My Natural and Reef-safe Sunscreen by Sensatia Botanicals

Sunscreen pertama yang saya pakai dan ramah lingkungan adalah Surf Naked Sunscreen dari Sensatia Botanicals. Jadi ceritanya, saat saya akan melakukan bersih-bersih pantai secara santai bersama Laura di akhir tahun 2018 lalu. Laura menggunakan sunscreen sebelum beraksi, maka kami ngobrolin sunscreen dan dampaknya terhadap terumbu karang. Saya tanya, dong, sunscreen apa sih yang aman bagi ekosistem laut dan alami bahannya… Dia jawab, “try to find Sensatia Botanicals.”

Sensatia Botanicals adalah bisnis lokal di Bali yang didirikan pada tahun 2000 di sebuah desa nelayan kecil, Jasri, Karangasem di pesisir timur Bali. Perusahaan yang memproduksi produk-produk perawatan tubuh ini berkomitmen sebagai profit-sharing cooperation, yaitu menerapkan kesetaraan antara pekerja dan administrator. Mereka percaya bahwa tumbuh bersama sebagai sebuah komunitas, dan dengan demikian, Sensatia Botanicals sangat bangga bahwa karyawan mereka adalah 20% pemegang saham dari perusahaan produksi utama PT. Sensatia Botanicals.

Mengetahui latar tentang Sensatia Botanicals saya jadi senang ada produk-produk bodycare buatan lokal di Bali, apalagi menjalankan bisnisnya secara fair. Saya yakin Sensatia Botanicals bisa membawa kemajuan ekonomi pula bagi desa Jasri di Karangasem. Karena ini produk lokal, jadi kan saya bisa belinya nggak jauh-jauh, gitu. Selain itu juga bisa support local products. Karena emang kebanyakan untuk mencari produk natural itu salah satu kendalanya adalah belinya jauh, nggak bisa didapat dimana-mana dengan mudah.

Akhirnya saya browsing di marketplace, dan beli lah secara online Surf Naked Sunscree ini setelah tanya-tanya terlebih dahulu kepada customer service-nya. Pertanyaan yang saya tanyakan adalah sunscreennya mengandung SPF berapa dan udah uji lab bahwa mengandung SPF sekian belum. Soalnya kan di labelnya nggak tertulis tuh berapa SPF-nya. Oleh CS Sensatia Botanicals dijawab bahwa Surf Naked Sunscreen ini mengandung SPF 30 dan sudah melalui uji lab.

Designed with surfers in mind, Surf Naked Sunscreen is an all-natural, water-resistant sunscreen that offers heavyweight protection against UVA and UVB rays. The unique formula uses just three natural ingredients including mineral-rich zinc, coconut oil and candelila wax, so it is good for your skin and for the environment.

Waktu itu saya beli pada 5 Januari 2019 di Shopee seharga Rp125.000. Wah, ini produk Sensatia Botanicals pertama saya, lho! Karena saya lumayan sering beraktivitas di luar ruangan jadi perlu banget sunscreen. Semacam gayung bersambut, pas perlu sunscreen, pas kebetulan inilah saat saya beralih ke produk berbahan alami dan aman bagi ekosistem.

Lebih senang lagi ternyata Sensatia Botanicals juga peduli terhadap kemasan pascapakai produk. Setiap kemasan kosong Sensatia Botanicals bisa dikembalikan ke toko atau cabang mereka yang ada beberapa di Bali bahkan juga di Jakarta. Nah, setiap mengembalikan 12 kemasan kosong kamu bisa dapat voucher senilai Rp100.000 atau mendapat akumulasi points dari member card Sensatia Botanicals yang kamu miliki.

Diambil dari instastory @sensatiabotanicals

Lalu mengapa sunscreen bisa berbahaya bagi ekosistem laut? Karena bahan-bahan yang terkandung pada sunscreen tersebut bisa menjadi kontaminan saat kita bermain air di laut seperti saat berenang, berselancar, atau cuma berendam-berendam aja. Tapi meski kita ga main air di laut, bahan-bahan sunscreen yang tidak ramah lingkungan tetap bisa terbilas dan terbawa di saluran air hingga ke laut.

