Nyepi 2020 dan Wabah Covid-19

Kegiatan Nyepi di tahun 2020 kali ini berjalan sangat sepi. Pasalnya rangkaian persiapan menyambut hari raya Nyepi telah diinstruksikan oleh berbagai pemerintah daerah untuk tidak mengadakan kegiatan yang membuat orang berkerumun dan berkumpul dalam jumlah banyak. Di desa saya, sejak tanggal 15 Maret sudah ada himbauan untuk belajar dan bekerja di rumah. Tetapi di kantor desa tempat saya bekerja sebagai kantor pelayanan publik belum menerapkan sistem bekerja dari rumah. Kami para aparat desa dan staf masih masuk seperti biasa dan masih melayani warga di bidang administrasi. Sedangkan di tempat kerja saya di yayasan, les pun diliburkan selama dua minggu.

Meski demikian, kegiatan adat di banjar tetap berjalan hampir seperti biasa untuk kegiatan persiapan Nyepi. Kegiatan ngayah di Pura Puseh Desa Angkah masih berjalan. Memang di desa kami tidak ada kebiasaan membuat dan mengarak ogoh-ogoh, sehingga kami lebih fokus ke persiapan mecaru dan melasti. Bagaimanapun juga kegiatan ngayah itu adalah wadah berkumpulnya banyak orang. Saya sendiri datang ngayah tetapi hanya menyetor urak banten yang menjadi bagian saya. Ngeri juga membayangkan bahwa masyarakat masih mementingkan adat dan kepercayaan mereka daripada logika pencegahan penyebaran virus Corona.

Untuk melasti yang harusnya membawa pratima ke laut, tahun ini telah mendapat instruksi untuk dilakukan di beiji yang ada di desa. Dari surat tersebut maka saya simpulkan kegiatan melasti tahun ini harus dilokalisir hanya di desa pakraman setempat. Biasanya desa kami melakukan melasti hingga ke Pantai Soka dan itu arak-arakannya bisa menggunakan truk, mobil dan motor. Jarak dari desa ke Pantai Soka ada sekitar 10 km. Saya takut juga membayangkan jika melasti berjalan seperti biasa di tengah wabah virus Corona ini, bisa-bisa warga desa kami dari berbagai penjuru yang merantau pada pulang kampung dan ikut melasti. Lalu para umat Hindu jadi satu bertemu di Pantai Soka, karena bukan warga desa kami saja yang melasti ke Pantai Soka.

Akhirnya iring-iringan melasti di Desa Angkah jalan ke Pura Pangkung Sakti sebagai pura segara desa. Pura Pangkung Sakti ini cukup dekat dari Pura Puseh, kurang lebih hanya 1 km. Jadi para pengiring bisa berjalan kaki dari Pura Puseh ke Pura Pangkung Sakti. Saya sendiri tidak ikut melasti, tetapi dari status Whatsapp yang saya lihat dari tetangga saya, ternyata yang ikut banyak juga! Bukannya dari surat edaran bersama dari Gubernur Bali, PHDI Dan MDA, peserta yang mengikuti melasti harusnya dibatasi?

Akhirnya hari Nyepi datang dan saya melakukan aktivitas di rumah saja, seperti yang sudah dilakukan oleh sebagian besar orang sejak datangnya penyakit akibat virus Corona di Indonesia atau sejak himbauan untuk membatasi aktivitas, hingga sekolah-sekolah dan kantor ditutup dan mulai menerapkan belajar dan bekerja dari rumah. Nyepi ini berjalan 24 jam, dari jam 6 pagi pada hari Rabu, 25 Maret 2020 hingga jam 6 pagi pada hari Kamis, 26 Maret 2020. Apa saja yang saya dan anggota keluarga saya lakukan di rumah?

Biasanya saya puasa, tidak makan dan minum selama 24 jam, tetapi karena saya sedang tidak fit akibat sakit tenggorokan seperti kena flu, maka puasa tidak saya lakukan. Sebenarnya saya suka dengan konsep puasa untuk mendetoksifikasi badan dan saluran pencernaan saya, maka kali ini yang saya lakukan adalah membatasi makan dengan minum air putih dan makan buah saja. Selama hari Nyepi saya hanya makan buah pepaya dan buah naga serta minum air putih. Tidak makan yang lainnya.

