Romantisme Sesungguhnya

Kalau aku bikin warning sign serupa tapi karena sedang membonceng bayi, apa juga boleh ya? 🙂 “mohon jaga jarak dan sabar yaaa… sedang membonceng bayi dengan hati-hati.” ❤

Kisahku

Romantisme Sesungguhnya?

Iya, aku berani bilang begitu saat lihat tulisan ini di sebuah motor di depanku. Tak perlu satu buket mawar merah, makan malam dengan sinar lilin, tapi cukup perhatian yang menandakan kasih sayang pada pasangan.

Perbesar gambarnya untuk lihat tulisan ini. “Mohon jaga jarak dan sabar yaa, sedang bonceng ibu hamil”

20140430-120503.jpg

View original post

Memerah Payudara Dengan Tangan

Memerah manual dengan tangan ini lumayan capek dibanding pakai alat bantu pompa… Akunya yang belum bisa teknik Marmet dengan bener kali ya? Kalo pakai breast pump memang nggak capek tapi ribet bersihinnya, ngeringinnya semua harus steril. Jadi lebih praktis mana? Perah pakai tangan tinggal cuci tangan sebelum dan sesudah memerah, cocok banget kalo pergi-pergi nggak perlu bawa breast pump dan nggak bingung sterilinnya. Tapi harus bisa memerah dengan bener dulu!

drmaharanibayu

Cara mempertahankan atau meningkatkan produksi ASI adalah dengan 2 cara yang paling mendasar :

  1. Perangsangan benar (menyusu perlekatan/latchOn) benar
  2. Pengosongan payudara rutin dengan anak menyusu langsung maupun dengan perah manual/pompa payudara.

Dalam tulisan ini, saya akan coba berbagi info akan pengosongan payudara dengan cara perah tangan manual.  Dimana berbagai keuntungan dan kemudahan didapatkan ibu. Seperti :

–          Cukup membawa wadah bersih saja

–          Tidak repot harus membawa berbagai peralatan pompa

–          Tidak repot mencari tempat membersihkan/mensterilkan pompa setelah digunakan

–          Tidak perlu mengeluarkan biaya untuk membeli alat pompa

Apakah sulit untuk dilakukan? Tidak jawabannya,  bila mengerti bagaimana tehniknya yang benar. Kombinasi pemijatan dan perangsangan yang benar yang merupakan tehnik inti dari pengeluaran ASI secara manual.

Pijat sederhana dan kompres hangat payudara sebelumnya dapat dilakukan untuk membantu kenyamanan ibu juga untuk melancarkan pengeluaran ASI. Pijat sederhana dilakukan dengan gerakah sirkular/memutar pada payudara diluar daerah areola dan puting, dari arah…

View original post 248 more words

Reblog: Beryadnya Sesuai Kondisi

Oleh: Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda. Senin, 14 Oktober 2013 @ 00:25

Hari-hari ini umat Hindu di Bali menyongsong Galungan dan Kuningan. Sekarang memasuki Wuku Sungsang, hari Kamis nanti sudah Sugian Jawa, dilanjutkaan Sugian Bali pada esok harinya. Para ibu sudah sibuk menyiapkan berbagai ornamen menyambut hari raya itu. Tentu saja tidak sesibuk di masa lalu.

Di masa lalu kesibukan itu tergolong luar biasa. Rangkaian sesajen  sudah dibuat jauh sebelumnya. Kue-kue khas dibuat jauh hari, jaje sirat, kaliadrem, dodol, satuh, tape dan banyak lagi. Dan ketika hari raya itu datang, rangkaian sesajen sudah kusam bentuknya, kue khas itu sudah pada jamuran, tak layak lagi dimakan. Terkadang berbau amis. Semut pun banyak mengerubung. Tak pernah ada yang iseng bertanya saat itu, “Apakah tidak kasihan dengan Tuhan diberi sesajen yang sudah bau?”

Sekarang malah sebaliknya, bukan Tuhan yang perlu dipertanyakan. Justru pemangku atau sulinggih yang perlu ditanya; “Apa mantap nganteb atau muput upacara yang sesajennya sudah bau, bunganya layu, bahkan banyak dikerubungi semut?” Nah, mulai ada kesadaran tentang sarana upacara yang layak untuk dipersembahkan.

