This Is November Rain, But Why Do We Undergo Water Crisis?

Setiap lihat air bak mandi penuh dengan air jernih, rasanya seneeeeeeng banget! I love water, indeed. It’s not because I’m an aquarian, but I see water as a source of life. Dari beberapa hari yang lalu, di rumah lagi dilanda krisis air bersih 😦

IMG01408-20120821-1159
Sejak dulu sampai sekarang, yang namanya krisis air bersih selalu aku alami. Dari pas tinggal di Sidoarjo (Jawa Timur), di Sekartaji (Tabanan, Bali), di Dalung (Kapal, Bali), di Angkah Gede. Hampir semua daerah yang pernah aku tinggali pernah seret suplai air bersihnya. Kecuali di Tanjung Perak (Surabaya) dan Kelapa Gading (Jakarta Utara). Selama aku di Kelapa Gading keran tetep ngocor. Yang ada malah pernah banjir! Banjir air kotor bukan air bersih ye..

Di desa Angkah Gede ini, dulu sumber air utamanya adalah dari sumber mata air Pangkung Sakti namanya. Tapi nggak semua rumah tangga memasang penyaluran air dari Pangkung Sakti ke rumah-rumah mereka. Ada yang mengeduk tanah dekat tukad (sungai/anak sungai) untuk membuat “bulakan” semacam sumur yang sumber airnya adalah air tukad itu yang terfilter oleh tanah, air tukad rembes ke bulakan itu tadi. Kata suamiku dulu nggak semua rumah disini punya kamar mandi, karena kalo deket tukad tinggal mandi aja ke tukad. Ya lagian ini kan di desa, wajar aja kalo masih ada yang nggak punya kamar mandi, pa!

Semasa aku kecil, beberapa kali pulang ke kampung halaman ayah di Sekartaji nggak jarang juga mengalami yang namanya kesulitan air bersih. Nah, kalo udah nggak ada air buat mandi dan nyuci baju, kami musti menempuh jarak kira-kira 2km kali ya untuk mandi di beiji. Beiji itu… semacam sumber air atau sungai yang ada pancuran airnya jadi kayak air terjun kecil tapi airnya mancur dari dalam air tanah yang letaknya lebih tinggi, ada bayangan? Ada fotonya aku sekeluarga pas main air di beiji situ, tuh foto udah jadul banget! Dimana ya sekarang fotonya…

Nah itu untuk mandi dan nyuci, trus untuk masak, minum, dan BAK/BAB gimana? Kalo ga salah, dulu itu udah dibangun bak penampungan air. Jadi pas air nyumber, bak penampungan diisi juga. Nah, pas krisis, kami menggunakan air penampungan untuk penggunaan penting dan yang sedikit-sedikit aja. Sama juga di rumah suami sini ada bak penampungan. 1 bak penampungan untuk mandi, 1 bak untuk air cuci piring, 1 bak lagi untuk air masak. Tapi ya air bak penampungan itu bisa habis juga kalo sumber airnya lama nggak ngalir-ngalir.

Kalo di Sidoarjo dulu waktu aku masih kecil, juga sempat air PDAM nggak ngalir. Nggak tau kenapa. Sampai sekarang pun kayaknya masih kadang nggak ngalir deras kalo nggak pakai pompa air. Di rumah orang tuaku di Sidoarjo ada sumurnya juga lho. Anyway, back to jaman dulu (mungkin pas bener-bener ga ada persediaan air lagi), orang-orang di perumahan sampai beli air di tukang air keliling. Iya, ya, dulu sampe ada pedagang air. Dagangnya pakai gerobak rendah dari kayu, di dalam gerobak itu diisi jerigen-jerigen air besar. Mamaku sempat beberapa kali beli air kok di tukang air yang lewat itu. Belakangan air udah lebih mudah didapat, makanya tukang dagang airnya udah nggak ada lagi.