Pukul 05.30 WITA saya bangun lalu minum air putih dilanjutkan dengan mandi. Setelah mandi, saya membuka halaman tutorial online untuk kuliah saya sampai pukul 06.15 WITA halaman tuton masih bisa diakses lalu akhirnya melambat dan terhenti. Akhirnya saya melanjutkan dengan kegiatan menulis blog tentang pengalaman saya, yang akan saya posting setelah post ini.

Lalu pukul 8.00 WITA saya melakukan latihan otot perut dengan aplikasi di HP yang bernama Abs Exercise selama 25 menit. Saya melakukan olah raga ditemani oleh Kalki, dia menghitung berapa jumlah repetisi yang saya lakukan. Saya sangat senang dan terbantu sekali dengan bantuan Kalki sehingga saya bisa fokus ke pernapasan dan otot tanpa lupa hitungan. Di sisi lain, adik Kavin sedang menggambar menggunakan Paint di laptop.

Pukul 09.00 WITA saya makan buah pepaya dan minum air putih. Setelah itu bercengkrama dengan anak-anak dan mengajak mereka belajar.

Pukul 10.00 WITA saya membaca buku kuliah Pengantar Statistik Sosial. Saya pikir kok relevan sekali dengan adanya wabah penyakit COVID-19 saya jadi banyak membaca data statistik di media.

Pukul 11.00 WITA anak-anak makan siang, sedangkan saya makan buah naga. Setelah itu saya ajak mereka untuk tidur siang. Eh, ternyata yang berhasil diajak tidur siang hanya Kalki, sedangkan Kavin masih asyik bermain dengan papa.

Pukul 13.00 WITA saya bangun tidur siang tetapi Kalki masih terlelap. Saya pun bangun untuk makan buah Pepaya dan ngobrol dengan suami.

Pukul 14.00 WITA saya kembali membaca buku modul Pengantar Statistik Sosial dan mengerjakan latihan soal hingga akhirnya menyelesaikan modul 2.

Pukul 16.15 WITA Saya selesai membaca buku materi kuliah dan ke halaman rumah untuk memandikan anjing peliharaan saya, Golden. Saat mau memandikan Golden, ternyata Kalki sudah bangun dari tidur siang dan ikut membantu memberi shampoo pada si guguk.

Pukul 17.00 WITA memandikan anak-anak.

Pukul 17.30 WITA saya melakukan yoga Surya Namaskar 12 putaran.

Pukul 18.00 WITA saya mandi. Lalu makan buah naga bersama Kavin. Dan anak-anak pun makan soto ayam dan ketipat yang udah dipersiapkan sehari sebelum Nyepi. Lalu saya belajar kembali, kali ini materi Writing 4, Unit 1 tentang Prewriting.

Menjelang malam, welcome to the absolute darkness! Saya selalu suka dengan gelap gulitanya malam Nyepi, karena saya bisa lihat bintang di langit.

Pukul 19.30 WITA Saya ajak anak-anak lihat bintang dari halaman. Saya pun berbincang-bincang dengan suami sambil mengagumi indahnya bintang. Saya bergumam, “kira-kira di tata bintang lainnya ada peradaban tidak ya seperti di tata surya kita? Planet kita sedang diserang wabah Corona.”

Suami saya menjawab, “Bintang di luar angkasa itu jumlahnya lebih dari jutaan, ya kemungkinan dari jumlah sekian bisa terdapat peradaban seperti di tata surya kita.”

Saya berkata sambil menerawang ke bintang yang bertaburan di bagian langit selatan, “bagaimana ya keadaan peradaban di luar sana?”

“Kurang lebih ya sama seperti peradaban kita.” Kata suami saya.

“Pengen tau bagaimana tingkat peradabannya, spesiesnya, dan keadaan alam planetnya.” Jawab saya sambil berlalu menyudahi menikmati bintang di angkasa.

Saat melihat bintang, Kalki dan Kavin juga bergumam terpesona dengan indahnya kelap-kelip cahaya di angkasa. Tetapi Kalki dibarengi dengan tingkah polahnya lompat-lompat dan ambil posisi berdiri sambil setengah jungkir-balik di atas rumput halaman.

