Top Three Impactful Bloggers for Me

Kebetulan saya memang mau menceritakan asal-muasal mengapa saya bisa kuliah di Universitas Terbuka dan ambil jurusan Sastra Inggris. Eh, pas banget mbak Creameano membuat CR Challenge #3 untuk menceritakan rekomendasi tiga blogger favorit saya. Maka akan saya satukan di sini saja deh, ceritanya. Sekalian gitu maunya, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Hehehehe – lagi-lagi kisah emak-emak irit enggak mau boros kata-kata yee…. Wkwkwk 😆.

Pada suatu hari, adik sepupu saya Ratih menghubungi saya untuk menemaninya yang akan menjalani acara wisuda di Gedung Rektorat kampus Udayana Bukit, Jimbaran pada hari Sabtu, 10 Maret 2018. Saya berangkat ke Dalung, lalu dari Dalung kami berangkat bertiga bersama Iqbal naik angkutan daring. Lumayan jauh, bo’, perjalanan dari Dalung ke Jimbaran! Untungnya acara wisuda belum benar-benar dimulai. Ratih masuk ke gedung tetapi saya dan Iqbal tidak bisa ikut masuk tempat prosesi wisuda dilaksanakan. Kami pun duduk di area outdoor yang dinaungi tenda atau terop besar dan itu memang ditujukan untuk para keluarga dan kerabat para wisudawan dan wisudawati.

Saya hanya bisa lihat para wisudawan dari berbagai jurusan namanya dipanggil satu per satu untuk serah terima ijazah secara simbolis dari rektor universitas Udayana. Dan itu juga tuh, topi wisudanya diganti posisi talinya yang menjuntai itu lho, sehingga menandakan bahwa sudah berhasil menyelesaikan masa studinya. Saya ngelihatnya hanya dari layar backdrop yang jadi tempat menampilkan video real time dari dalam gedung wisuda menggunakan proyektor.

Begitu giliran jurusan atau program studi pariwisata, saya bersiap-siap menyimak nama-nama yang dipanggil, karena ini adalah prodi adik saya, Ratih. Lalu nama lengkap Ratih pun disebutkan, dan saya memandang layar backdrop sambil ancang-ancang untuk mengambil gambar. Iya, saya ambil gambar dari video yang terproyeksikan di layar. Saya berdiri mendekat, dan jadi terharu mendengar adik saya akhirnya menghadap rektor universitas almamaternya dan menerima ijazah simbolis. Akhirnya adik saya menamatkan studi pariwisatanya. Saya sampai menitikkan air mata saking senang dan merasa haru.

Dari momen menghadiri prosesi wisuda adik saya itu lah, akhirnya saya termotivasi untuk melanjutkan studi lagi. Adik saya Ratih itu juga saat sedang studi, ia pun memutuskan untuk berkeluarga sehingga sambil kuliah juga menjadi seorang istri dan seorang ibu. Lalu akhirnya ia bisa lulus meski dibarengi dengan kesibukan berumah tangganya. Maka saya mulai mencari informasi mengenai melanjutkan kuliah lagi. Saya buka-buka situs web di internet untuk mencari tau opsi-opsi apa saja yang tersedia untuk melanjutkan studi di jenjang perguruan tinggi lagi.

Maka bertemu lah saya dengan blog mbak Nat. Nama blognya “Nat in Bali”, it is said as… “all about food, travel, and Nat’s favorite things“. Dari sana saya mendapatkan informasi yang lebih dari cukup untuk bisa mengetahui bagaimana seluk-beluknya melanjutkan studi di Universitas Terbuka. Dari postingan blog mbak Natalia, saya pun memberanikan diri untuk mendaftar ke Univ Terbuka pada bulan Juni 2018 tepat setelah saya selesai melakukan liburan ke Surabaya :D. Kok, ya pas banget, jadi otak udah fresh karena dapat liburan, lalu siap-siap menghadapi tantangan yang baru, yaitu: KULIAH LAGI! I felt like, C’mon Intan, warm up your brain and begin again to sudy!

Yes, saya terbantu banget dari informasi-informasi yang diberikan mbak Nat dalam blognya tersebut. Dalam posting blognya, mbak Nat menceritakan pengalamannya mendaftar kuliah di Univ Terbuka atau UT udah berkali-kali. Pertama untuk studi ilmu perpajakan, lalu lanjut ke studi Sastra Inggris (prodi yang sama yang sedang saya jalani saat ini). Bahkan saat saya berkomentar di posting blognya, mbak Nat menjawab dengan ramah dan cukup membantu. Hebatnya, mbak Natalia ini juga berhasil menyabet beasiswa dari UT sebagai mahasiswa berprestasi dengan Peningkatan Penilaian Akademik (PPA). Salut banget, deh! Saya pun jadi ketularan semangat belajar dari mbak Natalia yang nggak sungkan-sungkan membantu saat saya tanya-tanya tentang UT dulu. Terima kasih ya mbak Natalia, sehingga saya bisa belajar lagi di UT dan meraih cita-cita serta mimpi yang sempat tertunda.

Blog selanjutnya yang sangat saya suka adalah blog milik seorang wanita yang baik hati dan tidak sombong serta mau mendengarkan risalah hati saya tentang adab pergaulan dunia maya. Hahaha saat itu saya memang sedang terbentur perkara yang cukup tak enak dengan penjual skincare natural secara online. Singkat kata, saya mencurahkan kegundahan hati saya kepada mbak Tjetje Ailtje ini melalui Direct Message Instagram. Beliau menanggapi dengan simpatik sekali terhadap permasalahan saya. Saya pun jadi merasa lega dan sedikit legawa terhadap masalah yang saya hadapi.

Sebenarnya saya sudah mengenal blog mbak Ailtje ini jauh sebelum saya curhat dengan beliau. Saya udah suka baca-baca blognya dari dulu. Isinya informatif sekali dan memberikan perspektif yang mature mengenai masalah humanisme dari sudut pandang beliau. Salah satu yang saya suka adalah tulisan mengenai stereotype wanita Indonesia yang menikah dengan pria bule. Ada beberapa label tak sedap yang diberikan oleh masyarakat terhadap wanita-wanita Indonesia yang menikah dengan orang asing. Dan ini dibahas dari sudut pandang dan pemikiran mbak Ailtje yang dalam posisi juga menikah dengan seorang bule. Namanya blognya aja Bini Bule :D. Yang saya suka cencunya adalah tag line-nya, “Ramblings of an Indonesian Woman”.

