Acara Kasti di Sloka Institute

Saya dan Hannah Spencer berkesempatan datang ke acara “Kelas Asik Teknologi Informasi: Kisah Kasih di Blog” atau yang disingkat sebagai “Kasti” di Sloka Institute. Lokasi Sloka Institute ini di jalan Noja Ayung No. 3, Gatsu Timur, Denpasar. Sedangkan kami dari desa Angkah, Selemadeg Barat harus berangkat dari jam 2 siang dan menempuh perjalanan hampir 2 jam. Acara ini diadakan hari Jumat, 20 April 2018 lalu.

Iin3

Baru sampai udah ada hamparan buah-buahan dan camilan… Foto oleh Mbak Iin

Acara akan menghadirkan dua narasumber dengan tema seputar blogging. Radita Puspa akan membawakan materi “Bercerita Melalui Blog” dan Putu Adi Susanta mengenai “Ngoprek Blog”. Saya kebetulan udah punya blog dan tergabung juga dalam komunitas BBC atau Bali Blogger Community, sedangkan Hannah belum punya blog tapi dia tertarik untuk bikin blog nantinya tentang perjalanan dia ke South East Asia.

Ini pertama kalinya saya ke Sloka Institute dan bertemu teman-teman komunitas Bale Bengong dan blogger lainnya. Selain blogger ada yang memang pekerjaanya sebagai penulis atau wartawan lepas di majalah “Money and I”, ada yang merupakan pengarang puisi dan pemain teater, juga ada yang anak kuliahan dan lainnya.

Saya lihat dari daftar hadir ada 10 orang yang bakal hadir tetapi ternyata tidak semuaya hadir dan ada juga teryata tambahan peserta diluar list. Saat saya dan Hannah datang di Sloka Institute di sana sudah ada Pak Angga, peserta Kasti lainnya dan kami disambut oleh Mbak Diah dan Mbak Iin sebagai tuan rumah. Kami dipersilakan duduk lesehan dengan bantal-bantal duduk juga dipersilakan makan buah dan snack yang sudah ditata di atas meja dengan rapi.

Iin1

Saya juga sempat melihat buku yang tergeletak di atas meja berjudul “Agama Saya adalah Jurnalisme”. Di Sloka Institute terdapat beberapa judul buku di rak buku berbentuk logo Bale Bengong. Foto oleh Mbak Iin

Nggak lama kemudian, datanglah Jong yag lucu lalu mbok Luh De, dan narasumber acara Kasti kali ini yaitu, Mbak Radita Puspa dan Bli Putu Adi Susanta atau paggil saja mereka “mbak Itha” dan “bli Junk”. Jong cukup lucu karena dia mengaku nama panjangnya sebagai “Jong-os” kepada peserta-peserta lain. Saat saya berkenalan dengan Jong, dia pun meggunakan bahasa Suroboyan setelah tau bahwa saya besar di Surabaya.

Karena kami sampai di Sloka Institute sebelum jam 4 sore, bli Junk dan mbok Luh De sempat bercakap-cakap dengan Hannah. Hannah yang berasal dari New Zealand dimintai konfirmasi apakah benar disana lebih banyak domba daripada manusianya, da Hannah pun mengiyakan. Yang nggak mau kalah, mbok Luh De mengatakan bahwa kalau di Bali itu perbandingannya adalah 4 sepeda motor dan 1 orang. Mereka pun tertawa karena Hannah tak percaya.

Di New Zealand memang tidak banyak penduduknya, sedangkan kebanyakan orang disana ternak domba, beda kalau disini orang ternak sepeda motor hehehe. Bli Junk juga sempat bertanya apa orang disana punya sepeda motor, Hannah pun bilang tidak banyak. Bli Junk, mbok Luh De dan Hannah sempat-sempatnya bercanda kalau orang di New Zealand kendaraannya adalah domba! Saya cuman dengerin aja sambil cekikikan.

