Ekowisata Mangrove Wonorejo Surabaya

Tempat kedua di Surabaya yang kami kunjungi setelah RPTRA Taman Prestasi Ketabang Kali adalah hutan mangrove di Wonorejo, Rungkut. Ini termasuk kawasan konservasi dan ekowisata. Sebenarnya Surabaya itu panas banget ya, apalagi kalau berkunjung ke ruang terbuka di waktu siang hari seperti kami. Tapi untung di Ekowisata Mangrove Surabaya ini pohon bakaunya udah besar-besar jadi lumayan teduh.

Akses ke hutan bakau di Rungkut ini agak susah karena tidak terletak di pinggir jalan utama, kami harus masuk-masuk sampai ke pemukiman warga hingga ke kompleks perumahan baru. Tempat parkirnya cukup luas, kok. Ada untuk sepeda motor dan ada untuk mobil. Saat itu kami naik mobil dan tarif parkirnya Rp 5.000.

Pertama kali menginjakkan kaki di sana, saya melihat ada gedung kantor dan ada hall terbuka. Selanjutnya akan ada jalan jembatan kayu yang dibangun sepanjang area hutan bakau. Untuk masuk ke kawasan konservasi hutan bakau ini gratis. Di sepanjang jembatan kayu kami bisa melihat ada nama-nama tanaman jenis bakau. Juga ada spot khusus foto dan disediakan fotografer tapi sayang saat itu sedang tutup.

img_20180622_1409091494860974.jpg

Selama menyusuri hutan bakau, kami bisa melihat ada pedagang es, pedagang pentol keliling. Kalki sempat beli es krim, untuk harga es krim yang seharusnya Rp 3.000 dijual seharga Rp 6.000. Tidak lupa juga kami beli pentol hehehe…. Beli pentolnya cukup Rp 5.000 aja itu udah pakai bumbu kacang.

Di sana nggak melulu jalanan jembatan kayu, ada juga jalan aspal dan berpavink. Di jalan aspal kami mendapati bangkai perahu yang masih bagus di pajang di atas tanah yang agak lebih tinggi. Sayangnya perahu tersebut berdebu dan kotor jadi saat Kavin dan Kalki mau main ke atas perahu, saya tidak kasih. Lalu ada musholla dan ada kantin. Di dekat kantin terdapat kandang ular dan kandang monyet. Nggak tau siapa yang punya, tapi kandang ular dan monyetnya diletakkan berdekatan gitu. Kasian, apa nggak stress ya monyetnya?

Setelah kantin, ada kantor dan juga sebagai loket naik perahu menyusuri hutan bakau melalui sungai hingga ke muara. Lalu kami terus berjalan hingga ke jogging track. Di kawasan jogging track inilah ada jalan jembatan kayu lagi, di sini hutan bakaunya lebih lebat dan lebih teduh. Bahkan kami buka perbekalan di atas jembatan kayu sambil sesekali berfoto-foto. Yeah, jogging track is my favorite place! saya sempat coba jogging kecil disana dan kayu jembatannya agak kurah stabil dan kokoh buat lari karena bergerak-gerak dan bunyi juga hihi…

img_20180622_1407351080180322.jpg

Setelah makan siang ala piknik di hutan mangrove, kami melanjutkan jalan kaki menyusuri jembatan kayu kawasan jogging track. Di setiap beberapa meter disediakan tempat sampah organik dan anorganik. Juga ada papan penjelasan untuk jenis-jenis tanaman bakau yang ada di sana. Kalki setiap melihat papan penjelasan minta dibacain oleh opanya hehehe… Cocok banget kan sebagai wisata edukasi.

 

Di tengah perjalanan menyusuri jogging track, kami melihat orang-orang lainnya heboh karena ada seekor monyet. Ternyata itu monyet yang terlepas, karena di lehernya ada kalung dan tempat rantai. Kami juga nggak tau ini monyet siapa. Tapi monyetnya cukup jinak dan tidak membahayakan. Jadi sepanjang kami menyusuri jogging track hingga berujung di sebuah dermaga kayu pinggir sungai, monyet ini masih mengikuti di sekitar kami.

img_20180622_1338401031433691.jpg

img_20180622_1338581073120114.jpg

Halo saya Kavin! dan saya tertarik dengan monyet, mungkin juga karena arti namanya saya bisa sebagai “raja monyet” makanya saya senang bertemu rakyat saya 😀

 

Setelah sampai ujung jogging track yang mana udah ketemu sungai, kami jalan balik lagi ke arah kantin. Di kantor loket perahu, mama saya membeli karcis buat naik perahu. Harga tiketnya Rp 25.000 per orang. Tapi untuk Kavin yang maish balita gratis. Tapi naik perahu motornya harus menunggu kloter. Sambil menunggu kami duduk-duduk di dermaga. Disana ada beberapa orang sedang asyik mancing. Dan seperti ruang terbuka sebelumnya yang kami kunjungi, disini juga terdapat beberapa ekor kucing! Kayaknya di Surabaya emang banyak kucingnya, ya.

