Ekowisata Mangrove Wonorejo Surabaya

Tempat kedua di Surabaya yang kami kunjungi setelah RPTRA Taman Prestasi Ketabang Kali adalah hutan mangrove di Wonorejo, Rungkut. Ini termasuk kawasan konservasi dan ekowisata. Sebenarnya Surabaya itu panas banget ya, apalagi kalau berkunjung ke ruang terbuka di waktu siang hari seperti kami. Tapi untung di Ekowisata Mangrove Surabaya ini pohon bakaunya udah besar-besar jadi lumayan teduh.

Akses ke hutan bakau di Rungkut ini agak susah karena tidak terletak di pinggir jalan utama, kami harus masuk-masuk sampai ke pemukiman warga hingga ke kompleks perumahan baru. Tempat parkirnya cukup luas, kok. Ada untuk sepeda motor dan ada untuk mobil. Saat itu kami naik mobil dan tarif parkirnya Rp 5.000.

Pertama kali menginjakkan kaki di sana, saya melihat ada gedung kantor dan ada hall terbuka. Selanjutnya akan ada jalan jembatan kayu yang dibangun sepanjang area hutan bakau. Untuk masuk ke kawasan konservasi hutan bakau ini gratis. Di sepanjang jembatan kayu kami bisa melihat ada nama-nama tanaman jenis bakau. Juga ada spot khusus foto dan disediakan fotografer tapi sayang saat itu sedang tutup.

img_20180622_1409091494860974.jpg

Selama menyusuri hutan bakau, kami bisa melihat ada pedagang es, pedagang pentol keliling. Kalki sempat beli es krim, untuk harga es krim yang seharusnya Rp 3.000 dijual seharga Rp 6.000. Tidak lupa juga kami beli pentol hehehe…. Beli pentolnya cukup Rp 5.000 aja itu udah pakai bumbu kacang.

Di sana nggak melulu jalanan jembatan kayu, ada juga jalan aspal dan berpavink. Di jalan aspal kami mendapati bangkai perahu yang masih bagus di pajang di atas tanah yang agak lebih tinggi. Sayangnya perahu tersebut berdebu dan kotor jadi saat Kavin dan Kalki mau main ke atas perahu, saya tidak kasih. Lalu ada musholla dan ada kantin. Di dekat kantin terdapat kandang ular dan kandang monyet. Nggak tau siapa yang punya, tapi kandang ular dan monyetnya diletakkan berdekatan gitu. Kasian, apa nggak stress ya monyetnya?

Setelah kantin, ada kantor dan juga sebagai loket naik perahu menyusuri hutan bakau melalui sungai hingga ke muara. Lalu kami terus berjalan hingga ke jogging track. Di kawasan jogging track inilah ada jalan jembatan kayu lagi, di sini hutan bakaunya lebih lebat dan lebih teduh. Bahkan kami buka perbekalan di atas jembatan kayu sambil sesekali berfoto-foto. Yeah, jogging track is my favorite place! saya sempat coba jogging kecil disana dan kayu jembatannya agak kurah stabil dan kokoh buat lari karena bergerak-gerak dan bunyi juga hihi…

img_20180622_1407351080180322.jpg

Setelah makan siang ala piknik di hutan mangrove, kami melanjutkan jalan kaki menyusuri jembatan kayu kawasan jogging track. Di setiap beberapa meter disediakan tempat sampah organik dan anorganik. Juga ada papan penjelasan untuk jenis-jenis tanaman bakau yang ada di sana. Kalki setiap melihat papan penjelasan minta dibacain oleh opanya hehehe… Cocok banget kan sebagai wisata edukasi.

 

Di tengah perjalanan menyusuri jogging track, kami melihat orang-orang lainnya heboh karena ada seekor monyet. Ternyata itu monyet yang terlepas, karena di lehernya ada kalung dan tempat rantai. Kami juga nggak tau ini monyet siapa. Tapi monyetnya cukup jinak dan tidak membahayakan. Jadi sepanjang kami menyusuri jogging track hingga berujung di sebuah dermaga kayu pinggir sungai, monyet ini masih mengikuti di sekitar kami.

img_20180622_1338401031433691.jpg

img_20180622_1338581073120114.jpg

Halo saya Kavin! dan saya tertarik dengan monyet, mungkin juga karena arti namanya saya bisa sebagai “raja monyet” makanya saya senang bertemu rakyat saya 😀

 

Setelah sampai ujung jogging track yang mana udah ketemu sungai, kami jalan balik lagi ke arah kantin. Di kantor loket perahu, mama saya membeli karcis buat naik perahu. Harga tiketnya Rp 25.000 per orang. Tapi untuk Kavin yang maish balita gratis. Tapi naik perahu motornya harus menunggu kloter. Sambil menunggu kami duduk-duduk di dermaga. Disana ada beberapa orang sedang asyik mancing. Dan seperti ruang terbuka sebelumnya yang kami kunjungi, disini juga terdapat beberapa ekor kucing! Kayaknya di Surabaya emang banyak kucingnya, ya.

