Barang Wajib Bawa Saat Bersalin

Setelah punya pengalaman bersalin di klinik swasta bidan dan merasakan sendiri tepatnya butuh apa aja dan berapa jumlahnya barang-barang untuk ibu bersalin, bayi dan juga ayahnya. Maka, list perlengkapan bersalin papa, mama dan Guscil yang dulu aku sempat post di tumblr saat Kalki belum lahir, aku perbarui disini 🙂

Karena aku waktu melahirkan dulu menghabiskan waktu 3 hari 2 malam di klinik, maka jumlah yang aku sebutkan ini berdasarkan acuan tersebut ya… detilnya Kalki hari pertama aku sampai di klinik sore, lalu Kalki lahir pagi di hari kedua, dan kami pulang pagi di hari ketiga. Jadi Kalki menghabiskan waktu 2 hari 1 malam di klinik, sempat dimandikan 3 kali yaitu pagi dan sore di hari kelahirannya, dan mandi pagi sebelum dia pulang.

Kita mulai dari TAS GUSCIL (baby bag):

  1. popok kain 1 lusin
  2. sapu tangan bayi 2
  3. kain bedong 1 lusin (karena pakai popok kain untuk bay baru lahir, bedongnya ikut ganti kalo popok kainnya ganti. kec. pakai pospak bisa dikurangi bedongnya jadi 4)
  4. selimut bayi tebal 4
  5. pakaian bayi 4
  6. sarung tangan + kaki 2 pasang
  7. topi bayi 2
  8. handuk bayi 3 (kadang bayi suka pee/pup saat sedang dihandukin)
  9. waslap 2
  10. tisu basah khusus bayi 2 pak
  11. minyak telon

Semuanya dimasukkan ke dalam blue bag khusus Guscil (mudah-mudahan aja muat).

TAS SUAMI (tas papa):

  1. buku doa saku
  2. buku KIA + kartu kontrol kehamilan
  3. KTP suami dan KTP istri
  4. foto kopi masing-maisng KTP suami dan istri @5 lmbr
  5. foto kopi KK 3 lmbr
  6. foto kopi akta nikah 3 lmbr
  7. foto kopi buku KIA hal. iv dan 14-15 (untuk keperluan Jampersal)
  8. sapu tangan
  9. handuk
  10. celana dalam 2
  11. pakaian ganti
  12. sikat gigi
  13. Makanan ringan + minuman

Trus papa, juga kudu bawa: Kemaron + kain kasa (untuk wadah plasenta dan ari-ari). Karena ini ga dimasukkin tas, papa tulis diluar list angka.

TAS ISTRI (tas mama):

  1. BH menyusui 4
  2. Breast pad 6
  3. celana dalam 10 (karena lochia suka rembes ke celana dalam meski udah pakai pembalut jadi bawanya harus banyak)
  4. pakaian ibu 4
  5. stagen 2
  6. kamen 5-6
  7. sapu tangan
  8. tisu travel pack
  9. pembalut khusus pasca melahirkan 1 pak
  10. handuk
  11. sabun mandi (nah ini pakenya ntar bisa barengan sama papa juga)
  12. sikat gigi
  13. pasta gigi (barengan sama papa, makanya papa nggak bawa di tasnya)
  14. lipbalm
  15. minyak kayu putih
  16. pelembap wajah
  17. hand sanitizer (buat mama, papa, dan siapa pun yang mau megang-megang Guscil biar bersih!)
  18. deodoran
  19. jepit/karet rambut
  20. selimut, bantal kesayangan dan guling (saat kontraksi aku butuh guling untuk menyamankan selangkanganku, bantal untuk punggung. Lalu setelah persalinan aku menggigil kedinginan! Jadi selimut penting banget)
  21. kresek hitam kecil 1 pak (untuk buang pembalut)
  • Ember + tutup (tempat kita ngumpulin popok kotor si kecil sementara, ntar di rumah baru cuci)
  • Kresek jumbo 2 (buat pakaian kotor mama dan papa trus kreseknya bisa ditenteng atau dimasukkin tas yang kosong)
  • Air minum 2 L – 3 L
  • Makanan Ringan
  • Buku Panduan Guscil (Buku “Panduan Sehat Super Lengkap Kehamilan, Kelahiran & Perawatan Bayi”)

Sepertinya itu sudah cukup. Kata papa dompet udah otomatis harus dibawa jadi nggak perlu ditulis, begitu pula dengan barang yang jumlahnya 1 buah aja nggak perlu dikasi keterangan lagi.

