My Natural and Reef-safe Sunscreen by Sensatia Botanicals

Sunscreen pertama yang saya pakai dan ramah lingkungan adalah Surf Naked Sunscreen dari Sensatia Botanicals. Jadi ceritanya, saat saya akan melakukan bersih-bersih pantai secara santai bersama Laura di akhir tahun 2018 lalu. Laura menggunakan sunscreen sebelum beraksi, maka kami ngobrolin sunscreen dan dampaknya terhadap terumbu karang. Saya tanya, dong, sunscreen apa sih yang aman bagi ekosistem laut dan alami bahannya… Dia jawab, “try to find Sensatia Botanicals.”

Sensatia Botanicals adalah bisnis lokal di Bali yang didirikan pada tahun 2000 di sebuah desa nelayan kecil, Jasri, Karangasem di pesisir timur Bali. Perusahaan yang memproduksi produk-produk perawatan tubuh ini berkomitmen sebagai profit-sharing cooperation, yaitu menerapkan kesetaraan antara pekerja dan administrator. Mereka percaya bahwa tumbuh bersama sebagai sebuah komunitas, dan dengan demikian, Sensatia Botanicals sangat bangga bahwa karyawan mereka adalah 20% pemegang saham dari perusahaan produksi utama PT. Sensatia Botanicals.

Mengetahui latar tentang Sensatia Botanicals saya jadi senang ada produk-produk bodycare buatan lokal di Bali, apalagi menjalankan bisnisnya secara fair. Saya yakin Sensatia Botanicals bisa membawa kemajuan ekonomi pula bagi desa Jasri di Karangasem. Karena ini produk lokal, jadi kan saya bisa belinya nggak jauh-jauh, gitu. Selain itu juga bisa support local products. Karena emang kebanyakan untuk mencari produk natural itu salah satu kendalanya adalah belinya jauh, nggak bisa didapat dimana-mana dengan mudah.

Akhirnya saya browsing di marketplace, dan beli lah secara online Surf Naked Sunscree ini setelah tanya-tanya terlebih dahulu kepada customer service-nya. Pertanyaan yang saya tanyakan adalah sunscreennya mengandung SPF berapa dan udah uji lab bahwa mengandung SPF sekian belum. Soalnya kan di labelnya nggak tertulis tuh berapa SPF-nya. Oleh CS Sensatia Botanicals dijawab bahwa Surf Naked Sunscreen ini mengandung SPF 30 dan sudah melalui uji lab.

Designed with surfers in mind, Surf Naked Sunscreen is an all-natural, water-resistant sunscreen that offers heavyweight protection against UVA and UVB rays. The unique formula uses just three natural ingredients including mineral-rich zinc, coconut oil and candelila wax, so it is good for your skin and for the environment.

Waktu itu saya beli pada 5 Januari 2019 di Shopee seharga Rp125.000. Wah, ini produk Sensatia Botanicals pertama saya, lho! Karena saya lumayan sering beraktivitas di luar ruangan jadi perlu banget sunscreen. Semacam gayung bersambut, pas perlu sunscreen, pas kebetulan inilah saat saya beralih ke produk berbahan alami dan aman bagi ekosistem.

Lebih senang lagi ternyata Sensatia Botanicals juga peduli terhadap kemasan pascapakai produk. Setiap kemasan kosong Sensatia Botanicals bisa dikembalikan ke toko atau cabang mereka yang ada beberapa di Bali bahkan juga di Jakarta. Nah, setiap mengembalikan 12 kemasan kosong kamu bisa dapat voucher senilai Rp100.000 atau mendapat akumulasi points dari member card Sensatia Botanicals yang kamu miliki.

Diambil dari instastory @sensatiabotanicals

Lalu mengapa sunscreen bisa berbahaya bagi ekosistem laut? Karena bahan-bahan yang terkandung pada sunscreen tersebut bisa menjadi kontaminan saat kita bermain air di laut seperti saat berenang, berselancar, atau cuma berendam-berendam aja. Tapi meski kita ga main air di laut, bahan-bahan sunscreen yang tidak ramah lingkungan tetap bisa terbilas dan terbawa di saluran air hingga ke laut.

Bahan apa sih yang berbahaya bisa mencemari laut hingga mencetus kerusakan terumbu karang? Bahan-bahan nanopartikel yang terkandung seperti OxybenzoneBenzophenone-1Benzophenone-8OD-PABA4-Methylbenzylidene camphor3-Benzylidene camphornano-Titanium dioxide, dan nano-Zinc oxide. Selain terumbu karang, kandungan pada sunscreen juga dapat membahayakan kehidupan biota laut lainnya seperti kerang, lamun, ikan, bulu babi hingga lumba-lumba. 