Pukul 20.00 WITA Saya gosok gigi, anak-anak pun demikian, lalu kami sekeluarga bercengkrama di dalam tenda yang telah dibuatkan suami untuk anak-anak di ruang keluarga. Tendanya terbuat dari pondasi 4 buah kursi dan bangku panjang sebagai tulang atap lalu ditutup oleh sprei. Tenda ini sudah dibuat dari sebelum hari Nyepi untuk wahana bermain anak-anak supaya mereka tidak bosan.

Sudah bikin tenda sehari sebelum Nyepi

Dari yang awalnya tenda hanya beralaskan matras Kalki dan Kavin, hingga pas hari Nyepi tenda tersebut sudah dilengkapi kasur. Kata suami, semalam sebelumnya Kavin minta tidur di tenda, tapi karena hanya beralaskan matras, badan suami saya jadi sakit semua. Saat suami kesakitan badannya tidur di lantai beralaskan matras, dia minta pindah ke kamar, tetapi Kavin nggak ngasih! Pas suami nanya, “Kavin badannya sakit nggak, tidur disini?”, Kavin menjawab, “Enggak.”

Kegiatan anak-anak di malam hari sebelum Nyepi, Selasa 24 Maret 2020

Akhirnya malam penghujung hari Nyepi saya yang diajak Kavin untuk tidur di tenda, sedangkan Kalki dan suami tidur di kamar. Begitulah saya dan keluarga menjalani hari Nyepi dan memaknainya. Saya berusaha memaknai hari Nyepi sebagai hari untuk merefleksikan diri dan berkontemplasi. Saya juga sempat memberikan pemahaman kepada anak-anak mengenai apa itu hari Nyepi dan apa yang sebaiknya dan tidak sebaiknya mereka lakukan pada hari Nyepi. Tapi ya namanya anak-anak, mereka masih aja suka bermain sambil teriak-teriak heboh dan ketawa cekikikan keras.

Keadaan selama hari raya Nyepi sebagai hari tahun baru Saka Umat Hindu memang dirayakan dengan tenang dan menyepi diri dari kehingar-bingaran atau pesta. Saya maknai tujuannya adalah menjauhkan diri dari keduniawian atau hedonisme sejenak. Tidak boleh bekerja, tidak boleh menyalakan api, tidak boleh bepergian dan tidak boleh mencari hiburan. Keadaan seperti itu adalah kesempatan untuk berhenti dari kesibukan yang sudah terpola bagi manusia masa kini hidup di dunia. Itulah kesempatan untuk menenangkan diri dan merenungkan kehidupan. Menghubungkan diri dengan alam dan Tuhan secara spiritual.

Maka selama Nyepi kali ini, hampir tetap saya berjalan seperti sebelumnya, yaitu tidak ada siaran televisi, tidak ada akses internet, tetapi aliran listrik tetap ada. Suara kendaraan bermotor di luar pun sama sekali tidak ada, tidak ada suara anak-anak bermain di jalan, dan tidak ada tetangga yang menyetel musik keras-keras atau pun memainkan alat musik rindik. Semuanya hening.

Keadaan Nyepi di Bali lebih ketat dari pada Nyepi di Jawa. Saya ingat dulu waktu masih merayakan Nyepi di Jawa, saat saya masih kecil masih bisa nonton TV di rumah dengan mama dan adik saya. Mau keluar rumah pun tidak takut ada pecalang yang akan menegur. Saat masih kecil mama saya selalu menyediakan stok makanan dan cemilan-cemilan untuk anak-anaknya. Tetapi semakin besar semakin diajarkan untuk berpuasa seharian oleh orang tua dan oleh guru agama di sekolah.

Kini saya sudah 8 kali merayakan Nyepi di Bali sejak menikah tinggal di Bali, dan hingga Nyepi kali ini, menyalakan kompor dan lampu masih saya lakukan di rumah untuk keperluan yang penting. Tapi kami tidak membuat masakan apa-apa, hanya menghangatkan masakan yang sudah dipersiapkan dari hari sebelum Nyepi. Karena bagi saya mematikan api bagian dari catur brata penyepian adalah mematikan api yang di dalam diri sendiri, bukan hanya secara simbolis mematikan api kompor dan api penerangan di rumah. Dan yang paling tau mengenai rumah terkecil kita yaitu badan kita tempat jiwa bernaung adalah diri kita sendiri.

