Mimpi Buruk Matematika

Suatu malam aku bermimpi kembali ke bangku SMA… masa-masa yang menyenangkan karena aku punya banyak teman dekat dan teman-teman laki-laki di kelasku lucu-lucu.

Aku bermimpi sedang dalam pelajaran matematika. Seingatku nuansanya adalah masa SMA tapi guru yang sedang mengajar adalah guru matematika sewaktu SMP, Bu Arif namanya. Saat itu sedang ada persoalan dua segitiga yang berdampingan dan murid-murid diminta mencari besar masing-masing sisinya.

Temanku Nasa, yang anehnya di kenyataan tidak pernah sekelas denganku, mengerjakannya dan menggunakan bahasa Jepang di papan tulis! Ya bahasa Jepang sempat diajarkan di SMA dan Nasa itu jagonya berbahasa Jepang. Nofi juga maju ke depan untuk mengerjakan dengan cara mengkotakkan 2 segitiga yang berdampingan itu.

Aku jelas tidak mengerti, meskipun ini mimpiku.. tapi di alam bawah sadarku aku tetap lemah terhadap matematika (juga sudah lupa huruf Hiragana dan katakana waktu melihat jawabannya Nasa). Dalam mimpiku aku bertanya pada Nofi untuk menjelaskan cara penyelesaiannya. Dia bilang, “ini kan mudah, guys!”

Buset…. aku heran deh… selama sekolah di SMP dan SMA aku selalu bersahabat (kami duduk sebangku) dengan orang yang jago matematika. Nofi sahabatku sejak SMP jago matematika begitu pula dengan Rohmah sahabatku semasa di SMA. Sedangkan aku dibanding mereka tidak punya kecakapan mengelola logika.

Pernah suatu kali di SMA aku menguasai sekali suatu bidang di mata pelajaran matematika SMA… dan itu hanya di statistika. Hahaha… karena nilai tes statistikaku sempurna. mungkin aku memang tertarik dengan detil, teliti dan telaten. Kalau lagi baca buku sering menyoroti kesalahan tulis atau salah cetak lalu membuka halaman penyunting.. Siapa sih editor buku ini?!

Kembali ke mimpiku… aku telah berusaha keras menelaah cara menyelesaikan soal matematika itu sampai pada akhirnya aku bertanya ke Nofi. Saat Nofi sedang menjelaskan metode penyelesaiannya, aku malah membuka majalah yang ia bawa dan menemukan artikel “Brahma dan Para Roh”. Aku jadi lebih ingin membaca itu daripada mendengarkan penjelasannya…

Lalu ada soal berikutnya di papan tulis. Berbentuk segitiga lagi tapi ada simbol pesawat terbang di atas salah satu sudut atas segitiga tersebut. Yang maju mengerjakan kali ini adalah anak laki-laki berbaju tentara. Seketika yang duduk di bangku kelas ini adalah teman-temanku dari berbagai profesi dan yang akan mewujudkan cita-citanya.

Aku yang kurang yakin dalam mimpiku bertanya kepada salah seorang teman perempuan di sebelahku, “itu Okvan*, kan?”
Temanku itu mengiyakan sambil memperlihatkan ekspresi kesengsem sama Okvan. Lalu aku berpikir untuk apa angkatan darat belajar matematika pesawat terbang? Percuma.

Kalau ada persoalan yang susah, aku selalu teringat lagu Adele…”should I give up or should I just keep on chasing pavements…? Even if it leads nowhere…”

*Okvan teman SMPku dulu. Kalau tidak salah, di dunia nyata dia menjadi anggota militer

Intan Rastini

Two days ago dream…

I dreamed about having a baby girl. So in my dream, I gave labor to a baby girl in the time Kalki was as old as an 4 months baby. I was happy because our second baby’s gender was female, and so was my husband.

That dream was just like that. Do I really want a second child? I don’t know… In my principal 2 kids are enough (just like the government’s program for this country) 🙂 while my husband said that he was okay whether we would have only one child or more. He’s flexible and he will always thank God for the opportunity to have kid or kids.