Eco-Stylish Wooden Sunnies

Have you ever heard about sunglasses made from woods or bamboo? Even, recently I’ve noticed sunglasses made from the recycled skateboard material. Sustainable development* is getting wide-spread. People are thinking about more eco-friendly products nowadays. Something that we can renew, regrow, reuse, recycle is more considerable to make a new trend. In addition, using an eco-friendly product, I believe will make us feel less guilty about polluting our lovely planet Earth.

I think everybody likes a good environment but even better when you can see natural elements make a really amazing fashion.

-Wooden Sunnies

By the end of August, I joined an Instagram giveaway held by the Wooden Sunnies. There were bamboo sunglasses as the prize, so I was really interested to join it. Then I won. Yes, I won the bamboo sunglasses!!!


I got contacted via a direct message by the owner of Wooden Sunnies. He said that I would be the winner, but because of the bamboo glasses on the giveaway are quite big, he offered me a Lolita, instead. Wanna know which one is the bamboo sunglasses and which one is Lolita?

These are the bamboo sunglasses. Aren’t they cool to make you stand out?

And these sunglasses are Lolita. Oh so stunning!


I bet the bamboo sunglasses would fit my husband rather than me because he has a big head, really a big head for an Asian man. I like the bamboo sunglasses because the bamboo material is eco-friendly and regrowable easily yet it is also sustainable. However, I wasn’t disappointed at all when Mr. Joel, the Wooden Sunnies owner, told me that he would send Lolita for me because he believed Lolita suited better for ladies rather than the bamboo ones.

Lolita sunglasses have a transparent plastic frame edge, but the arms are zebra wood. Zebra wood is kind of wood from Africa that has very noticeable stripes of zebra pattern. Mr. Joel told me that he was unsure about the Lolita as it has a plastic edge, but then it becomes favorite! He sells this one more than all others lately. Yes, indeed Lolita really looks great. Lolita sunglasses has surprised Mr. Joel because they are sold out the quickest. These sunnies are perfect for everyone. Fit men and women.


My Sunnies prize is packed with a bamboo cylindrical container, just like a hollow big bamboo stem. It is also provided with a black fabric pouch and a lens cleaning cloth. As Lolita arrived at my home… My husband tried to put them on but they don’t fit my husband! Wow! His head is really big or Lolita sunnies are quite small? Even my son tried wearing them too and they fit pretty well on him! Hahaha… So actually Lolita fit everyone, except my husband. The head’s width of my husband is big enough for Lolita. So maybe, as I guess, the bamboo sunglasses will suit him better.



When I get Lolita, I look into its wooden arms, they are engraved with “polarized” on the left side and “handmade” on the right side. Lolita is handmade and it is also equipped with polarized lenses. The front lenses have a mirror finish that reflects images just like a metallic mirror. It is handmade, so it is so special. How about “polarized”? what does it mean? Polarized is a term for the lenses of the sunglasses that help to reduce reflected glare from the water and flat surfaces.

How do polarized lenses work? Light usually scatters in all directions; but when it’s reflected from flat surfaces, it tends to become polarized – meaning it travels in a more uniform (usually horizontal) direction. This creates an annoying and sometimes dangerous intensity of reflected light that causes glare and reduces visibility.

Polarized lenses contain a special filter that blocks this type of intense reflected light, reducing glare. They provide superior glare protection – especially on the water. Polarized lenses also may reduce the visibility of images produced by liquid crystal display (LCDs) or light emitting diode displays (LEDs) such as digital screens. So, with polarized lenses, you may be unable to see your cell phone or GPS device (Reference: – Polarized Sunglasses).


I have proved it myself, when I was taking pictures at the beach, it was hard to see my phone display with the sunglasses on. The display was totally dark. However, it was really cool to wear Lolita at the beach as it was totally sunny and the sunlight glaring from the sea water. The vision through Lolita lenses are clear but the sunlight is not strikingly bright to my eyes. They are lightweight and now are my best friends in this tropical sunny country. The wooden sunnies are perfect for outdoor activity and to protect my eyes from the sunlight.


I am lucky I got these cool handmade wooden sunnies as a prize. If you buy these sunnies from Wooden Sunnies, $10 of every sale goes to You are not only purchasing an eco-stylish product but also contributing to the sustainability of marine life too. Well, so many thanks to Wooden Sunnies who had considered kindly the suitable sunnies for me as a perfect gift and moreover for raising awareness to the single-use plastic that pollutes our planet. For a better earth for our children, grandchildren and grand grandchildren.


Something renewable, regrowable and sustainable. It makes people feel a little bit better about what they’re doing.