Prinsipnya mending bawa lebih dari pada kekurangan, nah berdasarkan pengalaman persalinanku barang itu yang dibutuhkan dan jumlahnya pas segitu. Kalo mau tau proses persalinanku bisa dibaca di 2 post ini: prapersalinan dan persalinan aktif.

Untuk Nuke yang sedang hamil, kamu yang menginspirasi supaya aku cepat mengupdate list ini, kan siapa tau berguna untuk ibu-ibu hamil lainnya seperti kamu…

tas guscil dan tas mama, mama bingung milih yang perlu dimasukkin waktu itu. Kalo tas papa sih gampang!

perlengkapan guscil dan tas mama yang udah ready, mama bingung milih yang perlu dimasukkin ke tas guscil waktu itu. Kalo tas papa sih gampang! Jadi tas Guscil siap belakangan, padahal ini bocah yang paling utama hehehe

bawa cloth wipes bisa jadi pengganti wet tissue buat ganti popok, tapi ribet ah kalo untuk di klinik

bawa cloth wipes bisa jadi pengganti wet tissue buat ganti popok, tapi ribet ah kalo untuk di klinik

Nah ini tas Guscil udah siap! P.S kalo ada yang mau tas bayi seperti punya Guscil ini cek IG: @nuxshop 😉

Silakan dicek terlebih dahulu tempat bersalinnya, jika tempat tujuan bersalin menyediakan perlengkapan bayi, memiliki atau dekat dengan minimarket, dll. maka bisa dikurangi barang bawaanya, beda tempat beda kebutuhan ya… 🙂 Congratulations for you pregnancy ♡♥

Selanjutnya… barang bawaan saat pergi dengan bayi dan anak balita... saya tetep pakai baby bag biru 😉

Advertisements

Proses Persalinan Kalki (persalinan aktif)

Lanjutan dari posting sebelumnya.. Tahap persalinan aktif ini adalah saat mulut rahim sudah hampir membuka selebar 10 cm. Saat itu aku merasa lega karena akhirnya boleh mengejan! Ya, tentu aja mengejan bisa meredakan rasa sakit serangan kontraksi. Pokoknya saat inilah yang aku tunggu-tunggu supaya penderitaanku cepat selesai! Hehehe…

Oke lanjutannya aku agak lupa ya detil-detilnya, karena rasanya udah campur aduk: letih tapi bersemangat karena akan melihat buah hati kami, nervous, pasrah, tidak sabar, senang tapi juga kesakitan, bagaimanapun konsentrasi harus ditujukan ke pengaturan napas dan mendorong bayi agar keluar dengan cara mengejan yang efektif. Yaitu dengan posisi berbaring dan kedua kaki dibuka lebar, lutut ditekuk ke arah atas. Masing-masing tangan merangkul setiap paha dan saat mengejan paha harus ditarik saling menjauh agar jalan lahir juga ikut melebar. Lalu sebelum mulai mengejan menarik napas yang dalam dan nanti ditahan sambil diejankan sambil dirasakan dorongan di perut untuk mengeluarkan si bayi. Saat mengejan kepala diangkat dan aku dianjurkan melihat ke arah perut sampai dagu menyentuh dada. Tidak boleh mengeluarkan suara juga merupakan teknik mengejan yang efektif.

