Adat Istiadat di Desa Bali Bagian I: Ngayah

Belum pernah bahas sama sekali sebelumnya mengenai adat istiadat di desa pakraman tempat kami tinggal ini, karena sebenernya aku kurang tertarik. Kurang lebih apa yang jadi adat di desa ini juga berlaku di desa-desa lainnya di Bali.

Dulu saat aku menikah, nggak ada yang namanya “honey moon” – duh, boro-boro deh.. Upacara nikah di rumah suami, besoknya setelah selesai upacara, rumah itu berantakan abis! Nggak ada santai-santainya, kami pun harus membersihkan sisa-sisa upacara.

Trus adatnya, kalo orang disini abis nikah dikasi waktu 3 bulan untuk tidak terikat ayahan banjar. Banjar itu menurut Putu Setia adalah lingkungan sosial terkecil. Kalo menurutku, banjar adalah sistem kemasyarakatan. Karena kalo ada acara suka-duka itu banjar yang ngurusin. Acara suka itu: nikah, potong gigi, 3 bulanin bayi, otonan (turun tanah atau 6 bulanan dalam kalender Bali buat bayi). Duka: ngaben (pembakaran jenazah), pelebon (penguburan jenazah).

Yang dimaksud ayahan atau ngayah itu bekerja tanpa pamrih. Jadi kita bekerja untuk menolong, tapi disini dianggap wajib karena juga diabsen oleh perjuru (petugas adat). Misalnya kalo ada tetangga punya hajatan nikahin anaknya, maka kita ngayah ke rumahnya buat bantu menyiapkan upacara pernikahannya. Kita nggak dibayar dengan bekerja nyiapin dekor, banten, konsumsi dsb. Bayarannya ya nanti kalo kita punya hajatan, ntar juga dibantu banjar.

Bagiku sistem ngayah banjar itu menjaga kelangsungan upacara supaya berjalan otomatis. Kalo ada kedukaan, orang-orang di desa udah sama-sama tau untuk saling membantu keluarga yang sedang berduka itu sampai dengan selesainya ngaben atau melebon. Dan biasanya setiap orang di desa ini udah hafal bagaimana step-stepnya untuk melakukan setiap upacara karena mereka udah berkali-kali mengerjakan hal-hal itu dan udah terkoordinir per kelompok-kelompok yanga ada ketuanya.

Nah, kalo pasangan yang baru nikah itu ga dianjurin buat datang membantu atau istilah di sini “metulungan” atau “ngupin” (ini murni nolong, bukan diwajibkan banjar karena ga diabsen) di acara kedukaan. Abis nikah harusnya seneng-seneng dulu kan ya? Sama dengan ibu hamil atau yang lagi menyusui, nggak boleh datang karena energinya kurang bagus.

Setelah 3 bulan masa senang-senang bagi pengantin baru udah terlewati, maka kita kena ayahan atau wajib berpartisipasi untuk bekerja di banjar dalam bentuk ngayah. Ngayah ini juga untuk odalan pura (ulang tahun pura setiap 6 bulan dalam kalender Bali), ngayah kerja bakti bersihin jalan, bersihin balai banjar dan juga pura yang ada di desa.

Aku sempat berpikir kenapa orang di Bali sampai menciptakan sistem ngayah begini ya? Lalu setelah dilihat-lihat lagi, masyarakat Bali di desa kan kebanyakan petani, otomatis mereka punya banyak waktu luang. Itu mungkin sebabnya mereka menciptakan upacara yang agak ribet dengan tetek bengeknya yang banyak… Karena mereka kebanyakan waktu luang, kali?

Ngayah itu nggak kenal waktu lho, bisa kapan aja di hari baiknya untuk merayakan atau mengadakan upacara. Dan itu nggak hanya sehari selesai, bisa berhari-hari. Upacaranya mungklin cuma sehari tapi persiapannya bisa 2 sampai 3 hari sebelum hari-H dan setelahnya juga ada 1 hari tambahan untuk bersih-bersih dan merapikan peralatan yang abis digunakan.

Bayangkan kalo masyarakat Bali di kota.. Mana bisa berlaku sistem ngayah begini? Soalnya orang di kota pada umumnya mereka punya pekerjaan dan itu bukan bertani, dan biasanya kehidupan kota super sibuk ya kan?