Bahan apa sih yang berbahaya bisa mencemari laut hingga mencetus kerusakan terumbu karang? Bahan-bahan nanopartikel yang terkandung seperti OxybenzoneBenzophenone-1Benzophenone-8OD-PABA4-Methylbenzylidene camphor3-Benzylidene camphornano-Titanium dioxide, dan nano-Zinc oxide. Selain terumbu karang, kandungan pada sunscreen juga dapat membahayakan kehidupan biota laut lainnya seperti kerang, lamun, ikan, bulu babi hingga lumba-lumba. 

“When you swim with sunscreen on, chemicals like oxybenzone can seep into the water, where they’re absorbed by corals. These substances contain nanoparticles that can disrupt coral’s reproduction and growth cycles, ultimately leading to bleaching.

Even if you don’t swim after applying sunscreen, it can go down drains when you shower. Aerosol versions of sunscreen can spray large amounts of the product onto the sand, where it gets washed into our oceans.” (dikutip dari: National Geographic)

Lalu apa saja kandungan sunscreen yang saya pilih?
Ingredients: Cocos Nucifera (Coconut) Oil, Zinc Oxide, Euphorbia Cerifera (Candelila) Wax.

Cuma ada tiga bahan, yaitu minyak kelapa, zinc oxide dan wax dari tanaman Candelila. Wax-nya dari tanaman, ya. Jadi vegan friendly. Wax ini lah yang menjaga supaya sunscreen ini water-resistant. Sedangkan bahan yang bekerja sebagai tabir surya adalah zinc oxide. Zinc oxide bekerja dengan cara menghalangi radiasi sinar UV ke kulit, sehingga bisa mencegah kulit terbakar dan penuaan dini.

10 Januari 2020

Surf Naked Sunscreen ini dikemas dalam wadah tin aluminium dengan berat bersih 70 gram atau 2.47 oz. Produk ini juga dilengkapi kemasan kardus. Memiliki label halal dari MUI, terdaftar di LPPOM dan POM. Selain aman untuk ibu hamil, aman juga untuk ibu menyusui. Bisa digunakan di badan, wajah dan bibir. Sebaiknya dioleskan 15 menit sebelum terpapar sinar matahari, dan dianjurkan untuk mengulangi pemakaian setiap dua jam setelah berkeringat, berenang atau sehabis handukan.

Isinya berwarna putih dan padat banget! Bener-bener solid dan agak susah ya diaplikasikan ke kulit. Saya nggak bisa colek isinya, cuma bisa usap-usap lalu smear it on my skin. Dan saking padat dan dense sampai sunscreen yang saya punya dari Januari 2019 hingga sekarang belum habis-habis! Saya udah pakai untuk satu keluarga, untuk anak-anak saya juga yang berusia 4 dan 6 tahun. Setiap kami main ke pantai, setiap mau berenang, pokoknya setiap mau beraktivitas outdoor. Dan ini awet banget.

Cuma saya jarang re-apply karena males dan selain itu kan kalau udah keringetan, takut ngeblokir pori-pori dengan kondisi kulit yang ga bersih ditemplokin sunscreen. Selain itu, hampir tiap berangkat kerja juga saya pakai di wajah, cuma nggak enaknya bisa tampak white cast atau tampak putih-putih gitu. Untuk dicoba dibibir pun bisa cuma bibir kamu bakalan kelihatan pucaaat banget, mending ditambahkan lagi dengan lipbalm yang berwarna gitu atau lip tint.

Mei 2020

Meski masa kedaluwarsanya masih beberapa bulan lagi, yaitu tercetak dikemasan expires Nov 2020, tapi masa pakai optimalnya udah lewat. Setelah wadah dibuka masa optimal sunscreen ini cuma 12 bulan. Lah, berarti kan sunscreen saya udah lewat masa pakai optimal, ya? Iya memang hihihi… Tapi baunya masih aman, ga ada tanda-tanda rancid jadi masih saya pakai hingga sekarang, rencananya sampai habis. Oh ya, sunscreen ini nggak ada bau yang berarti, sih. Baunya datar ya bau dari ketiga bahan penyusun sunscreen tersebut aja.

