Book Review: The Mystery of the Blue Train

Penulis: Agatha Christie
Genre: Fiksi Inggris
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 1985
Alih Bahasa: Ny. Suwarni A.S.
ISBN: 979 – 655 – 588 – 3
Tebal: 352 halaman

Photo11967

Novel Agatha Christie yang satu ini mengisahkan tokoh dektektif dari Belgia yang berperawakan kecil dengan bentuk kepala khas bulat telur. Kali ini Hercule Poirot tidak ditemani oleh teman setianya Hastings. Ia sedang bepergian ke Prancis dengan menaiki kerata api mewah dan tercepat, yaitu Kereta Api Biru. Kereta yang juga disebut sebagai ‘Kereta Api para Jutawan’ itu melaju dari Inggris ke Prancis. Selama perjalanan terjadilah suatu pembunuhan yang misterius terhadap wanita pemilik permata indah yang konon juga terkutuk bernama “Heart of Fire”.

Sungguh suatu kebetulan yang menarik bahwa Hercule Poirot juga berada di dalam Kereta Api Biru dan siap sedia membantu kepolisian Prancis untuk mengungkap kasus yang diduga pembunuhan dan perampokan. Seperti banyak karya-karya Agatha Christie lainnya yang berkisar antara pembunuhan dan pencurian atau bahkan kasus orang hilang, kali ini ada sisi menarik disamping pembunuhan yang menjadi fokus utama alur cerita ini.

Bukanlah permata delima yang hilang, yang menghiasi cerita detektif ini menjadi semakin menarik dan romantis, melainkan hadirnya sesosok karakter wanita Inggris yang berwatak kuat. Sebagian besar tokoh lainnya dalam novel  sungguh mengagumi dan menyukai karakter wanita ini yang bernama Katherine Grey. Ia digambarkan bermata abu-abu yang mencuri perhatian semua pria, meski tidak begitu cantik, kulitnya halus dan pribadinya yang sekelas dengan seorang ‘wanita utama’.

Terlahir dari keluarga yang tidak kaya membuat ia harus mencari nafkah sebagai pendamping dari seorang wanita tua yang sakit. Katherine telah menghabiskan sepuluh tahun hidupnya bekerja merawat Nyonya Harfield dan tinggal di sebuah desa terpencil di St. Mary Mead. Setelah majikannya meninggal, Katherine menjadi ahli waris dari seluruh harta milik Ny. Harfield yang tebrilang tidak sedikit. Akhirnya ia yang masih lajang memiliki kesempatan keluar dari desa kecil untuk melihat dunia di umurnya yang telah 33 tahun.

Akibat dari menerima warisan yang cukup banyak dari seorang wanita tua bekas majikannya, Katherine mendapat undangan dari sepupunya yang sudah lama tidak berjumpa dan berkirim kabar dengannya. Katherine pun memutuskan untuk mengunjungi sepupunya di Riviera dengan menaiki Kereta Api Biru. Di situlah petualangan Katherine dimulai, bermula dari petualangan yang mengerikan ia pun menemukan petualangan cinta antara dua pria yang mendekatinya dengan setulus hati namun mereka berdua juga merupakan orang yang berkaitan dengan pembunuhan seorang wanita anak jutawan Amerika yang kaya raya.

Setelah membaca beberapa judul novel Agatha Christie yang berkutat pada upaya-upaya tokoh utama Christie, baik detektif maupun bukan, dalam mengungkap misteri pembunuhan, saya hampir tidak pernah bisa menebak siapa pelaku kejahatannya. Alurnya selalu tidak bisa saya duga. Tapi judul kali ini yang diterjemahkan sebagai “Misteri Kereta Api Biru” terasa begitu manis, karena indahnya laut Mediterania, persahabatan Hercule Poirot dan Ketherine Grey yang menghidupi roman kriminal mereka sendiri, serta kisah asmara Katherine. Saya sungguh menikmati kisah cinta Katherine dan mengagumi karakternya yang kuat. Tak khayal jika saya jadi ikut terhanyut jika dalam sosok  Katherine yang sudah berusia kepala tiga tetapi masih lajang, bebas bepergian dan secara finansial berkecukupan karena baru saja mendapat warisan berkat kesetiaan dan ketelatenannya merawat wanita tua yang butuh didampingi. Rasanya menyenangkan juga!

Photo11968

Ini merupakan salah satu buku novel Agatha Christie dari koleksi suami saya, dan judul-judul lainnya masih menanti untuk dibaca 🙂

♡ Intan Rastini

Advertisements

Book Review BRAIN ON FIRE: My Month of Madness

A life of a young talented journalist that every girl could ever dream of turned out to be a nightmare rapidly.

IMG_20180217_154456.jpg

Originally published2013

Publisher: Simon & Schuster Paperbacks

Author: Susannah Cahalan

GenreHealth, Mental Health, Biography

Page count266

ISBN:   978-1-4516-2137-2

978-1-4516-2138-9 (pbk)

978-1-4516-2139-6 (ebook)

CountryUnited States of America

 

The book I’ve read is about a New York Post journalist who was healthy and dynamic, but on the next days she became paranoid and psychotic instantly. From having an outgoing and talkative personality, her behavior changed into erratic.

