Acara “Simple Steps to Start a Zero Waste Journey” bersama Bea Johnson

Mengingat-ingat event yang pernah saya ikuti di tahun lalu, yep di tahun lalu, tahun 2018… lama banget ya, padahal ini aja udah di penghujung 2019. Nggak terasa udah satu tahun lalu saya menghadiri acara yang diselenggarakan oleh Zero Waste Bali. Tepatnya pada hari Jumat, 16 November 2018. Pagi di hari itu ternyata saya juga mengagendakan ambil kartu mahasiswa ke kantor UT. Sorenya pukul 18.30-20.30 WITA saya datang ke Sunrise School Bali bersama my soul siter, Ratih. Oke, saatnya menceritakan kembali pengalaman mengikuti event “Simple Steps to Start a Zero Waste Journey” yang bener-bener terlambat untuk dipost di blog, sekalian tes ketajaman memori saya.

IMG_20181116_183341.jpg

Saya agak lupa waktu itu beli tiket untuk acara itu atau enggak ya… hehehe… saya cek-cek lagi di email saya, emang ada tiket digital yang masuk di inbox untuk menghadiri acara tersebut tapi harganya Rp 0; Total ada dua tiket digital di email saya. Setelah saya trace pesan-pesan di IG dengan Zero Waste Bali, saya menang dua tiket untuk acara tersebut. Pertama menang giveaway yang diadakan oleh Zero Waste Bali di Instagram dan yang kedua menang giveaway yang diadakan oleh EcoBali Recycle di IG juga. Yeay, saya dapat dua tiket cuma-cuma!!! Plus dari giveaway EcoBali saya juga dapat paket mesh bag saat show up ke acara tersebut.

screenshot_2018-11-16-06-18-50-541_com.instagram.android.png

Maunya ngajak suami, tapi harus ada yang jaga anak-anak di rumah, jadi saya ajaklah adik saya, Ratih, my beloved babe. Kami datang berdua kesana dan sempat kebablasan saat cari lokasi acaranya di Kerobokan. Ya maklum, baru pertama kali kesana juga. Tapi syukur datang tepat waktu dan selamat di tujuan. Kebanyakan yang datang sih orang bule atau expat. Yha gimana enggak, acaranya sendiri aja speakernya 3 orang bule jadi emang kayak kecil kemungkinan orang lokal yang bakalan mendominasi. Tapi selain saya dan Ratih juga ada kok orang lokal, salah satunya yang saya tau adalah salah seorang lagi pemenang giveaway tiket acara tersebut.

IMG_20181116_183410_HHT.jpg

Pembicara pertama ada Silvija Rumiha pemilik toko Zero Waste Bali yang menjual barang-barang yang mendukung gaya hidup minim sampah dan produk bahan makanan dan toiletries tanpa kemasan alias curah – haha curah, maksudnya bulk gitu, lho. Selanjutnya ada Bea Johnson sebagai the Queen of Zero Waste Home. Next, terakhir ada Paola Canucciari dari EcoBali Recycle. Garis besar yang dipaparkan oleh masing-masing pembicara adalah; Silvija menceritakan bagaimana awalnya memulai toko Zero Waste Bali dari ide awal menjual makanan bayi yang sehat menggunakan wadah yang tidak menimbulkan sampah yaitu menggunakan botol kaca seperti wadah selai. Lalu dari sana dia mulai berpikir mengenai konsep refill dan bulk store.

Silvija seorang expat di Bali asal Australia juga merupakan sarjana kesehatan masyarakat, maka dari itu saya pikir dia perhatian dengan makanan yang sehat untuk anak-anak tapi dijual praktis tinggal disajikan. Yang dia jual bukan makanan instan tapi makanan fresh yang udah dikemas. Kemasan itulah yang akhirnya membawa dia memikirkan bagaimana agar kemasan produknya bisa tidak menjadi sampah, dan jadilah toko tanpa kemasan di Bali, Zero Waste Bali. Sampai sakarang produk makanan padat untuk anak-anak atau MPASI berupa puree untuk bayi masih ada juga di toko Zero Waste Bali namanya Mini Muncher Bali.

