I Have No Wisdom Teeth Anymore II

Kelanjutan dari “I Have No Wisdom Teeth Anymore I”….

Sambil menunggu dipanggil masuk ruang bedah, saya sempat sarapan dua kali, nyemil-nyemil dan minum susu UHT. Pak mantri yang modar-mandir di depan poli gigi menjelaskan bahwa mereka sedang mempersiapkan ruang bedah dan menunggu dokternya datang. Sambil menunggu beliau juga sempat menjelaskan bahwa letak gigi bungsu yang dicabut itu letaknya dekat dengan syaraf-syaraf sehingga bisa terjadi efek samping seperti kebas atau mati rasa di seputar area tersebut. Tapi mereka akan tetap berusaha yang terbaik supaya itu nggak terjadi.

20170607_073600

Sebelum operasi cabut gigi, minum susu UHT dulu

Saya juga tidak lupa membawa sikat gigi dan pasta gigi supaya saya bisa membersihkan gigi sebelum operasi cabut gigi. Saat nama saya dipanggil masuk ke ruang bedah, deg-degan rasanya. Untung ada dua bapak mantri yang ngajak saya ngobrol dengan ramah dan akrab sehingga suasana jadi lebih santai. Saya pun diminta untuk berkumur dulu sebelum operasi dimulai. Foto rontgent di tempel di atas dekat lampu dokter gigi dan gigi bungsu saya yang akan dicabut saat itu saya pilih yang kiri (gigi 38) dulu karena itu yang lebih nyeri karena berlubang.

Sebenernya saya memejamkan mata terus saat operasi berlangsung, selain karena silau kena lampu juga karena takut hihih. Tapi tetap terasa kan kalo gusi itu mulai disuntik anastesi sampai mati rasa. Terus mulai dibedah gusinya pakai gunting nggak lama setelah dibius lokal karena bunyi “cekrik-cekrik”, gitu. Selanjutnya gigi bungsu dipegang dengan alat dan dicoba diangkat, karena agak susah, akhirnya dibor sampai gigi saya patah menjadi beberapa bagian dan bisa diangkat satu per satu sampai bersih. Selama proses dibor itu getarannya yang bertubi-tubi bikin rahang ngilu-ngilu dikit apalagi kita kan terus nganga. Mulut pun berasa penuh air liur, tapi ada alat penyedot cairan yang dipegang oleh pak mantri selama proses odontectomy.

Ruangan bedah mulut itu terasa dingin banget sampai saya kedinginan. Untung saya pakai kaos kaki dan sepatu, lalu saat saya mau lepas di awal, pak mantri bilang nggak usah karena ruangannya dingin. Pilihan yang tepat kalo gitu pas pakai jaket dan sepatu. Setelah semua bagian gigi bungsu saya terangkat, gusi saya akhirnya dijahit. Rasanya kok gusi sakit banget ketarik-tarik benang jahitan sampai rapat. Sekitar 2 atau 3 jahitan dengan simpul penutup setelah itu diberi kapas untuk digigit. Dan diberi ekstra kapas steril untuk ganti setelah 1 jam. Perawat berpesan untuk tidak makan dan minum yang panas, tidak berkumur-kumur, dan tidak menghisap-hisap dulu pasca cabut gigi.

Kira-kira proses operasi cabut gigi itu 30 menit aja. Saya pun diberi resep obat penghilang rasa sakit dan antibiotik. Terus besok disuruh kontrol lagi. Resepnya langsung saya kasi suami biar ditebus ke apotek dan saya langsung buka website Sanglah untuk ambil antrean online buat kontrol besok. Selesai operasi saya sempatkan minum susu UHT biar nggak lemes, dan karena udah jam makan siang, kami pulang sambil mampir untuk makan gado-gado di depan RS Sanglah. Setelah makan langsung saya minum pain killernya biar nggak kesakitan pas obat bius udah berkurang.

Saya putuskan untuk nginep di Dalung saja supaya nggak terlalu capek menempuh jarak jauh Denpasar-Tabanan bolak-balik apalagi besok masih perlu kontrol. Keesokan harinya saya kontrol ke Sanglah diantar oleh Ratih, dan proses periksa pasca-odontectomynya cukup cepat, dilihat dan cuma dibersihkan dengan cairan steril gusinya. Saya nggak ada keluhan berarti sih, selain pipi bengkak dan rasa sakit nyut-nyutan di bekas cabut gigi. Makan emang jadi susah tapi saya tetap nafsu makan, dong hehehe… Pipi saya yang bengkak banget kata pak mantrinya masih normal, ntar bisa kembali sekitar 3-4 hari. Tapi sebenernya yang saya alami, kempesnya setelah 1 minggu, bo!

Minggu depannya saya dijadwalkan untuk lepas benang jahitan, maka saya pun datang lagi 8 hari setelah odontectomy pada tanggal 15 Juli 2017. Setelah benang jahitan dilepas, gusi jadi terbuka gitu dan saya harus sering-sering kumur sampai gusinya menutup sempurna. Lalu karena masih ada satu lagi gigi bungsu sebelah kanan yang belum dicabut, saya tanyakan kapan jadwalnya. Maka pak mantri memberi tahu jadwal yang tersedia di bulan depan dan kami sepakat pada tanggal 13 Juli.

Nah, sambil nunggu operasi cabut gigi kedua, juga memberi kesempatan gusi pasca-odontectomy pertama pulih. Suami saya juga gigi bungsu bawahnya impaksi semua maka saya sarankan untuk ngurus surat rujukan ke Sanglah supaya tanggal 13 Juli kami bisa berangkat bareng ngurus gigi bungsu masing-masing. Soalnya kan RS Sanglah jauh banget dari rumah biar sekali jalan aja.

Tanggal 11 Juli 2017 saya udah siap-siap ambil antran online untuk cabut gigi di poli gigi Sanglah. Sedangkan untuk suami, saya tidak bisa ambilkan no. antrean online karena sebagai pasien baru Sanglah perlu melalui registrasi manual dulu di loket. Saat 13 Juli 2017 di RS Sanglah, suami saya periksa gigi dan lalu foto rontgent panoramik, sedangkan saya menjalani odontectomy. Kami berdua terpisah dengan urusan masing-masing sehingga saat saya sedang proses operasi cabut gigi, suami saya sedang di lab. radiologi. Kami pun sama-sama selesai pas menjelang siang.

Karena besoknya saya harus kontrol lagi, pak mantri pun memberi tahu untuk lewat perjanjian. Jadi serahkan saja surat kontrol, fotokopi kartu BPJS dan fotokopi kartu sanglah ke loket khusus perjanjian sehingga besoknya kita bisa langsung ke poli gigi. Ini berlaku khusus untuk berobat atau kontrol besoknya dengan menyerahkan berkas sehari sebelumnya. Sehingga kita tidak perlu antre untuk menyerahkan berkas di loket pendaftaran lagi.