Sebelumnya aku memang rutin mengikuti senam hamil seminggu sekali. Namun hari rabu saat akan bersiap senam hamil, bu kadek, bidan yang akan membantu persalinanku ternyata membatalkan jadwal senam hari itu karena dia harus menolong persalinan pasiennya. Saat menerima sms dari bu kadek, aku beri tahukan kepada suamiku, lalu dia dengan nada kecewa berkata, “ya kapan senamnya, udah deket ini”. Karena minggu lalu senam juga dibatalkan dengan alasan yang sama. Jadi pada hari terakhir aku senam sebelumnya, bu kadek sudah menjajikan akan mengajarkan teknik mengejan dan nanti aku akan diberi kesempatan berlatih. Tapi ternyata kesempatan itu terjadi di saat detik-detik akan melakukan persalinan sesungguhnya! *kalo boleh jumawa, cukup hebat juga kan aku? Karena langsung belajar di atas ranjang bersalin tepat saat mau melahirkan? Sedangkan bumil lain yang juga ikut sesi senam ada yang sudah berlatih mengejan beberapa kali lho hohoho*

Aku diminta untuk mencoba mengejan pertama kali saat kontraksi datang, jadi sesuai instruksi aku sudah dalam posisi yang diajarkan, lalu aku mulai mengejan. Ternyata berat, dan lebih berat daripada mengejan saat BAB. Wajahku serasa mengeras dan darah terkumpul di wajah. Ya, kata suamiku sih wajahku memang merah banget sampai hampir-hampir ungu. Aku mengusahakan agar mengejanku cukup lama dan panjang (tidak terputus-putus) yang memang nggak mudah kalo napas udah abis. Jeleknya aku saat mengejan mengeluarkan suara tertahan! Padahal aku udah mawas diri lho supaya tidak mengeluarkan suara. Nggak tau, suara itu pokoknya diluar kendaliku. Bu kadek dan 3 bidan asistennya udah mengingatkan supaya tidak mengeluarkan suara, tapi aku nggak tau caranya?! Yang aku pikir, ya ya ya jangan bersuara, tapi ternyata itu nggak bisa aku kontrol!

Saat pertama kali mengejan bu kadek udah bilang, “bagus, tan..ya ayo terus, ayo.. Bagus!” Kata-kata bu kadek yang menyemangati itu membuatku termotivasi sampai akhirnya bu kadek bilang bahwa kepala si kecil sudah kelihatan! Suamiku dipanggil mendekat untuk melihatnya. Kata dia saat kami ngobrol-ngobrol beberapa minggu setelah hari itu, dia memang melihat kepala anak kami, “kelihatan sedikit”.

Tahap mengejan pertama udah dilewati, bu kadek bilang padaku untuk istirahat setengah jam. Nanti mulai mengejan lagi dan aku diminta supaya mendorong yang kuat usahakan yang panjang tanpa terputus. Bu kadek pun bersiap-siap sambil menunggu. Sedangkan aku? Serangan kontraksi itu tetap ada datang dan pergi setiap beberapa menit sekali dan aku kesakitan terus. Suamiku dan asisten bidan lainnya berkata untuk atur napas, jangan mengejan dulu. Tapi secara refleks mengejan itu sulit dihindari.

30 menit waktu yang harusnya aku pergunakan untuk istirahat, mengumpulkan energi jadi terpakai untuk melakukan hal-hal yang bisa meredakan sakitnya serangan kontraksi. Dan 30 menit itu terasa lamaaaa sekali! Aku berguling ke kiri dan ke kanan (mungkin. Soalnya lupa apa aja yang udah dilakukan saat itu) untuk membunuh waktu dan rasa sakit!

Saatnya mengejan lagi tiba… Sebelumnya pada awal-awal mencoba mengejan, bu Kadek memperbolehkan aku memakai posisi badan miring ke kiri. Tapi akhirnya jadi dengan posisi terlentang. Lalu setelah jeda setengah jam ini, aku mencoba mengejan terus setelah menarik napas dalam-dalam. Selanjutnya yang aku lakukan hanya mengejan-mengejan dan mengejan. Ada salah satu asisten bidan yang membantu dengan mendorong bagian perutku yang dekat dengan dada ke arah depan lurus dengan arah pandangku. Pada saat-saat genting ini aku udah mulai agak lupa apa-apa lagi yang terjadi secara detil. Bu kadek sempat bilang bahwa sebaiknya kalo sudah nggak kuat napasnya untuk ngejan, mending distop ngejannya dan mulai dari awal. Ya, sebaik-baiknya usahaku saat itu, tetap ada saat-saat dimana aku tetap ngotot mengejan meski terputus-putus napasnya.