Lalu pembicara selanjutnya yang didatangkan jauh-jauh dari Amerika Serikat adalah Bea Johnson. Bea yang terkenal dengan bukunya Zero Waste Home, datang ke Bali untuk berbagi pengalaman hidupnya yang juga inspirasional. Selama Bea bicara, dia tidak suka penonton mengambil gambar atau video tentang dirinya, dia ingin penonton yang hadir menikmati masa sekarang. Menikmati presentasinya secara live. Pas saya lagi ngerekam video, eh si Bea bilang begitu maka saya stop-lah video yang saya ambil.

 

Logatnya Bea lucu, dia dari Prancis tetapi sudah menetap di Amerika Serikat, jadi masih ada logat Prancis meski dia berbicara bahasa Inggris. Di telinga saya juga terdengan kayak cadel dan sengau gitu. Dia pun bilang ke audience, “please bare with my accent.” Dengan logat seperti itu dia memaparkan tentang perjalan dia dan keluarganya menuju zero waste lifestyle, gaya hidup minim sampah. Bukannya bener-bener zero waste, sih.. dia sekeluarga masih menghasilkan sampah, bahkan dia bawa satu toples sampah keluarganya dalam setahun untuk ditunjukkan kepada penonton.

Yang menginspirasi saya banget itu bagaimana dia hidup bener-bener minimalis, tidak menumpuk banyak barang di rumah. Dia cuma punya baju 8 potong dan kalau traveling dengan gampangnya dia angkut aja semua baju yang ada di lemarinya. Tiap pergi jauh pun dia tidak perlu bawa banyak barang seperti berkoper-koper pakaian, sampai petugas bandara heran dan takjub gitu sama barang bawaannya. Selain itu dia lebih mengutamakan mengumpulkan pengalaman dan memori daripada mengumpulkan barang-barang dan suvenir saat mengunjungi negara-negara lain. Menurut Bea, dengan sedikitnya benda materi yang dimiliki, maka kita punya banyak waktu berharga untuk keluarga, tidak terlalu pusing mikirin beresin barang atau juga milihin barang mana yang mau dibawa. praktis, cepat dan efisien!

Bea dan keluarganya juga memilih untuk beli barang bekas daripada beli baru untuk pakaian, mainan, alat-alat sekolah. Dia pun mencarikan anaknya scientific calculator yang bekas untuk keperluan sekolah. Di acara tersebut saya melihat foto kalkulator bekas yang dia dapat dari situs belanja online di AS. Bea memang membawakan paparannya dengan slide show juga, jadi dia menunjukkan foto isi rumahnya, barang-barang yang ada di dapurnya, kamar tidurnya dan kamar anak-anaknya. Menarik sekali melihat keluarga dan tempat tinggal Bea, betapa minimalis dilengkapi peralatan alternatif yang sarat minim timbulan sampah seperti serbet, hand towel, tote bag, juga ada jar kaca untuk hampir segala keperluan termasuk untuk menampung sampah plastik keluarganya!

InShot_20191230_120740316.jpg

Ini yang paling berkesan buat saya, Bea punya dua anak laki-laki, dan ia pun menerapkan pergiliran mainan sesuai perkembangan usia anak-anaknya. Secara berkala, kalau tidak salah tiap tahun, Bea akan meminta anak-anaknya memilih mana mainan yang akan disimpan dan sisanya akan disumbangkan atau dijual kembali, maksudnya untuk digilir dengan mainan yang baru atau bekas tapi berbeda dari yang sudah ada. Bagian ini membuat saya terpesona banget, soalnya saya kan juga punya dua anak lelaki. Kebetulan di rumah Kalki dan Kavin punya banyak mainan tapi kebanyakan sudah nggak utuh, beresin printilan mainan mereka itu lho, PR banget. Belum lagi kalau lagi berceceran bikin stressful ngeliatnya.

Setelah Bea Johnson memaparkan panjang lebar tentang pola dan gaya hidupnya yang low impact. Selanjutnya ada penjelasan dari Paola dari EcoBali Recycle mengenai kompos untuk mengurangi sampah rumah tangga. Di EcoBali Recycle ada jasa layanan angkut sampah terpilah secara teratur untuk rumah tangga, sekolah kantor, toko, hotel, villa dan acara-acara tentatif. Baik individu maupun korporasi bisa sewa jasa EcoBali Recycle untuk mengorganisir sampah yang dihasilkan baik dalam skala rumah tangga maupun skala perhelatan acara besar dengan orang banyak. Tapi sampahnya terpilah, ya. Karena EcoBali punya dua kantong khusus untuk sampah anorganik yaitu kantong merah untuk plastik, gelas dan metal, serta satu kantong lagi warna hijau khusus sampah organik yaitu kertas.

