My First Covid-19 Vaccination

“Halo, Ntan.. lagi sibuk, nih?”

“Nggak, bu. Ada apa?”

“Bisa ke Puskesmas Suraberata sekarang?”

Begitulah awalnya percakapan saya dengan bu bidan desa, yang akhirnya membawa saya segera melajukan motor ke Puskesmas.

Puskesmasnya tidak jauh, sekitar 8 km dari rumah. Bisa saya tempuh dalam waktu 15-20 menit. Begitu sampai di Puskesmas, saya cuci tangan di wastafel pakai sabun. Lalu melangkah secara cepat ke area rawat inap di belakang gedung IGD Puskesmas.

Di saat saya masuk ke lorong dimana terdapat kamar-kamar rawat inap, saya mendapati ada dua orang perawat sedang duduk di depan konter, kemudian dilanjutkan dengan deretan kursi-kursi kosong. Lalu beberapa ruangan terbuka disertai tiga orang sedang duduk menunggu di selasar. Saya amati ketiga orang yang menunggu ini ada satu ibu-ibu berpakaian sembahyang serba putih, dan dua bapak-bapak berpakaian rapi dan cukup resmi.

Kesamaan mereka yaitu sama-sama menunggu sambil memegang kartu berisikan tulisan KIPI yang besar. Mereka semua pun tertunduk menatap gawai masing-masing. Saya berhenti di depan pintu ruangan paling ujung di lorong rawat inap tersebut. dan melongok ke dalam. Saya menatap wajah yang familiar.

“Bu kadek.” Sapa saya.

“Eh ya, Ntan. Sudah daftar?”

“Belum.” Jawab saya.

“Daftar dulu, ya.. di meja pendafataran sana.”

Saya pun berjalan kembali ke konter yang berisi dua perawat duduk-duduk di depannya. Saat saya datang, satu dari mereka langsung berjalan ke belakang konter, dan satu lagi datang dari ruangan di belakang konter tersebut. Saya mendaftarkan diri saya untuk menerima vaksin Covid-19 dengan menyerahkan KTP. Kemudian saya diberi surat pendaftaran yang berisi data diri dan saya pun diminta menandatangani kebenaran datanya.

Setelah mendaftar, saya diarahkan ke ruangan skrining kesehatan. Di sana ada seorang dokter muda dan seorang perawat senior. Saya serahkan surat pendaftaran saya. Perawat menanyakan apakah saya sudah diukur suhu tubuhnya, lalu mempersilakan saya untuk timbang badan. Angka yang ditunjukkan oleh jarum timbangan saat saya berdiri di atasnya adalah 50 kg.

Setelah itu saya diukur tekanan darahnya oleh sang perawat. Syukur, tekanan darah saya normal yaitu 110/70, kalau tidak salah ingat. Setelah cek tensi, dokter bertanya apakah saya ada riwayat kencing manis. Saya jawab tidak. Dokter kembali bertanya apakah saya pernah cek kadar gula darah atau tidak sebelumnya. Saya jawab pernah sekitar dua tahun lalu dan hasilnya normal. Lalu perawat pun menusukkan jarum ke jari tengah saya setelah diusap alcohol swab. Hasil yang ditunjukkan alat cek kadar gula darah adalah angka digital dengan nominal 119.

Selanjutnya dokter meminta ijin kepada saya dan berkata ‘sugre’ karena hendak mengecek dada saya dengan stetoskop. Refleks saya nahan napas, dong. Kemudian dokter berkata, “napas biasa, saja, bu.” 🤣

Skrining belum selesai, dokter pun melanjutkan menanyakan tentang riwayat kesehatan saya, seperti apakah saya ada alergi setelah vaksin sebelumnya, ada riwayat hipertensi, punya penyakit auto-imun, pernah muncul bercak kemerahan di wajah secara tiba-tiba, riwayat kejang, riwayat epilepsi, pernah mengalami jantung berdebar-debar dengan tiba-tiba saat tidak melakukan aktivitas yang berarti, pernah nyeri di dada sebelah kiri, pernah sakit kuning atau liver, apakah sedang hamil saat ini, apakah pernah terjangkit Covid-19, apakah ada jadwal vaksin dalam satu bulan terakhir, dll. Yang semuanya saya jawab dengan kata yang sama, yaitu ‘tidak’. Saya jelaskan bahwa saya rentan hipotensi dan anemia. Dokter pun menjawab bahwa itu masih wajar.

