bawah saya sakit semua. Setelah periksa ke klinik dokter gigi, ternyata gigi bungsu atas dan bawah saya berlubang. Gigi bungsu atas tumbuhnya udah keluar semua dan cuma miring sedikit ke arah pipi sehingga bisa dicabut biasa oleh dokter gigi. Tapi gigi bungsu bawah saya tumbuhnya tidur dan nggak bisa dicabut biasa, sehingga disarankan odontectomy. Dokternya cuma bantu bersihkan dan beri obat ke bagian yang sakit saat itu.

Saat itu saya bayar biaya penanganan cabut gigi biasa dan diberi obat di klinik sebeasar Rp260.000. Lalu saya tanya berapa biaya untuk cabut gigi bungsu? Karena perlu operasi kecil, biayanya bisa jutaan. Dokter bilang foto rontgent panoramik saja dulu di lab. Operasinya bisa di Rumah Sakit FKG Unair dengan bawa hasil foto rontgent gigi. Biaya operasi cabut gigi disana sekitar Rp500.000-an dan untuk foto rontgent panoramik gigi sekitar Rp150.000. Waduh, saya kan nggak berdomisili di Surabaya lagi. Si dokter nanya juga apa saya nggak punya asuransi kesehatan? Hmmm..

Akhirnya pulang liburan dari Surabaya saya langsung deh, urus kepesertaan BPJS kesehatan di kantor cabang Tabanan. Gigi bungsu yang tumbuh miring atau impaksi itu perlu dicabut supaya tidak menimbulkan rasa nyeri, pusing dan tegang di leher karena tumbuhnya yang nyempil nggak kebagian tempat bikin dorongan ke segala arah. Apalagi kalau badan kita lagi capek kan tambah berasa sakitnya. Lebih parah jika sudah berlubang, karena nggak bisa ditambal seperti gigi yang tumbuh normal. Satu-satunya jalan harus dicabut dengan teknik odontectomy.

Maka pergilah saya ke fasilitas kesehatan pertama yang saya pilih dalam kepesertaan BPJS saya, yaitu puskesmas Suraberata pada tanggal 29 April 2017. Dokter gigi pun memberi surat rujukan untuk periksa ke poli gigi di Badan Rumah sakit Umum Tabanan. Surat rujukan ini berlaku selama 1 bulan, karena saya ke puskesmas pas akhir bulan, maka bu perawat berbaik hati menuliskan surat rujukannya dibuat pada tanggal 1 Mei 2017.

Tanggal 3 Mei 2017 saya ke BRSU Tabanan. Ternyata disana nggak ada alat rontgent gigi dan tidak ada ruang bedah mulut. Sehingga dokter gigi pun memberikan saya surat rujukan ke Rumas Sakit Umum Pusat Sanglah di Denpasar. Surat rujukan dokter gigi tersebut perlu dilegalisir dan dilengkapi Surat Elegibilitas Peserta (SEP) dari BPJS Center yang ada di RS dengan masa berlaku selama sebulan.

IMG_20170713_103733

RSUP Sanglah

Tanggal 24 Mei 2017 saya pergi ke RSUP Sanglah, sebagai pasien baru yang belum pernah berobat di RSUP Sanglah saya perlu mengisi form registrasi dan mendapat kartu Sanglah. Ternyata antrean pasien di sana lebih banyak dari pada di BRSU Tabanan, untung sebagai pasien baru loketnya masih tersendiri. Lagipula nanti kita bisa menggunakan kemudahan antrean online atau dengan perjanjian jika ingin berobat ke Sanglah tanpa antre ambil nomor ke loket.

20170524_075845

Mengisi formulir sebagai pasien baru di RSUP Sanglah

Di poli gigi Sanglah saya nggak terlalu lama nunggu untuk dipanggil. Tensi darah saya dicek dan dimintai data diri oleh perawat, saat dokter giginya datang, gigi saya diperiksa dan dinyatakan 38i dan 48i. Maksudnya gigi bungsu kiri bawah dan kanan bawah saya impaksi semua. Selanjutnya saya diminta untuk foto rontgent panoramik gigi dulu di lab. radiologi. Setelah hasil rontgent panoramik selesai, saya bawa hasil fotonya ke poli gigi dan setelah melihat hasil foto, dokter menyarankan untuk operasi cabut gigi.