 

 

Saat perahu datang menurunkan penumpang, kami penumpang baru pun naik. Perahu motor ini membawa sekitar 20 penumpang menyusuri sungai sampai ke muara. Selama perjalanan kami bisa melihat beberapa macam burung yang hinggap dan terbang di antara pohon bakau. Kebanyakan sih burung putih seperti bangau. Lalu sampailah kami di hutan bakau dekat muara. Kami diturunkan di dermaga dan diberi waktu 15 menit untuk jalan-jalan.

img_20180622_145013305876993.jpg

Hutan bakau di muara sudah mengarah ke pantai. Ada bagian hutan lebatnya dan ada bagian yang sudah terbuka karena semakin ke pesisir, disana masih sama jalurnya adalah jembatan. Tapi kali ini bukan jembatan kayu saja, tapi juga jembatan anyaman bambu di area pesisir. Kalki dan Kavin melihat banyak sekali hewan ikan berkaki di pesisir pantai dari atas jembatan bambu. Opa bilang itu salamander. Ikan Salamandernya mirip lele tapi kecil-kecil ukurannya dan berkaki, dengan lincah mereka merayap-rayap di permukaan becek dan berlumpur. Gemes deh lihatnya.

 

 

Di kawasan pesisir disediakan musholla, toilet dan gazebo besar untuk bersantai menikmati pemandangan. Setelah menikmati kawasan pesisir, kami kembali menuju dermaga melalui jalur jembatan ke hutan bakau yang lebat, di hutan bakau ini lah saya melihat banyak sampah di permukaan tanahnya. Mungkin karena ini adalah muara jadi segala sampah yang terbawa sungai hanyut dan nyangkut disini diantara tanaman-tanaman bakau di muara. Sayang banget, jadi kotor kawasan ekowisatannya.

 

Kami pun kembali lagi untuk pulang menuju dermaga pertama. Karena hari sudah sore, ini adalah kloter perjalanan dengan perahu yang terakhir. Kalau tidak salah wisata naik perahu tutup pukul 16:00. Saat kami kembali loket tiket perahu saja sudah tutup. Kami berjalan pulang menuju parkiran sebagian besar bersama para pengunjung yang lainnya yang merupakan teman naik perahu kami tadi.

Kalki seneng banget di ajak ke kawasan Ekowisata Mangrove Surabaya sampai-sampai kakak Kalki bilang gini, “Tempatnya bagus oma, terima kasih ya oma, udah ajak Kalki kesini.” Hihihi… Untuk jaga-jaga selama membawa anak ke tempat wisata hutan mangrove sebaiknya bawa lotion anti nyamuk. Karena lumayan banyak nyamuk juga saat di dalam hutan bakau yang rindang. Sekian dulu cerita wisata di Surabaya, lanjut lagi next post, ya….

 

Ekowisata Mangrove Surabaya
Alamat: Jalan Raya Wonorejo No. 1, Wonorejo, Rungkut, Wonorejo, Rungkut, Kota SBY, Jawa Timur 60296
Jam buka: 08.00 – 16.00
Telepon: (031) 8796880

❤️Intan Rastini

Advertisements

18 thoughts on “Ekowisata Mangrove Wonorejo Surabaya

    • Hai… Pakai yang nyaman aja… Meskipun adem, saya juga kegerahan karena jalan terus dan ngejar anak-anak. Yang penting jangan lupa losion anti nyamuk!
      Sama-sama

    • Hepi karena bisa jalan dan lari-larian. Mereka juga kadang ngisengin pengunjung lain yang lagi jalan melintasi mereka. Bagusnya bisa buat pembelajaran tentang kelestarian alam kepada anak-anak

  1. Pingback: Kebun Binatang Surabaya (KBS) | Intan Rastini

Thank you for reading my post, hope you enjoy it. Please... don't type an active link in the comment, because it will be marked as a spam automatically. I'd love to visit your blog if you fill the "website" form :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s