Pertama Kali Kenal Utama Spice, Brand Skincare Natural dan Ramah Lingkungan dari Bali

Pertama kali saya tau tentang produk Utama Spice itu dari web Sociolla, pernah lihat gitu di etalase Sociolla ada produk namanya Utama Spice. Awalnya saya nggak seberapa tertarik karena produknya cuma beberapa aja yang ada di web Sociolla. Setelah itu tahun 2018 di Yayasan saya pernah pergi hiking ke air terjun berdua bersama Albane, seorang volunteer mengajar dari Prancis. Saat sampai di puncak air terjun, kami duduk-duduk di atas batu dan Albane mengeluarkan sunblock dan menawarkannya ke saya juga. Selanjutnya ia juga mengeluarkan semprotan nyamuk. Semprotan nyamuk apa yang ia pakai, yaitu Begone Bug dari Utama Spice.

Saat itu saya coba pakai, nggak ingat baunya seperti apa tapi belakangan jadi cinta banget sama baunya Begone Bug. Dan saya takjub gitu sama pilihan Albane. Dia pilih Utama Spice yang merupakan natural product dari Bali. Maka saya tanya ke dia dimana dia mendapatkan ini. Albane jawab dia beli di toko di Ubud.

OK baiklah, di Ubud, jauh banget kan dari tempat tinggal saya kalau mau main ke tokonya Utama Spice. Belakangan, pas akhir 2018 hingga awal tahun 2019 saya mendapat volunteer dari Belanda yaitu Isabelle. Isabelle mengajak saya ke toko kerajinan perak di Ubud, Gianyar. Nah, setelah selesai berbelanja di toko kerajinan perak tersebut, saya bilang ke Isabelle, “mau nggak mampir ke Monkey Forest, Ubud? Saya mau lihat sebuah toko di sana.” Dia mengiyakan, oke deh kami berdua cusssss ke sana.

Sesampainya di Monkey Forest, kami sempat nggak ketemu dengan Toko Utama Spice sehingga harus berhenti tanya orang dan putar balik. Padahal kami juga dipandu oleh Google Map tapi toko tersebut terlewat juga. Di Monkey Forest, banyak sekali terdapat monyet berkeliaran di trotoar dan di atap-atap pertokoan. Setelah ketemu toko Utama Spice, saya dan Isabelle lihat-lihat di dalamnya ada produk apa aja. Menariknya di sana ada etalase DIY Your Own Skincare, lho! Dimana pelanggan bisa meramu dan meracik sendiri skincare yang dia inginkan dengan bahan-bahan yang disediakan oleh Utama Spice. Saya pun baca-baca sedikit buku mengenai macam-macam essential oils.

Isabelle teman volunteer dari Belanda

Saya sempat ditanyain oleh Isabelle, “enakan aroma yang mana?” Kayaknya waktu itu dia lagi bingung pilih body lotion, antara Lavender dan satu lagi apa gitu. Sedangkan Saya sendiri udah ngincer mau beli body scrub dari garam, saat itu saya bingun juga antara milih Bamboo Charcoal atau Ocean Breeze. Kemasan Salt Body Scrub Utama Spice ini unik, deh, karena dikemas pakai gelas kaca berkuping dan tutupnya aluminium. Akhirnya saya menjatuhkan pilihan kepada Bamboo Charcoal Salt Scrub. Dan itulah produk Utama Spice pertama yang saya beli. Saat itu pula kunjungan pertama saya ke toko Utama Spice. Selanjutnya hingga kini, saya belum pernah lagi, sih ke toko Utama Spice. Hanya ke toko onlinenya, saja. Hihihi..

Lagi sibuk mencium aroma produk

Akhirnya dari kunjungan pertama ke toko Utama Spice tersebut saya membeli Bamboo Charcoal Salt Scrub sedangkan Isabelle membeli Virgin Coconut Oil dan Lavender Body Lotion kalau tidak salah ingat. Saat itu saya punya kartu BPR Lestari dari komunitas lari RIOT sehingga saya bisa dapat potongan harga 20%. Harga scrub yang harusnya Rp 88.000 pun saya beli dengan potongan menjadi Rp 70.400. Lumayan banget kan. Isabelle pun juga dapat potongan karena belanjaan dia dijadikan satu dengan belanjaan saya, hehehe…

Invoice belanjaan saya dan Isabelle

Meski belum pernah lagi mengunjungi toko offline Utama Spice sejak Januari tahun 2019 lalu, bagaimana pun juga, saya berencana ke toko Utama Spice kembali untuk mengembalikan kemasan produk mereka dan mendapatkan potongan 10% saat berbelanja produk mereka lagi. Juga… saya mau beli produk mereka di refill station yang ada. Mereka punya sistem pengisian ulang produk dan kalau sudah punya wadahnya, ya tinggal bawa saja kemasan produk yang saya punya. Contohnya, saya punya botol Begone Bug 100 ml dan Begone Bug 35ml maka saat isi produk ini habis, saya akan beli kembali dengan membawa botol kosong ke refill station Utama Spice untuk beli isi Begone Bugnya saja. Selain itu, untuk kemasan besar-besar saya punya kemasan Lavender Liquid Soap 1 L dan botol Antiseptic Soap 230 ml tapi isinya belum habis.