This book is actually a short autobiography of a beautiful Susannah Cahalan in the beginning of her adult life. The time when she was suddenly struck by a mysterious illness that caused an unbearable change to her brain. The way her brain worked had been attacked by her own antibodies so that made her became completely a different person in time.

She lost her memory, identity and personality during her sickness but she gained true love from her divorced parents, brother and boyfriend. Even more love from her doctors and nurses. Her struggle to restore her mind back and the constant support from her significant others are really dramatic.

Her family was so frustrated and exhausted dealing with the sick Susannah, who really lost herself, without knowing what kind of sickness attacking her. Still more worse, one of the best doctors in the country had given up on Susannah case. However in her worsened condition, her family and boyfriend still kept faith in that Susannah was still in there.

But fortunately  a diagnose for Susannah’s illness was found. At the NYU hospital worked a Syrian brilliant doctor who saved her life at the right time when she was already very close to the edge. Susannah stayed twenty-eight days in the epilepsy unit during her ill state. After the team of her doctors had identified her disease, she got aggresive treatment that gradually made her recover.

This rare disease, anti-NMDA-receptor encephalitis, had been discovered in 2007, just two years before Susannah was suddenly suffering from by paranoia and seizures. Although it sounds so unfamiliar, it is one of the more than one hundred different kinds of autoimmune disease that distress an estimated 50 million people in the USA.

At first I thought this book was sort of a psychological book based on a true story like Torey Hayden’s. The difference is Torey Hayden is the psychologist herself and she told her patient’s story dealing with mental illness, while Susannah told her own story from the patient’s side. Regardless of some personal experience in this book, it is more scientific in autoimmune diseases because of the author’s journalistic instinct. Sometimes I just couldn’t keep up with the medical research explained.

On top of that, Brain on Fire opens up a new awareness and discussion about the anti-NMDA-receptor autoimmune encephalitis. I quoted some words from the afterword:

”What used to be called a “zebra” (in doctor parlance, a very rare disease) is now increasingly recognized and swiftly treated. When I was diagnosed, it was believed that 90 percent of cases went undiagnosed. Now many doctors know to test for it, and if it is found early and treated aggressively, 81 percent of patients recover fully, a staggeringly high figure considering how utterly devastating the disease appears at its height.”

Susannah Cahalan received the Silurian Award of Excellence in Journalism for Feauture Writing for the article “The Month of Madness,” on which this book is based. Her article was published on Sunday, October 4 2009 by New York Post with headline: “My Mysterious Lost Month of Madness: I was a happy 24-year-old suddenly stricken by paranoia and seizures. Was I going crazy?” Her book itself has become an instant New York Times bestseller.

Brain on Fire is divided into three parts and fifty-three chapters. Part one: Crazy, part two: The Clock and part three: In Search of Lost Time. Part one is about pre-illness Susannah, part two is about Susannah during her illness and then part three is about her post-illness recovery time. Despite its dark and quite scary story, you will find that Susannah message throughout the passage is illuminating. Yet again her courage and honesty is empowering her readers. We will begin to adore her as an outstanding and stunning survivor.

IMG_20180217_154446.jpg

P.S. I got Brain on Fire book from Janin Gantz, a volunteer from Germany, after my mini belated 27th birthday celebration on February the 13th at the Learning Center after we taught the class. I was recovering from sore throat and common cold.

Thanks Janin for giving me this great book and helping me with the editing of this book review.

 

Ganti Kacamata Baru dengan BPJS Kesehatan

Posting lalu kan sudah saya tulis mengenai pengalaman odontectomy atau operasi cabut gigi bungsu menggunakan BPJS Kesehatan, kali ini saya mau cerita tentang prosedur pelayanan untuk mendapatkan kacamata bagi peserta BPJS Kesehatan sesuai pengalaman saya.

 

By the way, mata saya emang udah ketahuan minus sejak mau masuk SMP, jadi saya udah cek kesehatan berkala dan menggunakan kacamata dari dulu. Tapi setelah saya menikah, saya nggak pernah cek kesehatan mata lagi, kacamata yang saya pakai pun masih dengan ukuran lensa waktu terakhir periksa di masa kuliah. Akhirnya saya memutuskan untuk periksa mata saat sudah punya BPJS Kesehatan. Sebenernya banyak optik yang menawarkan periksa mata gratis, tapi kan saya juga perlu ganti lensa kalau ukurannya berubah.

 

Kok, kebetulan gagang kacamata lama saya sempat patah, trus udah dilem jadinya longgar, nggak megang gitu. Kan nggak nyaman banget dipakai. Eh trus, Jon, anak Bu Yuli pengelola yayasan tempat saya bekerja, nawarin frame kacamata biru punya volunteer yang ketinggalan. Awalnya saya nolak karena udah punya kacamata, tapi segera berubah pikiran karena langsung inget kalau gagang kacamata lama saya udah longgar. Karena butuh frame kacamata baru, akhirnya saya ambil, deh.