– Wooden Sunnies



If you are interested to seek wooden sunnies and be friends with the sustainable ecosystem, please go and check… they have various styles of sunglasses. Even more, this September Wooden Sunnies has launched a new range called ‘EmDeez’. The new ones are round sunglasses made from dark and light bamboo frame. Aaaww, another adorable bamboo sunnies… What are you waiting for? Let’s check it out!


*Based on Encarta Dictionary, sustainable development means an economic development without polluting environment: economic development maintained within acceptable levels of global resource depletion and environmental pollution


💚 Intan Rastini


Acne Edu Class dan Treatment di Larissa Aesthetic Center Denpasar

Sejak nikah saya nggak pernah sekali pun ke salon kecantikan buat perawatan rambut, potong rambut aja dipotongin suami ahahaha… Sampai pada akhirnya datang Sameeksha dan minta dianterin potong rambut ke Salon, ya udah saya ikutan potong rambut dan creambath deh. Baca ceritanya di sini.

Naaaah, apalagi facial buat perawatan wajah. Malahan sama sekali enggak pernah sampai pada akhirnya adik saya yang jerawatan batu parah, udah sembuh jerawatnya. Selain jaga pola makan, ternyata adik saya perawatan ke Larissa. Adik saya juga bilang bahwa perawatan di Larissa nggak bikin ketergantungan. Misalkan, karena udah sembuh jerawatnya lalu dia berhenti pakai produknya trus wajahnya kembali jerawatan gitu, ternyata enggak.

Awalnya sih saya belum tertarik ya… Karena mikir perawatan di aesthetic center itu pasti mahal. Lalu ada juga adik sepupu saya yang wajahnya beruntusan atau berjerawat kecil-kecil udah mulus dan kinclong romannya gara-gara perawatan di Larissa. Dari situ mulailah saya tanya-tanya, perawatan di Larissa biayanya berapa. Langsung deh diperlihatkan nota transaksi selama perawatan di Larissa oleh adik saya. Perawatan awal adik sepupu saya sih 250-300rban, lalu perawatan selanjutnya dibawah 200rb mulu. Sedangkan adik laki-laki saya bilang kalau dia selalu perawatan di Larissa nggak pernah lebih dari 250rb. Dia selalu ambil facial green tea yang harganya 90rban. Jumlah 250rb itu total perawatan dan produk paling mentok, dah! Oh ya, adik saya laki-laki yang jerawatan batu, kalau adik sepupu saya perempuan. Larissa memamg bisa buat perawatan laki-laki dan perempuan.

Karena tergiur ingin juga perawatan dan pakai produk Larissa saya cek di website Larissa. Di sana lengkap ada daftar produk dan daftar treatmentnya tapi yang disertai harga hanya produknya saja. Ada produk untuk wajah, rambut dan badan. Hampir semuanya memakai bahan-bahan dasar dari alam yang organik. Maka dari itu ya nggak bikin ketergantungan. Tapi hasil tidak bisa instan, ada tahapan dan prosesnya. Kalau mau cek coba aja buka di Harga produk-produknya relatif terjangkau, kok!

Agustus ini kebetulan ada program untuk new member atau yang belum pernah perawatan di Larissa. Namanya Acne Edu Class, biayanya Rp 45.000 udah termasuk edukasi tentang acne cara mencegah dan merawatnya, konsultasi dokter, cek kulit wajah, produk gratis dan free quick facial. Saya tau program ini karena saya pantau terus IG Larissa center dan Larissa Denpasar hehehe… Follow aja di @larissacenter sedangkan untuk yang di bali bisa follow @larissadenpasar atau @larissajimbaran. Untuk akun IG Larissa di cabang domisili kamu bisa cek dari @larissacenter dulu. Larissa pusat ini basisnya di Yogyakarta. Untuk beli produknya secara online juga bisa melalui website atau di @larissaonlineshop.

Saat saya ke Larissa untuk ikut Acne Edu Class saya ikut sesi pertama yaitu yang pukul 10.00-12.00. Ada juga sesi kedua yaitu pukul 15.00-17.00 diadakan pada hari Selasa, Rabu dan Kamis di cabang Larissa tertentu. Karena saya di Bali maka saya ke Larissa Denpasar di Jl. Teuku Umar Komplek Pertokoan Graha Mahkota B 18-20. Kebetulan Larissa Denpasar salah satu cabang yang ikut mengadakan Acne Edu Class.

Begitu datang saya langsung dilayani oleh mbak customer service dan didaftarkan menjadi member Larissa dengan kartu member sementara.

Setelah itu saya masuk ke ruang konsultasi dokter dan dipaparkan mengenai jerawat melalui slide show di komputer. Ternyata jika kulit rentan berjerawat kita perlu mengatur pola makan kita dengan menghindari makanan berprotein tinggi seperti ayam dan telur serta yang berlemak seperti goreng-gorengan. Kulit saya pun dicek dan tergolong kulit berminyak. Dengan alat seperti alat USG yang ditempelkan di wajah saya bisa melihat secara jelas di layar komputer bagaimana kondisi kulit saya.