Pagi hari Ngembak Geni, Kamis, 26 Maret 2020

Selamat Tahun Baru Saka 1942~

♡ Intan Rastini

Learning How to Ride a Bicycle

Last Indonesian Mother’s day, 22th of December 2018, there was a lovely gift from my first son. He was learning to ride a bicycle and then he was able to cycle by his own! Without any extra side wheels. It was my husband who led him to practice cycling.

The days before, he tried to ride his bicycle. It was his own initiative to take the bicycle after a long time he never tried cycling again. He stopped cycling since the extra wheels for his bike was taken out. Looking Kalki was trying to ride his bicycle, my husband then helped him to learn.

Kalki took 3 days to learn cycling until he became confident to ride on his own. He learned cycling at our front yard. When my husband no longer held the bicycle for the first balance, Kalki got on his bicycle by the help of our terrace step. Then he could make it, cycling around.

It was a perfect present for me on the mother’s day. As a mother of course I felt proud to Kalki. Kalki was 5 years old 7 month and he has been able to ride a bicycle… I am very happy everytime I see him cycling. He feels happy too that he can ride a bicycle! Because our front your doesn’t have enough space for him cycling, we went to his kindergarten’s yard so he could practice at a wide yard.

Once I ran with Kalki riding his bicycle. It was fun and challenging because our village is hilly and the road is either going up or down. Going uphill is hard, on the other hand going downhill is dangerous. On the uphill and downhill roads I asked Kalki to walk but on some downhills I let him to ride his bicycle and use the brakes. It was difficult to maintain the brakes during sliding through the downhills so Kalki bumped to a house’s wall, haha don’t worry he was fine. He enjoys the experience and he wants more! He asked me, “mama, when are you going to run again? Because I want to join you by riding my bicycle.” Well, his bike’s brake and chain are broken now so he cannot join me.

I also would like to share my childhood story. I think this one will be interesting to tell.

When I was young, I always wanted to learn how to ride a bicycle. I was a very young kid. Maybe about 5 years old. At that time my parents already bought me a small bicycle but there were two extra wheels to keep my balance. Next stage, my parents taught me how to ride a bicycle without any extra wheels. At first, my father tried to give only one extra wheel. He handled my bicycle and let me try to paddle on my own until I could get my balance.

I kept practicing how to ride a bicycle until I was confident enough and my parents thought that I would be able to paddle a bicycle without an extra wheel. So again, my father took off the remaining extra wheel on my bike. He was always there to help me while I practiced riding a bicycle. He handed my bike for the first time and when I could paddle with balance, he let me go riding away. We repeated this way until I could handle my bike in the beginning for myself.

I felt so excited when I could ride a bicycle by myself. It was almost felt like I was flying and free. When a small kid eventually could ride a bicycle on her own she became addicted to riding her bicycle again, and again and again. I rode my bicycle around my house in the neighborhoods. Sometimes I went quite far so that my mother worried about me because it took a long time for me to come back home. Later on, my parents allowed me to ride my bicycle to school in elementary school. I really enjoyed it. I even gave a ride to my little brother when I went to school by bike because we went to the same school. We went to school together by bike, my little brother sat on the back as my passenger.

♥️ Intan Rastini

Swimming at Lovina Beach

I and my husband have been invited three times to come to Singaraja. The invitations were for a wedding ceremonies and a blessing ceremony for the newborn baby. Those were the wedding of my husband’s cousins in Singaraja, they are brothers. The first wedding was held for the younger brother then the ceremony for the newborn baby, and next was a wedding for the older brother.

The wedding was held in Balinese tradition and it was a sacred ceremony in a lifetime. We wished our cousin and his bride to be happy and to have a long-lasting marriage. I also would never forget the moment when I was married to my husband so I believed for everybody, a wedding ceremony would be a tearful yet full of happiness moment.

Because of the wedding was held in Singaraja, it took us about 2 hours to get there by motorbike. When we arrived at Singaraja, I didn’t want to miss the chance to swim at the Lovina beach as well. The journey made us pass the hills from Tabanan and then arrive at the northern seashore of Bali. Bali beaches on the north are very calm with small waves, unlike the southern beaches. So I was brave enough to swim there. It was a great moment to swim at the calm sea without being afraid of the big waves. Of course, you had to be able to swim if you wanted to swim in the sea. I even tried to dive from the dock.