DIY buat sendiri produk perawatan kulitmu

Saya senang sekali dengan konsep yang ditawarkan oleh Utama Spice sebagai produk perawatan kulit yang berbahan alami dan mereka juga memikirkan solusi ramah lingkungan atas kemasan produk mereka. Pertama, bahan-bahan mereka sumbernya dari alam dan itu ramah di kulit. Kedua, mereka menawarkan “DIY your own skincare” sehingga pelanggan bisa meracik sendiri produk perawatan kulit sesuai kebutuhan kulit mereka yang berbeda dan spesifik.

Kembalikan kemasan kosong produk Utama Spice ke toko untuk mendapat diskon 10% dan kemasan plastik tersebut akan didaur ulang hidupnya

Ketiga, mereka menerima pengembalian kemasan produk mereka untuk ditukar dengan diskon repurchase produk. Keempat mereka menyediakan pengisian ulang produk dengan kemasan pelanggan sendiri yang sudah ada. Keren banget, dan itu membuat saya semakin cinta dengan Utama Spice. Saya pun nggak pernah nyesel pernah kenal Utama Spice, malah nyesel karena kenalnya baru setelah tahun 2018. #LoveUtamaSpice

Produk-produk Utama Spice yang telah saya coba

Sampai jumpa selanjutnya di review produk Utama Spice yang sudah saya pakai, ya! Mungkin kamu ada permintaan mau direview produk Utama Spice yang mana duluan?

♡ Intan Rastini

Nyepi 2020 dan Wabah Covid-19

Kegiatan Nyepi di tahun 2020 kali ini berjalan sangat sepi. Pasalnya rangkaian persiapan menyambut hari raya Nyepi telah diinstruksikan oleh berbagai pemerintah daerah untuk tidak mengadakan kegiatan yang membuat orang berkerumun dan berkumpul dalam jumlah banyak. Di desa saya, sejak tanggal 15 Maret sudah ada himbauan untuk belajar dan bekerja di rumah. Tetapi di kantor desa tempat saya bekerja sebagai kantor pelayanan publik belum menerapkan sistem bekerja dari rumah. Kami para aparat desa dan staf masih masuk seperti biasa dan masih melayani warga di bidang administrasi. Sedangkan di tempat kerja saya di yayasan, les pun diliburkan selama dua minggu.

Meski demikian, kegiatan adat di banjar tetap berjalan hampir seperti biasa untuk kegiatan persiapan Nyepi. Kegiatan ngayah di Pura Puseh Desa Angkah masih berjalan. Memang di desa kami tidak ada kebiasaan membuat dan mengarak ogoh-ogoh, sehingga kami lebih fokus ke persiapan mecaru dan melasti. Bagaimanapun juga kegiatan ngayah itu adalah wadah berkumpulnya banyak orang. Saya sendiri datang ngayah tetapi hanya menyetor urak banten yang menjadi bagian saya. Ngeri juga membayangkan bahwa masyarakat masih mementingkan adat dan kepercayaan mereka daripada logika pencegahan penyebaran virus Corona.

Untuk melasti yang harusnya membawa pratima ke laut, tahun ini telah mendapat instruksi untuk dilakukan di beiji yang ada di desa. Dari surat tersebut maka saya simpulkan kegiatan melasti tahun ini harus dilokalisir hanya di desa pakraman setempat. Biasanya desa kami melakukan melasti hingga ke Pantai Soka dan itu arak-arakannya bisa menggunakan truk, mobil dan motor. Jarak dari desa ke Pantai Soka ada sekitar 10 km. Saya takut juga membayangkan jika melasti berjalan seperti biasa di tengah wabah virus Corona ini, bisa-bisa warga desa kami dari berbagai penjuru yang merantau pada pulang kampung dan ikut melasti. Lalu para umat Hindu jadi satu bertemu di Pantai Soka, karena bukan warga desa kami saja yang melasti ke Pantai Soka.

Akhirnya iring-iringan melasti di Desa Angkah jalan ke Pura Pangkung Sakti sebagai pura segara desa. Pura Pangkung Sakti ini cukup dekat dari Pura Puseh, kurang lebih hanya 1 km. Jadi para pengiring bisa berjalan kaki dari Pura Puseh ke Pura Pangkung Sakti. Saya sendiri tidak ikut melasti, tetapi dari status Whatsapp yang saya lihat dari tetangga saya, ternyata yang ikut banyak juga! Bukannya dari surat edaran bersama dari Gubernur Bali, PHDI Dan MDA, peserta yang mengikuti melasti harusnya dibatasi?

Akhirnya hari Nyepi datang dan saya melakukan aktivitas di rumah saja, seperti yang sudah dilakukan oleh sebagian besar orang sejak datangnya penyakit akibat virus Corona di Indonesia atau sejak himbauan untuk membatasi aktivitas, hingga sekolah-sekolah dan kantor ditutup dan mulai menerapkan belajar dan bekerja dari rumah. Nyepi ini berjalan 24 jam, dari jam 6 pagi pada hari Rabu, 25 Maret 2020 hingga jam 6 pagi pada hari Kamis, 26 Maret 2020. Apa saja yang saya dan anggota keluarga saya lakukan di rumah?