IMG_20170713_111934

Proses menyerahkan berkas di loket khusus perjanjian

Saat cabut gigi bungsu kedua saya nginep lagi di Dalung, tapi besoknya saya pergi kontrol sendiri. Saat kontrol saya tanyakan ke pak mantri boleh tidak kalau benang jahitannya dilepas lebih dari seminggu? Seperti dua minggu? Beliau mengatakan boleh, maka saya diberi surat kontrol untuk bulan Juli 2017 tetapi tanpa tanggal.

Saya pun datang lagi ke poli gigi sanglah setelah 15 hari setelah odontectomy. Kebetulan saat itu juga adalah hari pasca-odontectomy suami. Tanggal 27 Juli 2017 suami saya pergi ke Sanglah sendiri untuk odontectomy, lalu tanggal 28 harus balik buat kontrol lagi. Pas jadwal kontrol, saya ikut buat lepas benang jahitan, jadi kami bisa sekalian berangkat bareng. Karena sama-sama kontrol jadi nggak terlalu nunggu lama di poli gigi.

Gigi bungsu saya dan suami berbeda cara dicabutnya. Suami saya giginya besar dan utuh saat dicabut sedangkan gigi saya yang lebih kecil ukurannya dipatahkan menjadi beberapa bagian untuk diangkat. Nggak tau juga kenapa, apa mungkin karena gigi bungsu suami saya udah nongol maksimal sedangkan gigi saya nggak sepenuhnya kelihatan. Tapi pasca-odontectomy sama-sama gusi terbuka seperti ceruk dan itu akan menutup sempurna kira-kira 2 bulan kemudian. Selama gusi masih terbuka kudu rajin berkumur tuh setelah makan.

Yang atas gigi suami, yang bawah gigi saya

Tanggal 20 Oktober 2017 saya ke Puskesmas Suraberata lagi untuk cabut gigi bungsu terakhir: sebelah kanan atas. Saat itu gigi bungsu saya agak ngilu sih, untung bisa dicabut biasa meski tumbuh agak miring ke arah pipi. Ternyata giginya juga udah berlubang dan hitam banget gitu gara-gara sering nyelip sisa makanan dan sikat gigi agak susah menjangkau area gigi bungsu itu. Setelah gigi bungsu terakhir saya itu dicabut juga ketahuan bahwa gigi geraham depannya ikut lubang gara-gara ketularan ketempelan makanan dan susah dibersihkan. Syukur deh, udah ditambal dan nggak nyeri lagi.

Sekarang saya udah bebas dari gigi bungsu yang tumbuh miring. Gusi bekas cabut gigi bungsu bagian atas sudah menutup secara sempurna dan rata, tapi gusi bekas gigi bungsu bagian bawah meski sudah menutup tetap terasa berbentuk cekung. Mungkin karena beda banget arah tumbuh gigi bungsu yang atas dan bawah dan teknik pencabutannya.

Cabut gigi bungsu secara odontectomy atau cabut biasa dengan BPJS sama sekali nggak bayar, yang perlu dibayar ya iuran BPJS-nya setiap bulan. Syukur nggak ada efek samping dan keluhan yang berarti setelah operasi cabut gigi bungsu, hanya pipi bengkak dan susah makan saja secara sementara. Bye bye my wisdom teeth! Now I don’t need to bear the pain from you and I’m really grateful for that.

 

Intan Rastini.

 

20170524_102757

Ada vending machine di dekat apotek, jadi sambil nunggu obat bisa lihat-lihat, nih..

 

20170524_091444

Dinding informatif di RSUP Snaglah, berisi pesan-pesan kesehatan

Advertisements

I Have No Wisdom Teeth Anymore I

Gigi bungsu atau wisdom teeth saya bagian bawah kiri dan kanan tumbuh miring semua secara horizontal, istilahnya sih, impaksi. Karena tumbuhnya tidur, yang muncul pun hanya sebagian permukaannya aja, arah tumbuh akarnya tidak wajar sih. Komplikasinya bikin tekanan ke gigi geraham depannya yang ditabrak, dan menimbulkan celah tempat sisa-sisa makanan bisa diam dengan nyaman. Akhirnya gigi bungsu saya berlubang semua.

Desember tahun lalu saat saya liburan ke Surabaya, gigi geraham kiri atas dan bawah saya sakit semua. Setelah periksa ke klinik dokter gigi, ternyata gigi bungsu atas dan bawah saya berlubang. Gigi bungsu atas tumbuhnya udah keluar semua dan cuma miring sedikit ke arah pipi sehingga bisa dicabut biasa oleh dokter gigi. Tapi gigi bungsu bawah saya tumbuhnya tidur dan nggak bisa dicabut biasa, sehingga disarankan odontectomy. Dokternya cuma bantu bersihkan dan beri obat ke bagian yang sakit saat itu.

Saat itu saya bayar biaya penanganan cabut gigi biasa dan diberi obat di klinik sebeasar Rp260.000. Lalu saya tanya berapa biaya untuk cabut gigi bungsu? Karena perlu operasi kecil, biayanya bisa jutaan. Dokter bilang foto rontgent panoramik saja dulu di lab. Operasinya bisa di Rumah Sakit FKG Unair dengan bawa hasil foto rontgent gigi. Biaya operasi cabut gigi disana sekitar Rp500.000-an dan untuk foto rontgent panoramik gigi sekitar Rp150.000. Waduh, saya kan nggak berdomisili di Surabaya lagi. Si dokter nanya juga apa saya nggak punya asuransi kesehatan? Hmmm..

Akhirnya pulang liburan dari Surabaya saya langsung deh, urus kepesertaan BPJS kesehatan di kantor cabang Tabanan. Gigi bungsu yang tumbuh miring atau impaksi itu perlu dicabut supaya tidak menimbulkan rasa nyeri, pusing dan tegang di leher karena tumbuhnya yang nyempil nggak kebagian tempat bikin dorongan ke segala arah. Apalagi kalau badan kita lagi capek kan tambah berasa sakitnya. Lebih parah jika sudah berlubang, karena nggak bisa ditambal seperti gigi yang tumbuh normal. Satu-satunya jalan harus dicabut dengan teknik odontectomy.

Maka pergilah saya ke fasilitas kesehatan pertama yang saya pilih dalam kepesertaan BPJS saya, yaitu puskesmas Suraberata pada tanggal 29 April 2017. Dokter gigi pun memberi surat rujukan untuk periksa ke poli gigi di Badan Rumah sakit Umum Tabanan. Surat rujukan ini berlaku selama 1 bulan, karena saya ke puskesmas pas akhir bulan, maka bu perawat berbaik hati menuliskan surat rujukannya dibuat pada tanggal 1 Mei 2017.