Globalisasi ikut mengubah cara-cara menyambut hari raya. Sarana berupa jajan mulai dibuat dekat-dekat hari raya karena ada teknologi, baik cara membuatnya dengan alat-alat yang lebih modern, maupun cara menyimpannya, misalnya, ada kulkas. Janur mudah didapat di pasar, bahkan mulai ada janur yang tahan lama yang didatangkan dari Sulawesi. Lalu ada yang lebih praktis bagi mereka yang sibuk dengan pekerjaan, membeli ornamen sarana ritual yang banyak dijual sekarang ini. Lihatlah di sepanjang jalan antara Lukluk-Kapal atau di berbagai pasar desa, berbagai ornamen sudah ada yang menjual.

Yang tak kalah pentingnya adalah cara-cara umat melakukan yadnya itu sudah mulai praktis, yakni disesuaikan dengan situasi dan kondisi, termasuk ketersediaan dana. Disebut praktis karena untuk apa membuat jajan yang banyak ragamnya dan banyak jumlahnya, kalau tidak ada yang makan lungsuran atau prasadamnya. Untuk apa membuat banten yang besar kalau yang kecil saja sudah sesuai dengan sastra agama. Contoh kecil, dulu di kampung saya setiap orang membuat rangkaian “banten pejati” selalu ada “ketipat gong” lengkap dengan rokok dan koreknya. Sekarang yang ada “ketipat gong” hanya untuk tempat khusus.

Kesadaran umat itu tentu karena pendidikan yang sudah lebih maju. Juga berkat intensifnya penataran maupun dharma wacana yang diberikan para tokoh-tokoh agama. Umat Hindu di pedesaan sebenarnya sangat menurut kalau diberi penjelasan yang baik. Dulu mereka sering terjebak oleh rasa takut dan salah dalam melakukan tirual. Takut tidak komplit bantennya, takut kurang ini atau kurang itu. Kalau salah, nanti Tuhan memberikan kutukan. Ida Bethara juga memberikan kutukan atau setidak-tidaknya memberikan “sakit” sebagai sinyal dari adanya kesalahan itu. Padahal mereka sendiri sejatinya juga tidak tahu, kurang itu dari mana ukurannya. Mereka mengukurnya dari tradisi yang sudah turun-temurun, salah atau benar, kurang atau tidak, mereka sebenarnya tak tahu.

Istilah di pedesaan seperti “kepongor” atau “kepanesan” adalah suatu kepercayaan bahwa para leluhur dan bahkan dalam tingkat tertinggi yakni Hyang Widhi dianggap sebagai “penjatuh kutukan”. Tuhan dan Bethara lebih sebagai penghukum, bukan sebagai Yang Maha Kasih, Yang Maha Pengampun.

Karena itu, supaya tidak salah, maka upacara ritual pun harus lengkap. Lengkap versi siapa? Lengkap menurut tradisi yang sudah turun-menurun, tanpa peduli lagi apakah tradisi itu benar atau salah. Karena itulah orang beryadnya dengan besar-besaran, berbagai kue dibuat yang pada akhirnya lungsuran-nya tidak dimakan dan diberikan babi. Artinya babi yang menerima prasadam yang utama itu.

Beryadnya yang tidak mahal dan sederhana, bagaimana ukurannya? Bagaimana cara mengurangi banten? Apakah daksina buah kelapanya boleh dipotong-potong dan telurnya separo saja? Tentu bukan itu maksudnya. Kelapa dan telur dalam daksina itu adalah lambang, kalau dipotong-potong berarti sudah menyimpang dari lambangnya. Baju jas kalau lengannya dipotong tentu tak lagi bernama jas. Yang dilakukan adalah kalau memang tak mampu membuat yadnya dengan banten besar seperti rangkaian bebangkit, misalnya, buatlah yang kecil, cukup ayaban tumpeng. Analognya, kalau tak mampu membeli jas, pakai saja baju batik, toh tetap rapi.

Beryadnya itu ukurannya “perasaan hati” tetapi juga disesuaikan dengan kondisi, karena perasaan bisa dikendalikan. Pernah saya melakukan Manusa Yadnya di desa dan saya ditanya kenapa melakukan yadnya yang besar, memakai topeng sidakarya, mendatangkan sekehe shanti, menjamu pemuka adat dan pemangku. Bukankah saya mengajurkan yadnya yang sederhana? Jawaban saya: “Bukankah saya memiliki perangkat gong, punya grup topeng, punya sekehe shanti, kalau itu tidak dipertontonkan untuk apa saya membina kesenian itu? Lalu kapan kesenian itu tampil kalau tidak ada yadnya?”