 

 

Saat perahu datang menurunkan penumpang, kami penumpang baru pun naik. Perahu motor ini membawa sekitar 20 penumpang menyusuri sungai sampai ke muara. Selama perjalanan kami bisa melihat beberapa macam burung yang hinggap dan terbang di antara pohon bakau. Kebanyakan sih burung putih seperti bangau. Lalu sampailah kami di hutan bakau dekat muara. Kami diturunkan di dermaga dan diberi waktu 15 menit untuk jalan-jalan.

img_20180622_145013305876993.jpg

Hutan bakau di muara sudah mengarah ke pantai. Ada bagian hutan lebatnya dan ada bagian yang sudah terbuka karena semakin ke pesisir, disana masih sama jalurnya adalah jembatan. Tapi kali ini bukan jembatan kayu saja, tapi juga jembatan anyaman bambu di area pesisir. Kalki dan Kavin melihat banyak sekali hewan ikan berkaki di pesisir pantai dari atas jembatan bambu. Opa bilang itu salamander. Ikan Salamandernya mirip lele tapi kecil-kecil ukurannya dan berkaki, dengan lincah mereka merayap-rayap di permukaan becek dan berlumpur. Gemes deh lihatnya.

 

 

Di kawasan pesisir disediakan musholla, toilet dan gazebo besar untuk bersantai menikmati pemandangan. Setelah menikmati kawasan pesisir, kami kembali menuju dermaga melalui jalur jembatan ke hutan bakau yang lebat, di hutan bakau ini lah saya melihat banyak sampah di permukaan tanahnya. Mungkin karena ini adalah muara jadi segala sampah yang terbawa sungai hanyut dan nyangkut disini diantara tanaman-tanaman bakau di muara. Sayang banget, jadi kotor kawasan ekowisatannya.

 

Kami pun kembali lagi untuk pulang menuju dermaga pertama. Karena hari sudah sore, ini adalah kloter perjalanan dengan perahu yang terakhir. Kalau tidak salah wisata naik perahu tutup pukul 16:00. Saat kami kembali loket tiket perahu saja sudah tutup. Kami berjalan pulang menuju parkiran sebagian besar bersama para pengunjung yang lainnya yang merupakan teman naik perahu kami tadi.

Kalki seneng banget di ajak ke kawasan Ekowisata Mangrove Surabaya sampai-sampai kakak Kalki bilang gini, “Tempatnya bagus oma, terima kasih ya oma, udah ajak Kalki kesini.” Hihihi… Untuk jaga-jaga selama membawa anak ke tempat wisata hutan mangrove sebaiknya bawa lotion anti nyamuk. Karena lumayan banyak nyamuk juga saat di dalam hutan bakau yang rindang. Sekian dulu cerita wisata di Surabaya, lanjut lagi next post, ya….

 

Ekowisata Mangrove Surabaya
Alamat: Jalan Raya Wonorejo No. 1, Wonorejo, Rungkut, Wonorejo, Rungkut, Kota SBY, Jawa Timur 60296
Jam buka: 08.00 – 16.00
Telepon: (031) 8796880

❤️Intan Rastini

Advertisements

A Tour to Rainbow Warrior: a Greenpeace Ship Landed in Bali

A day after Kavin’s 3rd birthday, we went to port Benoa. A greenpeace famous ship has been landed on Bali, at the port Benoa. I didn’t want to miss this chance so I asked my husband to go there with the kids. It is a rare opportunity to see the Rainbow Warrior and even go inside the ship. Greenpeace journey has been started in Papua, the second place to land was Bali, Next is going to be Jakarta for a week on April 23-29 2018. The journey is called “Jelajah Harmoni Nusantara” Rainbow Warrior Southeast Asia Ship Tour 2018.

1

From Angkah village in Selemadeg Barat, Tabanan to port Benoa it takes about 2.30 hours by motorbike. Our destination is approximately 50 km away. When we arrived on the Benoa highway, we had to pay the entrance highway fee for motorbike Rp 2,000. At the port, we didn’t need to pay any entrance fee or parking fee. It was all free. The Rainbow Warrior open boat event held by Greenpeace was also totally free. This event is held on April 14-15 2018 from 9:00-12:00 and 13:00-16:00. We came on Saturday, April 14 at 13:00.

Port of Benoa

When we arrived at the port Benoa, we had lunch first by the dock. We brought our lunch box and we shared meal with 4 persons: my husband, Kalki, Kavin and me. It was very hot at the port, by the way. We already prepared bringing 4 drinking bottle containing 3,1 L of water. And it was insufficient for the four of us. Because we were sweating a lot and we need drinking much water to rehydrate our body. We felt so thirsty almost all the time.

324

After having lunch, we could visit the handycraft stands by local communities who care to the environment and their products are mostly eco-friendly or by recycled materials. Kalki and Kavin tried to chill out at the painting tent, there were some cozy beanbags for lying down or sitting down. We could enjoy the ocean breeze here, and let the kids paint on a cut unused posters’ backside.

 

At 1 pm we made a line to enter the Rainbow Warrior. A group of visitors that allowed to enter in every session was 25 persons excluded children.  We went inside the ship in the first session.  There was an Indonesian tour guide who explained about the Rainbow Warrior. This Rainbow Warrior Ship was the third ship of Greenpeace. The first had been bombed by the French intelligent agent and the second one was too old to be operated. Next, Greenpeace made its own ship unlike its two ships before that those are modified ships.

 

Something unique about the ship that it has a dolphin wooden statue, its name is Dave the Dolphin. And it was brought from the first ship. There was also a classic hand bell in front of the steering room. Ships used to use hand bell in old times to acknowledge its coming but nowadays because of radio, GPS and etc, we don’t need hand bell anymore. In Rainbow Warrior there is a tradition to ring the hand bell on a new year’s eve by the youngest ship’s crew.

44

This third Rainbow Warrior is a sailboat with modern technology. It uses wind energy to sail, but it can use diesel too when there is no wind.This ship has big strong sail poles which form like the  alphabet “A” structures. Because of its huge sails, it uses machine to expand them and also with the help of the crews. There are some monitors in the steering room and as a controlling room also. Luckily, Kalki had the opportunity to sit on the captain’s seat! There were so many buttons and panels. Visitors and especially children were not allowed to touch anything there.

