I Love My New Job!

Since 16th of February 2017, I became an English teacher in Eka Chita Pradnyan, in Samsaman.

​It is located in the same Angkah village but different banjar, to reach the school from my house is only about five minutes by motorcycle. The school is built by the WINS foundation from Netherland. the school in Samsaman itsself is managed by an Indonesian, Mrs. Ketut Sunarmi and a Dutch, Oma Trudy van der Maden.

Oma Trudy van der Maden was the founder of Yayasan Eka Chita Pradnyan


The school is for students in grade 4th of elementary school until grade 3rd junior high school. The lesson is given every after-school and also open on Sunday for the senior.

The school only gives English lesson and Balinese dancing lesson. But sometimes when international volunteer comes to the school they give various lesson such as music, creativity, Chi Neng, or yoga.

Because of this is after-school so the schedule is at 2-4 pm. Monday, Tuesday, Thursday and Friday are for English lesson. Every Saturday is for Balinese dancing lesson.

Monique Timmermans always taught us creativity lesson about how to make handycraft


I teach English only four times a week. Monday and Thursday are for group C and D, the children who are in good level of English. While every Tuesday and Friday are for Group A and B, the children who are still beginners in learning English. 

When I was teaching in February, there were also two volunteers from Netherland. They are Monique Timmermans and Marijke van Brandenburg. Monique learned Pedagogy in the university and she is still a teacher in Holland, while Marijke is already retired from Hospital as a nurse.

When we taught the children together, we splitted the group into two or even three. So we can handle the children well and gave them our lesson. Marijke gave Chi Neng lesson, it was like between yoga and Tai Chi, while Monique gave creativity lesson from recycle material.

Monique and Marijke only stayed in Bali for three weeks. And it was fun to join their activity with the children. Next month in May, the school is going to welcome a new volunteer from Finland.

There are so many English story books at school. Also there are toys for children such as Uno cards, lego, dolls, puzzles and creativity tools. Sometimes I come to the school on Saturday with Kalki and Kavin so they can play the toys together with my students.


Since I became an English teacher there I could get many friends, the children themselves and the international volunteers who come to the school. I’m glad finally I got a suitable job to pay the BPJS Kesehatan monthly fee :D. Not only that, my job makes me stay active using English for giving the lesson and to communicate with the international volunteers. yes, maybe I can say now that I love my job! ♥
Marijke also does blogging, here’s for you:

Marijke’s Post About Eka Chita Pradnyan

♡ Intan Rastini 

Advertisements

Posyandu Kenanga Baru di Februari

Ada yang baru di Posyandu Kenanga bulan Februari ini…
Udah tau kan bulan Februari ini bulan pemberian vitamin A kepada bayi dan balita?

Nah, kalo udah tau segera bawa bayi dan balita ibu-ibu ke posyandu atau puskesmas terdekat. Karena hari ini Kalki dan Kavin baru aja datang ke posyandu dan pulang bawa 2 bungkus biskuit MPASI untuk balita. Gratis!

Rasanya enak, lho… mamanya aja ikut nyemilin. Awalnya langsung dibuka di Posyandu buat adik Kavin trus sisa dikit papa yang nyobain bilang ke mama kalo rasanya enak. Eh, ternyata memang bener enak. Nyam… nyam… nyam…

Berat badan Kalki dan Kavin setelah ditimbang cuma naik 1 ons aja mereka. Huuh.

Kalki
BB:16,1 kg
TB: 99,5 cm
LK: 51 cm

Kavin
BB:11,5 kg
TB: 83 cm
LK: 49,5 cm

Sudah dapat vitamin A masing-masing 1 butir kapsul merah.