Kata suamiku, saat napasku mulai habis dan si bayi belum terdorong maksimal kepalanya, bu kadek langsung menyayat perineumku. Aku pada waktu itu nggak merasakan sakit sayatan itu tapi aku sempat melihat tanda-tanda akan disayat dan juga rasa seperti mulut vagina melebar dengan drastis. Sambil terus mendorong dan mendengar bu kadek berkata sedikit lagi karena kepala sudah keluar.. Akhirnya aku merasakan seolah-olah sumbat bendungan sudah tercabut. Aku bisa merasakan dengan cukup jelas air ketuban serta badan bayi kecil kami melesat keluar melalu mulut vagina. Setelah itu ranjang jadi basah dan licin.

Sekarang adalah kelegaan kedua yang kurasakan karena bayi kami telah lahir! Aku tidak langsung mendengarkan suara tangis bayi. Yang ku dengar hanya suara seperti rengekan atau rintihan sambil merengek. Tapi bukan tangisan yang kencang seperti yang pada umumnya diceritakan mengenai keadaan bayi sesaat setelah dilahirkan. Saat aku melongok melihat ke arah kakiku, Kalki kecil kami berbaring di ujung ranjang bersalin dan bu kadek sedang menyedot sesuatu dari Kalki dengan menggunakan selang bening berdiameter kecil.

Apa yang terjadi selanjutnya, Kalki berusaha dibuat menangis oleh bu kadek dan asistennya. Suamiku tetap masih ada di ruang bersalin bersamaku. Ia memerhatikan Kalki seingatku, dan katanya setelah itu dia agak cemas karena Kalki tidak langsung menangis keras. Kata bu kadek, Kalki sedikit terbelit tali pusatnya, makanya perineumku disayat agar ia bisa segera dikeluarkan. Ada kemungkinan dia kekurangan oksigen sehingga tidak langsung menangis. Lalu akhirnya dia bisa menangis juga. Syukurlah. Astungkara Sang Hyang Widhi Wasa.

Hiruk pikuk yang terjadi selanjutnya adalah bu kadek dan 2 asistennya membersihkan Kalki dari darah dan cairan amnion yang masih menempel dan menanyakan segala perlengkapan bayi yang telah dibawa. Sedangkan salah satu asisten menggulung tali pusat yang masih tersisa di rahimku supaya keluar seluruhnya, beberapa saat digulung.. Tiba-tiba tali pusatnya putus! Dan asisten tersebut bingung, akhirnya bu kadek mengambil alih dan merogoh ke dalam rahimku. Hmmm… Aku was-was juga saat itu. Untungnya berhasil keluar plasentanya.

Setelah hiruk pikuk kelahiran buah hati kami dibarengi pengeluaran plasenta yang tidak berjalan mulus, aku pikir aku bisa benar-benar lega pada akhirnya dan melihat bayiku lalu melakukan IMD. Tenyata tidak… Kalki perlu diberi oksigen sedangkan aku perlu jahitan perineum! Astaga, aku benci ini. Kata bu kadek pakai obat bius. Obat bius apanya? Setelah injeksi di bagian perineum, ternyata itu tidak berhasil membuat area tersebut kebal! Aku tetap merasakan sakit tusukan dan terasa gesekan tarikan benang jahitnya. Ditambah proses menjahit itu lama sekali pula. Aku bolak-balik menanyakan apa sudah selesai. Bu kadek bilang tinggal sedikit, tinggal sedikit yang ternyata tetap masih berlangsung makan waktu tidak sedikit. Bu kadek menjahit dan bolak-balik mengecek apakah masih terdapat pendarahan atau tidak, jika masih maka akan dijahit lagi.. Ya ampun. Aku sudah tidak tahan lagi menahan sakit, kemana sih kerjanya obat bius itu?! Ternyata aku dapat 10 jahitan.

