Pengalaman Berhenti Merokok Suami

Saya beruntung mendapatkan seorang pacar perokok tapi rela meninggalkan kebiasaan merokoknya demi saya. Saat saya pertama kali mengenal pacar saya, dia adalah seorang perokok aktif dengan jenis rokok yang bagi saya adalah rokok kelas berat karena baunya yang sangat keras.

Pengalaman merokoknya dimulai saat ia tinggal di Surabaya. Ia sekedar mencoba-coba bersama teman-teman sekolahnya di bangku kelas 4 SD. Katanya, saat itu dia dan teman-temannya hanya memuaskan rasa ingin tahu terhadap rokok. Saat kelas 6 SD ia harus pindah ke Jakarta, dan di lingkungan Jakarta pun ia tetap mencoba-coba rokok bersama teman-temannya yang baru. Tapi itu belum bisa dikatakan sebagai perokok aktif, kenangnya, karena ia hanya kadang-kadang saja merokok untuk “have fun”.

Pacar saya mengaku mulai menjadi perokok aktif saat duduk di kelas 3 SMP. Saat itu ia merokok sembunyi-sembunyi karena tidak diijinkan oleh orang tuanya tentu saja. Setiap hari ia menyisihkan uang transport hanya untuk membeli rokok. Sampai dibela-belain naik bis menyelundup agar tidak bayar, dan uang untuk bayar bis bisa dipakai untuk beli rokok! Saat itu ia rutin mengonsumsi 1 batang rokok per hari. Saat yang menyenangkan untuk menghisap rokoknya adalah setelah pulang sekolah sambil nongkrong bersama teman-teman. Ia mengaku, saat masih muda memang rasa ingin tahunya besar untuk mencoba apalagi jika lingkungan mendukung, yaitu memiliki teman-teman yang merokok.

mahameru 024

Suami saya yang lagi duduk ngisep udud

Bagi dia, tanpa iklan pun image rokok memang sudah keren di mata anak-anak muda. Apalagi remaja memiliki jiwa pemberontak, terhadap sesuatu yang dilarang mereka justru ingin mencobanya. Saat ngumpul-ngumpul pun pacar saya mengakui lebih asyik jika sambil merokok. Kebiasaan pacar saya berlanjut sampai SMA, ia tetap merokok dan nongkrong-nongkrong iseng dengan teman-temannya. Ibunya pun mau tak mau memberi dia ijin untuk merokok di rumah tapi cukup 3 kali saja dalam sehari yaitu sehabis makan. Tak terhindarkan pula pacar saya minum minuman beralkohol dan juga mencoba nyimeng atau menghisap ganja.

Lalu saat ia kuliah di Bali, ia merasakan kebebasan yang lebih untuk merokok. Karena selain jauh dari orang tua, ia juga telah berada di lingkungan berbeda dari sekolah menengah yang jelas melarang para siswanya merokok. Dari orang tua ia mendapatkan uang saku bulanan dan itu ia atur untuk membeli persediaan rokok selama sebulan. Sempat juga ia membeli kertas rokok dan tembakau secara terpisah untuk menghemat persediaan rokoknya. Sebab jika ia memiliki persediaan rokok batangan, teman-teman kuliahnya bisa dengan mudah meminta 1-2 batang dan bila dibiarkan terus-menerus persediaan rokoknya bisa habis tidak sampai sebulan.

Saat liburan kuliah tahun 1992, pacar saya pernah terkena flu parah selama seminggu. Saat sakit ia merasakan merokok itu tidak enak! Akibatnya dia berhenti merokok selama 3 bulan saja. Lalu anehnya pada tahun 1999 ia sempat juga bisa berhenti merokok selama setahun. Gaya hidupnya pada saat itu menjadi sehat karena ia jogging setiap sore dan juga bermain basket. Ia merasakan saat berhenti merokok tahun itu di Jakarta, membuat napasnya bisa lebih panjang sehingga tidak mengganggu aktivitas jogging dan bermain basketnya. Dia kembali merokok lagi saat naik gunung bersama teman-teman bekas SMA dan kuliahnya. Saya juga heran mengapa dia kembali merokok justru saat beraktivitas naik gunung yang membutuhkan oksigen banyak!?

mahameru 025

Suami saya yang nggak pakai baju, tangannya pegang rokok

Saya bertemu dengan pacar saya saat di Jakarta, saat itu saya hendak mendaki gunung Papandayan di Garut. Saat bertemu dengannya dia masih saja aktif merokok. Saat kami mulai melakukan pendekatan, ia sudah tau bahwa saya sangat tidak suka rokok, perokok dan tidak bisa mentolerir asap rokok. Maka ia mencoba tidak merokok di dekat saya. Tidak jarang saya menyembunyikan rokoknya, bahkan membuang rokoknya ke dalam air supaya tidak bisa disulut dengan api. Ia sendiri tidak pernah marah atas kelakuan saya. Ia mengakui bahwa rokok itu tidak menyehatkan, tapi ia tidak bisa melawan zat adiktif yang membuatnya kecanduan.

Scan 028

Bersama teman-teman naik gunung: Rahardjo, Gede Agus (papa Kalki n’ Kavin), Teguh, Toto.

Akhirnya kami memutuskan untuk berpacaran. Saat berpacaran saya tidak mau membiarkan pacar saya mencium saya karena saya tidak tahan dengan bau rokok di mulutnya. Jangankan mulutnya, baju dan badannya pun bau tembakau! Dari situ ia mulai berusaha mengurangi kebiasaan merokoknya. Setelah berhasil tidak merokok ia akan meminta “reward”, alasannya karena sudah berhasil tidak merokok lagi seharian. Setelah itu ia juga jadi sering membeli permen mint sebagai subtitut rokok dan agar bau rokok di mulutnya tersamarkan.

IMG00308-20111209-1039

Hingga saat ini saya telah berkeluarga dan memiliki dua orang putra dari suami yang dulunya pacar saya itu, saya merasa bangga karena saya bisa mewujudkan keluarga yang sehat tanpa asap rokok. Saya sangat senang karena saat kami berpacaran dulu suami saya berhasil berhenti merokok sehingga tidak harus membawa kebiasaan buruknya di sekitar anak-anak kami sejak mereka bayi. Hebatnya lagi sejak berkeluarga, suami saya sudah tidak membutuhkan subsitut rokok dalam bentuk apapun.

SDC10144

With our first son, Kalki

*Cerita ini telah mendapat persetujuan dari suami saya untuk dipublikasikan. Awalnya cerita ini adalah untuk indonesiabebasrokok.org

If you support people to quit smoking or you have a smoking issue, please feel free to contact twitter: @BebasRokokID


Intan Rastini

Advertisements