Harusnya pas musim kemarau air memang susah kan? Tapi ini lagi musim hujan lho! Sampai nggak habis pikir aku. Balik lagi cerita tentang sumber air di Banjar Dinas Angkah Gede, Desa Angkah… Kata suami, sekitar tahun 2000an air PAM udah masuk sini. So, persediaan air terjamin, karena air PAM ini selalu mengalir airnya – pengecualian tetap ada, seperti saat pipanya ada yang rusak, bocor atau tersumbat. Selama perbaikan aliran air akan dihentikan dulu sementara – tapi kualitasnya itu yang tidak sebaik air dari mata air Pangkung Sakti. Airnya butek alias keruh dan ada endapan tanah atau lumpurnya. Waduh, kalo buat masak atau minum jadi mikir-mikir dulu, nih. Paling sering air PAM di rumah ini dipakai buat nyuci, nyiram taneman, mandiin anjing, nyuci kendaraan dan semacamnya.

Makanya orang disini akhirnya bikin bak penampungan air yang ada filternya atau penyaringan dari semacam tanah. Jadi air dialirkan ke bak pertama untuk diendapkan kotorannya, selanjutnya air itu bisa rembes ke bak kedua. Pemisah antara bak pertama dan kedua itulah filternya yang terbuat dari tanah dan bata yang cukup berpori-pori. Nah kalo mau difilter lagi bisa bikin bak ketiga dan keempat. Nggak bercanda lho, emang ada yang sampai berbak-bak filter airnya disini. Ribet memang kalo mau mengolah air yang nggak jernih. Kalo air dari mata air baru jernih, suamiku bahkan ga ragu untuk minum airnya Pangkung Sakti mentah-mentah. Kebiasaan pas naik gunung masih dibawa-bawa tuh kayaknya.

Nah karena sumber mata air yang bersih dan dapat diandalkan kejernihannya ini lagi seret, otomatis kami pakai air PAM. Kalo untuk masak dan minum tetep diusahakan pakai persediaan air Pangkung Sakti yang ada di bak penampungan. Masih heran aja… Padahal seharian ini gelap, sampai nggak bisa njemur Kalki pagi-pagi dan sekarang udah mulai rintik-rintik hujan, tapi kenapa air mata airnya nggak nyumber ya?

Simpulannya, hargailah air bersih dan gunakan dengan bijak. Air bersih juga termasuk sumber daya alam yang langka. Padahal air adalah kebutuhan semua mahkluk hidup yang paling krusial.

cita-cita pingin berenang di natural water bareng suami kayak gini *wish my dream comes true* (credit image to Twilight Saga: Breaking Dawn Part I)

Di dekat sumber mata air Pangkung Sakti didirikan pura. Kita memang wajib mensyukuri adanya sumber air yang merupakan sumber kehidupan kita kan? Pura Pangkung Sakti ini merupakan perwujudan Pura Segara.

Di dekat sumber mata air Pangkung Sakti didirikan pura. Kita memang wajib mensyukuri adanya sumber air yang merupakan sumber kehidupan kita kan? Pura Pangkung Sakti ini merupakan perwujudan Pura Segara.

 

lokasi puranya deket rumah tapi di tengah alas

lokasi puranya deket rumah tapi di tengah alas

ini pas nyobain semedi di atas bendungan Balian, nggak jauh dari rumah

ini pas nyobain semedi di atas bendungan Balian, nggak jauh dari rumah

Bendungan Balian tingginya segini, berarti kalo Tukad Balian lagi nyumber airnya banyak banget!

Bendungan Balian tingginya segini, berarti kalo Tukad Balian lagi nyumber airnya banyak banget!

 

Advertisements

7 thoughts on “This Is November Rain, But Why Do We Undergo Water Crisis?

  1. Salam kenal, Mak. Sharing yang menarik. Terima kasih. 🙂
    Saya belum pernah mengalami krisis air. Tulisan ini menjadi pengingat saya. Semoga krisis air di tempat Mak segera berlalu. Salam buat si kecil. 🙂

  2. di kampung suami saya juga sering terjadi krisis air karena dari pusat tidak mengalirkan air, menyedihkan, pernah lho sampe 3-4 hari…bayangkan…semoga aja ini tidak pernah terjadi lagi mak 🙂

Thank you for reading my post, hope you enjoy it. Please... don't type an active link in the comment, because it will be marked as a spam automatically. I'd love to visit your blog if you fill the "website" form :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s