Oh ya, suamiku membantu mengelap keringatku yang mengucur selama proses persalinan hingga proses pasca persalinan. Setelah selesai bersalin aku jadi menggigil kedinginan, dan aku minta diberi sarung atau selimut, suamiku pun mengambilkan dan menyelimutiku. Bu kadek menanyakan apakah aku pusing, aku jawab nggak. Lalu ia menawarkan teh. Ya, aku memang haus sekali. Suamiku mendapat pujian dari salah satu asisten bidan, “bapaknya telaten, ya”. Kira-kira begitu *kalo ga salah denger, malah awalnya aku kira “bapaknya ‘teladan'” hihihihi* sedangkan aku juga mendapat pujian lhoo… Yaitu pinter nahan rasa sakit, begitu kata bu kadek, karena ada ibu lain yang mengerang, berteriak, juga menangis saat bersalin. Sedangkan asisten bu kadek bilang aku pandai mengatur napas. Thankyou thankyou.

Setelah Kalki selesai dibersihkan, mereka menimbang dan mengukurnya. Dikatakan berat kalki 3,45 kg dengan panjang 50 cm, lahir pukul 06.55 WITA. Lalu Kalki dibawa kepadaku, aku bisa melihat wajahnya untuk pertama kali. Wajahnya ganteng juga. Dan yang menarik mata bagiku adalah bagian kepalanya, tulang tengkoraknya terlihat ada yang menyembul berbentuk garis di bagian kening sebelah kanan dan kiri. Aku bertanya-tanya apakah kepala bayi baru lahir normal begini? Tapi pikiran itu langsung tergantikan dengan sesi IMD. Saat itu IMD kami (aku dan Kalki) tidak skin-to-skin karena Kalki sudah dibalut dengan selimut tebal dan ia didekapkan ke arah dadaku. Aku yang tadinya sudah memakai baju karena kedinginan, mendapati baju itu menyulitkan meski sudah dibuka kancing bagian dada, jadi aku buka saja. Tidak mudah mencari posisi pendekapan yang enak dan nyaman untuk pertama kalinya bersama bayiku. Bu kadek sudah membantu mengarahkan Kalki ke payudara kanan lalu kiri, mengarahkan puting ke mulutnya, tapi pelekatan tidak terjadi dengan baik sehingga belum ada hisapan 😦

Setelah proses IMD yang menurutku berlangsung kurang lancar dan sempurna, bu kadek menganjurkan untuk istirahat dulu dan mencoba lagi nanti. Maka aku boleh rebahan atau mencoba tidur, sedangkan Kalki di letakkan di ranjang sebelahku dengan disinari lampu dan diberi oksigen. Aku mencoba untuk tidur karena ngantuk dan capek tapi yang bisa kulakukan hanya memejamkan mata sambil berpikir-pikir, merasakan perasaan senang dan lega. Juga sempat bicara di telpon dengan mama sebentar dan membalas bbm yang masuk :ρ

Oh ya sebelumnya juga telah dibawakan sarapan untukku, suamiku membantu menyuapiku, tapi aku agak rancu urutan waktu yang terjadi pada pagi itu, seperti yang aku bilang bahwa aku lupa. Setelah semua itu, suamiku perlu ke apotek di klinik Kasta Gumani untuk membeli antibiotik Renasistin untuk Kalki. Aku sempat kecewa karena suamiku harus keluar dan tidak bisa menemaniku. Akhirnya aku di ruang bersalin berdua dengan Kalki, kadang bu kadek masuk atau asisten-asistennya untuk menanyakan keadaanku atau untuk menulis sesuatu sambil aku juga tetap mencoba tidur dan sesekali melirik ke arah Kalki.

Proses Persalinan Kalki (prapersalinan)

Jadi cerita persalinanku.. Siang-siang hari rabu, 29 Mei 2013 pas mau masak nasi goreng, aku pipis lalu perut terasa mules. Aku pikir sakit perut biasa… Pas duduk-duduk di kasur kok terasa ada yg ngalir dari vagina dan cukup konstan alirannya. Aku lihat celana dalamku ternyata ada noda pink dan lendir. Aku pikir ketubanku pecah bersama adanya show.