Selanjutnya saya dipersilakan lanjut vaksin dan duduk di kursi yang ditunjuk. Wah, macam kursi eksekusi saja, pikir saya. Saya pun berjalan ke arah kursi tersebut dan duduk di atas sebuah kursi biasa berbahan kayu. Perawat menyiapkan injeksi vaksin, lalu meminta saya menyiapkan lengan kiri. Maka saya singsingkan lengan baju bagian kiri saya.

Lengan yang ditarget diusap dengan alcohol swab atau kapas berisi alkohol, lalu bagian lengan saya tersebut dicubit dengan area cubitan yang besar sehingga kulit beserta jaringan lemak di bawahnya terangkat karena tekanan tangan sang perawat tersebut. Kemudian injeksi vaksin Covid-19 pun disuntikkan, dan saya tidak merasakan sesuatu yang menyakitkan. Eh, tau-tau perawat berkata, “sudah selesai.” Itu pun dikatakan dengan riangnya.

Saya akhirnya memegang swab alcohol kedua yang diberikan perawat untuk menutup bekas suntikan, lalu saya turunkan lagi lengan baju kiri saya dan mengenakan jaket saya kembali yang sebelumnya saya lepas untuk keperluan cek tensi. Surat pendaftaran saya diberikan kembali dan saya diminta untuk lanjut ke ruangan berikutnya. Maka saya ucapkan terima kasih dan bergegas ke ruangan sebelah ujung, yaitu ruangan bu Kadek yang saya sapa di awal.

Di sana bu bidan Kadek mencatat data diri saya sambil mengobrol ringan. Kemudian bu Kadek berkata bahwa saya perlu menunggu di sini selama 30 menit untuk observasi pasca-vaksinasi. Kartu tag yang disertai tali untuk mengalungkannya di leher pun diberikan kepada saya. Kartu itulah yang saya lihat sedang dibawa-bawa oleh tiga orang yang menunggu di depan ruangan. Bertuliskan ’OBSERVASI KIPI’.

Saya duduk di lorong gedung rawat inap Puskesmas. Lorong ini agak gelap dan penuh poster-poster promo kesehatan yang dipampang di tembok saling berhadap-hadapan. Karena saya tidak bawa buku, saya tidak bisa menghabiskan waktu 30 menit ini dengan membaca buku. Lagi pula mana tau sebelumnya kalau seusai vaksin Covid-19 saya harus menunggu selama 30 menit begini. Saya tidak mau main gawai karena kuota saya sudah dibawah 100 mb. Saya harus hemat kuota, nih, sampai masa perpanjangan paket selanjutnya. Biasalah, emak-emak kudu irit.

Maka saya memandangi dan membaca lagi surat pendaftaran saya dan kartu tag Observasi KIPI. Sepertinya KIPI itu kepanjangannya adalah Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi. Saya main menebak-nebak saja itu. Lalu saya berusaha membaca poster di dinding seberang saya namun sayang, mata tak mampu membaca teks yang kecil-kecil meskipun saya sudah menggunakan kacamata. Mungkin juga karena jaraknya, ukuran teks, dan minimnya cahaya. Maka saya pun bangkit dan melihat-lihat tiap poster di dinding secara dekat. Lalu membacanya dan memotretnya.