Akhir-akhir ini di saat pandemi virus Corona kita udah cukup lama berada di rumah saja. Sedih juga, ya, udah lama nggak main ke pantai sekeluarga. Tapi semakin kesini saya lihat di Instagram dan blog, tuh makin banyak yang berusaha berkebun di rumah demi ketahanan pangan domestik juga demi mengisi waktu dengan kegiatan yang bermanfaat.

Nah, saya juga, di rumah emang sudah ada kebun yang dipelihara maupun mulai digarap. Sambil berkebun biasanya saya pakai tuh sunscreennya. Karena sebenarnya bahaya sinar matahari itu nggak cuma sinar langsung aja tetapi juga sinar tak langsung yang masuk melalui jendela meski kita berada di dalam ruangan. Saat mendung pun ternyata radiasi sinar matahari tetap tembus sampai ke kulit kita, lho!

❤️ Intan Rastini.

Referensi:
https://sensatia.com/id/about
https://oceanpulse.id/penggunaan-sunscreen/
https://parenting.orami.co.id/magazine/zinc-oxide-pada-skincare/

Body Butter Whitening Buatan Lokal dari Embun Natural

Susah juga, lho, cari body butter berbahan alami yang juga punya manfaat mencerahkan kulit. Tapi ternyata saya bisa menemukannya dari brand pembuat produk bodycare lokal di Bali yaitu Embun Natural. Produk-produk Embun Natural ini handmade dari Bali. Tokonya ada di Ungasan, dekat GWK. Tepatnya di Jalan Bali Cliff No. 3, Bali 80361. Tapi saya belum pernah ke sana karena jauh banget dari rumah. Selama ini saya pernahnya beli secara online saja.

Gambar diambil dari akun Embun Natural di Shopee

Body Butter Whitening dari Embun Natural ini diperkaya dengan jicama extract untuk melembapkan dan mencerahkan kulit. Jicama dengan nama latin Pachyrhizus erosus merupakan umbi yang sudah kita kenal dengan khasiatnya mencerahkan kulit, yaitu bengkuang. Tanaman ini ternyata berasal dari Benua Amerika dan termasuk ke dalam polong-polongan, makanya sebutan lainnya dalam bahasa Inggris adalah yam bean. Secara umum juga dikenal sebagai jicama Mexican yam bean.

Bahan-bahan yang ada di dalam body butter ini ada apa saja?
Yang tertera pada label yang tertempel di kemasan kalengnya berikut ini adalah…
Ingredients: Coconut Oil, Olive Oil, Cocoa Butter, Shea Butter, Beeswax, Jicama Extract, Vitamin E.

Jadi ada minyak kelapa, lemak kakao, lemak yang diekstrak dari kacang pohon shea Afrika, lilin lebah, ekstrak bengkuang dan vitamin E. Bahannya tidak terlalu banyak, ya. Bagusnya tidak mengandung toxic or harsh chemical macam pelembap kulit konvensional. Sebagian besar bahan-bahan alaminya bermanfaat untuk melebapkan kulit dan juga bisa mengatasi permasalahan peradangan kulit ringan seperti ruam, eksim atau pun juga luka terbakar.

Saya suka banget ada cocoa butter di dalam body butter ini, karena saya suka panas-panasan terpapar sinar matahri gitu. Dan cocoa butter ini kaya akan senyawa tumbuhan alami yang disebut phytochemicals. Senyawa ini dapat memperbaiki aliran darah ke kulit dan melindungi kulit dari kerusakan akibat sinar UV sehingga mampu memperlambat penuaan kulit. Kandungan senyawa polifenol juga dapat membantu mengurangi tanda-tanda penuaan dan degenerasi kulit.