Well, I really enjoy swimming in the northern Bali sea. To me it’s a precious moment. However, before I got married, when I was still in relationship with my husband, we also reached to the north Bali, to Git Git Twin Waterfall then Lovina beach. Yeah we had swum there once before we got married. It is because my husband who told me that he used to swim there when he was on the job training at Pizza House Restaurant.

Between swimming in the sea and in the swimming pool, I think I like it swimming in the sea better than in the pool. But to get access to the calm sea in the north is such an effort. There are some other foreign tourists who swim in the sea besides me. Most local people don’t swim at Lovina beach. Maybe Indonesian people prefer swimming in the pool and when they go to the beach they play on the seashore with the sand and the waves.

Always bring your bento and drinking bottle to the beach

Happy holiday!

And I feel terribly sorry for some Indonesians who underwent a natural disaster Tsunami in Anyer, Banten and Lampung. May God always be with us. Keep being strong.

❤️ Intan Rastini

Ekowisata Mangrove Wonorejo Surabaya

Tempat kedua di Surabaya yang kami kunjungi setelah RPTRA Taman Prestasi Ketabang Kali adalah hutan mangrove di Wonorejo, Rungkut. Ini termasuk kawasan konservasi dan ekowisata. Sebenarnya Surabaya itu panas banget ya, apalagi kalau berkunjung ke ruang terbuka di waktu siang hari seperti kami. Tapi untung di Ekowisata Mangrove Surabaya ini pohon bakaunya udah besar-besar jadi lumayan teduh.

Akses ke hutan bakau di Rungkut ini agak susah karena tidak terletak di pinggir jalan utama, kami harus masuk-masuk sampai ke pemukiman warga hingga ke kompleks perumahan baru. Tempat parkirnya cukup luas, kok. Ada untuk sepeda motor dan ada untuk mobil. Saat itu kami naik mobil dan tarif parkirnya Rp 5.000.

Pertama kali menginjakkan kaki di sana, saya melihat ada gedung kantor dan ada hall terbuka. Selanjutnya akan ada jalan jembatan kayu yang dibangun sepanjang area hutan bakau. Untuk masuk ke kawasan konservasi hutan bakau ini gratis. Di sepanjang jembatan kayu kami bisa melihat ada nama-nama tanaman jenis bakau. Juga ada spot khusus foto dan disediakan fotografer tapi sayang saat itu sedang tutup.

img_20180622_1409091494860974.jpg

Selama menyusuri hutan bakau, kami bisa melihat ada pedagang es, pedagang pentol keliling. Kalki sempat beli es krim, untuk harga es krim yang seharusnya Rp 3.000 dijual seharga Rp 6.000. Tidak lupa juga kami beli pentol hehehe…. Beli pentolnya cukup Rp 5.000 aja itu udah pakai bumbu kacang.

Di sana nggak melulu jalanan jembatan kayu, ada juga jalan aspal dan berpavink. Di jalan aspal kami mendapati bangkai perahu yang masih bagus di pajang di atas tanah yang agak lebih tinggi. Sayangnya perahu tersebut berdebu dan kotor jadi saat Kavin dan Kalki mau main ke atas perahu, saya tidak kasih. Lalu ada musholla dan ada kantin. Di dekat kantin terdapat kandang ular dan kandang monyet. Nggak tau siapa yang punya, tapi kandang ular dan monyetnya diletakkan berdekatan gitu. Kasian, apa nggak stress ya monyetnya?

Setelah kantin, ada kantor dan juga sebagai loket naik perahu menyusuri hutan bakau melalui sungai hingga ke muara. Lalu kami terus berjalan hingga ke jogging track. Di kawasan jogging track inilah ada jalan jembatan kayu lagi, di sini hutan bakaunya lebih lebat dan lebih teduh. Bahkan kami buka perbekalan di atas jembatan kayu sambil sesekali berfoto-foto. Yeah, jogging track is my favorite place! saya sempat coba jogging kecil disana dan kayu jembatannya agak kurah stabil dan kokoh buat lari karena bergerak-gerak dan bunyi juga hihi…

img_20180622_1407351080180322.jpg

Setelah makan siang ala piknik di hutan mangrove, kami melanjutkan jalan kaki menyusuri jembatan kayu kawasan jogging track. Di setiap beberapa meter disediakan tempat sampah organik dan anorganik. Juga ada papan penjelasan untuk jenis-jenis tanaman bakau yang ada di sana. Kalki setiap melihat papan penjelasan minta dibacain oleh opanya hehehe… Cocok banget kan sebagai wisata edukasi.

