Story about Miko

Miko dulunya dibeli oleh saudara sepupuku, Putra di tahun 2009 akhir. Kurang tau beli dimana. Lalu si Putra ini kurang telaten dalam memelihara anjing, jadilah Miko dipelihara oleh mamanya. Budheku ini, budhe Dewa, tinggal di rumah pekak dan mbahku di Perak. Aku dulu sering main ke perak karena disana rame, ada  mbah, budhe, dan tiga saudara sepupuku: kakak Ayu, Ratih, dan Putra yang papanya sering layar.

Setelah Ratih mau masuk kuliah, budheku berencana pindah ke Bali karena Ratih di terima di Unud. Jadilah yang pindah Budhe, Ratih dan Putra ke Bali. Sedangkan kakak Ayu yang masih kuliah di STIESIA tinggal bersama mbah. Karena kakak Ayu sibuk, mbah nggak ada yang nemenin, jadilah pakde Wayan, kakaknya budhe Dewa dan istrinya yang tinggal di Perak menemani mbah. Si Miko tetap tinggal di Perak. Ratih yang lebih care kepada Miko menitipkan ke kakak Ayu supaya Miko dirawat dengan baik.

Lalu saat mbah meninggal, keluargaku berkumpul untuk upacara ngaben. Dan saat itu Ratih mulai bingung untuk memindah Miko kemana soalnya rumah di perak yang merupakan rumah dinas TNI-AL itu mau dioper. Akhirnya Ratih dengan sedikit bantuanku mencari tau gimana caranya untuk mindahin Miko ke Bali. Kami berdua mondar-mandir ke pet shop untuk ndapetin dog cage yang terjangkau untuk ukuran Miko sambil nanya-nanya gimana cara transfer anjing ke Bali.

spoiled Miko

spoiled Miko

Setelah ketemu akhirnya pet shop yang menyediakan jasa transfer anjing, akhirnya Miko dititipkan di pet shop itu untuk beberapa hari (karena kami juga sibuk dengan rangkaian upacara ngaben). Pet shop itu letaknya deket dengan rumahku di Sidoarjo. Letaknya di pertokoan Gateway, sebelah baby shop Hom-pim-pa kalo ga salah.

Aku ga tau rincian biayanya berapa transfer anjing ke Bali saat itu tahun 2010, karena Ratih yang ngurus semuanya. Kebanyakan aku cuma nganterin dia aja. Pokoknya gimana ceritanya Ratih berhasil mengirim Miko ke Bali dengan jasa ekspedisi yang mungkin masih ada hubungan dengan pet shop tersebut atau juga mungkin tidak, meski sebelumnya ada kendala. Kendalanya, dog cage-nya Miko ternyata ngepas banget, buat perjalan jauh ke Bali, dokter hewannya pet shop bilang kasian kakinya ntar.

Sebelum Ratih mencapai keberhasilannya mengirim Miko, Miko sempat dititipkan di rumah kontrakan para mahasiswa. Yang salah satu mahasiswa tersebut adalah pacarnya kakak Ayu (saat itu). Karena Aku dan Ratih udah yakin ada yang bisa menampung Miko, maka kami pun ke Bali seusai ngaben mbah. Ratih kuliah dan aku kerja.

Keberhasilannya Ratih bisa membawa Miko katanya karena ada kurir baik yang mau nuker kandangnya Miko dengan kandang milik orang lain yang belum jadi dipake buat ngirim anjing. Kandang anjingnya ratih plastik dan kandang dari pak kurir itu besi berbentuk jeruji, seingetku udah agak karatan. Setelah sampai di Bali, Miko tinggal di Dalung.

Lil' Miko on 13th of January 2010 in Tanjung Perak

Lil’ Miko on 13th of January 2010 in Tanjung Perak

Di Dalung karena itu rumah kos jadinya tempat untuk memelihara anjing terbatas, Miko sempat dititipkan ke temen kuliahnya Ratih. Cukup lama juga sampai akhirnya karena sebab apa, Miko kembali lagi ke Dalung. Sometimes Miko diajak Ratih dan budhe ke Gianyar saat mereka harus pulang kampung. Pak Raka pemilik kos sempat menegur ketidak sukaannya tentang adanya anjing di tempat kos, jadi Miko ditaruh di keluarganya Ratih di Gianyar.

Setelah sempat dititipkan di Gianyar, akhirnya Miko balik lagi ke Dalung. Nampaknya pak Raka udah nggak mempermasalahkan tentang anjing lagi. Lalu tahun 2012 atau 2013, Miko sempat diminta oleh pakde Komang, adiknya budhe Dewa. Akhirnya Miko tinggal di rumah pakde Komang, tapi sayangnya Miko yang awalnya gemuk jadi kurusan. Ratih pun nggak tinggal diam.

my husband loves Miko

Saat aku pasang status di Twitter yang otomatis ke-link ke FB yang menyatakan: pengen anjing gedhe… Ratih langsung komen “Miko aja ya? Maoo ya?” Trus aku langsung tanya suamiku, mau nggak ketambahan anjing Miko di rumah (karena kita udah adopsi Minnie dari Lumbung). Suamiku langsung mau. Ya jelas, soalnya dia bahkan bercita-cita mau memelihara anjing lagi yang banyak (dulu di Jakarta udah pernah pelihara 10 ekor sekaligus!).