Tanggal 3 Mei 2017 saya ke BRSU Tabanan. Ternyata disana nggak ada alat rontgent gigi dan tidak ada ruang bedah mulut. Sehingga dokter gigi pun memberikan saya surat rujukan ke Rumas Sakit Umum Pusat Sanglah di Denpasar. Surat rujukan dokter gigi tersebut perlu dilegalisir dan dilengkapi Surat Elegibilitas Peserta (SEP) dari BPJS Center yang ada di RS dengan masa berlaku selama sebulan.

IMG_20170713_103733

RSUP Sanglah

Tanggal 24 Mei 2017 saya pergi ke RSUP Sanglah, sebagai pasien baru yang belum pernah berobat di RSUP Sanglah saya perlu mengisi form registrasi dan mendapat kartu Sanglah. Ternyata antrean pasien di sana lebih banyak dari pada di BRSU Tabanan, untung sebagai pasien baru loketnya masih tersendiri. Lagipula nanti kita bisa menggunakan kemudahan antrean online atau dengan perjanjian jika ingin berobat ke Sanglah tanpa antre ambil nomor ke loket.

20170524_075845

Mengisi formulir sebagai pasien baru di RSUP Sanglah

Di poli gigi Sanglah saya nggak terlalu lama nunggu untuk dipanggil. Tensi darah saya dicek dan dimintai data diri oleh perawat, saat dokter giginya datang, gigi saya diperiksa dan dinyatakan 38i dan 48i. Maksudnya gigi bungsu kiri bawah dan kanan bawah saya impaksi semua. Selanjutnya saya diminta untuk foto rontgent panoramik gigi dulu di lab. radiologi. Setelah hasil rontgent panoramik selesai, saya bawa hasil fotonya ke poli gigi dan setelah melihat hasil foto, dokter menyarankan untuk operasi cabut gigi.

20170524_084252

Udah kayak iklan Pepsodent belum?

Selanjutnya akan dicarikan jadwal operasi cabut gigi yang tersedia oleh perawat. Saya pilih tanggal 7 Juni 2017. Setelah pilih tanggal, perawat akan memberikan surat datang kembali pada jadwal operasi. Saya juga diberi resep untuk menangani sementara rasa sakit dari gigi bungsu yang berlubang. Perawat sempat mengingatkan supaya di malam sebelum hari operasi tidak boleh begadang, pagi harinya pun harus sarapan supaya tidak lemas.

20170524_092829

Menyerahkan berkas untuk foto panoramik gigi di loket radiologi

IMG_20170713_095513

antre di lorong area radiologi. Di sini terdapat banyak ruang diagnosa radiologi

Dua hari sebelum tanggal 7 Juni 2017 saya sudah ambil no. antrean online di website Sanglah. Sehingga pas datang ke sanglah tinggal tunggu nomor antrean online dipanggil di loket pendaftaran dan itu nggak terlalu lama dibanding ambil no. antrean manual di loket. Saya dapat nomor antrean selalu dibawah nomor 100. Kalo ambil manual udah diatas itu. Maka pada tanggal jadwal operasi saya berangkat ke Sanglah dengan membawa surat rujukan dan hasil foto rontgent. Saat di poli gigi lah malah saya harus nunggu lama, saya udah sampai di poli gigi sekitar jam 8 pagi, eh operasinya baru bisa dimulai jam 11-an.

 

Bersambung ke Bagian ke-2 ya….

 

Pasang IUD setelah punya Kalki dan Kavin

wp-image--82797631

Six months after our marriage

Saya termasuk orang yang mendukung program Keluarga Berencana alias “KB”. Emang awalnya, sih nggak nerima sesuatu yang tidak alami dimasukkan ke dalam tubuh untuk mencegah terjadinya proses biologis. Tapi kalau dipikir-pikir lagi manfaatnya lebih banyak daripada ruginya dan saya nggak pertahankan lagi memandang alat KB sebagai sesuatu yang manipulatif. Takut pasang alat kontrasepsi dalam rahim? Sudah nggak dong… Setelah mengalami sendiri pasang alat kontrasepsi ini, saya bisa ceritakan prosesnya hampir sama seperti saat Pap Smear atau tes IVA.

Sudah selama 1 tahun lebih saya pakai IUD, tepatnya pasang pada tanggal 10 Juni 2016 lalu. IUD sendiri adalah metode kontrasepsi di dalam rahim. Kepanjangannya adalah IntraUterine Device. Macam-macam alat kontrasepsi kan ada banyak tuh, yang untuk wanita sendiri dibagi dalam hormonal dan nonhormonal.

 

Yang saya sebut disini metode menunda kehamilan (kontrasepsi) yang berlangsung sementara waktu ya, jadi tidak permanen. Untuk yang hormonal ada pil KB dan suntik KB. Keduanya bekerja dengan mempengaruhi hormon dalam tubuh. Sedangkan yang tanpa mempengaruhi hormon ada IUD dan Implan. Tapi kata bu bidan di Pustu (puskesmas pembantu) Angkah, kalau mau pasang implan itu perlu disuntik KB dulu awalnya, lalu dilihat perkembangannya cocok atau tidak.  Jadi implan itu termasuk ke hormonal juga, ya, awalnya?

IMG_20171122_121909

Tahun lalu saat Kavindra anak kedua saya sudah berusia 1 tahun, saya sudah mulai memberanikan diri memilih alat kontrasepsi IUD. Karena saya sudah mau stop punya anak lagi. Saya percaya dengan menyusui secara eksklusif selama 6 bulan itu sudah menjadi KB alami untuk mencegah kehamilan, selain itu saya dan suami juga sebelumnya menerapkan sistem kalender. Tapi akhirnya saya jadi was-was kalau misalkan jadi mengandung.

 

Nah, saat Kavin usia 1 tahun ini udah waktu yang tepat untuk pasang IUD, Karena pengalaman dari anak pertama, kami pakai KB alami setelah Kalki lahir, tapi setelah Kalki usia 1 tahun saya pun mengandung lagi. Kelahiran Kavin saya rasa sudah menjadi penutup saja bagi saya dan suami. Dua anak sudah cukup. Saya nggak ngotot, kok pengen anak perempuan. Prinsip saya dua anak cukup, laki-laki atau perempuan yang penting sehat. Pro program Keluarga Berencana banget, kan saya? Cocok juga, nih dengan program GenRe “Generasi Berencana” dari BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional)  hehehe… Udah ah, berasa kayak aktivis aja.