Sambil menunggu baca-baca tentang khasiat buah-buahan. Gambarnya nyegerin mata banget

Setelah konsultasi dengan dokter dan sekaligus kelas tentang acne, selanjutnya saya mendapatkan quick facial gratis. Quick facialnya emang quick memakan waktu 7 menit. Kira-kira tahapannya cleansing, scrubbing, massage, high frequency, aplikasi es mentimun lalu mengoleskan acne lotion. Meski cepet, lumayan wajah terasa bersih, mulus dan segeerrrr…

Di ruang tunggu, ada juga lho snack dan infused water yang disediakan untuk pelanggan Larissa dan free flow. Saya sempat cobain infused water mentimunnya yang dingin dan kue kering roll isi abon. Di sisi samping juga ada kantin Larissa, tapi saya nggak cek di sana jual makanan apa aja. Yang pasti pelanggan bisa makan siang di sini kalau lagi perawatan dan udah waktunya makan siang. Larissa Denpasar buka dari jam 10 pagi sampai 10 malam lho!

Itu lah kunjungan pertama saya saat program Acne Edu Class, selanjutnya saya ditawarkan untuk facial green tea 2 minggu lagi untuk Acne Edu Class tahap dua. Nanti jika saya datang untuk Facial, saya akan mendapatkan dua mini cleanser tea tree. Akhirnya mbak CS membantu mereservasikan kedatangan saya dua minggu lagi yang jatuh pada tanggal 21 Agustus 2018 pukul 10.00.

Maka pada 21 Agustus lalu saya datang lagi ke Larissa untuk facial. Kebetulan selama bulan Agustus tanggal 14-31 ada promo Kemerdekaan yaitu free exclusive pouch jika transaksi Rp150.000 untuk new member dan Rp450.000 untuk exist member. Maka saya ganti facialnya tidak jadi Green Tea tapi Bio Acne Light Therapy dan juga ambil Hair Spa Jasmine and Aloe Vera sekalian nyoba treatment tersebut sekalian biar bisa dapetin pouch exclusive.

Kali kedua ini bukan quick facial lagi ya tapi bener full facial. Makan waktu sekitar 1 jam! Saya diberi loker dengan kunci di ruang atas untuk naruh tas dan diminta ganti baju dulu pakai tube dress. Tahapan facialnya adalah cleansing, scrubbing atau peeling, massage wajah dan dada, steaming, ekstrasi jerawat dan komedo, Bio Acne Light Therapy, masker aloe vera, aplikasi es mentimun, aplikasi acne lotion dan selesai. Bio Acne Light Therapy ini disinari dengan sinar biru yang panjang gelombang sinarnya bisa mengontrol minyak, bakteri penyebab jerawat dan meringkat pori-pori. Masker aloe veranya adem banget dan diaplikasikan tebel sampai kering baru dikelupas, gitu. Setelah Bio acne Light Therapy jerawat langsung kering, ring ,ring… Emang wajah saya nggak banyak jerawatnya tapi selalu muncul beberapa.

Setelah selesai saya ganti baju lalu turun kembali ke ruang tunggu di bawah dan menunggu dipanggil untuk hair spa. Selama menunggu saya sempat minum infused water mentimun dan kue kering tai kucing hihihi… Saat bahan hair spa sudah siap, saya naik lagi ke ruang perawatan di atas. Di ruang atas ganti baju lagi di ruang ganti.

Sebelum hair spa, rambut saya dicuci bersih dulu dengan shampoo L Spa Ginseng. Next mbak capsternya mengoleskan sari lidah buaya ke rambut saya, yang memang dikerok dari batang lidah buaya, lho. Setelah itu jeruk nipis diperas ke krim hair spa wangi jasmine, baru, deh dioleskan ke rambut. Saat pengaplikasian krim hair spa selesai, rambut saya dipijat serta tak luput juga punggung dan lengan tangan. Selama memijat mbak beautician atau capster selalu menanyakan apakah tekanan pijatnya sudah pas, saya selalu merasa cukup, sih.

Setelah dimassage dengan tangan, punggung saya ditaburi bedak karena mau dipijat dengan alat massage punggung. Kata mbaknya supaya nggak gatal hihihi. Emang kalau pakai alat massage pori-pori kulit suka terbuka dan bikin gatal, waktu itu ditaburi bedak dan dimassage pakai alat emang jadi nggak gatal, lho! Setelah dimassage, bedak dan sisa cream dihapus dengan handuk lembab.

