Nasib Jadi Anak Bali “Nanggung”

Aku orang Jakarta bukan, orang Jawa bukan, orang Bali mungkin iya. Masalahnya aku lahir di Jawa tapi keturunanku orang Bali. Saat aku kuliah di ITS dulu, dosen bahasa Inggrisku tanya apakah aku Balinese, dan aku nyatakan iya. Aku jelaskan juga bahwa (tapi) aku lahir dan besar di Surabaya. Lalu sontak dosenku tersenyum dan bilang bahwa artinya aku bukan orang Bali. So, aku lantas bilang, “but my ancestors are from Bali!”

Si pak dosen tetep kekeh bilang bukan! Nah lho?! Itu kan pendapat beliau. Trus, waktu aku ospek, sempat digiring oleh senior ke TPKH, itu UKM agama Hindunya ITS. Pas berkumpul para junior yang beragama Hindu – bisa dari Bali, Lombok, Sidoarjo, Surabaya – aku sempat tanya ke salah satu cowok yang logatnya bali banget, “dari Bali mana?” Eh trus dia bingung sebentar, lalu menjawab kira-kira dengan sombongnya, “Bali ya Bali, nggak ada Bali mana.” Ssssseeeeet dah! Jadi males kan aku lanjutin basa-basi itu?! Ya maksud gue itu, elo dari daerah mana di Bali… Denpasar atau kabupaten lainnya gitu. Masak gitu aja nggak ngerti sih? Somplak! Wkwkwkwkwkwkwkw

Dua pengalaman yang berkaitan dengan status asal muasal itu nggak mengenakkan memang. Selanjutnya lebih nggak mengenakkan lagi. Aku yang nggak pernah tinggal lama di Bali, jadi nggak bisa bahasa Bali dan nggak bisa mejaitan banten…, dan dampaknya itu terasa sekali setelah aku menikah dan menetap di Bali. Gue jadi plonga-plongo kalo diajak orang sini ngomong bahasa Bali, jadi inginku teriakkan “GUA KAGA NGARTIIIII!!!”. Sudah tau gue kagak ngerti bahasa Bali dengan gue tunjukkan bahwa gue ngomong bahasa Indonesia, tuh orang yang ngajak ngomong kadang ada yang masih teteep aja pake bahasa Bali. Sebel kan jadinya gue. Soal mejaitan bikin banten, ini yang parah. Abis sebagai seorang istri di Bali ada kewajiban untuk ngayah dan bikin banten sih. Huh!

pakaian adat untuk acara persembahyangan umat Hindu, berlaku sama untuk di Bali maupun di jawa (tidak wajib)

me and my mom: pakaian adat untuk acara persembahyangan umat Hindu, berlaku sama untuk di Bali maupun di jawa (tidak wajib)

Gue emang bukan orang Jakarte juga nih, tapi gue bisa logat Jakarte. Bentar, logat Jakarta sama Betawi sama atau beda ya? Ya pokoknya dialek orang Jakarta. Soalnya aku kan sama suamiku sehari-hari komunikasi pakai bahasa nasional (aku cinta Basaha Indonesia), dan gara-gara suamiku yang sempat lebih lama menetap di Jakarta daripada aku itu suka ngomong lu-gue, aku juga jadi ikutan fasih. Akhirnya sehari-hari kami pakai dialek Jakarta hahahahaha…

Pas aku kuliah di SHS, beberapa temenku atau juniorku ada yang bilang begini: “mbak orang Bali ya? pantesan rambutnya panjang”; “orang Bali tuh biasanya pinter bahasa Inggris”; “orang Bali itu biasanya punya bakat seni”. Di lain pihak, temen karang taruna di pura bahkan ada yang bilang bahwa wajahku “Bali banget”. Ada juga yang tanya apakah aku bisa tari Bali? Enggak (karena waktu itu aku nggak minat mempelajari meskipun sudah difasilitasi di sekolah agama). FYI, nggak semua orang Bali yang seumur hidupnya tinggal di Bali bisa nari Bali, ya… apalagi aku yang anak Bali tanggung seperti ini. Itulah stereotipe yang melekat pada orang Bali. Berlaku nggak ya pada diriku? Aku bisa bahasa Inggris? ya, karena aku diajarin oleh ayah sejak dini serta ikut kursus. Aku punya bakat seni? mungkin sedikit. Aku merasa bisa dan tertarik melukis. Nilai kesenianku di SMP dan SMA hampir selalu bagus bahkan karya-karya gambarku diminta oleh 2 orang guru kesenian yang berbeda waktu SMA. Di SHS, aku tidak merasakan adanya kendala dalam pelajaran fruits and vegetables carving.

Ditilik dari silsilah keluarga… Ayahku adalah orang Bali yang terlahir di Tabanan, kedua orang tua ayahku adalah petani sederhana yang tinggal di desa Sekartaji. Dan telah dilacak leluhur keluarga ayahku adalah pasek Tohjiwa, jadi pura kawitannya di Pura Agung Dadia Pasek Tohjiwa. Sedangkan mamaku sama seperti aku, lahir di Surabaya dan besar di Surabaya karena orang tuanya adalah orang Bali dari desa Lumbung, Tabanan tapi menetap di Surabaya. Bapak dari mamaku adalah TNI-AL jadi dulu sempat berlayar (sampai ke Rusia dan beliau mahir bahasa Rusia) lalu rumah dinasnya di Tanjung Perak.

Pekak waktu di Rusia

Mendiang Pekak Perak (tengah) waktu di Rusia

Sekarang aku udah ikut suami, karena secara adat dan administasi aku telah sah menikah dengan purusa yaitu suamiku – di Bali juga menganut sistem ikut istri yang disebut nyentana. Jadi aku tinggal masuk ke keluarga suamiku. Nah, suamiku ini asal muasalnya keturunan pasek Gelgel, atau mungkin juga yang dimaksud adalah kerajaan Gelgel – Kerajaan besar yang menguasai kerajaan-kerajaan kecil lainnya di Bali, memberi pengaruh kuat agama Hindu, bahkan invasinya sampai ke Semenanjung Blambangan, Jawa Timur, dan Lombok Barat. Karena sudah ikut suami, berarti aku masuk sanggah gedenya dan ikut sembahyang di pura kawitan suamiku, begitu lah ceritanya.. sudah tidak lagi ikut kawitan dari ayahku.

Mamaku yang seperti aku nasibnya, sempat merasakan pengalaman yang lebih nggak mengenakkan. Akibat mama keturunan Bali yang lahir dan besar di Surabaya, mama katanya pernah dibilang oleh tetangga sebagai “orang Bali palsu”. Memang agak menyakitkan istilah yang dipakai orang itu. Kalo aku lebih suka bilang dengan istilah “orang Bali rantau”. Jadi orang Bali rantau kan tidak jelek? Buktinya tidak sedikit kok orang Bali yang ingin hidup di Jawa dan memang banyak orang dari Bali yang mengadu nasib di Jawa atau pun ikut transmigrasi ke pulai Sumatra dan Sulawesi.

Advertisements

2 thoughts on “Nasib Jadi Anak Bali “Nanggung”

Thank you for reading my post, hope you enjoy it. Please... don't type an active link in the comment, because it will be marked as a spam automatically. I'd love to visit your blog if you fill the "website" form :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s