Dan bulan ini mama mulai jadi kader posyandu jadi nggak bisa langsung pulang bareng papa dan anak-anak melainkan masih harus catat-mencatat buku register posyandu bersama ibu-ibu kader lainnya. Lumayan.. pas mau pulang bubur kacang hijau masih ada dan mama ditawari untuk bawa pulang :).
♡ Intan Rastini

Pembuatan SIM C Baru di Tabanan

Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui… maunya seperti peribahasa begitu, sih, meskipun alhasil dayungnya berkali-kali juga untuk sampai ke tujuan. Saat cetak kartu kepesertaan BPJS Kesehatan di Tabanan, saya juga sekalian ngurus pembuatan SIM baru di Polres. Kan Polres Tabanan cukup dekat tuh, ada di seberang jalan dari kantor BPJS Kesehatan. Jadi sekalinya ke pusat kota Tabanan saya rencanakan bikin SIM C baru juga, toh cetak kartu JKN-KIS nggak lama cuma 15 menit.

Pertama-tama terima kasih kepada Polri karena sekarang sudah bergerak Saber Pungli (sapu bersih pungutan liar). Di Polres ngurus SIM jadi bersih dan nggak perlu calo. Saya aja datang sendirian ke Polres bisa dengan mudah mengikuti alur proses pembuatan SIM dengan baik dan lumayan lancar.

Yang perlu dipersiapkan saat akan mengurus SIM C baru yaitu untuk kendaraan bermotor roda dua:

  1. Foto copy KTP
  2. Surat keterangan sehat dari dokter
  3. Surat keterangan hasil tes psikolog
  4. Stopmap untuk tempat berkas di atas
  5. Bawa uang tunai

Sebelum saya berangkat ke Tabanan, saya sudah mampir dulu ke Puskesmas Selemadeg buat bikin surat keterangan sehat dari dokter. Pembuatan surat keterangan sehat dari dokter relatif cepat. Cuma antre bentar lalu cek tensi dan dituliskan hasil cek kesehatan dan keperluan suratnya untuk apa. Bayar di Puskesmas Rp 21.000. Sebenarnya ada juga praktek dokter swasta di area dekat Polres dan kata suami saya pemohon SIM bisa minta surat dokter disana dengan biaya Rp 25.000 karena kalau udah on the spot tapi belum siap surat dokter ya disarankan kesana dulu.

Nah, saya udah bawa tuh foto copy KTP dan surat keterangan dokter. Pas sampai di depan loket 1, ternyata dibutuhkan juga hasil tes psikologi. Akhirnya petugas di loket memberi tahu supaya tes psikologi dulu di luar. Pas saya tanya pak polisi dimana tempat tes psikologi… Aah ternyata ada di gang sebelah kompleks polres. Ya udah jalan kaki lah saya kesana, ada juga orang yang kesana sepertinya juga sebagai pemohon SIM butuh melengkapi berkas pemohon.

Ada biaya lagi yang perlu dikeluarkan yaitu tes psikologi Rp 60.000 pas ditawari beli stopmap di tempat registrasi psikolog untuk bawa surat hasil tesnya, saya bilang sudah bawa map  (dan itu map EF bagus dari mika lagi). Surat-surat kelengkapan sudah semua lalu saya serahkan ke Loket 1 kan, eh tapi petugasnya nanya map.. ya saya kasi map mika beningnya EF. Bapaknya sempat bingung juga ngeliat mapnya, akhirnya diminta beli stopmap polio dulu yang dari karton biasa itu supaya bisa ditulisin gitu deh kayaknya di depannya kode bikin SIM apa. Disaranin belinya di koperasi ada di belakang. Tapi pas saya kesana stopmap lagi habis. Duh, balik lagi deh saya jalan kaki ke tempat psikolog cuma buat beli map Rp 2.000.

Setelah selesai berkas lengkap beserta stopmap. Petugas loket akan memberikan formulir untuk diisi sesuai contoh yang ada di atas bangku seperti meja. Setelah selesai mengisi, diberikan lagi ke petugas loket lalu kita diminta bawa berkasnya ke ruang AVIS untuk tes teori. Ruangannya ada di lantai dua sebelah bangunan loket. Kelihatan jelas karena ada namanya Gedung AVIS. Sayangnya saat itu langsung turun hujan jadi saya bingung mau nunggu hujan reda atau lanjut. Akhirnya saya terobos aja hujannya kan cuma nyeberang jalan kurang lebih 5 meter.