Sambil lalu baca-baca komentar yang ada di blog seorang teman blogger pun akhirnya membawa saya kepada blog seorang blogger lainnya. Ini kebetulan saja saya lihat komentar dari seseorang di blogsphere bernama Kutu Buku. Maka saya singgah ke blognya yang bernama Si Koper Biru dan baca posting-posting blog dari mbak Kutu Buku ini. Jadinya malah saya kepincut dengan tulisan mbak Kutu Buku yang semuanya berbahasa Inggris! Mbak Kutu Buku ini adalah seorang wanita Indonesia yang tinggal di negara Skandinavia dan memiliki pasangan yang sering ia sebut-sebut dengan ‘Scandiguy’. Lucu dan imut banget, euy!

Dengan tag linea girl with the blue suitcase”, isi blog mbak Kutu Buku ini rada berat ya, hahaha… Karena selain menggunakan bahasa Inggris, bahasannya itu juga seputar kehidupan di Denmark, yaitu negara tempat tinggalnya saat ini. Kalau sebelumnya mbak Ailtje biasanya bahas tentang opini, pemikiran, pengalamannya dan seputar negara tempat tinggalnya di Irlandia, mbak Kutu Buku ini di negara Skandinavia, which is so cool, banget banget banget! Sama-sama di Eropa, tetapi negara Skandinavia itu kan yang bagian terdinginnya di utara, ya kan. Yang kita dengar negara Skandinavia itu keadaannya adem-ayem aje. Malah saya pernah dengar Denmark merupakan negara dengan warga paling bahagia di dunia. Oh, wow!

Lego juga merupakan mainan menyusun komponen-komponen atau balok-balok dari negara Denmark. Dan mainan yang mengasah kreativitas itu mendunia sekaliiii! Sampai akhirnya ada tuh yang namanya Legoland di Amerika Serikat dan di Malaysia. Jadi saya suka aja membaca-baca kehidupan mbak Kutu Buku di negara Eropa Utara tersebut, bagaimana beliau sebagai seorang insinyur menjalani pekerjaannya di Denmark hingga menghadapi bermacam-macam situasi dan hikmah apa yang bisa dipetik di kala Pandemi. Dengan membaca blog si Koper Biru, saya juga jadi belajar memahami bagaimana kehidupan-kehidupan seorang perantau di luar negeri sana. Pastilah tidak mudah menjalani kehidupan di negeri orang, meskipun itu kelihatannya sangat keren dan yang di permukaan kayaknya enak-enak aja 😀 hahahaha.

Saya salut dengan orang-orang yang mampu berkarya dan berkontribusi dengan menjalani profesinya namun tetap menikmati passion atau hobinya untuk terus konsisten menulis. Bagi saya mereka yang menulis itu seolah-olah mengulurkan tangannya kepada pembaca untuk menghibur, menyentuh hati, menginspirasi atau bahkan membantu memberikan perspektif yang berbeda dalam menghadapi suatu situasi. Maka dari itu membaca pengalaman personal seseorang melalui blognya adalah hal yang sangat menyenangkan dan bisa membuka sudut-sudut pandang yang baru kepada saya untuk memandang kehidupan.

So, I would say thank you very much for all my blogger friends! See you again soon because my online tutorial for semester 6 is going to begin. I should focus in my study for a while to achieve a good outcome and learn my lesson well 😊

Lots of love,

Intan Rastini.

My Day of Silence

Kegiatan Nyepi yang saya tuliskan berdasarkan pengalaman pribadi sendiri ini udah macam portofolio aja, apakah saya berhasil menunaikan tapa brata penyepian atau berhasil menapaki tingkatan spiritual yang lebih tinggi, dan sebagainya… Ya, yang saya rasakan seperti itu. Seperti bahan evaluasi diri sendiri setiap pergantian tahun Saka. Nyepi kali ini adalah pergantian tahun baru saka 1943. Hari Nyepi jatuhnya selalu pada tilem atau bulan baru kesembilan dari perhitungan kalender Bali.

Sedikit gamang memang menuliskan kegiatan saya sendiri di hari raya Nyepi, yaitu hari dimana umat Hindu sebenarnya tidak berkegiatan apa-apa. Bagaimana bisa manusia yang hidup itu luput dari berkegiatan? Rebahan atau tidur saja itu merupakan suatu kegiatan. Tetapi esensi dalam hari Nyepi sebagai pergantian tahun Saka ini diyakini dengan tidak terlalu larut dalam kesenangan merayakan pergantian tahun yang baru.

Jadi apa yang saya lakukan di hari Nyepi tahun ini? Saya bangun pagi pukul 05.52 WITA. Segera setelah bangun saya kerok lidah, minum air putih hangat, lalu pergi ke kamar mandi. Selesai urusan di toilet, saya minum air putih lagi. Lalu ambil handuk dan pergi mandi. Tuntas mandi, saya gosok gigi lalu membalurkan masker charcoal di wajah saya.

Saat menunggu masker kering, saya duduk di atas kasur. Memandang ke buku Kynd Cookbook yang tergeletak di meja. Buku itu sudah dibuka oleh Kalki semalam, sekarang giliran saya membacanya. Dari pukul 06.20 WITA saya membaca perjalanan bisnis pendiri Café Kynd hingga pukul 08.00 WITA. Saya juga mencermati semua resep-resep makanan yang disajikan di buku tersebut lalu menandai dua resep yang ingin saya masak terlebih dahulu dengan bahan utama sayur kale.

Selesai membaca buku… Saya bergegas mencuci muka. Setelah itu ambil matras dan membeberkannya di atas rumput di pekarangan rumah. Saya bermeditasi dengan tema “Forgiveness” yang dipandu oleh Phisi di Peace Sea Podcast yang sudah saya unduh sebelumnya. Sesi meditasi Forgiveness itu tidak lama, hanya 15 menit saja. Setelah itu saya lanjutkan dengan meditasi Collective Consciousness yang durasinya lebih panjang yaitu 32 menit. Lama juga saya menikmati keheningan di hamparan rumput pekarangan ditemani ayam-ayam yang asyik mengais makanan di sekitar saya.

Saya rasa ini adalah momentum yang tepat untuk meditasi yang lebih lama, apalagi bertema “Collective Consciousness”. Saya merasakan suasana yang begitu hening di hari ini. Tidak ada lalu lalang kendaraan bermotor, tidak ada suara gonggongan anjing, tidak ada keributan apapun. Di saat Nyepi ini lah, orang yang merayakannya jadi lebih berkesadaran dalam melakukan kegiatan atau memutuskan hendak berbuat apa. Maka dari itu saya membayangkan jika semua orang meningkatkan kesadaran mental atau spiritualnya bersamaan di hari ini dengan upaya hening bersama seharian.