Body Butter Embun ini dikemas dalam wadah kaleng dengan cat putih berdiameter 8,2 cm yang cukup lebar dan ketinggian 2 cm yang tidak terlalu tebal, jadi cukup ceper gitu. Isi netto 60 gram. Saya beli pada tanggal 22 Mei 2019 secara online melalui Shopee. Dan saat itu saya beli pas diskon dengan harga Rp87.500 dari harga Rp125.000. Pas beli, saya juga memesan serat sisal sebagai pouch sabun batangan untuk dipakai saat mandi sebagai soap saver sekaligus membantu menggosok badan saat sabun batangan udah tambah kecil dan licin sehingga susah dipegang. Harga serat sisalnya Rp29.900.

Aroma body butternya enak banget! Saya nggak bisa deskripsikan aromanya dengan pasti apakah ini aroma bengkuang tapi menurut saya kayak perpaduan aroma bunga juga dan aromanya ringan. Aromanya sangat feminin, lembut dan tidak menyengat. Bagi saya aroma ini menyenangkan.

Konsistensi butternya yang berwarna putih seperti lilin ini lembut, mudah untuk dicolek dari wadah dan diaplikasikan ke kulit. Saat diambil itu berasa buttery dan lumer di kulit. Meski akan terasa sedikit berminyak, tapi saya suka banget produk ini mudah diserap kulit dan tidak akan menyisakan kulit terasa licin. Body Butter ini akan membuat kulit lembap dan lembut. Berbeda dengan pelembap kulit konvensional produksi massal lainnya yang saya pernah pakai, jika terkena air akan terasa licin, kalau yang ini tidak.

Saya pakai Body Butter Whitening 60 gram ini habis dalam waktu 1,5 bulan. Apakah saya beli lagi setelah habis? Tidak. Soalnya, produk ini status stoknya jadi habis terus di Shopee. Saya nggak tau kenapa Embun Natural tidak mengisi kembali stok produk mereka yang ini di Shopee. Lalu baru-baru ini setelah saya download Tokopedia, ternyata produknya dijual juga di sana. Selain Body Butter Whitening, ada juga Body Butter Anti-aging Green Tea, dan juga Body Butter Firming Coffee dan Vanilla. Hmmm kopi dan vanila, terdengar yummy sekali, bagaimana ya aromanya?

Saya suka banget pakai produk-produk natural terutama produk yang dikonsumsi langsung ke badan kita. Produk perawatan tubuh meskipun tidak kita makan tetapi yang dioleskan ke badan kan akan diserap oleh kulit. Jadi saya nggak mau lagi pakai produk perawatan tubuh yang mengandung paraben, SLS, PEG, EDTA, dan kawan-kawannya yang ternyata untuk jangka waktu panjang berbahaya bagi kesehatan.

Oh ya, selain kandungan bahan yang aman bagi kesehatan dan baik di kulit, wadah body butter Embun Natural ini juga ramah lingkungan. Materialnya lebih kokoh dari aluminium tin dan bagian dalamnya terlihat logam berwarna kekuningan. Sedangkan bagian luarnya dicat putih dan ada bagian-bagian dimana catnya sedikit hilang karena goresan. Setelah isinya habis saya gunakan jadi wadah kapas katun. Kalau kamu sudah beralih ke produk perawatan tubuh berbahan ramah di kulit, belum?

❤️ Intan Rastini.

Mengatasi Permasalahan Kulit Anak dengan Botanina All Purpose Healing Salve

Ada perbedaan ketahanan kulit antara Kalki dan Kavin. Kalau Kalki sering digigitin nyamuk sampai bentol-bentol banyak sedangkan Kavin kayak ga mempan digigitin nyamuk. Kulit kaki Kalki tuh lebih banyak bentol dan luka bekas garukan akibat gigitan nyamuk, kalau kulit kaki adiknya lebih mulus. Padahal anak-anak ya sama aja, kalau gatal ga tahan buat garuk tapi ternyata ketahanan kulitnya beda.