Begitu juga istilah menjamu warga dan pemuka adat. Kapan saya bisa bersosialisasi dengan pemuka adat kalau tidak dalam yadnya? Artinya kondisi sosial itu penting. Tapi kalau tidak punya sarana dan masih banyak kebutuhan dalam hidup, untuk apa beryadnya besar-besaran dengan cara berhutang menggadaikan kebun? Janganlah agama Hindu dijadikan alasan untuk beban dalam hidup.

Mari kita menyongsong hari raya Galungan dan Kuningan dengan yadnya yang sesuai dengan kondisi kita masing-masing, tak perlu mahal dan besar-besaran kalau masih ada kebutuhan lain yang lebih penting, misalnya, menyekolahkan anak. (*)

Perawatan Popok Kain (Clodi / cloth diaper)

buat Guscil, mama udah prewash cloth diaper + insert, alas ompol dan juga fleece liner sampai 3x. Khusus insert bambu, mama cuci 4x.

Capek juga nyuci cloth diaper things like them! Deterjennya sedikit aja, mama pakai sleek baby laundry dengan air satu ember medium kira-kira 10L.. trus dikucek bentar, dibilas berkali-kali sampai nggak ada busa, dan mama tes bau juga, kalau sampai masih ada bau deterjennya berarti masih ada residu di serat cloth. Udah gitu mama juga siram air panas insert, liner dan alas ompol supaya daya serapnya maksimal (begitu sesuai saran yang ada di salah satu brand tag alas ompolnya, juga petunjuk cara stripping). Untuk cover cloth diapernya nggak mama siram air panas ya… karena ada laminasi PUL yang anti air, itu bisa pecah-pecah dan rusak nanti.

Cukup cold wash and hand wash semuanya…ya memang mama punya mesin cuci?! Enggak. Makanya semua dilakukan dengan manual dan terasa banget capeknya, Guscil…! Tapi makasih nak, udah sabar dan kuat nemenin mama cuci-mencuci sampai basah hehehe, anyhow kita tandem hebat Guscil!
Bagian memeras minta tolong papa 😀
Tapi untuk covernya mama nggak peras kenceng-kenceng, takut laminasinya rusak (extra care nih sama lapisan PUL). Dan jemur di bawah sinar matahari langsung kecuali (lagi-lagi) bagian cover diapernya, yang outer (lapisan pul) menghadap ke dalam, jadi yang diserang sengatan panas matahari adalah innernya (ada yang fleece dan ada yang suede). Mama lebih suka inner suede karena selama ini di prewash gampang kering, tapi belum dicoba ya ntar ke Guscil soal kenyamanan dipakainya 🙂

Mum at home

Clodi seperti prefold menurutku paling mudah dirawat sedangkan clodi yg menggunakan fleece  dan microfibre seperti pocket diaper dan AIO, perawatannya mesti hati2.  Beberapa hal yang harus dipikirkan dalam perawatan popok kain/clodi ini:

1.  Pencucian

Sebaiknya pencucian clodi disesuaikan dengan instruksi dari pembuatnya.  Biasanya PUL (bahan diaper cover yang membuatnya anti tembus air) tidak baik sering dicuci dalam air terlalu panas, dan lapisan anti tembusnya dan karetnya bisa cepat rusak.  Karena di rumah saya harus mengerjakan semua sendiri, maka semua penyucian clodi saya tugaskan ke mesin cuci.  Saya biasanya selang seling antara setting 40derajat dengan 60derajat.  60 derajat utk membunuh kuman dan 40 derajat utk menghemat energi.  Rutinitas penyucian tergantung masing2 individual, kalau saya, clodi dibilas di mesin cuci dgn air dingin menggunakan wool cycle dengan sedikit lavender oil dan 1sdt bicarbonate soda.  Lalu either 40 derajat atau 60 derajat setting dgn prewash, saya taruh 3/4 detergent di prewash drawer dan…

View original post 648 more words

Popok kain untuk pemula

aku termasuk pemula, belum nyobain pake ke Guscil popok kainnya sih.. tapi udah nyetock 6 pcs pocket diapers yang waterproof (plus udah di prewash 3x beserta insert-insertnya).