 

Di tengah perjalanan menyusuri jogging track, kami melihat orang-orang lainnya heboh karena ada seekor monyet. Ternyata itu monyet yang terlepas, karena di lehernya ada kalung dan tempat rantai. Kami juga nggak tau ini monyet siapa. Tapi monyetnya cukup jinak dan tidak membahayakan. Jadi sepanjang kami menyusuri jogging track hingga berujung di sebuah dermaga kayu pinggir sungai, monyet ini masih mengikuti di sekitar kami.

img_20180622_1338401031433691.jpg

img_20180622_1338581073120114.jpg

Halo saya Kavin! dan saya tertarik dengan monyet, mungkin juga karena arti namanya saya bisa sebagai “raja monyet” makanya saya senang bertemu rakyat saya 😀

 

Setelah sampai ujung jogging track yang mana udah ketemu sungai, kami jalan balik lagi ke arah kantin. Di kantor loket perahu, mama saya membeli karcis buat naik perahu. Harga tiketnya Rp 25.000 per orang. Tapi untuk Kavin yang maish balita gratis. Tapi naik perahu motornya harus menunggu kloter. Sambil menunggu kami duduk-duduk di dermaga. Disana ada beberapa orang sedang asyik mancing. Dan seperti ruang terbuka sebelumnya yang kami kunjungi, disini juga terdapat beberapa ekor kucing! Kayaknya di Surabaya emang banyak kucingnya, ya.

 

 

Saat perahu datang menurunkan penumpang, kami penumpang baru pun naik. Perahu motor ini membawa sekitar 20 penumpang menyusuri sungai sampai ke muara. Selama perjalanan kami bisa melihat beberapa macam burung yang hinggap dan terbang di antara pohon bakau. Kebanyakan sih burung putih seperti bangau. Lalu sampailah kami di hutan bakau dekat muara. Kami diturunkan di dermaga dan diberi waktu 15 menit untuk jalan-jalan.

img_20180622_145013305876993.jpg

Hutan bakau di muara sudah mengarah ke pantai. Ada bagian hutan lebatnya dan ada bagian yang sudah terbuka karena semakin ke pesisir, disana masih sama jalurnya adalah jembatan. Tapi kali ini bukan jembatan kayu saja, tapi juga jembatan anyaman bambu di area pesisir. Kalki dan Kavin melihat banyak sekali hewan ikan berkaki di pesisir pantai dari atas jembatan bambu. Opa bilang itu salamander. Ikan Salamandernya mirip lele tapi kecil-kecil ukurannya dan berkaki, dengan lincah mereka merayap-rayap di permukaan becek dan berlumpur. Gemes deh lihatnya.

 

 

Di kawasan pesisir disediakan musholla, toilet dan gazebo besar untuk bersantai menikmati pemandangan. Setelah menikmati kawasan pesisir, kami kembali menuju dermaga melalui jalur jembatan ke hutan bakau yang lebat, di hutan bakau ini lah saya melihat banyak sampah di permukaan tanahnya. Mungkin karena ini adalah muara jadi segala sampah yang terbawa sungai hanyut dan nyangkut disini diantara tanaman-tanaman bakau di muara. Sayang banget, jadi kotor kawasan ekowisatannya.

 

Kami pun kembali lagi untuk pulang menuju dermaga pertama. Karena hari sudah sore, ini adalah kloter perjalanan dengan perahu yang terakhir. Kalau tidak salah wisata naik perahu tutup pukul 16:00. Saat kami kembali loket tiket perahu saja sudah tutup. Kami berjalan pulang menuju parkiran sebagian besar bersama para pengunjung yang lainnya yang merupakan teman naik perahu kami tadi.