“When you swim with sunscreen on, chemicals like oxybenzone can seep into the water, where they’re absorbed by corals. These substances contain nanoparticles that can disrupt coral’s reproduction and growth cycles, ultimately leading to bleaching.

Even if you don’t swim after applying sunscreen, it can go down drains when you shower. Aerosol versions of sunscreen can spray large amounts of the product onto the sand, where it gets washed into our oceans.” (dikutip dari: National Geographic)

Lalu apa saja kandungan sunscreen yang saya pilih?
Ingredients: Cocos Nucifera (Coconut) Oil, Zinc Oxide, Euphorbia Cerifera (Candelila) Wax.

Cuma ada tiga bahan, yaitu minyak kelapa, zinc oxide dan wax dari tanaman Candelila. Wax-nya dari tanaman, ya. Jadi vegan friendly. Wax ini lah yang menjaga supaya sunscreen ini water-resistant. Sedangkan bahan yang bekerja sebagai tabir surya adalah zinc oxide. Zinc oxide bekerja dengan cara menghalangi radiasi sinar UV ke kulit, sehingga bisa mencegah kulit terbakar dan penuaan dini.

10 Januari 2020

Surf Naked Sunscreen ini dikemas dalam wadah tin aluminium dengan berat bersih 70 gram atau 2.47 oz. Produk ini juga dilengkapi kemasan kardus. Memiliki label halal dari MUI, terdaftar di LPPOM dan POM. Selain aman untuk ibu hamil, aman juga untuk ibu menyusui. Bisa digunakan di badan, wajah dan bibir. Sebaiknya dioleskan 15 menit sebelum terpapar sinar matahari, dan dianjurkan untuk mengulangi pemakaian setiap dua jam setelah berkeringat, berenang atau sehabis handukan.

Isinya berwarna putih dan padat banget! Bener-bener solid dan agak susah ya diaplikasikan ke kulit. Saya nggak bisa colek isinya, cuma bisa usap-usap lalu smear it on my skin. Dan saking padat dan dense sampai sunscreen yang saya punya dari Januari 2019 hingga sekarang belum habis-habis! Saya udah pakai untuk satu keluarga, untuk anak-anak saya juga yang berusia 4 dan 6 tahun. Setiap kami main ke pantai, setiap mau berenang, pokoknya setiap mau beraktivitas outdoor. Dan ini awet banget.

Cuma saya jarang re-apply karena males dan selain itu kan kalau udah keringetan, takut ngeblokir pori-pori dengan kondisi kulit yang ga bersih ditemplokin sunscreen. Selain itu, hampir tiap berangkat kerja juga saya pakai di wajah, cuma nggak enaknya bisa tampak white cast atau tampak putih-putih gitu. Untuk dicoba dibibir pun bisa cuma bibir kamu bakalan kelihatan pucaaat banget, mending ditambahkan lagi dengan lipbalm yang berwarna gitu atau lip tint.

Mei 2020

Meski masa kedaluwarsanya masih beberapa bulan lagi, yaitu tercetak dikemasan expires Nov 2020, tapi masa pakai optimalnya udah lewat. Setelah wadah dibuka masa optimal sunscreen ini cuma 12 bulan. Lah, berarti kan sunscreen saya udah lewat masa pakai optimal, ya? Iya memang hihihi… Tapi baunya masih aman, ga ada tanda-tanda rancid jadi masih saya pakai hingga sekarang, rencananya sampai habis. Oh ya, sunscreen ini nggak ada bau yang berarti, sih. Baunya datar ya bau dari ketiga bahan penyusun sunscreen tersebut aja.

Akhir-akhir ini di saat pandemi virus Corona kita udah cukup lama berada di rumah saja. Sedih juga, ya, udah lama nggak main ke pantai sekeluarga. Tapi semakin kesini saya lihat di Instagram dan blog, tuh makin banyak yang berusaha berkebun di rumah demi ketahanan pangan domestik juga demi mengisi waktu dengan kegiatan yang bermanfaat.

Nah, saya juga, di rumah emang sudah ada kebun yang dipelihara maupun mulai digarap. Sambil berkebun biasanya saya pakai tuh sunscreennya. Karena sebenarnya bahaya sinar matahari itu nggak cuma sinar langsung aja tetapi juga sinar tak langsung yang masuk melalui jendela meski kita berada di dalam ruangan. Saat mendung pun ternyata radiasi sinar matahari tetap tembus sampai ke kulit kita, lho!