Sinar matahari mulai menyengat wajah saya hingga saya berkeringat, kira-kira saat itu sudah pukul 09.30 WITA. Saya pun melipat matras lalu masuk ke dalam rumah. Di dalam, saya ngadem terus ambil buku bu Geeta Vara, guru Ayurveda saya. Saya rebahan di atas kasur dan membaca buku Ayurveda, “A practical guide to optimal health, healing and vitality”.

Kok, ya tepat banget, saat Nyepi ini, saat saya sedang puasa makan dan minum.. Saya membaca bab lanjutan buku Ayurveda bu Geeta yaitu Chapter 11 tentang Detoxification. Bahasan di bab detoksifikasi ini ada Physical body detox (termasuk fasting atau puasa dan Sensory detox atau detoks indera-indera), Environmental detox, Occupational Detox, Relationship detox, dan Emotional detox. Akhirnya pukul setengah sebelas saya mengantuk dan memutuskan untuk meletakkan buku di meja dan tertidur.

Saya bangun pukul dua atau setengah tiga sore. Saat bangun saya sempat tanya Kalki, “Kak, jam berapa sekarang?”

Anak-anak tidak ada satu pun yang ikut mamanya tidur siang! Kata papa, “biarin saja anak-anak tidak tidur siang, supaya nanti malam pas gelap langsung tidur saja.”

Akhirnya saya duduk-duduk di ruang keluarga melihat suami saya mengajak main Kalki dan Kavin kartu memory game. Mereka berusaha bermain dengan tenang, tidak gaduh, dan tidak boleh ribut. Berseru tetap dilakukan tetapi dalam volume yang kecil. Mereka bermain beberapa putaran dan merasakan keseruan permainan mengingat motif atau pola dan letak pasangan kartu yang memiliki pola sama tersebut.

Sampai akhirnya Kalki ngambek dan tidak mau bermain lagi. Dia ngambek karena dimarahin melulu. Gimana mau nggak marah, kalau giliran orang diserobot terus?! Kavin pun akhirnya bermain berdua dengan papa, sampai dia pun berhenti bermain karena merasa bosan. Papa yang masih antusias bermain, melirik dan mengajak mama. Kami bermain hanya 1 putaran saja dengan hasil seri. Kavin yang mengetahui hasil permainan kami pun jadi takjub, “Wah seri! Wah seri!” begitu serunya.

Sekitar pukul 4 sore, seusai bermain kartu memory game saya menyiram tanaman. Menyaksikan Popo, anjing tetangga, datang tepat waktu untuk mengajak Golden Brown bermain. Ya, Popo kadang suka mampir ke rumah kami untuk bermain bersama Golden. Uniknya, jadwal Popo main ke rumah itu terjadwal! Sungguh anjing yang teratur dan terpola. Selain itu saya cukup sedih, mendapati dua buah Stroberi saya yang ranum digerogoti oleh oknum, yang saya tidak tau siapa. Digerogoti setengah dan dibiarkan masih menggantung di tangkainya.

Selanjutnya anak-anak pergi mandi satu per satu secara bergiliran. Setelah mereka semua pada selesai mandi, giliran mamanya yang mandi. Setelah mandi saya melakukan Puja Trisandya dan melanjutkan dengan merenung sejenak sambil tetap dalam posisi duduk bersimpuh. Saya berusaha mendengarkan ke dalam, juga ke luar. Yang terdengar adalah suara lingkungan sekitar yang sungguh cukup magical. Saya mendengar suara alam yang biasanya tertutup oleh suara bising dan dengung aktivitas manusia.

Anak-anak dan suami tetap makan sehari tiga kali selama hari Nyepi. Kalau saya, saya ingin tiap hari Nyepi menjadi hari detoksifikasi diri saya dari kenikmatan-kenikmatan indriawi. Meskipun itu hampir mustahil untuk dilakukan secara mutlak, saya melakukan semampu saya saja. Maka saat malam tiba… Selamat datang absolute darkness… Yang akhirnya kami tepis sebentar kepekatan gelap malam itu dengan menyalakan lampu meja yang temaram. Di luar sedang hujan sehingga suasana cukup dingin.

Kavin sudah berhasil dinina-bobokan oleh papa setelah sandi kala. Kakaknya, Kalki masih terjaga. Dia main gameboy sebentar lalu minta dibacakan buku Herbivorous Dinosaurs. Entah, karena situasi dan suasana atau karena perasaan saya saja, dari membaca buku Herbivorous Dinosaurs hati saya menjadi sayang dengan sifat-sifat dinosaurus pemakan tumbuh-tumbuhan ini di masa lampau. Memikirkan dunia mereka yang pernah ada di bumi yang sama dengan saya rasanya saja sudah spiritual sekali.

Lalu saya melanjutkan baca buku Ayurveda saya lagi hingga chapter 12 yang berjudl Food as Medicine. Menjelang akan tidur, yaitu pukul 9 malam, saya pun pergi ke dapur. Saya ambil beras dan mencucinya lalu merendamnya sebentar dalam wadah tembikar slow cooker. Setelah direndam saya beri santan, bubuk kunir, sedikit jinten, adas, ketumbar bubuk dan paprika bubuk lalu dimasak di dalam slow cooker elektrik. Saya potong-potong juga sayur kale dan mencemplungkannya ke dalam clay pot tersebut.

Saya mencoba melihat langit di saat gelap gulitanya malam Nyepi. Tetapi sayang, langit kali ini sedang mendung sehingga yang tampak hanya awan. Sejak sore hingga malam terus turun hujan. Hingga malam menjelang dini hari pun rasanya masih gerimis. Saya sudah berusaha melihat langit dengan keadaan yang benar-benar gelap yang hampir hanya bisa didapat di malam Nyepi saja di Bali, tetapi hasilnya betul-betul tidak segemerlap malam-malam Nyepi sebelumnya ketika langit cerah.

Akhirnya saya pergi tidur. Keesokan harinya saya terbangun pukul 5 WITA dalam keadaan lapar dan lemas. Terakhir saya makan makanan adalah pukul 8 malam pada hari Sabtu hari pengrupukan Nyepi, yaitu H-1 sebelum Nyepi. Dan pada hari Nyepi saya hanya minum air putih hangat pada pagi hari pukul 6 WITA. Hari H+1 Nyepi adalah hari Ngembak Geni. Yaitu hari boleh bebas menyalakan api kembali, bisa beraktivitas secara normal lagi. Tetapi kondisi badan saya tak normal. Saya mengalami pusing dan berkunang-kunang saat berdiri.