Kalki seneng banget di ajak ke kawasan Ekowisata Mangrove Surabaya sampai-sampai kakak Kalki bilang gini, “Tempatnya bagus oma, terima kasih ya oma, udah ajak Kalki kesini.” Hihihi… Untuk jaga-jaga selama membawa anak ke tempat wisata hutan mangrove sebaiknya bawa lotion anti nyamuk. Karena lumayan banyak nyamuk juga saat di dalam hutan bakau yang rindang. Sekian dulu cerita wisata di Surabaya, lanjut lagi next post, ya….

 

Ekowisata Mangrove Surabaya
Alamat: Jalan Raya Wonorejo No. 1, Wonorejo, Rungkut, Wonorejo, Rungkut, Kota SBY, Jawa Timur 60296
Jam buka: 08.00 – 16.00
Telepon: (031) 8796880

❤️Intan Rastini

Review The Cashew Tree

Tempat kedua yang kami datangi untuk makan, ditraktir adik saya yang datang dari Bekasi, adalah The Cashew Tree. Adik saya, Ryandi kerja di Bekasi, di Bali hanya sebentar dan dia mau ngajak keluarganya makan-makan di tempat makan organik dan menyehatkan. Pola makannya memang udah berubah, dia jadi lebih sadar makan sehat dengan pilihan makanan utuh kayak buah-buahan, sayiran, kacang-kacangan. Untuk daging pihannya juga maunya yang organik, lho! Tapi kadang kalau nggak ada daging ayam organik, daging kambing juga dia suka.

Langsung aja ya… Begitu datang kami pilih tempat duduk. Ada beberapa macam tempat duduk sih, seperti bar dengan kurai tinggi, lesehan dengan bean bag atau bantalan duduk, kurai kayu dan meja panjanga, juga spot ala gubuk-gubuk. Kami pilih tempat di sudut yang biasa aja sih, kursi dan kayunya kayak anyaman rotan.

Pelayanannya ramah, dan masnya juga mau bantuin kami mengatur ulang tempat duduk dan meja. Kami duduk di bawah pohon. Jadi kursinya agak terhimpit pohon dan meja gitu. Buku menu diedarkan.. makanan dan minuman terpisah.

Minuman kami pilih…

  1. Summertime
  2. Divine Coconut
  3. Green Dream
  4. Banana Boost
  5. Pitaya Power
  6. Cappucino

Dari semua minuman, Summertime termasuk “juices”, sedangkan no. 2 hingga 5 termasuk “smoothies”.

Kami kira pesan makanan sampai 4 menu ternyata nomor 5 itu smoothies yang disajikan di atas bowl. Minumannjus dan smoothies disajikan dengan sedotan. Tapi…. Sedotan yang mereka pakai sedotan kertas! Iya sedotannya bakalan layu lama-lama karena terendam minuman.

Semua smoothies enak. Sudah saya cobain satu-satu dan semuanya berkesan. Summertime pilihan saya, jus tersebut memyegarkan terdiri dari: pitaya, pisang, air kelapa dan bee pollen. Tapi pisang memang bikin mengenyangkan dan kental ya.

Divine Coconut paling enak, perpaduan creamy dari santan dan saya pikir juga ada air kelapanya yang menyegarkan berpadu unik. Rasanya enak banget, I like it very much. Isinya lebih kanyak milk shake vegan gitu. Ada vegan coconut ice cream (es krim kelapa vegan), parutan kelapa, santan dan minyak kelapa organik. Ternyata di daftar menu tidak tercantum air kelapa, malah minyak kelapa, eh.

Green Dream ada asem-asem segarnya karena ada jeruknya. Campurannya banyak banget, ada spirulina, kale, chia seed, pisang, nanas, mangga dan jus jeruk segar. Sehat banget ya.

Banana Boost ini smoothie pisang yang lembut dan krimi. Terdiri dari campuran susu almond, oat, selai kacang, kurma, cokelat kakao dan kayu manis.

Nah, Pitaya power ini disajikan di atas bowl. Isi bawahnya smoothies. Di atasnya disusun buah dan grain. Isinya maca, bayam, nanas, pisang, protein powder, pitaya dan air kelapa. Disusun pisang, kiwi, pepaya, parutan kelapa dan kacang-kacang yang bikin kalau nyendok smoothie bakalan ada yang digigit kriuk-kriuk. Sempat bingung juga lho, bener ga pesan smoothie kok di dalam bowl? Tapi karena bukan saya yang mesan melaunkan adik saya. Ya udah saya tulis aja seperti kata dia hehehe.

