I Have No Wisdom Teeth Anymore II

Kelanjutan dari “I Have No Wisdom Teeth Anymore I”….

Sambil menunggu dipanggil masuk ruang bedah, saya sempat sarapan dua kali, nyemil-nyemil dan minum susu UHT. Pak mantri yang modar-mandir di depan poli gigi menjelaskan bahwa mereka sedang mempersiapkan ruang bedah dan menunggu dokternya datang. Sambil menunggu beliau juga sempat menjelaskan bahwa letak gigi bungsu yang dicabut itu letaknya dekat dengan syaraf-syaraf sehingga bisa terjadi efek samping seperti kebas atau mati rasa di seputar area tersebut. Tapi mereka akan tetap berusaha yang terbaik supaya itu nggak terjadi.

20170607_073600

Sebelum operasi cabut gigi, minum susu UHT dulu

Saya juga tidak lupa membawa sikat gigi dan pasta gigi supaya saya bisa membersihkan gigi sebelum operasi cabut gigi. Saat nama saya dipanggil masuk ke ruang bedah, deg-degan rasanya. Untung ada dua bapak mantri yang ngajak saya ngobrol dengan ramah dan akrab sehingga suasana jadi lebih santai. Saya pun diminta untuk berkumur dulu sebelum operasi dimulai. Foto rontgent di tempel di atas dekat lampu dokter gigi dan gigi bungsu saya yang akan dicabut saat itu saya pilih yang kiri (gigi 38) dulu karena itu yang lebih nyeri karena berlubang.

Sebenernya saya memejamkan mata terus saat operasi berlangsung, selain karena silau kena lampu juga karena takut hihih. Tapi tetap terasa kan kalo gusi itu mulai disuntik anastesi sampai mati rasa. Terus mulai dibedah gusinya pakai gunting nggak lama setelah dibius lokal karena bunyi “cekrik-cekrik”, gitu. Selanjutnya gigi bungsu dipegang dengan alat dan dicoba diangkat, karena agak susah, akhirnya dibor sampai gigi saya patah menjadi beberapa bagian dan bisa diangkat satu per satu sampai bersih. Selama proses dibor itu getarannya yang bertubi-tubi bikin rahang ngilu-ngilu dikit apalagi kita kan terus nganga. Mulut pun berasa penuh air liur, tapi ada alat penyedot cairan yang dipegang oleh pak mantri selama proses odontectomy.

Ruangan bedah mulut itu terasa dingin banget sampai saya kedinginan. Untung saya pakai kaos kaki dan sepatu, lalu saat saya mau lepas di awal, pak mantri bilang nggak usah karena ruangannya dingin. Pilihan yang tepat kalo gitu pas pakai jaket dan sepatu. Setelah semua bagian gigi bungsu saya terangkat, gusi saya akhirnya dijahit. Rasanya kok gusi sakit banget ketarik-tarik benang jahitan sampai rapat. Sekitar 2 atau 3 jahitan dengan simpul penutup setelah itu diberi kapas untuk digigit. Dan diberi ekstra kapas steril untuk ganti setelah 1 jam. Perawat berpesan untuk tidak makan dan minum yang panas, tidak berkumur-kumur, dan tidak menghisap-hisap dulu pasca cabut gigi.

Kira-kira proses operasi cabut gigi itu 30 menit aja. Saya pun diberi resep obat penghilang rasa sakit dan antibiotik. Terus besok disuruh kontrol lagi. Resepnya langsung saya kasi suami biar ditebus ke apotek dan saya langsung buka website Sanglah untuk ambil antrean online buat kontrol besok. Selesai operasi saya sempatkan minum susu UHT biar nggak lemes, dan karena udah jam makan siang, kami pulang sambil mampir untuk makan gado-gado di depan RS Sanglah. Setelah makan langsung saya minum pain killernya biar nggak kesakitan pas obat bius udah berkurang.