❤️ Intan Rastini.

Referensi:
https://sensatia.com/id/about
https://oceanpulse.id/penggunaan-sunscreen/
https://parenting.orami.co.id/magazine/zinc-oxide-pada-skincare/

Journey to Make Ecobricks

Tidak terpikirkan sebelumnya untuk mengelola sampah plastik dijadikan sebuah ecobrick. Karena apa, di keluarga saya nggak ada yang konsumsi air minum dalam kemasan botol. Saya sekeluarga biasa minum air dari mata air yang disalurkan melalui pipa. Saat ini sih air dari mata air sudah berkurang bahkan tidak mengalir lagi sampai ke rumah. Sebagai gantinya, kami pakai air sistem perpipaan yang sumbernya dari sungai. Sampai ke rumah, air sungai tersebut kami saring menggunakan bak khusus.

Nah, itu sedikit cerita tentang sumber air minum keluarga. Sempat bertanya-tanya juga mengapa air dari mata air tersebut nggak sampai lagi alirannya ke rumah kami. Apakah karena debitnya semakin kecil? Sehingga air tersebut sampai ke rumah warga lain terlebih dahulu yang lebih dekat? Saya nggak tau pasti. Saya lihat di Pura Pangkung Sakti, mata airnya tetap mengalir. Bisa juga debit air semakin mengecil karena daya serap tanah semakin berkurang. Saya takut jika mengetahui sebabnya akibat dari sampah plastik, tanah tidak bisa menyerap air lebih banyak air lagi daripada sebelumnya.

Cukup cerita tentang airnya.. Lanjut ke ecobrick. Januari tahun lalu, saya sempat ikut 31 Day Zero Waste Challenge dari Instagram @zerowaste.id_official dan @sayapilihbumi. Dari sana lah saya mulai mengenal ecobrick. Saya sudah mulai memisahkan sampah dari tahun 2018 karena pada tahun 2018 saya telah membuat lubang kompos. Sehingga sampah plastik tidak bercampur dengan sampah organik lagi. Dari teman-teman lain di Instagram yang mention @zerowaste.id_official di Instastory, saya jadi tau bahwa sampah plastik bisa dikelola dengan membuat Ecobrick.

Lalu pada bulan Februari saya mengundang Komunitas Bring Your Tumbler untuk datang ke Yayasan Eka Chita Pradnyan tempat saya mengajar. Mereka pun bersedia datang dan memberikan edukasi kepada murid-murid saya tentang pentingnya menjaga lingkungan dan ada juga workshop pembuatan ecobrick! Sebelum acara One Day Ecocamp bersama Bring Your Tumbler, saya sudah meminta murid-murid untuk mengumpulkan sampah plastik yang mereka hasilkan dari kegiatan konsumsi sehari-hari. Lalu saya minta untuk dicuci dan dikeringkan jika kemasan plastik tersebut kotor.

Saya sendiri juga melakukan hal yang sama di rumah. Saya kumpulkan kemasan-kemasan plastik yang saya timbulkan dari kegiatan konsumsi keluarga di rumah. Saya cuci dengan sabun dan saya tiriskan atau kadang juga dijemur, persis seperti mencuci piring. Setelah kering saya kumpulkan di kardus, lalu saya gunting-gunting menjadi potongan kecil sehingga akan mudah dimasukkan dan mengisi ruang botol air mineral bekas.

Ini captionnya, suami saya yang nulis, ya… Karena yang mengelola akun @kalkikavin adalah suami.

Saya mengumpulkan potongan-potongan kemasan plastik itu selama beberapa hari sebelum acara berlangsung dan mendapatkan satu toples besar potongan plastik seperti konfeti. Awalnya bikin untuk persiapan acara One Day Ecocamp bersama Bring Your Tumbler di yayasan. Setelah ikut workshop di yayasan, saya baru praktik membuat ecobrick-nya. Saat workshop murid-murid saya juga membawa potongan kemasan plastik yang mereka kumpulkan. Setelah semua anak berhasil membuat ecobrick, kami pun menyatukan ecobrick yang terkumpul menjadi sebuah tempat duduk kecil.