By the way, out of topic, aku pengen honey moon (-̩̩̩-͡. –̩̩̩͡ ). Aku pengen seperti Bella dan Edward di film Twilight saga yang abis nikah langsung cao ke Brazil nggak ngurusin sisa-sisa upacara nikahnya di rumah, nggak sibuk bersih-bersihin rumah. Lah abis, aku nggak bisa berkutik! Dua mingguan lebih sehabis nikah kudu bersih-bersih rumah yang perabotannya masih kocar-kacir di sana-sini di rumah baru, rumah suami. And welcome… Di rumah baru, di lingkungan baru, di banjar, di desa pakraman ini perjuanganku masih panjang… Sebagai istri, sebagai menantu, sebagai ibu, sebagai anggota PKK, sebagai anggota banjar…

Ya itulah ngayah dan sedikit adat istiadat di desa ini dari sudut pandangku. Sebagai orang baru disini aku mesti banyak-banyak belajar lagi – mending belajar yang aku sukai, masalahnya belajar yang ini aku kurang tertarik :p makanya heran deh kalo ada bule yang tertarik belajar adat-istiadat Bali! Tapi mereka kadang kan belajar adat atau budayanya Bali secara short term aja, nah aku? In my life time! Salut, kalo ada orang asing yang belajar for whole life time. Sungguh memalukan ya diriku? D:

Untuk adat istiadat Bali bagian II nanti, aye lebih kaga demen lagi ngerjainnya. Untuk menceritakan aja yang lebih asyik dilakukan (‾⌣‾)♉

Advertisements

Cara Memanggil Orang Bali

Tinggal dimari itu terdapat banyak beda kebiasaan dan istilah dibanding dengan tinggal di Jawa. Selama aku tinggal disini, aku dipanggil ‘luh’ atau ‘gek’ atau ‘Intan’. Nah, setelah punya Kalki, ntar aku dipanggil Bu Kalki. Disini rada pantang manggil nama asli orang tua kecuali untuk urusan formal. Jadi panggilan untuk orang yang sudah berkeluarga menggunakan nama “pungkusan” atau nama anak pertama.

Karena nama anak pertama kami Kalki, maka kami di banjar (sistem kemasyarakatan Bali) dipanggil Pak Kalki dan Bu Kalki. Pak Gede dan Bu Gede juga bisa karena dari nama anak pertama umumnya Gede, Putu atau Wayan, tapi itu tergantung kesepakatan kami dan banjar saja. Untuk nama pungkusan itu biasanya nama panggilan yang bisa diambil dari nama anak pertama atau bisa juga, untuk pasangan yang belum punya anak, memakai nama panggilan sesuai preferensi atau pertimbangan pasangan tersebut yang diajukan ke banjar. Contohnya, disini ada tetangga yang namanya Pak Juwit padahal nama anak pertamanya Wawan. Katanya, dulu sebelum punya Wawan, Pak Juwit dan Bu Juwit memilih nama Juwit sebagai nama pungkusan mereka.

Oh ya dalam Bahasa Bali, ‘pan’ itu berarti pak dan ‘men’ (atau juga ‘mek’) itu berarti bu. Ada juga panggilan men luweng dan men kecong. Luweng itu artinya perempuan sedangkang kecong adalah laki-laki. Maksudnya, men luweng berarti ibu yang punya anak pertama perempuan sedangkan men kecong itu bukan ibu laki-laki, tapi ibu yang punya anak pertama laki-laki. Anak laki-laki disini juga biasa dipanggil ‘cong’ atau ‘kecong’. Ada juga disini yang namanya Pak Jegeg. Jegeg itu artinya cantik. Apakah bapak itu cantik? Ya enggak, masih berhubungan dengan anak-anaknya. Ternyata bapak itu memiliki 3 anak yang semuanya perempuan (dan kebetulan mungkin cantik-cantik) makanya dipanggil Pak Jegeg, ibunya ya otomatis juga dipanggil Bu Jegeg juga. Ada juga Men Bagus, bagus artinya ganteng. Dipanggil Men Bagus itu karena anak laki-lakinya memang bernama Bagus, ya.
Trus ada anomali, disini juga ada yang namanya Bu Badung (Badung itu nama wilayah di Bali). Itu karena ibu tersebut dulunya lama tinggal di Badung, makanya dijuluki orang-orang sini sebagai Bu Badung.

Untuk memanggil orang yang belum menikah bisa dengan nama aslinya atau juga dengan ‘gus’ atau ‘gung’ untuk laki-laki dan ‘gek’ atau ‘luh’ untuk perempuan. Kalau orang yang lebih tua, udah menikah maupun belum, atau untuk kakak perempuan panggilnya ‘mbok’, seperti mbak. Untuk kakak laki-laki panggilnya ‘bli’, seperti mas. Untuk yang lebih tua lagi ya bisa panggil pak atau bu. Di desa ini, kalo orangnya dari kota, biasanya dipanggil pak atau bu (seperti aku dan suami). Tapi kalo orang tersebut udah lama tinggal di desa, umumnya dipanggil pak dan men ini itu (nama pungkusan).