Dengan susah payah saya pergi ke toilet. Setelah itu saya berusaha membuat teh. Saya tidak mampu berdiri atau berjalan lama-lama. Sebentar-sebentar saya duduk atau rebahan. Yang pasti rasanya tidak enak dan lunglai. Tapi saya masih bisa membuat teh terbuat dari campuran rempah-rempah, daun mint dan kelopak mawar kering. Lalu saya buka bubur saya di slow cooker, menyendoknya ke atas piring, dan membiarkannya dingin.

Saya akhiri puasa saya dengan minum teh herbal hangat ditambah madu, juga memakan satu buah pisang. Saya pun pergi ke kamar dan melakukan Puja Trisandya dilanjutkan dengan bermeditasi tema “Surrender”. Keadaan fisik saya masih tak enak rasanya. Setelah selesai bermeditasi bahkan saya sempat rebahan sebentar. Lalu saya bangun dan menyantap sarapan bubur yang sudah saya siapkan.

Berangsur-angsur pun badan saya mulai pulih kembali setelah berbagai makanan yang telah saya lahap. Dan saya merasa senang karena saya berhasil melaluinya. Melalui brata penyepian di hari Nyepi, yaitu tidak menyalakan api, tidak bepergian, tidak bersenang-senang, dan tidak bekerja. Ya, meskipun bersenang-senang sedikit dengan bermain kartu bersama papa. Bahkan Kalki sempat bilang bahwa hari Nyepi itu membosankan baginya. Hahaha.

Bagi saya tidak menyalakan api atau amati geni dalam catur brata penyepian itu artinya bisa secara harfiah ataupun arti kias yang dalam. Bagi yang meyakininya, mungkin akan cukup dengan tidak menyalakan api kompor untuk memasak, atau menyalakan api penerangan yaitu lampu. Bagi saya amati geni adalah tetap tidak meyalakan api di dalam diri yaitu tidak semau gue (toleran), tidak tinggi ego, tidak emosian, dan tidak berkobar seperti api yang lantas lepas kendali diri pokoknya.

Selama Nyepi saya belajar mengendalikan diri sendiri. Puasa adalah salah satu caranya. Lantas bukan berarti saya tidak toleran dengan anggota keluarga saya yang lain. Nyepi juga berarti berhenti sejenak dari kegiatan rutin kita. Bisa dikata mengistirahatkan indera-indera kita atau mengheningkan cipta. Mengevaluasi hidup yang sudah kita tempuh selama ini. Merenungi pengalaman-pengalaman yang pernah terjadi dalam hidup dan sesekali juga saya memikirkan akan menempuh hidup ini dengan cara seperti apa ke depannya. Merefleksikan hal ini tentu tak bisa dilakukan jika suasana hingar-bingar. Maka dari itulah Nyepi ini saya berusaha resapi dengan menyepi diri dari hal-hal yang bersifat duniawi secara sementara. The day of silence. And it’s totally my day 😊.

“A great way to connect with your senses is through silence.”

“Meditation can help you connect with your inner wisdom and give your sensory organs the much-needed conscious rest and rejuvenation they need.”

                                                                                                                               Page 152, Chapter 11: Detoxification. Ayurveda book by Geeta Vara. ‘Ancient Wisdom for Modern Wellbeing’

🙏 Intan Rastini.

My First Covid-19 Vaccination

“Halo, Ntan.. lagi sibuk, nih?”

“Nggak, bu. Ada apa?”

“Bisa ke Puskesmas Suraberata sekarang?”

Begitulah awalnya percakapan saya dengan bu bidan desa, yang akhirnya membawa saya segera melajukan motor ke Puskesmas.

Puskesmasnya tidak jauh, sekitar 8 km dari rumah. Bisa saya tempuh dalam waktu 15-20 menit. Begitu sampai di Puskesmas, saya cuci tangan di wastafel pakai sabun. Lalu melangkah secara cepat ke area rawat inap di belakang gedung IGD Puskesmas.

Di saat saya masuk ke lorong dimana terdapat kamar-kamar rawat inap, saya mendapati ada dua orang perawat sedang duduk di depan konter, kemudian dilanjutkan dengan deretan kursi-kursi kosong. Lalu beberapa ruangan terbuka disertai tiga orang sedang duduk menunggu di selasar. Saya amati ketiga orang yang menunggu ini ada satu ibu-ibu berpakaian sembahyang serba putih, dan dua bapak-bapak berpakaian rapi dan cukup resmi.

Kesamaan mereka yaitu sama-sama menunggu sambil memegang kartu berisikan tulisan KIPI yang besar. Mereka semua pun tertunduk menatap gawai masing-masing. Saya berhenti di depan pintu ruangan paling ujung di lorong rawat inap tersebut. dan melongok ke dalam. Saya menatap wajah yang familiar.

“Bu kadek.” Sapa saya.

“Eh ya, Ntan. Sudah daftar?”

“Belum.” Jawab saya.

“Daftar dulu, ya.. di meja pendafataran sana.”

Saya pun berjalan kembali ke konter yang berisi dua perawat duduk-duduk di depannya. Saat saya datang, satu dari mereka langsung berjalan ke belakang konter, dan satu lagi datang dari ruangan di belakang konter tersebut. Saya mendaftarkan diri saya untuk menerima vaksin Covid-19 dengan menyerahkan KTP. Kemudian saya diberi surat pendaftaran yang berisi data diri dan saya pun diminta menandatangani kebenaran datanya.

Setelah mendaftar, saya diarahkan ke ruangan skrining kesehatan. Di sana ada seorang dokter muda dan seorang perawat senior. Saya serahkan surat pendaftaran saya. Perawat menanyakan apakah saya sudah diukur suhu tubuhnya, lalu mempersilakan saya untuk timbang badan. Angka yang ditunjukkan oleh jarum timbangan saat saya berdiri di atasnya adalah 50 kg.

