Happy 8 Month, Kalki!

Today is Thursday the 30th of January 2014 and your age is 8 month. Congratulations baby… You are growing stronger and bigger and healthier and smarter 🙂

In this age, you become a crawler… You crawl everywhere to find playmate and to get an interesting object. Mama and papa have to chase you in order to keep you safe.

You find it interesting to go to the outside world behind the living room door, but it’s not yet the time for you to play there. Please keep playing on your room or on our random A-B-C-D mat in the living room, baby.

Mama and papa today are quite busy to prepare this and that. Moreover papa is taking care of the rice that have just been harvested since yesterday. I’m sorry Kalki, we aren’t good enough for playing in that time, we hope for tomorrow we are at our best.

We enjoy how you getting old week by week then month by month and we wish you keep healthy and getting stronger, boy. Be brave, Kalki… You will see the wilderness behind the door, as you’re always curious.

I’m happy because yesterday, you ate your dinner pleasantly. It was brown rice porridge and broccoli added coconut oil from Budhe Mangku. Mama loves to see you eating happily. Mama only could guess that the coconut oil is the secret which makes you eat all the dish enthusiastically.

And this morning mama made a mashed apple (red Washington) but you didn’t eager to eat it. Papa said that the apple should become a juice, so mama processed the apple into juicer. Together with two cuts of local tomato. The apple+tomato juice you consumed it all! Thank you Kalki :’)

Alright, mama and papa always pray for you, son.

Senangnya Jadi Anak Kecil Lagi

Aku ingin menjadi anak kecil kembali, sejenak saja
Aku ingin tertidur dalam pelukan orang tuaku sejenak saja
Aku ingin berada dalam dekapan kedua orang tuaku dan merasa aman
Aku ingin bersama ayah dan mama seperti saat aku kecil dan merasa nyaman
Aku ingin kembali menjadi anak-anak sebentar saja

Merasakan kedua orang tuaku berada di dekatku dan merasa terlindungi
Merasakan belaian dari orang tuaku dan terbawa mimpi indah
Merasakan tentram selama aku bersama keluargaku
Merasakan senang selama aku ditemani oleh keluargaku

Aku ingin kembali menjadi anak kecil sebentar saja
Aku ingin jalan-jalan dengan orang tuaku kemana saja dengan hati riang
Aku ingin bermain-main dengan adikku dengan sedikit kejahilan
Aku ingin berkunjung ke rumah sepupu-sepupuku dan membuat suasana riuh

Aku ingin bergelung seperti anak kecil dan merasakan senyum di hatiku
Aku ingin tertidur sejenak seperti anak kecil yang kelelahan berlari kesana-kemari
Aku ingin canda tawaku lepas dan berlanjut lagi ketika aku bangun dari tidur siangku
Aku ingin merasakannya sejenak dalam benak sebagai anak kecil lagi

Just Married: Mary n’ Mario

Seperti yang udah pernah aku sebut-sebut sebelumnya tentang Pak Mario… Bahwa Pak Mario itu adalah tetangga kami di sebelah utara rumah. Beliau adalah seorang petani dan peternak. Istrinya, Bu Mario, kadang berjualan tipat cantok di acara-acara khusus seperti di Balai Banjar saat rapat PKK atau di pura saat ada ngayah persiapan odalan bahkan juga pas odalannya.

Yang unik tentang pak Mario adalah beliau pemain rindik sejati! Rindik adalah alat musik tradisional Bali yang dipukul, terbuat dari bambu. Setiap hari main rindik, pagi, siang hingga malam! Suara musik rindiknyalah yang menggugah ayahku saat main kemari untuk mendatangi Pak Mario. Bukan untuk melempar sepatu ke arah Pak Mario karena bikin berisik, tapi untuk belajar bermain rindik hehehehe.

Saat ayah main ke rumah Pak Mario… Eeeeeh, suara rindik khas permainan Pak Mario yang cepat langsung berganti dengan tempo lamban dan terkesan takut-takut (atau mengingat-ingat ya) terhadap nada. Nah, itu kayaknya ayah yang lagi main, pikirku. Nggak lama setelah itu permainan rindik berhenti lama sekali. Dan ayah baru pulang dari rumah Pak Mario saat aku, mamoth, papa, Kalki udah pada tidur!