Masuk di ruang AVIS nanti kita akan mengisi daftar hadir seperti absen kuliah gitu. Lalu dipersilakan duduk di depan komputer dan diberi penjelasan mengenai aturan ujian teori SIM menggunakan komputer. Untuk SIM C akan ada 30 soal dan jawabannya hanya benar atau salah dengan mengklik mouse tombol kiri atau kanan. Dari 30 soal akan lulus jika minimal salah jawab 9 soal. Setiap soal ada waktu untuk menjawab selama 10 detik saja. Jawabnya pas di antara 1 hingga 10 detik, jangan lebih awal saat perhitungan waktu belum mulai maupun pas waktunya sudah habis.

Saya langsung lulus dengan hasil benar 23 soal, yeeaaah. Hahaha sempat deg-deg juga lho karena kesempatan buat kesalahan tinggal 2 aja. Hasil ujian pun dicetak dan masuk ke stopmap. Setelah ujian teori lulus kita bisa langsung ujian praktek ke lapangan. Cuman hujannya masih awet jadi saya duduk-duduk bentar disitu. Pas peserta ujian lainnya yang cuma 2 orang remaja laki-laki menerobos hujan ke lapangan, saya pun ikut juga.

Di lapangan sebenernya kita bisa langsung ujian praktek naik motor untuk pemohon SIM C tapi karena hujannya lamaaa banget ga berhenti-berhenti sampai jam 1 siang.. kami pun disuruh pulang dulu dan lanjut besok jam 8 pagi langsung aja ke lapangan. hmm.. akibat hujan, sebelumnya saya sempat nunggu di pinggir lapangan lama dari jam 11 siang dengan 4 orang lain yang akan ujian juga lalu sempat saya tinggal makan siang di kantin jam setengah 12, tuh. Pas disuruh pulang itu pun masih dalam kondisi hujan sampai rumah.

Besoknya hari juga hujan dari pagi. Begitu agak terang meski masih hujan ringan, saya berangkat dari rumah ke polres pukul 10 pagi. Sesampainya di Polres pukul 11 dan ternyata ada briefing kepada para peserta ujian praktek SIM di lapangan meski gerimis. Saya seneng banget akhirnya bisa ujian praktek juga meski masih gerimis. Pas isi daftar hadir, petugasnya bilang, “ibu pakai celana pendek ya?”

Saya jawab, “iya. Karena hujan pak.”

Petugasnya menjelaskan bahwa nanti bisa nggak dikasi foto kalau pakai celana pendek… Ya ampun… untung di dekat sana ada rumah saudara sepupu saya sehingga saya ijin pulang dulu ganti celana. Pas balik lagi ke polres dengan bercelana panjang, hujan udah reda dan lapangan udah sepi. Petugas udah ganti orang dan itu petugas yang sama saat kemarin nyuruh pulang aja karena hujan. Akhirnya sesi ujian praktek diluluskan dan saya diminta membawa berkasnya kembali ke loket 1.

Di loket satu berkasnya dicek-cek lalu diberi sehelai kertas slip untuk bayar ke bank BRI di sudut belakang loket. Letaknya di sebelah deretan kantin. Tinggal memutar sedikit ke belakang loket arah ke parkiran dan lapangan. Di bank BRI cuma ada satu petugas teller dan ngga ada antrean. Pembuatan SIM C baru kena biaya Rp 100.000 dan saya bayar dengan uang tunai. Lalu dapat bukti pembayaran. Nah, kembali lagi le Loket 1 dan akhirnya berkas 1 stopmap + bukti pembayarannya bisa diberikan ke loket pendaftaran untuk foto SIM.