Jadilah Miko pindah ke Angkah, rumah kami. Pertama kali Miko di rumah kami, dia berseliweran di sekitar rumah mengeksplor lokasi baru. Setelah beberapa hari, dia menemukan spot untuk tidur, untuk berjemur, ngaso dll. Interaksinya dengan Minnie awalnya bersitegang gitu. Awal-awal cukup sering berantem gara-gara rebutan makanan. Duh, susahnya mengakurkan 2 anjing yang udah dewasa untuk tinggal di satu lokasi. Sampai ngasi makan pun harus dipisah jaraknya.

zoom

zoom

Lama-lama makin terasa repotnya, saat furnya Miko rontok! Soalnya Miko anjing gembrong sih, furnya bener-bener panjang, udah panjang ringan lagi! Beda banget sama furnya Minnie yang cepak dan rapat. Dan Miko itu suka tidur di bawah jemurannya Kalki. Karena takut bulunya berterbangan sampai ke jemurannya Kalki, maka kami ganjel ember-ember dan kursi di bawah jemuran. Lantai jadi banyak bulunya Miko, so Miko dilarang untuk masuk rumah lagi demi kebersihan, apalagi ada Kalki. Meski udah dilarang, Miko itu susah juga nurut untuk nggak masuk-masuk lagi ke dalam rumah. Malahan sempat dia beberapa kali tidur di kamar (njagain Kalki).

Selain itu, Miko itu nggak takut-takut buat nyomot makanan yang dia jangkau. Untung dia anjing bogel, jangkauannya cuma setengah meter ke bawah aja. Dia pernah nyomot daging yang ditaruh di bawah. Bahkan saat menjelang Galungan kami bikin tum, dia tuh ganggu banget karena ndeketin sumber makanan tanpa rasa sungkan! Iya, tanpa rasa sungkan, soalnya Minnie aja sungkan tuh. Kalo ada tamu, Miko jadi bahaya laten karena meja tamu itu cukup rendah dan disana tempat kami menyuguhkan makanan. Kami cuci piring aja Miko selalu mengendus sampai terlalu dekat dan ini mengganggu kenyamanan kami (kebetulan wash basin/sink untuk cuci piring kami di bawah letaknya). Minnie masih lebih baik karena dia cuma mengawasi kami (kalo lagi cuci piring) dari glebek. Kalo ada sisa makanan buat dia, baru dia mendekat, kalo nggak ada ya udah dia nongkrong aja di glebek.

Kata suamiku, “sebagus-bagusnya anjing orang, tetep lebih pinter anjing kita si Minnie.” Aku mengiyakan. Kenapa dia bilang begitu? Karena Miko emang anjing yang good-looking, mixbreed yang sepertinya german sepherd dan kate. Tapi secara tabiat, dia bukan didikan kita karena bukan kita majikannya sejak dia puppy. Ya aku jadi memaklumi aja kenapa kok dia suka membangkang, nggak bisa dimarahin, dan nggak takut-takut nyomot makanan karena dia kan berkali-kali pindah rumah dan beda pula orang yang merawat dia. Dia nggak punya tuan yang tetap.

Meskipun begitu, Miko tetap punya sifat yang bagus. Dia bagus sebagai anjing penjaga. Kalo ada orang asing ke rumah, dia pasti menggonggong tapi kalo udah kenal orang tersebut dia bakalan menunjukkan sikap bersahabat very friendly. Kalo ada anjing tetangga yang suka iseng nyuri makanan Minnie yang ga abis, Miko pasti ngusir dan bener-bener dikejar. Dia siap berantem, deh pokoknya! Anjing asing lainnya yang iseng kencing di area rumah kami pun diperlakukan sama! Pokoknya rumah kami udah dengan cepat menjadi daerah teritorial pengawasan dia (dan Minnie).

Sedangkan tabiat jeleknya Miko berangsung-angsung membaik, setelah kami ajarkan obidience. Dia akhirnya mau mematuhi untuk tidak masuk ke dalam rumah. Dulu setiap ada pintu yang kebuka, dia pasti akan langsung masuk, so kami harus memancing dia dengan makanan agar dia keluar. Sekarang ada pintu kebuka pun dia nggak ada niat buat masuk. Kadang dia pelan-pelan menuju pintu yang terbuka, trus kalo kami lihat kami bilang ke dia supaya jangan masuk, dia pun nurut.

Miko anjing yang udah dibiasakan dirantai sejak di Perak sampai di Dalung. Di rumah kami, dia unleashed, karena pada dasarnya aku dan suami nggak setuju dengan mengandangkan anjing atau merantai anjing. Sempat Miko dirantai di glebek dan dia bisa tenang dan nurut aja, beda dengan Minnie yang nggak biasa di rantai sejak lahir. Karena beberapa kali Miko sempat dirantai di glebek, akhirnya spot tidurnya nggak lagi di bawah jemuran, tapi pindah ke glebek. Yes, berhasil! Sekarang Miko dan Minnie udah main-main bersama meski Minnie masih takut-takut karena kalah gedhe badannya hehehe.

too much love makes you become spoiled?

too much love makes you become spoiled?

Advertisements

Thank you for reading my post, hope you enjoy it. Please... don't type an active link in the comment, because it will be marked as a spam automatically. I'd love to visit your blog if you fill the "website" form :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s