20171219_110732

Kacamata saya yang lama framenya berwarna hitam dan gagangnya berwarna cokelat, kalau kepala nunduk suka hampir jatuh gitu karena gagangya udah longgar abis patah engselnya

Tanggal 20 Oktober 2017 lalu saya ke puskesmas Suraberata bilang mau periksa mata karena mata saya minus dan udah lama nggak cek mata lagi. Lalu diberi surat rujukan untuk periksa ke dokter spesialis mata di BRSU Tabanan. Setelah itu saya pun mencoba ambil antrean online di web BRSU Tabanan yang sudah mulai diberlakukan sejak Agustus 2017. Ambil antrean online ini berlaku untuk kunjungan ke BRSU Tabanan 2 hari kemudian. Saya langsung dapat nomor antrean 1 untuk ke poli mata.

 

Saat ke BRSU Tabanan, saya langsung mengkonfirmasi antrean online saya di loket pendaftaran beserta menunjukkan surat rujukan dan kartu BPJS Kesehatan. Nggak lama kemudian langsung disuruh ke poli mata. Di poli mata saya perlu menunggu sampai dokter spesialis mata datang. Saat diperiksa ternyata kedua mata saya minus 1,75 dan mata kanan saya silinder 0,25.

 

Saya juga sempat mengeluhkan mata kanan saya yang sering sakit jika tiba-tiba dibuka saat terbangun tengah malam atau terlalu pagi. Kata dokter, sih, sebabnya karena mata saya lelah, maka saya diresepkan obat tetes mata dan resep untuk ukuran lensa mata kacamata yang baru. Saya pun masih perlu melengkapi resep kacamata dengan legalisir dan SEP (Surat Elegibilitas Peserta) dari BPJS center yang ada di area BRSU Tabanan.

 

Di kantor BPJS Center, saya diberi daftar alamat optik di Tabanan yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. Nilai pertangungan pembelian kacamata baru yang saya dapat adalah Rp 150.000 karena saya peserta BPJS Kesehatan kelas III. Dan sebagai info tambahan, pembelian kacamata baru yang ditanggung adalah untuk lensa spheris minimal 0,5 Dioptri dan untuk lensa silindris minimal 0,25 Dioptri. Kacamata dapat diberikan paling cepat dua tahun sekali sesuai dengan indikasi medis. Oh ya, untuk nilai pertanggunagan kelas II Rp 200.000 dan kelas I Rp 300.000.

 

Setelah pegang resep dokter spesialis mata yang dilegalisir dan SEP, saya tinggal pilih mau beli kacamata di optik mana. Saya sempat tanya-tanya ke tiga optik yang berbeda di Tabanan yang masih bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. Saya cuma tanya harga lensa plastik untuk minus 1,75 dan silinder 0,25 karena saya udah punya frame kacamatanya.

 

  1. Optik Arie cabang Bajera Jl Rajawali No. 9, harga lensa plastik yang ditawarkan Rp350.000.
  2. Optik Internasional di dekat pasar senggol Tabanan Jl. Gajah Mada No. 13, harga lensa plastik biasa Rp350.000. yang ada anti UV Rp 500.000an.
  3. Optik Erlangga di Jl. Pahlawan No. 25 Tabanan, harga lensa plastik Rp250.000, lensa plastik biasa Rp200.000

 

Saya dapat best price di optik Erlangga dan saya ambil lensa plastik dengan harga Rp 200.000, maka saya perlu nambah bayar Rp50.000 secara cash. Dan setelah sempat ngobrol sama tante saya yang juga punya kacamata baru, ternyata Optik Erlangga emang terkenal lebih murah karena beliau beli kacamata barunya disana, periksa mata pun gratis.

Selain Optik yang tersebut di atas yang telah saya kunjungi ada pula optik lainnya yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan di Tabanan, yaitu:

  1. Optik Indra di Jl. A. Yani No. 50 Kediri
  2. Optik Arie cabang Tabanan di Apotek Restu Farma

Di Optik Erlangga saya serahkan resep ukuran lensa dari dokter spesialis mata, SEP, fotokopi kartu BPJS Kesehatan dan tidak lupa frame kacamata yang saya bawa untuk dibuatkan lensa dengan ukuran baru dan dipasangkan ke frame kacamata saya. Katanya sih, seminggu selesai dan akan dihubungu ke nomor HP saya. Tapi ternyata baru 2 hari saja saya sudah terima sms yang memberitahukan bahwa kacamata saya sudah selesai.

 

Untuk ambil kacamata saya perlu menunjukkan nota pembayaran saja. Udah deh… saya jadi punya kacamata baru! Next kalau mau periksa mata lagi bisa Oktober 2019. 🙂

 

Ini dia kacamata baru saya, warnanya biru bening dengan gambar sulur-sulur tanaman di gagangnya tapi nggak terlalu kelihatan di foto ini. Matching kan dengan kebaya dan tasnya? 😀

Bagus nggak menurut kalian? Saya sebenernya kurang suka dan kurang PD dengan frame kacamata warna-warni, maunya sih yang warnanya tidak terlalu mencolok seperti hitam, tapi namanya juga frame kacamata dikasi, ya kan? Ternyata framenya cukup kuat dan megang, kok. Worth it.

Intan Rastini.

