Kalki Mau Jadi Polisi

Pada suatu hari yang panas dan terik saya mengendarai motor bersama Kalki. Kami menempuh perjalanan pulang dari Tabanan ke rumah. Namun Kalki yang duduk dibonceng di depan mulai mengantuk karena sudah seharian pergi dan ini jam tidur siang.

Karena saya tidak membawa kain gendongan atau selendang untuk menjaga badan Kalki terikat ke badan saya, saya memutuskan untuk berhenti. Kami berhenti di pertigaan Megati tepat di depan warung jus yang memajang buah-buahan.

“Kak, bangun, kak… Ayo minum jus.” Ajak saya.

Kalki masih saja mengantuk hingga duduk di depan meja pun ia menyandarkan kepala di atas meja.

“Kakak mau jus buah naga?” Tanya saya.

“Nggak. Jus apel.” Jawab Kalki.

Akhirnya kami memesan dua jus yaitu jus apel dan buah naga.

Kami minum di pinggir jalan. Tau-tau di warung sebelah ada pak polisi yang menyapa Kalki.

Pak polisi menyapa Kalki, “mau kemana, dik?”

Kalki diam saja.

“Kok diam saja? Sudah sekolah belum?”

“…”

“Kalau sudah sekolah kok diam saja?”

Akhirnya Kalki menjawab setelah beberapa kali pertanyaan pak polisi hanya didiamkan saja.

Lama-kelamaan Kalki jadi akrab dengan pak polisi dan dia sudah mau ngobrol dengan ceria. Awalnya efek ngantuk juga yang membuat dia enggan menjawab.

Karena sedang batuk dan minum jus apel dingin, Kalki sempat beberapa kali diledek oleh pak polisi, “ye, sudah batuk minum es!”

Pak polisi pun menunjukan ‘lepri’ atau peluit karena Kalki tertarik melihatnya. Saya yang membawa peluit pun mengeluarkannya dan memberikan kepada Kalki untuk ditiup.

Sontak pak polisi bercanda kepada Kalki, “jangan ditiup nanti kendaraan yang lewat pada berhenti!”

Tapi Kalki tetap meniup peluitnya dengan sesuka hati. Setelah bosan meniup peluit, Kalki berkata, “Kalki mau jadi polisi.”

img_20180509_192840

Pak polisi yang mendengarnya jadi senang. “Mau jadi polisi seperti om?”

“Iya,” kata Kalki dengan berbinar. “Mana motor polisinya?”

“Disana (pak polisi menunjuk ke arah kantor TAC atau Traffic Accident Center).”

Bahkan pak polisi sempat beberapa kali bercanda kepada Kalki seperti, “Disini aja ya tinggal sama om, biar mamanya pulang duluan, nanti sekolah disini. Disini TK ada, SD ada, SMP ada…”

Tetapi Kalki tidak mau 😀.

Kalki senang sekali bisa bercengkrama dengan pak polisi dan mendapat kesempatan melihat kantor pak polisi dan motornya 😊.

img_20180509_192910

Semoga kamu dapat mengejar impianmu, Kalki.

❤️ Intan Rastini.

Advertisements

5 thoughts on “Kalki Mau Jadi Polisi

  1. Polisi itu profesi yang mulia, tapi entahlah belakangan ini kok aku jadi malah takut kalau ada anggota keluarga yang malah pengen jadi polisi ya? Teringat terus teror bertubi2 ke polisi2 Indonesia oleh para teroris….ah teror ini benar2 ngefek ya Ntan :

Thank you for reading my post, hope you enjoy it. Please... don't type an active link in the comment, because it will be marked as a spam automatically. I'd love to visit your blog if you fill the "website" form :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s