Ngobrolin apa aja sih mereka berdua semalaman? Katanya ngobrolin tentang anak-anaknya Pak Mario. Namanya juga Pak Mario, nama anak sulungnya ya Mario lah…

Si Mario itu lebih muda dari suamiku. Tanggal 10 Januari kemarin dia menikah dengan Mary, seorang bule Kanada. Sempat papa bercerita tentang orang yang ngecengin pak Mario, “nanti kalo Mario nikah, kita mejaumannya ke luar negeri nih!” Mejauman itu sama dengan meminta calon mempelai istri dari rumah asalnya untuk dibawa ke rumah calon suaminya, begitulah tradisi pewiwahan atau pernikahan Bali.

Nah, berhubung Kanada jauh banget yaaaa… Mejaumannya jadi diwakilkan di depan pemesuan (jalan masuk ke kawasan rumah Pak Mario) saja – yaaah penonton kecewa.

Mario dan Mary ini tidak tinggal di desa ini, melainkan tinggal di Kuta kalau tidak salah. Karena kata suamiku mereka berdua mengelola toko peralatan surfing dan si Mario ini juga seorang surfer. Sayang sekali, padahal kalo Mary tinggal di desa ini mau aku jadikan teman seperjuangan di sini hikkssssss…

Oh ya Mary saat nikah diwisudani, alias diterima oleh leluhur Mario sebagai anggota keluarga baru yang memeluk kepercayaan yang sama. Ternyata oh ternyata, Mary udah hamil 4,5 bulan, data ini valid ya karena suamiku yang tanya langsung ke Mary. Aku sendiri nggak bisa datang ke acara pernikahan mereka untuk bantu-bantu alias ngayah. Tapi aku udah wanti-wanti suamiku supaya menyampaikan pesanku kepada Mary: “congratulations for your wedding, and my wife wanna be your friend.” Tapi apa? Yang disampaikan cuma, “my wife say congratulations for you”! Grrrrrrrrrr… Aku ngamuk lah!

Selain itu aku juga sempat ngabarin ayah bahwa Pak Mario lagi mantu. Ayah mengucapkan selamat per telepon ke aku, saat aku titip ucapan selamat itu ke suamiku buat Pak Mario, eeeh nggak disampaikan! Dasar the bad messenger!

Ini ada beberapa foto-foto yang berhasil dikumpulkan oleh papa. Katanya sih saat acara dia sibuk banget, makanya dapet fotonya itu aja dan kurang bagus. Di salah satu foto, ada Minnie si anjing kecil bogelku lhoooo… Lagi duduk nungguin sambil menyaksikan dengan santun dan beradab.

Isu Anemia pada Bayi dan Suplementasi Zat Besi

Pertama kali tau tentang suplementasi zat besi untuk bayi itu aku dapet dari twitter. Karena ada salah satu akun twitter dokter anak yang sibuk ngejawab takaran suplemen zat besi untuk bayi sesuai dengan berat badan si bayi. Takaran zat besi berdsarkan bobot bayi: 2mg/kg bb bayi.

Ternyata IDAI menganjurkan untuk bayi usia 4 bulan mulai diberi suplemen zat besi sampai dengan usia 2 tahun. IDAI ini merujuk ke laporan WHO bahwa bayi terutama yang full ASI rentan terkena Iron Deficiency Anemia (IDA) atau Anemia Defisiensi Besi (ADB).

Nah lho, Kalki kan full ASI nih..
Pas Kalki usia 4,5 bulan aku udah cari suplemen zat besi untuk bayi, sebut saja Ferriz drops. Beli di Apotek K-24 harga Rp 35.000. Awalnya aku bingung dengan masalah takaran suplemen berdasarkan box Ferriz atau berdasarkan anjuran dokter di Twitter: @taura_taura… Akhirnya aku pakai takaran 1 cc sesuai anjuran dr. Taura. 1 cc itu 1 ml artinya pipetnya nggak cukup!

Saat pertama kali ngasi vitamin, ada mamoth yang mendampingiku, jadinya mamoth ngasi saran kasi sedikit aja dulu… Ya aku turuti. Hasilnya, Kalki bereaksi kayak kudu muntah aja: wajar aku pikir, karena zat besi bikin eneg, apalagi kalki abis nyusu. Dan ternyata aku salah! Ternyata baiknya ngasi suplemen zat besi pas perut kosong gitu, mungkin supaya tidak menarik susu/makanan yang baru masuk untuk ikut keluar kalo si bayi muntah ya.. Atau ngasinya 1-2 jam setelah makan aja, jangan langsung abis makan langsung dikasi.