Pasang IUD setelah punya Kalki dan Kavin

wp-image--82797631

Six months after our marriage

Saya termasuk orang yang mendukung program Keluarga Berencana alias “KB”. Emang awalnya, sih nggak nerima sesuatu yang tidak alami dimasukkan ke dalam tubuh untuk mencegah terjadinya proses biologis. Tapi kalau dipikir-pikir lagi manfaatnya lebih banyak daripada ruginya dan saya nggak pertahankan lagi memandang alat KB sebagai sesuatu yang manipulatif. Takut pasang alat kontrasepsi dalam rahim? Sudah nggak dong… Setelah mengalami sendiri pasang alat kontrasepsi ini, saya bisa ceritakan prosesnya hampir sama seperti saat Pap Smear atau tes IVA.

Sudah selama 1 tahun lebih saya pakai IUD, tepatnya pasang pada tanggal 10 Juni 2016 lalu. IUD sendiri adalah metode kontrasepsi di dalam rahim. Kepanjangannya adalah IntraUterine Device. Macam-macam alat kontrasepsi kan ada banyak tuh, yang untuk wanita sendiri dibagi dalam hormonal dan nonhormonal.

 

Yang saya sebut disini metode menunda kehamilan (kontrasepsi) yang berlangsung sementara waktu ya, jadi tidak permanen. Untuk yang hormonal ada pil KB dan suntik KB. Keduanya bekerja dengan mempengaruhi hormon dalam tubuh. Sedangkan yang tanpa mempengaruhi hormon ada IUD dan Implan. Tapi kata bu bidan di Pustu (puskesmas pembantu) Angkah, kalau mau pasang implan itu perlu disuntik KB dulu awalnya, lalu dilihat perkembangannya cocok atau tidak.  Jadi implan itu termasuk ke hormonal juga, ya, awalnya?

IMG_20171122_121909

Tahun lalu saat Kavindra anak kedua saya sudah berusia 1 tahun, saya sudah mulai memberanikan diri memilih alat kontrasepsi IUD. Karena saya sudah mau stop punya anak lagi. Saya percaya dengan menyusui secara eksklusif selama 6 bulan itu sudah menjadi KB alami untuk mencegah kehamilan, selain itu saya dan suami juga sebelumnya menerapkan sistem kalender. Tapi akhirnya saya jadi was-was kalau misalkan jadi mengandung.

 

Nah, saat Kavin usia 1 tahun ini udah waktu yang tepat untuk pasang IUD, Karena pengalaman dari anak pertama, kami pakai KB alami setelah Kalki lahir, tapi setelah Kalki usia 1 tahun saya pun mengandung lagi. Kelahiran Kavin saya rasa sudah menjadi penutup saja bagi saya dan suami. Dua anak sudah cukup. Saya nggak ngotot, kok pengen anak perempuan. Prinsip saya dua anak cukup, laki-laki atau perempuan yang penting sehat. Pro program Keluarga Berencana banget, kan saya? Cocok juga, nih dengan program GenRe “Generasi Berencana” dari BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional)  hehehe… Udah ah, berasa kayak aktivis aja.

20170717_104032-1

Salah satu hal yang menarik di Pustu bagi suami saya

Memang setelah kelahiran Kavin, bu bidan yang membantu persalinan saya selalu mengingatkan untuk pasang alat kontrasepsi, tapi saya bilang masih pakai KB alami dulu hehe… sambil nabung biaya pasang alat kontrasepsinya. Saat itu biayanya Rp 250.000 (pasang di Pustu Angkah) jadi tepat kalau saya bilang mau nabung dulu juga.

 

Untuk pasang IUD dianjurkan oleh bu bidan saat hari terakhir haid. Jadi untuk saya yang rentang haidnya biasa 5-6 hari. Saya pilih untuk pasang IUD saat hari ke-6 haid di Bulan Juni. Saat hari pasang KB saya merasa sudah siap secara mental dan finansial apalagi nanti pasang IUD-nya dengan bidan yang sudah saya kenal.

 

Saya pasang IUD ini di Pustu Angkah, jaraknya cuma 1 km dari rumah. Awalnya janjian dulu dengan bu bidan yang telah membantu proses kelahiran Kalki dan Kavin. Sehingga alat-alat pendukung dan IUD-nya sudah dipersiapkan terlebih dahulu disana. Saya bilang saya mau pasang IUD tapi yang merk Andalan, karena kata bu bidan itu IUD yang bagus.

 

IMG_20170427_130817_297

Menunggu di Pustu ditemani Kavin dan Papa saat kontrol

Lalu saya diantar suami dan Kalki ke Pustu. Di Pustu diperlihatkan kemasan dus alat kontrasepsinya dan bu bidan menggambarkan di atas dus IUD-nya seperti apa alatnya terpasang di dalam rahim. Lalu selanjutnya proses pemasangannya di ruang KB. Saya berbaring di atas ranjang yang ada tempat kakinya itu yang biasa buat periksa IVA atau Pap Smear.