Lumayan lah udah beli popok kain tali 1 lusin – yang tradisional dulu, ya…, dapat dari mama (omanya Guscil) 7 pcs dan ntar juga malak sepupu yang juga abis partus sodaranya Guscil, si Rieqbal, 1 lusin (karena bayinya udah beranjak 3 bulan he he he…)
Pertimbanganku adalah, pakai popok kain tali dulu semasa new born, ntar kalo udah gedean diatas 1 bulan baru pake cloth diaper alias clodi 😉

Mum at home

Popok kain atau cloth diaper (clodi) atau cloth nappy (di inggris) sudah mulai banyak digemari.  Jaman dulu, saya kenal popok kain itu kain tipis yg ada talinya.  Dulu pas punya anak pertama tuh bingung, kok tipis begini yah, jadi abis pipis langsung ganti semua.  Mungkin fungsinya cuma utk menampung pup kali yah, itupun gak bisa menampung pup newborn yang pupnya terkenal encer dan explosive.  Tapi clodi jaman sekarang beda sekali, udah canggih2.  Sebagai pemula pengguna clodi pasti binggung dengan istilah yg aneh2.  Saya coba bantu yah untuk sedikit menjelaskan.  Sebagian post saya ini adalah repost saya dari sebuah forum (malas mesti ngetik lagi)

Sebenarnya ada beberapa sistem cara penggunaan clodi yang dikenal di negara eropa dan USA:

1.  2-parter (dua bagian), jadi ada popoknya yg berfungsi untuk menyerap pipis dan menampung pup dan juga ada diaper cover yang anti tembus (waterproof).

Popoknya sendiri tidak ada waterproofnya, biasanya ada beberapa…

View original post 523 more words

tips memperlancar ASI: pijat + kompres PD

sudah dipraktekkan 2 kali nih… Mudah-mudahan bisa rutin ya!
Pertama hari Sabtu, 11 Mei 2013; yang kedua hari ini, Minggu 12 Mei 2013.
Keep on the good job, mama!

D.I.A.M.O.N.D

Minggu lalu temen gw ada yg baru lahiran..
en barusan tuh dia nanya2 gimana spy ASI nya kluar..
soalnya dia udah minum beberapa ASI booster kok ASI nya masi sedikit aja..

trus gw saranin utk pijit payudara sendiri dan rajin kompres panas dingin gitu..
nah dia nanya tuh gimana sih cara pijat payudaranya..
bingung juga jelasinnya lewat BBM kan.. so akhirnya gw gambar deh:

pijat PD
liat gambar ini temen gw ngerti lho, en dia bs mempraktekannya 😀 bagus juga brarti ya gambar gw 😛

intinya pijatan itu dilakukan 2 tahap.. yg pertama gerakan melingkar, yg kedua memijat ke arah puting..masing2 dilakukan 8 kali..

selanjutnya ambil gayung 2 biji.. 1 gayung diisi air panas, 1 gayung diisi air dingin.. trus ambil 2 handuk kecil.. kompres handuk di air panas trus kompres ke PD beberapa menit, trus celup handuk ke air dingin, trus kompres lagi beberapa menit.. trus masukin handuknya ke…

View original post 91 more words

His LND

00:53:31 Last night he dreamt about us.

We swam together in ɑ swimming pool…
I wore ɑ sporty swim suit in black and I was very sexy like an athlete!

Then I asked him to go to ɑ 3D sensation in ɑ swimming pool. We got in the pool and enjoyed the 3D sensation inside the swimming pool. The 3D story was about ɑ diver who hunt or was hunted by ɑ shark. He felt it the swimming pool was really outstandingly just like under the sea!

Well, I love the idea of 3D in ɑ swimming pool (; Hmmm, daring and interesting.

Later on he told me about another dream that he was hesitate if he had already told me before or not. I guessed not yet. He told me about telling me ɑ dream in his dream. Geez.

I just responded that I had the swim suit in black and blue in the past. And he wondered where it came the idea of 3D in the swimming pool! He said that I was swimming very fast so he couldn’t reach me in his dream. Lol! =D