Setelah acara One Day Ecocamp bersama Komunitas Bring Your Tumbler selesai, saya jadi tetap melanjutkan membuat ecobrick karena sampah plastik yang dihasilkan oleh keluarga saya masih ada. Akhirnya saya ngumpul-ngumpulin botol bekas air mineral yang ukuran 1,5 L. Saya minta dari toko Bumdes di kantor yang penjaga tokonya ngumpul-ngumpulin botol bekas. Selain itu saya juga pernah memungut botol yang saya jumpai di jalan. Sampai pada akhirnya saya ditawari oleh Oma Trudy (oma pendiri yayasan tempat saya kerja) botol bekas Coca Cola ukuran 1,5 L dan saya dikasi banyaaak banget!

Mencuci botol-botol bekas Coca Cola

Botol-botol kemasan air mineral itu pun ya saya cuci dengan sabun cuci piring dan saya keringkan di rak gelas. Proses pengeringannya lumayan susah juga, karena mulut botolnya kecil dan ruang botolnya besar. Kadang saya jemur aja botol-botol tersebut di atas rumput terkena sinar matahari supaya cepat kering bagian dalamnya. Pernah saya butuh botol yang kering segera, maka saya keringkan dengan hair dryer, eeeh…. botolnya malah meleot kena panas yang intens. Ternyata banyak upaya yang perlu dikerahkan, ya, untuk mengusahakan pembuatan ecobrick ini. Tapi saya nggak sendirian, saya dibantu suami dan anak-anak. Syukur mereka seneng-seneng aja buatnya.

Dalam proses pembuatan ecobrick ini saya jadi kerasa capeknya ngurusin sampah plastik. Betapa sumber daya dan tenaga yang dikucurkan untuk membuat ecobrick sebagai bagian dari penanggulangan sampah plastik secara pribadi itu lumayan banget tercurah. Maka dari itu saya dan suami sepakat bahwa sangat penting untuk mengurangi timbulnya sampah plastik dari skala rumah tangga kami sendiri. Bagi saya mengurusi sampah plastik itu melelahkan, memakan waktu dan memakan sumber daya banget. Bayangkan berapa jumlah debit air bersih yang sudah saya kucurkan untuk membersihkan sampah-sampah plastik dan botol kemasan air mineral/Coca Cola? Belum lagi sabun cuci piring di rumah juga jadi cepat habis.

Proses mengeringkan kemasan plastik setelah dicuci bersih

Saya pun memberi tau anak-anak saya bahwa ngurusin sampah plastik itu lebih ribet dari pada kita berusaha bawa wadah sendiri untuk beli makanan tanpa kemasan plastik. Tapi anak-anak saya cukup seneng-seneng saja, sih dalam proses menggunting kemasan-kemasan plastik bekas makanan ringan. Oh ya, nggak semua plastik kemasan itu saya cuci, ada juga yang bisa dilap aja, atau bahkan nggak perlu dibersihkan dulu seperti sampah kemasan mi instan, sampah selotip, bubble wrap dan plastik pembungkus paket.

Ecobrick pertama kami beratnya 500 gram dibuat dalam kurun waktu kurnag-lebih 1 bulan

Sudah hampir satu tahun setengah keluarga saya membuat ecobrick. Total saat ini ecobrick yang terkumpul ada 22 ecobrick. Dalam empat bulan saya bisa menghasilkan 3 ecobrick. Tentu bukan kesuksesan jika saya bisa membuat banyak ecobrick dalam waktu yang lebih singkat karena berarti sampah plastik skala rumah tangga saya makin banyak, dong.

Pernah juga kami menyumbangkan satu ecobrick untuk sekolah Kalki karena Kalki mendapat tugas untuk membuat ecobrick. Di saat teman-teman Kalki di sekolah harus kebut membuat satu ecobrick dalam waktu beberapa hari saja, Kalki dengan tenangnya tinggal mama persiapkan satu untuk dibawa ke sekolah. Ini juga kan hasil kerja Kalki dan Kavin ikut bantu-bantu mama dan papa nyicil-nyicil ngerjain ecobrick di sela-sela waktu luang.

Selanjutnya, saya pernah diskusikan dengan suami ecobrick yang terkumpul mau dibuat apa? Saya pernah saranin untuk dibuat sebagai pagar bedeng tanaman. Tapi takutnya kalau di luar kelamaan kena efek cuaca, takut ecobrick-nya jadi rapuh. Karena plastik emang lama-kelamaan akan menyerpih terkena panas matahari. Wah, bahaya nih, kalau botol plastiknya koyak, kan isi sampah plastik di dalamnya bisa terburai. Suami bilang, ecobrick ya cocoknya dijadikan pengganti brick atau batu bata. Maksudnya harus disemen sampai tidak kelihatan bagian ecobrick-nya. Ini untuk menghindari bagian plastik terkena panas matahari dan lambat laun menjadi rapuh.