Nah, sampah-sampah yang ditampung dalam dua kantong EcoBali tersebut akan diangkut ke gudang EcoBali untuk selanjutnya di-recycle mejadi barang-barang dengan second-life seperti botol kaca jadi gelas atau wadah lilin. Untuk tetrapak wadah minuman, EcoBali Recycle menyulapnya menjadi seperti asbes gelombang yang bisa untuk atap seperti genteng dan juga wadah kompos! Gentong kompos hasil daur ulang tetrapak ini disebut oleh Paola sebagai “composting for dummies” hahahaha… Karena dia bilang begitu mudahnya melakukan kompos dengan wadah ini.

Saat menghadiri acara itu saya pun belum tau seluk beluk perkomposan. Saya sempat bertemu juga dengan Ingrid, teman jaringan pengelola yayasan non-profit tempat saya bekerja, lokasinya di Bedulu, dan dia menggunakan kompos dari EcoBali. Waktu saya tanya harga wadah kompos tersebut adalah 1,5 juta. Tapi itu bukan wadah komposnya aja, kata Ingrid, EcoBali juga membantu proses instalasinya di pekarangan rumahnya.

Setelah acara selesai saatnya tanya jawab. Ada sekitar 3 atau 4 orang yang bertanya, termasuk saya. Hampir semua penanya memberikan respon positif, takjub gitu terhadap pengalaman Bea Johnson. Salah satu pertanyaannya adalah bagaimana Bea menghindari penggunaan plastik sekali pakai saat belanja di supermarket. Dan Bea membagikan tips berdasarkan pengalaman yang dia alami saat akan membeli bahan makanan dengan wadahnya sendiri.

Dalam pengalaman Bea, ada petugas supermarket yang skeptis gitu terhadap cara Bea mengurangi pemakaian kemasan plastik. Maka untuk menangkis hal tersebut, Bea berkata dia sedang dalam kompetisi untuk menghindari plastik sekali pakai. Cara ini lebih ampuh dari pada cara yang menyerang kepedulian petugas skeptis tersebut karena umumnya nanti dia jadi lebih defensif. Tapi kalau Bea bilang dia sedang menerima tantangan atau dalam kompetisi menolak plastik, petugas biasanya lebih tertarik untuk membantu. See? She is Amazing.

858108037_94663.jpg

Foto oleh Zero Waste Bali, Instastory dari IG user @thelifeenhancers

Terakhir kami pulang dari acara tersebut membawa goodie bag dari Zero Waste Bali berupa tas katun berisi tester cokelat vegan dari Elevated Cacao, tisu roll tanpa kemasan plastik, kombucha, sikat gigi bambu, kapas katun reusable, dan satu kantong net dari ecoBali, tapi kalau saya dapat plus satu set kantong net dan mesh bagnya. Juga dapat foto dengan Bea Johnson difotoin my soul sister.. Aww such an amazing moment to have this opportunity!

Wah, ternyata ingatan saya masih bagus juga bisa menuangkan event yang saya ikuti satu tahun lalu ke dalam posting blog ini.

Jadi gimana, udah trash audit belum di rumah… sampah plastik kamu tahun 2019 ini terkumpul berapa toples? Hihihi.. ya meski belum bisa mengurangi timbulan sampah plastik menjadi seminim satu toples seperti Bea Johnson, at least udah audit, sebagian besar sampah plastik kamu itu kemasan produk apa aja, sih?

 

❤️ Intan Rastini

 

Girls’ Talk about Menstrual Cup

Yesterday, the teenage class at our learning center was quiet because only a few students came. The rest had a scout activity to attend. So there were only Delon, Oming, Mang Dewi, Kristi, Mang Listya. I guess just the five of them. I showed the cloth diapers of my sons, my menstrual pads and my menstrual cup. Yes! Maybe you will think it’s a little bit ghastly or disgusting. But I had made sure that everything was cleaned. I even had rewashed my menstrual cup, just to make sure no stain at all on the white surface. But you know what this is part of learning. I believe they would understand.