Karena kulit Kalki rentan koreng, saya udah sering anjurkan supaya jangan digaruk kalau gatal, coba ditahan sambil dielus aja. Karena kakinya udah banyak koleksi bekas luka akibat garukan di bentol gigitan nyamuk, ya jangan sampai nambah lagi. Tapi ya namanya anak-anak, suka nggak tahan godaan menggaruk, gitu… Gigitan nyamuk yang harusnya cuma bentol aja, malah jadi berdarah karena jadi luka terbuka. Selain itu kakak Kalki kan aktif suka main, jadi luka yang kecil-kecil dan banyak itu rentan kena kotoran dan debu. Kalau mau diplester ya kebanyakan.

Untuk itu saya cari solusi untuk permasalahan kulit Kalki supaya cepat sembuh. Ketemu lah dengan produk Botanina All Purpose Healing. Awalnya baca-baca gitu dari Instagram trus lihat-lihat di web marketplace sambil baca-baca review pembeli. Eh, kebetulan saat itu produk All Purpose Healing ada yang kemasan roll-on dan sedang habis lalu mau ganti produksi ke bentuk balm atau salve pakai aluminium container.

Untuk dapetin All Purpose Healing Botanina dalam bentuk balm ini, saat itu saya harus pre-order dulu di akun Shopee Botanina. Tapi ternyata pre-ordernya nggak lama, ada cuma 4 hari, produk udah dikirim ke alamat. Saat saya beli produk All Purpose Healing saya juga beli Comforting Kid Oil. Beli bulan Desember tahun 2019 lalu, harga All Purpose Healing Rp65.000. Sekarang harganya Rp75.000.

Jadi udah berapa lama tuh pakai All Purpose Healing? Dari tanggal 21 Desember 2019 sampai akhir Maret 2020, jadi udah 3 bulan pakai All Purpose Healing dengan netto 15 ml. Saat itu pakainya intens sekali untuk bentol gigitan nyamuk dan luka dari gigitan nyamuk yang digaruk pada kulit Kalki dan Kavin. Hampir setiap hari pakai setelah sehabis mandi. Dan emang manjur banget bentol-bentol itu jadi nggak gatal.

So far, lebih berkurang luka bekas garukan di kulit Kalki. Kalau dia udah digigit nyamuk atau serangga, bisa tuh langsung diolesin All Purpose Healing supaya jangan sampai terlanjur gatal ntar dia malah jadi nggak tahan buat garuk. Selain untuk Kalki dan Kavin, mama dan papa juga pakai, lho! Saya dan suami juga kalau digigit nyamuk atau ke kebun dan digigit tungau (yang bikin gatal banget di kulit), bisa langsung pakai All Purpose Healing dan terasa tidak mengganggu lagi gatal di kulit.

Malah menurut kami kalau kulit sudah dihinggapi tungau dari kebun, biasanya karena semak di kebun udah rapat dan tinggi, rasanya bisa lebih gatal daripada digigit nyamuk! Rasa gatalnya udah paling ganggu banget, deh! Kulit jadi kemerahan dan bisa membengkak. Nah, All Purpose Healing Botanina ini membantu banget untuk meredakan serangan tungau, gatal jadi berkurang dan bengkak jadi kempes.

Selain untuk meredakan gatal di kulit, kami juga sempat menggunakan All Purpose Healing ini untuk luka minor. Nah itu tadi, bekas gigitan nyamuk Kalki kan ada yang sudah menjadi luka terbuka, jadi saya oleskan aja semua, baik yang masih berupa bentol atau yang sudah jadi luka. Nggak masalah. Bahannya aman dan alami, cocok banget untuk kesehatan kulit keluarga. Saya pun juga pakai untuk luka kecil di jari akibat teriris pisau, luka goresan, bahkan untuk lebam atau memar pun manjur. Luka jadi cepat sembuh dan bengkak memar cepat mereda.