Aku dan suami sempat ngobrol-ngobrol tentang hal ini. Hehehehe berandai-andai saja, semisal anak pertama kami namanya Robert, ntar kan aku jadi Bu Robert dan suamiku jadi Pak Robert. Orang Bali juga mengesankan bahwa anak pertama lah yang spesial, karena nama anak tersebut akan menjadi panggilan bagi orang tuanya. Nah, nama anak kedua dan ketiga gimana? Nggak kepake! Yang terkenal ya nama anak pertama. Biasanya kan anak kedua diberi nama Kadek/Made. Kalo masyarakat ga tau nama adiknya ini Kadek siapa, bisa jadi dipakailah nama kakaknya untuk melengkapi. Misal Kalki punya adik namanya Kadek Rinjani, tapi orang-orang ga tau nama “Rinjani”nya, cuma tau Kadek doang, maka dipakailah nama Kalki untuk membedakan dengan Kadek-Kadek lainnya menjadi Kadek Kalki atau Kadeknya Kalki. Untuk menunjuk yang dimaksud adalah Kadek adiknya Kalki. Gitu aja, tapi agak ribet njelasinnya ya? Hahahaha.

Kata suami anak pertama itu yang menjadi curahan antusiasme dari keluarga (dan sepertinya juga di masyarakat atau banjar) karena anak pertama ya berarti baru pertama kalinya punya anak. Semua yang dialami serba baru. Upacara “megedong-gedongan” atau tujuh bulanin (pas hamil) itu aja dilaksanakan saat hamil pertama, umumnya hamil kedua dan seterusnya udah enggak lagi. Tapi tetep kalo mau diupacarain lagi ya boleh, intinya cukup pas anak pertama. Jadi kalo punya anak kedua dan ketiga tuh kan (harusnya) kita udah pengalaman sebelumnya ngurusin anak pertama. Jadi anak kedua dan ketiga semacam penggembira gitu katanye papa.. Hehehehe.

Nah, nama anak pertama ini juga yang menentukan nama panggilan kakek dan neneknya lho. Jadi tepatnya nama cucu pertama yang akan menentukan nama panggilan bagi nenek dan kakeknya. Kalo Bahasa Balinya kakek itu pekak atau kakiyang, kalo nenek itu mbah atau nini. Jadi kakek dan neneknya Kalki panggilannya jadi Pekak Kalki dan Mbah Kalki. Begitulah seterusnya sampai ke buyutnya atau “kumpi”. Kumpinya Kalki juga bisa dipanggil jadi Kumpi Kalki.

Kasian papa, karena namanya Agus, jadi dia suka alert setiap ada orang manggil ‘gus’ wakakakakakakaka.. Secara, ‘gus’ itu kan panggilan untuk anak laki-laki, jadi setiap anak laki ya boleh aja dipanggil ‘gus’ baik oleh orang tuanya sendiri ataupun orang lain. ‘Gus’ itu dari kata bagus maksudnya untuk manggil “anak ganteng”. Kalo ‘gek’ itu dari kata jegeg, sama, maksudnya untuk memanggil anak cantik. Kalo di Jawa kan anak perempuan juga ada panggilannya tuh seperti “nduk”, ya sama dengan ‘luh’ dan ‘gek’ di sini. Kalo ‘luh’ sih menurutku cenderung untuk memanggil anak gadis, jadi yang udah remaja atau masih belia, muda dan belum menikah begitu. Tapi ya ga saklek banget sih dalam prakteknya, karena orang sini pun manggil aku ‘luh’ padahal kan aku udah nikah, mungkin karena dilihat aku masih muda dan belia kali ya hehehehehehehe…

Ada lagi, untuk ‘i’… Itu bisa diartikan seperti “si”. Jadi ikalki itu berarti si Kalki. Igung berarti si gung (si bocah lanang), iluh berarti si luh (si bocah wadon) Nah kalo untuk nama kan orang Bali suka ada I dan Ni tuh di awal nama, itu artinya untuk menunjukkan laki-laki kalo namanya berawalan I dan perempuan kalo namanya diawali Ni, tapi ada juga anomali atau yang nggak pake, sih. Aku bahkan nggak pake nama tradisi Bali sama sekali 🙂

Makanya tidak jarang jika orang-orang sini cuma tau nama panggilan atau pungkusan tetangganya tapi ga tau nama aslinya.

Next panggilan untuk orang yang lebih tua atau kakek-nenek di sini ya… Kue Khas Bali