IMG_20190713_181720.jpg

Even more, I haven’t used my menstrual pad so long since I got my menstrual cup. So there we learnt and I let them touch my sons’ cloth diaper but not my feminine pads and my menstrual cup. They were eager and enthusiastic. Even Phoebe our current volunteer also wanted to see my menstrual cup. I demonstrated to them how to put the menstrual cup inside the vagina. It’s by folding it and then it will pop up inside the vagina. They were terrified of the pain when that thing is popped up inside the vagina. However, I told them that I always feel nothing when my menstrual cup is inside there. The silicone is soft and flexible, you won’t feel anything, trust me.

Oming and Mang Dewi said that they would use a menstrual cup when they were married. Well, that’s their personal options. Because in our eastern culture we don’t use tampons and we hold tight to our belief to keep our virginity by not letting anything get inside our vagina. But I have a different opinion about virginity. Never having sexual intercourse means virginity, although tampons, menstrual cup, and medical tools already got inside our vagina. Nevertheless, I had never used tampons, menstrual cup and never had medical tools inside my vagina before my marriage. So, I can’t say that my beliefe is right and their belief is wrong, that’s all so personal.

I myself used a menstrual cup for the first time was a few months after I gave birth to Kavin, my second son. If I was a teenager back then, I don’t know if I would be brave or interested in using a menstrual cup. But what I thought now, I would use a menstrual cup to reduce everyday disposable menstrual pad waste. To get its convenience during doing some sports because I love to exercise. And for the benefit of my health. Disposable menstrual pads are made with bleaching chemicals and plastics, they are actually nasty to our intimate and delicate area.

Yuck, nasty! That what I call nasty! Using disposable menstrual pad every month, so our intimate area is exposed to unhealthy things. But, showing my menstrual cup and cloth menstrual pad to my students is not considered nasty!

How about Phoebe’s reaction? Phoebe is a 20-year-old American girl, and she was pretty delighted to hear that there is a thing such as a menstrual cup! She hasn’t known before that menstrual cups exist! She couldn’t wait to tell her friends and sister about this! What great news! She told me that this is not fair that girls should always spend their budget on tampons every month, which is not cheap! A pack of tampons is about US$ 10. With one menstrual cup that you can buy through Amazon about US$ 23-28 (Diva Cup), you can wear it every month during your period, and that’s enough until 10 years!

Phoebe was amazed, and she asked me whether she could buy it here in Bali. So I said yes, she could buy at Zero Waste Bali store for Organicup that costs about Rp495.000 or at Love Anchor Canggu for Bali Dreams menstrual cup that costs Rp 150.000. Phoebe planned to go to Canggu this weekend and she directly texted her friends and sister about the menstrual cup. She told me maybe her friends and sister would like to get menstrual cups with her while in Bali.

It’s amazing that more girls are aware about their period and the waste that we can produce since we depend on feminine hygiene. Disposable menstrual pads and tampons can be reduced if we choose the most eco-friendly alternative.

IMG_20190713_181652.jpg

The picture of the menstrual cup shown here is the menstrual cup that I bought for my friend in Surabaya, Yanty. I bought it at Love Anchor Canggu weekend market for Rp150.000, the small-sized one. I chose the small size because she is already married, but she hasn’t given a vaginal birth yet. Even now OrganiCup has already launched the mini size for the teenagers. Hmmm, interesting!

I’ve been using menstrual cup for four years now. The crowds start to be interested to this eco-friendly alternative so that several brands of menstrual cup come up. If you wish to read my review about my menstrual cup, read here.

Now, how about you, girls? Have you considered your waste during your period?

♡ Intan Rastini

Eco-Enzyme is Amazing

IMG_20190106_073641.jpg

Why eco-enzyme is amazing? I have many benefits that I have experienced.

So, if you have ever heard about eco-enzyme, this would be familiar for you. But if you haven’t heard about it, you should check this out.

IMG_20190111_072010.jpg

Eco-enzyme is fermented solution or liquid mixture of food waste like fruit peels, brown sugar and water with the ratio of 3:1:10.