Multifungsi banget ya… Ada lagi kegunaannya bagi keluarga saya. Pernah, anak-anak terserang bisul, gitu. Kayaknya karena alergi, tapi penjelasan yang pasti saya nggak paham. Udah diperiksakan ke dokter juga, saya tanya apa bedanya bisul dan jerawat. Dokter bilang sama aja. Hmm… ini bisulnya pada Kalki dan Kavin bakalan membesar dan pecah keluar isi seperti darah dan cairan putih seperti nanah atau darah kotor. Saya oleskan juga All Purpose Healing ke bisul-bisul Kalki dan Kavin.

Bisul anak-anak sudah mereda dibantu pengobatan dari dokter dan All Purpose Healing salve. Kini saya udah pakai All Purpose Healing yang kedua, bukanya tanggal 23 Maret 2020. Memang setiap saya buka produk berbahan alami gitu, saya kasi tanggal di kemasannya supaya tau produk ini sudah terbuka sejak kapan. Apalagi meski expirednya masih lama, produk itu ada masa aman dipakainya saat sudah terbuka. Contohnya produk All Purpose Healing salve ini jika sudah terbuka masa pakainya optimalnya adalah untuk 12 bulan.

All Purpose Healing salve yang kedua ini agak lebih lambat habisnya, karena permasalahan kulit yang memerlukan olesan intensif sudah mereda. Udah dua bulan dibuka tapi isi masih full, kayaknya bisa lebih dari tiga bulan awet, nih. Masih sesekali saya pakai juga untuk ngobati memar dan luka minor. Dan satu lagi, jerawat! Ada beberapa kali saya jerawatan di kulit ketiak dan kulit kepala, rasanya jerawatan di area tersebut itu nyeri disertai gatal. Ternyata kempes dan reda, lho, diolesin All Purpose Healing Botanina ini. Tapi untuk jerawat di wajah, saya belum pernah coba ya…

Balmnya berwarna kuning kecokelatan, baunya seperti jamu dan tidak terlalu menyengat atau mengganggu bagi saya. Bagi Kavin relatif netral baunya. Bagi Kalki yang sensitif hidungnya, dia agak terganggu dengan baunya. Balmnya tidak terasa panas, maupun sejuk. Kalau dioles ke luka juga sama sekali tidak perih. Hanya akan terasa berminyak sebentar lalu tidak lama akan terserap oleh kulit.

Berikut ini keterangan produk yang saya ambil dari situs Botanina.com:

Produk ini memiliki manfaat anti bakteri, anti jamur, antiseptik, anti inflamasi, analgesik, dan regenerasi jaringan kulit.

USIA PENGGUNA : Semua Usia

CARA PENGGUNAAN: oles secukupnya 3-4x sehari pada luka iris, memar, gigitan serangga, sengatan lebah, eksim, luka bakar minor, gatal alergi, terbakar matahari, iritasi, campak, cacar air, racun tanaman. Hanya untuk pemakaian luar.

KANDUNGAN BAHAN: Beeswax (Cera alba), Cocoa (Theobroma cacao) Butter, Coconut (Cocos Nucifera) Oil, Moringa (Moringa oleifera) Oil, Jojoba (Simmondsia chinensis) Oil, Oatmeal (Avena sativa) Extract, Calendula (Calendula officinalis) Extract, Lavender (Lavandula angustifolia) Oil, Tea Tree (Melaleuca alternifolia) Oil, Frankincense (Boswellia serrata) Oil, Lemon (Citrus limonum) Oil, Tocopherol Vit E.

MASA OPTIMAL: 12 bulan

UKURAN: 15 ml

Tulisan ini berdasarkan pengalaman reaksi kulit anak-anak dan keluarga saya. Semoga bisa membantu keluarga lainnya yang perlu referensi salve atau balm alami sebagai obat permasalahan kulit keluarga. Kalau saya dan keluarga puas banget dengan adanya All Purpose Healing salve dari botanina sebagai bagian dari P3K. Sayang, harganya udah naik 10.000 rupiah hihihi… Lalu kemasan wadah kosongnya saya gunakan buat menyimpan benih bunga matahari yang mau ditanam.

❤️ Intan Rastini.

