Dari Lotus Birth hingga BLW

Dulu waktu mau melahirkan aku dan papa sempat bincang-bincang tentang metode persalinan yang aku minati yaitu: water birth dan lotus birth. Pengennya melahirkan di Yayasan Bumi Sehat di Ubud sono. Tapi karena jauh ya nggak kesampaian. Letak Ubud dengan Tabanan tuh ada 50km lebih kayaknya, dan karena aku sempat ngotot memikirkan berbagai alternatif supaya bisa mewujudkan impian melahirkan di sana, papa ngatain aku nggak realistis!

Akhirnya aku melahirkan di klinik bidan yang jaraknya kurang lebih 20km dari rumah. Kebetulan bidannya adalah Bu Kadek, bidan yang tugas juga di Poskesdes Angkah (sekarang ganti nama Pustu). Karena sering ANC di Pustu dan udah akrab dengan Bu Kadek ya sudah nyamannya dan sebaiknya bersalin di klinik Bu Kadek saja. Perkembangan selama prakonsepsi dan hamil pun Bu Kadek kan sudah tau, jadi itu memudahkan juga.

Kenapa kok aku pengen water birth dan lotus birth? Karena ngikutin trend kali ya hehehe. Katanya kalo pakai metode melahirkan di air bisa nggak terasa sakit-sakit amat, katanya… Tapi bukan rasa sakit saat melahirkan itu yang jadi concern utamaku, melainkan bersihnya bayi segera setelah dilahirkan. Begitu bayi keluar dari rahim ibu, dengan metode water birth, si bayi jadi bertemu air sehingga darah yang menempel di kulit bayi bersih, deh.

Nah, yang paling aku suka itu Bumi Sehatnya. Karena klinik Bumi Sehat milik Bu Robin ini secara overall menerapkan gentle birthing, pro-ASI dan IMD 🙂

Pernah aku kesana sekali doang buat nengokin Tante Suasti yang melahirkan di sana. Tante Suas sendiri itu bidan di Bumi Sehat hihihi. Jadi ceritanya aku sering kepo tentang Bumi Sehat ke Tante Suas. Waktu melahirkan Bayu, Tante Suas ini pakai metode water birth dan lotus birth. Pas aku kesana sama suami, Mama dan Mbah Mojo (ibu mertua Tante Suas), Mama heran kenapa kok tali pusatnya Bayu belum dipotong. Tante cuma jawab, “biar pinter”. Dari situ lah aku tertarik.

Lotus birth itu membiarkan bayi yang baru lahir tetap terhubung ke plasenta dan membiarkan tali pusatnya puput sendiri. Berdasarkan yang pernah aku baca (semacam riset atau penelitian), dengan metode ini tali pusat akan cepat puputnya dibanding dengan metode konvensional yaitu memotong tali pusat bayi segera setelah kelahiran dan membiarkan sisanya di pusar puput. Awalnya aku agak bingung, tapi setelah melahirkan Kalki jadi ngerti gimana maksudnya.

Waktu melahirkan Kalki, plasentaku nggak langsung keluar – padahal aku ingin plasentaku keluar secara alami, mungkin karena kelamaan akhirnya ditariklah plasenta itu oleh asisten bidan dari tali pusat yang sudah tidak terhubung lagi ke pusar Kalki. Eh, pas si asisten bidan dalam proses menarik plasentaku, tiba-tiba tali pusatnya putus! Jadinya Bu Kadek turun tangan untuk merogoh plasenta di rahimku. Trus belakangan papa sempat tanya, “gimana rasanya di rogoh di dalam rahim begitu?” Aku jawab biasa aja.

Dengan metode Lotus Birth, kita memberikan sari-sari makanan yang masih ada di plasenta untuk si bayi meski bayi sudah di luar rahim. Dan secara kesehatan katanya menambah asupan nutrisi untuk bayi, terutama darah atau zat besi ya…? CMIIW. Dan aku suka banget dengan konsepnya itu. Makanya aku pengen menerapkan metode itu untuk kelahiran Kalki – tapi apa daya…

Papa nggak setuju dengan metode ini, katanya tidak sesuai dengan keyakinan kita atau tradisi. Menurut papa, di dalam kandungan Kalki itu punya “saudara” (kurang jelas merujuk ke apa atau siapa – karena ini masalah keyakinan). Plasenta itu memang sumber makanan bagi janin (saat di dalam kandungan), setelah dilahirkan, bayi tidak memerlukan lagi sisa-sisa makanan di plasenta, makanya dibagi untuk “saudaranya” dengan ritual dan ditanam di tanah.

Kalau aku sendiri, sih terbuka terhadap hal baru. Aku nggak masalah dengan metode lotus birth ini meskipun aku memeluk keyakinan yang sama dengan papa. Nah, sekarang aku mau cobain metode Baby-led Weaning (BLW) ke Kalki, papa protes nggak setuju lagi! Duh! Alasannya karena Kalki belum ada gigi. Ntar kalau udah tumbuh gigi baru deh boleh diterapkan BLW. Trus aku jawab, “yaaaah…. itu mah finger food namanya”.

Yah namanya juga metode-metode baru, emang suka kontroversial gitu yah?

trivia di Majalah AyahBunda

trivia di Majalah AyahBunda

kata papa (ngeledek) waktu mama masih hamil ngebet melahirka a la water birth: "Guscil udah di air masak keluar ketemu air lagi, ma?" -_____-

kata papa (ngeledek) waktu mama masih hamil ngebet melahirkan a la water birth: “Guscil udah di air masak keluar ketemu air lagi, ma?” -_____-

Advertisements

5 thoughts on “Dari Lotus Birth hingga BLW

    • Dedek Diana kan juga endud tuh Mbak Is 😀 Sekarang mah Kalki udah nggak seperti yang di foto lama itu, dia banyak olahraga sih sekarang hehehe. Soal BLW, hampir kebanyakan makanan kebuang jadi sayang soalnya cari/beli bahan pangannya susah, sih.

Thank you for reading my post, hope you enjoy it. Please... don't type an active link in the comment, because it will be marked as a spam automatically. I'd love to visit your blog if you fill the "website" form :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s