Steamer pun disiapkan untuk menguapi rambut yang sudah diberi krim hair spa jasmine dengan campuran sari lidah buaya dan jeruk nipis. Lama proses steam ini kira-kira 15 menit. Setelah uap habis, baru deh cuci rambut lagi dengan L Spa Shampoo Ginseng, lalu diaplikasikan L Spa Conditioner Ginseng dan dibilas. Mbaknya memberi saran kalau pakai conditioner sebaiknya dari batang rambut ke ujung, tidak di kulit kepala supaya tidak berketombe.

Setelah selesai cuci rambut, mbak capster menanyakan apakah mau dikeringkan setengah kering atau kering? Saya bilang kering karena saya kan naik motor nggak enak banget kalau pakai helm agak basah gitu. Saat dikeringkan rambut saya diberi hair tonic ginseng dan hair serum sebelum di-hairdryer. Setelah selesai saya mengucapkan terima kasih kepada mbak capster lalu pergi ganti baju.

Selesai treatment wajah dan rambut, saya ngerasa wangi dan fresh banget. Wajah jadi mulus begitu juga rambut terasa lembut dan ringan, mudah diatur. Berasa paling cantik, deh! Hahaha… Lalu turun ke ruang bawah dan membeli beberapa produk Larissa untuk wajah dan rambut. Saya menghabiskan Rp 125.000 untuk Bio Acne Light Therapy dan Rp 95.000 untuk Hair Spa Jasmine – Aloe Vera di Larissa Denpasar. Selain itu saya membeli produk Tea Tree sebagai rangkaian perawatan wajah untuk kulit berminyak dan berjerawat plus acne lotion sebagai obat jerawatnya. Tidak lupa rangkaian perawatan Ginseng untuk meguatkan rambut dan mengatasi kerontokan beserta L Hair Serum untuk proteksi rambut dari sinar matahari, alat catok atau hairdryer. Hair serum juga bikin rambut jadi sleek and shiny!

Total transaksi saya mencapai juga untuk mendapatkan exclusive pouch! Yeaaah…. Akhirnya saya dapat exclusive pouch. Saya pilih yang warna hitam bergambar bahan-bahan alami perawatan Larisaa yang seger banget yaitu stawberry, lime green tea dan honey. Pokoknya bikin seneng mata untuk ngelihat gambar bahan-bahan organik itu di pouch Larissa. Selain pouch saya juga dapat mini bag berwana imut baby blue dan pink karena udah ikut Acne Edu Class tahap dua. Tetapi sayang free mini cleasernya menyusul karena masih dalam pengiriman. Nanti saya akan dihubungi jika hadiahnya sudah datang.

Untuk mengambil produk saya tunggu di dekat pintu masuk karena di sanalah apotek untuk pengambilan barang. Untuk melakukan transaksi di Larissa kamu bisa ambil nomor antrean yang sudah dipisahkan khusus, masing-masing untuk pembelian produk, konsultasi dokter dan untuk yang sudah reservasi. Oh ya untuk konsultasi dengan dokter tidak bayar ya alias free. Supaya terhindari dari antrean panjang, reservasi dulu saja ke CS Larissa cabang terdekat dari rumahmu melalui WA atau telepon. Setiap hari akun IG cabang Larissa juga memposting slot kosong yang ada di cabang gerai Larissa tersebut sehingga kamu bisa book slot kosong yang ditawarkan di IG.

So far, saya puas dengan perawatan, pelayanan dan harga Larissa, mbak CS, dokter, beautician, capsternya sampai juru parkirnya ramah-ramah. Gerainya pun selalu dibersihkan secara berkala oleh petugas kebersihan. Di gerai Larissa kita juga bisa melihat-lihat menu treatment yang disediakan Larissa di buku menu. Melihat album khasiat buah dan bahan alami lainnya yang bermanfaat sesuai tipe kulit atau rambut. Ada juga ada brosur yang bisa dibawa pulang dengan infografis menarik untuk kebutuhan kulit seperti kulit kusam, berjerawat, penuaan dini dan flek wajah. Cuma satu aja kurangnya, yaitu jarak lokasi cabang terdekat di Bali masih cukup jauh di Denpasar. Rumah saya kan di Tabanan, jadi harus menempuh perjalanan 1,5 jam untuk ke Denpasar hiksss… Semoga besok dibuka cabang Larissa baru di Tabanan, ya. Oh ya wangi rambut saya setelah hair spa semerbak banget wangi melati, bertahan selama 4 hari padahal udah motoran Denpasar-Tabanan rambut dikekep pakai helm dan sempat kena asap truk, masih awet aja wanginya.

I’m Larissa and you?

❤️ Intan Rastini

Organic, Whole and Bulk, Food Stores in Canggu Bali

So let’s do this…. *Stretching my fingers out*

I went to Canggu to have a shops marathon. Okay maybe too exaggerating. It was just three shops in the same area. This is not a sponsored post. This is truly my honest personal opinion based on my experience.