Dijadikan tempat duduk atau meja, suami juga nggak setuju karena takut lama-kelamaan penyok terus jadi rapuh. Sementara ini kami masih ngumpul-ngumpulin ecobrick aja sambil mikirin enakan nanti dibuat jadi apa… Atau siapa tau bakal kami sumbangkan ke bank sampah atau ke yayasan untuk diolah lagi. Udah pernah nyoba bikin ecobrick belum?

❤️ Intan Rastini.

Body Butter Whitening Buatan Lokal dari Embun Natural

Susah juga, lho, cari body butter berbahan alami yang juga punya manfaat mencerahkan kulit. Tapi ternyata saya bisa menemukannya dari brand pembuat produk bodycare lokal di Bali yaitu Embun Natural. Produk-produk Embun Natural ini handmade dari Bali. Tokonya ada di Ungasan, dekat GWK. Tepatnya di Jalan Bali Cliff No. 3, Bali 80361. Tapi saya belum pernah ke sana karena jauh banget dari rumah. Selama ini saya pernahnya beli secara online saja.

Gambar diambil dari akun Embun Natural di Shopee

Body Butter Whitening dari Embun Natural ini diperkaya dengan jicama extract untuk melembapkan dan mencerahkan kulit. Jicama dengan nama latin Pachyrhizus erosus merupakan umbi yang sudah kita kenal dengan khasiatnya mencerahkan kulit, yaitu bengkuang. Tanaman ini ternyata berasal dari Benua Amerika dan termasuk ke dalam polong-polongan, makanya sebutan lainnya dalam bahasa Inggris adalah yam bean. Secara umum juga dikenal sebagai jicama Mexican yam bean.

Bahan-bahan yang ada di dalam body butter ini ada apa saja?
Yang tertera pada label yang tertempel di kemasan kalengnya berikut ini adalah…
Ingredients: Coconut Oil, Olive Oil, Cocoa Butter, Shea Butter, Beeswax, Jicama Extract, Vitamin E.

Jadi ada minyak kelapa, lemak kakao, lemak yang diekstrak dari kacang pohon shea Afrika, lilin lebah, ekstrak bengkuang dan vitamin E. Bahannya tidak terlalu banyak, ya. Bagusnya tidak mengandung toxic or harsh chemical macam pelembap kulit konvensional. Sebagian besar bahan-bahan alaminya bermanfaat untuk melebapkan kulit dan juga bisa mengatasi permasalahan peradangan kulit ringan seperti ruam, eksim atau pun juga luka terbakar.

Saya suka banget ada cocoa butter di dalam body butter ini, karena saya suka panas-panasan terpapar sinar matahri gitu. Dan cocoa butter ini kaya akan senyawa tumbuhan alami yang disebut phytochemicals. Senyawa ini dapat memperbaiki aliran darah ke kulit dan melindungi kulit dari kerusakan akibat sinar UV sehingga mampu memperlambat penuaan kulit. Kandungan senyawa polifenol juga dapat membantu mengurangi tanda-tanda penuaan dan degenerasi kulit.

Body Butter Embun ini dikemas dalam wadah kaleng dengan cat putih berdiameter 8,2 cm yang cukup lebar dan ketinggian 2 cm yang tidak terlalu tebal, jadi cukup ceper gitu. Isi netto 60 gram. Saya beli pada tanggal 22 Mei 2019 secara online melalui Shopee. Dan saat itu saya beli pas diskon dengan harga Rp87.500 dari harga Rp125.000. Pas beli, saya juga memesan serat sisal sebagai pouch sabun batangan untuk dipakai saat mandi sebagai soap saver sekaligus membantu menggosok badan saat sabun batangan udah tambah kecil dan licin sehingga susah dipegang. Harga serat sisalnya Rp29.900.

Aroma body butternya enak banget! Saya nggak bisa deskripsikan aromanya dengan pasti apakah ini aroma bengkuang tapi menurut saya kayak perpaduan aroma bunga juga dan aromanya ringan. Aromanya sangat feminin, lembut dan tidak menyengat. Bagi saya aroma ini menyenangkan.