Biasanya saya puasa, tidak makan dan minum selama 24 jam, tetapi karena saya sedang tidak fit akibat sakit tenggorokan seperti kena flu, maka puasa tidak saya lakukan. Sebenarnya saya suka dengan konsep puasa untuk mendetoksifikasi badan dan saluran pencernaan saya, maka kali ini yang saya lakukan adalah membatasi makan dengan minum air putih dan makan buah saja. Selama hari Nyepi saya hanya makan buah pepaya dan buah naga serta minum air putih. Tidak makan yang lainnya.

Pukul 05.30 WITA saya bangun lalu minum air putih dilanjutkan dengan mandi. Setelah mandi, saya membuka halaman tutorial online untuk kuliah saya sampai pukul 06.15 WITA halaman tuton masih bisa diakses lalu akhirnya melambat dan terhenti. Akhirnya saya melanjutkan dengan kegiatan menulis blog tentang pengalaman saya, yang akan saya posting setelah post ini.

Lalu pukul 8.00 WITA saya melakukan latihan otot perut dengan aplikasi di HP yang bernama Abs Exercise selama 25 menit. Saya melakukan olah raga ditemani oleh Kalki, dia menghitung berapa jumlah repetisi yang saya lakukan. Saya sangat senang dan terbantu sekali dengan bantuan Kalki sehingga saya bisa fokus ke pernapasan dan otot tanpa lupa hitungan. Di sisi lain, adik Kavin sedang menggambar menggunakan Paint di laptop.

Pukul 09.00 WITA saya makan buah pepaya dan minum air putih. Setelah itu bercengkrama dengan anak-anak dan mengajak mereka belajar.

Pukul 10.00 WITA saya membaca buku kuliah Pengantar Statistik Sosial. Saya pikir kok relevan sekali dengan adanya wabah penyakit COVID-19 saya jadi banyak membaca data statistik di media.

Pukul 11.00 WITA anak-anak makan siang, sedangkan saya makan buah naga. Setelah itu saya ajak mereka untuk tidur siang. Eh, ternyata yang berhasil diajak tidur siang hanya Kalki, sedangkan Kavin masih asyik bermain dengan papa.

Pukul 13.00 WITA saya bangun tidur siang tetapi Kalki masih terlelap. Saya pun bangun untuk makan buah Pepaya dan ngobrol dengan suami.

Pukul 14.00 WITA saya kembali membaca buku modul Pengantar Statistik Sosial dan mengerjakan latihan soal hingga akhirnya menyelesaikan modul 2.

Pukul 16.15 WITA Saya selesai membaca buku materi kuliah dan ke halaman rumah untuk memandikan anjing peliharaan saya, Golden. Saat mau memandikan Golden, ternyata Kalki sudah bangun dari tidur siang dan ikut membantu memberi shampoo pada si guguk.

Pukul 17.00 WITA memandikan anak-anak.

Pukul 17.30 WITA saya melakukan yoga Surya Namaskar 12 putaran.

Pukul 18.00 WITA saya mandi. Lalu makan buah naga bersama Kavin. Dan anak-anak pun makan soto ayam dan ketipat yang udah dipersiapkan sehari sebelum Nyepi. Lalu saya belajar kembali, kali ini materi Writing 4, Unit 1 tentang Prewriting.

Menjelang malam, welcome to the absolute darkness! Saya selalu suka dengan gelap gulitanya malam Nyepi, karena saya bisa lihat bintang di langit.

Pukul 19.30 WITA Saya ajak anak-anak lihat bintang dari halaman. Saya pun berbincang-bincang dengan suami sambil mengagumi indahnya bintang. Saya bergumam, “kira-kira di tata bintang lainnya ada peradaban tidak ya seperti di tata surya kita? Planet kita sedang diserang wabah Corona.”

Suami saya menjawab, “Bintang di luar angkasa itu jumlahnya lebih dari jutaan, ya kemungkinan dari jumlah sekian bisa terdapat peradaban seperti di tata surya kita.”

Saya berkata sambil menerawang ke bintang yang bertaburan di bagian langit selatan, “bagaimana ya keadaan peradaban di luar sana?”

“Kurang lebih ya sama seperti peradaban kita.” Kata suami saya.

“Pengen tau bagaimana tingkat peradabannya, spesiesnya, dan keadaan alam planetnya.” Jawab saya sambil berlalu menyudahi menikmati bintang di angkasa.

Saat melihat bintang, Kalki dan Kavin juga bergumam terpesona dengan indahnya kelap-kelip cahaya di angkasa. Tetapi Kalki dibarengi dengan tingkah polahnya lompat-lompat dan ambil posisi berdiri sambil setengah jungkir-balik di atas rumput halaman.