Sesekali melihat jam di gawai, apakah ini sudah 30 menit. Tidak terasa perawat pun memanggil saya bahwa waktu observasinya sudah selesai, maka perawat masuk ke ruangan dan keluar lagi untuk memberikan saya kartu imunisasi Covid-19 (yang sebenarnya lebih mirip surat di atas selembar kertas HVS). Kemudian perawat bilang bahwa saya sudah boleh pulang. Yippieee…

Maka pulanglah saya dengan keadaan yang biasa saja, tidak ada keluhan apa-apa yang berarti dari vaksinasi Covid-19 yang sudah saya alami. Menuju rumah, saya pun merasa lapar, maklum tadi begitu terima telpon dari bu Kadek saya segera bergegas melesat ke Puskesmas tanpa makan siang hihihi… Malah saat itu, sebelum terima telpon dari bu bidan, sudah pukul 12.30 WITA dan saya masih saja menyimak peluncuran Ideathon Bali Kembali via Zoom Cloud Meetings, bukannya ambil waktu istirahat lalu makan.

Tetapi akhirnya saat sampai di rumah, saya tak langsung makan. Saya dekontaminasi dulu sehabis mengunjungi Puskesmas. Langsung saya cuci tangan dengan sabun di ember berkeran di depan teras, ambil handuk, masuk kamar mandi, dan lepas seluruh pakaian lalu memasukkannya ke keranjang pakaian kotor di depan pintu kamar mandi. Saya pun mandi sekaligus keramas.

Selesai mandi dan cuci rambut, barulah saya mengambil nasi panas dan pindang goreng yang sudah digoreng siang tadi oleh papa. Saya buka lemari es, dan mengambil dua sendok acar wortel-timun ke atas piring saya. Saya siramkan kuah acar yang saya buat dari buah asem (bukan dari cuka) ke atas pindang dan nasi saya. Hmmm… Saya sudah lapar sekali ini sampai saya akhirnya habis 2 piring menu makanan tersebut dengan porsi yang sama.

Saya kirim pesan kepada bu Kadek bahwa efek setelah saya vaksin adalah saya jadi laper banget! Mungkin ya akumulasi dari saya belum makan siang sebelumnya. Tetapi sampai saat saya menuliskan posting blog ini pun saya masih terasa lapar… Help! Pindang gorengnya udah sisa 1 potong aja, itupun buat Kalki dan Kavin makan malam nggak bakalan cukup lagi 😖😭.

Bu Kadek menjawab chat saya, bahwa memang kebanyakan yang habis divaksin merasakan hal tersebut, lapar dan ngantuk! Ya ampun, begitu ya. I’m still craving for food now! Setidaknya kita tau bahwa vaksinnya bekerja. Tubuh saya nampaknya sudah mulai membangun imunitas. Selain itu, tangan kiri saya mulai kemeng alias pegel, nih!

Saya dijadwalkan untuk vaksin kedua dan datang kembali ke Puskesmas 2 minggu lagi, yaitu Jumat tanggal 26 Maret 2021. Selama mau vaksin yang kedua saya akan jaga kondisi biar tetap fit, dan setidaknya kali ini akan lebih well-prepared untuk makan dulu sebelum divaksin! Oh ya, hari ini saya dapat jadwal vaksin secara buru-buru alias tak terduga itu karena.. jadwal saya vaksin sebenarnya bukan hari ini. Saya ditawarkan bu bidan desa untuk ikut vaksin secara mendadak karena ada peserta vaksin jadwal hari ini yang tidak lolos skrining kesehatan.

🦾 Strong girl don’t cry during vaccination,
Intan Rastini.

#SalamTangguh 💪

18 thoughts on “My First Covid-19 Vaccination

  1. Wah Bali sudah mulai ya mba, apakah mba ikut yang dari dinas pariwisata? Hehehe. Selamat mba Intan sudah divaksin tahap pertama, semoga sehat selalu sampai tahap dua dan seterusnya 😍

    Ohya mba, beruntung side effect hanya lapar, nggak sampai demam 😆 Kalau itu terjadi pada saya, akan saya gunakan skill ajimumpung untuk makan lebih banyak dengan dalih, “Habis vaksin soalnya.” hahahahahaha 😂 Eniho, terima kasih sudah berbagi pengalaman soal vaksin mba, semoga semakin banyak yang dapat kesempatan vaksin agar hidup kita kembali normal 🥳

