My Tonsillectomy Journal at The Hospital

This journal is a hybrid journal in English and Indonesian. At first before my surgery I kept a personal journal for my own in English and then after the surgery I couldn’t speak, so I told my husband about my surgery memory by texting to him in Indonesian. Then I adapted the text messages for my husband into this journal.

Friday, February 23rd 2018 My first visit to Otolaryngologist at Tabanan General Hospital.
I have a chronic tonsillitis. From December 2017 until February 2018 I’ve already got 4 times sore throat. The sore throats were either with common cold and cough or just sore throat. So I told this to the doctor, then he asked if I wanted my tonsils to be removed. I said yes. So he prepared all the pre-operation procedure. I got my blood checked at the laboratory and then I went to the radiology to have a thorax roentgen. All the tests were to make sure that I am fit for the operation. When the results came back, the Otolaryngologist scheduled me to have a tonsillectomy on March 1st 2018. After I got the surgery schedule I reserved a room for February 28th at the admission office.

Wednesday, February 28th 2018 First Day at the Hospital
Oh my God I can’t sleep. I keep hearing the moan of the grandma next to me. She had an accident while sitting on a chair and then she fell down and hurt her nerve on the neck. It was almost made her hand and leg become paralyzed.

10.50 am arrived at KFC to find Chicken Chizza but found none. Instead I ordered Twisty as take away. I had already wanted cheese glazed / sauced fried chicken by KFC since last year or two years ago. I was also going to order Garlique Fun Fries but I remember I wasn’t supposed to eat deep fried seasoned things regarding to keep my throat healthy before tonsillectomy.

 

11.20 am arrived at the hospital. Registered and went to the ear-nose-throat doctor. Check my room at the admission. My husband filled the admission form. We would be informed when my room was ready.

12.00 noon had lunch with my husband. I picked a pack of mixed chopped fruits, a cup of mung bean soup, and tipat cantok because I knew I wouldn’t be able to eat all of this solid food after the surgery. I realized I became greedy.

Later on I received a phone call from the nurse that she would take me to my room after lunch. Before going to my room, the nurse put on a pink band on my right wrist.

20180228_133538.jpg

1 pm arrived at my room. Unpacked the bags and goods. Sat on bed. Talked to a man who was waiting for his brother-in-law just after having tonsillectomy. And also talked to another man who was waiting for his mother with nerve injury.

 

Two nurses came and checked my blood pressure. A nurse asked my to lay down on the bed. I lied down awkwardly and still finding my comfort on a hospital bed. Gotta be used to it.

20180228_171329.jpg

5 PM My first hospital menu for dinner, I think gonna be the first and the last solid food from the hospital

9.30 pm a nurse came to inject an infusion needle to my vein. I was going to sleep and felt sleepy. She told me not to pull my hand when she injected the needle. She attached it to my right hand. It hurt. Then she explained that I shall start fasting at 12 midnight until the surgery was held. Tomorrow morning I shall wash and brush my teeth at 6 am. I said yes to her. While I was writing down this.. there was a butterfly on my stomach that made me nervous and tickled imagining about tomorrow surgery with general anesthesia. I would be totally unconscious. Oh my!

Lying down on the bed and tuck myself into hospital baby blue fleece blanket. I saw my pink band on the right wrist. It was written my name, my age, medical record number and the doctor who took care of me. I suddenly realized that I am getting close to my thirty. I am now 27 years old and just had a birthday this month.

20180301_003541-1.jpg

Oh I have spending my seven years living with my man. My only partner next to me, who always keeps me safe and comfortable. He finds his way to take care of me. Now he is sleeping on a mattress on the floor next to my bed.

I am quite nervous since it is gonna be my first surgery. And in this room I share with another 5 patients. One of them keeps moaning that she suffers terrible paint. I feel pity for her. God gives her the best.

20180228_213954.jpg

Yeah time passes – back to my reminiscence, I am going to be thirty and thriving. I hope so. Thirty, thriving and tonsilless. But also much healthier and stronger, and then I feel asleep.

 

Kamis, 1 Maret 2018 Hari Kedua di Rumah Sakit (D-Day)

20180301_063637.jpg

06.36 am pre-operation tonsillectomy. Selang infus awalnya dipasang di tangan kiri.