Pukul 20.00 WITA Saya gosok gigi, anak-anak pun demikian, lalu kami sekeluarga bercengkrama di dalam tenda yang telah dibuatkan suami untuk anak-anak di ruang keluarga. Tendanya terbuat dari pondasi 4 buah kursi dan bangku panjang sebagai tulang atap lalu ditutup oleh sprei. Tenda ini sudah dibuat dari sebelum hari Nyepi untuk wahana bermain anak-anak supaya mereka tidak bosan.

Sudah bikin tenda sehari sebelum Nyepi

Dari yang awalnya tenda hanya beralaskan matras Kalki dan Kavin, hingga pas hari Nyepi tenda tersebut sudah dilengkapi kasur. Kata suami, semalam sebelumnya Kavin minta tidur di tenda, tapi karena hanya beralaskan matras, badan suami saya jadi sakit semua. Saat suami kesakitan badannya tidur di lantai beralaskan matras, dia minta pindah ke kamar, tetapi Kavin nggak ngasih! Pas suami nanya, “Kavin badannya sakit nggak, tidur disini?”, Kavin menjawab, “Enggak.”

Kegiatan anak-anak di malam hari sebelum Nyepi, Selasa 24 Maret 2020

Akhirnya malam penghujung hari Nyepi saya yang diajak Kavin untuk tidur di tenda, sedangkan Kalki dan suami tidur di kamar. Begitulah saya dan keluarga menjalani hari Nyepi dan memaknainya. Saya berusaha memaknai hari Nyepi sebagai hari untuk merefleksikan diri dan berkontemplasi. Saya juga sempat memberikan pemahaman kepada anak-anak mengenai apa itu hari Nyepi dan apa yang sebaiknya dan tidak sebaiknya mereka lakukan pada hari Nyepi. Tapi ya namanya anak-anak, mereka masih aja suka bermain sambil teriak-teriak heboh dan ketawa cekikikan keras.

Keadaan selama hari raya Nyepi sebagai hari tahun baru Saka Umat Hindu memang dirayakan dengan tenang dan menyepi diri dari kehingar-bingaran atau pesta. Saya maknai tujuannya adalah menjauhkan diri dari keduniawian atau hedonisme sejenak. Tidak boleh bekerja, tidak boleh menyalakan api, tidak boleh bepergian dan tidak boleh mencari hiburan. Keadaan seperti itu adalah kesempatan untuk berhenti dari kesibukan yang sudah terpola bagi manusia masa kini hidup di dunia. Itulah kesempatan untuk menenangkan diri dan merenungkan kehidupan. Menghubungkan diri dengan alam dan Tuhan secara spiritual.

Maka selama Nyepi kali ini, hampir tetap saya berjalan seperti sebelumnya, yaitu tidak ada siaran televisi, tidak ada akses internet, tetapi aliran listrik tetap ada. Suara kendaraan bermotor di luar pun sama sekali tidak ada, tidak ada suara anak-anak bermain di jalan, dan tidak ada tetangga yang menyetel musik keras-keras atau pun memainkan alat musik rindik. Semuanya hening.

Keadaan Nyepi di Bali lebih ketat dari pada Nyepi di Jawa. Saya ingat dulu waktu masih merayakan Nyepi di Jawa, saat saya masih kecil masih bisa nonton TV di rumah dengan mama dan adik saya. Mau keluar rumah pun tidak takut ada pecalang yang akan menegur. Saat masih kecil mama saya selalu menyediakan stok makanan dan cemilan-cemilan untuk anak-anaknya. Tetapi semakin besar semakin diajarkan untuk berpuasa seharian oleh orang tua dan oleh guru agama di sekolah.

Kini saya sudah 8 kali merayakan Nyepi di Bali sejak menikah tinggal di Bali, dan hingga Nyepi kali ini, menyalakan kompor dan lampu masih saya lakukan di rumah untuk keperluan yang penting. Tapi kami tidak membuat masakan apa-apa, hanya menghangatkan masakan yang sudah dipersiapkan dari hari sebelum Nyepi. Karena bagi saya mematikan api bagian dari catur brata penyepian adalah mematikan api yang di dalam diri sendiri, bukan hanya secara simbolis mematikan api kompor dan api penerangan di rumah. Dan yang paling tau mengenai rumah terkecil kita yaitu badan kita tempat jiwa bernaung adalah diri kita sendiri.

Pagi hari Ngembak Geni, Kamis, 26 Maret 2020

Selamat Tahun Baru Saka 1942~

♡ Intan Rastini

Bali Dreams Shampoo Bar Review

Setelah menulis tentang shampoo batangan atau shampoo bar Blue Ocean dari Segara Naturals di posting blog sebelumnya, yaitu produk ramah lingkungan berbahan alami pertama yang saya coba, kali ini saya akan menuliskan ulasan shampoo bar kedua buatan Bali Dreams. Shampoo bar ini saya beli di Love Anchor market di Canggu dengan harga Rp 50.000, netto 80 gram dengan wadah tin container bentuk kotak model tempat pensil tapi seukuran shampoo bar. Shampoo bar ini juga dijual refill bar-nya saja, dengan harga yang sama Rp 50.000 tapi ukuran lebih besar, yaitu berat 100 gr.