20170717_104032-1

Salah satu hal yang menarik di Pustu bagi suami saya

Memang setelah kelahiran Kavin, bu bidan yang membantu persalinan saya selalu mengingatkan untuk pasang alat kontrasepsi, tapi saya bilang masih pakai KB alami dulu hehe… sambil nabung biaya pasang alat kontrasepsinya. Saat itu biayanya Rp 250.000 (pasang di Pustu Angkah) jadi tepat kalau saya bilang mau nabung dulu juga.

 

Untuk pasang IUD dianjurkan oleh bu bidan saat hari terakhir haid. Jadi untuk saya yang rentang haidnya biasa 5-6 hari. Saya pilih untuk pasang IUD saat hari ke-6 haid di Bulan Juni. Saat hari pasang KB saya merasa sudah siap secara mental dan finansial apalagi nanti pasang IUD-nya dengan bidan yang sudah saya kenal.

 

Saya pasang IUD ini di Pustu Angkah, jaraknya cuma 1 km dari rumah. Awalnya janjian dulu dengan bu bidan yang telah membantu proses kelahiran Kalki dan Kavin. Sehingga alat-alat pendukung dan IUD-nya sudah dipersiapkan terlebih dahulu disana. Saya bilang saya mau pasang IUD tapi yang merk Andalan, karena kata bu bidan itu IUD yang bagus.

 

IMG_20170427_130817_297

Menunggu di Pustu ditemani Kavin dan Papa saat kontrol

Lalu saya diantar suami dan Kalki ke Pustu. Di Pustu diperlihatkan kemasan dus alat kontrasepsinya dan bu bidan menggambarkan di atas dus IUD-nya seperti apa alatnya terpasang di dalam rahim. Lalu selanjutnya proses pemasangannya di ruang KB. Saya berbaring di atas ranjang yang ada tempat kakinya itu yang biasa buat periksa IVA atau Pap Smear.

 

Pertama-tama area intim kita dibersihkan lalu dipasang alat seperti corong atau cocor bebek kali yang membantu membuka jalan agar meletakkan alatnya lebih mudah. Setelah alatnya diletakkan di rahim, benang dari alat IUD-nya dipotong. Setelah selesai alat corong seperti cocor bebek itu dilepas. Udah deh kira-kira cuma gitu aja sepengetahuan saya. Selama proses tersebut saya diminta untuk rileks dan mengatur napas agar otot-otot di sekitar area kewanitaan jadi lemas gitu. Sambil pasang IUD, bu bidan juga ngajak ngobrol saya.

 

Saat saya bangun, saya sempat lihat tuh ada baskom di ujung ranjang yang berisi darah. Saya berpikir apa itu darah haid saya atau dalam prosesnya sempat membuat berdarah ya? Saya tidak tau pasti, karena saya nggak tanya ke bu bidan. Tapi setelah pulang ke rumah ya darah itu masih keluar tapi nggak terasa sakit, kok. Ya seperti masih haid aja, padahal haid saya udah hari terakhir saat itu alias udah mulai bersih.

 

Selesai pasang IUD saya diberi kartu keterangan tanggal memakai IUD dan jadwal kontrol selanjutnya. Saya diminta untuk kontrol 1 bulan kemudian. Saat kontrol akan ditanyakan apakah ada keluhan atau tidak dan selanjutnya akan dicek seperti cek Pap Smear lagi dan ini cuma sebentar aja. Setelah dilihat oleh bu bidan ternyata kedaannya bagus, sudah deh, selesai.

IMG_20171122_122248

Bagian depan kartu berisi nama dan tanggal pasang IUD

Selanjutnya akan diminta kontrol 2 bulan kemudian dengan proses yang sama. Setelah kontrol yang kedua kalinya, saya diminta untuk kontrol ke-3 pada 6 bulan kemudian. Setelah kontrol yang ke-3, saya diminta kontrol ke-4 setelah 1 tahun. Nah untuk kontrol yang setelah 1 tahun ini jadwalnya akan jatuh pada bulan Januari 2018 nanti. Selama ini saya kontrol bayar Rp 10.000 setiap cek KB. Tapi setelah jadi anggota BPJS Kesehatan bakalan nggak bayar lagi.

IMG_20171122_122258

Bagian belakang kartu berisi tanggal kontrol

Yang saya keluhkan selama pemakaian IUD ini adalah durasi haid saya jadi panjang. Pada haid pertama saya setelah pakai IUD lamanya jadi 10 hari. Pada bulan-bulan berikutnya durasinya semakin berkurang jadi 9 hari, lalu 8 hari dan hingga sekarang jadi 6-7 hari. Selain itu periode haid saya datangnya jadi lebih cepat, maju rata-rata seminggu setiap bulan. Kalau dulu sih saya haid bisa setiap 30 hari. Setelah pasang IUD jadi kira-kira tiap 23 hari.

 

Untuk keluhan dari suami sih nggak ada. Jadi aman aja… Tapi untuk keluhan saya, kata bu bidan itu normal. Memang sebelum pasang IUD saya sudah dijelaskan bahwa efek pasang IUD bisa jadi durasi haid lebih panjang dan lebih banyak darah haid yang keluar. Bu bidan sendiri yang pakai IUD juga mengalaminya. Mama saya juga pakai IUD dan mama saya pun mengalami hampir sama seperti saya, selama 3 hari haidnya deras dan 4 hari sudah mulai menurun intensitas keluar darahnya.

 

Yang saya suka dari IUD ini adalah tidak mempengaruhi hormonal saya. Selama haid pun pakai Mooncup juga nggak masalah. Justru saat heaviest flow pakai Mooncup membantu sekali sehingga nggak boros pembalut (lagi pula saya udah lama nggak pakai pembalut sekali pakai tapi pakai Mooncup dengan  dibantu pembalut kain). Yang ingin tau tentang ulasan saya tentang Mooncup baca disini ya…

 

IUD yang saya pakai adalah IUD Andalan Tcu 380A Safeload yang bisa mencegah kehamilan hingga 10 tahun. Kan udah mau stop punya anak jadi sekalian aja pakai IUD yang mengontrol kehamilan dalam jangka waktu lama, lebih hemat dan ekonomis serta nggak perlu bolak-balik lepas-pasang IUD. Ada juga IUD yang mengontrol kehamilan selama 3 tahun dan 5 tahun. Saya tau tentang IUD Andalan ini dari majalah AyahBunda.