Setelah itu saya diukur tekanan darahnya oleh sang perawat. Syukur, tekanan darah saya normal yaitu 110/70, kalau tidak salah ingat. Setelah cek tensi, dokter bertanya apakah saya ada riwayat kencing manis. Saya jawab tidak. Dokter kembali bertanya apakah saya pernah cek kadar gula darah atau tidak sebelumnya. Saya jawab pernah sekitar dua tahun lalu dan hasilnya normal. Lalu perawat pun menusukkan jarum ke jari tengah saya setelah diusap alcohol swab. Hasil yang ditunjukkan alat cek kadar gula darah adalah angka digital dengan nominal 119.

Selanjutnya dokter meminta ijin kepada saya dan berkata ‘sugre’ karena hendak mengecek dada saya dengan stetoskop. Refleks saya nahan napas, dong. Kemudian dokter berkata, “napas biasa, saja, bu.” 🤣

Skrining belum selesai, dokter pun melanjutkan menanyakan tentang riwayat kesehatan saya, seperti apakah saya ada alergi setelah vaksin sebelumnya, ada riwayat hipertensi, punya penyakit auto-imun, pernah muncul bercak kemerahan di wajah secara tiba-tiba, riwayat kejang, riwayat epilepsi, pernah mengalami jantung berdebar-debar dengan tiba-tiba saat tidak melakukan aktivitas yang berarti, pernah nyeri di dada sebelah kiri, pernah sakit kuning atau liver, apakah sedang hamil saat ini, apakah pernah terjangkit Covid-19, apakah ada jadwal vaksin dalam satu bulan terakhir, dll. Yang semuanya saya jawab dengan kata yang sama, yaitu ‘tidak’. Saya jelaskan bahwa saya rentan hipotensi dan anemia. Dokter pun menjawab bahwa itu masih wajar.

Selanjutnya saya dipersilakan lanjut vaksin dan duduk di kursi yang ditunjuk. Wah, macam kursi eksekusi saja, pikir saya. Saya pun berjalan ke arah kursi tersebut dan duduk di atas sebuah kursi biasa berbahan kayu. Perawat menyiapkan injeksi vaksin, lalu meminta saya menyiapkan lengan kiri. Maka saya singsingkan lengan baju bagian kiri saya.

Lengan yang ditarget diusap dengan alcohol swab atau kapas berisi alkohol, lalu bagian lengan saya tersebut dicubit dengan area cubitan yang besar sehingga kulit beserta jaringan lemak di bawahnya terangkat karena tekanan tangan sang perawat tersebut. Kemudian injeksi vaksin Covid-19 pun disuntikkan, dan saya tidak merasakan sesuatu yang menyakitkan. Eh, tau-tau perawat berkata, “sudah selesai.” Itu pun dikatakan dengan riangnya.

Saya akhirnya memegang swab alcohol kedua yang diberikan perawat untuk menutup bekas suntikan, lalu saya turunkan lagi lengan baju kiri saya dan mengenakan jaket saya kembali yang sebelumnya saya lepas untuk keperluan cek tensi. Surat pendaftaran saya diberikan kembali dan saya diminta untuk lanjut ke ruangan berikutnya. Maka saya ucapkan terima kasih dan bergegas ke ruangan sebelah ujung, yaitu ruangan bu Kadek yang saya sapa di awal.

Di sana bu bidan Kadek mencatat data diri saya sambil mengobrol ringan. Kemudian bu Kadek berkata bahwa saya perlu menunggu di sini selama 30 menit untuk observasi pasca-vaksinasi. Kartu tag yang disertai tali untuk mengalungkannya di leher pun diberikan kepada saya. Kartu itulah yang saya lihat sedang dibawa-bawa oleh tiga orang yang menunggu di depan ruangan. Bertuliskan ’OBSERVASI KIPI’.

Saya duduk di lorong gedung rawat inap Puskesmas. Lorong ini agak gelap dan penuh poster-poster promo kesehatan yang dipampang di tembok saling berhadap-hadapan. Karena saya tidak bawa buku, saya tidak bisa menghabiskan waktu 30 menit ini dengan membaca buku. Lagi pula mana tau sebelumnya kalau seusai vaksin Covid-19 saya harus menunggu selama 30 menit begini. Saya tidak mau main gawai karena kuota saya sudah dibawah 100 mb. Saya harus hemat kuota, nih, sampai masa perpanjangan paket selanjutnya. Biasalah, emak-emak kudu irit.

Maka saya memandangi dan membaca lagi surat pendaftaran saya dan kartu tag Observasi KIPI. Sepertinya KIPI itu kepanjangannya adalah Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi. Saya main menebak-nebak saja itu. Lalu saya berusaha membaca poster di dinding seberang saya namun sayang, mata tak mampu membaca teks yang kecil-kecil meskipun saya sudah menggunakan kacamata. Mungkin juga karena jaraknya, ukuran teks, dan minimnya cahaya. Maka saya pun bangkit dan melihat-lihat tiap poster di dinding secara dekat. Lalu membacanya dan memotretnya.

Sesekali melihat jam di gawai, apakah ini sudah 30 menit. Tidak terasa perawat pun memanggil saya bahwa waktu observasinya sudah selesai, maka perawat masuk ke ruangan dan keluar lagi untuk memberikan saya kartu imunisasi Covid-19 (yang sebenarnya lebih mirip surat di atas selembar kertas HVS). Kemudian perawat bilang bahwa saya sudah boleh pulang. Yippieee…

Maka pulanglah saya dengan keadaan yang biasa saja, tidak ada keluhan apa-apa yang berarti dari vaksinasi Covid-19 yang sudah saya alami. Menuju rumah, saya pun merasa lapar, maklum tadi begitu terima telpon dari bu Kadek saya segera bergegas melesat ke Puskesmas tanpa makan siang hihihi… Malah saat itu, sebelum terima telpon dari bu bidan, sudah pukul 12.30 WITA dan saya masih saja menyimak peluncuran Ideathon Bali Kembali via Zoom Cloud Meetings, bukannya ambil waktu istirahat lalu makan.

Tetapi akhirnya saat sampai di rumah, saya tak langsung makan. Saya dekontaminasi dulu sehabis mengunjungi Puskesmas. Langsung saya cuci tangan dengan sabun di ember berkeran di depan teras, ambil handuk, masuk kamar mandi, dan lepas seluruh pakaian lalu memasukkannya ke keranjang pakaian kotor di depan pintu kamar mandi. Saya pun mandi sekaligus keramas.

Selesai mandi dan cuci rambut, barulah saya mengambil nasi panas dan pindang goreng yang sudah digoreng siang tadi oleh papa. Saya buka lemari es, dan mengambil dua sendok acar wortel-timun ke atas piring saya. Saya siramkan kuah acar yang saya buat dari buah asem (bukan dari cuka) ke atas pindang dan nasi saya. Hmmm… Saya sudah lapar sekali ini sampai saya akhirnya habis 2 piring menu makanan tersebut dengan porsi yang sama.