Bahan yang terkandung dalam shampoo ini adalah:
coconut oil, hibiscus extract, mentha piperita oil, mentha piperita extract, elaeis guinesis oil, cocos nucifera oil, aqua, sodium hydroxide. Yang berarti coconut oil dan cocos nucifera oil itu sama-sama minyak kelapa. Hibiscus extract itu ekstrak kembang sepatu, mentha piperita oil adalah minyak peppermint, dan mentha piperita extract adalah ekstraknya. Lalu elaeis guinesis oil adalah palm oil yang berarti minyak sawit, aqua adalah air dan sodium hydroxide adalah soda api.

Bahan-bahannya tidak banyak dan sederhana, namun mengandung minyak kelapa sawit. Di kemasannya tertulis 100% vegan, handmade & natural. Saat membuka kemasan aluminium saya bisa mencium aroma shampoo yang segar dari peppermint. Warna batang shampoonya putih dengan bercak-bercak samar berwarna kuning. Saya suka banget aromanya yang enak dan menyegarkan ini.

Saat dicoba keramas, pas keadaan basah, shampoonya memberikan busa yang cukup, terasa lembut namun agak keset. Karena agak keset jadi yang rontok pas lagi shampoo-an lumayan, tuh. Yang menyenangkan adalah aroma dan efek sejuk dan dingin di kulit kepala karena peppermint oil dan ekstrak peppermint. Karena agak keset, saya siasatin sebelum keramas pakai virgin coconut oil dulu sambil dipijit-pijit bentar jadi pas keramas rambut udah licin dan lemes karena VCO.

Setelah keramas rambut jadi bersih, enteng dan ngembang. Terbantu juga dengan VCO sebagai conditioner sebelum keramas. Tapi ketahanan kulit kepala bersih itu nggak lama, di kulit kepala saya 2 hari setelah keramas udah terasa gatal-gatal. Selain itu ketombe juga nggak makin berkurang. Hiks…. Sedihnya. Oh ya, shampoo ini bertahan selama sekitar 2 bulan untuk dipakai saya sendiri dengan kondisi rambut panjang sebahu. Dan semakin kecil shampoo ini nggak akan retak atau patah, tapi semakin menciut aja.

Saya sempat jalan-jalan dengan teman relawan mengajar dari Amerika Serikat, dan saat kami mengunjungi Love Anchor Canggu weekend market, kami berhenti di stand Bali Dreams. Saya bilang ke Laura bahwa saya pakai menstrual cup seperti ini (saya tunjuk menstrual cup Bali Dreams) dan juga shampoo bar ini (saya tunjuk shampoo bar Bali Dreams). Eh, Laura tertarik dengan shampoo bar tersebut dan beli lah dia. Saya perlu tanya lagi, nih ke dia, udah dipakai belum shampoo barnya. Cocok atau enggak.

Kalau saya, sih, kurang puas dengan performa shampoonya. Lebih cocok pakai shampoo Blue Ocean dari Segara Naturals. Jadi saya cuma beli shampoo bar dari Bali Dreams satu kali aja pas 17 Agustus tahun 2019 lalu. Setelah itu saya juga coba Sunshine 2-in-1 Shampoo and Conditioner Bar dari Segara Naturals kemasan travel pack yang kecil banget dan pakai itu juga kurang cocok. Mungkin karakteristik rambut saya yang cenderung oily lebih cocok pakai Blue Ocean dari Segara Naturals.

Shampoo bar Bali Dreams ini bisa didapatkan secara online di Tokopedia, Instagram @balidreams4 atau ke weekend market di Love Anchor Canggu dan Tamora Gallery, atau secara bulanan setiap Sabtu di Old Man’s Market, Canggu dan setiap Minggu di Sunday Market Sanur.

Kalau kamu udah pernah coba shampoo batangan untuk mengurangi timbulan sampah plastik? Mari berbagi pengalaman, yuk!

❤️

 Intan Rastini.

Acara Tukar Baju Bayi oleh Zero Waste ID dan RefillMyBottle

Hari ibu tahun lalu, tepatnya 22 Desember 2019, saya berkesempatan datang pada acara Tukar Baju Bayi yang diadakan oleh Komunitas ZeroWaste.Id dan Refill My Bottle berlokasi di Sunny Side Playscape Bali. Disana ada tiga narasumber yang akan berbagi mengenai gaya hidup minim sampah sebagai ibu. Saya sendiri sebagai seorang ibu dengan dua anak laki-laki merasakan bahwa baju bayi itu memang hanya sementara banget dipakainya. Bayi hingga ke usia balita itu cepat berubah ukuran badannya, kakinya, jadi ukuran baju cepet ga muat, ukuran sepatu cepet ganti.

Screenshot_20200301-193419.png

Tau ada acara ini dari Instagram @zerowaste.id_official

Hadir ke acara Tukar Baju Bayi yang kebetulan berada di Bali itu bukan untuk tukar baju bayi bagi saya melainkan lebih ke acara ketemu teman-teman yang sepemikiran dan sevibrasi. Cihuy sevibrasi… satu gelombang satu frekuensi gitu, ya. Narasumbernya ada Dominique Diyose selaku model dan penggiat lingkungan juga co-founder dari #BaliSwap, Maurilla Imron sebagai pendiri komunitas Zero Waste Indonesia dan juga Christine Go yang merupakan Project Manager RefillMyBottle. Maunya juga sekalian ngajak salah satu anak saya supaya mereka bisa main di Sunny Side, tapi saya takut kerepotan dan nggak bisa nyimak. Anak-anak bisa diajak ke acara ini. Untuk anak di atas usia 8 bulan ada biayanya bayar Rp90.000 untuk bisa main di Sunny Side Playscape.