IMG_20171122_121831

Saya pakai IUD yang gambar boxnya paling atas

Selama memakai IUD ini so far so good. Nggak ada rasa cemas lagi bakalan kebobolan.  Suami dan saya pun nyaman dengan playing safe. Yang paling bikin senang bagi saya dengan memakai alat kontrasepsi IUD ini adalah tidak ada lagi rasa was-was bahwa akan mengandung tanpa perencanaan matang. Gimana, apa Anda berminat pakai IUD? Atau malah udah pakai alat kontrasepsi?

 

“I’ll be with you feon dusk till dawn” -Zayn Malik ft. SIA

Pakai IUD ini telah menambah keharmonisan hubungan saya dengan suami. Kami jadi bebas dari rasa khawatir karena udah komitmen cukup dua anak saja, Kalki dan Kavin. Kasih sayang dan perhatian jadi tercurah hanya kepada mereka. Ikut asuransi kesehatan dari pemerintah (BPJS Kesehatan) pun jadi fix karena anggota keluarga kami empat. Mudah-mudahan perencanaan pendidikan kami untuk mereka juga bagus. Semoga.

Selamat hari ulang tahun Pernikahan yang ke-6, Papa Ambara. Kamis, 28 Desember 2017.

“But you’ll never be alone, I’ll be with you from dusk till Dawn… I’ll be with you from dusk till Dawn… Baby, I’m right here…” nyanyiannya Zayn malik dan Sia yang lagi terngiang-ngiang di kepala saya. The 6th wedding anniversary is symbolized as “candy”. I  am very grateful we have been through the six years with our sweet boys, Kalki and Kavin.

 

Love,

Intan Rastini.

On Air di d’Oz Radio Bali

Pada hari Ibu kemarin saya diundang ke Radio d’Oz Bali dalam rangka merayakan 3 tahun program kesayangan saya yaitu Oz Mata Sapi. Kesempatan emas yang nggak boleh dilewatkan, nih, soalnya saya ngefans banget sama ponggawa kocak yang bawain Oz Mata Sapi. Jadi pengen berjumpa dan menyapa, gitu, kenal lebih jauh gimana sih orang yang sering saya dengerin suaranya di radio.

Dulu saat saya kebetulan pas nyari-nyari frekuensi, ada program Sport Spot yang membahas olah raga dan penyiarnya banyak cowok-cowok ngobrol santai sambil bercanda-canda. Saya suka dengan topik olahraga yang mereka bawakan, makanya stay tune di frekuensi itu. Program radio itu terdengar berbeda karena seperti siaran oleh orang Jakarta bukan seperti radio daerah Bali karena tidak terdengar sekali aksen Bali. Belakangan saya jadi tau kalau itu radio d’Oz Bali.

Sejak saat itu saya jadi pendengar setia radio d’Oz Bali, saya dengerin sambil mengasuh Kalki yang masih bayi. Suara radio itu relaxing juga saat menyusui Kalki, jadi saya bisa dengerin sambil tiduran. Karena saya cukup rutin mendengarkan radio, saya jadi tau program Oz Mata Sapi dan saya pun jadi suka program tersebut karena penyiarnya ngobrol sambil ngocol. Dulu penyiarnya Maesya Sjaendy dan Elsya Soraya Prosa, kini sudah tiga tahun program Mata Sapi dibawakan oleh Maesya Sjaendy dan Giri Teja Setiadi. Karena programnya yang lucu dan unik, Radio d’Oz Bali jadi stasiun radio favorit saya.

Meskipun ini radio Oz Bali tapi dibawakan dengan  Bahasa Indonesia dan saya merasa cocok mendengarkan karena mereka tidak berlogat Bali dan memperdengarkan lagu-lagu Indonesia dan Internasional bukan lagu Bali. Salah satu kelucuan-kelucuan yang dihadirkan di Oz Mata Sapi berupa Esya dan Giri berusaha berbicara dengan logat Bali. Menurut saya ini sangat lucu karena saya tidak besar di Bali, saya tidak biasa menggunakan Bahasa Bali sehari-hari. Saya bisa merasakan kelucuan tersebut sebagai orang Bali yang tinggal di Bali tapi saya tidak terlalu mahir berbahasa Bali.

Saya sempat merasa kesulitan untuk bergaul di Bali terutama di desa karena sebagian besar penduduk disini berbicara Bahasa Bali. Bayangkan saja untuk ngobrol panjang lebar dengan penduduk disini, kami terkendala kosa kata. Mereka berusaha berbicara Bahasa Indonesia dengan saya sedangkan mereka sendiri tidak terbiasa berbicara Bahasa Indonesia. Maka dari itu mendengarkan obrolan ponggawa-ponggawa d’Oz Radio Bali menjadi hiburan tersendiri bagi hati saya yang kadang kangen dengan suasana di Surabaya.

Oke, lanjut kenapa saya sampai diundang d’Oz Radio Bali ke Oz Island di Sunset Road, Kuta? Karena saya sempat iseng-iseng membuat doodle gambar kartun Giri dan Esya sedang siaran, lalu gambarnya saya pakai untuk ngucapin happy 3rd anniversary ke Instagram d’Oz. Suami saya tau-tau bilang kalau mereka komen di posting gambar saya bahwa saya menang tantangan Giri dan Esya untuk 3rd anniversary program mereka. Saya diminta untuk ambil hadiahnya di Oz Island yang mana adalah lokasi stasiun radio mereka.

Seneng dong, dapat hadiah sekalian diundang ngopi-ngopi cantik dari Black Eye coffee Maka saya pun bangun pagi jam setengah 5 pagi buat siap-siap dan berangkat jam 6 pagi ke Kuta. Awalnya udah janjian sama Ratih, sepupu saya, tapi karena pas disamperin dia masih tidur zz.z. ya udah tinggal aja dari pada terlambat. Sampai di Oz Island jam 7.41 pagi dan itu masih sepi. Cuma ada barista-barista Black Eye Coffee dan mbak-mbak (maaf lupa kenalan) dari Radio Oz yang menyambut saya dan menawarkan kopi tapi saat itu kopinya belum siap.

wp-image--1643862217

Lalu ada Mbak Wina yang juga menyambut saya dan dia yang menyerahkan hadiahnya. Kalau nggak salah, Mbak Wina itu tim kreatif dari program Oz Mata Sapi. Setelah menerima hadiah saya dipersilakan duduk dulu di sana sambil ngopi dan menyaksikan Esya dan Giri sedang siaran Mata Sapi. Saya sempat melambaikan tangan kepada mereka yang terlihat di seberang kaca studio. Mereka menyapa saya balik dan langsung nyerocos di siaran radio bahwa ada saya datang. Kebetulan kan saya tamu yang pertama sampai, jadi mereka kayaknya seneng deh, ada pendengar yang datang dan menyapa pagi-pagi.