    • Bali udah mulai sejak awal Maret atau sejak Februari kayaknya. Awalnya vaksinasi buat seluruh nakes dan pensiunan dulu, bahkan ibu mertua saya yang pensiunan perawat pun udah dimintai data diri buat dimasukkan daftar penerima vaksin. Kalau saya karena petugas pelayan publik jadi masuk dalam daftar. Jadi saya nerima vaksin ini kayaknya bukan dari dinas pariwisata. Dari dinas kesehatan hehehe… 😁

      Wah mbak Eno bener itu istilah ajimumpung wakakakak 🤣, saya pun memanfaatkan momen kelaparan ini buat makan terus juga hahaha… karena sungguh rasa lapar ini stagnan, menetap terus nggak mau hilang. Saya udah makan 2 piring nasi dan pindang buat makan siang. Lalu malamnya dibelikan roti goreng dan sate ayam oleh suami saya… Saya udah makan banyak nasi dan sate ayam, disertai 2 buah roti goreng pun jujur masih lapaarrrr! Alhasil saya tidur saja dalam keadaan tetap masih lapar (padahal udah makan cukup banyak) 😫😪 Karena takut perut saya kepenuhan trus reflux.

      Iya untung nggak ada demam jadi aman aja… Amin, semoga kita semua semakin banyak yang mendapat kesempatan untuk mendapat vaksin dan bisa berkegiatan normal kembali 🙏
      Makasih juga udah baca cerita pengalaman saya, mbak 😊. Selalu senang dikunjungi mbak Eno💕

  2. Waahh senangnya udah vaksin duluan, saya deg-degan dong, selain belum tahu kapan kira-kira kebagian, pun juga saya takut disuntik hahaha.
    Apalagi di lengan ya, tapi seingat saya kayaknya belom pernah suntik di lengan.

    Salah satu yang dikhawatirkan orang-orang adalah efek sampingnya, tapi ternyata nggak ada ya yang aneh-aneh ya.

    Semoga vaksinasi ini bisa segera memutus jalannya pandemi, dan keadaan normal yang lebih baik akan segera datang 🙂

    • Ya nggak ada reaksi sampingan yang aneh-aneh yang saya alami, kok, mbak ☺️👍.

      Waduh takut disuntik? Selama hidup saya udah berkali-kali itu dapat imunisasi suntik di lengan. Kalau pas bayi nggak inget dan nggak berasa. Tapi sejak SD udah vaksin tetanus, lalu vaksin hepatitis. Saat udah dewasa dan sedang hamil saya pun vaksin tetanus lagi.

      Iya semoga dengan vaksinasi kita bisa membangun kekebalan komunitas 😊💪.

  3. aku sendiri belum ada tanda-tanda panggilan untuk vaksin di lingkungan rumah mbak.
    sepertinya satu kelurahan di tempat saya juga belum ada cerita cerita soal vaksin ini,
    mungkin terlalu banyak antrian juga dari daerah lain, jadi kudu giliran dan sabar juga
    sempet ada tawaran untuk vaksin dari pihak rekanan kantor, sudah setor data hanya saja masih menunggu info lagi kapan waktunya

    • Prioritas yang saya alami di sini didahulukan untuk tenaga kesehatan terlebih dahulu. Setelah para nakes sudah tervaksin, dilanjutkan dengan para pelayan publik seperti di instansi pemerintahan, TNI, dan Polri. Nah setelah itu saya belum tau kemana skala prioritasnya ditujukan.

      Semoga proses vaksinasinya cepat terlaksana hingga seluruh lapisan masyarakat mendapatkan giliran menerima vaksin, ya mbak. Saya juga ingin anak-anak saya menerima vaksin agar mereka tidak jadi kelompok yang rentan terpapar Covid meski di rumah saja, tetapi orang tuanya cukup keluar-masuk rumah, dan kadang kedatangan masih tamu pula.