Selain bisa bertemu dengan narasumber sebagai pembicara utama di sesi berbagi dan bincang-bincang bertema “Peran Ibu Dalam Menanamkan Gaya Hidup Minim Sampah Sejak Dini”, saya juga bisa berkenalan, ngobrol-ngobrol dan mendapat teman baru sesama orang tua yang peduli dengan environmental sustainability. Maka dari itu meskipun saya nggak donasi baju bayi atau nggak bawa baju bayi untuk ditukarkan, saya tetap datang untuk bisa ikutan sharing dan bertemu orang-orang yang hebat. Dan meski saya punya anak, tapi nggak ngajak anak, ternyata benar ada hikmahnya juga supaya saya bisa fokus memerhatikan di dalam sharing session.

IMG_20191222_153250.jpg

Yang saya kenal di acara itu awalnya cuma mbak Maurilla Imron. Kami kenalnya di Instagram karena saya suka ngikutin IG-nya @zerowaste.id_official dan pernah ikut 30 Days Zero Waste Challenge di bulan Januari 2019. Lalu sempat nonton di acara Kick Andy, ada beberapa anak muda yang peduli lingkungan dihadirkan sebagai tamu oleh Andy F. Noya, salah satunya ya mbak Maurilla. Kami sempat saling mengomentari pasca penayangan acara talkshow tersebut lewat direct message IG. Nah, di acara Tukar Baju Bayi ini saya bisa bertemu langsung dan juga bertemu keluarganya mbak Maurilla, Mas Damar, dan si imut Lana.

Mbak Maurilla ini orangnya talkative ya, jadi saya nyaman aja ngobrol sama dia. Secara saya lebih banyak diam dan nggak banyak kenal siapa-siapa juga di sana, jadi dengan mbak Maurilla aktif mengajak ngobrol saya pun nggak kebanyakan diem aja. Ternyata bapaknya mbak Maurilla pernah jadi dekan di Fakultas Kelautan dulu, tempat dimana saya juga sempat kuliah. Lalu diperkenalkanlah saya oleh mbak Maurilla kepada mbak Christine Go. Saat saya bersalaman dengan mbak Christine, dia menyebut namanya “Mimi”, saya kan jadi bingung soalnya yang saya tau namanya Christine hihi.. Saya tau mbak Mimi ini pertama kali dari EcoBali Recycle blog. Nih, dari sini….

Saya sempat ditanya juga oleh mbak Mimi kalau saya pernah dengan tentang RefillMyBottle atau enggak. Ya tau dong… Bermula karena saya juga difitur dalam EcoBali blog dan karena saya mau tau hasil wawancaranya kayak gimana, saya berkunjung dan baca-baca blognya EcoBali. Nah, dari situ lah saya menemukan posting blog yang memfitur Christine Go dari RefillMyBottle. By the way, ini hasil wawancara ecoBali yang memfitur saya dalam ecoBali blog. Wah suatu kehormatan dan kebanggaan bagi saya bisa sama-sama difitur disini seperti orang-orang hebat lainnya yang peduli dan memperjuangkan kelestarian lingkungan.

Aih-alih, di acara Tukar Baju Bayi, saya juga bertemu Korey yang menggemaskan. Baik Korey maupun Lana sama-sama menyusui di lokasi acara, lho. Saya seneng ngelihatnya, karena semakin banyak yang menganggap menyusui itu adalah normal apalagi di tempat umum. Saya juga suka tuh mendukung kampanye #normalizebreastfeeding oleh The Badass Breastfeeder (IG: @thebadassbreastfeeder). Menyusui bayi memang adalah hal yang normal dilakukan oleh ibu.

Selain itu, saya juga berkesempatan berkenalan dengan mbak Fitri, seorang MUA, teman dari mbak Mimi. Mbak Fitri ini sedang hamil saat datang ke acara kami sempat ngobrol-ngobrol bahwa saya pernah naik gunung Papandayan, eh mabk Fitri dan mbak Mimi pun juga pernah naik gunung Papandayan. Ada juga mbak Sonia yang saya temui pertama kali di meja pendaftaran. Saat sharing session mbak Sonia menceritakan mengenai betapa clodi membantu banget anaknya untuk cepat melalui fase toilet training. Dari situ saya ngeh, eh iya bener juga, ya. Saya baru menyadarinya. Soalnya Kalki dan Kavin kan juga pakai clodi turun-temurun (sekali beli dari anak pertama diturunkan ke adiknya). Dan saya pun nggak merasakan fase toilet training yang berlama-lama begitu. Tapi kesulitannya saat fase toilet training dan cul-culan nggak pakai clodi saat tidur ya, karena mereka masih beberapa kali ngompol di kasur dan itu ada tantangan terbesarnya. Rasanya ketika enak-enak tidur sama anak-anak dan salah satu dari mereka ngompol itu aduh, kayak tiba-tiba kebanjiran dan dilengkapi dengan bau pesing!