Saya kirim pesan kepada bu Kadek bahwa efek setelah saya vaksin adalah saya jadi laper banget! Mungkin ya akumulasi dari saya belum makan siang sebelumnya. Tetapi sampai saat saya menuliskan posting blog ini pun saya masih terasa lapar… Help! Pindang gorengnya udah sisa 1 potong aja, itupun buat Kalki dan Kavin makan malam nggak bakalan cukup lagi 😖😭.

Bu Kadek menjawab chat saya, bahwa memang kebanyakan yang habis divaksin merasakan hal tersebut, lapar dan ngantuk! Ya ampun, begitu ya. I’m still craving for food now! Setidaknya kita tau bahwa vaksinnya bekerja. Tubuh saya nampaknya sudah mulai membangun imunitas. Selain itu, tangan kiri saya mulai kemeng alias pegel, nih!

Saya dijadwalkan untuk vaksin kedua dan datang kembali ke Puskesmas 2 minggu lagi, yaitu Jumat tanggal 26 Maret 2021. Selama mau vaksin yang kedua saya akan jaga kondisi biar tetap fit, dan setidaknya kali ini akan lebih well-prepared untuk makan dulu sebelum divaksin! Oh ya, hari ini saya dapat jadwal vaksin secara buru-buru alias tak terduga itu karena.. jadwal saya vaksin sebenarnya bukan hari ini. Saya ditawarkan bu bidan desa untuk ikut vaksin secara mendadak karena ada peserta vaksin jadwal hari ini yang tidak lolos skrining kesehatan.

🦾 Strong girl don’t cry during vaccination,
Intan Rastini.

#SalamTangguh 💪

Daily Blue Rice from Butterfly Blue Pea Flower

Bunga telang yang saya tanam dari benih sudah beberapa bulan ini rajin berbunga dengan rutin. Awalnya saya panen untuk diseduh jadi teh bunga telang. Teh bunga telang akan berwarna biru, lalu dicampur markisa yang juga sedang panen di halaman, widiiiih, warna tehnya jadi berubah dari biru ke ungu macam Bali sunset saja. Anak-anak suka lihatnya, dan suka menikmati seduhan teh bunga telang campur markisa, apalagi kalau ditambah gula atau madu 🤪. Ya, namanya juga nak-kanak, sukanya yang manis-manis daripada yang hambar. Kalau hambar, ntar mamanya disembur lagi! 😖

Semakin tumbuh besar, semakin banyak berbunga si Clitoria ternatea ini. Saya pun putar otak gimana caranya supaya panen bunga telang ini bermanfaat tiap hari, soalnya kalau minum air bunga telang terus.. anak-anak bosan, kadang nggak diminum meski mamanya udah siapkan air bunga telang satu pitcher di meja makan. Mereka lebih memilih ambil air minum dari teko di counter dapur yang agak tinggi dan susah buat nuang air ke gelas daripada minum dari pitcher yang lebih mudah dijangkau jadinya.

Baca juga cerita saya tentang Tepache 🥃 (Resep Tepache Minuman Khas Meksiko yang Nyegerin – How to Make Your Own Tepache).

Saya akhirnya pakai bunga telang ini untuk masak nasi! Ya, kami kan sebagai warga Indonesia tidak bisa lepas dari nasi sebagai makanan setiap hari. Jadinya saya petik saja bunga telang sore atau pagi hari, rendam dengan air panas, lalu saat akan masak nasi, air bunga telang itu dituang sebagai tambahan air di beras yang akan ditanak di rice cooker. Air rendaman bunga telangnya tidak banyak, mungkin hanya 500 ml saja. Sebunga-bunga telangnya pun saya cemplungkan ke pot, wadah menanak nasi. Aduk-aduk sebentar supaya seluruh beras tercampur dengan rendaman air bunga telang. Colokkan listrik, dan… dan…, ini yang tak kalah penting! Jangan lupa ceklik “cook”!

Setelah nasi matang gimana? Nasi menjadi berwarna biruuuuu. Warnanya menarik dan cantik sekali. Bunga-bunga yang layu ikut termasak bersama beras pun hadir bercampur dengan nasi yang matang. Saat menyendok nasi untuk makan, ya.. saya makan juga sebunga telangnya. Karena tetangga saya bilang bunga telang ini bisa dibuat nasi goreng dan tidak menambah rasa apapun pada bahan makanan yang tercampur dengan bunga telang. Memang betul rasa nasi biru yang tiap hari kami makan berkat si bunga telang ini tetap hambar, kok! Bahkan jika mau, bunga telang juga bisa dikonsumsi dengan cara dilalap mentah-mentah.

Bunga telang ini termasuk bergizi dan mengandung antioksidan tinggi. Kalau kamu belum coba konsumsi bunga telang dan belum nanam bunga telang di rumah, rugi deh belum merasakan manfaatnya hehehe… Yuk, tanam, yuk! Cara nanamnya mudah, kok! Dari benih, semai saja di tanah yang dicampur pupuk kandang atau pupuk kompos. Bunga telang akan berkecambah dan tumbuh dengan mudah. Setelah agak besar bunga telang membutuhkan rambatan, atau tempat untuk sulur-sulurnya menjalar.

Di rumah, saya tanam bunga telang yang telah disemai di pot lalu bibit muda dipindahkan dari pot ke tanah di halaman dekat pohon palem. Setelah besar, bunga telang ini menjalar sampai tinggi ke ujung atas pohon palem. Jadi makin cantik, deh, pohon palemnya yang monoton karena ada bunga mekar berwarna serba biru di sela-sela daun palem yang lurus-lurus memanjang. Bulan Agustus 2020 ditanam, pada bulan September 2020 tanaman bunga telang sudah memberikan bunganya. Lalu pada bulan Januari 2021, dua tanaman saya mulai tua dan jadi kering, memberikan pod benihnya yang berwarna cokelat. Masih tinggal satu tanaman bunga telang dewasa yang masih hidup dan tumbuh lebat menjalar sampai ke pucuk pohon palem.