Saya mulai kedinginan masuk ruang bedah sentral tapi belum ke ruang utama untuk proses operasi, masih di ruang transisi untuk pasien menunggu. Di ruamg transisi atau ruang pasien yang akan dioperasi menunggu, saya ditanyai oleh mbak asisten bermasker dan berkacamata tentang nama, penyakitnya apa lalu apa ada riwayat sesak napas, hipertensi, diabetes. Lalu saya disuntikkan antibiotik, sambil botol infusnya dibalik sebentar. Lalu saya dibiarkan menunggu di atas brankar khusus mau operasi, warnanya ijo – ada alasnya empuk, kompakan warna ijo daun semua.

20180301_092255.jpg

Ruang bedah sentral BRSU Tabanan, suami saya diminta menunggu di luar sambil bawa selimut saya yang krem dan tebal

Saya sempat nanya jam berapa ini ke asistennya, dijawab jam 9.20. Saya lihat ada anak remaja laki-laki lagi duduk menunggu lengkap dengan pakaian pasien operasi dan topi operasi juga. Lalu di seberang kiri, datang seorang wanita yang juga tiduran di atas brankar khusus operasi dan kakinya yang kanan patah. Karena saya awalnya tiduran, lalu saya pun bangun dan duduk di atas brankar. Ada seorang petugas kesehatan laki-laki nanya ke saya, ”kenapa bu?”

Saya jawab bahwa saya kedinginan dan bertanya apa boleh minta selimut. Bapak itu pun menjawab ”boleh.” Beliau langsung mengambilkan selimut dan menyongsong saya, ”ibu tiduran saja” lalu selimut fleece baby blue ruang bedah disampirkan ke badan menutupi kaki saya. Karena rasanya ukurannya kurang panjang, saya putar-putar selimut itu sampai panjangnya pas menutup dada hingga kaki, tapi kok rasanya tetap kurang panjang ya!?

Akhirnya saya didorong ke ruang operasi utama. Dokter laki-laki yang menarik brankar saya bertanya dari mana asal saya, saya bilang dari Sekartaji tapi lahir di Surabaya. Beliau tahu baik Sekartaji maupun Surabaya. Saya katakan saya lahir di Surabaya karena orang tua saya dinas disana.
”di Surabaya mana?” tanyanya. saya jawab di Waru.
”di mananya jalan tol Waru?”
” ya itu di bawahnya.”
”kalau saya di Karang Menjangan dulu.”

Di ruang operasi utama, saya melihat ruangan itu seperti teater dengan satu meja futuristik, yang tidak lain adalah meja operasi. Saya harus berpindah dari brankar ke atas meja operasi. Disitu baru diiingiiiin banget kayak di chiller! Pasti biar bakteri susah tumbuh disana. Celakanya selimut saya ditarik sehingga mulai deh efek kedinginan bekerja, di tenggorokan mulai ada lendir dan hidung berair, saya pun menarik dahak yang muncul sampai dokter anastesinya kaget mendengarnya! Haha.

Saya udah bolak-balik bilang ke dokternya, “dingin ya, dok.”
“Nggak apa-apa dingin sedikit.” kata dokter anastesi yang perempuan.

Saya jadi menggigil tambah keras sambil diajak ngomong sama dokter anastesinya tentang pekerjaan saya, sudah bekeluarga, anak ada berapa. Saat mereka tau saya ngajar Bahasa Inggris di yayasan, dokter anastesinya yang perempuan bilang ”ayuk kita berbahasa Inggris, yuk…”

Sembari asisten bedah mempersiapkan sesuatu dan berkata kepada dokter anastesi laki-laki, si dokter pun menyahut ”so much”. Ngga tau untuk menjawab apa, kurang tau pasti.

Di tengah peecakapan mereka sambil mereka bergerak terus mempersiapkan segala sesuatunya, saya disuntik sesuatu di keran selang infusnya. Trus saya mau nanya ”how long the surgery will take time?” tapi ga jadi, nanya dalam Bahasa Indonesia aja, ”berapa lama operasinya, dok?”

Dijawab oleh dokter yang perempuan, ”satu jam.”

Lalu disahuti sama dokter yang laki-laki, ”tapi kalau orang dewasa lebih lama, soalnya kan lebih rumit, banyak pembuluh darahnya.”

Saya jawab ”oh, gitu ya dok.”

Lalu dokter anastesi yang perempuan memberi tahu saya,”nanti setelah operasi rasanya seperti sakit tenggorokan, ya.”

Saya pun mengiyakan. Tanda bahwa saya menerima informasi tersebut.

Lalu sang dokter menyiapkan balon yang mengembung dan ada masker, dokter yang cewek pun nyeletuk, ”lho kok gembung gitu.”
Saya noleh kayaknya itu berisi gas anastesi. Abis itu saya nggak inget apa-apa lagi. Bener-bener deh, dokter anastesinya itu nggak pakai aba-aba atau peringatan saat membius saya, lho!