Untuk sampai ke Oz Island saya harus menempuh perjalanan hampir dua jam naik motor, sampai sana berasa pegel kelamaan duduk. Surprisenya, pihak d’Oz menyediakan massage dan menicure bagi tamu-tamu yang hadir di perayaan Oz Mata Sapi ke-3 tahun. Asyik Akhirnya sambil pesan susu, karena saya nggak ngopi, saya pun mau untuk dimassage oleh mbak GoGlam. Oh ya tim GoGlam ini datangnya cuma selang beberapa menit setelah saya, lho. Dan saya nggak nyangka kalau mereka dihadirkan untuk menjamu tamu-tamu yang datang ke Oz Island. Habis saya nggak dengar hal ini disebut-sebut di siaran radio.

wp-image-1244634920

Yang saya dengar cuma undangan untuk ngopi-ngopi dan sarapan. Nah, sarapan! Bayangan saya ditraktir makan-makan kan, ekspektasi saya tentang sarapan itu ya makan bubur ayam atau nasi goreng, nyatanya di sana disuguhkan pastel ayam dan kue sus aja he he he. Meski begitu saya tetep makasih banyak karena mereka menyambut saya dan menjamu dengan ramah dan baik banget. Saya pun bisa ngemil pastel dan kue sus sesukanya sambil nonton Giri dan Esya siaran.

Lalu saya diminta masuk ke studio siaran buat diajak ngobrol on air. Senengnya mereka mau ajak saya mengudara di stasiun radio Bali, tapi saya juga merasa nervous. Mereka masih inget saya, lho sebagai Intan yang bikin gambar kartun buat mereka dan intan yang punya blog intanrastini.wordpress.com hihihi. Giri sampai bilang, “intanrastini.wordpress.com…” saat saya masuk ke studio siaran. Wah rasanya tersanjung sekali. Saat diajak ngobrol, mereka tanya apa pekerjaan saya dan tertarik dengan yayasan tempat saya bekerja.

Emang kurang lebih obrolan mereka seling diselipi bercandaan, jadi selama on air di radio saya banyak ketawanya dari pada ngomong panjang lebar. Tentu percakapan didominasi oleh mereka dan saking kocaknya mereka mengocok perut saya terus. Akhirnya saya disuruh ikutan “Tanda”, salah satu segmen dari Mata Sapi, yaitu “Tanya Dadakan” kuis dengan lima pertanyaan yang kadang serius kadang ngawur. Karena mereka sudah tau bahwa pekerjaan saya sebagai guru Bahasa Inggris, mereka pun tanya pertanyaan berbau Bahasa Inggris, beberapa pertanyaannya adalah:

1. “Apa Bahasa Inggrisnya pintu?”

2.” Apa Bahasa Inggrisnya kebelet?”

3. “What thing is long, black, hit by car it is okay?” Mereka sempat menjelaskan dalam Bahasa Inggris yang sedikit campur aduk hehehe

Pertanyaan sisanya saya agak lupa karena ditujukan kepada tamu di samping saya yang juga ikut diajak siaran. Dan saya berkolaborasi dengan dia untuk menjawab pertanyaan di segmen Tanda, tapi sebagian besar ya saya yang jawab kaaaan

Saat saya jawab pertanyaan pertama, “door”. Eh, nggak taunya Esya dan Giri langsung jawab, “aaaah, kaget…” dengan syadu dan kompaknya. Duh. Begitu mereka selesai Tanya Dadakan, dan mengkonfirmasi apa jawaban saya atas pertanyaan pertama, eh reaksi mereka dengan jawaban saya “aaaah, kaget” lagi! Pertanyaan kedua saya jawab “in hurry”, lalu pertanyaan ketiga saya jawab “chocolatos” abis kehabisan akal dan diburu waktu untuk menjawab. Eh nggak taunya jawabannya adalah tiang listrik (itu, tuh, yang ditabrak oleh papa minta saham). Masa saya sempat dikatain si duo kocak kalo nggak pernah lihat berita gara-gara salah jawab pertanyaan ketiga?! Hehehe.

Meski jawaban ada yang salah, mereka berbaik hati untuk tetap membenarkan karena ini hari spesial ulang tahun program mereka, jadi saya tetap dapet hadiah, deh. Iya dapet hadiah lagi untuk yang kedua hihihi. Di sela-sela program saya sempat minta tanda tangan Giri dan Esya dilengkapi dengan kata-kata spesial buat saya. Lalu tidak lupa untuk foto bareng dengan ponggawa-ponggawa favorit.

Giri sempat bilang bahwa dia juga tertarik bikin blog karena seneng nulis, tapi dia males baca lagi tulisannya. Saya bilang supaya dibacanya beberapa tahun lagi aja, dijadikan time capsule, gitu. Sedangkan Esya sempat nawarin saya kue tart yang dibawakan oleh tamu-tamu, saya bilang nggak mau heeheee karena saya nggak terlalu suka manis-manis, sih. Akhirnya Esya sibuk sendiri nyabutin lilin yang menancap di atas kue tart. Duuuh, jadi menyesal saya nolak kue tart dari Esya waktu itu.

Keluar dari studio saya pun mengambil treatment menicure, dan nggak tanggung-tanggung, setiap tangan saya dihandle oleh satu mbak GoGlam. Selesai dimanja menicure, kebetulan udah jam 10 yaitu udah akhir program Mata Sapi. saya sempatkan makan kue tart (supaya nggak tambah menyesal udah ditawarin mbak baik hati) lalu ngobrol-ngobrol dengan Giri dan Esya. Mereka sempat tanya sejak kapan denger Mata Sapi dan saya jawab sejak awal-awal Esya duet dengan Ealsya Soraya Prosa. Lha, kebetulan Ealsya ada disana untuk menicure tepat setelah saya selesai sehingga Esya langsung bilang, “Nah itu orangnya ada di sana!”

Ealsya menyapa saya dan langsung berkata dengan standar penyiar radio berkecepatan 1000 kata per menit, “Halo maaf, ya mbak tangannya lagi nggak bisa salaman (lagi dipegang mbak GoGlam).. iya nih, mbak ajarin Esya Bahasa Inggris, nggak bisa bahasa Inggris dia. Bisanya cuma one, two, three, four…” sampai Esya nggak ada kesempatan berkata apa-apa. Hahaha. Trus saya bilang kan ada EF, kebetulan lokasinya tetanggaan. Eh, Esya malah bilang malah takut karena ada bulenya cantik-cantik sehingga takut terpikat, selain karena biayanya mahal. Saya bilang aja supaya kantor yang biayain. Ealsya yang denger malah tertawa karena minta dibayarin kantor.