20170524_084252

Udah kayak iklan Pepsodent belum?

Selanjutnya akan dicarikan jadwal operasi cabut gigi yang tersedia oleh perawat. Saya pilih tanggal 7 Juni 2017. Setelah pilih tanggal, perawat akan memberikan surat datang kembali pada jadwal operasi. Saya juga diberi resep untuk menangani sementara rasa sakit dari gigi bungsu yang berlubang. Perawat sempat mengingatkan supaya di malam sebelum hari operasi tidak boleh begadang, pagi harinya pun harus sarapan supaya tidak lemas.

20170524_092829

Menyerahkan berkas untuk foto panoramik gigi di loket radiologi

IMG_20170713_095513

antre di lorong area radiologi. Di sini terdapat banyak ruang diagnosa radiologi

Dua hari sebelum tanggal 7 Juni 2017 saya sudah ambil no. antrean online di website Sanglah. Sehingga pas datang ke sanglah tinggal tunggu nomor antrean online dipanggil di loket pendaftaran dan itu nggak terlalu lama dibanding ambil no. antrean manual di loket. Saya dapat nomor antrean selalu dibawah nomor 100. Kalo ambil manual udah diatas itu. Maka pada tanggal jadwal operasi saya berangkat ke Sanglah dengan membawa surat rujukan dan hasil foto rontgent. Saat di poli gigi lah malah saya harus nunggu lama, saya udah sampai di poli gigi sekitar jam 8 pagi, eh operasinya baru bisa dimulai jam 11-an.

 

Bersambung ke Bagian ke-2 ya….

 

Weekend on The Batu Lumbang Beach

Last weekend in November we went to the beach near by. It is located in the Batu Lumbang beach. Why is it called as Batu Lumbang? “Batu” in Indonesian and Balinese means stone or rock and “Lumbang” in Balinese means wide. So this beach has giant wide coral rocks which some of them have big holes. So this holes look like a pond or jacuzzi in the seashore.

This beach is the neighbor of Soka Beach. So as long as this beach lines all the sand is black. I have ever heard that Matti from Finland said that, “it is unusual to play in the beach with black sand. Is it black because of the volcano?”

Well I believe it is because of the volcano, because Tabanan area is near by the Mount Batukaru. Some beaches in Tabanan have corals and black sand like in the Tanah Lot. Until up to the northern Bali, in Lovina beach, it has black sand too just like we do in south. But in the north the beach is quite calm with no big waves. Most beaches in Bali have white sand like Sanur, Kuta and Dreamland.

Last time we went to Batu Lumbang beach we played on the sand and mostly we swim in the hole of the coral. Not really swim because the hole is not large enough to swim, we just soaked and enjoyed the wave that came and went away around us. In the coral there were some crabs that came up and hid quickly.

There were three holes on one giant goral. We could soak our body in those holes. The holes were not very deep, only 0.5-1 meter. In the bottom of the hole we would step on sand surface. Kalki and Kavin played soaking their bodies in the hole while outside the hole there were a big waves. We could get water splash from the waves that came hitting the coral.

We went there at 3 pm. We arrived there about 3.20 pm through Lumbung Pangreregan village. So from Lumbung Village we reached the Pedungan and would be on the main road of Negara-Tabanan. We turn left or went to the north. The beach itsself was on the right side of the road, we could see the seashore from the main road.

To visit this beach we didn’t pay any entrance fee or parking fee. There were a lot of bamboo or wood stick waste in the beach at first but as you walked to the seashore it was quite clean. The wave in this beach was always big so we were always careful about that moreover we were with the kids. We brought some snacks and milk for the kids and we made sure that we brought back the rubbish, not littering the beach anyway.

We never swim in this beach due to its big waves. Some people went there for fishing. At 4.30 pm the waves were getting big so we decided to go home. Yeah, it was quite fun to soak your body in the hole of the coral filled with salty sea water. It is like an exclusive natural jacuzzi in the seashore. Do you want to try?