Dulu saya dapat benih bunga telang ini dari tetangga saya yang baik hati. Beliau adalah pasangan suami-istri yang sudah lanjut usia dan tinggal berdua saja mengelola warung. Saya mengetahui bahwa beliau punya tanaman bunga telang dari teman saya yang bekerja di Bumdes. Maka saya datanglah ke rumah pasangan suami-istri ini untuk membeli bunga telang. Ya, beliau menjual bunga telang satu wadah kresek seharga Rp2.000. Kemudian saya bilang bahwa saya juga hendak menanam bunga ini, maka saya pun diberi tetangga saya benih bunga telang 2 pods. Cihuy!

Saya hanya tanam 1 pod awalnya. 1 pod berisi 6 benih bunga telang berwarna hitam. Dari 6 benih yang saya tanam tumbuh bibit muda sejumlah 3 saja hihihi. Setelah 5 bulan, yang dua sudah tua dan mengering, sedangkan yang satu masih hidup sampai sekarang. Satu pod benih bunga telang sisanya saya berikan ke adik sepupu saya di Surabaya. Dan akhirnya berkat dua tanaman bunga telang yang sudah tua itu, saya bisa mendapat banyak pod benih bunga telang selanjutnya yang bisa saya simpan dan saya bagikan ke saudara-saudara saya yang ingin menanamnya.

Sekarang saya udah semai beberapa benih bunga telang lagi pada cup-cup bekas minuman dan pada wadah plastik bekas. Setelah bibit muda ini kuat, akan saya pindahkan lagi ke dekat pohon palem atau dekat pagar kawat kasa supaya tumbuh menjalar dengan indah. Tetangga saya di dusun sebelah juga ada yang menanam bunga telang di pinggir tepian batas senderan rumahnya, lho.. Tanpa cagak dan tanpa tiang sebagai media menjalar si tanaman bunga telang. Alhasil bunga telangnya menjuntai agak condong ke bawah.

Selain itu, saya mendapati tetangga saya ini punya bunga telang putih! Wow, saya sendiri baru tau ternyata ada ya bunga telang warna putih. Nah, kamu sendiri tertarik, nggak, menanam bunga telang di rumah setelah tau manfaat-manfaat yang dikandung oleh si bunga unik dan cantik ini? Oh, ya teman blogger saya yang pintar memasak, mbak Rini, bahkan buat kue lapis pakai bunga telang, nih. Bisa cek resep-resepnya di bawah. Bunga telang juga bisa dibuat teh fermentasi yang menyehatkan, lho, yaitu kombucha. Kalau ada kreasi lainnya silakan share, ya, bagaimana cara kamu menikmati si bunga telang 😊. Kalau bagi saya buka jendela kamar lalu melihat bunga telang pada bermekaran pun sudah nikmat sekali rasanya.

Annex: inspirasi resep kreasi mbak Rini:

  1. Lapis Kanji Bunga Telang
  2. Puding Kopyor Telang
  3. Cendol Dawet Biru dari Bunga Telang
  4. Susu Cendol Anget
  5. Bubur Sumsum Biru Bunga Telang
    Sungguh kreasi mbak Rini itu jauh lebih kreatif-kreatif dari pada saya yang cuma super basic buat air seduhan untuk minum dan buat menanak nasi sebagai makanan utama keluarga hehehe 😁.

❤️ Intan Rastini.

Mr Mario My Musician Neighbor

Saya kagum mengetahui ada seseorang yang begitu cinta dan passionate terhadap suatu kegiatan. Saking sukanya, sampai kegiatan itu dilakukan pagi, siang, sore, dan malam. Hampir setiap hari dan hampir sepanjaaaang hari. Orang tersebut tidak jauh-jauh adalah tetangga saya sendiri di sebelah utara rumah. Beliau adalah pak Mario yang hobi bermain alat musik tradisional Bali bernama rindik. Rindik ini adalah alat musik pukul yang terbuat dari bambu.

Pak Mario adalah seorang petani biasa yang hidup sederhana. Tetapi beliau sukses membuat hari-hari saya selama tinggal di desa ini jadi lebih ceria dan tidak merasa sendirian. Saya akan ceritakan awal mulanya sedikit, ya. Dulu waktu saya masih pacaran sama suami saya, saya beberapa kali pernah main ke kampung halaman pacar saya. Dari situ saya udah mendengar ada permainan alat musik bambu yang jarak sumber suaranya itu tidak jauh dari rumah pacar saya.

Sampai setelah menikah, dan saya menetap di rumah yang berada di kampung halaman suami saya ini, suara permainan musik pak Mario bisa semakin rutin saya dengarkan. Dari awal pagi, bisa mulai pukul setengah 6 pagi saya sudah bisa mendengarkan suara rindik ini. Di awal pagi bisa terdengar terus sampai siang. Kadang hanya terdengar sampai sekitar pukul 8 atau 9 pagi, karena mungkin pak Mario lanjut bekerja ke ladangnya. Nanti setelah jam makan siang bisa terdengar lagi alunan rindik hingga sore. Dan terus terdengar sampai malam  sekitar pukul 10 WITA.

Sebagian besar yang bisa saya dengar alunan musik rindik itu dimainkan sepanjang hari dan hampir tiap hari. Memang orang di desa ini bukan hanya pak Mario saja yang suka bermain rindik, tetapi suara rindik pak Mario lah yang paling dekat dengan rumah saya dan paling rutin terdengar. Alunan musik rindik ini merupakan hiburan gratis yang menyenangkan bagi saya. Benar-benar membuat hidup suasana desa tempat tinggal saya yang menurut saya sangat sepi, apalagi jika dibanding dulu saya tinggal di kota.

Dulu saat saya habis melahirkan lalu menyusui bayi saya, saya selalu merasa kesepian. Karena menjadi ibu baru itu rasanya seperti terisolasi dari kehidupan sosial, ditambah saya tidak punya teman di lingkungan tempat tinggal baru saya ini maka makin tambah menjadi-jadi rasa kesepiannya. Namun sayup-sayup selalu terdengar suara permainan rindik pak Mario dan itu menenangkan dan menghibur hati saya. Melalui alunan suara rindik tersebut, saya jadi selalu merasa seolah pak Mario menyampaikan pesan melalui permainan musiknya, “Ada saya di sini menemani mu”.

Bagaikan pelipur lara yang rendah hati dan tulus menghibur siapa pun yang mendengar suara permainan rindiknya, pak Mario masih tetap saja memainkan alat musik rindiknya sesuka hati, kapan pun beliau mau. Saat menuliskan posting blog ini pun saya sambil mendengarkan suara rindik yang dimainkan oleh pak Mario dan juga diiringi suara seruling yang ditiup oleh tetangga saya lainnya. Memang biasanya pak Mario bermain rindik secara solo sehari-hari, tetapi kadang juga terdengar ada sesi duet dengan permainan seruling tetangga sebelah rumahnya.