Saya putuskan untuk nginep di Dalung saja supaya nggak terlalu capek menempuh jarak jauh Denpasar-Tabanan bolak-balik apalagi besok masih perlu kontrol. Keesokan harinya saya kontrol ke Sanglah diantar oleh Ratih, dan proses periksa pasca-odontectomynya cukup cepat, dilihat dan cuma dibersihkan dengan cairan steril gusinya. Saya nggak ada keluhan berarti sih, selain pipi bengkak dan rasa sakit nyut-nyutan di bekas cabut gigi. Makan emang jadi susah tapi saya tetap nafsu makan, dong hehehe… Pipi saya yang bengkak banget kata pak mantrinya masih normal, ntar bisa kembali sekitar 3-4 hari. Tapi sebenernya yang saya alami, kempesnya setelah 1 minggu, bo!

Minggu depannya saya dijadwalkan untuk lepas benang jahitan, maka saya pun datang lagi 8 hari setelah odontectomy pada tanggal 15 Juli 2017. Setelah benang jahitan dilepas, gusi jadi terbuka gitu dan saya harus sering-sering kumur sampai gusinya menutup sempurna. Lalu karena masih ada satu lagi gigi bungsu sebelah kanan yang belum dicabut, saya tanyakan kapan jadwalnya. Maka pak mantri memberi tahu jadwal yang tersedia di bulan depan dan kami sepakat pada tanggal 13 Juli.

Nah, sambil nunggu operasi cabut gigi kedua, juga memberi kesempatan gusi pasca-odontectomy pertama pulih. Suami saya juga gigi bungsu bawahnya impaksi semua maka saya sarankan untuk ngurus surat rujukan ke Sanglah supaya tanggal 13 Juli kami bisa berangkat bareng ngurus gigi bungsu masing-masing. Soalnya kan RS Sanglah jauh banget dari rumah biar sekali jalan aja.

Tanggal 11 Juli 2017 saya udah siap-siap ambil antran online untuk cabut gigi di poli gigi Sanglah. Sedangkan untuk suami, saya tidak bisa ambilkan no. antrean online karena sebagai pasien baru Sanglah perlu melalui registrasi manual dulu di loket. Saat 13 Juli 2017 di RS Sanglah, suami saya periksa gigi dan lalu foto rontgent panoramik, sedangkan saya menjalani odontectomy. Kami berdua terpisah dengan urusan masing-masing sehingga saat saya sedang proses operasi cabut gigi, suami saya sedang di lab. radiologi. Kami pun sama-sama selesai pas menjelang siang.

Karena besoknya saya harus kontrol lagi, pak mantri pun memberi tahu untuk lewat perjanjian. Jadi serahkan saja surat kontrol, fotokopi kartu BPJS dan fotokopi kartu sanglah ke loket khusus perjanjian sehingga besoknya kita bisa langsung ke poli gigi. Ini berlaku khusus untuk berobat atau kontrol besoknya dengan menyerahkan berkas sehari sebelumnya. Sehingga kita tidak perlu antre untuk menyerahkan berkas di loket pendaftaran lagi.

IMG_20170713_111934

Proses menyerahkan berkas di loket khusus perjanjian

Saat cabut gigi bungsu kedua saya nginep lagi di Dalung, tapi besoknya saya pergi kontrol sendiri. Saat kontrol saya tanyakan ke pak mantri boleh tidak kalau benang jahitannya dilepas lebih dari seminggu? Seperti dua minggu? Beliau mengatakan boleh, maka saya diberi surat kontrol untuk bulan Juli 2017 tetapi tanpa tanggal.

Saya pun datang lagi ke poli gigi sanglah setelah 15 hari setelah odontectomy. Kebetulan saat itu juga adalah hari pasca-odontectomy suami. Tanggal 27 Juli 2017 suami saya pergi ke Sanglah sendiri untuk odontectomy, lalu tanggal 28 harus balik buat kontrol lagi. Pas jadwal kontrol, saya ikut buat lepas benang jahitan, jadi kami bisa sekalian berangkat bareng. Karena sama-sama kontrol jadi nggak terlalu nunggu lama di poli gigi.

Gigi bungsu saya dan suami berbeda cara dicabutnya. Suami saya giginya besar dan utuh saat dicabut sedangkan gigi saya yang lebih kecil ukurannya dipatahkan menjadi beberapa bagian untuk diangkat. Nggak tau juga kenapa, apa mungkin karena gigi bungsu suami saya udah nongol maksimal sedangkan gigi saya nggak sepenuhnya kelihatan. Tapi pasca-odontectomy sama-sama gusi terbuka seperti ceruk dan itu akan menutup sempurna kira-kira 2 bulan kemudian. Selama gusi masih terbuka kudu rajin berkumur tuh setelah makan.