It is introduced by Dr. Rosukon Poompanvong the founder of organic farming association in Thailand. The idea of the project was to benefit the enzyme from organic trash which is commonly dumped.

IMG_20190106_075705.jpg

Here in my blog I just want to share my personal review after using eco-enzyme. I made my first eco enzyme on 6th of January 2019. I used orange peels and banana peels. The sugar that I use was white granulated sugar. And then I tried another food waste like dragon fruit peels mixed with rice water, which was not really successfully fermented I think.

IMG_20190106_075716.jpg

Next I used brown sugar rather than white granulated sugar. This brown sugar made a really thick mixture. All the eco enzyme that I have fermented for at least three months smell good. Except the eco enzyme with the rice water. It didn’t smell sweet and sour, anyway.

IMG_20190316_100623.jpg

I already used my eco enzyme for washing my motorbike, washing the dishes, washing my clothes, and mopping the floor.

IMG_20190106_102955.jpg

I really like it, but my husband doesn’t. Why he doesn’t really like eco enzyme it’s not because of the idea or the concept in reducing organic waste. It’s just because the eco enzyme is not producing bubbles or foam!

Well, I don’t blame him because his feeling of cleanliness is indicated by bubbles from the soap. Everybody almost has the same feeling. but not me. I think it is more to suggestive idea. I feel fine using soap without bubbles or foam. That’s totally alright if I get the cleanliness that I need.

IMG_20190307_121212.jpg

So, eco enzyme works well for me, yeaah…. because:

  1. It is completely natural, no chemical or harsh ingredients. This point will impact to the next points below!
  2. My hands become healthy because I am washing with natural liquid soap. I don’t feel dryness or irritation on my skin.
  3. It’s safe for my children’s skin if they need to wash their hands often with eco enzyme.
  4. When I wash my clothes or dishes with eco enzyme I don’t need an excessive rinse. Some soap with bubbles and foam need extra rinse to get rid of its bubbles, right? Moreover to get rid of its slick effect on the surface of dining wares.
  5. The residual water that I dump from washing won’t contaminate the environment.
  6. When I have a cut or an open wound on my skin and I need to keep doing the household chores, I don’t need to worry about the toxic that can get into contact with my wound.
  7. I can make best use of the organic waste from home. To sum up eco enzyme at home will make your family healthy and your environment healthy as well.

IMG_20190308_093744.jpg

So, why not using eco enzyme? We can use it for:

  1. Washing dishes
  2. Washing clothes
  3. Mopping floor
  4. Cleaning the glass window
  5. Insect repellent
  6. Fertilizer
  7. Bathing pet
  8. Avoid or fix drainage clog
  9. Garden care
  10. Skin care

Making eco enzyme needs a little more time and effort. However, once you have made it successfully with your energy, patience and determination, you will feel how beneficial it is in one solution for all! Plus it is an environmentally-friendly home cleaning liquid. It is purely less toxic from the most chemically manufactured liquid cleaners.

More information about Eco Enzyme.

♡ Intan Rastini

Eco-Stylish Wooden Sunnies

Have you ever heard about sunglasses made from woods or bamboo? Even, recently I’ve noticed sunglasses made from the recycled skateboard material. Sustainable development* is getting wide-spread. People are thinking about more eco-friendly products nowadays. Something that we can renew, regrow, reuse, recycle is more considerable to make a new trend. In addition, using an eco-friendly product, I believe will make us feel less guilty about polluting our lovely planet Earth.

I think everybody likes a good environment but even better when you can see natural elements make a really amazing fashion.

-Wooden Sunnies

By the end of August, I joined an Instagram giveaway held by the Wooden Sunnies. There were bamboo sunglasses as the prize, so I was really interested to join it. Then I won. Yes, I won the bamboo sunglasses!!!

screenshot_2018-09-20-20-31-53-548_com246501934.png

I got contacted via a direct message by the owner of Wooden Sunnies. He said that I would be the winner, but because of the bamboo glasses on the giveaway are quite big, he offered me a Lolita, instead. Wanna know which one is the bamboo sunglasses and which one is Lolita?

These are the bamboo sunglasses. Aren’t they cool to make you stand out?