Why am I interested to visit this shop was because my younger brother who consider a lot of his healthy meal has affacted me to find healthy food stores in Bali. So there it went to the three shops in Canggu.

Zero Waste Bali

The first store that I visited was Zero Waste Bali. It was on Jalan Raya Anyar, Kerobokan, Badung – Bali 80361. Zero waste is a small shop contained food in bulk. They sell food and non food products. For food, there are: dried fruits, grains, nuts, pulses/beans, herbs, spices, liquid such as Kombucha, oil, syrup or vinegar, cereals and baking ingredients.

For non food products, I spotted boxes of menstrual cup at the very beginning I entered the shop. I love using menstrual cup, and I already have long lasting one. So, I just studied it deligtfully. Next there are beeswax wraps, glass jars, reusable straws, liquid cleaner or soap for home, soap bars, shampoo bars bamboo toothbrushes, reusable cotton pads, sponges, razors, coconut bowls and canvas bags.

They don’t package their products in plastic wrap, neither provide plastic bags. I went to this store with my own polyester shopping bag and also I brought my former glass bottle, ex-breastmilk container. They put their products in containers whether it is glass bottle, huge glass dispenser or plasroc boxes and they put labels of its product’s name and price.

I grabbed a bottle of chia seeds. I told the staff that I wanted to buy black chia seeds and I wanted to use my own bottle to package it. So she weighed my bottle then poured the chia seeds to my bottle and calculated it until reached 90 grams which was a bottle full of chia seeds. Then I paid for IDR 19,800. The price was included 10% of tax that’s why I got 90 grams.

My sister Ratih was asking about granola bar and the staff gave out us a try. It was scrumptious but unsatisfying because it was only for a bite! Haha. Next she pick rosella tea to buy. She bought for 20 gr. And she paid IDR 8,700. Because we hadn’t prepared any container for the spontaneous purchase of rosella tea, the staff just put in a small paper bag.

We were happy with this store because they provide bulk food so we can buy whatever grams we need or afford to buy. The staff were very friendly and helpful. She also took me and Ratih together there. I really loveeee the concept of this store! Super eco-friendly with its zero waste campaign and implementation!

Unfortunately the nutritional yeast flakes costs pretty pricey there. It was IDR 166,100/100gr. I hardly can’t afford that butbI really want to taste nutritional yeast flakes. So I went to the next store.

The products they sell are listed here:

IG: @zerowastebali

This is just the next store of Zero Waste Bali

Alive Whole Food Store

It was on Thursday that I visited this store. They have a happy hour program for every Thu and Tue from 4pm – 8:30pm. They give 10% off for every product without minimum purchase. I was delighted. It was a perfect time! So me and my sister looked around in the store. The store is wider than the first shop we visited and there were so many food products! Whether it was fresh veggies, fruits or dried berries, cakes, cereals, supplements, dairy products, meat, seeds, grain or juices.

They also seel non food products but not a lot. They were only eco-friendly things like canvas shopping bags, stainless drinking bottle, reusable straws, pouch, batik bento wraps and so on. I took a picture with the vegan labelled stainless bottle. Oh my God stainless bottles are very pricey!

Next I took the nutritional yeast that I needed to the cashier. He calculated the price and the 10% off. Its actual price was IDR 45,000 per 50gr then became IDR 40,500 nett Yippie! Very happy to get that nutrional yeast and the discount. Before we left the store, I spotted irganic avocados. The price was about IDR 4,400/100gr if I am not mistaken. I also intended to buy dried cranberries, the price here was IDR 24,000/gr. The other shop was offering more gram in lower price… So, you know, we carried on to the next shop.

However if you wanna check their products and the prices. Go check it out on their website on:

IG: @alivewholefoodstorebali

Address: Jalan Padang Linjong 12A, Canggu, Bali 80361

Canggu Shop

So this is our final stop of marathon shopping. The shop name is just representing its area where it located. It is not related to any products that they sell. They sell foods, essential oils, cooking oils, and sort of detox elixirs.

Canggu shop was almost the same as the first shop but here they didn’t provide in bulk. They already packaged all the items in plastic wraps. They also provide kitchen sets such as wooden cutting boards, bamboo and stainless straws, stainless mugs, coconut bowls et cetera. There were also various fancy tote bags painted with fuit images. I adored the Mangoosteen painted tote bag, the price was IDR 250,000.

Okay, straight to the seeds and and dried fruits room, I saw some cards containing the nutrition and benefit facts of each seed or dried fuit. The staff said I could take it home freely. There were chia seed, pumpkin seed, goji berry and sumflower seed cards. And then I took wrapped 200gr dried cranberry, plus…. Because I still have sufficient money to purchase more, 200gr of black flax seeds. The dried cranberry costed IDR 35,000 and the flax seeds was IDR 18,000 nett.