Baca juga review tentang clodi Kalki dan Kavin di sini. Ada juga tentang Perawatan clodi dan Popok Kain untuk Pemula.

Bertemu pula saya dengan mbok Ayu Winastri yang ternyata mengkurasi baju bayi yang diterima dan ditukar selama acara. Saya baru tau belakangan karena ya itu tadi, saya kan ga bawa baju bayi buat ditukar. Mbok Ayu ini pribadinya ramah dan memiliki usaha yang ramah lingkungan pula yaitu clothing line baju dewasa dan baju anak-anak dari linen. Idenya menarik juga mengenai baju dari linen, karena linen itu bahan organik dari rami. Dan saya sempat tanya-tanya juga kenapa menjatuhkan pilihan pada bahan baku linen untuk Sahaja dan Phinisia? Karena kualitas seratnya. Makin bertambah usia, linen akan makin lembut. Saya juga sempat bertemu Phi, anaknya mbok Ayu disana.

IMG_20191222_162159.jpg

Banyak orang-orang yang menginspirasi yang saya temui di acara tersebut. Selain orang tua juga ada Manaf dan Nara yang masih belum berkeluarga tetapi antusias dalam topik lingkungan yang berkelanjutan. Bahkan seorang Dominique Diyose yang emang udah banyak menginspirasi karena profesinya sebagai model dan publik figur, ia menunjukkan concern terhadap lingkungan dan layak menjadi role model untuk para fansnya. Bersama dengan Dominique diajak juga Meru dan Padme, tapi mereka sedang asyik main di Sunny Side Playscape.

Di kala sesi tanya jawab, ada beberapa pertanyaan yang dilontarkan kepada Dominique. Saya pun sempat bertanya ke mbak Dominique, apakah mbak Domi mengajarkan anak-anak untuk memilah sampah di rumah. Jawabannya ya, dan pastinya dibarengin dengan disediakan wadahnya yang jelas. Karena kalau wadahnya tidak ada, mereka kan juga akan jadi bingung mau pisahin sampah buangnya kemana.

Ya, saya pun berpikir demikian tentang skala yang lebih besar untuk pemilahan sampah. Kalau pemerintah adalah orang tua kita, dan warga adalah anak-anaknya. Maka solusi untuk pemilahan sampah yang efektif dan dapat mengurangi sampah yang terbuang ke TPA adalah dengan fasilitas dan sistem penunjang yang jelas. Jelas dan terpadu. Sampah organik disalurkan dimana dan sampah anorganik disalurkan kemana. Percuma aja jika anak-anaknya udah berusaha memilah sampah dari skala rumah tangga tapi orang tuanya tidak menunjang penyaluran, maka jadi bingung juga akhirnya sampah anorganik terpilah ini mau dikemanain?

Tak lupa pesan yang saya dapat hasil dari sharing session mengenai menanamkan gaya hidup sejak dini bukan saja dari peran ibu, lho. Memang utamanya adalah sang ibu sebagai child-bearing, namun peran ayah juga berdampak. Narasumber utama yang keempat, pak Omar pemilik Sunny Side Playsacape juga membagikan pengalamannya mengenai memiliki anak dengan berbagai macam alergi dan sangat sensitif kulitnya. Pakai popok sekali pakai tidak bisa sembarangan, dan dari sana ia memakaikan clodi. Diterjen pun mungkin juga ga bisa asal-asalan memilih karena bisa menimbulkan reaksi sesnsitivitas di kulit anaknya.

Dari obrolan mengenai clodi tersebut, bincang-bincang berlanjut hingga ke arah bagaimana tips dan trick jalan-jalan dengan anak menggunakan clodi dan pemilihan deterjen yang tepat untuk clodi. Para narasumber membagikan pengalaman mereka bahwa traveling dengan anak berclodi itu challenging banget. Dominique menceritakan kalau Meru pup, maka dia akan langsung mencuci clodinya di toilet. Maka ia tak lupa bawa alat tempur deterjen dalam kemasan kecil, clodi bersih cadangan dan wetbag. Bahkan saat di dalam pesawat, mau bau banget pun bodo amat, langsung kucek di toilet. Begitu kira-kira yang dikatakan oleh Dominique.

Sedangkan mbak Maurilla membagikan pengalamannya untuk ganti popok juga bisa tanpa tisu basah. Yaitu dengan sedia air dalam botol spray. Nanti botol spray itu bisa disemprotkan ke kain lap kering yang dibawa sebagai ganti tisu. What a life hack! Dan sebagai pemilihan deterjen ramah lingkungan, mbak Mimi membagikan preferensinya yaitu deterjen yang berbotol plastik karena bank sampah menerima dan kemasan botol plastik bisa direcycle kembali. Betapa menyenangkan ya bisa berbagi pengalaman, tips dan trik seputar pola asuh apalagi pola asuh yang ramah lingkungan dan minim sampah sejak dini.