And these sunglasses are Lolita. Oh so stunning!

img_20180920_2029341114241636.jpg

I bet the bamboo sunglasses would fit my husband rather than me because he has a big head, really a big head for an Asian man. I like the bamboo sunglasses because the bamboo material is eco-friendly and regrowable easily yet it is also sustainable. However, I wasn’t disappointed at all when Mr. Joel, the Wooden Sunnies owner, told me that he would send Lolita for me because he believed Lolita suited better for ladies rather than the bamboo ones.

Lolita sunglasses have a transparent plastic frame edge, but the arms are zebra wood. Zebra wood is kind of wood from Africa that has very noticeable stripes of zebra pattern. Mr. Joel told me that he was unsure about the Lolita as it has a plastic edge, but then it becomes favorite! He sells this one more than all others lately. Yes, indeed Lolita really looks great. Lolita sunglasses has surprised Mr. Joel because they are sold out the quickest. These sunnies are perfect for everyone. Fit men and women.

photogridlite_1537444726178715859234.jpg

My Sunnies prize is packed with a bamboo cylindrical container, just like a hollow big bamboo stem. It is also provided with a black fabric pouch and a lens cleaning cloth. As Lolita arrived at my home… My husband tried to put them on but they don’t fit my husband! Wow! His head is really big or Lolita sunnies are quite small? Even my son tried wearing them too and they fit pretty well on him! Hahaha… So actually Lolita fit everyone, except my husband. The head’s width of my husband is big enough for Lolita. So maybe, as I guess, the bamboo sunglasses will suit him better.

photogridlite_15374447993261708413768.jpg

photogridlite_15374448504341877272885.jpg

When I get Lolita, I look into its wooden arms, they are engraved with “polarized” on the left side and “handmade” on the right side. Lolita is handmade and it is also equipped with polarized lenses. The front lenses have a mirror finish that reflects images just like a metallic mirror. It is handmade, so it is so special. How about “polarized”? what does it mean? Polarized is a term for the lenses of the sunglasses that help to reduce reflected glare from the water and flat surfaces.

How do polarized lenses work? Light usually scatters in all directions; but when it’s reflected from flat surfaces, it tends to become polarized – meaning it travels in a more uniform (usually horizontal) direction. This creates an annoying and sometimes dangerous intensity of reflected light that causes glare and reduces visibility.

Polarized lenses contain a special filter that blocks this type of intense reflected light, reducing glare. They provide superior glare protection – especially on the water. Polarized lenses also may reduce the visibility of images produced by liquid crystal display (LCDs) or light emitting diode displays (LEDs) such as digital screens. So, with polarized lenses, you may be unable to see your cell phone or GPS device (Reference: http://www.allaboutvision.com – Polarized Sunglasses).

photogridlite_1537444773954661863717.jpg

I have proved it myself, when I was taking pictures at the beach, it was hard to see my phone display with the sunglasses on. The display was totally dark. However, it was really cool to wear Lolita at the beach as it was totally sunny and the sunlight glaring from the sea water. The vision through Lolita lenses are clear but the sunlight is not strikingly bright to my eyes. They are lightweight and now are my best friends in this tropical sunny country. The wooden sunnies are perfect for outdoor activity and to protect my eyes from the sunlight.

photogridlite_15374454795641414484925.jpg

I am lucky I got these cool handmade wooden sunnies as a prize. If you buy these sunnies from Wooden Sunnies, $10 of every sale goes to plasticoceans.org. You are not only purchasing an eco-stylish product but also contributing to the sustainability of marine life too. Well, so many thanks to Wooden Sunnies who had considered kindly the suitable sunnies for me as a perfect gift and moreover for raising awareness to the single-use plastic that pollutes our planet. For a better earth for our children, grandchildren and grand grandchildren.

photogridlite_15374454551361111426553.jpg

Something renewable, regrowable and sustainable. It makes people feel a little bit better about what they’re doing.