 

 

I Love My New Job!

Since 16th of February 2017, I became an English teacher in Eka Chita Pradnyan, in Samsaman.

​It is located in the same Angkah village but different banjar, to reach the school from my house is only about five minutes by motorcycle. The school is built by the WINS foundation from Netherland. the school in Samsaman itsself is managed by an Indonesian, Mrs. Ketut Sunarmi and a Dutch, Oma Trudy van der Maden.

Oma Trudy van der Maden was the founder of Yayasan Eka Chita Pradnyan


The school is for students in grade 4th of elementary school until grade 3rd junior high school. The lesson is given every after-school and also open on Sunday for the senior.

The school only gives English lesson and Balinese dancing lesson. But sometimes when international volunteer comes to the school they give various lesson such as music, creativity, Chi Neng, or yoga.

Because of this is after-school so the schedule is at 2-4 pm. Monday, Tuesday, Thursday and Friday are for English lesson. Every Saturday is for Balinese dancing lesson.

Monique Timmermans always taught us creativity lesson about how to make handycraft


I teach English only four times a week. Monday and Thursday are for group C and D, the children who are in good level of English. While every Tuesday and Friday are for Group A and B, the children who are still beginners in learning English. 

When I was teaching in February, there were also two volunteers from Netherland. They are Monique Timmermans and Marijke van Brandenburg. Monique learned Pedagogy in the university and she is still a teacher in Holland, while Marijke is already retired from Hospital as a nurse.

When we taught the children together, we splitted the group into two or even three. So we can handle the children well and gave them our lesson. Marijke gave Chi Neng lesson, it was like between yoga and Tai Chi, while Monique gave creativity lesson from recycle material.

Monique and Marijke only stayed in Bali for three weeks. And it was fun to join their activity with the children. Next month in May, the school is going to welcome a new volunteer from Finland.

There are so many English story books at school. Also there are toys for children such as Uno cards, lego, dolls, puzzles and creativity tools. Sometimes I come to the school on Saturday with Kalki and Kavin so they can play the toys together with my students.


Since I became an English teacher there I could get many friends, the children themselves and the international volunteers who come to the school. I’m glad finally I got a suitable job to pay the BPJS Kesehatan monthly fee :D. Not only that, my job makes me stay active using English for giving the lesson and to communicate with the international volunteers. yes, maybe I can say now that I love my job! ♥
Marijke also does blogging, here’s for you:

Marijke’s Post About Eka Chita Pradnyan

♡ Intan Rastini 

Posyandu Kenanga Baru di Februari

Ada yang baru di Posyandu Kenanga bulan Februari ini…
Udah tau kan bulan Februari ini bulan pemberian vitamin A kepada bayi dan balita?

Nah, kalo udah tau segera bawa bayi dan balita ibu-ibu ke posyandu atau puskesmas terdekat. Karena hari ini Kalki dan Kavin baru aja datang ke posyandu dan pulang bawa 2 bungkus biskuit MPASI untuk balita. Gratis!

Rasanya enak, lho… mamanya aja ikut nyemilin. Awalnya langsung dibuka di Posyandu buat adik Kavin trus sisa dikit papa yang nyobain bilang ke mama kalo rasanya enak. Eh, ternyata memang bener enak. Nyam… nyam… nyam…

Berat badan Kalki dan Kavin setelah ditimbang cuma naik 1 ons aja mereka. Huuh.

Kalki
BB:16,1 kg
TB: 99,5 cm
LK: 51 cm

Kavin
BB:11,5 kg
TB: 83 cm
LK: 49,5 cm

Sudah dapat vitamin A masing-masing 1 butir kapsul merah.

Dan bulan ini mama mulai jadi kader posyandu jadi nggak bisa langsung pulang bareng papa dan anak-anak melainkan masih harus catat-mencatat buku register posyandu bersama ibu-ibu kader lainnya. Lumayan.. pas mau pulang bubur kacang hijau masih ada dan mama ditawari untuk bawa pulang :).
♡ Intan Rastini