Pak Mario itu membuat sendiri rindik dari bambunya. Bahkan pada hari saya mendatangi rumahnya, pagi-pagi setelah saya selesai belanja di tukang sayur depan rumah, saya masih melihat pak Mario bermain rindik dengan perkakas berceceran di sebelahnya. Nampaknya pak Mario baru saja mengasah ulang atau memperbaiki rindik kesayangannya. Saat saya pergi belanja ke depan rumah, saya mendengar permainan rindik beliau, maka saya memberanikan diri tidak pulang setelah selesai membeli sayur dan lauk, melainkan melangkah terus melewati rumah saya dan masuk ke pemesuan (jalan setapak ke arah rumah) pak Mario.

Kenapa saya bilang memberanikan diri? Karena saya sudah lama ingin tulis cerita tentang tetangga saya yang hobi main rindik ini sejak lama, ingin menyertakan foto juga dalam cerita yang akan saya buat. Tetapi saya malu dan takut ditolak pak Mario dalam meminta izin untuk mendokumentasikan beliau. Nggak taunya pak Mario sangat welcome, lho. Jadi saya senang!

Saya datang dan menginterupsi pak Mario yang sedang bermain rindik di beranda bangunan ruang dapurnya. “pak, boleh saya ambil foto bapak main rindik, untuk buat cerita?”

Pak Mario mengizinkan saya untuk memotret dirinya. Bahkan beliau menganjurkan dari sudut mana saya sebaiknya mengambil foto :D. Bahkan menawarkan apakah rindiknya perlu diubah posisinya. Maka saya jawab, “Oh, tidak usah, saya mau foto seperti biasanya bapak main rindik saja.”

Setelah mengambil beberapa jepretan, men Mario datang dan menanyakan ada apa. Saya jawab bahwa saya ingin mengambil foto untuk membuat cerita tentang pak Mario yang suka main rindik. Kemudian men Mario masuk menuju ke dapur hendak melanjutkan aktivitasnya untuk memasak. Saya sempat bercakap-cakap dengan men Mario sebelum akhirnya berterima kasih dan pulang. Saat saya pamit dan bergegas pulang ke rumah di sebelah pun pak Mario tidak berhenti memainkan rindiknya.

Beliau begitu jago memainkan alunan isntrumental rindik. Biasanya yang dimainkan bertempo cepat meski pernah juga memainkan suatu musik dengan tempo yang lebih lambat. Saya juga pernah mendapati beliau memainkan lagu yang saya kenal dari Jawa, yaitu lagu “Gundul Gundul Pacul” dan lagu lainnya yang saya lupa namanya. Hati saya begitu terhibur mendengarnya. Mengingatkan akan masa kecil saya yang saya habiskan di Jawa hingga akhirnya saya menikah dan menetap ke Bali. Sisanya pak Mario memainkan alunan musik Bali yang tidak saya kenal, tapi akhirnya khas saya dengar dari permainan beliau.

Kembali saat saya baru melahirkan anak pertama saya, Kalki. Ayah dan mama saya datang untuk menengok dan menemani hari-hari saya sebagai ibu baru. Saya sempat cerita mengenai pak Mario kepada ayah saya, bahwa saya mendengarkan alunan musik rindik selama tinggal di sini. Saya akhirnya menanyakan kepada ayah apa tidak mau berkunjung ke rumah pak Mario karena ayah kan juga suka main rindik. Eh, nggak taunya beneran malam itu ayah saya main ke rumah pak Mario dan kata ayah saya mereka ngobrol sambil sebentar-sebentar main rindik. Ayah pun baru pulang dini hari dari rumah tetangga saya itu.

Sejak saat itu, kalau saya bertemu pak Mario kurang lebih yang ditanyakan kepada saya adalah, “ayahnya nggak pulang* ke sini?”

Jika saya jawab pulang kapan hari, pasti akan lanjut ditanya, “Kok nggak ada main ke sini (maksudnya ke rumah pak Mario)?”

Saya cuma bisa tersenyum 😊.

Ya, ayah saya bisa main rindik tetapi tidak sejago pak Mario. Saya sendiri tidak jago memainkan alat musik. Main rindik tidak bisa. Tetapi kalau Kalki atau Kavin tertarik untuk belajar memainkan rindik atau membuat rindik dengan pak Mario saya mau saja persilakan mereka belajar kepada beliau. Saya pernah sih, ajak anak-anak saya main ke rumah pak Mario sesekali. Saya udah dorong-dorong adik atau kakak untuk coba memainkan rindik pak Mario, bahkan pak Mario sendiri juga sudah mempersilakan. Tapi anak-anak saya agak malu-malu hihihi… Oleh Kalki memang beneran dicoba untuk dipukul rindiknya sebentar aja.

Di dusun lain (dusun lebih kecil dari desa), yaitu di bale bengong sederhana buatan kelompok wisata di desa saya… bale bengong itu seperti tempat duduk-duduk atau tempat bengong-bengong (maka dari itu namanya bale bengong) dari kayu… di sana disediakan rindik pula untuk dimainkan oleh siapa saja yang mau melepas penat di bale bengong tersebut atau untuk sekedar nongkrong. Kadang rindik itu menganggur, kadang ada yang bapak-bapak yang memainkannya. Kalki dan Kavin suka asal pukul dengan bebas bilah-bilah rindik tersebut. Kalau ada bapak-bapak yang sedang memainkannya, bakalan dilihatin oleh mereka sebentar (kalau kebetulan kami lagi main ke sana) 😊.

Terima kasih, ya, pak Mario telah menemani hari-hari saya dengan permainan alat musik traditional bapak yang alunannya indah. Teruslah berkarya, pak. Semoga nanti Kalki dan Kavin ada minat memperdalam ilmu bermain alat musik tradisional karena orang tuanya nggak bisa ngajarin sama sekali, cuma bisa menikmati saja hahahaha 😅.

Baca juga cerita tentang anak pak Mario (makanya dipanggi pak Mario, karena nama anak pertamanya adalah Mario): Just Married: Mary n’ Mario yang pernah saya tulis awal tahun 2014 lalu.

❤ Intan Rastini.

*Orang Bali yang merantau ke luar Bali, selalu diistilahkan ‘pulang’ jika mengunjungi Bali, karena Bali adalah kampung halamannya.