  4. Wihiii senang sekali rasanya sudah divaksin! Selamat yaa, Mbaa! Semoga sehat-sehat selalu sampai mendapat dosis selanjutnya 😀

    Keluargaku di Bali sejak beberapa waktu lalu juga sibuk menerima vaksin. Adikku yang kebetulan dokter juga sibuk di rumah sakit untuk proses vaksin ini. Dia malah batal dua kali karena tensinya mayan tinggi, ternyata katanya kurang tidur 😂 untungnya sekarang udah dapet semua hihi

    Di Bogor juga udah mulai dapet surat, namun belum ada tanda-tanda dipanggil untuk vaksin nih. Untuk aku sendiri harus nunggu setelah lahiran nanti. Puji syukur banget akhirnya ibu menyusui bisa mendapat vaksin (:

    Btw, aku kalau mati gaya nunggu dokter di RS, juga suka keliling bacain poster iklan, Mbaa wkwkw kemarin ini pas ada tabel jadwal vaksin anak yang diperbaharui dari IDAI. Mumpung udah mau beranak dua, harus sering-sering liat jadwal vaksin lagi nih 😆

    • Terima kasih mbak Jane 🥰🙏.
      Oh iya, skrining vaksinasi Covid-19 cukup ketat rupanya. Makanya harus persiapkan kondisi fisik yang prima dan bugar, juga persiapin mentalnya 😊. Wah syukur kalau keluarga mbak di Bali udah dapat vaksinasi semua, Mbak Jane jadi lebih tenang, ya…

      Iya sama, dulu saya juga suka ngikuti perkembangan masalah jadwal vaksinasi anak-anak. Kadang takut kelewat gitu untuk mengikutkan anak imunisasi. Tapi syukur di sini bidan desa dan perawat desanya pada perhatian dan mengingatkan warganya yang memiliki bayi dan balita untuk datang tiap jadwal vaksinasi anak. Saat anak-anak saya udah masuk sekolah pun juga dapat imunisasi mengikuti jadwal di sekolah.

      Semoga proses persalinan mbak Jane lancar ya… Yang saya baca di ID Ayah Asi, Ibu menyusui juga aman menerima vaksin Covid-19, jangan lupa badan kondisikan fit. Lalu itu di Bogor udah terima surat, wah berarti sudah ancang-ancang, tuh. 😄

  5. Kak Intan, terima kasih atas sharingnyaaa. Aku jadi sedikit merasa lega begitu tahu prosedur, proses dan after vaksinasi. Selama ini aku ngebayanginnya ngeri sendiri karena harus disuntik 😂 tapi karena Kak Intan bilang nggak sakit, aku jadi agak lebih berani 🤣 *masih agak*
    Ikut senang mendengar bahwa vaksinasinya bekerja di tubuh Kakak 😁 semoga vaksinasi tanggal 26 nanti juga bisa bekerja dengan baik 🙏🏻
    Gimana setelah 4 hari divaksinasi? Nafsu makan masih tinggi?

    • Sama-sama mbak Lia… yang saya rasakan itu nafsu makan saya jadi tinggi selama 34 jam setelah vaksin 😪😁. Setelah saya puas-puasin makan (maksudnya biar tidak terdengar lagi alarm rasa lapar yang cukup mengganggu karena nagging banget) besoknya saya bisa puasa untuk Nyepi.

      Ya saya sendiri juga takjub, lho! Eh, nggak terasa apa-apa, yak? Tau-tau udah selesai hehehe. Berani dong mbak Lia, saya juga gugup tapi percaya diri saja. Kalau bawaannya percaya diri biasanya sih jadi nggak fokus ke rasa sakit. Makasih doanya ya 🙏😊💕.

  6. Selamat Intan udah divaksin, moga2 cepet dapet vaksin nomer duanya juga ya. Disini justru kami masih ngantri karena didulukan yang sepuh2 dulu. Kami rencananya baru divaksin nanti sekitar summer, paling akhir 🙂

    • Makasih mbak. Setiap negara punya prioritas berbeda-beda dalam memberikan vaksin untuk rakyatnya, ya. Di Indonesia, vaksin diutamakan untuk provinsi-provinsi yang padat penduduk terlebih dahulu. Termasuk Jakarta dan Bali, provinsi lainnya saya lupa. Lalu untuk di Bali prioritas pertama penerima vaksin adalah nakes. Saat ini seluruh nakes di Bali sudah tercapai target pemberian vaksinnya. Maka selanjutnya sedang berjalan ke para petugas pelayanan publik dan lansia di atas 60 tahun ☺️. Target di Bali vaksinasi sudah menyeluruh bagi semua warganya pada Juli/September (sama dengan masa summer di sana ya).