 

Pertama-tama area intim kita dibersihkan lalu dipasang alat seperti corong atau cocor bebek kali yang membantu membuka jalan agar meletakkan alatnya lebih mudah. Setelah alatnya diletakkan di rahim, benang dari alat IUD-nya dipotong. Setelah selesai alat corong seperti cocor bebek itu dilepas. Udah deh kira-kira cuma gitu aja sepengetahuan saya. Selama proses tersebut saya diminta untuk rileks dan mengatur napas agar otot-otot di sekitar area kewanitaan jadi lemas gitu. Sambil pasang IUD, bu bidan juga ngajak ngobrol saya.

 

Saat saya bangun, saya sempat lihat tuh ada baskom di ujung ranjang yang berisi darah. Saya berpikir apa itu darah haid saya atau dalam prosesnya sempat membuat berdarah ya? Saya tidak tau pasti, karena saya nggak tanya ke bu bidan. Tapi setelah pulang ke rumah ya darah itu masih keluar tapi nggak terasa sakit, kok. Ya seperti masih haid aja, padahal haid saya udah hari terakhir saat itu alias udah mulai bersih.

 

Selesai pasang IUD saya diberi kartu keterangan tanggal memakai IUD dan jadwal kontrol selanjutnya. Saya diminta untuk kontrol 1 bulan kemudian. Saat kontrol akan ditanyakan apakah ada keluhan atau tidak dan selanjutnya akan dicek seperti cek Pap Smear lagi dan ini cuma sebentar aja. Setelah dilihat oleh bu bidan ternyata kedaannya bagus, sudah deh, selesai.

IMG_20171122_122248

Bagian depan kartu berisi nama dan tanggal pasang IUD

Selanjutnya akan diminta kontrol 2 bulan kemudian dengan proses yang sama. Setelah kontrol yang kedua kalinya, saya diminta untuk kontrol ke-3 pada 6 bulan kemudian. Setelah kontrol yang ke-3, saya diminta kontrol ke-4 setelah 1 tahun. Nah untuk kontrol yang setelah 1 tahun ini jadwalnya akan jatuh pada bulan Januari 2018 nanti. Selama ini saya kontrol bayar Rp 10.000 setiap cek KB. Tapi setelah jadi anggota BPJS Kesehatan bakalan nggak bayar lagi.

IMG_20171122_122258

Bagian belakang kartu berisi tanggal kontrol

Yang saya keluhkan selama pemakaian IUD ini adalah durasi haid saya jadi panjang. Pada haid pertama saya setelah pakai IUD lamanya jadi 10 hari. Pada bulan-bulan berikutnya durasinya semakin berkurang jadi 9 hari, lalu 8 hari dan hingga sekarang jadi 6-7 hari. Selain itu periode haid saya datangnya jadi lebih cepat, maju rata-rata seminggu setiap bulan. Kalau dulu sih saya haid bisa setiap 30 hari. Setelah pasang IUD jadi kira-kira tiap 23 hari.

 

Untuk keluhan dari suami sih nggak ada. Jadi aman aja… Tapi untuk keluhan saya, kata bu bidan itu normal. Memang sebelum pasang IUD saya sudah dijelaskan bahwa efek pasang IUD bisa jadi durasi haid lebih panjang dan lebih banyak darah haid yang keluar. Bu bidan sendiri yang pakai IUD juga mengalaminya. Mama saya juga pakai IUD dan mama saya pun mengalami hampir sama seperti saya, selama 3 hari haidnya deras dan 4 hari sudah mulai menurun intensitas keluar darahnya.

 

Yang saya suka dari IUD ini adalah tidak mempengaruhi hormonal saya. Selama haid pun pakai Mooncup juga nggak masalah. Justru saat heaviest flow pakai Mooncup membantu sekali sehingga nggak boros pembalut (lagi pula saya udah lama nggak pakai pembalut sekali pakai tapi pakai Mooncup dengan  dibantu pembalut kain). Yang ingin tau tentang ulasan saya tentang Mooncup baca disini ya…

 

IUD yang saya pakai adalah IUD Andalan Tcu 380A Safeload yang bisa mencegah kehamilan hingga 10 tahun. Kan udah mau stop punya anak jadi sekalian aja pakai IUD yang mengontrol kehamilan dalam jangka waktu lama, lebih hemat dan ekonomis serta nggak perlu bolak-balik lepas-pasang IUD. Ada juga IUD yang mengontrol kehamilan selama 3 tahun dan 5 tahun. Saya tau tentang IUD Andalan ini dari majalah AyahBunda.

IMG_20171122_121831

Saya pakai IUD yang gambar boxnya paling atas

Selama memakai IUD ini so far so good. Nggak ada rasa cemas lagi bakalan kebobolan.  Suami dan saya pun nyaman dengan playing safe. Yang paling bikin senang bagi saya dengan memakai alat kontrasepsi IUD ini adalah tidak ada lagi rasa was-was bahwa akan mengandung tanpa perencanaan matang. Gimana, apa Anda berminat pakai IUD? Atau malah udah pakai alat kontrasepsi?