 

The Rainbow Warrior’s crew who explained about the ship was Reinoud, his position is 2nd mate – I don’t know what it means. Unfortunately I didn’t ask him what exactly his posisition was about. I just asked about where the captain was. And the captain was discussing something with the crews in the other room behind the steering room.

18

Reinoud the 2nd Mate in the steering room and a translator

Reinoud explained that this ship has ever been followed by government war ships so close behind. He said that some government or companies felt afraid of the Rainbow Warrior. So, it’s good that they felt afraid because it meant that they did something wrong. Even their captain had also been terrorized too. The captain of Rainbow Warrior is a dutch woman named Hettie Geenen.

 

After going inside the steering room we went to the conference room. It was such a multifunctional room with a projector hanging on the ceiling. The crew could also set up some gym equipments there so they could do exercise. At that room, we watch a short video presenting about what Greenpeace had done especially in Indonesia.

 

Next tour was to the Helipad. Yes Rainbow Warrior has a landing deck for a helicopter. On the helideck there were some knockdown wooden wall for sticking posters about Greenpeace international. So we could read what kind of environmental issues that Greenpeace had been fighting for. From plastic waste to electronic waste, farming land that would be used as a mega electricity plan with coal, massive deforestation to start palm farming, air pollution, even about the bombing of the first Rainbow Warrior Ship.

14042018(020)

23

Welcome to Indonesia, Greenpeace!

The tour inside Rainbow Warrior maybe only took 15-20 minutes only. The next groups kept going on and on as the first group ended the tour. After I finished my tour, I took a rest by sitting down under the trees’ shadows. Because I had something to ask to the ship crew, I joined the next session for the second time. This time I went only with kalki. The tour was the same as the first. At the first session Kalki hadn’t got the chance for sitting on the captain’s seat, but at the second time, he got it.

45

I met with Sabine Skiner from Germany this time. She is the mechanic of Rainbow Warrior. I asked her whether there were any Indonesian crew in Rainbow Warrior. She said there were 16 crews from 14 different countries. 2 crews are from Indonesia: 1 deck-hand crew and 1 as a volunteer. At last, I asked Sabine to sign on my notebook.

15

 

Next, I skipped watching video in the conference room, I directly went straight to the helideck and read few articles there and then Kalki and I went to the land to meet Kavin and my husband. It was very nice to be inside of Rainbow Warrior and to meet the ship’s crews. Unfortunately I didn’t meet every crew of Rainbow Warrior and what I waited the most was to meet the ship’s chef, Daniel Bravo.

47

It was said by the Indonesian tour guide that all crew in this ship weren’t not only activists but they were also scientist and researchers. Meeting the only chef of the ship is very interesting to me, to know about what kind of menu did he always cook for all the crew and… besides that, he also looked like Orlando Bloom to me, haha. Reminding me to Pirates of the Caribbean so much!

46

It was a little bit disappointing that the visitors were not given a tour to every cabin and to the kitchen. We also couldn’t meet to every ship’s crew because only one crew that was in charge in the steering room to welcome the visitors. By chance, I noticed the other ship’s crew like Shuk Ning Cheung as a volunteer deck hand, Daniel Szony as 3rd mate and another crew inside the tools and equipments room, but I didn’t know who he was. Sabine said that Daniel was from Hungary. He appeared in the steering room at that time.

 

On the dock near by the ship was moored, we could enjoy dragon fruit juice and another fruit juice, but we needed to bring our own tumblr to get that juice. I didn’t know whether it was free or not so I didn’t  go to get that juice. There was also loud music by two DJs but they were gone at about 1.30 pm. There were a community which cared to the plastic waste named Bye Bye Plastic Bags, two persons came to me and asked a permission to interview about my concern to plastic waste.

 

There was also another community like Trash Hero, and the others that I din’t pay attention that much. However mostly there were communities that care to the environment and want a better change for Planet Earth. This time Greenpeace came bringing a campaign to use renewable energy, there was a giant phrase showed on the ship’s net: BALI GO RENEWABLE. And also on a long banner attached on the ship’s fence: “BALI SAATNYA BERALIH KE ENERGI TERBARUKAN”. Are you ready to use renewable and stop using plastic bags?

43

Our Indonesia’s minister of Maritime Affairs and Fisheries, Susi Pudjiastuti had visited Rainbow Warrior when it was landed in Papua, how about you? To me it is a cool opportunity that I won’t miss! Let’s join to be an ocean defender!

47

It was so hot! But a cool experience though

40

Greenpeace lifeboat

39

Balinese traditional offering to welcome the Rainbow Warrior Ship in Bali

♡ Intan Rastini

Trip to the Secret Waterfalls

We love to be in the nature. I have been living in a natural village in Bali for about 6 years. This village is not the center of tourist attraction like Penglipuran Village, so it is quiet and quite remote. Our village is Angkah Village which is surrounded with paddy fields and the woods.

 

Before I got pregnant I had explored the Balian river and dam in our village. It has a long and wide stream with several big rocks. After I have Kalki and Kavin, I work as an English teacher in Samsaman Village. I got an information from my students at the learning center that there are waterfalls in the village we can visit I guess there are two different waterfalls, one in Angkah village and the other one is in Samsaman Village. Angkah and Samsaman are closed to each other.