Nggak lama kemudian dipanggil dua nama untuk masuk le ruang foto tapi proses fotonya satu per satu. Saat giliran saya, dimintai tempel ibu jari kiri lalu kanan, tanda tangan, difoto dan selesai. Tunggu di luar lagi buat ambil SIM. Saat menunggu itu udah tepat jam 12 siang. Ada ibu-ibu nganter anaknya mau daftar pembuatan SIM baru di loket 1 tapi ditolak karena loketnya sudah tutup. Ada ketentuan tertulis di papan bahwa tutupnya loket pendaftaran pukul 10.00 WITA. Sambil nunggu, sambil baca-baca…eh emang ada banner besar yang ditempel di tembok bahwa dilarang menggunakan celana pendek, tank top dan rok mini.

Nah, saat dipanggil akhirnya SIM saya sudah dicetak dan tinggal tulis di buku bahwa sudah mengambil SIM. Saya duduk-duduk dulu di kursi tunggu untuk mengamati SIM baru saya dan merasa puas udah ngurus sendirian kesini. Wuah lega rasanya berkendara nggak perlu was-was si razia lageeee….! Hehehehe..

Penting banget tuh baca-baca ketentuan di Polres Tabanan dan belajar dari pengalaman saya… Seperti:

  • Datang untuk medaftar pagi sebelum pukul 10 WITA
  • Rencanakan pas hari cerah untuk membuat SIM baru. Kalau perpanjangan SIM kan tidak perlu tes jadi nggak terlalu masalah.
  • Pakai celana panjang dan baju rapi yang bagus untuk difoto SIM apalagi buat dilihat-lihat selama 5 tahun ke depan, ya kaan…
  • Siapkan fotocopy KTP karena dibutuhkan di loket 1 lembar
  • Buat surat keterangan sehat dulu dari dokter di Puskesmas/klinik terdekat supaya tidak antre di tempat praktek dokter dekat polres yang belum tentu cepat. Ini untuk antisipasi nunggu kelamaan dan di polres kayaknya udah nggak menerima ujian praktek lagi tuh jam 1 siang alias tutup seloket di depannya juga.
  • Untuk tes psikologi relatif cepat waktu saya ke sana, jadi masih nggak masalah
  • Bawa stopmap sendiri juga boleh tapi stopmap folio polos biasa yang dari karton itu lho
  • Bawa minum dari rumah. Saya selalu bawa botol minum sendiri, sih. Biar kalau grogi saat ujian bisa minum dulu dan tenggorokan nggak seret karena nervous.

Jadi saya menghabiskan biaya sebesar:

  1. Surat keterangan dokter di Puskesmas Selemadeg sebenernya 21ribu tapi nggak ada kembalian bayarnya Rp 22.000
  2. Tes psikologi oleh psikolog praktek swasta dekat Polres Tabanan Rp 60.000
  3. Beli stopmap Rp 2.000
  4. Biaya pembuatan SIM bayar di Bank BRI Rp 100.000
  5. Fotocopy KTP udah punya banyak duluan jadi ga masuk perhitungan

TOTAL Rp 184.000

Biaya lain-lainnya:

  1. Makan siang di kantin, nasi dadar jagung dan cap cay Rp 7.000
  2. Kerupuk dan snack kentang Rp 3.000
  3. Bensin Rp. 20.000

Total pengeluaran tambahan Rp 30.000

Grand Total Rp 214.000

Bisa diperkirakan segitu cost-nya untuk bikin SIM baru di Tabanan. Biaya pembuatan SIM hanya Rp 100.000 tapi biaya lain-lainnya mengikuti. Pelayanan para petugas selama saya buat SIM sudah bagus apalagi jika hari cerah sebenernya SIM saya bisa 1 hari langsung jadi. Sehingga bagi saya yang rumahnya jauh ga perlu bolak-balik ke Polres… Hmmm, seandainya saja pilih buat SIM di musim kemarau 😀

P.S. SIM-nya berlaku sampai 5 tahun lagi dan habis pada tanggal yang sama dengan hari ini. Sebaiknya jika masih perlu untuk mengemudi kendaraan bermotor, diurus perpanjangannya satu bulan sebelum habis masa berlakunya 😉

♡ Intan Rastini

Pengalaman Daftar JKN-KIS di BPJS Kesehatan Tabanan

Di Bali, Jaminan Kesehatan Bali Mandara (JKBM) yang diregulasi oleh Gubernur Mangku Pastika sudah tidak berlaku lagi dan mulai diintegrasikan secara nasional ke Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) oleh BPJS Kesehatan.