– Wooden Sunnies

photogridlite_15374449997781595921145.jpg

photogridlite_15374449563121599626300.jpg

If you are interested to seek wooden sunnies and be friends with the sustainable ecosystem, please go and check… http://www.woodensunnies.com they have various styles of sunglasses. Even more, this September Wooden Sunnies has launched a new range called ‘EmDeez’. The new ones are round sunglasses made from dark and light bamboo frame. Aaaww, another adorable bamboo sunnies… What are you waiting for? Let’s check it out!

screenshot_2018-09-20-20-35-13-292_com1489037087.png

*Based on Encarta Dictionary, sustainable development means an economic development without polluting environment: economic development maintained within acceptable levels of global resource depletion and environmental pollution

photogridlite_1537445792941383974869.jpg

💚 Intan Rastini

Ekowisata Mangrove Wonorejo Surabaya

Tempat kedua di Surabaya yang kami kunjungi setelah RPTRA Taman Prestasi Ketabang Kali adalah hutan mangrove di Wonorejo, Rungkut. Ini termasuk kawasan konservasi dan ekowisata. Sebenarnya Surabaya itu panas banget ya, apalagi kalau berkunjung ke ruang terbuka di waktu siang hari seperti kami. Tapi untung di Ekowisata Mangrove Surabaya ini pohon bakaunya udah besar-besar jadi lumayan teduh.

Akses ke hutan bakau di Rungkut ini agak susah karena tidak terletak di pinggir jalan utama, kami harus masuk-masuk sampai ke pemukiman warga hingga ke kompleks perumahan baru. Tempat parkirnya cukup luas, kok. Ada untuk sepeda motor dan ada untuk mobil. Saat itu kami naik mobil dan tarif parkirnya Rp 5.000.

Pertama kali menginjakkan kaki di sana, saya melihat ada gedung kantor dan ada hall terbuka. Selanjutnya akan ada jalan jembatan kayu yang dibangun sepanjang area hutan bakau. Untuk masuk ke kawasan konservasi hutan bakau ini gratis. Di sepanjang jembatan kayu kami bisa melihat ada nama-nama tanaman jenis bakau. Juga ada spot khusus foto dan disediakan fotografer tapi sayang saat itu sedang tutup.

img_20180622_1409091494860974.jpg

Selama menyusuri hutan bakau, kami bisa melihat ada pedagang es, pedagang pentol keliling. Kalki sempat beli es krim, untuk harga es krim yang seharusnya Rp 3.000 dijual seharga Rp 6.000. Tidak lupa juga kami beli pentol hehehe…. Beli pentolnya cukup Rp 5.000 aja itu udah pakai bumbu kacang.

Di sana nggak melulu jalanan jembatan kayu, ada juga jalan aspal dan berpavink. Di jalan aspal kami mendapati bangkai perahu yang masih bagus di pajang di atas tanah yang agak lebih tinggi. Sayangnya perahu tersebut berdebu dan kotor jadi saat Kavin dan Kalki mau main ke atas perahu, saya tidak kasih. Lalu ada musholla dan ada kantin. Di dekat kantin terdapat kandang ular dan kandang monyet. Nggak tau siapa yang punya, tapi kandang ular dan monyetnya diletakkan berdekatan gitu. Kasian, apa nggak stress ya monyetnya?

Setelah kantin, ada kantor dan juga sebagai loket naik perahu menyusuri hutan bakau melalui sungai hingga ke muara. Lalu kami terus berjalan hingga ke jogging track. Di kawasan jogging track inilah ada jalan jembatan kayu lagi, di sini hutan bakaunya lebih lebat dan lebih teduh. Bahkan kami buka perbekalan di atas jembatan kayu sambil sesekali berfoto-foto. Yeah, jogging track is my favorite place! saya sempat coba jogging kecil disana dan kayu jembatannya agak kurah stabil dan kokoh buat lari karena bergerak-gerak dan bunyi juga hihi…

img_20180622_1407351080180322.jpg

Setelah makan siang ala piknik di hutan mangrove, kami melanjutkan jalan kaki menyusuri jembatan kayu kawasan jogging track. Di setiap beberapa meter disediakan tempat sampah organik dan anorganik. Juga ada papan penjelasan untuk jenis-jenis tanaman bakau yang ada di sana. Kalki setiap melihat papan penjelasan minta dibacain oleh opanya hehehe… Cocok banget kan sebagai wisata edukasi.