Proses operasi berjalan tanpa saya ketahui dan nggak ada ingatan sedikit pun mengenai prosesnya. Seperti ada ingatan yang hilang saja.

Pukul 11 siang Pak dokter THT yang agak mirip Fariz RM versi lebih muda dengan rambutnya yang khas beruban pun keluar dan bilang kepada papa, ”operasinya sudah selesai, pak.”

Sedangkan saya, tau-tau sudah bangun di ruangan yang berbeda, ada tulisannya di pintu kaca: PACU atau POCU, saya baca secara terbalik dari balik kaca pintu sebelah dalam, pokoknya untuk post operation care unit. Saya terbangun kedingininan dan ternyata udah diselimuti lagi dengan selimut fleece baby blue ruang bedah yang rasanya lebih kasar dan lebih pendek, nggak selembut selimut fleece baby blue dari Ruang Cempaka. Ada mbak-mbak asisten berkacamata yang bilang, ”buka matanya, sudah selesai operasi.”

Saya merasa sedang bermimpi masih ada hubungannya dengan bercakap-cakap dengan dokter bedah dan dokter anastesi. Tapi saat saya terbangun saya tidak bisa ingat betul barusan itu mimpi tentang apa sebenarnya.

Saya lihat jam di dinding yang menunjukkan pukul 11.50. Saya dibiarkan di ruangan itu menggigil bersama dua pasien lainnya yg habis operasi juga, tapi mereka semua tidak menggigil, yang saya tau, salah satu pasien baru selesai operasi sesar. Dan saya sempat lihat bayinya digendong suster di ruang transisi operasi sebelum saya dioperasi.

Selebihnya saya menunggu lagi di PACU sambil memutar-mutar selimut itu lagi karena tidak seluruhnya menutupi kaki saya, saat memutar selimut, saya mendapati satu sachet plastik berisi sejumput-dua jumput gumpalan daging, aah ini pasti tonsil saya. Lalu hasil rontgent dan catatan medis yang ditaruh dikaki saya jadi bergeser sampai hasil rontgentnya jatuh akibat saya gerak-gerak berusaha memanjangkan selimut sampai menutupi kaki. Mbak asisten pun akhirnya bilang, ”diem bu, kakinya jangan gerak-gerak.”

Duh, dari tadi saya rewel masalah dingin aja karena bikin badan terguncang-guncang menggigil, sehingga saya nggak inget pasti rasanya tenggorokan saya pasca operasi. Yang saya ingat saat mau dipindahkan dari ruang bedah, saya merasakan ada lendir di sekitar tenggorokan saya sehingga secara refleks saya ingin batuk dan mengeluarkannya. Sontak perawat yang menjemput saya mendengar itu, dan ia berusaha menghentikan saya untuk menarik dahak di tenggorokan. Salah satu perawat pun mengkhawatirkan kondisi saya karena saya terlihat pucat. Kemungkinan besar karena saya kedinginan sepanjang waktu.

20180301_131158.jpg

post-operation tonsillectomy

Untung saya juga bawa selimut sendiri yang tebel. Perawat pun menutupi tubuh saya dengan selimut dari rumah sakit yang biru lalu ditumpuk lagi dengan selimut tebal saya yang krem karena mengetahui saya menggigil kedinginan.

Sakitnya tenggorokan lama-lama terasa saat saya dipindahkan kembali ke Ruang Cempaka. Di kamar perawatan, saya mengantuk. Saat tertidur, sedikit-sedikit terbangun karena susah napas dari hidung. Menarik napas dari hidung bisa, tapi saat mengeluarkan udara melalui hidung nggak bisa! Tertutup lendir-lendir sesuatu yang bergumul di tenggorokan menutupi lubang antara mulut dan hidung. Tenggorokan rasanya tercekat, nelan ludah rasanya susah karena seperti tercekik, ngga ada ruang untuk ludah masuk tertelan.

 

Setelah operasi saya mendapat susu dingin, satu-satu asupan yang masuk lewat mulut di hari operasi. Suami pun juga membelikan 1 kotak susu UHT. Semuanya saya habiskan. Untung pasca operasi saya tidak mengalamin mual maupun muntah sama sekali, cuma lemes aja karena puasa seharian, lalu kedinginan dan melalui proses bedah yang melukai jaringan tenggorokan. Oh ya segera setelah operasi memang diperbolehkan suster makan es krim yang hanya rasa vanila, tapi saya nggak mau. Mau yang cair aja udah cukup.