Pada pukul 4 sore acara dimulai dengan mbok Luh De sebagai moderator. Mbok luh membuka acara dan memita semua yang hadir untuk memperkenalkan diri satu persatu. Setelah sesi perkenalan, narasumber pertama yaitu mbak Itha pun memulai presentasinya. Mbak Itha adalah seorang aktivis di komunitas Rumah Berdaya Denpasar. Ia juga telah membantu anak-anak dan para pengungsi gunung Agung di Bali untuk mengisi waktu dengan membuat kerajinan dari gulungan kertas.

Iin4

Mbak Itha sedang menjelaskan ciri-ciri penyakit yang ia derita adalah posisi alisnya tidak sejajar. Di dalam foto ada (kiri ke kanan): Jong, Mbak Diah, Mbak Itha dan Mbok Luh De. Foto oleh mbak Iin.

Sebelum mempresentasikan materinya, mbak Itha membagikan secarik kertas kecil kepada para peserta untuk menuliskan pertanyaan mengenai materinya nanti. Dua pertanyaan pilihan akan mendapatkan hadiah yang sudah disiapkan oleh mbak Itha. Dan hadiahnya adalah keranjang yang merupakan buah karya mbak Itha dari gulungan kertas tidak terpakai! Kreatif dan ramah lingkungan banget kan…!

Mbak Itha menjelaskan awal-awal ia memulai blog, saat itu ia ngeblog dengan copy pasti status-status beken di FB. Lama-kelamaan ia memulai menuliskan ceritanya sendiri, tentang kesehariannya, isi pikirannya dan pengalaman hidupnya. Ia juga menjelaskan bahwa ia terkena Marfan Syndrome yang menyebabkan skoliosis pada tulang punggungnya. Marfan syndrom adalah kelainan pada jarigan struktur penyangga tubuh. Ia juga menderita kebocoran jantung dan sempat menjalani operasi jantung non-bedah.

Ada juga beberapa tahap yang sempat dirasakan oleh mbak Itha sebagai orang berkebutuhan khusus seperti denial, anger, bergaining, depression dan acceptance. Saat ini mbak Itha sudah lebih ikhlas dalam menerima keadaan dirinya dan ia menjalani hidup seperti orang “hopeless” sehingga ia bisa berbuat sebaik mungkin dalam menjalani hari ini seolah-olah hari ini adalah hari terakhir dalam hidupnya.

Mbak Itha sempat juga membagikan tips untuk terus ngeblog seperti belajar EYD, banyak baca buku agar perbendaharaan kata kita meningkat dan bisa membentuk gaya penulisan yang baik, lalu tulis dulu secara bebas apa yang mau diposting di blog nanti revisi bisa nyusul belakangan. Kita juga bisa minta bantuan teman untuk merevisi tulisan kita sebelum dipublish.

mbok Lode 3

Presentasi mbak Itha. Foto oleh mbok Luh De

Seusai presentasi, mbak Itha membacakan 2 pertanyaan pilihannya dan ia pun langsung menjawabnya. Pertanyaan sisanya disimpan untuk bahan penulisan di blognya. Kebetulan pertanyaan saya disimpan, nih oleh mbak Itha, jadi saya bisa ngecek jawabannya kalau-kalau udah diposting diblognya.

Presentasi selanjutnya dibawakan oleh Bli Junk. Ia adalah seorang radiografer, atau kata mbok Luh De sebagai Tukang Rongent di RSUP Sanglah. Bli Junk menjelaskan mengenai hal-hal teknis dalam ngeblog seperti bagaimana cara mendapatkan blog berbayar, apa yang kita perlu lakukan untuk membuat blog dan kebetulan bli Junk menjelaskan cara membuat blog baru di WordPress.