Dulu kalau kami ke Pustu atau ke Puskesmas cukup tunjukkan fotocopy KTP atau fotocopy KK bagi anak-anak lalu bisa berobat tanpa bayar. Tapi awal Januari 2017 ini saya pulang dari Surabaya dan berobat ke Puskesmas karena sakit gigi, ternyata jika tidak memiliki KIS (Kartu Indonesia Sehat) bayar biaya pemeriksaan dan pengobatan sesuai dari tindakan pemeriksaan yang dilakukan dokter.

Akhirnya tanggal 16 Januari lalu kami berangkat sekeluarga ke kantor BPJS di Tabanan di Jl. Pahlawan No. 1 yang persis bersebelahan dengan kantor JNE. Tepatnya di seberang Kantor Pos Tabanan. Sebelumnya udah cari tau dulu dong, apa-apa yang perlu dipersiapkan buat daftar ke BPJS Kesehatan:

  1. Fotocopy KK
  2. Fotocopy KTP setiap anggota keluarga yang akan didaftarkan
  3. Pas foto berwarna 3 x 4 setiap anggota keluarga yang didaftarkan kecuali anak-anak di bawah 5 tahun
  4. Fotocopy halaman depan buku tabungan calon pendaftar (ini bagi yang ingin mendaftar layanan kelas I dan II)

Karena kami mau mendaftar layanan kelas III jadi ga perlu bawa poin no. 4.

Sesampainya di kantor BPJS pukul 9 pagi ternyaya cukup ramai, padahal baru buka. Ternyata ramai karena banyak orang minta nomor antrean ke satpam. Saya sendiri sampai kehabisan nomor antrean. Untung ada orang yang pulang karena tidak jadi ngurus BPJS dan nomor antreannya boleh saya minta. Maka saya dapat nomor… 59.
Selagi menunggu antrean, saya mengisi form pendaftaran. Berupa data-data diri calon peserta JKN dan menentukan fasilitas kesehatan pertama. Nah, disini saya bingung pilihnya karena faskes terdekat dari rumah adalah Puskesmas Bajera tetapi area pelayanan kesehatan kami masuk ke Puskesmas Surabrata yang aksesnya lebih jauh dari Bajera. Bisa juga pilih praktek dokter swasta tapi kan tidak selengkap fasilitas puskesmas yang langsung jadi satu ada poli umum, poli gigi, UGD dan laboratorium. Akhirnya saya pilih Puskesmas Surabrata.

Setelah sempat ngobrol dengan bidan di Pustu saat kontrol KB, jika saya pilih Puskesmas Surabrata maka bisa periksa di Pustu juga dengan KIS. Tapi kalau pilih Puskesmas Bajera sebagai faskes I JKN maka saya sekeluarga perlu bayar jika periksa di Pustu nantinya. Maka pilihan faskes yang agak meresahkan ini saya pikir sudah tepat.

Lalu untuk pilihan kelas layanan rawat inap saya pilih kelas III dan iurannya Rp 25.500 /orang. Untuk satu keluarga yang didaftarkan kelasnya harus sama semua. Anggota keluarga saya yang berjumlah 4 orang kena total iuran Rp 102.000 perbulannya. Nah, setelah selesai mengisi form, tanda tangan dan tempelkan foto-foto pendaftar di kertas formulirnya dan gabungkan dengan fotocopy KTP, fotocopy KK, dll.