 

My first time visiting the waterfalls in Samsaman, it was with my students and a volunteer from the USA. The access to the waterfalls was still new. Probably the residents had just opened a new road through the forest to the waterfalls with an excavator. However the road to the waterfall is only for the beginning. Next we still need to hike on the path down the hill in the woods.

That’s why I call it as secret waterfalls because before they opened the road, just certain villagers who had known or accessed the waterfalls. It is located behind the villagers’ residence. Almost hidden, I could say. We can go there by motorcycle or car first until flat road ends. On the new road is just bare land without asphalt or cement. We can park our vehicles on the new road, because the slopes begin there, so we have to go on foot.

After the new road ends, we will walk in the woods with small path. The road and the path are really steep sometimes. We need to keep hiking downward to go to the waterfalls. Until we arrive at the cliff edge and we have to climb the cliff down about 1.5-2 meter height. It is very dangerous if the cliff is wet because of the rain. So, we always make sure to go to the waterfalls on a sunny day.

 

There are two waterfalls there. The first is very wide and we can walk on the top of it. The first waterfall is near from the start point but we need to climb down the cliff  a little bit to get there. It’s more narrow and there is a stream with rocks just like a pool where we can play splashing water or soak our body. The depth is only 1 meter. From the first waterfall we can see the view from a high hill because there will be still the second waterfall which is the highest and it flows down the hill straightly to the Balian River below.

IMG_20170702_144633

The top of the first waterfall, my husband walked across to be on the top of it

 

IMG_20170702_145435

Touch down the first waterfall

IMG_20170702_145346

There are many rocks

20170702_150607

I could see rainbow below the waterfall

20170702_150409

It was beautiful

 

20170702_150915

The view from the top of the second waterfall, we can see the Balian river down there

20170702_161036_tgzzkp

The last waterfall

Both of the waterfalls are connected to each other. The last waterfall is very massive, it is about 20 m height. To go to the last one we need to hike further to the forest downhill with more dangerous and difficult path. At the bottom of the waterfall there is a pool surrounded by the natural rocks and the water of the pool keep flowing straightly to the Balian River. The pool depth is about 1.5-4 meters.

IMG_20170702_145441

we need to climb down the cliff a little bit to get to the first waterfall

I have been to the waterfalls twice. At first with my students and a volunteer was only until the first waterfall. We played in the pool and took some photos. We could stand up on the big rock on the top of the second waterfall and we could see the magnificent view of green hills and the stream of Balian River from above the highest waterfall.

This slideshow requires JavaScript.

The second time I went there with Kalki and my husband. We didn’t take Kavin with us because it is quite dangerous and tiring to a smaller kid. We went down until the second waterfall. If we kept walking down the hill we would have arrived on the Balian River. At the second waterfall, we had to leap over rocks until we arrived at the pool as the bottom of the waterfall. Me and Kalki ate some snacks on a giant rock while my husband was swimming on the pool.

20170702_161847

My husband couldn’t stand not to swim there

20170702_161546

Swimming in the cold cold water

20170702_161005

Massive waterfall

20170702_160125

We went down hill to the second waterfall where the water falls from 20 m height

It was cold to be at the waterfall, moreover to swim there. My husband was shivering just after swimming. It became colder as it was getting dark in the afternoon. We decided to went back before it was too late, in the dark we would see nothing in the forest. We had to hike the hill upward on our way home. It was very tiring for us espescially Kalki. My husband carried Kalki on his back whenever he said that he was tired to walk. We also stopped to take a rest or drink for several times.

20170702_170919

My husband carried Kalki when he was tired to walk

After all it was always a fantastic journey to explore the new waterfalls near our home. We really enjoyed the natural scenery and the challenging adventure. Me and Kalki was using wood sticks as walking cane to help us hike the hill down and up during the trip. It just wasn’t really help when we needed to climb some rocks. I’ve heard that some international volunteers from my work place also visited the waterfalls. The Portuguese boys even did cliff jumping at the last waterfall. Wow! Do you have the gut to try?

 

Intan Rastini.

How to Make a Cartoon Wayang

Hello, weekend is coming and we will have more spare time with the kids. Here is one of my idea to make a creative activity with Kalki and Kavin. My sons need figures to play instead of dolls, so I tried to make them cartoon wayangs with their own characters, Kalki and Kavin. With wayang Kalki learns about storytelling and confidence 🙂

Let’s go, I’ll show you how to make some…

Tools and Materials

24112017(009)

  1. Piece of carton
  2. Palm sticks
  3. Tape
  4. Pencil
  5. Coloring Pencils
  6. Scissors
  7. Needle
  8. Thread
20171124_090338

I use the carton from my toddlers’ milk boxes to recycle them too

How to make

  1. Draw a character on a piece of carton. What I drew was my sons, Kalki and Kavin figures. You can draw your children figures or any animation characters.
  2. Color the character or let your children do the coloring.
  3. Cut out the character and then also cut off the joints: the arms, elbows and knees.
  4. Join each arm to the shouldres and join the elbows together as well as the knees by sewing them with the thread and needle. I just need to make two holes to sew the joints.
  5. Attach the palm stick to the character’s center body on the backside of the carton. Use the tape to stick it.
  6. Attach a palm stick to each hands and fix it with the tape.
  7. A cartoon wayang made on carton is done! Ready to play…!
13122017(002)

The backside of the carton, I use transparent tape to attach the palm sticks

 

Just after I have finished making the Kalki and Kavin cartoon wayang, Kalki asked me for Oma and Opa cartoon wayang. And then Maybe he would ask for more characters…

So I made him two cars cartoon wayang instead. Because they are easier, I didn’t need to sew the carton. I just draw, color, cut out and then attach the stick and it’s done.