Dengan Giri saya sempat bertanya udah punya anak berapa, ternyata anaknya udah dua cewek dan cowok. Saya timpalin bahwa sama dengan saya, cuma anak saya cowok-cowok. Lalu dia bilang wah pinter buatnya soalnya buat anak cowok biasanya susah. Hehehe Akhirnya saya pamit ke mbak Wina, dan dia bilang supaya saya main lagi ke Oz Island. Wah, terima kasih banyak atas keramah-tamahannya, hadiah dan jamuannya. Sampai jumpa lagi dalam kesempatan berikutnya.

Radio d’Oz Bali ada di frekuensi 101,2 FM

Kalau mau streaming radio bisa ke websitenya ozradiobali.co.id

Program Oz Mata Sapi setiap Senin-Jumat pukul 06.00-10.00

Oh ya, dan terutama Selamat Hari Ibu buat mamoth, mama tersayang. Gambar ini spesial buat mama… Smeoga tulusnya cinta dan kasih sayang mama tidak pernah pudar.
Intan Rastini.

What’s in My Beauty Pouch

20171124_145813

I have skincare and makeups in my pouch. I used to have moisturizer, night cream, and make up remover as skincares. Then the makeups were only loose powder, lip balm, lipstick, powder blush, eyeshadow and eyebrow pencil from the same brand, my favorite makeup brand, Maybelline. I really love Maybelline mineral makeups. But I can’t get them anymore because the series isn’t available at the stores nowadays.

My skin type is oily and acne prone with tanned skin color and warm undertone. All of my first makeup was mineral makeup series by Maybelline and it was just suitable to my skin type right away. Now I don’t use them anymore, because Maybelline discontinued producing the mineral makeup series. Currently I have more variative cosmetic brands and beauty kits in my pouch.

Let’s open the pouch!

20171124_143739

1. Moisturizer to moist my face. I actually have an oily skin but I still use moisturizer daily. I use Pond’s White Beauty moisturizer cream with SPF 15 to protect my face from the sunlight.

20171124_144856

2. Bio Oil mostly as my night oil. I don’t use any night cream, just Bio Oil instead. I need to get rid of my dark spots and acne scars.

20171124_144916

3. B.B cream. I bought a lighter shade (Cream) because that shade was the only one that available at the store at that time. For my skin tone it doesn’t look great so I use it very slightly. Next time I will buy the darker shade: Ochre. This B.B Cream from Pixy has SPF 30 & PA+++ to protect from UVA and UVB. It is said that noncomedogenic and cointains natural whitening extract and vitamin C.

20171124_144830

4. Loose Powder

I have two jars of different loose powder because one of my loose powder is almost running out so I bought the other one, also to compare them.

What I bought first was The One Loose Powder by Oriflame. It is quite translucent. So despite the fact that it is still in lighter shade than my face, it doesn’t really matter. I use Medium shade, this is the darkest shade they have.

20171124_144710

The second one I have is Bare with Me Mineral Loose Powder by Emina. The shade is darker (04 Ebony) than my The One Loose Powder in Medium. It has high coverage, so it looks very cakey and bright if I put too much.

20171124_144741

5. Powder Brushes

One powder brush for each loose powder. Giordani Gold Professional Powder Brush for Emina and The One Powder Brush for The One Loose Powder. Emina provides powder puff inside its jar but I prefer to use powder brush. And I don’t want to mix the loose powder shades by using only one brush for all.

6. Blush. I use Color Show Blush by Maybelline in Creamy Cinnamon color. It is a compact blush without any puff, so I just tap my finger to use it. Handy and practical unlike the former powder blush that I used to apply before. I still love my old blush, the Mineral Loose Powder by Maybelline. They provide a mini brush to apply the powder blush. Unfortunately Maybelline doesn’t produce it anymore.

20171124_144636

7. Eye Shadow. Trivia eye shadow by Make Over provides three different colors and a mirror. I was confused to pick the natural color combinations between “Emperor Brown” or “Enchanting Nude Spell” because they are quite similar. I picked the “Enchanting Nude Spell” because it has a darker brown color. It provides shimmery white, shimmery beige/peach and matte dark brown colors.

20171124_144406

8. Eyebrow Pencil. Still in love with Maybelline so I picked Fashion Brow Cream Pencil in brown color. They used to provide eyebrow brush on the pencil lid, but now… not again!

20171124_144549

9. Lip Balm

I love lip balm rather than lipstick. So I used to have more lip balm variants than lipsticks. My favorite one is the Baby Lips Cherry Kiss from Maybelline because it has a very light pink color and it has SPF 16! Sorry I have no picture because I’m running out of it.

And then I have Love Nature Cherry Lip Balm with sheer red color. I have to make sure my finger is clean to put the lip balm on my lips so I am a little bit lazy to use this kind of lip balm in a jar.

20171124_145611

Baby Lips Candy Wow. It has more bold tint than the original Baby Lips. The packaging is bigger and just like a crayon so it is pretty cool. But I don’t like the red tint in Cherry because I want more natural look not to be eye-catching. However the tint stays very long enough. Unfortunately it doesn’t have SPF to protect the lips from UV. Maybe I should try the pink color. Or not. Because it is more expensive than the original one.

20171124_145444

10 Lipstick

Giordani Gold Iconic Lipstick by Oriflame in Copper Shine. I like this lipstick because it has SPF 15, but the color doesn’t suit my dark lips. The color is shiny and shimmery orange to brown.

20171124_145331

Kiss Proof by Menow. This lipstick is soft and powdery so I don’t feel like wearing lipstick. It doesn’t stain when you drink or kiss. If you put a little lip balm before using this lipstick, it becomes more moist but it would stain.

20171124_145213

The color Number 001 is really shiny with shimmers. My lips look cracking with this color because my lips are darker than this shade and the texture of the lipstick pigment is almost dry. I need to put lip balm first so the color could be completely blended on my lips.

Number 011 is dark red or maroon. This color is truly matte. I have to apply really thin unless I would look like Gothic. Actually this shade is quite similar with the color of my upper lip.

11. Milk Cleanser and Toner by Pond’s White Beauty to remove my make up. I use them to clean my face in the morning sometimes or before sleeping if I don’t take a bath and wash my face with facial foam.

20171124_145655

12. Pencil Sharpener that can be used for eyebrow pencil and my Menow Kiss Proof soft lipstick. There is a part like a stick that can be taken off to clean up the clogged hole.

20171124_144244

13. Mirror by Giordani Gold. It has a flat mirror and a concave mirror to magnify the reflection.

20171124_144131

14. Folding Scissors just in case I need to cut or trim something. I will trim my split end hair if there is any.

20171124_145713

That’s all inside my beauty pouch. I don’t use makeups every day, just for events and special occasions. Even when I go out somewhere I don’t usually use makeup. If you have a makeups or cosmetic products to be reviewed. Just let me know, I can write a honest review for you.