Terakhir, cappucino ini minuman pilihan adik saya yang paling alit atau bungsu. Disajikan dengan banana cake yang katanya homemade dan gula terpisah. Saya nggak nyobain minum, tapi coba banana cakenya aja. Dan enak, kok berasa pisangnya. Kopinya dihiasi gambar krim angsa.

Makanan yang kami pesan adalah…

1. Teriyaki Bowl

Pesanan mama ini disajika. Pakai nasi cokelat organik, ayam, saus teriyaki, sayur panggang, micro green, wortel, alpukat, organic greens, hummus, tahini dan mix seeds. Bahan-bahannya agak unfamiliar seperti tahini, hummus. Saya baru tau nama-namanya tapi ini cukup padat dan berisi. Kami bisa makan rame-rami karena porsinya cukup melimpah dan dengan nasi. Ayamnya juga empuk.

2. Tempeh Rolls Vegan

Ini pesanan ayah saya, awalnya saya juga udah melirik ini, lho. Tapi karena udah dipesan ayah, saya coba pesan menu lainnya supaya yang lain juga bisa mencoba. Isinya: rice paper, mix lettuce, kyuri, wortel, tempe, coriander, sesame, tahini. Disajikan dengan saus kacang. Rice papernya atau lapisan kulit pangsit dari nasi cukup tipus dan transparan sampai kami bisa melihat isi yang ada di dalamnnya. Rasanya enak juga, kata ayah seperti gado-gado. Diberi dua gulungan dan tetap bisa dicoba makan bersama dengan saus kacangnya.

3. Chicken Burger

Nah ini pesanan saya, terdiri dari ayam dipanggang, selada, tomat, bawang bombai dikaramelisasi, keju, acar, bit, alpukat dan sweet chili mayo. Agak tinggi tumpukan burgernya tapi burger bun atau roti burgernya tidak lebar. Jadi tau kan ramping ke atas dan agak.susah dipotong. Saya pegang mau gigit, eh isinya licin juga sampai keluar dari rotinya. Hiiihiiihiiiii…. Akhirnya dibagi-bagi untuk bersama. Ayamnya empuk tapi bukan patty. Enak banget bahkan campuran kombinasinya dengan alpukat dan bit untuk burger bikin semakin meriah. Bitnya manis. Alpukatnya krimi cenderung hambar dan nggak pahit, kayaknya ini nih yang bikin licin buat digigit dan dipotong.

Nah sesi makan bersama usai, saatnya melihat lokasi. Disini ada wifi gratis. Lalu juga untuk anak-anak ada kursi anak atau high chair. Di dinding banyak ditemui mural, di lantainya pun ada gambar permainan engkle yang dilengkapi angka.

Ada wahana bermain anak-anak disana sayang banget kami nggak ngajak anak-anak. Padahal tempatnya bersih dan disekat dengan pagar. Permainannya cukup lengkap dan lucu. Ada rumah-rumahan kecil dan besar, ayunan, patung, patung cicak atau kadal warna-warni, dan prosotan.

Di sebelah tempat bermain anak ada toilet dan tempat cuci tangan. Kami pun senang dan puas makan disana meski biayanya lumayan. Karena bahannya organik dan sehat jadi mahal mungkin, ya? Lalu harga di menu tidak termasuk servis, biaya servis terserah customer begitu katanya. Adik saya yang bayar, dia bayar harga tiap menu net trus tambah biaya servis sendiri.

Tempatnya masuk ke dalam jalan-jalan kecil berkapur di Pecatu, agak tricky carinya kalau pertama kali. Lalu akan ketemu di sudut belokan jalan, tempat makannya agak masuk ke dalam. Kalau dari luar kelihatan plang nama tempatnya dan tempat parkirnya. Di tempat parkir ada pohon mente besar. Mungkin karena itulah namanya The Cashew Tree.

Alamat: Jl. Pantai Bingin 80364, Pecatu, Bali

❤️ Intan Rastini