Reblog: Beryadnya Sesuai Kondisi

Oleh: Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda. Senin, 14 Oktober 2013 @ 00:25

Hari-hari ini umat Hindu di Bali menyongsong Galungan dan Kuningan. Sekarang memasuki Wuku Sungsang, hari Kamis nanti sudah Sugian Jawa, dilanjutkaan Sugian Bali pada esok harinya. Para ibu sudah sibuk menyiapkan berbagai ornamen menyambut hari raya itu. Tentu saja tidak sesibuk di masa lalu.

Di masa lalu kesibukan itu tergolong luar biasa. Rangkaian sesajen  sudah dibuat jauh sebelumnya. Kue-kue khas dibuat jauh hari, jaje sirat, kaliadrem, dodol, satuh, tape dan banyak lagi. Dan ketika hari raya itu datang, rangkaian sesajen sudah kusam bentuknya, kue khas itu sudah pada jamuran, tak layak lagi dimakan. Terkadang berbau amis. Semut pun banyak mengerubung. Tak pernah ada yang iseng bertanya saat itu, “Apakah tidak kasihan dengan Tuhan diberi sesajen yang sudah bau?”

Sekarang malah sebaliknya, bukan Tuhan yang perlu dipertanyakan. Justru pemangku atau sulinggih yang perlu ditanya; “Apa mantap nganteb atau muput upacara yang sesajennya sudah bau, bunganya layu, bahkan banyak dikerubungi semut?” Nah, mulai ada kesadaran tentang sarana upacara yang layak untuk dipersembahkan.

Globalisasi ikut mengubah cara-cara menyambut hari raya. Sarana berupa jajan mulai dibuat dekat-dekat hari raya karena ada teknologi, baik cara membuatnya dengan alat-alat yang lebih modern, maupun cara menyimpannya, misalnya, ada kulkas. Janur mudah didapat di pasar, bahkan mulai ada janur yang tahan lama yang didatangkan dari Sulawesi. Lalu ada yang lebih praktis bagi mereka yang sibuk dengan pekerjaan, membeli ornamen sarana ritual yang banyak dijual sekarang ini. Lihatlah di sepanjang jalan antara Lukluk-Kapal atau di berbagai pasar desa, berbagai ornamen sudah ada yang menjual.

Yang tak kalah pentingnya adalah cara-cara umat melakukan yadnya itu sudah mulai praktis, yakni disesuaikan dengan situasi dan kondisi, termasuk ketersediaan dana. Disebut praktis karena untuk apa membuat jajan yang banyak ragamnya dan banyak jumlahnya, kalau tidak ada yang makan lungsuran atau prasadamnya. Untuk apa membuat banten yang besar kalau yang kecil saja sudah sesuai dengan sastra agama. Contoh kecil, dulu di kampung saya setiap orang membuat rangkaian “banten pejati” selalu ada “ketipat gong” lengkap dengan rokok dan koreknya. Sekarang yang ada “ketipat gong” hanya untuk tempat khusus.

Kesadaran umat itu tentu karena pendidikan yang sudah lebih maju. Juga berkat intensifnya penataran maupun dharma wacana yang diberikan para tokoh-tokoh agama. Umat Hindu di pedesaan sebenarnya sangat menurut kalau diberi penjelasan yang baik. Dulu mereka sering terjebak oleh rasa takut dan salah dalam melakukan tirual. Takut tidak komplit bantennya, takut kurang ini atau kurang itu. Kalau salah, nanti Tuhan memberikan kutukan. Ida Bethara juga memberikan kutukan atau setidak-tidaknya memberikan “sakit” sebagai sinyal dari adanya kesalahan itu. Padahal mereka sendiri sejatinya juga tidak tahu, kurang itu dari mana ukurannya. Mereka mengukurnya dari tradisi yang sudah turun-temurun, salah atau benar, kurang atau tidak, mereka sebenarnya tak tahu.

Istilah di pedesaan seperti “kepongor” atau “kepanesan” adalah suatu kepercayaan bahwa para leluhur dan bahkan dalam tingkat tertinggi yakni Hyang Widhi dianggap sebagai “penjatuh kutukan”. Tuhan dan Bethara lebih sebagai penghukum, bukan sebagai Yang Maha Kasih, Yang Maha Pengampun.

Karena itu, supaya tidak salah, maka upacara ritual pun harus lengkap. Lengkap versi siapa? Lengkap menurut tradisi yang sudah turun-menurun, tanpa peduli lagi apakah tradisi itu benar atau salah. Karena itulah orang beryadnya dengan besar-besaran, berbagai kue dibuat yang pada akhirnya lungsuran-nya tidak dimakan dan diberikan babi. Artinya babi yang menerima prasadam yang utama itu.

Beryadnya yang tidak mahal dan sederhana, bagaimana ukurannya? Bagaimana cara mengurangi banten? Apakah daksina buah kelapanya boleh dipotong-potong dan telurnya separo saja? Tentu bukan itu maksudnya. Kelapa dan telur dalam daksina itu adalah lambang, kalau dipotong-potong berarti sudah menyimpang dari lambangnya. Baju jas kalau lengannya dipotong tentu tak lagi bernama jas. Yang dilakukan adalah kalau memang tak mampu membuat yadnya dengan banten besar seperti rangkaian bebangkit, misalnya, buatlah yang kecil, cukup ayaban tumpeng. Analognya, kalau tak mampu membeli jas, pakai saja baju batik, toh tetap rapi.

Beryadnya itu ukurannya “perasaan hati” tetapi juga disesuaikan dengan kondisi, karena perasaan bisa dikendalikan. Pernah saya melakukan Manusa Yadnya di desa dan saya ditanya kenapa melakukan yadnya yang besar, memakai topeng sidakarya, mendatangkan sekehe shanti, menjamu pemuka adat dan pemangku. Bukankah saya mengajurkan yadnya yang sederhana? Jawaban saya: “Bukankah saya memiliki perangkat gong, punya grup topeng, punya sekehe shanti, kalau itu tidak dipertontonkan untuk apa saya membina kesenian itu? Lalu kapan kesenian itu tampil kalau tidak ada yadnya?”

Begitu juga istilah menjamu warga dan pemuka adat. Kapan saya bisa bersosialisasi dengan pemuka adat kalau tidak dalam yadnya? Artinya kondisi sosial itu penting. Tapi kalau tidak punya sarana dan masih banyak kebutuhan dalam hidup, untuk apa beryadnya besar-besaran dengan cara berhutang menggadaikan kebun? Janganlah agama Hindu dijadikan alasan untuk beban dalam hidup.

Mari kita menyongsong hari raya Galungan dan Kuningan dengan yadnya yang sesuai dengan kondisi kita masing-masing, tak perlu mahal dan besar-besaran kalau masih ada kebutuhan lain yang lebih penting, misalnya, menyekolahkan anak. (*)

Advertisements

Thank you for reading my post, hope you enjoy it. Please... don't type an active link in the comment, because it will be marked as a spam automatically. I'd love to visit your blog if you fill the "website" form :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s