Bali Dreams Shampoo Bar Review

Setelah menulis tentang shampoo batangan atau shampoo bar Blue Ocean dari Segara Naturals di posting blog sebelumnya, yaitu produk ramah lingkungan berbahan alami pertama yang saya coba, kali ini saya akan menuliskan ulasan shampoo bar kedua buatan Bali Dreams. Shampoo bar ini saya beli di Love Anchor market di Canggu dengan harga Rp 50.000, netto 80 gram dengan wadah tin container bentuk kotak model tempat pensil tapi seukuran shampoo bar. Shampoo bar ini juga dijual refill bar-nya saja, dengan harga yang sama Rp 50.000 tapi ukuran lebih besar, yaitu berat 100 gr.

Bahan yang terkandung dalam shampoo ini adalah:
coconut oil, hibiscus extract, mentha piperita oil, mentha piperita extract, elaeis guinesis oil, cocos nucifera oil, aqua, sodium hydroxide. Yang berarti coconut oil dan cocos nucifera oil itu sama-sama minyak kelapa. Hibiscus extract itu ekstrak kembang sepatu, mentha piperita oil adalah minyak peppermint, dan mentha piperita extract adalah ekstraknya. Lalu elaeis guinesis oil adalah palm oil yang berarti minyak sawit, aqua adalah air dan sodium hydroxide adalah soda api.

Bahan-bahannya tidak banyak dan sederhana, namun mengandung minyak kelapa sawit. Di kemasannya tertulis 100% vegan, handmade & natural. Saat membuka kemasan aluminium saya bisa mencium aroma shampoo yang segar dari peppermint. Warna batang shampoonya putih dengan bercak-bercak samar berwarna kuning. Saya suka banget aromanya yang enak dan menyegarkan ini.

Saat dicoba keramas, pas keadaan basah, shampoonya memberikan busa yang cukup, terasa lembut namun agak keset. Karena agak keset jadi yang rontok pas lagi shampoo-an lumayan, tuh. Yang menyenangkan adalah aroma dan efek sejuk dan dingin di kulit kepala karena peppermint oil dan ekstrak peppermint. Karena agak keset, saya siasatin sebelum keramas pakai virgin coconut oil dulu sambil dipijit-pijit bentar jadi pas keramas rambut udah licin dan lemes karena VCO.

Setelah keramas rambut jadi bersih, enteng dan ngembang. Terbantu juga dengan VCO sebagai conditioner sebelum keramas. Tapi ketahanan kulit kepala bersih itu nggak lama, di kulit kepala saya 2 hari setelah keramas udah terasa gatal-gatal. Selain itu ketombe juga nggak makin berkurang. Hiks…. Sedihnya. Oh ya, shampoo ini bertahan selama sekitar 2 bulan untuk dipakai saya sendiri dengan kondisi rambut panjang sebahu. Dan semakin kecil shampoo ini nggak akan retak atau patah, tapi semakin menciut aja.

Saya sempat jalan-jalan dengan teman relawan mengajar dari Amerika Serikat, dan saat kami mengunjungi Love Anchor Canggu weekend market, kami berhenti di stand Bali Dreams. Saya bilang ke Laura bahwa saya pakai menstrual cup seperti ini (saya tunjuk menstrual cup Bali Dreams) dan juga shampoo bar ini (saya tunjuk shampoo bar Bali Dreams). Eh, Laura tertarik dengan shampoo bar tersebut dan beli lah dia. Saya perlu tanya lagi, nih ke dia, udah dipakai belum shampoo barnya. Cocok atau enggak.

Kalau saya, sih, kurang puas dengan performa shampoonya. Lebih cocok pakai shampoo Blue Ocean dari Segara Naturals. Jadi saya cuma beli shampoo bar dari Bali Dreams satu kali aja pas 17 Agustus tahun 2019 lalu. Setelah itu saya juga coba Sunshine 2-in-1 Shampoo and Conditioner Bar dari Segara Naturals kemasan travel pack yang kecil banget dan pakai itu juga kurang cocok. Mungkin karakteristik rambut saya yang cenderung oily lebih cocok pakai Blue Ocean dari Segara Naturals.