 

Kalki played the cartoon wayang in the dark with a white screen and a shooting lamp behind the screen. So there were the shadows of the wayang on the screen. He made up a story while playing the characters. But you don’t need to play with the screen and lamp. You can make a scenery background instead.

 

Happy playing cartoon wayang 🙂

Intan Rastini.

Berpetualang di Alam Bebas

Seringkali si kecil bosan bermain di rumah saja. Bagaimana jika mengajak anak bermain di luar? Eh tapi yang saya maksud bukan bermain di arena bermain dalam pusat perbelanjaan atau tempat bermain anak-anak di restoran cepat saji. Memang tempat tersebut biasanya merupakan tempat favorit bermain si kecil.

Bermain di luar yang saya maksud adalah bermain di alam bebas. Selain bagus untuk kebugaran dan sistem kekebalan tubuh si kecil, bermain di alam terbuka baik untuk meningkatkan kecerdasan naturalis si kecil, lho! Kecerdasan naturalis ini berkaitan dengan kemampuan merasakan bentuk-bentuk dan menghubungkan elemen-elemen yang ada di alam.

Berjalan diantara semak bunga Seruni di kebun cokelat

​​

Bermain di sawah dan terus aktif bergerak!

Jika kecerdasan naturalis si kecil menonjol, sejak dini ia akan menunjukkan ketertarikan yang besar terhadap lingkungan alam sekitarnya, termasuk binatang. Mereka akan mudah menyelaraskan diri dengan alam dan tidak gampang jijik atau bahkan takut memegang binatang. Selain itu mereka juga senang memerhatikan fenomena atau benda-benda di angkasa seperti awan, pelangi, bintang dan bulan.

Bermain dengan Riki, anjing tetangga

Udah jelas kan manfaat bermain di alam terbuka? Untuk mengasah kepekaan si kecil terhadap lingkungan, menumbuhkan kepedulian akan kelestarian lingkungan hidup, agar tidak mudah sakit karena paparan lingkungan alam terbuka membuat sistem kekebalan tubuhnya berkembang, mengajak anak untuk aktif bergerak sehingga kebugarannya terjaga dan menyegarkan pikiran agar tidak penat.

Duduk di atas batang pohon yang rebah di atas sungai kecil

Untuk saya yang tinggal di desa, cukup mudah untuk mengajak anak-anak saya berpetualang ke sawah, kebun, sungai air terjun atau pantai. Tapi untuk Anda yang tinggal di perkotaan, biasanya memiliki sedikit akses ke tempat alam terbuka. Tetapi Anda tetap bisa mengajak si kecil ke taman kota, kebun raya, pantai atau tempat lain yang memiliki ragam mahkluk hidup saat berlibur ke rumah kakek dan nenek di desa.

Sebelum berangkat, perhatikan hal-hal berikut:

  1. Pastikan Anda dan si kecil dalam keadaan sehat jasmani serta rohani yaitu bugar dan bahagia supaya petualangan berjalan lancar dan menyenangkan.
  2. Siapkan bekal makanan, kudapan ringan favorit si kecil, air minum yang cukup dan untuk berjaga-jaga bawalah juga obat-obatan si kecil untuk keadaan darurat seperti Tempra Syrup penurun panas.
  3. Jangan lupa bawa topi agar tidak kepanasan dan bawa baju ganti beserta handuk jika berencana bermain air basah-basahan.
  4. Usapkan minyak telon di badan anak agar ia merasa hangat dan nyaman selama berpetualang serta tidak mudah masuk angin. Usapkan juga minyak telon yang mengandung anti nyamuk pada tangan dan kaki anak agar terhindar dari gigitan nyamuk atau serangga selama di alam bebas.
  5. Selalu lakukan pemanasan sebelum memulai kegiatan fisik. Ajak anak melakukan peregangan ringan untuk mengurangi risiko cidera.

Nah, jika sudah sampai di tempat tujuan:

  1. Berjalanlah pelan-pelan dengan si kecil agar ia tidak mudah lelah dan dapat melihat apa yang ada di sekitarnya.
  2. Ambil istirahat yang sering untuk minum dan makan sebab Anda akan punya banyak waktu untuk menikmati pemandangan dan terhindar daei dehidrasi serta lapar.
  3. Perhatikan tanaman liar, peringatkan si kecil terhadap tanaman yang berduri dan yang berpotensi menyebabkan gatal.
  4. Jika bertemu air, pastikan kedalamannya dengan mencelupkan batang kayu ke dalam air. Bila tidak dalam biarkan kaki Anda yang terendam untuk memastikan aman (apalagi jika ada arusnya) sebelum membiarkan si kecil bermain air.

Anda juga dapat membekali si kecil dengan tongkat kayu agar ia dapat memastikan kedalaman air dan membantu keseimbangannya saat berjalan di aliran air

Istirahat makan siang dulu buat isi tenaga

​​

Jangan lupa banyak minum air dan pakai topi rimba

 
Aktivitas-aktivitas edukatif apa saja yang dapat Anda lakukan dengan si kecil di alam bebas?