 

Di tengah perjalanan menyusuri jogging track, kami melihat orang-orang lainnya heboh karena ada seekor monyet. Ternyata itu monyet yang terlepas, karena di lehernya ada kalung dan tempat rantai. Kami juga nggak tau ini monyet siapa. Tapi monyetnya cukup jinak dan tidak membahayakan. Jadi sepanjang kami menyusuri jogging track hingga berujung di sebuah dermaga kayu pinggir sungai, monyet ini masih mengikuti di sekitar kami.

img_20180622_1338401031433691.jpg

img_20180622_1338581073120114.jpg

Halo saya Kavin! dan saya tertarik dengan monyet, mungkin juga karena arti namanya saya bisa sebagai “raja monyet” makanya saya senang bertemu rakyat saya 😀

 

Setelah sampai ujung jogging track yang mana udah ketemu sungai, kami jalan balik lagi ke arah kantin. Di kantor loket perahu, mama saya membeli karcis buat naik perahu. Harga tiketnya Rp 25.000 per orang. Tapi untuk Kavin yang maish balita gratis. Tapi naik perahu motornya harus menunggu kloter. Sambil menunggu kami duduk-duduk di dermaga. Disana ada beberapa orang sedang asyik mancing. Dan seperti ruang terbuka sebelumnya yang kami kunjungi, disini juga terdapat beberapa ekor kucing! Kayaknya di Surabaya emang banyak kucingnya, ya.

 

 

Saat perahu datang menurunkan penumpang, kami penumpang baru pun naik. Perahu motor ini membawa sekitar 20 penumpang menyusuri sungai sampai ke muara. Selama perjalanan kami bisa melihat beberapa macam burung yang hinggap dan terbang di antara pohon bakau. Kebanyakan sih burung putih seperti bangau. Lalu sampailah kami di hutan bakau dekat muara. Kami diturunkan di dermaga dan diberi waktu 15 menit untuk jalan-jalan.

img_20180622_145013305876993.jpg

Hutan bakau di muara sudah mengarah ke pantai. Ada bagian hutan lebatnya dan ada bagian yang sudah terbuka karena semakin ke pesisir, disana masih sama jalurnya adalah jembatan. Tapi kali ini bukan jembatan kayu saja, tapi juga jembatan anyaman bambu di area pesisir. Kalki dan Kavin melihat banyak sekali hewan ikan berkaki di pesisir pantai dari atas jembatan bambu. Opa bilang itu salamander. Ikan Salamandernya mirip lele tapi kecil-kecil ukurannya dan berkaki, dengan lincah mereka merayap-rayap di permukaan becek dan berlumpur. Gemes deh lihatnya.

 

 

Di kawasan pesisir disediakan musholla, toilet dan gazebo besar untuk bersantai menikmati pemandangan. Setelah menikmati kawasan pesisir, kami kembali menuju dermaga melalui jalur jembatan ke hutan bakau yang lebat, di hutan bakau ini lah saya melihat banyak sampah di permukaan tanahnya. Mungkin karena ini adalah muara jadi segala sampah yang terbawa sungai hanyut dan nyangkut disini diantara tanaman-tanaman bakau di muara. Sayang banget, jadi kotor kawasan ekowisatannya.

 

Kami pun kembali lagi untuk pulang menuju dermaga pertama. Karena hari sudah sore, ini adalah kloter perjalanan dengan perahu yang terakhir. Kalau tidak salah wisata naik perahu tutup pukul 16:00. Saat kami kembali loket tiket perahu saja sudah tutup. Kami berjalan pulang menuju parkiran sebagian besar bersama para pengunjung yang lainnya yang merupakan teman naik perahu kami tadi.

Kalki seneng banget di ajak ke kawasan Ekowisata Mangrove Surabaya sampai-sampai kakak Kalki bilang gini, “Tempatnya bagus oma, terima kasih ya oma, udah ajak Kalki kesini.” Hihihi… Untuk jaga-jaga selama membawa anak ke tempat wisata hutan mangrove sebaiknya bawa lotion anti nyamuk. Karena lumayan banyak nyamuk juga saat di dalam hutan bakau yang rindang. Sekian dulu cerita wisata di Surabaya, lanjut lagi next post, ya….

 

Ekowisata Mangrove Surabaya
Alamat: Jalan Raya Wonorejo No. 1, Wonorejo, Rungkut, Wonorejo, Rungkut, Kota SBY, Jawa Timur 60296
Jam buka: 08.00 – 16.00
Telepon: (031) 8796880

❤️Intan Rastini