Konsistensi butternya yang berwarna putih seperti lilin ini lembut, mudah untuk dicolek dari wadah dan diaplikasikan ke kulit. Saat diambil itu berasa buttery dan lumer di kulit. Meski akan terasa sedikit berminyak, tapi saya suka banget produk ini mudah diserap kulit dan tidak akan menyisakan kulit terasa licin. Body Butter ini akan membuat kulit lembap dan lembut. Berbeda dengan pelembap kulit konvensional produksi massal lainnya yang saya pernah pakai, jika terkena air akan terasa licin, kalau yang ini tidak.

Saya pakai Body Butter Whitening 60 gram ini habis dalam waktu 1,5 bulan. Apakah saya beli lagi setelah habis? Tidak. Soalnya, produk ini status stoknya jadi habis terus di Shopee. Saya nggak tau kenapa Embun Natural tidak mengisi kembali stok produk mereka yang ini di Shopee. Lalu baru-baru ini setelah saya download Tokopedia, ternyata produknya dijual juga di sana. Selain Body Butter Whitening, ada juga Body Butter Anti-aging Green Tea, dan juga Body Butter Firming Coffee dan Vanilla. Hmmm kopi dan vanila, terdengar yummy sekali, bagaimana ya aromanya?

Saya suka banget pakai produk-produk natural terutama produk yang dikonsumsi langsung ke badan kita. Produk perawatan tubuh meskipun tidak kita makan tetapi yang dioleskan ke badan kan akan diserap oleh kulit. Jadi saya nggak mau lagi pakai produk perawatan tubuh yang mengandung paraben, SLS, PEG, EDTA, dan kawan-kawannya yang ternyata untuk jangka waktu panjang berbahaya bagi kesehatan.

Oh ya, selain kandungan bahan yang aman bagi kesehatan dan baik di kulit, wadah body butter Embun Natural ini juga ramah lingkungan. Materialnya lebih kokoh dari aluminium tin dan bagian dalamnya terlihat logam berwarna kekuningan. Sedangkan bagian luarnya dicat putih dan ada bagian-bagian dimana catnya sedikit hilang karena goresan. Setelah isinya habis saya gunakan jadi wadah kapas katun. Kalau kamu sudah beralih ke produk perawatan tubuh berbahan ramah di kulit, belum?

❤️ Intan Rastini.

Mengatasi Permasalahan Kulit Anak dengan Botanina All Purpose Healing Salve

Ada perbedaan ketahanan kulit antara Kalki dan Kavin. Kalau Kalki sering digigitin nyamuk sampai bentol-bentol banyak sedangkan Kavin kayak ga mempan digigitin nyamuk. Kulit kaki Kalki tuh lebih banyak bentol dan luka bekas garukan akibat gigitan nyamuk, kalau kulit kaki adiknya lebih mulus. Padahal anak-anak ya sama aja, kalau gatal ga tahan buat garuk tapi ternyata ketahanan kulitnya beda.

Karena kulit Kalki rentan koreng, saya udah sering anjurkan supaya jangan digaruk kalau gatal, coba ditahan sambil dielus aja. Karena kakinya udah banyak koleksi bekas luka akibat garukan di bentol gigitan nyamuk, ya jangan sampai nambah lagi. Tapi ya namanya anak-anak, suka nggak tahan godaan menggaruk, gitu… Gigitan nyamuk yang harusnya cuma bentol aja, malah jadi berdarah karena jadi luka terbuka. Selain itu kakak Kalki kan aktif suka main, jadi luka yang kecil-kecil dan banyak itu rentan kena kotoran dan debu. Kalau mau diplester ya kebanyakan.

Untuk itu saya cari solusi untuk permasalahan kulit Kalki supaya cepat sembuh. Ketemu lah dengan produk Botanina All Purpose Healing. Awalnya baca-baca gitu dari Instagram trus lihat-lihat di web marketplace sambil baca-baca review pembeli. Eh, kebetulan saat itu produk All Purpose Healing ada yang kemasan roll-on dan sedang habis lalu mau ganti produksi ke bentuk balm atau salve pakai aluminium container.

Untuk dapetin All Purpose Healing Botanina dalam bentuk balm ini, saat itu saya harus pre-order dulu di akun Shopee Botanina. Tapi ternyata pre-ordernya nggak lama, ada cuma 4 hari, produk udah dikirim ke alamat. Saat saya beli produk All Purpose Healing saya juga beli Comforting Kid Oil. Beli bulan Desember tahun 2019 lalu, harga All Purpose Healing Rp65.000. Sekarang harganya Rp75.000.