Bermain perahu dari sabut kelapa di atas aliran air anak sungai

  • Ceritakan tentang lokasi. Sebutkan apa nama tempat yang Anda kunjungi bersama si kecil dan tempat berlangsungnya kehidupan apa disana. Misalkan Anda mengajak si kecil ke sawah, jelaskan bahwa di sawah adalah tempat tumbuhnya tanaman padi dari bibit hingga menguning. Jika sudah menguning biasanya tanaman padi akan merunduk karena sudah berisi bulir-bulir beras yang bisa dipanen yaitu berupa gabah. Gabah yang diolah nantinya akan menjadi beras. Lalu beras dapat kita masak menjadi nasi yang kita makan sehari-hari
  • Ceritakan tentang hasil bumi. Jika Anda mengajak si kecil ke kebun seperti kebun teh, kebun stroberi atau kebun apel, jelaskan produk apa yang dihasilkan oleh kebun tersebut. Contohnya tanaman teh jika sudah cukup umur akan dipetik daunnya sehingga bisa diolah sampai menjadi teh seduh atau minuman teh.
  • Mengenal warna-warni bunga. Saat mengunjungi taman yang banyak dihiasi oleh bunga, kenalkan warna-warna apa saja yang ditunjukkan oleh bunga-bunga tersebut sehingga Anda dapat mengenalkan macam-macam warna pada anak. Ajarkan juga agar anak tidak selalu memetik bunga di tempat umum supaya keindahannya dapat dinikmati bersama-sama.
  • Menyentuh batang dan daun. Anda dapat menyentuhkan aneka tekstur daun dan batang kepada si kecil sambil menjelaskan nama-nama pohonnya. Ada daun yang kecil, ada yang lebar, ada yang bergerigi, ada yang berbentuk lurus dan panjang, ada pula daun yang bergerak menutup jika disentuh seperti daun tanaman Putri Malu. Begitu juga batang pohon ada yang bercabang-cabang, ada juga yang tegak lurus seperti pohon kelapa dan palem.
  • Ceritakan tentang hewan. Anda dapat menunjukkan berbagai jenis hewan yang tedapat di alam terbuka seperti yang ada dalam buku bergambar milik si kecil. Contohnya dalam ekosistem sawah terdapat burung bangau, ular sawah, tikus, katak, belalang, dan belut. Di kebun terdapat tupai, jangkrik, kupu-kupu, belalang, burung dan ayam. Ajak anak bermain menirukan gerak dan suara setiap hewan yang ada disana.
  • Hewan kesukaan. Minta anak menyebutkan hewan kesukaannya dan tanya mengapa ia menyukainya. Jelaskan daerah asal hewan tersebut dan dimana habitat aslinya jika hewan yang disebutkan oleh anak adalah satwa liar. Seperti orang utan berasal dari Kalimantan, gajah dan harimau berasal dari Sumatera. Deskripsikan kepada anak seperti apa habitat mereka dan cara mereka hidup di alam bebas.
  • Menyaksikan proses tumbuh kembang. Jika menemukan ulat atau kepompong, merupakan hal yang menarik untuk diceritakan kepada si kecil bahwa itu adalah tahapan kehidupan dari kupu-kupu. Perlihatkan proses tumbuh kembang hewan lainnya seperti telur menetas menjadi ayam atau berudu menjadi katak. Bisa juga proses kehidupan tanaman atau bunga dari kuncup menjadi mekar dan dari bunga memjadi bakal buah.
  • Bermain aliran air. Saat Anda mengunjungi sawah, Anda akan menjumpai saluran irigasi sawah. Di sana Anda dapat mengajak si kecil bermain perahu-perahuan dengan helai daun kering. Jelaskan juga bahwa air mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah seperti pada air terjun. Jika Anda dan si kecil pergi ke sungai atau ke pantai, Anda dapat menjelaskan bahwa sungai mengalirkan air dari dataran tinggi seperti pegunungan hingga ke tempat yang lebih rendah yaitu ke laut sedangkan pantai adalah tempat bertemunya daratan dan laut.
  • Buang sampah pada tempatnya. Ajak anak untuk selalu membuang sampah pada tempatnya. Saat di alam bebas biasanya tidak tersedia tempat sampah, caranya dengan menyediakan kantong khusus tempat sampah yang nantinya akan di buang ke tong sampah selesai berpetualang. Jelaskan akibat yang dapat terjadi di alam jika anak Anda membuang sampah sembarangan. Contohnya, saluran irigasi sawah dapat tersumbat lalu tidak dapat mengalirkan air ke sawah lagi sehingga tanaman padi mati dan petani tidak dapat memanen beras, keindahan alam tidak dapat dinikmati karena kotoran sampah dimana-mana, sungai tercemar sehingga ikan-ikan jadi mati sampai ancaman terjadinya banjir. Cara itu akan membuatnya belajar tentang kebersihan lingkungan.

Belalang yang berwarna indah di tanaman pakis

Panen pisang satu tandan!

Nikmatnya tiduran di atas panen kelapa

Bunga yang bermekaran berwarna-warni

Belajar manjat pohon supaya berani dan tidak takut ketinggian

berdiri di atas aliran air saluran irigasi sawah

​​

Istirahat dengan duduk di atas batang kayu

Bermain air di pantai berbatu dan merasakan deburan ombak di laut

Menyentuh tanaman padi sambil melangkah di atas pematang sawah

​Bagaimana? Asyik dan seru ya, menghabiskan waktu bersama si kecil di alam terbuka? Anak-anak juga pasti akan menambah perbendaharaan kata mereka mengenai istilah-istilah lingkungan hidup. Tuh, yang masih ragu-ragu berpetualang di alam bebas, ada bonus manfaatnya, nih… yaitu secara tidak langsung dapat menambah kecerdasan linguistik anak.

Yuk, tunggu apa lagi? Ayo bersiap-siap untuk segera memulai petualangan dengan si kecil!