I bought dried cranberry because I want to taste cranberry, I never eat cranberry before, and because I want to fight the UTI. I have recently got urinary tract infection simptomps and it was annoying that it felt like will come back again! However the dried cranberries are delicious! Very sweet and a bit sour. My husband and I love it very much. We just eat it right away.

I paid for the IDR 53,000 and just drove to the next destination in Renon to attend a free trial French class at AF Bali. We were running out of time because of spending pretty much time at the stores.

In the end of my marathon shopping, I remembered that Zero Waste Bali offered one third cheaper price of flax seeds. So I regreted that I bought it in more expensive rate. If I had bought flaxseed in Zero Waste Bali I would have had nearly 300gr of flax seeds minus the plastic.

Canggu Shop is located on Jalan Pantai Batu Bolong 23A, Badung, Bali 80361


IG: @canggushop


The shops in Canggu are awesome. There were a few other international visitors too when we came to each store. So I think me and mybsister were the ones who were locals hahaha.

I think the price of the products in those store are still reasonable. Not all are cheap but also not all are expensive. Compared to buying online at the online stores the prices are almost the same.

Well, my brother buy his healthy food online. I prefer to buy directly to the offline store for the experience and to avoid broken products during shipping. How ’bout you? Which one do you prefer? Do you have similar shops as above in your city?

💚Intan Rastini

Kebun Bibit Surabaya

Salah satu tempat terbuka menyenangkan lainnya selain Taman Prestasi yang ramah anak dan gratis adalah Kebun Bibit Surabaya. Terletak di Jl. Manyar No. 80 A Surabaya, dibuka dari jam 8 pagi – 5 sore. Sebelum pulang balik ke Bali, kami sempatkan mengajak anak-anak main ke sini. Karena selama bertahun-tahun tinggal di Surabaya saya belum pernah sama sekali mengunjungi Kebun Bibit. Padahal dulu waktu bolak-balik rumah ke kampus pas kuliah di ITS ya sering melewati Kebun Bibit dari berbagai sisi jalan.

Taman ini luas banget, ternyata dikenal juga sebagai Taman Flora. Tapi karena kawasan ini digunakan sebagai tempat pembibitan maka dari itu disebut sebagai Kebun Bibit juga. Kami mengunjungi kebun bibit di Minggu pagi dan suasananya rameee banget. Meski rame tetap aja nggak crowded kok karena luas tamannya yang memadai dan lega. Ada tempat parkir di sisi pinggir jalan untuk mobil. Lalu di dekat pintu masuk banyak berjajar pedagang mainan dan makanan. Selain itu juga terdapat kawasan kantin yang teduh.

Saat sampai di Kebun Bibit kami sempat beli batagor dan siomay lalu makan duduk lesehan di atas trotoar. Untuk minumnya kami membeli es jeruk peras. Next oma Kalki juga membeli nasi dan ayam goreng di kantin untuk dibawa ke dalam taman. Masuk ke taman beberapa pedagang mainan menjajakan mainan dan balon. Tentu aja bikin Kalki dan Kavin tergoda, tapi mereka nggak ngotot minta beli kok, cuma lihat-lihat aja.

Di dalam taman atau Kebun Bibit ini kami langsung menuju ke spot bermain anak. Ternyata wahana bermain anak yang tersedia di titik ini adalah wahana permainan fitness semua. Lucu ya… ada beberapa yang masih kegedean alatnya buat dicoba oleh Kavin hihihi. Selain itu tetap masih ada ayunan dan jungkat-jangkit. Tapi unik deh, karena alat permainannya ini bertema gym atau fitness. Untuk main wahana permainan anak-anak, harus antre karena peminatnya banyak.

Di area permainan ini anak-anak bermain sambil disuapi omanya. Setelah selesai makan siang, kami memutuskan untuk menjelajah tempat lainnya. Kami berjalan ke arah tempat bermain yang berbeda, di sana ada prosotan, ayunan besar untuk beramai-ramai dan ada tempat-tempat duduk juga di setiap spot bermain. Bahkan tak jarang orang buka tikar buat lesehan dan berpiknik.