Shampoo bar Bali Dreams ini bisa didapatkan secara online di Tokopedia, Instagram @balidreams4 atau ke weekend market di Love Anchor Canggu dan Tamora Gallery, atau secara bulanan setiap Sabtu di Old Man’s Market, Canggu dan setiap Minggu di Sunday Market Sanur.

Kalau kamu udah pernah coba shampoo batangan untuk mengurangi timbulan sampah plastik? Mari berbagi pengalaman, yuk!

❤️

 Intan Rastini.

Blue Ocean Segara Naturals Shampoo Bar Review

IMG_20190311_071237.jpg

I started to use the shampoo bar on Saturday, 9 February 2019 for the first time. And then I did shampooing for the second time on Wednesday, 13 February 2019. The clean hair lasted for 4 days. In fact on Sunday the 10th, I did exercise, running around the volley field which made my hair sweaty! Mostly I have activities that induce sweat a lot and my hair state is quite oily.

Blue Ocean Shampoo Bar is suitable for normal to oily hair. The weight of the bar is 50 gr. It contains: fatty acids, sulfoethyl esters, sodium salts, <10% anionic surfactants, <5% amphoteric surfactants, cetyl alcohol, raw kukui nut oil, glyceryl caprylate/carprate, hydrolised baobab NPNF protein (organic certified), panthenol [vit B5], aloe vera powder concentrate, phenoxyethanol, lavender essential oil, sweet orange essential oil, geranium essential oil. It claims as synthetic and palm oil free.

I like this shampoo’s scent. Actually, at first, I felt so so with the scent but eventually, I like it. Even when I go to the bathroom, I sniff my shampoo bar. This shampoo bar can last for 1 month to 1 month and a half for me. I wash my hair once every 2-3 days. And my habit is to put shampoo on my hair two times every time I wash my hair. My hair length is about below my shoulder at that time when I regularly use the Blue Ocean shampoo bar.

I have dandruff on my hair, after using three bars of Blue Ocean, I still have dandruff but not that much. This shampoo has soft foam while I use for shampooing. When my hair is wet and foaming from this shampoo, I feel my hair gentle thus there is not much hair falls during massaging my hair. I can see at the water outlet in the bathroom that my hair fall is decreasing. Yes, overall my hair loss is diminished.

After shampooing I feel my hair clean, soft, light, volumized and easy to be managed. I am satisfied with this all-natural shampoo bar. However, the scent from the essential oil blend won’t last that long. After washing my hair I won’t have very fragranced hair. I can have this shampoo for traveling, but I need to make sure it’s not too wet when I will keep it back to the tin. So, I tap the shampoo to my towel before I put it back to the tin. If it’s wet for a long time, it’s getting soggy and smaller.

IMG_20190210_063750.jpg

My hair after first shampooing with Blue Ocean Segara Naturals

When the shampoo remains as a little piece, I have to be careful because the bar is easy to be cracked. When you store the shampoo in a wet area in the bathroom, it will also become fragile, easily to be cracked even though it’s still a big piece. When you are running out of this shampoo you can buy it online just the refill bar without the aluminum tin. It is package free and eco-friendly. The ingredients are also safe for your scalp and the shampoo water residue is not harmful to the environment.

Will I repurchase? Yes, just the refill bar. Unfortunately, Segara Naturals still doesn’t sell the shampoo bar refills at offline stores in Bali. Zero Waste Bali shop sells Blue Ocean and Sunshine 2-in-1 shampoo bar in the tin package. And the price is more expensive at Zero Waste Bali rather than you buy online at the Segara Naturals website or on the online market place such as Shopee, Sustaination, Backyard Plastavfall or Zerowaste.id.

Blue Ocean Shampoo Bar price with aluminum tin: Rp 80.000
Refill bar: Rp 75.000

Have you tried a shampoo bar already?

IMG_20190209_143432.jpg

❤️ Intan Rastini