 

“I’ll be with you feon dusk till dawn” -Zayn Malik ft. SIA

Pakai IUD ini telah menambah keharmonisan hubungan saya dengan suami. Kami jadi bebas dari rasa khawatir karena udah komitmen cukup dua anak saja, Kalki dan Kavin. Kasih sayang dan perhatian jadi tercurah hanya kepada mereka. Ikut asuransi kesehatan dari pemerintah (BPJS Kesehatan) pun jadi fix karena anggota keluarga kami empat. Mudah-mudahan perencanaan pendidikan kami untuk mereka juga bagus. Semoga.

Selamat hari ulang tahun Pernikahan yang ke-6, Papa Ambara. Kamis, 28 Desember 2017.

“But you’ll never be alone, I’ll be with you from dusk till Dawn… I’ll be with you from dusk till Dawn… Baby, I’m right here…” nyanyiannya Zayn malik dan Sia yang lagi terngiang-ngiang di kepala saya. The 6th wedding anniversary is symbolized as “candy”. I  am very grateful we have been through the six years with our sweet boys, Kalki and Kavin.

 

Love,

Intan Rastini.

What’s in My Beauty Pouch

20171124_145813

I have skincare and makeups in my pouch. I used to have moisturizer, night cream, and make up remover as skincares. Then the makeups were only loose powder, lip balm, lipstick, powder blush, eyeshadow and eyebrow pencil from the same brand, my favorite makeup brand, Maybelline. I really love Maybelline mineral makeups. But I can’t get them anymore because the series isn’t available at the stores nowadays.

My skin type is oily and acne prone with tanned skin color and warm undertone. All of my first makeup was mineral makeup series by Maybelline and it was just suitable to my skin type right away. Now I don’t use them anymore, because Maybelline discontinued producing the mineral makeup series. Currently I have more variative cosmetic brands and beauty kits in my pouch.

Let’s open the pouch!

20171124_143739

1. Moisturizer to moist my face. I actually have an oily skin but I still use moisturizer daily. I use Pond’s White Beauty moisturizer cream with SPF 15 to protect my face from the sunlight.

20171124_144856

2. Bio Oil mostly as my night oil. I don’t use any night cream, just Bio Oil instead. I need to get rid of my dark spots and acne scars.

20171124_144916

3. B.B cream. I bought a lighter shade (Cream) because that shade was the only one that available at the store at that time. For my skin tone it doesn’t look great so I use it very slightly. Next time I will buy the darker shade: Ochre. This B.B Cream from Pixy has SPF 30 & PA+++ to protect from UVA and UVB. It is said that noncomedogenic and cointains natural whitening extract and vitamin C.

20171124_144830

4. Loose Powder

I have two jars of different loose powder because one of my loose powder is almost running out so I bought the other one, also to compare them.

What I bought first was The One Loose Powder by Oriflame. It is quite translucent. So despite the fact that it is still in lighter shade than my face, it doesn’t really matter. I use Medium shade, this is the darkest shade they have.

20171124_144710

The second one I have is Bare with Me Mineral Loose Powder by Emina. The shade is darker (04 Ebony) than my The One Loose Powder in Medium. It has high coverage, so it looks very cakey and bright if I put too much.

20171124_144741

5. Powder Brushes

One powder brush for each loose powder. Giordani Gold Professional Powder Brush for Emina and The One Powder Brush for The One Loose Powder. Emina provides powder puff inside its jar but I prefer to use powder brush. And I don’t want to mix the loose powder shades by using only one brush for all.

6. Blush. I use Color Show Blush by Maybelline in Creamy Cinnamon color. It is a compact blush without any puff, so I just tap my finger to use it. Handy and practical unlike the former powder blush that I used to apply before. I still love my old blush, the Mineral Loose Powder by Maybelline. They provide a mini brush to apply the powder blush. Unfortunately Maybelline doesn’t produce it anymore.

20171124_144636

7. Eye Shadow. Trivia eye shadow by Make Over provides three different colors and a mirror. I was confused to pick the natural color combinations between “Emperor Brown” or “Enchanting Nude Spell” because they are quite similar. I picked the “Enchanting Nude Spell” because it has a darker brown color. It provides shimmery white, shimmery beige/peach and matte dark brown colors.

20171124_144406

8. Eyebrow Pencil. Still in love with Maybelline so I picked Fashion Brow Cream Pencil in brown color. They used to provide eyebrow brush on the pencil lid, but now… not again!

20171124_144549

9. Lip Balm

I love lip balm rather than lipstick. So I used to have more lip balm variants than lipsticks. My favorite one is the Baby Lips Cherry Kiss from Maybelline because it has a very light pink color and it has SPF 16! Sorry I have no picture because I’m running out of it.

And then I have Love Nature Cherry Lip Balm with sheer red color. I have to make sure my finger is clean to put the lip balm on my lips so I am a little bit lazy to use this kind of lip balm in a jar.

20171124_145611

Baby Lips Candy Wow. It has more bold tint than the original Baby Lips. The packaging is bigger and just like a crayon so it is pretty cool. But I don’t like the red tint in Cherry because I want more natural look not to be eye-catching. However the tint stays very long enough. Unfortunately it doesn’t have SPF to protect the lips from UV. Maybe I should try the pink color. Or not. Because it is more expensive than the original one.

