Just Married: Mary n’ Mario

Seperti yang udah pernah aku sebut-sebut sebelumnya tentang Pak Mario… Bahwa Pak Mario itu adalah tetangga kami di sebelah utara rumah. Beliau adalah seorang petani dan peternak. Istrinya, Bu Mario, kadang berjualan tipat cantok di acara-acara khusus seperti di Balai Banjar saat rapat PKK atau di pura saat ada ngayah persiapan odalan bahkan juga pas odalannya.

Yang unik tentang pak Mario adalah beliau pemain rindik sejati! Rindik adalah alat musik tradisional Bali yang dipukul, terbuat dari bambu. Setiap hari main rindik, pagi, siang hingga malam! Suara musik rindiknyalah yang menggugah ayahku saat main kemari untuk mendatangi Pak Mario. Bukan untuk melempar sepatu ke arah Pak Mario karena bikin berisik, tapi untuk belajar bermain rindik hehehehe.

Saat ayah main ke rumah Pak Mario… Eeeeeh, suara rindik khas permainan Pak Mario yang cepat langsung berganti dengan tempo lamban dan terkesan takut-takut (atau mengingat-ingat ya) terhadap nada. Nah, itu kayaknya ayah yang lagi main, pikirku. Nggak lama setelah itu permainan rindik berhenti lama sekali. Dan ayah baru pulang dari rumah Pak Mario saat aku, mamoth, papa, Kalki udah pada tidur!

Ngobrolin apa aja sih mereka berdua semalaman? Katanya ngobrolin tentang anak-anaknya Pak Mario. Namanya juga Pak Mario, nama anak sulungnya ya Mario lah…

Si Mario itu lebih muda dari suamiku. Tanggal 10 Januari kemarin dia menikah dengan Mary, seorang bule Kanada. Sempat papa bercerita tentang orang yang ngecengin pak Mario, “nanti kalo Mario nikah, kita mejaumannya ke luar negeri nih!” Mejauman itu sama dengan meminta calon mempelai istri dari rumah asalnya untuk dibawa ke rumah calon suaminya, begitulah tradisi pewiwahan atau pernikahan Bali.

Nah, berhubung Kanada jauh banget yaaaa… Mejaumannya jadi diwakilkan di depan pemesuan (jalan masuk ke kawasan rumah Pak Mario) saja – yaaah penonton kecewa.

Mario dan Mary ini tidak tinggal di desa ini, melainkan tinggal di Kuta kalau tidak salah. Karena kata suamiku mereka berdua mengelola toko peralatan surfing dan si Mario ini juga seorang surfer. Sayang sekali, padahal kalo Mary tinggal di desa ini mau aku jadikan teman seperjuangan di sini hikkssssss…

Oh ya Mary saat nikah diwisudani, alias diterima oleh leluhur Mario sebagai anggota keluarga baru yang memeluk kepercayaan yang sama. Ternyata oh ternyata, Mary udah hamil 4,5 bulan, data ini valid ya karena suamiku yang tanya langsung ke Mary. Aku sendiri nggak bisa datang ke acara pernikahan mereka untuk bantu-bantu alias ngayah. Tapi aku udah wanti-wanti suamiku supaya menyampaikan pesanku kepada Mary: “congratulations for your wedding, and my wife wanna be your friend.” Tapi apa? Yang disampaikan cuma, “my wife say congratulations for you”! Grrrrrrrrrr… Aku ngamuk lah!

Selain itu aku juga sempat ngabarin ayah bahwa Pak Mario lagi mantu. Ayah mengucapkan selamat per telepon ke aku, saat aku titip ucapan selamat itu ke suamiku buat Pak Mario, eeeh nggak disampaikan! Dasar the bad messenger!

Ini ada beberapa foto-foto yang berhasil dikumpulkan oleh papa. Katanya sih saat acara dia sibuk banget, makanya dapet fotonya itu aja dan kurang bagus. Di salah satu foto, ada Minnie si anjing kecil bogelku lhoooo… Lagi duduk nungguin sambil menyaksikan dengan santun dan beradab.

Advertisements

2 thoughts on “Just Married: Mary n’ Mario

Thank you for reading my post, hope you enjoy it. Please... don't type an active link in the comment, because it will be marked as a spam automatically. I'd love to visit your blog if you fill the "website" form :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s