Jadi udah berapa lama tuh pakai All Purpose Healing? Dari tanggal 21 Desember 2019 sampai akhir Maret 2020, jadi udah 3 bulan pakai All Purpose Healing dengan netto 15 ml. Saat itu pakainya intens sekali untuk bentol gigitan nyamuk dan luka dari gigitan nyamuk yang digaruk pada kulit Kalki dan Kavin. Hampir setiap hari pakai setelah sehabis mandi. Dan emang manjur banget bentol-bentol itu jadi nggak gatal.

So far, lebih berkurang luka bekas garukan di kulit Kalki. Kalau dia udah digigit nyamuk atau serangga, bisa tuh langsung diolesin All Purpose Healing supaya jangan sampai terlanjur gatal ntar dia malah jadi nggak tahan buat garuk. Selain untuk Kalki dan Kavin, mama dan papa juga pakai, lho! Saya dan suami juga kalau digigit nyamuk atau ke kebun dan digigit tungau (yang bikin gatal banget di kulit), bisa langsung pakai All Purpose Healing dan terasa tidak mengganggu lagi gatal di kulit.

Malah menurut kami kalau kulit sudah dihinggapi tungau dari kebun, biasanya karena semak di kebun udah rapat dan tinggi, rasanya bisa lebih gatal daripada digigit nyamuk! Rasa gatalnya udah paling ganggu banget, deh! Kulit jadi kemerahan dan bisa membengkak. Nah, All Purpose Healing Botanina ini membantu banget untuk meredakan serangan tungau, gatal jadi berkurang dan bengkak jadi kempes.

Selain untuk meredakan gatal di kulit, kami juga sempat menggunakan All Purpose Healing ini untuk luka minor. Nah itu tadi, bekas gigitan nyamuk Kalki kan ada yang sudah menjadi luka terbuka, jadi saya oleskan aja semua, baik yang masih berupa bentol atau yang sudah jadi luka. Nggak masalah. Bahannya aman dan alami, cocok banget untuk kesehatan kulit keluarga. Saya pun juga pakai untuk luka kecil di jari akibat teriris pisau, luka goresan, bahkan untuk lebam atau memar pun manjur. Luka jadi cepat sembuh dan bengkak memar cepat mereda.

Multifungsi banget ya… Ada lagi kegunaannya bagi keluarga saya. Pernah, anak-anak terserang bisul, gitu. Kayaknya karena alergi, tapi penjelasan yang pasti saya nggak paham. Udah diperiksakan ke dokter juga, saya tanya apa bedanya bisul dan jerawat. Dokter bilang sama aja. Hmm… ini bisulnya pada Kalki dan Kavin bakalan membesar dan pecah keluar isi seperti darah dan cairan putih seperti nanah atau darah kotor. Saya oleskan juga All Purpose Healing ke bisul-bisul Kalki dan Kavin.

Bisul anak-anak sudah mereda dibantu pengobatan dari dokter dan All Purpose Healing salve. Kini saya udah pakai All Purpose Healing yang kedua, bukanya tanggal 23 Maret 2020. Memang setiap saya buka produk berbahan alami gitu, saya kasi tanggal di kemasannya supaya tau produk ini sudah terbuka sejak kapan. Apalagi meski expirednya masih lama, produk itu ada masa aman dipakainya saat sudah terbuka. Contohnya produk All Purpose Healing salve ini jika sudah terbuka masa pakainya optimalnya adalah untuk 12 bulan.

All Purpose Healing salve yang kedua ini agak lebih lambat habisnya, karena permasalahan kulit yang memerlukan olesan intensif sudah mereda. Udah dua bulan dibuka tapi isi masih full, kayaknya bisa lebih dari tiga bulan awet, nih. Masih sesekali saya pakai juga untuk ngobati memar dan luka minor. Dan satu lagi, jerawat! Ada beberapa kali saya jerawatan di kulit ketiak dan kulit kepala, rasanya jerawatan di area tersebut itu nyeri disertai gatal. Ternyata kempes dan reda, lho, diolesin All Purpose Healing Botanina ini. Tapi untuk jerawat di wajah, saya belum pernah coba ya…

Balmnya berwarna kuning kecokelatan, baunya seperti jamu dan tidak terlalu menyengat atau mengganggu bagi saya. Bagi Kavin relatif netral baunya. Bagi Kalki yang sensitif hidungnya, dia agak terganggu dengan baunya. Balmnya tidak terasa panas, maupun sejuk. Kalau dioles ke luka juga sama sekali tidak perih. Hanya akan terasa berminyak sebentar lalu tidak lama akan terserap oleh kulit.