20171124_145444

10 Lipstick

Giordani Gold Iconic Lipstick by Oriflame in Copper Shine. I like this lipstick because it has SPF 15, but the color doesn’t suit my dark lips. The color is shiny and shimmery orange to brown.

20171124_145331

Kiss Proof by Menow. This lipstick is soft and powdery so I don’t feel like wearing lipstick. It doesn’t stain when you drink or kiss. If you put a little lip balm before using this lipstick, it becomes more moist but it would stain.

20171124_145213

The color Number 001 is really shiny with shimmers. My lips look cracking with this color because my lips are darker than this shade and the texture of the lipstick pigment is almost dry. I need to put lip balm first so the color could be completely blended on my lips.

Number 011 is dark red or maroon. This color is truly matte. I have to apply really thin unless I would look like Gothic. Actually this shade is quite similar with the color of my upper lip.

11. Milk Cleanser and Toner by Pond’s White Beauty to remove my make up. I use them to clean my face in the morning sometimes or before sleeping if I don’t take a bath and wash my face with facial foam.

20171124_145655

12. Pencil Sharpener that can be used for eyebrow pencil and my Menow Kiss Proof soft lipstick. There is a part like a stick that can be taken off to clean up the clogged hole.

20171124_144244

13. Mirror by Giordani Gold. It has a flat mirror and a concave mirror to magnify the reflection.

20171124_144131

14. Folding Scissors just in case I need to cut or trim something. I will trim my split end hair if there is any.

20171124_145713

That’s all inside my beauty pouch. I don’t use makeups every day, just for events and special occasions. Even when I go out somewhere I don’t usually use makeup. If you have a makeups or cosmetic products to be reviewed. Just let me know, I can write a honest review for you.

Now, you tell me what’s in your beauty pocket in your blog and give me the link to your blog post. I’ll be right there soon to check it out. Thank you for reading mine. Now, let me zip my pouch back!

20171124_145907

X.O.X.O

Intan Rastini.

How to Keep Your Baby Warm?

I have just received a gift package from Jamu Jago contains Bèbè Roosie telon cream and Buyung Upik sirup anti masuk angin – it is like a syrup for relieving dispepsia symptoms. It was wonderful to have another stock of telon cream for my sons.

Telon Oil, Telon Cream and Baby Balsam

As you know, if you have a baby you will need telon oil a lot for daily use! Because telon oil helps to keep your baby warm, despite the fact that we live in a tropical country.

Commonly babies’ stomach could be gaseous and babies could catch a cold or cough easily, so it’s very good to rub some warm oil to their neck, chest, belly, hands and feet.

Thus, I wonder why it’s very rare that people give telon oil as presents for newborn baby… Because this thing is the most useful and the most needed. Any idea why?

I have three kind of different products that almost have the same purpose, helping baby to stay warm:

1. My Baby telon oil
♥ Composition;
Oleum Citronellae 2.5%
Oleum Chamomillae 2.5%
Oleum Anisi 7.5%
Oleum Cajuputi Compositum 60.35%
Oleum Cocos 27.15%


♥ This kind of product is very common in Indonesia with many various of brands. But I use this telon oil the most for my sons because it’s easy to find it at stores.
♥ This oil is not too hot and doesn’t have strong Cajuputi fragrance.
♥ The dominant fragrance is Citronella.
♥ The more advantage of using this telon oil that it helps preventing mosquito’s bite for 6 hours because of the strong Citronella fragrance.
♥ This telon oil is just oily for a moment because it is easy to be vaporized.
♡ Unfortunately, my sons have ever spilled this oil that much to the floor! It has been fallen down to the floor accidentaly too, until the bottle cracked and leaked.
♥ However, My Baby telon oil is very useful for everyday use.
♥ Variants: Telon Oil Plus anti mosquitos bites for 6 hours and for 8 hours.
♥ Made in Indonesia.
♥ Volume: 60ml, 90ml, 150ml.
♥ Package: bottle with box.
♥ Price: Rp 12.000-36.000

2. Bèbè Roosie telon cream



♥Composition;
Oleum Cajuputi 4g
Oleum Foeniculi 3g
Oleum Olivae 1g
Cream base until 60g
♥I like the fragrance, because it is very telon oil fragrance which is the most familiar Cajuputi fragrance.
♥This telon cream is warm enough for your children.
♥The cream texture is smooth and nonsticky. It is almost like moisturizer – it really moisturises you baby skin.
♥ It helps to prevent mosquitos bites too but I don’t know how long the duration is.
♥  I like this new kind of telon cream because it doesn’t spill out, still be careful from children because they can squish the tube.
♥ Made in Indonesia.
♥ Volume: 60g
♥ Package: tube with box.
♥ Sorry I really don’t know the price because I got it for free. But I checked on Bébé Roosie Instagram is about Rp 25,700

3. VICKS BabyBalsam
♥ Composition;
Petrolatum, Fragrance, Cocos Nucifera (Coconut) Oil, Paraffinum Liquidum (Mineral Oil), Aloe Barbadensis (Aloe Vera) Extract.
Contains Aloe Vera and fragrances of Eucalyptus, Rosemary and Lavender.