Now, you tell me what’s in your beauty pocket in your blog and give me the link to your blog post. I’ll be right there soon to check it out. Thank you for reading mine. Now, let me zip my pouch back!

20171124_145907

X.O.X.O

Intan Rastini.

Weekend on The Batu Lumbang Beach

Last weekend in November we went to the beach near by. It is located in the Batu Lumbang beach. Why is it called as Batu Lumbang? “Batu” in Indonesian and Balinese means stone or rock and “Lumbang” in Balinese means wide. So this beach has giant wide coral rocks which some of them have big holes. So this holes look like a pond or jacuzzi in the seashore.

This beach is the neighbor of Soka Beach. So as long as this beach lines all the sand is black. I have ever heard that Matti from Finland said that, “it is unusual to play in the beach with black sand. Is it black because of the volcano?”

Well I believe it is because of the volcano, because Tabanan area is near by the Mount Batukaru. Some beaches in Tabanan have corals and black sand like in the Tanah Lot. Until up to the northern Bali, in Lovina beach, it has black sand too just like we do in south. But in the north the beach is quite calm with no big waves. Most beaches in Bali have white sand like Sanur, Kuta and Dreamland.

Last time we went to Batu Lumbang beach we played on the sand and mostly we swim in the hole of the coral. Not really swim because the hole is not large enough to swim, we just soaked and enjoyed the wave that came and went away around us. In the coral there were some crabs that came up and hid quickly.

There were three holes on one giant goral. We could soak our body in those holes. The holes were not very deep, only 0.5-1 meter. In the bottom of the hole we would step on sand surface. Kalki and Kavin played soaking their bodies in the hole while outside the hole there were a big waves. We could get water splash from the waves that came hitting the coral.

We went there at 3 pm. We arrived there about 3.20 pm through Lumbung Pangreregan village. So from Lumbung Village we reached the Pedungan and would be on the main road of Negara-Tabanan. We turn left or went to the north. The beach itsself was on the right side of the road, we could see the seashore from the main road.

To visit this beach we didn’t pay any entrance fee or parking fee. There were a lot of bamboo or wood stick waste in the beach at first but as you walked to the seashore it was quite clean. The wave in this beach was always big so we were always careful about that moreover we were with the kids. We brought some snacks and milk for the kids and we made sure that we brought back the rubbish, not littering the beach anyway.

We never swim in this beach due to its big waves. Some people went there for fishing. At 4.30 pm the waves were getting big so we decided to go home. Yeah, it was quite fun to soak your body in the hole of the coral filled with salty sea water. It is like an exclusive natural jacuzzi in the seashore. Do you want to try?

 

 

Story About Minnie

Oh my God, I have been keeping this draft for 4 years! So, I have prepared to tell Minnie story since we had her for 1 year. It is gonna be a sad sad sad story to remember… Minnie is our first pet after I got married with my husband.

Minnie is a black dog with white spots. She looks like a Minnie Mouse and her body is very small so I call her as Minnie. We adopt her in 2012 from my another grandparents’ home in Lumbung Village. I guess it was Saraswati day when we took her home. Her mother name is Molly. Molly gave birth to 5 puppies, male and female. Minnie was one of the female dogs.

Minnie is a short dog. she is quite fat. So, she is like a peking dog, ha ha ha. We even tried to weigh her and her weight was 12 kg. We taught her to catch an ant, then she grew up with capability in chasing mice and rats at home. She would be very patient to wait the mouse to come out from its nest. When we said, “Minnie! Tikus (mouse)! Tikus! Tikus!”, she would be alert and tried to sniff where the mouse was.

She was also alert if there was intruder at our home. If there was a snake or ‘biawak’ (monitor lizard), Minnie will bark noisily to tell us that there was a strange animal. So, her bark was like a danger alarm. Very different with Klau, our other dog, he barks to stranger or mostly people that come to our house but almost never barks to dangerous animal. So Minnie was a real safety dog for our kids, because she used to warn us for dangerous poisonous animals then we could keep our children away from that area while they were playing outside.

She was very adorable, some people like her because of her obedience. She was very friendly and didn’t bark a lot. Once she has ever got lost, when she was a little puppy. We tried to call her and find her anywhere even asked to the neighbors, but we still haven’t found her. Later on she was found sleeping in the bushes near the pond at our home. We knew it when she got up and left the bushes.

When she got her first loop, we called the veterinarian to injected her so she became sterile. But we have done it only once. Then this year, she got pregnant. Afterwards she gave birth to only one male puppy on August 13. I think due to her small body that’s why she only had 1 puppy. Kalki and Kavin was very happy with the puppy. We named him “Bakabon”. They played with Bakabon a lot. They also put Bakabon on their truck and pushed the truck!

20170704_204356

Minnie was nursing her baby under the table in our “Bale”

Unfortunately, When Bakabon already one month old, on September 13 or 14 He got lost. In the morning I called him to give him fried egg from my kids’ breakfast and then he came. Bakabon and Minnie also followed my husband to Pura Dalem to give “Sodan” as offering. Next I wasn’t at home because I had to take Kalki to the school. At home my husband called Bakabon to feed him but he didn’t seem to appear.

Since that day, we have never seen Bakabon again. Minnie was waiting and playing alone just like if there was Bakabon with her, it looked very sad. My husband and my sons have tried to search Bakabon around but we couldn’t find him anywhere. The next days were hard days for Minnie. Because she became less enthusiastic and didn’t eat her meal at all. I believe she felt sorrow and grief losing her only son, and Bakabon was her first son!

Minnie still walk around to accompany Kavin and Kalki while playing but she didn’t eat anything that we gave. Even her favorite crackers were abandoned. A week after Bakabon got lost, Minnie died in the back of our kitchen, near by her bowl that we used for feeding her.

We lose 2 adorable cute dogs. Minnie and Bakabon. Until now we still don’t know where Bakabon is. We also got information from my grandfather that Molly also had died.

Now we don’t have a dog that good at chasing mice. We only have Klau instead, a dog with grey color. He barks a lot, and he is quite fierce to strangers.

In loving memories of Minnie, Bakabon and Molly.

minnie was the least active puppy

minnie was the least active puppy

her sibling woke up but she was still sleeping!

her sibling woke up but she was still sleeping!

Minnie when we first saw her On Galungan 2012

Minnie when we first saw her On Galungan 2012

Minnie's mom

Minnie’s mom

Minnie n' Molly, her mom

Minnie n’ Molly, her mom

Minnie's sibling

Minnie’s siblings

Intan Rastini.