Lingkaran Hidup

Roman ini diberikan ayah saat kami menginap di kampung halaman tempat ayah dibesarkan. Saat diberikan kepadaku, aku tidak berminat membacanya, tapi aku terima saja dan simpan dengan baik di rak buku kamarku. Saat aku menikah dan pindah ke rumah suami, tidak lupa buku ini aku bawa dan akhirnya pindah ke rak buku suami. Buku roman ini kondisinya jadul banget, dengan kertas yang sudah menguning dan covernya sudah sobek entah kemana. Karena tebal, aku jadi males untuk mulai membaca, tapi tetap ada sedikit ketertarikan untuk mencari tau mengenai roman macam apa sih yang pernah ayah baca ini.

Seiring dengan bertambahnya usiaku, roman ini tetap belum terbaca. Sampai pada akhirnya aku telah memiliki Kalki. Dan sebagai kegiatan sambilan dibarengi menyusui, aku baca juga Likaran Hidup karangan La Rose. Di kertas paling depan dari buku ada tanda tangan ayah disertai tanggal. Tidak tau berarti apa tanggal itu, tahunnya menunjukkan 1989 dan di sampul belakang buku tertera harga Rp2800. Wah Itu kan masa dimana ayah belum menikah dengan mama. Mengenai La Rose, aku juga tidak tau sama sekali siapa dia, yang pasti dia menggunakan nama pena. Kata suamiku, dulu La Rose adalah cerpenis di majalah Kartini.

Roman ini bertokoh utama seorang wanita desa bernama Laksmi. Diawali dengan Laksmi yang telah menikah dan memiliki 2 orang putri dan seorang putra yang baru lahir. Yang disoroti oleh sang penulis ada pergolakan jiwa Laksmi sebagai wanita desa sederhana dengan kemauan dan pemikiran yang sulit dipahami oleh orang-orang sekitarnya bahkan oleh suaminya sendiri. Setting pada tahun 1900 hingga 1950-an memberikan pandangan kehidupan di saat masa kolonialisme oleh Belanda yang berlangsung lama lalu sempat tergantikan oleh Jepang 3,5 tahun hingga Indonesia mencapai kemerdekaannya.

Sungguh mengasyikan mengikuti perjalanan hidup Laksmi sejak ia baru melahirkan putra bungsu yang ia idam-idamkan. Hingga menjelang akhir hayatnya, ia telah berangsur-angsur melepaskan hal-hal keduniawian. Laksmi memiliki pemikiran bahwa terlahir sebagai perempuan menempatkannya pada posisi yang kurang menguntungkan, sebagai kompensasinya ia sangat sayang dan bangga terhadap anak laki-laki satu-satunya yang bernama Hidayat.  Laksmi berjuang keras menghidupi ketiga anaknya seorang diri dengan meninggalkan suaminya, dan ia pun hidup enak ala bangsawan pribumi.

Jeleknya laksmi sebagai seorang ibu adalah, ia terlalu memanjakan Hidayat, tidak begitu pada anak-anak perempuannya Sinta dan Nur. Aku bisa merasakan dengan cukup baik naluri keibuan laksmi, karena kebetulan bacanya saat setelah punya anak laki-laki. Dari membaca roman Lingkaran Hidup, secara tidak langsung aku dapat memetik pelajaran mengenai pengasuhan anak, yaitu tidak baik menjadikan seorang anak sebagai golden boy/girl di tengah saudaranya yang lain, karena menimbulkan kecemburuan kasih sayang.

Setelah tokoh Laksmi meninggal, selanjutnya roman ini berganti tokoh utama seorang pria bernama Hidayat yang melakukan perjuangan bangsa untuk mencapai kemerdekaan Indonesia. Ia ditemani dengan sahabat karibnya bernama Dokter Trisno. Kedua tokoh ini sedikit mengingatkanku akan Bung Karno dan Bung Hatta. Hidayat pun diceritakan sampai akhir hayatnya, meski demikian cerita terus berlanjut karena sebelumnya telah disuguhi kejutan munculnya tokoh bernama Intan, seorang wanita Minahasa dengan karakter kuat yang pernah mengisi kehidupan Hidayat.

Hidayat sebagai seorang pembesar, menyatakan dirinya, “I am a very lonely man” kepada Intan. Dan langsung pernyataan itu disangsikan oleh Intan karena Hidayat dikelilingi oleh rekan-rekan politik dan juga petugas protokoler. Pertemanan antara Hidayat dan tokoh Intan berlangsung dengan tulus, Intan pun tidak jarang membuat seorang Hidayat tersinggung. Intan memiliki pandangan yang baik bagi bangsanya yang sedang bergejolak setelah memerdekaan diri: seperti baru mendaki gunung; sedang dibandingkan dengan Amerika Serikat, negara itu telah menuruni gunung.

Sebelumnya, sebagai pemuda, Hidayat tertarik untuk mengikuti perkumpulan berbau agama dan pergerakan yang dipelopori oleh Cokrohadinoto. Namun Hidayat bukanlah orang yang religius seperti Cokro, ia hanya tertarik terhadap politiknya. Makin lama berkecimpung, menurut Hidayat pergerakan Cokro kurang progresif, akhirnya ia merintis pergerakannya sendiri yang lebih vokal terhadap Belanda. Saat Hidayat lebih tua di jaman penjajahan Jepang, pemuda-pemuda generasi di bawahnyalah yang akhirnya tidak puas dengan pergerakannya. Hidayat dibilang terlena oleh kenikmatan fasilitas yang diberikan Jepang.

Jadi mulai terasa kan lingkaran hidupnya? Menikmati suatu siklus kehidupan tokoh-tokoh utamanya dan sepenggal kisah kebangkitan suatu bangsa membuat aku terbawa ke masa silam yang tidak pernah aku rasakan. Bahasa roman ini masih dipengaruhi Bahasa Indonesia ejaan lama. Aku bisa belajar banyak hal yaitu mengenai peran seorang wanita dalam keluarga, sebagai istri dan ibu, juga peran wanita untuk bangsa. Selain itu, dari Laksmi maupun putranya, aku bisa belajar sedikit tentang politik.

Leave a Reply with Smile

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s