​♥ This one has unique fragrance of Eucalyptus, Lavender and Rosemary unlike others. My son always says as “balsem wangi” or as “smells good balsam”.
♥ The balsam texture is like a soft wax or balm and it is a little bit sticky on your skin.
♥ Although it is said as balsam, actually it doesn’t feel hot at all! Because it doesn’t contain any menthol like normal balsam but eucalyptus. So it gives a slight warmth.
♥ It is written that, “Vicks BabyBalsam moisturising & shooting baby care.
Together with your loving touch, Vicks BabyBalsam helps to gently calm, soothe, relax and moisturise your baby.”
I think this balsam is better used for rubbing or massaging your baby and as aromatheraphy because of its pleasant aroma. So it is really really good to shoote and comfort.
♥ I often use it at night so my sons would have a better nice sleep. So it could reduce a baby colic too, I guess.
♡ It has lavender fragrance but it has no claim that this product would prevent your baby from mosquito’s bites.
♥ I really love the jar because it is very compact and the lid has cute pink color.
♥ Made in Germany.
♥ Volume: 50g
♥ Package: jar with box
♥ Price: Rp 80.000

All products are suitable for baby to toddler. Even adult still can use them too.

Anyway, in Indonesia is never as cold as winter in Europe. It is always warm here, but I’ve almost never heard that people in cold climate ever use this kind of telon oil. Yeah, we always call sort of warm oil for baby as telon oil which mostly consists of Cajuputi Oil as the main ingredient.

So, which one do you prefer?
Please share it with me…

Hey, it’s really great to make them as baby presents too!

Intan Rastini

We Are Perfect Strangers

When I saw the “Perfect Strangers” video clip oh I fell in love with the adventurous flash romance. I think we all enjoy romance that’s why Shakespeare was successful for his literature works and plays. He is very popular and we learn a lot from  him. And we all also love music! Music is a universal thing that everybody will like it whatever genre it is.

I think this single is a perfect combination of tribal house and tropical house genre with the caucasian casts of the video clip as tourists in somewhere like Africa. This song was released on June 3rd 2016 by Jonas Blue as the producer and JP Cooper as the vocal.

I don’t know who Jonas Blue and JP Cooper are actually, because there are no Jonas neither JP Cooper appearences on the video clip, I guess, I’m not sure. What I know is just that Jonas Blue is British DJ and JP Cooper is a British singer. I love their work in “Perfect Strangers” as the whole package, the music, the lyric, the vocal, the video clip, the casts, and the setting.

I know Kygo, the Norwegian DJ and producer, but Jonas Blue is still new to me. I only know one of his song! Just the Perfect Strangers and it already made me fall in love.

The perfection of being a human is told in this song like we can have some fun and we can still enjoy the circumstance although we are not sure how to carry on later. We deserve enjoying the moment that makes us happy before it lasts.

The video clip is lovely because it depicts a romantic image in adventurous way. There are a man and a woman as tourists in a unknown place. Yeah, they have different trips there and then meet accidentally but they are strangers to each other. They keep travel until eventually they spent time together just like a couple vacation.

Just imagine if it happened to me… I was having a vacation in a tropical country on my own, ’til I met another gorgeous male tourist there. Then we became interested in each other. You know what would happen next… that was only the romantic initiation, expand your imagination while singing the song! Maybe the lyric offers a better story.

JONAS BLUE LYRICS

“Perfect Strangers”
(feat. JP Cooper)

[JP Cooper:]
You were looking at me like you wanted to stay
When I saw you yesterday
I’m not wasting your time, I’m not playing no games
I see you

Who knows the secret tomorrow will hold?
We don’t really need to know
‘Cause you’re here with me now, I don’t want you to go

You’re here with me now, I don’t want you to go
Maybe we’re perfect strangers
Maybe it’s not forever
Maybe the night will change us
Maybe we’ll stay together
Maybe we’ll walk away
Maybe we’ll realize
We’re only human

Maybe we don’t need no reason
Maybe we’re perfect strangers
Maybe it’s not forever
Maybe the night will change us
Maybe we’ll stay together

Maybe we’ll walk away
Maybe we’ll realize
We’re only human
Maybe we don’t need no reason why
Come on, come on, come over
Maybe we don’t need no reason why
Come on, come on, come over

No one but you got me feeling this way
There’s so much we can’t explain
Maybe we’re helping each other escape
I’m with you

Who knows the secret tomorrow will hold?
We don’t really need to know
‘Cause you’re here with me now, I don’t want you to go
You’re here with me now, I don’t want you to go

Maybe we’re perfect strangers
Maybe it’s not forever
Maybe the night will change us
Maybe we’ll stay together
Maybe we’ll walk away
Maybe we’ll realize
We’re only human
Maybe we don’t need no reason
Maybe we’re perfect strangers
Maybe it’s not forever
Maybe the night will change us
Maybe we’ll stay together
Maybe we’ll walk away
Maybe we’ll realize
We’re only human

Maybe we don’t need no reason why
Come on, come on, come over
Maybe we don’t need no reason why
Come on, come on, come over
Come on, come on, come over
Maybe we don’t need no reason why
Come on, come on, come over

                           ♥

Lyric was taken from here.
♡ Intan Rastini