Itu pas sedang duduk-duduk ngobrol sama suami di kamar, karena mules aku bilang ke dia kasi liat cdku. Setelah liat ada cairan bening lendir dan pink, jadinya dia yang langsug masak nasi goreng supaya kami isi perut dulu sebelum berangkat ke klinik. Sementara aku rebahan di kasur dengan alas perlak, berusaha memberitau bu bidan tentang yg terjadi lewat sms. Kata bubid disuruh ke klinik. Tas-tas udh aku pack buat si kecil, ibu dan bapak yang tinggal dicangking aja. Nah setelah makan, suami cari mobil buat nganter kami.

Lalu setelah dapat transportasi, kami pergi ke klinik bidan yg biasa ANC aku di poskesdes. Klinik praktek swastanya adalah tempat tujuan bersalinku, ada di desa Bantas, Tabanan. Kira-kira ada 20km dari rumah dan saat itu sedang gerimis, untungnya tidak macet. Jam 3 sore WITA sampai di klinik, aku dicek ternyata udh bukaan 4 dan mulesnya udah ilang. Ternyata air ketubanku masih utuh. Karena ga terasa sakit banget, aku jalan-jalan kaki di klinik supaya cepet progress pembukaan selanjutnya.

Lama-lama terasa sakit di punggung bawah dan paha bagian dalam, tapi rasa sakitnya masih bearable rasanya. Aku jd ngantuk, maka aku tiduran. Sampai malem sih masih fine fine aja. Tambah pagi, lewat dari jam 12 dini hari aku jadi makin kesakitan di bagian punggung. Dan setiap kontraksi datang refleksku adalah mengejan seperti mendorong feses saat BAB, padahal belum boleh, karena bukaannya belum mencapai 10.

Antara jam 3-4 pagi (wita) rasanya aku ingin BAB, selain itu memang setiap hari aku teratur BAB pagi-pagi, sih! Jadi saat kontraksi datang aku bangun dari ranjang bersalin menuju ke kamar mandi, dan jongkok di atas WC. Jongkok layaknya akan BAB sedikit membantu meredakan nyeri hebat di punggung bawah saat kontraksi datang, tapi aku tidak bisa jongkok terus begitu karena cukup melelahkan posisinya. Dan ternyata aku tidak bisa BAB juga setelah beberapa lama jongkok dan juga mengejan. Akhirnya aku kembali ke ruang bersalin, duduk di atas ranjang, berusaha mengatur napas untuk rileks meski cukup sulit juga, fiiuh…!

Karena rasa sakitnya kontraksi semakin hebat, aku tidak tahan lagi! Sudah minta digosok oleh suami bagian punggung bawah, mencoba rebahan miring ke kanan (kalau dilihat asisten bidan/bidannya pasti disuruh ganti miring ke kiri) dan juga ke kiri, berbaring terlentang, mengganjal punggung dengan bantal, duduk di ranjang, nungging, merangkak, duduk di kursi, berdiri dan juga mencoba berjalan di dalam ruangan. Tetap saja rasa sakitnya luar biasa. Aku jadi nelpon mama dan minta ampun. Hehehe abis rasa sakitnya emang bikin bingung dan frustasiiii!

Suamiku bolak-balik memanggilkan asisten bidan supaya mengecek keadaanku. Cek detak jantung bayi, cek bukaan, mengingatkan untuk menarik napas dan dikeluarkan lewat mulut, membantu mengusap perut, juga seperti biasa, memberitahu untuk rebahan miring ke kiri. Pagi kira-kira pukul 5 WITA, Bu Kadek datang dan memeriksa bukaanku. Ternyata sudah hampir bukaan 10. Aku diberitahu untuk mengatur napas dan teknik mengejan yg efektif.

Suamiku suportif selama masa kontraksi dan tahap persalinan. Ia terus menemaniku di ruang bersalin sampai tiba saatnya anak kami lahir. Dari awal kami tiba di klinik ia menemaniku jalan-jalan kaki sampai ke jalan raya, membeli makanan untuk kami konsumsi selama di klinik, juga menggosok punggung saat terasa serangan kontraksi. Dia jadi doula yang hebat!