Nah, pas lihat komposisi suplemen di box kemasan Ferriz, tertulis mengandung pemanis buatan bla bla bla… Otomatis papa yang tau kenyataan itu langsung menolak keras pemberian suplemen tersebut ke Kalki, sedangkan mamanya Kalki masih ingin memberikan suplemen. Karena apa, papa itu yakin bayi itu bayi sehat yang aktif dan nggak tercermin tanda-tanda ADB! Papa yakin banget hal itu, sedangkan aku kekeuh ingin melaksanakan tindakan preventif. Yang terjadi apa? Pas papa nggak di rumah malem-malem, aku kasi Kalki suplemen itu 1 cc dengan cara diteteskan pakai pipet. Eh, nggak taunya pas tengah malem Kalki pup ada darahnya! Maaf ya nak… T_T

Pas aku lapor ke dr. Taura dijawab apa ya… Aku lupa. Tapi dokternya sih nggak panik (dan merasa bersalah) kayak aku atau menyarankan ke dsa. Ya sudah akhirnya aku hentikan aja pemberian suplemennya. Pas ngobrol di The Urban Mama tentang hal ini dengan Mbak Monika, aku jadi tercerahkan. Ternyata keluhan pemberian suplemen zat besi memang mual, muntah bahkan feses berdarah. Mbak Monik memberi tips, kalo ngasi suplemen zat besi setengah dosisnya dulu, begitu… Kayak saran mamoth dong.

Trus aku juga tanyakan tentang kandungan pemanis buatan itu ke Mbak Monik. Menurutnya benefit lebih besar dari zat aditif itu jadi mudah-mudahan lebih bermanfaat alias nggak apa-apa. Bagaimanapun aku udah nggak ngasi Kalki Ferriz drop lagi. suplemennya aku yang minum jadinya hehehehe dan rasanya enak kok nggak manis banget tapi pas!

Pas baca-baca jurnal Kellymom.com ada kisah tentang bayi usia 7 bulan yang udah dites ternyata terkena anemia gitu, tapi ternyata dia bisa survive melawan anemia tanpa suplemen! Wah hebat!!! Caranya? Ya.. Dipasok bahan-bahan alami dari MPASI-nya 🙂

Menurut Kellymom… ASI mengandung iron yang cukup untuk si bayi dan penyerapan iron pada ASI itu paling tinggi diantara makanan lain dan makanan iron-fortified seperti sufor. Ajaibnya lagi, iron di ASI hanya bisa dikonsumsi untuk si bayi, jadi organisme lain di saluran cerna bayi nggak akan bisa mendapatkan zat besi tersebut karena ada passwordnya yang cuma saluran cerna si bayi yang tau. Kalo diberi suplemen, iron di suplemen itu tidak terproteksi seperti iron di ASI sehingga siapa aja bisa melahap iron tersebut, otomatis kita beri makan organisme perut lainnya juga dong, dan ini bisa nambah populasi mereka.. Cmiiw yah.

Kellymom menganjurkan untuk pemberian makanan yang alami kaya zat besi untuk si bayi yang udah MPASI, saran yang bagus yang sedang aku usahakan. Jadi menurutku… Kalo kita ragu bayi kita terkena ADB atau tidak, mending kita tes aja atau skrining ADB untuk anak kita supaya clear. Kalo kena ADB ikuti saran dokter. Kalo nggak ADB, kita teruskan ASI dan kasi makanan alami yang kaya zat besi. HTH

Iqbal bala bala gigitin Kalkipao saat Kalki 4,5 bulan, Kalkidot masih belum bisa membalas balik!!! Apakah ini salah satu ciri anak kekurangan zat besi? Akhirnya suplemen Ferriz dropnya aku kasi buat Iqbal 😀

First Quick Updating Kalki in 2014

Kalki’s weight: 10,1kg
Length (head to heel): 72cm
Head circumference: 44cm

This time Mama is already capable plotting your data to WHO Anthro software, yippieeeee! Your graph is excellent baby, KPSP score for 9 month old baby is also great, you got 9 (hihihehehue your parents were “nyolong start”), thank to God. May this year you become more clever, stronger and stay healthy as always~

Your motoric skill is improving quick too. Today you can walk with assistance. You push your duckie chair so you make several steps!

You have TWO teeth -not one- which are emerging from your gum. And today your appetite is doing good. You started to eat more. Because grandpa n’ papa “nampah” a chicken, mama cooked a boiled chicken liver and then the stock was used for red rice porridge. Your porridge was combined with “terong ungu” – I guess in English is an eggplant- n’ “tempe”.

This morning we went to Posyandu and Kalki played with Dipa (I Gede Agus Adiva exactly 5 mo, somehow Balinese people cannot spell exactly ‘v’ and ‘f’ as they are but as ‘p’ instead), the boy next door. Dipa’s weight is 8,8kg and he’s chubby too 🙂 His name is similar to papa hahahahaha… Cheap name! Mine maybe is the same lol!