Yang atas gigi suami, yang bawah gigi saya

Tanggal 20 Oktober 2017 saya ke Puskesmas Suraberata lagi untuk cabut gigi bungsu terakhir: sebelah kanan atas. Saat itu gigi bungsu saya agak ngilu sih, untung bisa dicabut biasa meski tumbuh agak miring ke arah pipi. Ternyata giginya juga udah berlubang dan hitam banget gitu gara-gara sering nyelip sisa makanan dan sikat gigi agak susah menjangkau area gigi bungsu itu. Setelah gigi bungsu terakhir saya itu dicabut juga ketahuan bahwa gigi geraham depannya ikut lubang gara-gara ketularan ketempelan makanan dan susah dibersihkan. Syukur deh, udah ditambal dan nggak nyeri lagi.

Sekarang saya udah bebas dari gigi bungsu yang tumbuh miring. Gusi bekas cabut gigi bungsu bagian atas sudah menutup secara sempurna dan rata, tapi gusi bekas gigi bungsu bagian bawah meski sudah menutup tetap terasa berbentuk cekung. Mungkin karena beda banget arah tumbuh gigi bungsu yang atas dan bawah dan teknik pencabutannya.

Cabut gigi bungsu secara odontectomy atau cabut biasa dengan BPJS sama sekali nggak bayar, yang perlu dibayar ya iuran BPJS-nya setiap bulan. Syukur nggak ada efek samping dan keluhan yang berarti setelah operasi cabut gigi bungsu, hanya pipi bengkak dan susah makan saja secara sementara. Bye bye my wisdom teeth! Now I don’t need to bear the pain from you and I’m really grateful for that.

 

Intan Rastini.

 

20170524_102757

Ada vending machine di dekat apotek, jadi sambil nunggu obat bisa lihat-lihat, nih..

 

20170524_091444

Dinding informatif di RSUP Snaglah, berisi pesan-pesan kesehatan

Advertisements

I Have No Wisdom Teeth Anymore I

Gigi bungsu atau wisdom teeth saya bagian bawah kiri dan kanan tumbuh miring semua secara horizontal, istilahnya sih, impaksi. Karena tumbuhnya tidur, yang muncul pun hanya sebagian permukaannya aja, arah tumbuh akarnya tidak wajar sih. Komplikasinya bikin tekanan ke gigi geraham depannya yang ditabrak, dan menimbulkan celah tempat sisa-sisa makanan bisa diam dengan nyaman. Akhirnya gigi bungsu saya berlubang semua.

Desember tahun lalu saat saya liburan ke Surabaya, gigi geraham kiri atas dan bawah saya sakit semua. Setelah periksa ke klinik dokter gigi, ternyata gigi bungsu atas dan bawah saya berlubang. Gigi bungsu atas tumbuhnya udah keluar semua dan cuma miring sedikit ke arah pipi sehingga bisa dicabut biasa oleh dokter gigi. Tapi gigi bungsu bawah saya tumbuhnya tidur dan nggak bisa dicabut biasa, sehingga disarankan odontectomy. Dokternya cuma bantu bersihkan dan beri obat ke bagian yang sakit saat itu.

Saat itu saya bayar biaya penanganan cabut gigi biasa dan diberi obat di klinik sebeasar Rp260.000. Lalu saya tanya berapa biaya untuk cabut gigi bungsu? Karena perlu operasi kecil, biayanya bisa jutaan. Dokter bilang foto rontgent panoramik saja dulu di lab. Operasinya bisa di Rumah Sakit FKG Unair dengan bawa hasil foto rontgent gigi. Biaya operasi cabut gigi disana sekitar Rp500.000-an dan untuk foto rontgent panoramik gigi sekitar Rp150.000. Waduh, saya kan nggak berdomisili di Surabaya lagi. Si dokter nanya juga apa saya nggak punya asuransi kesehatan? Hmmm..