Saat nomor antrean saya dipanggil itu sudah sekitar jam 3 sore dan saya serahkan berkas pendaftaran kepada petugas BPJS Kesehatan. Sempat ditanya apa tujuannya untuk mendaftar baru lalu konfirmasi faskes yang dipilih. Nggak lama kemudian akan diberi cetakan kertas nomor Virtual Account (VA) untuk membayar iuran pertama paling cepat 2 minggu lagi dan paling lambat 30 hari. Setelah bayar bisa bawa bukti pembayaran ke kantor untuk dicetakkan kartunya. Untuk cetak kartu tidak perlu antre lagi langsung masuk saja ke dalam kantor dan bilang ke petugas.

Saat mendaftar tanggal 16 maka tanggal 30 Januari kemarin saya sudah bisa bayar iuran BPJS pertama. Tapi saya bayarkan tanggal 1 Februari di ATM BRI. Caranya cukup mudah:

  1. Masukkan kartu ATM
  2. Pilih Bahasa
  3. Masukkan PIN
  4. Pilih menu “Pembayaran”
  5. Cari menu “BPJS kesehatan”, jika belum ketemu tekan pilihan “Lainnya” hingga ke halaman selanjutnya, tekan “Lainnya” lagi jika belum ada
  6. Tekan menu “BPJS Kesehatan”
  7. Masukkan no. VA 888880xxxxxx
  8. Maka akan muncul nama peserta dan jumlah tagihan yang sudah terakumulasi untuk satu keluarga, jika sudah benar tekan “Ya”
  9. Jika tidak ada transaksi lagi, ambil kartu ATM dan bukti pembayaran

Kalau kurang jelas, tips saya pilih ATM di dekat lokasi bank sehingga bisa tanya ke satpam.

Abis dari ATM cusss bablas ke kantor BPJS Kesehatan di Tabanan. Saya langsung sodorkan ke petugas berkas pendaftaran dan bukti pembayaran iuran pertama bahwa mau cetak kartu. Kira-kira 10 menit kemudian nama kepala keluarga saya dipanggil lalu saya sudah pegang 4 kartu BPJS Kesehatan. Sebelumnya disuruh cek dulu data yang tercetak di kartu apakah sudah benar semua. Setiap kartu berisi nomor kartu, nama, alamat, tanggal lahir, NIK dan faskes tingkat I yang dipilih. Yap, udah bener semua langsung pulang, deh.


Nah sekarang udah pada punya KIS bisa periksa ke Puskesmas Surabrata dan Pustu Angkah.
Untuk catatan aja, waktu periksa gigi yang lalu di Puskesmas Surabrata bayar Rp 15.000 dan mau cabut akar gigi yang kemungkinan masih tertinggal bayar Rp 65.000. Selain itu saya cek golongan darahnya Kavin bayar Rp 10.000.

Sempat juga bikin surat keterangan sehat dari dokter di Puskesmas Bajera untuk pembuatan SIM C bayar Rp 21.000. Tapi saya belum tau juga sih, bisa nggak pakai KIS untuk buat surat keterangan dokter.

Selebihnya pelayanan di kantor BPJS Kesehatan Tabanan mulai dari satpam, petugas di luar kantor dan yang di dalam kantor ramah-ramah. ANTREAN DIBATASI setiap harinya sampai 70 atau 100 nomor saja. Jadi penting untuk ambil nomor antrean saat kantor buka pukul 9 pagi. Kalau mau cepet dan nggak antre, daftar online saja dulu lalu dapat VA dan bayar iuran pertama pada tanggal yang ditentukan, jadi ke kantor untuk cetak kartu saja.

Sayang banget BPJS Kesehatan ini tidak memfasilitasi peserta untuk dapat periksa ke fasilitas kesehatan dimana saja yang sudah terdaftar oleh BPJS Kesehatan. Karena harus periksa ke faskes pertama yang sudah dipilih dan ditentukan itulah untuk mendapatkan pelayanan kesehatan jadi kurang fleksibel dan membatasi akses peserta jika bepergian.

Semoga kedepannya pelayanan BPJS Kesehatan semakin maju lagi dengan memberikan keleluasaan bagi pesertanya supaya dapat berobat di fasilitas kesehatan dimana saja.