Memang acara utama Tukar Baju Bayi ini ya tukar baju bayi sebagai solusi untuk cepatnya pergantian ukuran baju karena pertumbuhan si bayi. Dan solusi untuk mengurangi timbulan sampah tekstil dari baju yang layak pakai dan tak bisa terpakai lagi. Sampah tekstil juga merupakan masalah karena tidak semua tekstil bahan bakunya ramah lingkungan atau dapat terurai kembali di alam dengan mudah. Juga tidak semua baju itu proses pembuatannya berkelanjutan. Seperti apakah diproduksi secara masal tanpa mengindahkan dampak lingkungan atas limbah tekstilnya nanti, lalu bagaimana dengan prosesnya apakah menggunakan pewarna sintetis yang limbahnya mencemari lingkungan?

IMG_20191222_170827.jpg

Meski anak-anak saya sudah bukan bayi lagi yaitu udah 6 dan 4 tahun. Tetapi dari acara Tukar Baju Bayi ini saya dapat banyak pelajaran dan pengalaman dari sesama orang tua lainnya yang concern terhadap keberlangsungan lingkungan, ruang hidup bagi generasi penerusnya. Maka seperti kata pepatah orang Indian yang terkenal itu, Bumi atau lingkungan ini bukan milik kita, namun kita meminjamnya dari anak-cucu kita. Sudah sepantasnya lah kita kembalikan kepada mereka dengan keadaan baik.

Bagaimana menurutmu ide tentang tukar baju bayi ini? Kalau saya, sih, juga menantikan tukar baju untuk dewasa supaya bisa punya koleksi baju berbeda tanpa beli baru. Tinggalkan komentarmu di kolom komentar, ya! I’d love to hear from you. Thank you.

❤️ Intan Rastini

Blue Ocean Segara Naturals Shampoo Bar Review

IMG_20190311_071237.jpg

I started to use the shampoo bar on Saturday, 9 February 2019 for the first time. And then I did shampooing for the second time on Wednesday, 13 February 2019. The clean hair lasted for 4 days. In fact on Sunday the 10th, I did exercise, running around the volley field which made my hair sweaty! Mostly I have activities that induce sweat a lot and my hair state is quite oily.

Blue Ocean Shampoo Bar is suitable for normal to oily hair. The weight of the bar is 50 gr. It contains: fatty acids, sulfoethyl esters, sodium salts, <10% anionic surfactants, <5% amphoteric surfactants, cetyl alcohol, raw kukui nut oil, glyceryl caprylate/carprate, hydrolised baobab NPNF protein (organic certified), panthenol [vit B5], aloe vera powder concentrate, phenoxyethanol, lavender essential oil, sweet orange essential oil, geranium essential oil. It claims as synthetic and palm oil free.

I like this shampoo’s scent. Actually, at first, I felt so so with the scent but eventually, I like it. Even when I go to the bathroom, I sniff my shampoo bar. This shampoo bar can last for 1 month to 1 month and a half for me. I wash my hair once every 2-3 days. And my habit is to put shampoo on my hair two times every time I wash my hair. My hair length is about below my shoulder at that time when I regularly use the Blue Ocean shampoo bar.

I have dandruff on my hair, after using three bars of Blue Ocean, I still have dandruff but not that much. This shampoo has soft foam while I use for shampooing. When my hair is wet and foaming from this shampoo, I feel my hair gentle thus there is not much hair falls during massaging my hair. I can see at the water outlet in the bathroom that my hair fall is decreasing. Yes, overall my hair loss is diminished.

After shampooing I feel my hair clean, soft, light, volumized and easy to be managed. I am satisfied with this all-natural shampoo bar. However, the scent from the essential oil blend won’t last that long. After washing my hair I won’t have very fragranced hair. I can have this shampoo for traveling, but I need to make sure it’s not too wet when I will keep it back to the tin. So, I tap the shampoo to my towel before I put it back to the tin. If it’s wet for a long time, it’s getting soggy and smaller.

IMG_20190210_063750.jpg

My hair after first shampooing with Blue Ocean Segara Naturals

When the shampoo remains as a little piece, I have to be careful because the bar is easy to be cracked. When you store the shampoo in a wet area in the bathroom, it will also become fragile, easily to be cracked even though it’s still a big piece. When you are running out of this shampoo you can buy it online just the refill bar without the aluminum tin. It is package free and eco-friendly. The ingredients are also safe for your scalp and the shampoo water residue is not harmful to the environment.

Will I repurchase? Yes, just the refill bar. Unfortunately, Segara Naturals still doesn’t sell the shampoo bar refills at offline stores in Bali. Zero Waste Bali shop sells Blue Ocean and Sunshine 2-in-1 shampoo bar in the tin package. And the price is more expensive at Zero Waste Bali rather than you buy online at the Segara Naturals website or on the online market place such as Shopee, Sustaination, Backyard Plastavfall or Zerowaste.id.

Blue Ocean Shampoo Bar price with aluminum tin: Rp 80.000
Refill bar: Rp 75.000

Have you tried a shampoo bar already?

IMG_20190209_143432.jpg

❤️ Intan Rastini