Akhirnya pulang liburan dari Surabaya saya langsung deh, urus kepesertaan BPJS kesehatan di kantor cabang Tabanan. Gigi bungsu yang tumbuh miring atau impaksi itu perlu dicabut supaya tidak menimbulkan rasa nyeri, pusing dan tegang di leher karena tumbuhnya yang nyempil nggak kebagian tempat bikin dorongan ke segala arah. Apalagi kalau badan kita lagi capek kan tambah berasa sakitnya. Lebih parah jika sudah berlubang, karena nggak bisa ditambal seperti gigi yang tumbuh normal. Satu-satunya jalan harus dicabut dengan teknik odontectomy.

Maka pergilah saya ke fasilitas kesehatan pertama yang saya pilih dalam kepesertaan BPJS saya, yaitu puskesmas Suraberata pada tanggal 29 April 2017. Dokter gigi pun memberi surat rujukan untuk periksa ke poli gigi di Badan Rumah sakit Umum Tabanan. Surat rujukan ini berlaku selama 1 bulan, karena saya ke puskesmas pas akhir bulan, maka bu perawat berbaik hati menuliskan surat rujukannya dibuat pada tanggal 1 Mei 2017.

Tanggal 3 Mei 2017 saya ke BRSU Tabanan. Ternyata disana nggak ada alat rontgent gigi dan tidak ada ruang bedah mulut. Sehingga dokter gigi pun memberikan saya surat rujukan ke Rumas Sakit Umum Pusat Sanglah di Denpasar. Surat rujukan dokter gigi tersebut perlu dilegalisir dan dilengkapi Surat Elegibilitas Peserta (SEP) dari BPJS Center yang ada di RS dengan masa berlaku selama sebulan.

IMG_20170713_103733

RSUP Sanglah

Tanggal 24 Mei 2017 saya pergi ke RSUP Sanglah, sebagai pasien baru yang belum pernah berobat di RSUP Sanglah saya perlu mengisi form registrasi dan mendapat kartu Sanglah. Ternyata antrean pasien di sana lebih banyak dari pada di BRSU Tabanan, untung sebagai pasien baru loketnya masih tersendiri. Lagipula nanti kita bisa menggunakan kemudahan antrean online atau dengan perjanjian jika ingin berobat ke Sanglah tanpa antre ambil nomor ke loket.

20170524_075845

Mengisi formulir sebagai pasien baru di RSUP Sanglah

Di poli gigi Sanglah saya nggak terlalu lama nunggu untuk dipanggil. Tensi darah saya dicek dan dimintai data diri oleh perawat, saat dokter giginya datang, gigi saya diperiksa dan dinyatakan 38i dan 48i. Maksudnya gigi bungsu kiri bawah dan kanan bawah saya impaksi semua. Selanjutnya saya diminta untuk foto rontgent panoramik gigi dulu di lab. radiologi. Setelah hasil rontgent panoramik selesai, saya bawa hasil fotonya ke poli gigi dan setelah melihat hasil foto, dokter menyarankan untuk operasi cabut gigi.

20170524_084252

Udah kayak iklan Pepsodent belum?

Selanjutnya akan dicarikan jadwal operasi cabut gigi yang tersedia oleh perawat. Saya pilih tanggal 7 Juni 2017. Setelah pilih tanggal, perawat akan memberikan surat datang kembali pada jadwal operasi. Saya juga diberi resep untuk menangani sementara rasa sakit dari gigi bungsu yang berlubang. Perawat sempat mengingatkan supaya di malam sebelum hari operasi tidak boleh begadang, pagi harinya pun harus sarapan supaya tidak lemas.

20170524_092829

Menyerahkan berkas untuk foto panoramik gigi di loket radiologi

IMG_20170713_095513

antre di lorong area radiologi. Di sini terdapat banyak ruang diagnosa radiologi

Dua hari sebelum tanggal 7 Juni 2017 saya sudah ambil no. antrean online di website Sanglah. Sehingga pas datang ke sanglah tinggal tunggu nomor antrean online dipanggil di loket pendaftaran dan itu nggak terlalu lama dibanding ambil no. antrean manual di loket. Saya dapat nomor antrean selalu dibawah nomor 100. Kalo ambil manual udah diatas itu. Maka pada tanggal jadwal operasi saya berangkat ke Sanglah dengan membawa surat rujukan dan hasil foto rontgent. Saat di poli gigi lah malah saya harus nunggu lama, saya udah sampai di poli gigi sekitar jam 8 pagi, eh operasinya baru bisa dimulai jam 11-an.

 

Bersambung ke Bagian ke-2 ya….