Suguhan “Jaje Khas Bali” di Minggu Pagi

Desa Angkah Gede hari ini mulai disibukkan dengan acara persiapan odalan Pura Puseh. Tak lupa setiap pagi pekaknya (kakek) Kalki berjalan-jalan kaki di pagi hari ke warung di dekat rumah untuk membeli “jaje”. Jaje itu Bahasa Bali dari kue, jika dibandingkan dengan penulisannya yang benar, mungkin adalah “jaja”. Terdengar seperti kosa kata Bahasa Indonesia? Ya, ingat kata “menjajakan” ya? Orang Bali kalau bilang suatu kata berakhiran vokal “a” secara dialeknya menjadi “e” atau bahkan “o”.. Jadilah “jaje” atau “jajo”.. Itu semua sama :).

Apa sih jaje yang dibeli oleh Kak (singkatan dari Pekak, bukan Kakak hehehe) Kalki? Itu lho jajanan basah yang terbuat dari singkong yang dilumatkan lalu dikukus bernama “Ketimus”, ada juga yang terbuat dari tepung dibentuk bundar-bundar dan dibakar di cetakan kayaknya – aku sendiri kurang tau cara membuatnya hihihi tapi aku perhatikan permukaan bawah si jaje bundar imut ini kadang kala sedikit gosong karena terbakar- namanya di sini terkenal sebagai “Lak lak“. Terus ditaburi kelapa parut kukus dan disajikan dengan gula aren cair. Gula aren atau gula merah atau gula Jawa? Ah, sama saja ;).

Selain Lak lak dan si Ketimus, ada juga satu lagi jaje khas tradisional Bali, yaitu “Pisang Rai“! Kalau jaje yang satu itu, sesuai namanya, ya bahan baku utamanya dari pisang :). Pisang dipotong-potong seperti keping uang logam tapi tidak tipis, lalu dibalur tepung dan dikukus hingga matang. Setelah siap disajikan.. ya sama, nanti ditaburi kelapa parut kukus juga supaya gurih… Bedanya kali ini si pisang rai tak perlu gula merah, karena pisang sudah memiliki rasa manis. Tak lupa semua jaje tersebut dibungkus daun pisang. Ya, itulah kemasan tradisional yang ramah lingkungan :). Kan ‘biodegradable’ ;).

Eh, ada lagi lho… Tambahan dari papa Kalki nih.., hehehem. Jaje ini semua orang hampir tau namanya sebagai “Naga Sari”. Tapi di Bali ada sendiri nama bekennya hohoho, yaitu “Sumping“. Sama kok jaje dari adonan tepung beras diisi pisang lalu dibalut daun pisang dan dikukus. Tapi kalau di bali si Sumping ini ngga hanya pisang aja isinya, bisa juga isi labu kuning :). Wah.. enak juga tuh, nggak kalah enak sama yang isinya pisang (ˆڡˆ).

Trus ada lagi, hehehe. Nambah terusssss! Nama jajenya “Bantal“. Terbuat dari ketan putih, dalamnya diisi dengan pisang (nah, ini kesukaanku karena mendiang mbah di Perak biasa bikin ini) ada juga lho yang isi kacang merah rebus, asyik dan bergizi kan? 🙂 Hmmmmm…trus nanti dia berada dalam lilitan janur (daun kelapa yang muda) trus dikukus, deh. Kalau udah matang harum janur dan jaje Bantal berpadu dan menggugah selera, nih (bagi yang suka :p ). Maklum, pembungkus yang alami tersebut memang membuat aroma jaje maupun masakan menjadi berbeda, begitu katanyaaaa… Kalau papa denger pasti akan nimpalin begini, “oooh, mare tiyang nawang, nok!”
Itu untuk tanggapan bercanda ajah (private joke kami, eh udah ngga private lagi karena udah tershare ke public hahaha) :D. Artinya, “oooh, baru saya tau, lho!”.

Trivia:
Oh ya sedikit info tentang panggilan orang tua atau orang yang sudah lingsir di Bali; untuk kakek adalah “pekak” lebih halus lagi adalah “kakiyang”. Untuk nenek adalah “mbah” (sama kayak di Jawa ya?) atau “dadong”, lebih halus lagi ada “tuniyang” atau “niyang” – bener yah? Soalnya aku pernah dengar saja, tapi ngga pernah menyebut nenek sendiri dengan sebutan niyang, yang lebih sering dipakai karena lebih mudah pengucapannya itu “nini” atau “nenek” aja :D. Sepupu-sepupuku dari Pejeng, Gianyar juga memanggil neneknya dengan sebutan “nini”. Yah, lebih lanjut lagi di atas kakek dan nenek, atau orang tua dari kakek dan nenek, biasa aku sebut dengan “kumpi”. Nah para orang tua itu karena sudah sepuh, mereka biasanya sudah tak bisa menikmati makanan yang keras dikunyah, jadi biasanya mereka suka sekali dengan jaje yang lunak seperti apalagi kalau bukan jaje khas Bali tersebut di atas :D.

Selamat menikmati hari Minggu~

Advertisements

6 thoughts on “Suguhan “Jaje Khas Bali” di Minggu Pagi

  1. Pingback: Cara Memanggil Orang Bali | Intan Rastini

  2. ia bener banget kalo di sini mah khas jawa barat bioasnya suka pake gula merah dalamnya ketimus itu lebih tepatnya katimus..
    dan biasanya juga di bentuk memanjang dan di bungkus dengan daun p;isang 😉
    enak banget rasanya gan,
    terimakasih 😀

Thank you for reading my post, hope you enjoy it. Please... don't type an active link in the comment, because it will be marked as a spam automatically. I'd love to visit your blog if you fill the "website" form :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s