Alamat web BPJS Kesehatan: 

https://www.bpjs-kesehatan.go.id/

Twitter: @BPJSKesehatanRI

IG: @bpjskesehatan_ri
♡ Intan Rastini

Selamat Hari Raya Galungan

Hi, hello… This is my time to update my blog ^_^

~Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan~

Yeap, today I’m quite tired… So let’s just sleep now O.o

Actually, I’m not that sleepy although my body n’ my mind feel tired…

This Galungan day is felt different. Way very different. Maybe because Kalki is getting old, and me too… And Kalki’s papa too? Hehehehe.. (‾⌣‾)♉

Kalki wasn’t with us when we prayed together to the temples in this village, but he was asleep. Yes, asleep because he was up at about 4 am WITA (local time).

So after we prayed from temple to temple, we got family guests… And who were they? Alright, if I’m not mistaken… The first time who came was Tante Ayu, Om Nick, Rania n’ Kinara. And then, Opa Ketut, Oma Shanti, Om Ai and Om Io (they are twins), and then Kumpi Keri, Tante Keri and Tude Jaya after that Mbah Arya came (me and papa almost always call her as Mbah Cakup-cakup Balang hehehehe because she sings about Balinese traditional song for kids “Cakup-cakup Balang”). And then Om Gio, Tante Hera and Gio…

That’s all… Thank you for coming for this Galungan 🙂 I’m sorry because I’m a bit tired by the sunshine heat and maybe I’m not better than the Galungan day before – which was very merrier than this year 😥

Nice to see you again.. And oh yeah, Om Gio is going to go to Europe tomorrow… Hmmm, how lucky he is he could see Italia, Spain, U.Ƙ. Etc! Wonderful!

While when I asked Tante Hera about Lactation Counselor Training by AIMI in Bali Med she doesn’t know about it, because she has moved to a clinic 😦 I wished I could attend the Lactation Counselor Training in the first week of May before…

I’m sorry, about the picture I could present here, Kalki is just curious about the penjor.
Oh by the way, we are in yellow because we like banana. Yes we love cartoon Curious George and it’s very funny to watch the both movie and TV serial 🙂 but, we don’t watch TV again because we don’t have one.

Bubuh di Hari Penyekeban Galungan

Today I woke up in the early morning, while breastfeeding my baby Kalkiboy.. What I did was only online through my Blacberry Gemini 😀 sigh!

Sorry, Kalki your mama was too busy typing and a little bit ignoring you, oh dear, I beg your apology.

And then after you finished your breastfeeding time you went asleep again, but mama had to get up. Hiksss… Yeap, get up and went to the kitchen for boiling water, cooking you some enough porridge of red rice, and then I dunno… These days some small stuffs made me tired 😦

I would say: Enough is ENOUGH! please oh please…

Suguhan “Jaje Khas Bali” di Minggu Pagi

Desa Angkah Gede hari ini mulai disibukkan dengan acara persiapan odalan Pura Puseh. Tak lupa setiap pagi pekaknya (kakek) Kalki berjalan-jalan kaki di pagi hari ke warung di dekat rumah untuk membeli “jaje”. Jaje itu Bahasa Bali dari kue, jika dibandingkan dengan penulisannya yang benar, mungkin adalah “jaja”. Terdengar seperti kosa kata Bahasa Indonesia? Ya, ingat kata “menjajakan” ya? Orang Bali kalau bilang suatu kata berakhiran vokal “a” secara dialeknya menjadi “e” atau bahkan “o”.. Jadilah “jaje” atau “jajo”.. Itu semua sama :).