♡Intan Rastini

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog Tempra yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Taisho. Artikel ditulis berdasarkan pengalaman dan opini pribadi. Artikel ini tidak dapat menggantikan hasil konsultasi dengan tenaga kesehatan profesional.

Mooncup is Totally My Wonderful Bestfriend!

Udah 1 tahun lebih bersama Mooncup, nih. Rasanya seneng banget karena misi mengurangi limbah pembalut wanita sekali pakai sudah berhasil!

Kenalin, sahabat baru saya, Mooncup. Dia itu praktis dan nyaman banget menemani hari-hari datang bulan saya. Saya jadi nggak perlu ribet buang sampah sisa pembalut dan ga perlu beli-beli pembalut lagi. Saya dapetin menstrual cup ini sejak 28 September 2015.

Pokoknya puas banget berteman sama Mooncup. Dulu saya pakai menstrual pad yang dari kain, sekarang udah dapat temen baru, temen lama masih bisa menemani secara fleksibel, kok… tenang aja, teman-teman saya semua ramah lingkungan hihihi.

Ada yang belum tau Mooncup?

Ini adalah menstrual cup sahabat wanita berbentuk cawan terbuat dari plastik lentur berstandar untuk penggunaan medis yang berfungsi menampung darah saat haid. Jadi karena lentur dan lunak, letak penggunaannya seperti tampon, ada di liang miss V. Tapi tidak seperti tampon yang sekali pakai dan fungsinya menyerap, ini bisa dicuci dan pakai lagi hingga 10 tahun dan fungsinya menampung.

Ada kesulitan saat pakai Mooncup pertama kali?

Bagi saya sih kesulitannya untuk membuat Mooncup vakum saat masuk ke miss V. Karena kalo ga dipastikan dalam keadaan udah vakum, bisa jadi bocor. Untuk memasukkan ke dalam sih nggak terlalu masalah karena dilipat seperti bunga tulip gitu.

Selebihnya enak-enak aja kok, pakai Mooncup. Saya jadi ngefans banget sama produk ini. Penggunaan selama haid mudah, tinggal kosongkan setiap 4-8 jam terutama saat heavy flow agar tidak kepenuhan hingga bocor. Tapi kalo udah nggak heavy flow, pakai semalaman pun worry-free. Ngosongkannya dengan buang darah ke toilet lalu bilas Mooncup dengan air hingga bersih dan pastikan lubang udara kecil-kecil di tepiannya tidak tersumbat.

Jika sudah selesai haid, Mooncup bisa dicuci dengan mild soap non fragrance seperti sabun kewanitaan Lactacyd. Keringkan dan simpan kembali ke pouch kainnya. Nah, 3 bulan sekali bisa disterilkan dengan cara direbus, direndam dalam larutan pensteril atau tablet pensteril. Saya pernah pakai Sleek Hygiene Solution cairan pensteril botol susu bayi. Sisanya direbus pakai panci khusus buat sterilin Mooncup.

Tipe ukuran Mooncup ada dua, A dan B. Saya pakai yang A karena sudah pernah melahirkan normal. Bedanya begini:

Kalau usia di atas 30 tahun pakai size A.

Untuk di bawah usia 30 tahun tapi sudah pernah melahirkan secara normal pakai size A.

Di bawah usia 30 tahun belum pernah melahirkan atau sudah pernah melahirkan tapi secara Caesarean maka pakai size B.

Gampang kan menentukan size yang cocok kalo berminat pakai Mooncup?

Tambahan lagi nih, saya juga pakai alat kontrasepsi IUD di dalam rahim dan selama ini berbarengan dengan penggunaan Mooncup nggak ada masalah.

Beda dengan pakai pembalut atau menspad, Mooncup itu nggak “ganjel”. Rasanya bebas dan leluasa, nggak takut geser, nggak perlu risih karena lihat permukaan merah-merah di pembalut saat pipis atau risih karena si pembalut lembap rasanya. Totally clean! Bahkan bisa aktif olahraga seperti berenang, lho….

Dimana bisa beli Mooncup?

Saya beli online di Momselect Shop setelah baca review di Urbanmama.com 🙂 waktu beli bedah tabungan dulu… harganya Rp 600.000 mahal ya, tapi worth it banget convinience-nya. Malah pingin beli lagi biar pakai Mooncup terus sampai menopause hehe.

Selamat menjalin pertemanan baru dengan Mooncup, say hi to our friend from UK!

Ayo dong tahun baru, gaya hidup baru 😉

♡ Intan Rastini.

Update Kalki & Kavin Bulan Maret ’16

Bulan Maret bertepatan dengan hari raya Nyepi Tahun Baru Saka bagi umat Hindu.. maka dari itu saya sempat berpartisipasi dalam lomba blog #BloggerPeduliMasaDepan yang diadakan oleh salah satu teman blogger, Mak Rinda Gusvita. Ulasannya bisa dibaca disini.

Tulisan saya mengambil tema no. 27 yaitu Hemat Listrik 🙂 dan ditayangkan juga pada tanggal 27 Maret. Kok ya pas banget bulan Maret ada Earth Hour, mematikan lampu selama 1 jam secara serentak setiap hari Sabtu di minggu ke-3 bulan Maret dan hari raya Nyepi yang tidak menyalakan lampu atau peralatan listrik untuk bersuka ria selama 1 hari. Itu sebagian kecil dari perayaan Tahun Baru Saka ya.. Karena kalau dijelaskan lebih panjang ada dalam catur brata penyepian.