Berikut ini keterangan produk yang saya ambil dari situs Botanina.com:

Produk ini memiliki manfaat anti bakteri, anti jamur, antiseptik, anti inflamasi, analgesik, dan regenerasi jaringan kulit.

USIA PENGGUNA : Semua Usia

CARA PENGGUNAAN: oles secukupnya 3-4x sehari pada luka iris, memar, gigitan serangga, sengatan lebah, eksim, luka bakar minor, gatal alergi, terbakar matahari, iritasi, campak, cacar air, racun tanaman. Hanya untuk pemakaian luar.

KANDUNGAN BAHAN: Beeswax (Cera alba), Cocoa (Theobroma cacao) Butter, Coconut (Cocos Nucifera) Oil, Moringa (Moringa oleifera) Oil, Jojoba (Simmondsia chinensis) Oil, Oatmeal (Avena sativa) Extract, Calendula (Calendula officinalis) Extract, Lavender (Lavandula angustifolia) Oil, Tea Tree (Melaleuca alternifolia) Oil, Frankincense (Boswellia serrata) Oil, Lemon (Citrus limonum) Oil, Tocopherol Vit E.

MASA OPTIMAL: 12 bulan

UKURAN: 15 ml

Tulisan ini berdasarkan pengalaman reaksi kulit anak-anak dan keluarga saya. Semoga bisa membantu keluarga lainnya yang perlu referensi salve atau balm alami sebagai obat permasalahan kulit keluarga. Kalau saya dan keluarga puas banget dengan adanya All Purpose Healing salve dari botanina sebagai bagian dari P3K. Sayang, harganya udah naik 10.000 rupiah hihihi… Lalu kemasan wadah kosongnya saya gunakan buat menyimpan benih bunga matahari yang mau ditanam.

❤️ Intan Rastini.

Perkembangan Berat Badan Kavin 2018 III hingga Posyandu Terakhir Tahun 2020

Ternyata udah lama banget nggak nulis perkembangan berat badan Kavin sampai bulan April ini tiba dan menjadi Posyandu terakhir adik Kavin. Yeay, akhirnya adik tamat Posyandu karena sudah berusia 5 tahun. Bulan April 2020 terjadi wabah Covid-19 sehingga Posyandu tidak bisa dilaksanakan seperti biasanya, tetapi tetap ada penimbangan berat badan dan pencatatan yang berlangsung sebentar saja lalu langsung pulang jadi tidak berkumpul dengan orang banyak dalam satu waktu yang lama.

Untuk mengejar ketertinggalan catatan berat badan adik Kavin sebelumnya di pertengahan bulan 2018, maka mama catch up disini….

2018

Juli
BB: 14,1kg

Agustus
BB: 13,7kg (timbang di Puskemas 1 Agustus 2018)
BB: 14kg
TB: 97cm (timbang dan ukur tinggi di Puskesmas Sutaberata 27 Agustus)

September
BB: 14,6kg

Oktober
BB: 14,1kg

November
BB: 15kg

Desember
BB Kavin: 15,5kg
BB Kalki: 19,9kg

2019

  1. Januari: 15,3 kg
  2. Februari: 14,7 kg
  3. Maret: 15,3 kg
  4. April: 15,5 kg
  5. Mei: 16 kg
  6. Juni: 16 kg
  7. Juli: 16,4 kg
  8. Agustus: 16,4 kg
  9. September: 16 kg
  10. Oktober: 15,6 kg
  11. November: 16 kg
  12. Desember: 16 kg
    Di tahun 2019 ini berat adik Kavin hanya di sekitaran 16 kg melulu.

2020

  1. Januari: 16,3 kg
  2. Februari: 15,9 kg
  3. Maret: 16,4 kg
  4. April: 16,8 kg

Di posyandu terakhir yang diadakan tanggal 11 April, adik Kavin menyelesaikan tabungan posyandu yang udah lama mama tabung sejak mama hamil di tahun 2012. Tabungan posyandu ini nggak ada bunganya, tetapi pas menutup tabungan, eh, dikasi bonus Rp10.000 oleh bu Widya, petugas tabungan Posyandu. Terima kasih, bu, akhirnya Kavin bisa beli kue ulang tahun red velvet cake untuk ulang tahunnya tanggal 13 April. Perayaan ulang tahun adik di rumah saja bersama papa, mama dan kakak Kalki.

Happy fifth birthday Kavin!

img_20200413_145840

Love,

mama.