Apa sih jaje yang dibeli oleh Kak (singkatan dari Pekak, bukan Kakak hehehe) Kalki? Itu lho jajanan basah yang terbuat dari singkong yang dilumatkan lalu dikukus bernama “Ketimus”, ada juga yang terbuat dari tepung dibentuk bundar-bundar dan dibakar di cetakan kayaknya – aku sendiri kurang tau cara membuatnya hihihi tapi aku perhatikan permukaan bawah si jaje bundar imut ini kadang kala sedikit gosong karena terbakar- namanya di sini terkenal sebagai “Lak lak“. Terus ditaburi kelapa parut kukus dan disajikan dengan gula aren cair. Gula aren atau gula merah atau gula Jawa? Ah, sama saja ;).

Selain Lak lak dan si Ketimus, ada juga satu lagi jaje khas tradisional Bali, yaitu “Pisang Rai“! Kalau jaje yang satu itu, sesuai namanya, ya bahan baku utamanya dari pisang :). Pisang dipotong-potong seperti keping uang logam tapi tidak tipis, lalu dibalur tepung dan dikukus hingga matang. Setelah siap disajikan.. ya sama, nanti ditaburi kelapa parut kukus juga supaya gurih… Bedanya kali ini si pisang rai tak perlu gula merah, karena pisang sudah memiliki rasa manis. Tak lupa semua jaje tersebut dibungkus daun pisang. Ya, itulah kemasan tradisional yang ramah lingkungan :). Kan ‘biodegradable’ ;).

Eh, ada lagi lho… Tambahan dari papa Kalki nih.., hehehem. Jaje ini semua orang hampir tau namanya sebagai “Naga Sari”. Tapi di Bali ada sendiri nama bekennya hohoho, yaitu “Sumping“. Sama kok jaje dari adonan tepung beras diisi pisang lalu dibalut daun pisang dan dikukus. Tapi kalau di bali si Sumping ini ngga hanya pisang aja isinya, bisa juga isi labu kuning :). Wah.. enak juga tuh, nggak kalah enak sama yang isinya pisang (ˆڡˆ).

Trus ada lagi, hehehe. Nambah terusssss! Nama jajenya “Bantal“. Terbuat dari ketan putih, dalamnya diisi dengan pisang (nah, ini kesukaanku karena mendiang mbah di Perak biasa bikin ini) ada juga lho yang isi kacang merah rebus, asyik dan bergizi kan? 🙂 Hmmmmm…trus nanti dia berada dalam lilitan janur (daun kelapa yang muda) trus dikukus, deh. Kalau udah matang harum janur dan jaje Bantal berpadu dan menggugah selera, nih (bagi yang suka :p ). Maklum, pembungkus yang alami tersebut memang membuat aroma jaje maupun masakan menjadi berbeda, begitu katanyaaaa… Kalau papa denger pasti akan nimpalin begini, “oooh, mare tiyang nawang, nok!”
Itu untuk tanggapan bercanda ajah (private joke kami, eh udah ngga private lagi karena udah tershare ke public hahaha) :D. Artinya, “oooh, baru saya tau, lho!”.

Trivia:
Oh ya sedikit info tentang panggilan orang tua atau orang yang sudah lingsir di Bali; untuk kakek adalah “pekak” lebih halus lagi adalah “kakiyang”. Untuk nenek adalah “mbah” (sama kayak di Jawa ya?) atau “dadong”, lebih halus lagi ada “tuniyang” atau “niyang” – bener yah? Soalnya aku pernah dengar saja, tapi ngga pernah menyebut nenek sendiri dengan sebutan niyang, yang lebih sering dipakai karena lebih mudah pengucapannya itu “nini” atau “nenek” aja :D. Sepupu-sepupuku dari Pejeng, Gianyar juga memanggil neneknya dengan sebutan “nini”. Yah, lebih lanjut lagi di atas kakek dan nenek, atau orang tua dari kakek dan nenek, biasa aku sebut dengan “kumpi”. Nah para orang tua itu karena sudah sepuh, mereka biasanya sudah tak bisa menikmati makanan yang keras dikunyah, jadi biasanya mereka suka sekali dengan jaje yang lunak seperti apalagi kalau bukan jaje khas Bali tersebut di atas :D.

Selamat menikmati hari Minggu~