Nah, kalau sempat bisa mampir untuk baca tulisan saya di blog Mak Rinda Gusvita, dan ada tulisan peserta lain juga dengan tema berbeda yang bisa dibaca 🙂 silakan…

Saya dulu juga sempat menulis perayaan Nyepi pertama Kalki tahun 2014. Kini adalah perayaan Nyepi pertama bagi adik Kavin.

Kavin yang udah mulai belajar berdiri sambil berpegangan dan sudah suka merangkak keluar setiap melihat pintu terbuka 😀
Eh, adikjuga udah bisa buka pintu sendiri lho! Juga sudah bisa naik kasur yang tinggi dengan cara ambil dingklik plastik buat pijakan manjat kasur yang mana merupakan inisiatif akalnya Kavin sendiri 😀

image

Karena ada rangkaian perayaan Nyepi dengan diawali tawur agung kesanga dengan melasti, mecaru, ngerupuk lalu setelah Nyepi pun juga ada Ngembak Geni… Posyandu di desa saya yang rutin setiap bulan tanggal 11 mundur jadi tanggal 17 Maret dan PIN (Pekan Imunisasi Nasional) di Bali pun mundur jadi tanggal 15-22 Maret 2016.

Ini Pekan Imunisasi Nasional pertama yang diikuti oleh Kakak Kalki (34 bulan) dan Adik Kavin (11 bulan). Meskipun imunisasi dasar Kalki dan Kavin udah hampir lengkap ya yang wajib dan disubsidi oleh pemerintah, kami tetap datang ke pos PIN yang berada di bale banjar Angkah Pondok waktu itu 🙂 daaaan tentu saja gratis. Hanya membawa buku KIA yang berisi catatan tabel imunisasi anak. Jika sudah mendapatkan vaksin polio (tetes oral) di Pos PIN, nanti kolom imunisasi tambahan akan diisi oleh petugas kesehatan dan anak kita yang sudah ditetesi vaksin diberi tanda tinta pada jari kelingkingnya. Sama seperti habis nyoblos gitu, hehehe…

image

Kalki dan Kavin setelah imunisasi syukur ya tidak ada demam. Dan untungnya kakak Kalki dan adik Kavin saat vaksin dalam keadaan sehat, sudah sembuh dari batuk pilek sebelumnya saat sempat main ke Dalung lihat adik Khanza dan datang ke ulang tahun Abang Iqbal di Denpasar hingga pulangnya malam hari naik motor. Saat Posyandu pun timbangan mereka turun, deh..
Anyway, ini nih, foto adik Khanza yang udah berusia 5 bulan kemarin ♥,♥

image

POSYANDU KENANGA 17 MARET 2016

image

KAKAK KALKI
BB: 14kg (tetap)
TB: 95cm
LK: 50,5cm

ADIK KAVIN
BB: 9,1kg (turun 2 ons)
TB: 73cm
LK: 47,5cm

Pas Posyandu masih sehat-sehat aja tuh dua bocah, tapi setelah posyandu kakak Kalki ke Denpasar lagi nih nganterin nini berobat dan mampir nengok kakak Kinara dan Rania. Ya tentu kakak Kalki maunya naik motor sama papa dan duduknya di depan saat nini sudah naik bis. Pulang dari Denpasar agak petang. Setelah itu Kakak Kalki mulai batuk lagi. Eh… adiknya pun ketularan.. duh! Sampai sekarang nih dua bocah masih batuk pilek meski udah mendingan karena udah periksa ke Pustu dan minum obat. Tapi yaaa… mama dan papa kan kepikiran, soalnya si adik kalo udah batuk, ASI yang udah diminum dimuntahin. Dan kalo tengah malam mama begadang jagain supaya nggak demam dan mengupayakan menyusuinya tidak berbaring sejajar agar adik tidak mudah memuntahkan kembali ASI mama.

image

Oh ya, saat Posyandu juga kebetulan bersamaan dengan Puskemas Keliling. Saya yang awalnya mau pulang setelah selesai timbang berat badan anak-anak, makan kacang ijo dan nabung di tabungan balita.. dianjurkan periksa tensi dulu oleh ibu ketua PKK. Ya sudah saya nurut. Ternyata tensi saya agak rendah sehingga diberi vitamin. Dan saya pun berinisiatif konsultasi gigi dengan pak dokter gigi yang hadir saat itu juga. Tapi yang saya konsultasikan adalah giginya Kavin yang suka dibunyikan seperti menggerus begitu. Kata pak dokter gigi, itu nggak apa-apa. Ibunya diwanti-wanti supaya rajin bersihkan saja dengan kapas dan air hangat. Lalu beri makanan yang agak keras untuk stimulasi giginya bisa berupa apel :). Saya lalu bertanya tentang hubungan gigi-gigi susunya yang suka digemeletukkan dengan tumbuh beberapa gigi seri bawahnya yang miring. Kata pak dokter, itu tidak berhubungan dan sekali lagi tidak apa-apa… Ok baiklah pak dokter, maka saya ucapkan terima kasih.

Nah, sudah itu dulu ya update perkembangan Kalki dan Kavin. Maaf nak, mama udah ga sempat lagi nulis detail perkembangan motorik atau sensorik Kavin seperti KPSP begitu. Mungkin nanti kalau ada waktu senggang ya, sayang. Saat ini kakak dan adik masih sedikit batuk & pilek dan masih dalan proses pemulihan, nih. Semoga ke depannya Kalki dan Kavin sehat terus dan tambah kuat daya tahan tubuhnya. Tambah menter, tahan banting… mau di ajak pergi atau jalan-jalan lebih jauh bisa tahan dan kuat ya, nak ^^

Love love love… ♥♡♥♡ Mama Kalvin.

♡ Intan Rastini