      Di negara domisili mbak didahulukan para lansia dulu rupanya. Emang sih mereka termasuk kelompok rentan yang jika sampai terpapar Covid itu dampaknya bisa fatal.

  7. Woaaaah sudah divaksin!! Aku yang rakyat jelata kapan dapatnya ya >.< Soalnya aku karyawan swasta dan kerja di rumah. Pasti dapat giliran paling akhir niiih hahaha.

    Efeknya ternyata bikin lapar ya. Berarti harus makan dulu kak Intan biar ga kelaperaan. Aku kalo kelaperan dan disuruh nunggu tuh jadi emosi 🤪 Jadi musti perut kenyang biar ga "resek"

    Semoga kak Intan tetap fit terus yaa biar vaksin kedua pun bisa dilakukan.

    • Betul banget perut lapar bikin cranky dan bisa berujung resek trus gengges deh hehehe…

      Hahahaha apaan sih mbak bilang rakyat jelata – rakyat jelata segala 😆 yang ada ini skala prioritas pemerintah saja demi tercapainya perlindungan dari Covid-19 secara sistematis dan strategik ya… 🤭

      Efeknya bikin ngantuk dan lapar itj beneran mbak. Jadi badan kita kayak minta kita buat bantu bangun imun tubuh sama-sama, gitu sih kalau saya dengerin badan saya setelah divaksin 😊. Saran dari ketua dinkes di Bali sini, setelah vaksin sebaiknya istirahat cukup, olah raga teratur, makan makanan bergizi supaya imun kita strong dan terbentuk optimal melawan Covid. Pokoknya PHBS banget! Setelah vaksin bukan berarti kita dijamin 100% tidak terkena Covid-19. Masih bisa, tetapi tidak parah karena tubuh kita sudah membangun imunitas dari vaksin. Begitu kata bapak kepala dinas kesehatan 💪.

      Terima kasih ya mbak Frisca 😘🥰. Sehat-sehat terus juga bagi mbak sampai nanti giliran vaksinasinya tiba. 🤗

      • hahaha >.< maksudku, aku ini masuk prioritas rendah. Jadi terima saja lah jadwalnya yang entah kapan hehehe Tapi memang ga ke mana-mana juga sih. Jadi paparannya pun rendah hehe

        Ho begitu, adikku dan mamaku baru vaksin hari ini. Aku langsung infoin cerita kak Intan ke mereka hehe. Mereka dapat vaksin soalnya risiko terpapar covidnya bisa dibilang cukup tinggi karena melayani pembeli sehari-hari. Beda sama aku yang risikonya rendah hehe

        Betul tuh, ga 100% bikin jadi kebal Covid-19. Jadi musti tetap jaga diri juga dan jalanin protokol kesehatan ya kak.

      • Ooh gitu 😃. Iya sabar yah… Semoga nanti akan cepat diberi jadwal giliran untuk vaksin Covid-19. 😊 Vaksin akan efektif jika seluruh warga mendapatkannya sehingga bukan hanya membentuk imunitas individu tetapi juga terbentuk kekebalan komunitas.

        Terima kasih mbak sudah membagikan cerita saya ini kepada keluarga mbak Frisca.. Saya yakin pengalaman vaksinnya ibu dan adiknya mbak memiliki cerita yang berbeda dari saya, ya ☺️.

        Yup, tetap lanjutkan jaga diri dari paparan virus dengan melakukan prokes. Semoga lancar bekerjanya bagi keluarga mbak, apapun profesinya… Dan sehat-sehat selalu, ya 🤗.

Thank you for reading my post, hope you enjoy it. Please... don't type an active link in the comment, because it will be marked as a spam automatically. I'd love to visit your blog if you fill the "website" form :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s