Hampir semua area Kebun Bibit sudah tertata rapi dengan paving blocks. Tapi ada suatu area yang dibiarkan beralaskan tanah, yaitu wahana bermain outbond. Di sana ada rumah pohon, wall climbing dan tali-temali yang tergantung dan diikat di sepanjang atau antara pohon besar. Kalki sempat jatuh karena berusaha berjalan di atas seutas tali besar tapi karena ada anak-anak lainnya yang juga menaiki tali, maka tali menjadi bergoyang dan Kalki kehilangan keseimbangan.


cepet adik Kavin, antrean mulai mengular

Ada wall untuk panjat dinding berwarna-warni untuk anak-anak tetapi nggak terlalu tinggi kok. Kalki sempat nyobain sebentar aja lalu dia tertarik yang lainnya. Oh ya, Kavin juga sempat jatuh saat berjalan di area tanah ini karena apa? Tersandung akar pohon! Maklum di area ini terdapat beberapa pohon besar dan akarnya udah menjalar kemana-mana. FYI, area outbond ini dekat dengan toilet. Untuk menggunakan toilet tidak bayar, kok. Tetapi tetaplah jaga kebersihan, ya!

Saat kami berkunjung kesana ada seperti community hall untuk acara temu komunitas atau gathering. Kebetulan memang sedang ada semacam talk session saat itu di sana. Jadi kalau kalian mau mengadakan kopdar atau sharing session bersama-sama bisa, nih dilaksanakan di Kebun Bibit Surabaya. Selanjutnya kami berjalan mengelilingi taman dan menemukan kolam besar yang dipagari berisi kura-kura kecil dan beberapa burung, sepertinya burung bangau.


adik Kavin kegirangan ditembak gelembung balon oleh kakak kenalan baru

Di dekat area kolam, ada lagi kandang hewan yaitu rusa atau menjangan. Kita bisa memberi makan rusa, karena di dekat kandang ada bak berisi sayuran. Kami petik saja sayurannya dan membiarkan anak-anak yang memberikan makan ke rusa-rusa tersebut. Anak-anak memang antusias sekali memberi makan rusa. Selain kandang rusa, ada juga kandang burung berisi merak. So far, kebun ini jadi semacam mini zoo, ya? Plus ada tempat belajar dan perpustakaan pula. Cuma kami tidak mengunjunginya.

Selama kami disana tempat ini cukup bersih. Banyak tersedia tempat sampah dimana-mana untuk memudahkan pengunjung membuang sampahnya. Di beberapa pohon juga dilengkapi dengan keterangan nama pohon untuk edukasi pengunjung. Ada juga kolam air mancur mini di tengah taman. Untuk cuci tangan, ada lho disediakan washtafel dan sabun di suatu titik. Saya pun bisa mencuci tangan anak-anak saya saat mau makan snack.

Kami sangat menikmati menghabiskan waktu bersama anak-anak di Kebun Bibit. Ini pertama kalinya bagi saya dan anak-anak mengunjungi Kebun Bibit dan sangat puas dengan fasilitas ruang terbuka ini. Uniknya, Kebun Bibit terletak di tengah hiruk pikuk lalu lintas Surabaya, seru aja bisa lihat jalanan dan pengendara di luar dari balik pagar lagi sibuk ke tempat tujuan sedangkan kami di dalam Kebun Bibit santai-santai ngadem seperti dalam suaka di tengah urban life. Saya tentu mau kesana lagi jika ke kembali ke Surabaya. Kalau kalian tertarik?

❤️Intan Rastini

Kebun Binatang Surabaya (KBS)

Selama liburan sekolah, Kebun Binatang Surabaya selalu ramai pengunjung. Saya dan keluarga sendiri menjadikan KBS sebagai tujuan wisata pertama begitu tiba di Surabaya. Saya seribu sayang, di tugu patung Sura dan Baya pengunjung sudah memadati area tersebut dengan berfoto dan di loket masuk KBS antrean membeli tiket juga penuh sesak. Ternyata parkiran mobil pun tak kalah penuh! Sampai akhirnya kami tidak jadi ke KBS dan melanjutkan perjalanan ke Taman Prestasi saja.

Kedua kalinya kami mencoba mengunjungi KBS lebih pagi, ternyata kepadatan pengunjung di bagian luar KBS tidak berkurang. Parkiran mobil di pinggir jalan pun sudah hampir penuh sampai harus antre kalau mau parkir. Dengan kecewa kami melanjutkan kembali perjalanan kami sampai ke Kawasan Ekowisata Hutan Bakau di Wonorejo, Rungkut.

Ada apa, sih di kebun binatang sehingga selalu penuh ketika kami hendak mengunjunginya? Tentu ada beraneka ragam binatang. Dan ini merupakan tempat wisata klasik yang disukai keluarga, terutama anak-anak. It is like our all-time favorite. Dengan mengajak anak-anak ke kebun binatang mereka bisa melihat bermacam-macam hewan yang tidak pernah mereka lihat secara langsung sebelumnya. Mungkin pernah dari layar televisi saja. Ini menjadikan kebun binatang sebagai sarana edukasi yang menyenangkan.