Jumat, 2 Maret 2018 Hari Ketiga (terakhir) di Rumah Sakit

20180302_062611.jpg

6.26 AM Menu makanan pertama setelah tonsilektomi: bubur sumsum + gula merah, telur rebus dan susu dingin. I could eat them all in a very long time

Dokter sp.THT visit pukul 9.45.
“Pagi…….!” sapa dr. I Nyoman Kertanadi begitu masuk ke ruangan Cempaka no. 7. Kebetulan bilik ranjang saya tepat menghadap ke pintu dan tirai sudah disibakkan sehingga sang dokter bisa melihat langsung ke arah saya.

Saya dengan parau dan pelan menjawab juga, “pagi.”

Suami saya pun menyusul dan membalas pula sapaan hangat dokter tersebut. Ternyata suami saya sudah melaporkan bahwa saya masih merasa sakit di tenggorokan sehingga sang dokter kedapatan tengah menjawab, “ya, iya masih sakit kan ini masih baru.”
“Gimana? Sudah diminum susunya?” Tanya sang dokter dengan ramah kepada saya.

Tapi ternyata suami saya membantu saya untuk menjawab, “belum. Baru sedikit aja yang diminum.”

 

Selanjunya dr. Nyoman Kertanadi menjelaskan bahwa saya sebaiknya makan-makanan yang bersuhu normal. Tidak yang dingin dan juga panas atau hangat. Makan es krim pun sudah tidak perlu karena sebaiknya makan es krim itu di hari tepat setelah operasi saja. Lalu boleh makan yang lembut seperti bubur, roti dicelup ke susu, biskuit Regal dicampur susu, bahkan bikin bubur Sun alias bubur bayi. Saya sempat tersenyum geli karena mendengar bubur Sun disebut. Bener-bener jadi bayi. Great. Ntar akhirnya di rumah saya kena batunya karena terpaksa harus konsumsi bubur Sun beneran karena susah nelan bubur nasi!

Lalu sebelum sang dokter pergi saya sempat menanyakan apa itu adenoid. Tapi karena suara saya nggak jelas yang keluar, beliau pun menelengkan sedikit kepalanya kepada saya sambil mengkonfirmasi ulang perkataan saya. Saya ucapkan lagi kepada dokter, “apa itu adenoid?”
“Oh, adenoidnya nggak diambil.”
“Bukan. Saya cuma tanya apa itu adenoid?”

…. Saya nggak bisa ingat dengan pasti penjelasan dokter tentang adenoid, yang saya ingat (dibantu oleh ingatan suami) bahwa bayi dan anak-anak sampai usia 14 tahun yang punya adenoid, setelah dewasa tidak ada lagi adenoidnya.

Lalu saya bertanya lagi, “memang amandel bikin ngantuk ya, dok?”
Dokter pun menjelaskan bahwa benar bisa menyebabkan mudah ngantuk karena amandel menghalangi asupan oksigen ke otak.

20180302_111443.jpg

11 AM menu makan siang: bubur saring, ayam, tahu, telur rebus dan pisang. They tasted great! I just have difficulty to swallow them

Akhirnya saya diperbolehkan pulang hari itu setelah makan siang. Dengan catatan kontrol lagi hari Selasa, 6 Maret 2018. Suami pun mengurus administrasi kepulangan saya, dan total biaya operasi amandel adalah 3 jutaan. Tapi saya tidak bayar karena semua ditanggung oleh BPJS Kesehatan.

20180302_112754.jpg

Sebelum pulang, Paknik, Bunik, Mbok Komang Sri dan Mbok kadek Indra datang menjenguk saya, sambil membawakan roti tawar Sari Roti yang Double Soft, Roti isi mentega dan 2 botol air mineral. Lalu disusul oleh Makciek, Iqbal dan Budhe. Makciek membantu membawakan 1 tas travel saya ke Angkah dengan motornya.

Yeah I was discharged from the hospital, finally. At home without any pain killer shots directly to my vein, the pain on my throat becomes greater! I have to swallow a very very bitter medicine (antibiotic and pain killer in powder), it is not a problem on my tongue but it is an extreme bitter and burn on my throat wounded tissue. GOSH!!! It was way better to stay at the hospital, where I got the pain killer injected through the infusion hose and had an intravenous feeding.

To be continued to mypost-hospital stay journal.

Thank you for all the nurses and doctors who had taken care of me at the Tabanan General Hospital, Bali.

Intan Rastini.

Advertisements