Iin5

Giliran bli Junk memberi presentasi, foto oleh mbak Iin

Setelah presentasi bli Junk hampir selesai – ya karena kita kekurangan waktu sih, sebenarnya – mbok Luh De meminta untuk membuka blog masing-masing peserta dan menampilkannya di proyektor sehingga kami bisa sama-sama melihat. Saat setiap blog peserta dibuka, Bli Junk memberikan komentar dan menanyakan apakah ada yang perlu diubah atau dibantu demi peningkatan kualitas blog kepada setiap pemilik. Sedangkan yang belum punya blog dipersilakan mulai membuat blog baru di tempat. Tenang aja di Sloka Institute tersedia wi-fi, kok.

Iin2

Kepada saya, bli Junk berkomentar bahwa blog saya sudah bagus. Lalu ia bertaya apakah headernya ini saya buat sendiri. Saya mengiyakan dan menambahkan bahwa itu dibuat dengan program Paint. Bli Junk seolah-olah tak percaya, dan bertanya lagi apakah saya pakai mouse membuatnya. Dan saya iyakan lagi J. Uh-hu. Sayang blog saya agak lama dibuka karena tulisan yang dipampang di homepage full-text semua dan banyak banget.

Saya minta masukan kepada bli Junk supaya bisa bantu saya membuat Archives di menu page. Dan seusai presentasinya, Bli Junk langsung bantu dengan senang hati, lho… Ia pun dengan ramah bertanya kepada Hannah apakah Hannah mengerti apa yang telah ia jelaskan, he he he yang sayangnya Hannah tidak mengerti.

blijunk1

Mbok Luh De sibuk memotret mbak Itha dengan kedua kerajinan tangan kreasinya yang terbuat dari gulungan kertas bekas, foto oleh bli Junk

Selama acara berlangsung kami disuguhkan klepon, marning, jeruk dan pisang. Tidak lupa mbok Luh De menawarkan setiap peserta dengan teh atau kopi. Saya awalnya menolak tapi mbak Diah dan mbok Luh De berkata bahwa ini mandatory untuk menyecap gelas Sloka Institute. Saya pun mau deh dibikinin teh sedangkan Hannah pilih kopi.

mbok Lode 1

Tuan rumah: mbak Iin dan kedua narasum: mbak Itha dan bli Junk. Foto oleh mbok Luh De

Acara berakhir jam 7 malam, over time 1 jam, bo! Bli Junk bantu saya ngoprek blog itu aja cuma ngabisin waktu 5 menit. Lalu ada serah terima hadiah dari Sloka Institute ke narasumber dan dari mbak Itha ke dua penanya pilihannya. Terakhir kami berfoto bersama dan juga mengambil video singkat dengan mengucapkan dua slogan, “mai ngeblog pang sing belog” dan “No neuus without u!”. Cheers!

blijunk2

“Mai ngeblog pang sing belog” – itu dalam Bahasa Indonesia berarti: ayo ngeblog supaya tidak bodoh. Ternyata meski di Bali, Almira salah satu peserta yang tidak tau arti slogan Bali Blogger Community tersebut. Foto oleh Bli Junk

mbok Lode 2

No Neuus without U… Foto oleh Mbok Luh De

Senaaaangnya akhirnya bisa ketemu komunitas dan ikut kelas blogging, ini pertama kalinya buat saya. Nggak kapok sih buat datang lagi, tapi capeknya menempuh perjalanan dari Angkah ke Denpasar dan balik lagi itu lho! Buat bokong saya mati rasa, Hannah pun mengalami hal yang sama, hihi kasian dia. Untung dia suka melihat-lihat selama perjalanan naik motor. Kami pun sampai di rumah pukul 10 kurang dikit. Whooo! It was so fun though and the people are very friendly and nice and funny.

Hannah

Kami peserta terakhir yang belum pulang, sebelum pulang tak lupa foto berdua dulu sama Hannah, untung di Sloka masih ada bli Junk yag mengantar sampai depan pintu dan mbak Iin yang bantu fotoin kami.

♡ Intan Rastini

Advertisements