Ketiga kalinya kami berusaha berangkat lebih pagi dari rumah, kami sampai di KBS sekitar pukul 8.30 pagi. Akhirnya dapat tempat parkir mobil yang lumayan dekat dengan pintu masuk KBS. Kalki senang banget karena akhirnya dia bisa mengunjungi KBS walaupun ini bukan kali pertama dia ke KBS. Sedangkan bagi adik Kavin ini adalah untuk yang pertama kalinya.


Di KBS banyak sekali pedagang balon, mainan, jajanan. Jadi jangan kaget kalau begitu masuk kawasan KBS kita akan dijajakan bermacam-macam dagangan oleh pedagang asongan atau emperan. Harga tiket masuk untuk dewasa dan anak-anak sebesar Rp 15.000. Dan tiketnya kini dijadikan gelang di tangan. Ada juga tiket terusan untuk naik gajah, unta dll. Tapi kami beli tiket yang reguler saja. Untuk Kavin yang masih balita, ternyata harus ukur tinggi bada dulu, jika tinggi badannya lebih dari 85 cm berarti sudah kena tiket masuk. Ternyata adik Kavin tinggi badannya udah lebih, nggak bisa gratis deh hihihi…

Di KBS banyak koleksi satwanya, ada orang utan, simpanse, gajah, kijang, harimau, binturong, kelelawar, ular, unta. Untuk gajah dan unta ada yang bisa dinaiki bersama pawangnya kalau punya tiket terusan. Selain melihat berbagai macam satwa, ada juga papan keterangan mengenai nama ilmiah spesies, habitat, makanan dan status populasi di dunia. Tapi kebanyakan papan tersebut terbuat dari kertas cetak yang dilaminating, sehingga tak heran beberapa diantaranya ada yang luntur terkena air dan tidak bisa terbaca.

Untuk lingkungan KBS tergolong rindang dan bersih, disediakan banyak tempat sampah di beberapa titik. Toilet pun juga bersih karena dibersihkan secara berkala pada satu hari itu. Tapi toiletnya tidak gratis, melainkan bayar Rp 2000. Ada juga fasilitas tempat duduk-duduk beratap untuk pengunjung yang ingin melepas lelah. Saya lihat tidak sedikit pula orang duduk-duduk di teras musholla.

Di dalam KBS terdapat petugas-petugas yang berjaga di sekitar kandang agar pengunjung tidak dengan segaja memberi makan satwa dengan makanan yang tidak diperuntukkan untuk satwa dan juga untuk menjaga jarak aman pengunjung dengan satwa. Kalau mau memberi makan sata, ada makanan khusus yang dijual petugas KBS ke pengunjung. Ada juga petugas berpakaian pramuka yang merupakan bala bantuan. Selain petugas penjaga, ada juga petugas yang menawarkan souvenir KBS berupa T-shirt anak berlogo KBS atau foto bersama satwa.


Kalau ngasi makan patung kuda nil, sih nggak apa-apa

Selain melihat-lihat satwa, kita juga bisa naik perahu di kolam buatan, atau bermain di wahana outbond. Ada juga panggung pentas seni. Kebetulan saat kami berkunjung ke sana ada pentas dangdut atau orkes melayu gitu, pementasannya menggunakan bahasa daerah juga, yaitu Bahasa Jawa. Cukup banyak orang berkerumun disitu antusias menikmati pertunjukan.

Kalau lapar bagimana? Tenang kami selalu bawa bekal sehingga kami buka perbekalan dan piknik di dekat area naik gajah, tepatnya di depan kandang simpanse hehehe. Enak juga menikmati tingkah laku satwa sambil makan bersama keluarga. Tidak jarang pengunjung yang lain pun melakukan hal yang sama saat sudah jam makan siang. Selesai menyantap makan siang jangan lupa diberesin dan dibuang sampahnya pada tempat sampah.

Kalau yang nggak bawa bekal bagaimana? Di dalam KBS cukup banyak dijajakan panganan. Yang saya tau sih, panganan seperti sate telur puyuh, sate sosis, gorengan, mie instant cup dan es krim. Kalau makanan berat saya kurang tau. Bnayak stand-stand makanan tersebar di seluruh area KBS. Kalau kami hanya membeli rujak buah dan pentol di area parkiran.

So far, saya seneng dengan kunjungan ke KBS setelah sekian tahun nggak pernah kesana lagi. Kalau anak-anak sudah terlihat happy banget lihat satwa-satwa yang nggak mereka lihat sehari-hari di rumah hehehe. Mereka bisa jalan kesana-kemari karena banyak jalur yang bisa dilalui. Hati-hati aja supaya tidak terpisah dengan orang tua, apalagi saat high season pengunjungnya ramai banget!

Next destination is Kebun Bibit Surabaya, our last visit of open public space in Surabaya!

❤️Intan Rastini